8

Penulis: +Dian Christina


bronis
Ketukan di pintu kamar kosku membuatku tersentak dari tidur-tidur ayamku. Gila…siapa sih siang-siang bolong di hari Minggu ketuk-ketuk pintu. Tapi kupaksa juga diriku bangkit dari kasurku yang tampak sangat menggoda dan kuseret langkahku kearah pintu depan. Kubuka pintu dengan cepat.

OMG…am I still sleeping? Sesosok cowok ganteng dengan tubuh menjulang, hiks jadi semakin kentara kalau aku ini pendek, berdiri di depan pintu kamar kosku. Malas mendongak, pandanganku malah jatuh ke dadanya yang bidang dan perut kotak-kotaknya yang menawan. Tahu banget bodinya keren, dia pakai kaos yang pas di badan. Pasti nih cowok rajin menyambangi tempat fitness, aku terpesona.

Eitss, I should look at his face, right? Aku kan perlu tahu siapa dia walaupun cuma mimpi. Seraut wajah ramah dengan sorot mata bersahabat tertangkap pandanganku. Hidungnya mancung, dengan alis lebat, bulu mata lentik panjang yang bikin iri, rambut berombak pendek. Sekilas mirip Christian Bautista tapi lebih kurus. Sepertinya familiar tapi…

"Kak Dian…Haloooo….Loe udah bangun, kan?" cowok itu bertanya sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan mataku.

Aku berkedip. So, I’m not dreaming. Tapi dia siapa ya? Perasaan gak punya kenalan secakep ini, aku mengernyit.

"Gue Tian, adeknya Gabby, teman loe…Masa gak inget sih?"

Aku terlonjak. "Astaga, loe Tian. Asli gue lupa. Loe beda banget, tambah…tinggi," ucapku ragu…asli tadi niat banget bilang dia tambah seksi.

"Tambah ganteng juga, kan?" goda Tian sambil mengedipkan mata ke arahku. Sial, kenapa juga jantungku berdebar kencang. Ingat Dian ini Tian, astaga bahkan nama panggilan kami berima dan baru aku sadari sekarang setelah bertahun-tahun, ini adalah adiknya Gabby.

"Masuk deh."

Tian mengikuti langkahku. Kamar kosku terdiri dari ruang tamu kecil yang hanya ada meja bulat mungil dan sofa, satu lagi meja kotak tempat TV dan laptop. Ada rak yang menempel di dinding atasnya tempat menaruh buku, serta kursi kecil kalau aku perlu bekerja dengan laptopku walaupun jauh lebih sering aku boyong laptopku ke kamar tidur, kemudian ada kamar tidur yang terdiri dari satu bed, lemari dan meja rias kecil dan kamar mandi, terakhir dapur mungil di ujung paling belakang.

Tian langsung duduk nyaman di sofa. Kutarik kursi kecil dekat meja kotak kearah meja bulat mungil menghadap Tian.

"Jadi, gimana kabar loe? Kapan balik Indo?"

"Dua bulan lalu balik."

"Trus, udah lama loe tinggal di sini?"

"Baru sebulan. Gue dapat kerja di sini. Ya…terpaksa deh jauh lagi dari Kak Gabby dan Mama. By the way, Kak Gabby gak pernah ngomong kalo gue tinggal di sini?"

Uppss…aku jadi ingat telpon Gabby seminggu yang lalu. Dia cerita kalau Tian memang tinggal satu kota denganku, bahkan dia sudah memberiku alamat Tian. Aku memang berniat untuk mengunjungi Tian, bagaimanapun dia adik sahabat karibku, tapi terbayang wajah Tian delapan tahun yang lalu, sudah terlihat tampan memang tapi tatapan malu-malu dan kikuknya agak menganggu dan jauh lebih kurus dari sekarang tanpa otot-otot yang membuat otakku berkeliaran ke mana-mana seperti sekarang ini. Aku sempat berpikir apa yang harus kubicarakan dengannya nanti. Memang kami lumayan akrab, Tian sering ikut ketika aku dan Gabby jalan ke mall-mall di Surabaya atau hanya sekedar nonton di bioskop.

Kalau aku pikir-pikir lagi agak aneh. Untuk apa juga anak SMU ikut jalan dengan kakak dan teman kakaknya yang sudah kuliah? Usia kami, aku dan Gabby terpaut empat tahun dengan Tian. 

Aku jarang melihatnya lagi setelah dia kuliah di Bandung. Apalagi saat itu aku sibuk dengan skripsiku dan jarang punya waktu main ke rumah Gabby. Setelahnya aku sibuk dengan pekerjaanku dan rencana pertunanganku dengan Tommy, kekasihku saat itu. Kabar terakhir, setelah lulus kuliah dengan nilai yang cum laude aku dengar Tian melanjutkan kuliah S2nya di luar negeri dengan beasiswa penuh.

"Gabby cerita sih, seminggu yang lalu. Dan sumpah, gue niat banget berkunjung atau menghubungi loe. Cuman…gue lupa," jawabku malu.

"Loe nggak ada acara kan hari ini? Kata Kak Gabby loe belum ada pacar setelah pertunangan loe ama Tommy bubar. Jadi, bisa dong kita makan siang sekalian ngintip sunset ke Pantai Petitenget?"

Mukaku sempat memerah saat Tian menyoal soal kejombloanku. Dasar, Gabby si mulut ember. Haduh, kenapa juga aku salah tingkah. Tapi sepertinya menarik juga, makan, menghabiskan waktu bermain di pantai setelahnya dengan ditemani cowok seganteng ini, baiklah tidur siang toh bisa di lain waktu, putusku.

"Oke, give me 10 minutes to change my clothes. Baru deh kita jalan."

***

Aku langsung menerima tawaran pekerjaan sebagai Direktur Cabang aka Owner Representative untuk kantor di Kuta - Bali pada sebuah perusahaan konsultan disain yang berinduk di Jakarta. Bukannya di Surabaya aku tidak ada tawaran, tapi aku kangen dengannya. Diandra, kubisikkan namanya perlahan. Cinta pertama dan cinta matiku.

Aku jatuh cinta padanya sejak SMP kelas tiga. Dia teman kuliah Gabby, kakak perempuanku satu-satunya. Aku selalu mencuri-curi kesempatan untuk dekat dengannya tapi sekaligus berusaha untuk menyembunyikan perasaanku di saat yang sama.

Ketika Diandra pacaran dengan Tommy, saat aku kelas tiga SMU, hatiku patah. Duniaku serasa runtuh. Jadi aku menjauh. Kuputuskan kuliah di Bandung supaya tak bertemu dengannya lagi.

Aku berganti-ganti pacar sesudahnya. Menjadi playboy untuk melupakannya. Tapi tak pernah bisa. Aku benar-benar terobsesi pada Diandra.

Sering di saat malam, aku mengkhayalkan memeluk tubuh mungilnya, mengecup tawa lepasnya, menelusuri garis lehernya dengan bibirku dan membuatnya menjeritkan namaku. Membayangkannya saja membuat salah satu bagian tubuhku mengeras.

Kabar putusnya pertunangan Diandra dan Tommy kuketahui ketika aku baru sebulan di Jerman untuk kuliah S2ku. Seandainya aku tahu lebih awal pasti akan kubatalkan beasiswa sialan ini. Kudengar pula Diandra memutuskan pindah dari Surabaya dan menerima pekerjaan di Denpasar untuk menyembuhkan luka hatinya. Damn, setiap hari aku berdo’a supaya Diandra tetap melajang sampai saat aku pulang nanti.

***

Diandra bersenandung riang. Pagi tadi dia mendapat bbm dari Tian yang mengajaknya dinner malam ini. Cewek waras manapun pasti tidak menolak apalagi Diandra yang sudah hampir dua tahun ini tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Dia trauma. Pada pengkhianatan.

Tapi Tian begitu manis, begitu menyenangkan dan begitu menggoda. Hanya saja dia adik Gabby, sahabatnya. Tidak apa-apa, batin Diandra sekali lagi meyakinkan hatinya.

Diandra masih terbayang acara jalan mereka minggu yang lalu. Tian begitu gentleman. Membukakan pintu mobil untuknya, menarikkan kursi saat mau makan bahkan menggandeng tangannya menyusuri pantai. Entah karena suasana pantai, hatinya yang kesepian atau memang Tian yang terlalu mempesona sehingga dengan begitu mudahnya Diandra membiarkan Tian menyampirkan tangan di pundaknya ketika mereka berdiri di tepi pantai. Bahkan seperti hal yang alami saja ketika dia duduk bersandar di bahu Tian dan cowok itu memeluknya dari belakang saat mereka akhirnya duduk di pasir menikmati sunset yang mulai turun. Angin pantai sempat melenakan Diandra. Dia memejamkan matanya di pelukan Tian. Mungkin Tian mengira dia tertidur, tapi astaga siapa yang bisa tidur saat hatinya berdebar-debar? Ketika itulah Diandra merasa Tian mengecup rambutnya dan belakang telinganya. Jantung Diandra terasa melompat-lompat. Tapi dia tetap pura-pura tertidur. Diandra malu.

***

Tian terlihat sangat tampan saat menjemput Diandra. Kemeja garis warna abu dan biru tua terlihat sangat cocok untuknya berpadu dengan jeans biru dongker. Diandra sendiri memakai dress warna biru muda dengan kancing dan renda putih depan yang simpel tanpa lengan. Berpadu dengan anting panjang berbatu putih dan flat shoes putih. Diandra, meski mungil, tidak pernah menyukai high heels.

Entah kenapa, acara makan malam mereka berjalan sedikit kaku. Tidak mengalir seperti seminggu yang lalu. Diandra tahu dia terlalu gugup. Bahkan tadi dia sempat menjatuhkan garpunya. Padahal tempat makan yang dipilih Tian tidak jelek. Malah menunya kesukaan Diandra. Seafood. Dan menikmatinya di tepi Pantai Kedonganan. Apalagi yang kurang? Masalahnya Tian terlalu tampan dan sudah lama Diandra tidak berkencan. Tian juga mendadak jadi pendiam. Entah apa yang dipikirkannya. Tak ada lagi Tian yang nakal menggoda seperti seminggu yang lalu.

"Yuk, jalan ke pantai," ajak Tian. Tian mengenggam jemari Diandra erat. Ditariknya perempuan favoritnya itu perlahan. Mereka berjalan bersisian. Suara ombak berdebur. Mereka berhenti  di tempat yang agak gelap, lumayan jauh dari keramaian kafe. Hening.

"Tian," Diandra memecah kesunyian.

"Ya?" Tian menolehkan wajahnya.

"Kita…ah sudahlah. Tidak jadi."

"Kita pacaran kan, Dian? Dan aku tak mau lagi memanggilmu kakak." suara Tian lirih tapi tegas. Tak ada panggilan loe dan gue lagi.

Hati Diandra berdebar kencang. Tian meraih wajah mungil Diandra. Tanpa ragu dikecupnya bibir Diandra. Sekilas. Hati Diandra memprotes tapi belum sempat Tian sudah merengkuh bibirnya kembali, melumatnya dengan ahli. Menelusuri celah-celahnya, memaksa Diandra membuka mulutnya sehingga lidah Tian bisa dengan leluasa mengekplorasi. Astaga, rasanya begitu…oh Diandra terengah. Tak berhenti di situ, tangan Tian sekarang malah memeluk Diandra dengan erat. Diandra tak mau kalah, dikalungkannya kedua lengannya ke leher Tian.

Tian semakin berani, bibirnya kini menelusuri leher Diandra. Tangannya mengusap-usap punggung Diandra. Dan tanpa Diandra sadari, Tian berhasil membuka kancing atas dressnya dan bibirnya menemukan belahan dadanya. Dikecupnya dengan ganas dan panas. Diandra terpekik, "Oh, Tian."

Ini bahkan lebih nikmat dari khayalan Tian. Diandranya yang mungil, manis dan menggairahkan.

Bel peringatan berdentam di kapala Diandra. Segera gadis mungil itu menarik diri dari Tian, hampir terjatuh kalau saja Tian tidak memegang tangannya. Kesunyian melingkupi mereka.

"Ma…maaf. Aku tak bisa menahan diri. Kau begitu…oh tahukah kau, aku sudah menyukaimu bahkan sejak aku masih SMP. Jadi bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu sedang kau berada begitu nyata di sampingku? Aku bahkan tak tahu berapa banyak malam kulewati sambill membayangkan memeluk dan menciummu. And hell, kenyataannya jauh lebih nikmat dan aku tak menyesal, Dian," suara Tian penuh emosi.

Diandra terperangah. Ya Tuhan, Tian terobsesi padanya. Cowok ini mencintainya.

"Ketika berpacaran dengan Tommy aku tidak mau bercinta dengannya sebelum kami menikah. Tapi dua bulan menjelang pernikahan kami, aku memergokinya sedang tidur dengan perempuan lain di apartemennya."

"Oh, Dian. Maafkan aku." Tian memeluk Diandra dengan rasa bersalah. "Kalau begitu menikahlah denganku. Segera. Sebab aku tak tahu berapa lama lagi aku sanggup bertahan tanpa menyentuhmu. Kau tahu sudah puluhan tahun aku mendambamu."

"Jadi, ini lamaran, Tian?"

"Hai, kau tidak sebodoh yang aku kira kan?"

"Tiaaan…..awas kau. Tapi iya. Iya aku mau. Iya kita segera menikah."

Diandra mempererat pelukan mereka. Angin pantai yang dingin menerpa tubuh mereka tapi hati Diandra terasa hangat. Oh Tian, my lovely bronis, I love you.

***

Poskan Komentar

8 comments

Hny beda 4 tahun koq,,,
Klo bedany 7 thun itu bru broniest,,
But,,overall,,,ini cerita yg bagus,,,
Keep writing yagh, Dian,,
Makasih mas Yudi,,

keren.... Coba ceritanya mendetail... ;D

Gpp usianya lbh muda asal matang n dewasa ;)

Huaaa baguuss
Keren, sweet bangeeet :))

Sweet....brownis yang gentleman :)

Sweet.. bisa ngerasain gimane cintanya tian ama dian...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top