13

Penulis: Zahrotun Nisa


je t'aime
Sarah mendesah panjang, benar-benar apes hari ini. Dia melirik ke kursi sebelah kirinya. Tommy – yang telah menjadi tetangga barunya selama tiga bulan (rumahnya tepat berada di sepan rumah Sarah) - sedang membaca sebuah majalah dengan sangat tenang. Sial! Kenapa nama mereka harus berurutan di nomor absen? Itu mengakibatkan mereka harus duduk bersama dalam perjalanan camp akhir semester.

Camp akhir semester merupakan program rutin sekolah setiap akhir semester ganjil untuk kelas X dan XI. Setiap kelas dibebaskan untuk memilih lokasi masing-masing dengan tujuh guru yang akan membina untuk setiap kelasnya. Nanti setelah acara selesai, setiap siswa diwajibkan untuk membuat satu laporan kegiatan.

XI IPA 5, kelas Sarah memutuskan untuk bercamping di Kampung Perkemahan Kendali Sada, tempat itu sebenarnya masih bisa dibilang hutan belantara, sedang yang dijadikan sebagai kampung perkemahan hanya sebagian kecil dari hutan itu.

Bukan karena apa Sarah membenci Tommy, semenjak orang itu datang, ia selalu membuat Sarah emosi dan terpaksa mengeluarkan tenaga lebih untuk menghadapinya. Namun itu semua malah seperti membuat Tommy makin senang.

Pandangan Sarah meluncur ke arah beberapa bangku di depannya. Ada Nico – yang juga berstatus sebagai tetangga sebelah kanannya – yang begitu menawan sedang bercerita dengan teman di sampingnya. Entah mengapa hati Sarah seperti tersengat aliran listrik ketika melihat orang itu.

"Berhentilah mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin," ketus Tommy. Ia sebenarnya dari tadi terus memperhatikan gerak-gerik Sarah.

"Bukan urusanmu!" balasnya lebih ketus. Sarah memasang headset ungu miliknya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya. Lebih baik ia tidur selama perjalanan daripada mengobrol dengan laki-laki di sampingnya.

Di dalam mimpi, Sarah kembali terbayang oleh bunga-bunga yang selalu diterimanya semenjak beberapa minggu yang lalu. Setiap pagi, selalu ada setangkai bunga segar tergeletak di samping jendela kamarnya. Awalnya ia tidak menaruh curiga, namun bunga-bunga itu selalu dan selalu berdatangan setiap hari, kecuali hari Rabu. Dan satu-satunya yang ia curigai adalah Nico, tetangga samping rumahnya. Tapi entah mengapa, Nico sepertinya biasa saja terhadap Sarah, itu yang membuat sarah selalu bertanya.

***

Sial! Seribu kali sial! Umpat Sarah di dalam hati. Bayangkan saja, untuk acara mencari jejakpun ternyata diharuskan urut absen! Padahal tahun lalu, untuk mencari jejak dibebaskan untuk mencari partner sendiri.

Sudah tiga pos yang mereka lalui, kurang dua pos lagi. Kampung perkemahan ini benar-benar luas, jarak antara satu pos dengan pos yang lainnya hampir bisa dikatakan sangat jauh.

Tommy mengikuti Sarah dengan tenang sampai akhirnya anak perempuan yang didepannya itu berhenti secara tiba-tiba. Ada sungai lebar yang telah menghadang di depan mereka. Tidak ada jembatan yang layak, hanya ada beberapa batang bambu yang saling tersambung satu sama lain.

"Mau kupegangi untuk menyebrang?" Tommy menawarkan.

Sarah mengacuhkannya, dengan cepat ia menaiki jembatan itu dan mulai menyusurinya. Tommy hanya bisa mengikuti anak itu. Tiba-tiba Sarah oleng, tubuh mungilnya tercebur ke sungai. Tommy membelalakan matanya. Gila! Anak perempuan itu tidak bisa berenang. Refleks Tommy menyuruhnya untuk melompat, ikut menceburkan diri ke sungai yang beraliran deras itu.

***

Pandangan Sarah masih sedikit kabur, dadanya terasa sangat sesak untuk bernapas. Ia membelalakan matanya begitu menyadari apa yang terjadi. Wajah itu, begitu dekat dengannya, sampai-sampai hangatnya napas pemuda itu begitu terasa. Dengan keras, Sarah menyentakkan kedua tangan Tommy yang masih berada di perutnya, mungkin sedang mencoba mengeluarkan air yang masuk.

"Maaf," ucap Tommy canggung, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya juga basah kuyup. Dengan cepat ia memundurkan tubuhnya dari Sarah.

Sarah mengacuhkan perkataan Tommy, ia mencoba untuk duduk. Dengan hati-hati, Tommy membantunya. Beberapa saat yang lalu Sarah masih pingsan, tubuhnya kemasukan terlalu banyak air.

"Sudah bisa bernapas dengan baik?" nada bertanya Tommy menunjukkan kecemasan yang mendalam.

Sarah mengangguk. "Apa yang telah kau lakukan?" tanyanya ketus.

Tommy mengerutkan dahinya. Apa yang sedang dipikirkan anak perempuan ini? "Menolongmu," jawabnya bingung.

Sarah terdiam, bukan itu yang ia maksud, kenapa, kenapa muka Tommy bisa sedekat itu dengan mukanya, mungkinkah Tommy telah..... ah, Sarah menggelengkan kepalanya. Imajinasinya memang sering meluap dengan liar.

"Kau baik-baik saja?" tanya Tommy cemas.

Sarah kembali mengangguk. "Ayo kembali ke camp, mereka pasti akan mencemaskan kita karena belum juga pulang," Sarah mencoba untuk berdiri, namun tubuhnya malah terhuyung.

Dengan sigap Tommy menangkap tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, "Jangan memaksakan dirimu!" Rahang Tommy menegang.

Sarah memejamkan matanya, ia masih pusing dan belum bisa sepenuhnya menyeimbangkan dirinya. Tiba-tiba ia merasa melayang, tidak menyentuh tanah. Ia membuka matanya, Tommy sudah menggendongnya di punggungnya.

"Berpeganganlah," perintahnya dengan lembut.

***

Sarah membuka matanya dengan enggan, badannya terasa sangat kaku. Pandangan pertamanya tertuju pada seorang lelaki yang sedang mencoba untuk mengeringkan jaketnya di dekat api unggun yang diameternya tidak begitu besar.

"Dimana kita?" Sarah membuka suaranya, menyadari bahwa dirinya belum berada di camp bersama teman-temannya.

Tommy melirik ke arah Sarah. Senyumnya yang khas mengembang di pipinya, "Kau sudah sadar?" tanyanya tanpa mempedulikan pertanyaan Sarah.

"Dimana kita?" Sarah mengulang pertanyaannya.

Tommy mengambil jaketnya yang terasa sudah menghangat. Ia duduk di samping Sarah. "Masih di tengah hutan," ucapnya pelan. "Tadi kita terbawa arus terlalu jauh, dan sepertinya kita harus beristirahat dulu untuk menunggu pagi jika tidak ingin tersesat."

Sarah terdiam. Terlalu canggung untuk berdebat. "Terima kasih," akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya. Ia menyenderkan kembali tubuhnya ke pohon besar di belakangnya. Pantas saja tubuhnya terasa pegal, pohon yang menyangga tubuhnya terasa sangat keras, dan sedikit basah.

"Kau selamat, itu lebih dari cukup." Mereka berdua kembali terdiam membisu.

"Aku ingin tidur lagi," ucap Sarah sembari menutup matanya. Ia memeluk tubuhnya yang mungil itu dengan kedua tanganya. Hawa dingin menyeruak memasuki T-shirt pendeknya yang sudah kering di badan, api unggun itu terlalu kecil untuk bisa menghangatkan tubuhnya.

"Dingin?" suara Tommy kembali terdengar.

Sarah menggelengkan kepala tanpa membuka matanya. Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya diselimuti oleh sesuatu yang hangat. "Kau bisa masuk angin jika memberikan jaket ini kepadaku," gumam Sarah pelan.

"Setidaknya kaos yang kukenakan berlengan lebih panjang daripada T-Shirt yang kau pakai itu."

Sarah hanya tersenyum. Matanya benar-benar terasa berat karena menahan kantuk, mungkin ia terlalu lelah.

***

Benar-benar terasa hangat, dan nyaman. Sarah mengendus aroma itu tanpa membuka matanya. Seketika ia terbelalak, ia tidur di pelukan Tommy. Laki-laki itu masih tertidur, tangan kirinya merengkuh memeluk tubuh Sarah. Cepat-cepat sarah menyingkirkan tubuhnya dari Tommy.

Gerakan sarah yang tiba-tiba itu membuat Tommy ikut terbangun. Namun ia segera menguasai keadaan. "Maaf," ucapnya pelan. "Aku tidak bermaksud untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, tapi...." Tommy menghentikan perkataannya, seolah ragu untuk melanjutkannya. "Kau menggigil, aku tidak tahan dengan itu," ucapnya kemudian.

Tiba-tiba Sarah mengernyitkan dahinya, ada sesuatu yang berkecamuk di pikirannya. Bau itu, ya bau itu, tidak salah lagi! "Aku kenal bau mu," ucapnya mengalihkan pembicaraan.

Giliran Tommy yang mengerutkan dahinya, "Maksudmu?"

Sarah memutar kedua bola matanya. "Baumu persis seperti bau bunga yang dikirimkan oleh penggemar rahasiaku," ucapnya dengan nada menuduh.

Sarah melirik ke arah Tommy, sialan! Laki-laki itu seperti tidak bisa berekspresi. Namun Sarah tidak gamang, ia yakin penciumannya tidak salah.

"Bunga-bunga itu seperti telah tersimpan semalaman di suatu ruang sehingga bau asli dari bunga-bunga itu pudar, dikalahkan oleh bau yang sangat dominan itu," Sarah menyipitkan matanya.  "Dan bau itu adalah baumu. Kau yang selama ini mengirimkannya kepadaku bukan?"

Tommy menghembuskan napasnya panjang-panjang. "Tapi kau mengira Nico-lah yang mengirimkannnya padamu," ucap Tommy dengan getir.

Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata, Tommy....

"Kau tahu, apa arti bunga-bunga itu?" Tommy menyipitkan matanya menunggu jawaban dari Sarah, namun Sarah tetap terdiam. "Hari Senin, aku mengirimu bunga Jasmine. Selasa, bunga Edelweiss. Kamis, bunga Anggrek. Jumat bunga Iris....."

"Sabtu bunga Tulip dan Minggu serangkaian bunga Euphorbia yang cantik," celetuk Sarah dengan cepat.

Tommy tersenyum menyeringai, ternyata perempuan di depannya meskipun terlihat tomboy, dapat mengenali macam bunga dengan baik.

"Tapi kau tidak mengirimiku bunga pada hari Rabu, kenapa?"

"Apa kau ingin aku memberimu bunga setiap hari?" pertanyaan itu lebih mirip sebuah godaan.

Pipi Sarah yang putih merona kemerahan. "Tidak!" Sangkalnya.

Tommy tertawa kecil. "Itu karena di hari Rabu ada aku yang melengkapi rangkaian bunga-bunga itu."

Sarah memiringkan kepalanya. "Maksudmu?"

"Coba gabungkanlah huruf awal bunga-bunga itu dari Senin sampai Minggu, lalu sisipkan huruf T, untuk Tommy pada hari Rabu yang hilang itu."

Kerutan di dahi Sarah semakin terlihat. "Je t’aime?" ucapnya dengan ragu.

"Ya, je t’aime, Sarah...."

Merahnya pipi Sarah tidak bisa disembunyikan lagi meskipun ia mencoba untuk memalingkan wajahnya dari Tommy. "Je.. t’aime... aussie.." (I love you too) gumamnya seperti sebuah bisikan. Bisikan yang terdengar sangat indah.

***

Poskan Komentar

13 comments

Mi amore Nisa,,,,makasih saiank,,,
mas Yudi,,,makasih dagh dpost yagh....

keyeeeennnn.... simple tp kenaaa bgtz.... ntuh bhs mn yh..xixixi
mksh Mas Yudi n Mba Nisa

@vie : itu bahasa perancis vie... means i love you.. Je Tu aime... je t'aime... lol je = aku, tu = kamu, aime mencintai.. hhohoohohohoh :bener gk yah? dah lama gak belajar bahasa francois lagi.. lol...

Bang Jurr.. Hohohoho bukan bounjur, suka simpel but memberi kesan.. Bravooooo... Merci alots buach tuk cerpen yg berkesam ini *to author *kissuu n hug ^.^*

Tommy pinter bgt bikin wanita terkesan hehee

Romantis...bikin iri nich hehe... :p

Another story of that kind of puzzle. Bagus nih, hahaha. eh, tapi bentar deh.... Jasmine. Edelweiss. Tommy. Anggrek. Iris. Tulip. Euphorbia. Nggak ada huruf M loh. Jadinya bukan Je t'aime :o

Tulipnya diganti Mawar, belum diedit sudah kekirim ._.

Oalah, salut lah sama Tommy bisa dapet bunga macem-macem kaya gitu :|

Iya, apalagi sekarang Edelweis sukar didapatkan, hampir mustahil jika memilikinya ._.
Tapi kan yang namanya cinta, semustahil apapun itu pasti akan diusahakan. Hahha

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top