20

Penulis: Tirani Nabila


forbidden-love
Aku menghempaskan tubuhku ke sofa putih di kamarku dengan kesal. Gagal semua designku karena wanita sialan itu! sialan! Padahal seharusnya aku yang mendapatkan kesempatan untuk merancang wardrobe film terbaru mereka! gara-gara wanita picik itu semuanya jadi berantakan!

Ahh!!!

Aku melemparkan semua kertas yang menumpuk di meja. Mereka berjatuhan tak tentu arah, bertebaran kesetiap sudut, membuat kamarku tampak seperti kapal pecah. Tapi aku tidak peduli. Rasa benciku pada wanita berambut sebahu itu sudah sampai di puncak kepalaku.

Aku masih terus memaki sampai tiba-tiba pintu apartemenku terbuka perlahan. seorang pemuda tampan berdiri diambang pintu, menatapku sesaat, kemudian menutup pintu dibelakangnya. Matanya menyipit memandang kertas design ku yang berserakan. Ia menyisir rambut hitamnya dengan jemarinya kemudian mendesah pelan. memandangku ragu, lalu berjalan kedapur.

"Apa lagi ini?" tanyanya sambil meletakan kaleng birnya di meja. Aku tidak memperdulikannya, aku malas beradu argument dengannya. "Mona, kau tidak bisa terus menyalahkan kertas-kertas itu," cibirnya sarkastis. Aku cemberut kemudian menegakan tubuhku di sampingnya.

Sosok tampan itu mengambil salah satu kertas yang tergeletak tidak jauh dari kakinya. Ia bergumam pelan. "Kau kurang menarik bagian dadanya lebih bawah lagi." Komentarnya. Aku mendesah lelah. "Kau tau zaman sekarang, wanita selalu suka memamerkan tubuhnya," tambahnya, bibir seksinya berkerut.

"Aku tidak!" tukasku.

"Ya. Karena tanpa berbuat seperti itu kau sudah terlihat seksi," tambahnya tanpa memandangku. Tatapannya masih terfokus pada kertas di tangannya. kemudian ia mengerang lelah, dan melirik jam tangannya sekilas.

Aku menahan nafasku untuk sesaat. Aroma maskulin sosok rupawan di sampingku mulai terasa memabukan. Tubuhnya yang berotot tercover dengan sempurna di balik stelan jas abu-abunya. Bahkan aku bisa merasakan wibawa dan keangkuhan dari kekuasaannya.

Ah… direktur muda itu memang selalu menawan, tepat sebagaimana yang diberitakan belakangan ini. Meskipun dalam benakku ia masih menjadi seorang bocah yang menyebalkan dan suka mengatur.

"Menurutmu aku seksi?" tanyaku pelan. entah dimana aku meletakan harga diriku yang selama ini ku junjung tinggi. Pemuda itu meneguk birnya sekali. Namun masih tidak memalingkan wajahnya dari kertas itu. aku mencibir sarkastis, apakah kertas itu lebih seksi dari pada diriku?

Aku mendengus kesal, namun sisi nakal dalam diriku kembali tergelitik. Entah karena kelelahan atau karena emosiku, atau karena pesona maskulin pemuda tampan di sampingku?

Aku merapatkan tubuhku pada tubuhnya yang kekar. Hatiku sedikit berdesir ketika merasakan otot-otot kekarnya di bawah jemariku. Ku ulurkan tanganku untuk menyentuh tulang pipinya yang keras dan kokoh. Ia menaikan sebelah alisnya ketika jemariku terus bergerak kesudut bibir bawahnya. Ia sangat indah. wajahnya begitu tampan dengan ekspresi dingin yang menggoda.

"Jangan menggodaku," ujarnya santai. Aku langsung menarik tanganku sambil menekukan wajahku. Ah selalu dingin, dan angkuh, dan super menyebalkan! Aku kan hanya ingin menyentuh wajahnya. Apa baginya aku sama sekali tidak menarik?!

"Apa kau sama sekali tidak tertarik?" gerutuku.

"Mona!" tegurnya pelan. "Aku tidak ingin main-main denganmu. Kau tau akibatnya bisa fatal jika aku sampai lepas kendali."

Aku tau! Tapi hati kecilku malah bersorak riang, sesuatu dalam diriku bergetar keras ketika mendengar ancaman dari bibir indahnya.

"Aku hanya ingin tau apakah aku menarik." Gumamku pelan seraya bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur. Aku membuka kulkas, mengambil sekaleng bir dan meneguknya sekali kemudian menempelkan keningku di pintu kulkas. "Kau sepertinya lebih tertarik pada artis pendatang baru itu," bisikku pelan, aku memejamkan mataku, mencoba meresapi seluruh asaku.

Kemudian aku tersentak ketika sebuah tangan kekar meraihku, membalikkan tubuhku. Aku hampir saja terjatuh, namun sosok jangkung di hadapanku langsung menekanku, mengapitku diantara kulkas dan tubuh kekarnya. Nafasku tersenggal-senggal karena terkejut. Ia menundukan kepalanya, matanya menatap mataku dengan sangat dalam, membuat darahku kembali berdesir. Tuhan… dia sangat indah

"Aku sudah bilang jangan menggodaku." Gumamnya dengan suara berat dan serak. Aku tercekat ketika ia mendekatkan wajahnya padaku.

Aku terkesiap dan langsung mendorong tubuhnya. "Oke aku minta maaf!" ujarku gugup kemudian berjalan menjauh. Namun tangan kekar itu kembali menarik lenganku, membuat punggungku kembali menempel dengan dada bidangnya. Tangan kirinya mengunci pinggulku, sedangkan tangan kanannya menekan payudaraku.

Aku terpekik pelan karena terkejut. "Sudah terlambat," bisiknya pelan di telingaku. nafasnya yang hangat menggelitik seluruh  tubuhku.

Aku membeku ketika dengan perlahan ia mencium rambutku, kemudian turun ke belakang telingaku, dan ke sepanjang leherku. Aku ingin memberontak, namun tubuhku lemah di bawah kuasanya. Jemarinya mulai bergerak perlahan. membuat pola lingkaran-lingkarann kecil di bagian dada kemeja putihku. Aku mengerang ketika jemarinya secara tidak sengaja menyentuh putingku yang mengeras. Ia terkekeh pelan. bahkan suara tawanya yang serak bisa membuat tubuhku semakin limbung tak berdaya. Kemudian ia kembali menciumi bagian leherku, tangannya meninggalkan payudaraku sesaat, untuk menolehkan wajahku hingga ia bisa mencium bibirku.

Aku masih tidak yakin dengan apa yang ku lakukan, namun aku tetap membuka bibirku. Membiarkan lidahnya masuk dan memaut lidahku. Semuanya terasa semakin aneh ketika dengan lembut ia meremas payudaraku.

Aku mengerang di dalam mulutnya, tanganku yang bebas langsung menyentuh wajahnya. Aku bisa merasakan sesuatu yang keras menekan punggungku. Aku kembali mengerang ketika ia terus meremas payudaraku dengan penuh kenikmatan. Bagian lain dalam tubuhku mulai terasa berdenyut-denyut. Seakan meronta, menuntut perlakuan. Tonjolan di balik celananya semakin mengeras, membuat nafasku semakin sesak karena ingin menyentuhnya, meremasnya, dan merasakannya masuk kedalam diriku. Kemudian dengan sengaja aku menggerakan punggungku. Ia mengerang ketika punggungku menggesek miliknya. Cengkramannya semakin keras di payudaraku. Remasannya tidak lagi selembut tadi. Kini penuh gairah.

Ia membalikan tubuhku dengan cepat. Mengangkatku dan mendudukanku di atas konter dapur. Bibirnya langsung melumat bibirku. Mencium dengan nafsu yang berlebih. Jemarinya mulai membuka kancing kemejaku, hingga terhenti diatas rok pensil yang ku kenakan. Aku ingin membuka kemejanya juga, namun tampaknya jari-jariku terlalu sibuk meremas rambut hitamnya yang indah.

Baru saja aku akan memprotes ketika bibirnya meninggalkan bibirku, namun kemudian aku malah mengerang ketika ia mencium salah satu payudaraku. Aku menggigit bibirku, menahan gejolak gairah yang langsung kembali naik. Ia tidak membuka bra satinku, ia malah membasahi bagian putingku dengan ciumannya. Ia menggigit bagian kemerahan itu, menghisapnya dengan penuh kelembutan. Kemudian kepalanya bergerak kepayudara yang lain. Menghisapnya lebih keras hingga aku tersentak penuh kenikmatan.

"Sialan!!!" desisnya seraya meremas kedua payudaraku dengan keras, dan kembali merenggut bibirku. Aku merasakan rok bawahku mulai basah, terlebih terasa dingin karena keramik yang ku duduki.

Kutelusuri punggungnya yang masih mengenakan jas lengkap. Kemudian turun ke pinggangnya, dan meraih bagian panjangnya yang keras. Aku meremasnya perlahan. bahkan meski di balik celananya aku bisa merasakan kesempurnaan bentuknya.

Aku terus menyentuh dan meremasnya dengan lembut. Ia mengerang dan melumat bibirku lebih liar lagi. Aku hampir saja kehabisan nafas karena terlalu bersemangat. Tubuhku benar-benar tunduk di bawah belaiannya. Ia mengerang penuh kenikmatan ketika aku membuka kancing celananya dan meremasnya. Miliknya semakin menegang di bawah sentuhanku. Ia menekan pinggulnya, meminta lebih banyak sentuhan. Dengan refleks aku langsung membuka lebar kakiku. Mengarahkan miliknya tepat kepintu masuk milikku yang basah. Ia menggesekan perlahan, membuat milikku berdenyut-denyut penuh gairah.

Ia menggeram, matanya menyipit kesal ketika tau aku masih mengenakan celana dalamku. dengan cepat ia menaikan rokku hingga hanya segaris di pinggulku, dan meraih celana dalamku.

Aku menarik tubuhku menjauh sesaat. Menahan tangannya, hingga ia berhenti di kedua sisi celana dalamku. "Tidak." bisikku sambil menunduk. Ia tertegun. Untuk sesaat ia tampak begitu kesal, kemudian mundur selangkah. Tangannya meninggalakan pinggulku. Gairah itu mati dalam sekejap. Seperti tombol lampu.

Klik.

Dan gelap.

Kami terdiam untuk beberapa saat, mencoba memikirkan seluruh kejadian singkat ini. Kemudian ia mendesah dan membetulkan ikatan dasinya, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemarinya, dan berjalan ke meja kopi di mana ia meletakan kunci mobilnya.

"Ramon," panggilku ketika ia membuka pintu. Sosok tampan itu berhenti, namun tidak menoleh. "Sampaikan salamku pada mom dan dad," bisikku, ia tertegun dan mengangguk.

"Tentu Ramona," bisiknya pelan sebelum berlalu dari apartemenku. Aku masih terdiam di tempat, bahkan hingga langkah kakinya menghilang tak terdengar sama sekali. Kemudian dengan perlahan aku bergeser ke samping kulkas, meraih sesuatu yang tajam dan berkilau. Aku tersenyum tipis, penuh kebencian pada diriku sendiri. Kemudian menggoreskan sebuah garis panjang di pergelangan tanganku.

Darah perlahan menetes, tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali.

Aku sudah siap untuk tidur, hingga besok, saudara kembarku akan menemukan tubuh kaku-ku dan pesan cantik berwarna merah ini. Setidaknya, aku hanya ingin ia tau, bahwa aku benar-benar mencintainya.

The End

Poskan Komentar

20 comments

hah? sdr kmbr mksdny ramona ma ramond?

mw tw deh detailnya,keren :)

em... makanya judulnya forbidden love... baru ngeh setelah baca... tapi keren juga :D

jadi semacam inses? :o
Tpi lumayan seru crta'y.. :D
Hrus'y lbh detail ngejelasin tntang Ramon n Ramona yg kembar...
Dan knp Ramona bunuh diri?
But this's nice story...

OMG!!!!! Hot but OMG!!! speechless.. oh tragiss.. sungguh tragisss.. :geleng-geleng kepala sesek. keren ceritanya sista... :D keren pake buanget. muahahaha...

Maksudx ini jatuh cinta sama saudara kembar sendiri ????

Oh my....
Kereeen bangeeeet (y)
Hoooot
Hihihihiih

mereka kembar dan saudara kandung?????
#cinta terlarang#

Kereeeeeeeeeennn,
Tragis endingny,,,
Sukaaaa,,,
dkembangin sae,,pasti tambah bagus,, *banyak amat mauny aq nigh,,maaphkan,,
Danke mas Yudi & mbak Nabil,,

Hanya 2 kata, keren n pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.......... Lanjotin donkkkkk

Kerennnnnnnnn n pleaseeeeeeeeeeee....... Lanjotin donkkk, cwna jgn mati duluuuu huhuhu

COOL... lanjut....

Tragis bgtttt..
Sdr kmbar sling jtuh cinta..
Tpi knpa bnuh dri?:'(

Twistnya keren banget..
Endingnya bener2 ngga nyangka,kerennn *mo pake icon jempol naik tapi ga ada*

wow tragis..tapi bagus. cepet bgt abs nyaa..

Tragic...andwe...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top