12

Penulis: Rumaya Ashfira


i-love-u-joanna
Kubuka mataku perlahan, buram, berkabut, dimana ini? Ada apa dengan diriku? Mengapa aku tertidur di tempat ini? Kepalaku pusing dan aku merasakan linu disekujur tubuhku. Kukumpulkan sisa-sisa energi ku, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi padaku. Disaat pandanganku kembali normal, aku menatap pada ruangan persegi yang begitu luas dengan cahaya yang remang, dan aku berbaring diatas ranjang besar yang merupakan satu-satunya perabotan di ruangan ini.

Klik.

Tiba-tiba pintu terbuka, aku mendapati sosok pria yang aku cintai sedang menatapku dengan tatapan yang sampai saat ini tidak aku mengerti. Dia hanya diam terpaku di ambang pintu, aku tidak tahu apakah aku harus takut atau senang melihatnya disini, saat ini.

***

4 April 2012

"Pagi Joanna!" Aku mendengar seseorang menyapaku dan aku mendongak untuk menatap pemilik suara itu, suara yang terdengar lembut yang sudah akrab di telingaku,

"Pagi Riga." Ya dia sahabatku satu-satunya, Ariga. Aku tak pernah bosan untuk menatap wajah melayunya yang begitu khas. Kulit sawo matang, rambut hitamnya yang tidak tertata, dan yang paling ku suka adalah mata coklat tuanya yang lembut. Aku memang mengagumi pria ini dan selalu bersyukur karena Tuhan menciptakannya untuk menjadi sahabatku. Menjadi sahabat orang sepertiku, introvert dan bisa dibilang aku tidak pandai bergaul. Almarhum ayahku orang Inggris dan ibuku dari Bandung. Aku mewarisi segala yang dimiliki oleh ayahku, luar dalam. Dari mata birunya, tubuh semampainya, hidung mancung dengan ujung yang runcing, kulit putih-kemerahannya, sampai sifat pendiam dan tertutupnya. Aku hanya mewarisi rambut hitam bergelombang ibuku.

"Hei kau melamun lagi," suaranya menyadarkanku. Aku membalasnya dengan tersenyum. Ariga tahu kalau aku punya hobi yang aneh, melamun. "Kau belum menyelesaikan novel Fifty Shades mu? Tumben sekali. Biasanya kau hanya menghabiskan waktu empat jam untuk novel setebal itu." katanya sambil duduk disampingku.

"Aku hanya sedang tidak mood baca."

"Kau sedang ada masalah?" Dia terdegar khawatir.

“Tidak Ga, aku cuma merasa bosan dikampus ini, setiap hari selalu sama."

"Oh ayolah Joan, aku mengenalmu. Kau tidak bisa bohong padaku." ujarnya dengan sedikit memaksa. Dan memang benar, selain ibu dan ayahku, Riga lah orang yang paling mengerti diriku, karena selama delapan tahun ini hampir setiap hari kuhabiskan waktuku berdua dengan Ariga.

"Nanti saja kuceritakan, aku ada kelas sebentar lagi. Laters, Ariga." Kataku sambil berdiri dan memasukkan novel Fifty Shades ke dalam cambridge satchelku.

"Sampai nanti siang, Joan." Dan dia tersenyum padaku sambil mengusap kepalaku.

***

Aku menatap jam tanganku, pukul dua siang. Sebentar lagi kuliahku selesai. Aku menghela napas panjang, seraya menatap dosen yang sedang menjelaskan sesuatu mengenai inflasi dan keuangan negara. Sekali lagi lamunanku melayang ke suatu sore tiga minggu yang lalu.

"Banyu kita jadi mengerjakan makalah hari ini?" seruku saat Banyu mengambil tempat duduk di sebelahku di ruang kelas ekonomi makro. Banyu adalah teman akrabku di kampus. Kami cukup sering bersama karna menyelesaikan tugas dan kegiatan lain yang berhubungan dengan kampus.

"Tentu, Joan." Kata Banyu. "Hei, kau mau makan siang denganku?" Ajaknya.

“Aku ajak Riga ya.” Tambahku.

“Ya sepertinya kau tak bisa lepas darinya.” Kata Banyu sambil tertawa.

Saat kami bertemu Riga di café seberang kampus, kami mengobrol, tiba-tiba Riga berkata, "Aku tau Joana tidak bisa lepas dariku. Kapanpun dan dengan siapapun dia berada, Joanna akan selalu memikirkanku. Begitupun aku." Ujar Riga dingin pada Banyu.

Aku hanya tertegun dengan pernyataan Riga, ada apa dengannya? Aku tak tahu mengapa Riga tiga tahun terakhir ini sikapnya berubah. Dia seolah-olah menganggapku seperti miliknya. Dia menjadi begitu protektif. Terkadang aku merinding melihat sikapnya yang begitu dingin terhadap orang lain yang mencoba mendekatiku.

Tiba-tiba suatu hari Banyu mengacuhkan ku, mukanya pucat, kupikir dia sakit, saat aku bertanya padanya dia membentakku, dan tiga hari kemudian aku tidak pernah melihat kehadiran Banyu lagi, sampai saat ini. Saat aku mencari tahu tentang keberadaan Banyu, yang aku dapat hanya keterangan rancu bahwa Banyu pindah entah kemana. Rumahnya pun kosong. Dan aku pun teringat Prasetya, teman sekolah menengah yang saat itu sempat menyatakan cintanya padaku. Saat Riga tahu mengenai hal itu, dia hanya tersenyum misterius, dan seminggu kemudian Prasetya meninggal karena tabrak lari.

***

Jam kuliahku pun berakhir, dan aku kembali dari lamunanku. Bergegas aku menuju parkiran mobil karna aku tahu Riga sudah menungguku disana.

“Yuk Joan, kita pulang sekarang.” Katanya saat aku menghampiri mobil Rubicon putihnya. Mobil Raga melaju melintasi jalanan tol yang sepi, karna ini masih siang jadi kendaraan belum terlalu padat. Aku menatap keluar jendela, memikirkan persahabatan ku dengan Riga, aku benar-benar merasa aman bersama pria ini. Tapi seperti ada yang lain yang aku rasakan. Cukup sudah aku merasakan keanehan ini. "Joan, kau belum cerita padaku, masalah apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" Kata Riga menyadarkan lamunanku.

"Aku merasa ada yang aneh Riga, aneh karena kau bersikap dingin terhadap teman-temanku. Apa yang salah Riga? Apa aku tidak boleh bergaul dengam orang lain selain dirimu?" Garis wajah Riga mengeras, bibirnya membentuk garis dan matanya menyipit memandang lurus melalui kaca depan mobil. Melihat raut wajahnya aku tau ada sesuatu yang tidak beres.

"Ini untuk kebaikanmu, Joan. Kau tahu kan kalo aku menyayangimu. Dari delapan tahun yang lalu hanya kau lah yang dekat denganku, kau yang mengisi kehidupanku sampai saat ini. Aku... Aku hanya tidak ingin orang lain merebutmu dariku." katanya dengan nafas yang memburu.

"Ohh baiklah, apa maksudmu dengan itu Riga? Aku bukan kekasihmu!!!" Aku marah karena Riga memberi penjelasan yang tidak aku pahami.

"Bukalah matamu Joan, aku mencintaimu. Tidak kah itu cukup untuk menyadarkanmu? Aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku, selamanya!"

"Tapi kan tidak harus dengan menyingkirkan teman-temanku, kau apakan mereka sehingga mereka menjauhiku?" Bentakku pada Riga yang saat ini menatapku sekilas dengan tatapan dingin. Lalu dia menepikan mobilnya di bahu jalan tol. Dalam gerakan cepat tiba-tiba Riga memelukku erat lalu berkata

"Joan kau segalanya bagiku, pahamilah itu sayang. Aku tidak akan membiarkamu terluka, dan karna itulah aku akan menyingkirkan semua hal yang bisa melukaimu."

Aku terenyuh mendengar pernyataan Riga, tidak aku pedulikan lagi teman-temanku yang sudah pergi menjauhiku, aku balas memeluknya erat, "Riga aku pun menyayangimu. Kau bagian hidupku. Dan aku berharap akan bersama denganmu selamanya." Oh Tuhan inikah cinta? Jika ini cinta aku bersyukur karena mengalaminya dengan Riga Dan kemudian Raga menjalankan kembali mobilnya, tatapannya serius melalui kaca depan mobil. Aku memerhatikan sekujur tubuhnya yang kaku penuh ketegangan."Riga kau tidak apa-apa, kan?"

"Joan ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu, tapi kau harus tetap tenang, oke?" katanya datar.

"Baiklah." Aku menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.

"Kita akan pergi dari Jakarta, Joan." Aku tersentak dari kursiku. Jantungku berpacu, aku tidak mengerti maksud Riga

"Kupikir kau akan mengantarku pulang? Ada apa ini Riga?! Katakan padaku!" cecarku.

"Ibumu meninggal Joan, beliau sudah dikuburkan tadi malam."

"APA???? Apa yang terjadi dengan ibu??? kenapa aku tidak tahu? Tadi malam ibu masih baik-baik saja."

"Tadi pagi kau melihat ibumu tidak?"

"Tidak. Aku pikir dia masih tertidur dikamarnya." sahutku dengan putus asa. Aku benar-benar marah pada Raga, kenapa dia membawaku pergi sementara aku tidak tahu menahu kalau ibuku sudah tiada, kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahuku.

"Aku sendiri yang menguburkan ibumu di halaman belakang rumah Joan. Kau tenang saja, tidak ada seorangpun yang tahu kejadian ini. Karena itulah kita harus segera pergi sebelum polisi menyadari semuanya." Kata Riga dengan wajahnya yang masih mengeras dan tatapan dinginnya.

Tiba-tiba rasa takut menjalari tubuhku, dan aku teringat perkataan Riga beberapa menit yang lalu bahwa dia akan menyingkirkan semua hal yang menyakitiku. Semenjak Dad meninggal aku memang tidak pernah sekalipun akur dengan ibuku. Aku membayangkan Riga menyakiti ibuku dan kemudian.... Ya Tuhan, apa yang sudah dia lakukan, lalu aku menatapnya dan instingku mengatakan bahwa aku harus segera lari darinya. Aku takut dia menyakitiku. Aku harus pergi jauh darinya. Lalu dengan gerakan singkat, kubuka pintu mobil disampingku dan aku melompat keluar. Badanku terhempas ke aspal dan berguling-guling, tanganku menutupi kepalaku. Aku terus berguling hingga tubuhku mendarat di rumput yang lembab dan basah. Untung tidak ada mobil yang melindasku, gumamku dalam hati. Tubuhku sakit namun aku menguatkan diri untuk bangun, saat aku berdiri pada kakiku, aku merasakan leherku dingin lalu pandanganku gelap....

I hate you, old man. And I don’t want to see you again. Go to Hell!”  Gadis itu kemudian menusukkan pisau daging yang berkilat itu ke tubuh pria yang sedang menatap dengan penuh ketakutan, tubuh pria tua itu ambruk seketika, mata birunya membelak terbuka seperti terkejut namun dia sudah tak bernyawa. Kemudian gadis itu melangkah keluar dari kamar dan tertawa kecil. Kemudian gelap.

Aku didalam mobil yang sedang berpacu dalam kecepatan tinggi, dan braakk! Aku melihat seorang pria tertabrak mobil yang kutumpangi tapi sedikitpun mobil ini tidak menurunkan kecepatannya. Sekali lagi gelap.

Melalui sebuah kaca bening, lagi-lagi aku melihat gadis bermata dingin, pembunuh keji itu menancapkan sebilah pisau runcing tepat di jantung seorang wanita berparas manis berambut hitam legam, kasian wanita itu batinku dalam hati. Lalu gadis keji itu membalikkan badannya. Dia menatapku melalui kaca bening itu. Matanya sebiru lautan, dalam dan tak bertepi, tangannya bersimbah darah tapi anehnya bibirnya menyunggingkan senyuman puas. Gadis kejam  itu terus melangkah mendekatiku, semakin dekat dia semakin aku mengenali wajahnya, aku mengenali rambut hitam bergelombangnya yang sama seperti rambutku. Lalu kami hanya berjarak dua inci, saling berhadapan. Ya Tuhan dia adalah aku! Lalu perasaan  panik, sedih dan bingung menerpaku. Dan aku sadar bahwa gadis keji itu sedang bercermin, aku menatap semua kejadian itu dari dalam cermin. Aku adalah dirinya, kita satu orang yang sama.

***

Kemudian aku terbangun. Aku berada di ruangan besar yang hanya memiliki satu ranjang luas yang berada di tengah ruangan dan aku terbaring diatasnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan aku melihat Riga berdiri di pintu menatapku. Aku sungguh bahagia melihatnya, sekaligus takut, takut?  tapi aku tidak perduli, aku turun dari ranjang, dan segera memeluknya.

"Riga, benarkah aku yang membunuh Dad, ibu, dan Prasetya? Aku bermimpi dan melihat diriku sendiri menusukkan pisau ke tubuh Dan dan ibu. Lalu aku ada didalam mobil yang menabrak Prasetya. Kenapa ini terjadi padaku Riga? Tadinya aku berpikir kaulah yang melakukan semua itu untuk melindungiku." Kataku dengan terisak. Riga menuntunku duduk di tepi ranjang, lalu dia menarik kepalaku dan menaruhnya di dadanya. Aku merasakan kehangatan membanjiri tubuhku yang sedang menggigil.

"Ya Joan, kau yang melakukan semua itu. Dan aku yang menutupi semua kejahatan yang kau lakukan, kecuali pada ayahmu. Kau mengidap schizophrenia, kau kehilangan dirimu yang sebenarnya Joan, dan saat itulah sisi jahatmu muncul. Kau tidak peduli apakah itu ayah atau ibumu, kau akan membunuh mereka semua yang mengganggumu. Aku sudah diperingatkan oleh ibumu agar berhati-hati terhadapmu. Bahkan ibumu sempat menyuruhku untuk menjauhimu. Tapi aku terlalu mencintaimu Joan. Aku tau kau tidak akan menyakitiku, pribadi jahatmu sendiri pun pernah mengatakan itu padaku. Aku percaya itu Joan, sisi jahatmu mengenaliku."

"Kenapa kau tidak melaporkan ku ke polisi? Kenapa tidak membawaku ke rumah sakit jiwa? Aku berbahaya untukmu Riga." Tanyaku masih terisak dalam dekapannya.

"Aku tidak ingin kehilanganmu, Joanna. Aku meninggalkan keluargaku karena aku lebih memilihmu. Dengarkan aku, Aku benar-benar sudah mempersiapkan segalanya. Kita akan ke New York besok, kita tinggal disana. Uang tabunganku lebih dari cukup untuk menghidupi kita selama sebulan lebih. Disana aku akan mencari kerja, aku akan mencarikanmu dokter terbaik, kau akan sembuh Joanna. Kita tinggalkan kota ini, kita mulai kehidupan baru. Aku berjanji padamu, aku akan menjagamu seumur hidupku. Menikahlah denganku Joan."

Riga mengeluarkan cincin emas putih sederhana. Aku terkesiap. tubuhku seperti mencair saat mendengar kalimatnya, air mataku semakin deras mengalir. Pria ini luar biasa mencintaiku dan aku pun begitu. Aku tidak perlu apa-apa lagi didunia ini kecuali bersama dengannya.

"Ya, Riga. Aku bersedia menikah denganmu." Lalu dia memasangkan cincin itu di jari manisku. Kuserahkan seluruh jiwa ragaku untuk Ariga. Dialah cintaku. Sisi jahat dan sisi baikku, keduanya mencintai Ariga. Aku tahu itu dari lubuk hatiku yang paling dalam.

***

Poskan Komentar

12 comments

emmmm... mw tny emg schizophrenia bs mpe bnuh org yh??

ceritanya bagus,,,,
terus berkatya ya rumaya,,,,

Bagus rumaya
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ ya
Mas yudhi jg ◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ ya posting cerpen ini :)

jadi pensran ma penyakit schizophrenia.. Bru tau ada penyakit sperti itu, apa satu jenis ma psycho?
Thanks info'y..
N nice story... :)

Mb Sila, Schizophrenia adalah gangguan jiwa yg dtandai dgn hlangnya sense of reality. Knyataanya pndrita g nyadar klo dirinya sakit. Halusinasi pnengaran spt mdngar bisikan2 pdhl gda yg mbisikin ato halusinasi visual jg bs.
Psyco adalah istilah populer untk org gila tp g spesifik k scizofren.
Jgn salah y, ada gangguan jiwa ada jg gangguan kpribadian.. Gbs dsamain.. Bda terapi nya..
Smga bs bantu ^_^





hmmm,,,,,ceritanya bagus,,,
malah bagus bangetz,,,patut dsandingkan dengan How To Seduce Your Husband,,sayang ga masuk 3 besar,,

Wow nice :D
bagus ceritanya..

Keren, seperti lagi lihat adegan film.
Bagus bagus:D

lumayan keren
tapi liat judulnya kok.. (maaf) mengingatkan pada underwaer ku yang ada tulisan "I <3 U JOANA" hahaaa...
ttp semangat :)

Ceritanya bagus, tapi kependekan. Ada lanjutannya lagi?

ide cerita ok n orisinil, tapi gejala schizophrenia sayangnya gak seperti itu. kalo schizophrenia ga bisa membedakan kenyataan, kalo joanna kan masih bisa dalam fase menghadapi kenyataan. mungkin lebih tepat disebut kepribadian ganda.. :) seperti sybil yang punya 16 kepribadian ganda.

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top