28

1h3s-thumb
Berawal dari sekedar curhat, setiap hari, keintiman itu datang tanpa diundang…..

Setiap kali aku merasa resah, gelisah, bingung, takut, benci, marah, sensi, kesel, dan semua ketidak nyamanan yang aku rasakan, ruang kerjanya menjadi ruang konsultasi gratis. Nggak perlu mengetuk pintu, apalagi bilang spadaaaaaaa! Aku punya akses seluas-luasnya untuk masuk ke ruangan itu. Bagaimana pun dan apapun yang dikerjakan si pemilik ruangan itu, aku nggak pernah peduli dan dia pun nggak pernah menyatakan keberatan.

Seperti suatu ketika misalnya, aku buka pintu ruangan itu tiba-tiba, dia sedang hanya ber-boxer ria, keringat membasahi sekujur tubuhnya, rambut hingga ujung lututnya mengkilat basah keringat, push-up dengan telapak tangan mengepal.

Dia melirik sedetik tanpa menghentikan kegiatannya.

"Kenapa Aline?"

Aku duduk di sofa single dekat meja kerja dia.

Menghembuskan nafas panjang, aku mengumpulkan segenap emosi yang tadinya membuncah siap meledak dari otakku. Aku malah bingung sendiri mau cerita darimana. Sofa Magnus begitu empuk, p.u leather hitam, tapi tetap nyaman. Nuansa maskulin hadir di tiap aksessoris ruangan itu.

Aku pandangi Magnus, sekarang dia sit-up, terlihat ringan sekali gerakannya. Wajah orientalnya lebih condong ke Japanesse outlook, mata sipitnya lebar dan agak naik dibagian ekornya. Jadi ingat Takeshi jaman dulu. Tingginya 172 cm, berat badannya 60 kilo, nggak kurus, nggak gempal. Nggak terlalu berotot, six pack-nya terlihat samar-samar, hanya pembuluh darah di sepanjang lengan dan kakinya terlihat jelas, hmmmm sexy…...

Dia tetap diam, nggak nanya lagi. Itulah Magnus, Magnus Dinata – bujangan 34 tahun, nggak pernah mengumbar kata. Cenderung pendiam. Tapi dia sangat sabar kalau aku sedang curhat. Pendapat–pendapat dan pandangannya bisa meredakan emosiku secara pasti.

Sembari mengelap keringat dengan handuk kecil, dia duduk di kursi kerjanya. Ruangan ini cukup besar, dia menjadikannya ruang kerja komplit dengan threadmill dan beberapa barbel kecil.

"Malah diem. Lagi dapet?" tanya dia lagi.

Aku hanya mengangguk. Yup. Magnus sangat paham kondisiku. Hari ini aku uring-uringan nggak jelas, emang udah saatnya "tamu" itu datang.

Magnus terlihat tersenyum kecil, dia merogoh laci mejanya, menyodorkan sebuah buku.

"Nih baca."

"Ih, Chicken Soup lagi? Yang lain kek, ini kan udah…." Aku jadi merenggut sambil menerima bukunya.

"Lihat dulu neng, beda materi. Daripada beef soup, kolestrol kamu malah bisa naik." candanya.

Aku meringis, nyengir doang begitu melihat omongan dia benar bahwa buku Chicken Soup for Soul yang aku pegang memang belum pernah aku baca. Aku mulai tenggelam dalam bacaan, mengurangi sedikit pms hari itu. Magnus juga lalu menghilang, mungkin mandi dan langsung ke kamar tidurnya.

Yahhhh, hanya seperti itu aku dan Magnus. Nggak pernah ada kontak fisik diantara kita. Hanya dengan melihat dia mendengarkan curhatanku, merasakan perhatian empatinya, sudah menjadi vitamin B-complex manjur untuk seharian.

Tetapi situasi berubah sejak 2 minggu yang lalu. Waktu itu aku begitu sakit hati tentang sesuatu hal, hingga dada ini terasa sesak…..Air mata nggak habis-habisnya menetes, mata terasa sembab dan panas.

Magnus menyimak ceritaku dengan serius. Aku terisak makin dalam, tersenggal-senggal tanpa bisa ditahan….

Tiba-tiba dia berdiri, menghampiri aku yang sedari tadi berdiri dekat meja dia. Dia merengkuh bahuku dengan kedua lengannya. Aku peluk dia erat dan terisak didalam pelukannya.

Magnus memakai kemeja dengan dua kancing teratas terbuka lebar. Wajahku menempel di dadanya. Sudah sering aku mencium aroma Magnus yang seperti aroma hutan pinus dalam guyuran air hujan. Saat itu aromanya begitu memabukkan…..dan hangat…..

Dia menempelkan dagunya di kepalaku, isakanku terhenti. Aroma tubuhnya mengalahkan rasa sakit yang ada, mengacaukan setiap sel-sel tubuhku yang tiba-tiba terbangun, menggeliat resah melalui setiap pembuluh darah tubuhku.

Aku mulai terlena, nggak pernah menyangka sebelumnya bahwa dekapannya sangat hangat, memberi rasa aman, rasa nyaman, menggelitik….

Bibirku menyentuh kulit dada nya, terdengar jelas degup jantungnya di telingaku. Aku mulai gelisah, adrenalin mengalir semakin cepat. Gelenyar-gelenyar listrik mengejutkan panca indra  dalam setiap hela nafasku.

Bibirku mulai terbuka, membelai kulit dadanya dan perlahan dengan ujung lidah, aku rasakan hawa panasnya.

Degup jantungnya terdengar semakin cepat, pelukannya makin erat.  Nggak ada satu katapun keluar dari mulutku dan Magnus.

Tanganku mulai menjelajah punggungnya yang bidang. Bahu dan leher dia terasa mengejang.  Magnus makin menarik tubuhku, kejantannya terasa keras menyentuh di perut, memberi perasaan yang sama sekali asing dan nggak terbayangkan sebelumnya.

"Aline….." Magnus memanggil serak tanpa melonggarkan pelukannya. Bibirnya menempel di rambutku, nafasnya mulai memburu.

"Cium aku Mag….please….." aku menghibah, tanpa menghentikan gerilya tangan dan mulut ku di sekujur badannya.

Magnus mengerang perlahan, melepaskan pelukannya, memandang intens dengan matanya yang terlihat lebih gelap dan tajam dari biasanya. Berkali-kali dia membasahi bibirnya, jakunnya terlihat naik turun.

Aku pandang dia dengan tatapan memohon, bibirku bergetar, lututku terasa lemas, daerah intimku tiba-tiba berdenyut sakit lalu terasa tebal dan lembab.

Magnus mendekatkan bibirnya perlahan, aku menahan nafas. Gemuruh dadaku terdengar seperti gendang bertabuh...Ketika dia melumat bibirku, dari pinggir hingga tengah, lidahnya mulai memasuki mulutku dengan liar, memaksa mulut ku terbuka menyambut lidahnya yang lincah menyodok-nyodok dengan mahir. Berkali kali aku melenguh menyiratkan rasa  nikmat yang menjalar pasti ke arah pangkal yang berdenyut panas!

Aku mulai terengah, tanganku sudah ada di punggungnya yang telanjang, entah kapan jariku mulai membuka kancing kemejanya. Kaos yang aku pakai pun sudah meringkuk dekat kakiku.

Magnus masih mencium bibirku ketika tangangnya membelai tali bra lalu turun ke kaki gunungku. Aku mulai mengejang, mengharapkan sesuatu yang lebih. Dan ketika jarinya mencapai puncak gunung yang mengeras, aku sudah lupa diri….

Dia membuka kaitan bra-ku perlahan dengan tangan kanannya, tangan kirinya membelai lembut seluruh tubuhku yang terbuka, meremas rambutku, mulutnya masih sibuk menjelajah dan membelit lidahku. Ketika aku telanjang dari pinggang ke atas, bibirnya melepaskan diri dari mulutku, turun menjelajahi leher, bahuku, lalu dengan lembut mulai memainkan puncak gunungku dengan bibir dan lidahnya.

"Mag…..please….." aku bergetar dan melengkungkan tubuh ke arahnya dan tanganku mulai aktif nggak sabar berusaha membuka kancing celana jeansnya.

Mag menjauhkan pinggulnya, hanya menarik tanganku untuk membelai kejantanannya dari luar.

Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, tangannya menyusup ke dalam celana pendekku. Dan ketika Magnus menemukan clit-ku, aku menyerah total. Aku mengerang keras, menggerak-gerakkan pinggul mencari jari-jarinya yang berirama teratur. Terasa sangat pas….panas….aku naik secara pasti. Dia sangat mahir memainkan jemarinya, dari tepi labia mayora, menyentuh asal liangku, menetap di clit-ku berputar intens membentuk lingkaran-lingkaran besar perlahan, lalu berubah melingkar kecil dengan kecepatan yang ditambah… hingga akhirnya aku merasakan dorongan liar luar biasa membuncah dan meledak dari diriku.

"Mag!!" aku menjerit lepas, aku gigit bahu dia kencang.

Magnus memeluk tubuhku yang mulai terkulai lemas akibat klimaks yang luar biasa, membopong tubuh ku ke sofa, lalu menutup tubuh bagian atasku dengan baju dia.

Magnus menatapku dengan wajah beribu makna, menyaksikan aku yang terengah-engah, berkeringat dan menggigit bibir menikmati rasa yang tersisa.

Mata gelapnya mulai redup, ada sedikit kesedihan atau penyesalan yang aku tangkap dari matanya.

Tanpa mengatakan apa-apa, dia keluar ruangan, meninggalkanku terkulai nyaman dalam ruangannya.

Aku tertegun. Kenapa?

Sejak saat itu, sikapnya berubah drastis. Dia terlihat seperti orang asing. Topeng dingin yang nggak pernah dia pakai kalau sedang bersamaku, kini selalu terpasang, bak benteng tinggi yang menutupi dirinya. Ruangannya pun selalu dalam keadaan terkunci.

Dia benar-benar menghindari aku. Benar-benar menghindar….pagi-pagi sudah keluar rumah. Malam kadang nggak pulang  atau pulang diatas jam tidurku.

Kalau pun kebetulan bertemu dalam satu ruangan , aku sangat sangat sangat bisa merasakan ketegangan seksual diantara kami berdua.

Tetapi tatapan matanya sangat dingin. Bibirnya selalu menarik garis lurus tanpa senyum. Tanpa kata.

Aku pernah berusaha memegang tangan dia, tapi dia mengelak, dan tanpa berusaha menutupi usahanya bahwa dia memang menghindari aku!

2 minggu yang menyebalkan!

#####

Hari Minggu yang biasa saja. Aku bangun pagi ini dengan mood yang luar biasa berantakan! Sayup aku dengar alunan musik dari kamar Magnus.

When you are ready I will surrender
Take me and do as you will
Have what you want to
Your way is always the best way

I have succumbed to this passive sensation
Peacefully falling away
I am the the zombie your wish will command me
Laugh as I fall to my knees

Yeahhhhh….that is exactly apa yang aku rasakan…Aku menggerakkan kepala mengusir penat di leher karena kurang tidur. Setelah kejadian itu, malam hari terasa sangat menyiksa.

Aku menarik nafas panjang, aku harus mendatangi Magnus, menuntut penjelasan dari dia.

Dengan tekad baja, aku bergegas ke kamar Magnus.

Dikunci!
Shit!

Bahkan kamar tidurnya pun yang selama ini tidak pernah dikunci, sekarang dikunci. Arrrgghhh!!! Apa maksudnya?????

Rasa amarah dalam dada membuat aku menggedor pintu kamarnya sekuat tenaga.

Magnus membuka pintu dan terlihat sedetik ekspresi terkejut lalu topeng dinginnya terpasang dengan sempurna begitu melihatku. Sialan!

"Minggir, aku mau masuk!" kudorong tubuhnya keras dan langsung masuk tanpa menunggu ijinnya.

"Mending kita ngobrol diluar Aline…." Magnus berkata dingin sambil membuka T-shirt putih yang biasa dia pakai untuk tidur dengan T shirt V line dia yang lain.

"Ga mau! Aku minta penjelasan dari kamu Mag! Kenapa kamu menghindari aku??? Aku merasa aku just like a shit dimata kamu!" aku berteriak kencang, dada aku naik turun menahan emosi yang tersimpan.

Magnus membalikkan badan, menghampiri aku, mencengkram lengan atasku dengan keras. Matanya berubah gelap, wajahnya merah penuh kemarahan.

"Kamu masih tanya kenapa Aline? Kenapa?!?!" Magnus menggeram, mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Aku kelabakan, nafasnya terasa hangat di wajahku, aroma pohon pinusnya menyegarkan bagaikan oase di padang sahara.

"Apa mau kamu Aline?? Apa?!?!" Magnus berteriak lagi, kedua tangannya sekarang mencengkram lebih keras lagi.

Aku nggak bisa jawab. Aku mau apa? Mau apa? Aku mengkerut. Aku sudah nggak emosi lagi….Aku terangsang sekarang…..

Magnus memperlihatkan sosok dominant possessive yang sangat menguasai nafsu dan gejolakku. Dia berhasil membangkitkan sesuatu dalam diri aku dalam sekejap.

"Jawab Aline!! Apa yang kamu mau?!?!" Magnus terlihat semakin gelap, tubuhnya sudah benar-benar rapat di tubuhku.

Tiba-tiba dia memanggut bibirku keras, menggigit, mengumbar lidahnya ke seluruh rongga mulutku. Seakan tak mau kalah, aku membelit dia dengan lidahku yang haus.

Ketika dia melepaskan ciumannya, aku tersenggal - senggal kehabisan nafas. Magnus menyeka sekitar bibirnya yang basah. Matanya menyorot tajam, hitam, dan gelapnya sudah membuat aku tersesat…..

"Ini yang kamu mau Aline?? Ini yang kamu tuntut dari aku???" Dalam sedetik Magnus menarik tanganku, membaringkan tubuhku di ranjangnya.

Aroma pinus makin menyeruak.

Dia melepaskan kaos T-shirt-nya, menarik keras kaos dan braku, menanamkan lagi bibirnya ke dalam mulutku. Kedua tangannya menahan kedua tanganku seperti tawanan tak berdaya. Aku merasa sangat berada dalam suasana erotis!

Perlahan dia turunkan lidahnya menyusuri  belakang telinga, leher, pundak dan puncakku yang sedari dari mengeras. Aku menggelinjang.

"Iya Mag…..ini yang aku mau……aku selalu mau ini dari kamu….jangan berhenti….." Aku nyerocos disela sela kenikmatan yang Magnus cecarkan.

Perlahan Magnus membuka celana pendekku. Dia mulai membelai permukaan panties yang basah, dari pinggir lalu ke tengah, lalu ke pinggir lagi. Sangat menggoda.

Damn! Buka aja Mag…… Aku memohon dalam hati, mengharapkan lebih lagi.

Magnus menyisipkan tangannya ke dalam panties-ku. Jari-jarinya bermain, berputar, menekan di clitku, merasakan basahnya daerahku, sebelum tiba-tiba dia menusukkan dua jarinya yang kekar ke dalam diriku yang sudah sangat lembab dan hangat.

Aku menggelinjang lebih keras lagi ketika aku merasakan Mag sudah menemukan titik G aku di dalam sana. Badan aku melengkung ke atas, mengejar hal itu lagi. Magnus benar-benar mahir memainkan jemarinya….

Magnus menatap mataku tajam ketika akhirnya aku terkulai kalah lagi dengan jari dia masih di dalamku.

"Mag!!" aku menjeritkan namanya keras!

Dia tarik perlahan jarinya keluar, membelai belai lagi paha dan pangkal aku…..mengarahkan tanganku ke kejantanannya yang terasa keras sekali dibalik celana pendek yang berbahan kain tipis. Terasa tegang. Terasa besar. Oh my……

Ketika Magnus mulai akan membuka celana pendeknya, terdengar suara yang nggak asing dari luar kamar.

Aku bergegas mengenakan kembali bajuku setelah aku yakin mengenali suara itu. Magnus membeku. Mata kelamnya menghilang. Bajunya yang tergeletak disambarnya secepat kilat.

"Mama! Mama! Dimana sihh?"

Aku cepat keluar kamar, mendapati seorang anak kecil berambut ikal dengan mulut belepotan coklat.

"Ada apa sayang? Kok Mora belepotan coklat, sih?" Aku peluk Mora, anakku, buah cinta kasihku dengan Sandy 4 tahun yang lalu.

"Om Tristan kasi aku coklat, Ma." jawabnya sambil terus melahap coklat batangan di tanggannya.

"Om Tristan? Ada dimana Om-nya?" Tanyaku lagi sambil mengelus rambutnya dengan gugup, deg-degan kalau sampai Tristan tahu apa yang terjadi dalam tiga puluh menit ini…..

"Lagi betulin mobil di depan, Ma." jawab Mora.

"Hai kak Aline! Nggak jalan-jalan nih hari Minggu?" tiba tiba sebuah suara di belakangku.

"Hai Tris! Nggak lah, nggak enak kalau cuma berdua." jawabku, sembari berusaha menutupi jejak yang mungkin akan terlihat di rambut dan bajuku.

"Kak Sandy belum pulang ya?" tanya Tristan lagi sambil menggendong Mora yang terlihat masih asyik dengan coklatnya.

"Masih harus disana sepuluh hari lagi Tris, katanya perusahaan sawit yang di Kalimantan ini system keuangannya payah. Jadinya para Auditor Sandy yang kelimpungan." aku menjelaskan kondisi Sandy, suamiku.

"Ya udah, sabar aja Kak. Aku ke Magnus dulu ya Kak, udah kangen nih….." Tristan mengedipkan sebelah matanya.

Nggak lama kemudian, Tristan keluar kamar, bersama Magnus, bergandengan tangan…….

Sekilas tatapan Magnus berhenti di mataku.

Aku menunduk.



Poskan Komentar

28 comments

oh my my my my Thank Mr.admin and Mba Ky

Ummm,,jd Tristan n Magnus?? *berpikir keras*
Keyeennn mksh Mba KY n Mas Yudi

wew mba,bru juga part 1 udh HOT pake banget...
wktu ada suara2 dtng..OH aku Terkejut!

serasa aq yg kepergok.alurnya asik nih mba dbaca.moga part slnjutnya jg serenyah ini.
thanks mba KY en mas admin.

Kyaaaaaaaa,,,,danke so much mbak KY & mas Yudi,,,

beuh ni bab1 panas bgt,thx mba KY n mas mimin :*

Hahaha iya vie..knp mreka gandengan Tangan ya...berpkir keras jg...yks mba kaye n mamas

mbak Kayeeee ヽ(♥´з`)/kiss kiss~
makasih yaaaa mbak Kaye dan mas mimin

Tristan dan magnus?? Enmm...

Tristan dan magnus?? Enmm...

Magnus Tristan... gandengan... oh no

Keren....
Makasih mbak KY and Mas mimin :D

aq tau..aq tau.... istilah anak sekarang jeruk minum jeruk... ato kasarnya maen pedang2an wkkwkw...

Eeemmmm....bagusss...hot bangeeett.... tapiiii......binguuuuung...:( heee...maapkaaannn dirikuuuu mba Kayeee..^^ ehhh...jd tristan n magnus pasangan gay yaa..??

tristan dan Magnus?? apakah seperti om Matt???
tunggu chap selanjutnyaa..

Uwoooh awalnya hooot
Tapi kok? Tristan dan magnus gandengan tangan??
Hahahahaha
Penasaraaan mb kayee
Makasih mas mimin :D

Pensaran mba nunggu lanjutan Πγª ....

uhhhhhhhhhh
kerenn..makasih mas mimin n mb KY...tristan n magnus bukan yaoi kan???
mreka cuman tmenan ajah kan *berpikir positif*

Apakah berarti magnus itu biseksual ya?
*hm tak biasa

I Love it, u Rocks KY

oh god magnus biseks ?mba crtanya bgus .. ada klanjutan nya ga ?

Omg.. Jadi si Aline tu masih pnya suami to.. Aq kira single ato janda gt.. N mereka tinggal 1 rumah.. Apa si magnus sahabatnya suami Aline?.. Hhmm.. Jadi penasaran lanjutannya

wahhh,,baru bab 1 tapi udah butuh kipas nih bacanya,,
jangan sampe yah magnus dan tristan di bikin gay.. pliss..pliss...!!!

Jeruk minum jeruk.... Maen pedang2an?..... Hahhaaa ngakak mbak ayu.... :D

Basah kuyupppp.... Hahaa hahaha ...mbak KY :)
Makasih makasih makasih..

Hai all, *makasih dah mampir dan komen...* ikuti terus tiap bab nya, semua jawaban ada disana :-) semangat!

uwoooow...
menarik^.~
tristan itu cowok kan??

ditunggu lanjutannya mba KY :*

makasii PN xD

hahahahahaa CRAZY.. gilaaa kereeen mba KY

waah dah lama ga nongol dah ketinggalan jauh, hehe...
salam kenal ya mba kaye...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top