10

Penulis: +Nus Sasmitaningrum

rama-dan-sinta

"Ketemuan yuk."

Itulah sebaris kalimat, isi dari sebuah SMS yang aku ketik dan aku kirimkan untuk sahabatku Rama. Kalimat dalam SMS ini seakan-akan menjadi kalimat terakhir bentuk komunikasiku terhadap Rama, karena sampai detik ini aku tidak pernah mendapatkan jawaban darinya.

Rama adalah sesosok pria yang selama setengah tahun terakhir ini telah menemaniku. Walaupun selama itu juga aku belum pernah melihat dan bertemu dengan orangnya langsung. Yach, karena selama ini kami hanya saling bertegur sapa melalui dunia maya.

Norak dan ketinggalan jaman mungkin, tahun 2012 sudah mau berlalu, tetapi aku masih memanfaatkan facebook untuk berkenalan dengan seorang pria bahkan berniat untuk melakukan kopi darat dengannya. Lebih tepatnya Rama lah memang yang menyapaku lebih dulu. Karena kebetulan memang kami menyukai salah satu community page atau group di dalam facebook, yaitu mengenai volunteer. Kami sama-sama suka meninggalkan comment mengenai hal-hal yang sedang di bahas di dalamnya. Dari comment-comment cerdas yang Rama tinggalkan di dalam page itu, aku sangat tahu kalau Rama adalah pria yang berintelektual tinggi. Hal itu sangat membuatku tertarik.

Bukan berarti dengan aku mau berkenalan dengan pria lewat facebook lalu aku bisa dikatakan wanita yang tidak laku. Aku adalah gadis lajang berusia 24 tahun. Aku bekerja pada sebuah LSM. Aku tinggal bersama dengan ibuku, orangtuaku baru saja bercerai, dan kebetulan aku adalah anak tunggal. Secara fisik aku cantik, itu pendapat orang-orang di sekitarku. Banyak yang mengatakan kalau wajahku sangat mirip dengan artis Asmirandah. Aku suka ketawa sendiri kalau mendengarnya. Bedanya mungkin aku adalah gadis yang sangat pemalu, pendiam, dan kutu buku. Dan aku bukan artis. Hehehe.

Aku ingat, enam bulan lalu sewaktu aku tiba-tiba di putuskan oleh pacarku dengan alasan kalau dia sudah punya wanita baru karena sangat bosan pacaran denganku yang menurutnya sangat membosankan dan tidak asyik, Rama lah pria yang bisa menghiburku. Rama mengatakan kalau cowok brengsek seperti mantanku itu tidak perlu ditangisi. Rama juga berhasil menghiburku saat aku kecewa pada orang tuaku yang memutuskan untuk bercerai. Masih banyak dan banyak lagi yang telah Rama lakukan untukku. Rama lah pria yang bisa membuatku bangkit dan bersemangat kembali.

Sayangnya aku tidak pernah mengetahui bagaimana sosok Rama yang sebenarnya. Pic profile ku dalam facebook terang-terangan aku tampilkan foto diriku, tetapi tidak begitu dengan Rama. Rama hanya selalu menampilkan pic profile nya dalam wujud pemandangan-pemandangan alam. Yang aku tahu dari dia, dia adalah sosok 28 tahun, seorang design grafis, suka minder, dan tidak pernah sekalipun merasakan pacaran karena selalu merasa tidak percaya diri bila bertemu dengan wanita. Mungkin terdengar aneh dan tidak masuk akal, sudah berusia 28 tahun tetapi belum pernah menjalin hubungan pacaran.

Aku sadar, enam bulan terakhir ini, aku telah menganggap Rama lebih dari sekedar sahabat. Rama tidak pernah tahu mengenai perasaanku ini. Aku tidak habis pikir, mengapa kalimat terakhir dalam sms ku itu, membuat Rama enggan melakukan kontak denganku lagi. Aku hanya ingin bertemu dengan Rama langsung, melihatnya, dan merasakan kehangatan sewaktu dia disisiku. Apakah aku salah.

"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."

Lagi-lagi hanya terdengar suara operator yang menjawab setiap aku menghubungi ponsel Rama. Sudah enam bulan aku benar-benar kehilangan kontak dengan Rama. Aku begitu merindukannya.

Badanku sangat lelah. Seharian pekerjaan begitu padat. Sekarang yang ku inginkan hanya tertidur pulas hingga esok pagi menjelang. "Tiit....Tiit..." kudengar suara laptopku berkedap-kedip seakan memintaku untuk segera mendekatinya. Oh ternyata ada notifikasi email baru. Aku sangat terkejut ketika melihat email baru itu dari Rama.

"Hallo Shinta, apa kabar? Aku selalu berdoa dan berharap kamu selalu baik-baik saja. Kamu masih ingat aku kan Shin? Hari ini tepat setahun kita kenal. Dimana pada tanggal ini, tahun lalu, aku menyapa kamu pertama kali. Kamu ingat? Maafkan aku karena selama ini tidak pernah menghubungimu. RAMA."

Aku tercengang membacanya, tanpa sadar butiran air mataku telah jatuh membasahi pipi. Ya Tuhan, terima kasih karena ternyata selama ini Rama belum melupakanku.

"Shinta, apa kabar?" Rama menyapaku lewat yahoo messenger ku yang kebetulan masih online. Oh tumben sekali Rama online. Setengah tahun ini, aku tidak pernah melihatnya aktif di dunia maya lagi.

"Rama, ini benar kamu? Kemana saja kamu, kenapa tiba-tiba tidak bisa dihubungi?" aku langsung membalas chat Rama.

"Shinta, kamu masih berharap bertemu aku?" tanya Rama yang membuatku sangat terkejut. Ternyata dia masih ingat keinginanku enam bulan yang lalu.

"Aku tidak berharap lagi bertemu denganmu, apabila dengan aku meminta bertemu, aku harus membiarkanmu pergi lagi selama enam bulan."

"Aku takut kamu kecewa setelah melihatku Shin."

"Kenapa Ram? Karena kamu selalu tidak pernah percaya diri bila bertemu dengan wanita ya? Apa sih yang kamu minder kan? Kamu orang yang cerdas. Aku sudah melihat hasil-hasil karya design grafis kamu. Itu luar biasa. Kamu seharusnya bangga terhadap diri kamu sendiri Ram."

"Hahaha, sekarang kamu bisa berkata seperti itu. Semua wanita juga seperti itu, tetapi setelah bertemu aku...."

"Aku tidak peduli bagaimana kamu, Ram," aku memotong pembicaraan Rama.

"Aku pegang kata-katamu Shin. Kamu mau kita bertemu dimana?"

"Kamu serius, Ram? Kamu mau kita ketemuan? Kamu tidak sedang becanda, kan? Hari ini Sabtu, kebetulan besok Minggu dan kita sama-sama sedang libur. Bagaimana kalau besok Minggu pagi kita bertemu di taman seberang kota. Aku sudah bisa membayangkan kita jogging dan sarapan bareng. Hehehe."

"Ehmmm, maafin aku Shin. Dari dulu aku tidak pernah suka dengan yang namanya joging. Kamu datang saja ya ke rumahku."

Hah Rama memintaku datang ke rumahnya. Aduh bagaimana ini. Terus terang aku sedikit terkejut dan kecewa dengan jawaban Rama. Tetapi aku tidak mau melepaskan kesempatan ini dan kehilangan Rama untuk kedua kalinya. "Oke, kamu kasih alamatmu ya, Ram," aku mengiyakan ajakan Rama.

"Ini alamatku ya Shin, bye and see u tomorrow."

Aku matikan laptopku dan bersiap-siap untuk pergi tidur. Aduh malam ini aku bisa tidur tidak ya, aku tidak henti-hentinya tersenyum dengan apa yang barusan terjadi. Besok, besok aku akan bertemu dengannya. Sudah bisa terbayang dalam lamunanku kalau sosok Rama adalah sosok yang gagah plus mempunyai hati yang sangat baik. Dia terlalu merendah. Pasti semua kebalikan dari semua yang telah dikatakannya. Tetapi kenapa semua wanita kecewa setelah bertemu dengannya. Ah, punya pikiran apa aku ini. 

***

Pagi ini akhirnya datang juga. Aku sedang dalam perjalanan bersama dengan Pak Somad, sopirku, menuju rumah Rama. Dag dig dug rasanya jantungku mau copot. Gugup dan senang bercampur jadi satu, menjadi sarapanku di pagi ini.

"Sudah sampai non Shinta," Pak Somad memberikan laporan.

"Pak Somad, benar ini rumahnya?" aku tercengang karena mobilku berhenti di depan rumah yang sangat besar. Rumah itu tingkat tiga, berdiri sangat megah. Lebih tepatnya seperti sebuah istana, menurutku.

"Benar non, ini sesuai dengan alamat yang non Shinta berikan," dengan mantap Pak Somad menjawab pertanyaanku.

Aku turun dari mobil dan mulai mendekati rumah itu. Akhirnya aku telah berdiri di depan pintu rumah Rama. Jantungku semakin berdegup kencang saat aku menekan bel rumahnya. Tidak lama kemudian pintu rumah dibukakan oleh seorang nenek.

"Ehm oh ehm, maaf nek, Rama ada?" tanyaku pada nenek itu. Perasaan gugupku masih belum bisa hilang.

"Non ini yang bernama Shinta ya?" dengan suara lembut dan ramah nenek itu balik bertanya.

"Eh, eh, iya nek. Dari mana nenek tahu nama saya?"

"Tuan Rama sering bercerita mengenai non Shinta. Dari tadi pagi tuan Rama sudah menunggu non Shinta dan berpesan kalau non Shinta sudah datang langsung saya antar ke atas."

"Ke atas? Memangnya saya disuruh nemuin Rama dimana nek?" mendadak aku menjadi bingung.

"Di kamarnya tuan Rama non."

What!!! Kamarnya??? Sebenarnya apa yang ada di pikiran Rama saat ini. Aku sangat kecewa dengan cara Rama menyambut kedatanganku. Dipikirnya aku wanita murahan apa. Huh mentang-mentang dia adalah si tuan Rama yang kaya raya. Kenapa tidak dia sendiri yang ada di bawah sini menyambutku. Kenapa harus menyuruh pembantunya. Pantesan saja semua wanita kecewa. Pasti kecewa dengan perlakuannya.

"Mari non Shinta, biar saya antar," ajak ramah nenek itu.

Perasaanku mulai tidak enak. "Nek, sepertinya lain kali saja ya saya kesini lagi," tolakku lembut. Cara penyambutan Rama membuatku berniat segera meninggalkan rumah megah ini.

Tiba-tiba nenek itu menggenggam tanganku hangat dan tersenyum padaku. "Non Shinta tidak usah takut ya," sepertinya nenek itu sangat tahu apa yang sedang aku rasakan. Pandangannya sepertinya mampu meluluhkan dan menghipnotisku untuk mengikuti langkahnya.

Saat ini aku sudah berada di depan sebuah pintu. Tetapi sekarang bukan pintu rumahnya melainkan pintu kamarnya. Aku mengetuk pintu kamarnya dan aku mendengar sahutan dari dalam," Masuk Shin!"

"Kamu sombong sekali ya Ram, ternyata kamu seperti ini. Kamu..." aku langsung menggerutu sembari membuka pintu kamarnya. Aku langsung terdiam ketika mendapati sosok Rama di hadapanku. Bukan sosok gagah seperti yang aku bayangkan. Badannya kurus. Wajahnya sayu, sembunyi dibalik kacamatanya. Dia memang terlihat tampan. Tetapi...tetapi dia duduk di atas sebuah kursi roda.

"Kenapa Shin, kenapa kamu berhenti berbicara?" sepertinya Rama menyadari perubahan sikapku. "Oh iya, perkenalkan namaku Rama, pria yang mungkin sudah setahun ini menemanimu di dalam dunia maya," Rama menyodorkan tangan kanannya ke arahku.

"Rama..." aku tidak tahu mengapa mendadak bibirku sulit berucap.

Rama menarik tangan kanannya kembali. Bertumpu di atas tempat penyangga tangan yang merupakan bagian dari kursi roda itu. Tiba-tiba wajah tampan dengan pipi tirusnya menyeringai. "Kamu kecewa melihat aku ya Shin? Aku sudah duga sebelumnya. Aku tahu kamu sama seperti wanita lain. Mereka jijik setelah melihat kondisiku yang cacat ini. Aku memang tidak sempurna dari aku lahir. Itu mengapa ketika kamu meminta bertemu, aku langsung menghilang. Aku tidak mau sakit hati lagi. Tetapi aku sadar, aku sudah terlanjur menyayangi kamu Shinta. Aku tidak mampu menghilang lagi dari kamu."

Aku mendekatinya dengan air mataku yang mulai jatuh berlinang. Kali ini benar-benar tidak ada yang bisa aku ucapkan selain memeluknya. Aku harap Rama bisa merasakan kalau aku juga tulus menyayanginya dan tidak menganggapku sama seperti gadis-gadis bodoh lainnya.

***

Poskan Komentar

10 comments

Sedih,,,nggantung,,
Lanjutin pliiisss,,,

aaak,,, tambah galau...
T.T

Ini cerita yang menarik. kalau jadi sebuah film pendek pasti keren....

mengharukan,,,!!!!

Baguss.... Ceritanya menyentuh. :)

Kereen
Tanggung bangeeet
Lanjutin donk pliiss mb nus :))

Wah... tulus sekali sosok shinta.
Mengharukan. :-)
Dibuatin lanjutannya donk..

Bagus.. hrsnya ada lanjutannya donk..

endingnya gantung...

lanjut donk, crtanya mnyentuh bngt......

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top