6

Penulis: Ruliana Sulistyoningrum


julie
Julie duduk di bar sibuk memutar-mutar gelas didepannya. Minumannya tinggal setengah gelas lagi. Dengan keras berusaha menghalau kemarahan yang menggendap dalam hatinya. Dia tidak menyadari sepasang mata yang menatapnya penuh dengan rasa penasaran. Pria itu akhirnya memutuskan untuk menghampiri Julie setelah bangku disebelah Julie kosong.

"Hai," sapa Pria itu ramah.

Julie tidak menjawabnya. Memilih untuk mengacuhkan suara pria disebelahnya. Lalu pria itu tidak melanjutkan usahanya untuk menyapa Julie. Ketika Julie melirik pria disebelahnya, seketika itu juga pria itu tersenyum hangat. Pria disampingnya bukan pemuda ingusan sepantaran Julie tapi seorang pria dewasa, dengan senyum mempesona memperlihatkan deret giginya yang putih dan rapi. Julie terang-terangan menatap pria itu dan nampaknya pria itu tidak keberatan dengan tatapan Julie yang penuh curiga. Entah mengapa Julie menatap jari jemari pria tersebut mencari cicin pernikahan atau bekas cincin tapi jemari pria itu tidak menunjukkan apa yang dicari Julie.

"Kamu sendirian?" Tanya Pria itu lagi.

Julie hanya mengangguk dan kembali sibuk mempermainkan gelas didepannya.

"Sudah lewat tengah malam, kamu tidak mau pulang?"

"Tidak," jawab Julie singkat.

"Ayolah aku antar pulang, atau paling tidak aku teleponkan taksi untuk kamu."

"Kenapa?"

"Aku perhatikan kamu dari tadi tidak beranjak dari meja bar, kamu tidak menghabiskan minuman itu, dan..."

"Wait...Kamu perhatikan aku dari tadi? Kenapa tertarik untuk memperhatikan aku?" Tanya Julie penasaran seraya menoleh memperhatikan pria itu.

Pria itu hanya tersenyum, dan nampak geli dengan pertanyaan Julie. Melihat raut wajah Julie yang langsung cemberut, pria itu akhirnya memberikan jawabannya.

"Karena kamu cantik, sendirian dan aku rasa kamu tidak menunggu seseorang disini."

Julie tersenyum sinis menanggapi jawaban pria tersebut, tapi dia mengakui apa yang diutarakan pria tersebut benar adanya.

"Julie," kata Julie menyebutkan namanya.

"Jake," Jawab pria itu.

"So, Jake. Kamu sudah tahu namaku, dan mungkin aku bisa menerima tawaranmu untuk memanggilkan taksi atau kamu sudah berubah pikiran dengan tawaranmu itu?"

"Sebaiknya aku antar kamu pulang Julie. Taksi juga tidak seratus persen aman."

Julie tertawa. Jake memperhatikan gadis disampingnya. Suara tawa Julie terdengar merdu ditelinganya.

"Kamu sendiri aman?" Goda Julie disela-sela tawanya.

Jake hanya tersenyum.

"Pemilik bar ini dapat memberikan jaminan kalau aku aman," Jawab dengan serius.

Julie meletakan gelas itu akhirnya dan meraih dompet di tas kecilnya, tetapi Jake sudah lebih dulu membayar minuman mereka. Ketika Jake berdiri, Julie menatapnya dengan pandangan kagum.

"Gosh, kamu tinggi sekali Jake. Kamu yakin bukan keturunan raksasa?" Tanya Julie dengan bercanda.

Jake hanya menanggapinya dengan senyuman. Julie memperhatikan Jake dengan seksama. Pria itu tidak hanya tampan tapi memancarkan keperibadian yang kuat. Matanya tajam, hidungnya mancung, bibirnya nampak sensual. Buru-buru Julie memperingatkan dirinya agar tidak melantur.

***

"Sekarang berikan alamat rumahmu agar bisa aku cari melalui GPS."

"Siapa yang mau pulang?" Sahut Julie ringan.

Jake menatapnya dengan terkejut.

"Bukannya tadi kamu minta dipanggilkan taksi untuk pulang?"

"Itu asumsi kamu, Jake. Aku tidak mau pulang."

Jake segera menghentika mobilnya.

"Lalu kamu mau kemana?"

"Motel."

Jake menatapnya tidak percaya, tapi melihat sorot mata penuh kekeras kepalaan Julie. Jake tahu kalau Julie tidak akan mau diantar pulang. Jake terdiam sesaat.

"Kenapa kamu tidak mau pulang?"

"Sudahlah Jake jangan mulai mengguruiku. Kalau kamu berubah pikiran tidak mau mengantarku mencari penginapan. Aku bisa mencarinya sendiri."

Jake menghela nafas panjang dan berusaha tidak mengguncang bahu Julie untuk menyadarkannya. Jake tidak menanyakan alasan Julie dan akhirnya melanjutkan perjalanan.

"Hey Jake, mau kemana kita? Aku rasa jalan ini tidak mengarah ke penginapan mana pun? Kalaupun ada hotel disini pasti sangat mahal," Kata Julie dengan tidak senang.

Jake tidak menjawabnya tapi malah memarkirkan mobilnya diparkiran salah satu gedung pencakar langit. Julie menatapnya dengan curiga.

"Ayolah, turun Julie," kata Jake seraya membukakan pintu mobil untuk Julie.

"Kamu bermaksud meninggalkan aku disini?"

"Tenanglah, aku tinggal di sini. Aku tidak bisa meninggalkan kamu begitu saja di salah satu hotel."

Julie nyaris bersorak, uangnya bisa cukup sampai besok. Tapi dia berpura-pura tidak suka dengan ide Jake. Jake seolah tidak peduli. Digenggamnya tangan Julie dan menariknya ke dalam apartemen. Jake menunjukan kamar dimana Julie bisa bermalam dan Jake meminjamkan kaos agar Julie bisa berganti baju.

Tawa Julie nyaris meledak ketika memakai kaos Jake. Tubuh mungilnya tenggelam dalam kaos itu. Selesai mengganti baju, Julie menghampiri Jake yang sedang duduk di depan sofa sambil menonton tivi. Jake melihatnya dan tersenyum.

"Kamu nampak seperti liliput dalam kaosku itu."

Julie duduk disebelah Jake dan terbahak-bahak. Apa yang dikatakan Jake mewakili apa yang ada dalam benaknya.

"Sekarang katakan kenapa kamu tidak mau pulang?"

"Ibuku menikah lagi dengan pria yang aku benci. Aku sudah mengatakan padanya kalau aku akan pergi, dan aku tidak mau melihat dia terluka."

"Kenapa kamu benci pria yang menikah dengan ibumu?"

"Laki-laki itu berusaha memperkosaku. Dan didepan ibuku dia menyangkalnya seolah-olah aku yang menggodanya."

Jake memandang Julie dengan penuh pertimbangan.

"Itu yang membuat kamu pergi dari rumah?"

"Ya."

"Di luar rumah mungkin malah lebih tidak aman. Tidak adakah keluarga dekat yg bisa kamu tuju."

Julie menggeleng dan menunduk. Jake memperhatikannya dengan seksama dan mengulurkan tangganya untuk memeluk Julie.

"Apa kamu tidak takut kalau ternyata aku bukan laki-laki yang baik?" Bisik Jake. Julie menengadahkan kepalanya, menatap Jake.

"Aku tidak peduli Jake. Hal terburuk bisa terjadi di rumah tapi setidaknya laki-laki itu bukan suami ibuku. Laki-laki yang dia kira dia cintai.

Jake mempererat pelukkannya dan mengusap lembut punggung Julie. Julie menikmati kehangatan pelukan Jake. Entah bagaimana Julie tidak merasakan rasa takut atau tidak nyaman. Yang ada hanya rasa terlindungi.

"Julie, sebaiknya kamu ke kamar dan tidur. Besok coba aku lihat apa yg dapat aku lakukan untuk kamu."

Julie masih enggan melepaskan diri dari pelukkan Jake. Jake merasakan keinginan untuk melindungi gadis itu.

"Come on Jul, mending kamu tidur sekarang. Besok masih ada banyak hal yang harus kamu pikirkan."

"Aku hanya ingin disini bersama kamu, Jake,” bisik Julie

Tatapan Jake semakin tajam memperhatikan gadis itu seolah mencoba membaca pikiran gadis itu.  Entah bagaimana ciuman pertama berlanjut dengan ciuman berikutnya. Keduanya seolah enggan untuk melepaskan diri. Tangan Jake dan Julie sibuk saling merabai tubuh mereka. Julie merasa hilang akal menatap Jake dengan intens begitu juga sebaliknya. Tubuh mereka yang berbicara.

Jake mengangkat Julie dalam pelukannya dan membawanya ke dalam kamarnya. Jake merebahkan Julie diatas tempat tidur dan mulai memuja tubuh mungilnya. Julie terkikik beberapa kali merasa geli, dan Jake semakin menggodanya. Kedua tubuh itu dengan perlahan mulai menyatu. Suara Julie semakin menghilang dalam ciuman Jake.

***

Keesokan harinya ketika Julie bangun, dia sempat termangu berusaha mengingat dimana dia berada. Entah mengapa pelukan Jake-lah yang mengingatkannya apa yang terjadi semalam. Julie beranjak ke jendela dan membuka tirainya. Ia menikmati pemandangan di luar jendela. Lampu-lampu kota masih belum dipadamkan, sedangkan di timur mulai nampak semburat jingga.

Julie terkejut dengan tangan-tangan kokoh yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Julie terjatuh diatas Jake.

"Hei, gadis badung. Kenapa kamu jam segini sudah bangun?" bisik Jake ditelinga Julie.

"Jake, lepaskan aku..."

"Jawab pertanyakanku dulu Jul...kenapa?"

"kenapa??? ini sudah pagi, Jake."

"Jam enam juga masih kurang."

"Lalu kenapa kamu bangun?"

"Karena kamu memamerkan tubuh mungilmu didepanku."

Julie mengeliat berusaha melepaskan diri dari pelukan Jake tapi Jake semakin erat memeluknya.

"Oke Jake, kalau itu mau kamu..." ujar Julie seraya memeluk balik Jake dengan erat. "Apa menurutmu kamu menyukai pelukan erat seperti ini?"

Jake mendekatkan bibirnya ke telinga Julie dan membisikan padanya,"Tentu saja. Aku meyukai pelukan beruang kecil..."

"Oh ya?" balas Julie dengan berbisik ke telinga Jake dan dengan jahil ia menjilatnya.

Jake seketika mempererat pelukannya dan membalas tindakan Julie. Seketika Julie berontak untuk melepaskan diri. Jake masih tidak melepaskannya. Julie semakin tidak dapat bergerak dan perlahan Jake mulai menciumnya.

“Julie, tinggallah disini bersamaku,” bisik Jake dengan lembut seraya menciumi wajah cantik dihadapannya. Julie menatap Jake dan hanya menemu-kan kejujuran disana. Julie tersenyum dan menggeleng.

“Kamu gila Jake.”

“Mungkin. Tapi itu yang aku tahu, aku tidak ingin kamu pergi.”

Julie tidak diberi kesempatan untuk menolaknya karena Jake telah membungkam mulutnya dengan ciuman dan mereka kembali bercinta. Julie tahu saat ini ia pun enggan untuk meninggalkan Jake.

***

Poskan Komentar

6 comments

Hihi unyu unyu gitu yaaaa (。'▽'。)♡
Thanks for the story and keep writing *hugs

Maaci mas mimin ;)

oh jake i lophe u ;o

Hmmm,,,si Jake bener2 gentle,,,hehehehehee

Oh Jake... temenan ama Darren n David mau??? wkkwkwkwkwk :kabur: peace all...

Emmm,,entah jaringan entah hp tp knp gbrny jd zoom gt?? *salah fokus*
Ummm,,jd pgn tw,,jgn2 Jake tmnny suami Ibuny... (Mengarang bebas)

Thank you ya... udah kasih respon bagus :) #senengbanget #peluk satu2... benernya ini cerita panjang lain kali ya kita selesaikan versi lengkapnya... :D

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top