18

fsf-thumb
Mataku yang masih mengatuk terbuka. Ada sesuatu yang salah. Christian tidak di tempat tidur, meskipun sekarang masih gelap. Melirik alarm radio, aku melihat jam masih menunjukkan 03.20 pagi. Dimana Christian? Lalu aku mendengar suara piano. Dengan cepat aku menyelinap keluar dari tempat tidur, Aku ambil jubahku dan berjalan menuruni lorong ke ruang keluarga. Lagu yang dia mainkan terdengar begitu menyedihkan—ratapan memilukan yang pernah kudengar saat dia mainkan sebelumnya.

Aku berhenti di ambang pintu dan melihatnya diantara cahaya yang melingkarinya, sementara musik yang begitu memilukan itu mengisi ruangan ini. Dia telah menyelesaikan lagunya kemudian mulai memainkan potongan lagu itu lagi. Mengapa dia memainkan lagu yang begitu menyedihkan? Aku melingkarkan lenganku pada tubuhku sendiri dan mendengar dengan terpesona saat dia memainkan lagu itu. Tapi hatiku terasa sakit, Christian, mengapa ia begitu sedih? Apakah karena aku? Apakah aku menyebabnya?

Ketika ia selesai, ia memulai lagi yang ketiga kalinya, aku tak bisa menahannya lagi. Dia tidak mendongak untuk melihatku saat aku mendekati piano, tapi bergeser ke satu sisi sehingga aku bisa duduk di sampingnya di kursi piano. Dia terus bermain, dan aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia mencium rambutku tapi tidak berhenti bermain sampai dia menyelesaikan potongan lagu itu. Aku mengintip ke arahnya dan dia menatapku, dengan hati-hati.

"Apa aku membangunkanmu?" Dia bertanya.

"Hanya karena kau tidak ada disampingku. Apa nama judul lagu itu?"

"Ini Chopin. Itu salah satu musik pembukaan di E minor." Christian berhenti sejenak.

"Ini yang disebut Suffocation (mati lemas/tercekik)..."

Aku mengulurkan tanganku dan mengambil tangannya. "Kau benar-benar terguncang dengan semua kejadian ini, kan?"

Dia mendengus. "Seorang bajingan gila masuk ke apartemenku ingin menculik istriku. Dan istriku tidak melakukan apa yang sudah dia katakan. Dia membuatku gila. Dia meneriakkan kata aman padaku." Christian menutup matanya sebentar dan ketika dia membuka matanya lagi, matanya begitu dingin dan liar. "Ya, aku sangat terguncang."

Aku meremas tangannya. "Maafkan aku."

Ia membungkuk dan menekan dahinya ke dahiku. "Aku bermimpi kau sudah mati," bisiknya.

Apa?

"Berbaring di lantai—begitu dingin—dan kau tidak bangun lagi."

Oh, Fifty.

"Hei—itu hanya mimpi buruk." Aku meraihnya, memegang kepalanya dengan tanganku. Matanya terbakar menatapku dan benar-benar tampak terlihat penderitaannya. "Aku di sini dan aku kedinginan tanpamu di tempat tidur. Kembalilah ke tempat tidur, please." Aku mengambil tangannya dan berdiri, menunggu sambil melihat apakah dia akan mengikutku. Akhirnya ia berdiri, juga. Dia mengenakan celana piyama, yang menggantung di pinggangnya, dan aku ingin menelusuri jariku di sepanjang bagian dalam pinggangnya, tapi aku menahan diri dan membawanya kembali ke kamar tidur.

***

Ketika aku terbangun dia meringkuk memelukku, masih tertidur pulas. Aku merasa tenang dan menikmati panas tubuhnya yang menyelimutiku, kulitnya menempel di kulitku. Aku berbaring diam tidak bergerak, tak ingin mengganggunya.

Oh boy, bagaimana kejadian tadi malam. Aku merasa seperti habis ditabrak sebuah kereta—kereta barang itu adalah suamiku. Sulit untuk percaya bahwa pria yang terbaring di sampingku, tampak begitu tenang dan muda dalam tidurnya, yang begitu tersiksa tadi malam...dan begitu menyiksaku tadi malam. Aku menatap langit-langit, dan hal ini menyadarkanku bahwa aku selalu menganggap Christian begitu kuat dan mendominasi—namun kenyataannya dia sangat rapuh, my lost boy. Dan ironisnya ia memandangku seakan aku seorang yang rapuh—dan aku tidak merasa seperti itu. Dibandingkan dengannya aku lebih kuat.

Tapi apa aku cukup kuat untuk kita berdua? Cukup kuat untuk melakukan apa yang dia minta dan memberinya ketenangan pikiran? Aku mendesah. Dia tidak meminta banyak padaku. Aku melayang mengingat percakapan kami tadi malam. Apakah kami memutuskan sesuatu selain agar kami berdua mencoba lebih keras? Intinya adalah aku mencintai pria ini, dan aku harus mencatat satu pelajaran untuk kami berdua. Salah satunya membiarkan aku menjaga integritas dan kemandirianku tapi masih dalam batasan dia. Aku miliknya, dan dia milikku. Aku memutuskan untuk membuat upaya khusus akhir pekan ini untuk tidak memberinya kekhawatiran.

Christian bergerak dan mengangkat kepalanya dari dadaku, berkedip sedikit mengantuk ke arahku.

"Selamat pagi, Mr. Grey." Aku tersenyum.

"Selamat pagi, Mrs. Grey. Apa kau tidur nyenyak? "Dia menggeliat di sampingku.

"Setelah suamiku berhenti melakukan kegaduhan yang mengerikan dengan pianonya, jawabannya ya, aku tidur nyenyak."

Dia tersenyum dengan senyum malu-malunya, dan aku meleleh. "Kegaduhan yang mengerikan? Aku akan memastikan untuk kirim email ke Miss Kathie dan memberi tahunya."

"Miss Kathie?"

"Guru Pianoku."

Aku tertawa.

"Itu suara yang indah," katanya. "Bagaimana kalau hari ini kita membuat hari yang lebih baik?"

"Oke," aku setuju. "Apa yang ingin kau lakukan?"

"Setelah lebih dulu aku bercinta dengan istriku, lalu dia membuatkan aku sarapan, aku ingin mengajaknya ke Aspen."

Aku menganga menatapnya. "Aspen?"

"Ya."

"Aspen, Colorado?"

"Masih tempat yang sama. Kecuali mereka sudah pindah. Bagaimanapun juga, kau telah membayar dua puluh empat ribu dolar untuk berpartisipasi di acara itu."

Aku menyeringai padanya. "Itu uangmu."

"Uang kita."

"Itu uangmu ketika aku membuat tawaran itu." Aku memutar mataku.

"Oh, Mrs. Grey, kau dan matamu yang kau putar," bisiknya saat menjalankan tangannya naik ke pahaku.

"Bukankah butuh beberapa jam untuk sampai ke Colorado?" Tanyaku untuk mengalihkan perhatiannya.

"Tidak kalau dengan pesawat jet," katanya menggoda saat tangannya mencapai pantatku.

Tentu saja, suamiku memiliki pesawat jet. Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Tangannya terus meluncur di atas tubuhku, terus menarik baju tidurku keatas lalu melepaskannya, dan aku segera melupakan segalanya.

***

Taylor mengantarkan kami ke landasan di Sea-Tac dan berhenti di sekitar tempat pesawat jet GEH yang sudah menunggu. Cuaca saat ini benar-benar mendung di Seattle, tapi aku menolak untuk membiarkan cuaca menyurutkan semangatku yang melambung. Christian dalam suasana hati yang jauh lebih baik. Dia bersemangat akan suatu hal—menyala seperti lampu natal, dan bertingkah seperti anak kecil yang memiliki rahasia besar. Aku ingin tahu rencana apa yang dia impikan. Ia tampak termenung, seluruh rambutnya acak-acakan, dengan T-shirt putih dan celana jins hitam. Bukan berpakaian seperti seorang CEO, seperti yang dia kenakan sepanjang hari. Dia meraih tanganku saat Taylor menghentikan mobil di kaki tangga pesawat.

"Aku punya kejutan untukmu," gumam dia dan mencium buku-buku jariku. Aku menyeringai padanya. "Kejutan yang menyenangkan?"

"Aku harap begitu." Dia tersenyum hangat.

Hmm...apa bisa?

Sawyer melompat keluar dari kursi depan dan membukakan pintu untukku. Taylor membukakan pintu untuk Christian kemudian mengambil koper kami dari bagasi. Stephan sedang menunggu di tangga paling atas ketika kami memasuki pesawat. aku melirik ke dalam kokpit untuk melihat First Officer Beighley sedang membolak-balik switch pada panel instrumen yang terlihat megah.

Christian dan Stephan berjabat tangan. "Selamat pagi, Sir." Stephan tersenyum lebar pada Christian.

"Terima kasih untuk melakukan ini dalam waktu yang sesingkat itu." Christian menyeringai balik ke arahnya. "Tamu-tamu kami sudah di sini?"

"Ya, Sir," balas Stephan.

Tamu? aku berbalik dan terkesiap. Kate, Elliot, Mia, dan Ethan semua sudah duduk di kursi kulit krem itu, tersenyum kearah kami. Wow! Mataku berkedip-kedip pada Christian.

"Surprise!" Katanya.

"Bagaimana? Kapan? Siapa?" Gumamku tidak jelas, berusaha menahan kegirangan dan kegembiraanku.

"Kau bilang kau jarang bertemu dengan temanmu." Dia mengangkat bahu dan memberiku senyum miring tanda menyesal.

"Oh, Christian, terima kasih." Aku mengalungkan tanganku di lehernya dan menciumnya dengan keras di depan semua orang. Dia menempatkan tangannya di pinggulku, mengaitkan ibu jarinya melalui lubang sabuk celana jeans-ku, dan memperdalam ciumannya.

Oh my.

"Teruskan ini dan aku akan menyeretmu ke kamar tidur," bisiknya.

"Kau tidak akan berani," aku berbisik melawan bibirnya.

"Oh, Anastasia." Dia menyeringai, menggelengkan kepalanya. Dia melepaskanku dan tanpa basa-basi lagi, membungkuk, meraih pahaku, dan mengangkatku di atas bahunya.

"Christian, turunkan aku!" aku memukul punggungnya.

Sekilas aku menangkap senyum Stephan saat ia berbalik dan berjalan menuju kokpit. Taylor berdiri di ambang pintu mencoba menahan senyumnya. Mengabaikan permohonanku dan pergumulanku yang sia-sia, Christian melangkah melalui kabin sempit melewati Mia dan Ethan yang duduk saling berhadapan di kursi tunggal, dan juga melewati Kate dan Elliot, yang bersorak seperti seekor gibbon yang gila.

"Permisi sebentar," katanya pada empat tamu kami. "Aku perlu bicara dengan istriku secara pribadi."

"Christian!" Aku berteriak. "Turunkan aku!"

"Semua ada waktunya, sayang."

Sekilas aku memandang Mia, Kate, dan Elliot yang sedang tertawa. Sialan! Ini tidak lucu, ini sangat memalukan. Ethan melongo kearah kami, mulut terbuka dan benar-benar terkejut, saat kami menghilang ke dalam kabin.

Christian menutup pintu kabin dibelakangnya dan melepaskanku, membiarkan aku meluncur ke bawah sepanjang tubuhnya, perlahan-lahan, sehingga aku bisa merasakan setiap urat dan otot kerasnya. Dia memberiku senyum kekanak-kanakannya, benar-benar puas pada dirinya sendiri.

"Cukup untuk sebuah pertunjukan, Mr. Grey," bisikku, menyilangkan lenganku dan memandang dia sambil pura-pura marah.

"Itu menyenangkan, Mrs. Grey." Dan senyumnya melebar. Oh boy. Dia terlihat begitu muda.

"Apa kau akan menindaklanjuti?" aku melengkungkan alisku, tidak yakin bagaimana aku merasakan hal ini. Maksudku, yang lain pasti akan mendengar, demi Tuhan. Tiba-tiba, aku merasa malu. Melirik dengan cemas kearah tempat tidur, Aku merasakan darah menjalar di seluruh pipiku saat aku ingat malam pengantin kami. Kami membicarakan begitu banyak hal kemarin, melakukan begitu banyak hal kemarin. Aku merasa seolah-olah kami telah melompati suatu rintangan yang tak di kenal—tapi itulah masalahnya. Itu tidak kami kenal. Mataku menemukan tatapan mata Christian yang begitu intens tapi sedikit geli, dan aku tidak mampu menjaga wajahku tetap serius. Seringainya sangat menular.

"Kurasa mungkin sangat tidak sopan membiarkan tamu kita menunggu," katanya menggoda saat ia melangkah ke arahku. Kapan dia mulai peduli dengan apa yang dipikirkan orang-orang? Aku melangkah mundur sampai menempel kedinding kabin dan dia mengurungku, panas dari tubuhnya menahanku di dinding kabin. Dia membungkuk dan hidungnya menelusuri sepanjang hidungku.

"Kejutan yang menyenangkan?" bisiknya, dan ada sedikit kecemasan dalam nada suaranya.

"Oh, Christian, kejutan yang fantastis." Aku menjalankan tanganku keatas melewati dadanya, melingkarkannya di sekeliling lehernya lalu menciumnya.

"Kapan kau mengatur ini?" Aku bertanya ketika aku menarik diri darinya, sambil membelai rambutnya.

"Tadi malam, ketika aku tidak bisa tidur. Aku email Elliot dan Mia, dan disinilah mereka."

"Kau sangat perhatian. terima kasih. Aku yakin kita akan bersenang-senang."

"Ku harap begitu. Kupikir akan lebih mudah untuk menghindari pers di Aspen daripada di rumah."

Paparazzi! Dia benar. Jika kami tinggal di Escala, kami seakan di penjara. Rasa gemetar merambat menuruni tulang belakangku ketika aku ingat kembali bidikan dan blitz kamera yang menyilaukan dari beberapa fotografer saat Taylor melaju pesat melewati mereka tadi pagi.

"Ayo. Sebaiknya kita mengambil tempat duduk—Stephan sebentar lagi akan tinggal landas." Dia mengulurkan tangannya padaku. Dan bersama-sama kami berjalan kembali ke dalam kabin.

Elliot bersorak saat kami masuk. "Itu pastilah layanan penerbangan yang sangat cepat!" nadanya mengejek.

Christian mengabaikan Elliot.

"Silakan duduk, ladies and gentlemen, sebentar lagi kita akan segera mengambil ancang-ancang untuk tinggal landas." Suara Stephan dengan tenang dan berwibawa menggema di sekeliling kabin. Wanita berambut cokelat itu—um... Natalie?—yang berada di pesawat saat malam setelah pernikahan kami muncul dari dapur pesawat dan mengumpulkan bekas cangkir kopi. Natalia...Namanya Natalia.

"Selamat pagi Mrs. Grey, Mrs. Grey," katanya dengan sedikit mendesah. Mengapa dia membuatku merasa tidak nyaman? Mungkin karena dia berambut cokelat. Menurut pengakuannya sendiri, Christian tidak biasanya mempekerjakan wanita berambut cokelat karena ia melihatnya begitu menarik. Dia tersenyum sopan pada Natalia saat ia meluncur di belakang meja dan duduk menghadap Elliot dan Kate. Aku segera memeluk Kate dan Mia dan memberikan lambaian tangan pada Ethan dan Elliot sebelum duduk dan memasang sabuk pengaman di samping Christian. Dia menempatkan tangannya di lututku dan meremasnya dengan mesra. Dia tampak santai dan bahagia, meskipun kami bersama rombongan. Iseng-iseng, aku bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa selalu seperti ini—sama sekali tidak mengontrol.

"Kuharap kau mengemas sepatu hikingmu," katanya, suaranya hangat.

"Kita tidak bermain ski, kan?"

"Itu akan sulit dilakukan, pada bulan Agustus," katanya, geli.

Oh—tentu saja.

"Apa kau bisa main ski, Ana?" Elliot interupsi kami.

"Tidak."

Christian memindahkan tangannya dari lututku untuk menggenggam tanganku.

"Aku yakin adikku bisa mengajarimu." Elliot mengedipkan mata ke arahku. "Dia juga lumayan cepat meluncur di lereng."

Dan aku tak bisa menghentikan mukaku yang memerah. Ketika aku melirik Christian dia sedang menatap tanpa ekspresi kearah Elliot, tapi kupikir dia berusaha untuk menahan tawanya. Pesawat maju melonjak ke depan dan mulai ancang-ancang menuju landasan pacu.

Natalia melakukan peragaan prosedur keselamatan pesawat udara dengan suara yang jelas dan nyaring. Dia mengenakan kemeja lengan pendek rapi warna biru tua yang cocok dengan rok pensilnya. Makeup-nya tanpa cela—dia benar-benar sangat cantik. Bawah sadarku mengangkat alat pencabut alis sepenuhnya padaku.

"Kau baik-baik saja?" Kate bertanya padaku dengan tajam. "Maksudku, setelah urusan dengan Hyde?"

Aku mengangguk. Aku tak ingin memikirkan hal itu atau membicarakan Hyde, tapi Kate tampaknya memiliki rencana lain.

"Jadi, mengapa dia sangat marah dan tak terkendali seperti peristiwa ‘go Postal’ (penembakan brutal di kantor pos Oklahoma)?" Ia bertanya, langsung ke pokok masalah dengan gaya khasnya yang tak bisa ditiru. Dia mengibaskan rambutnya ke belakang saat ia mempersiapkan dirinya untuk menyelidiki masalah ini.

Sambil menatapnya dingin, Christian mengangkat bahu. "Aku memecatnya," katanya terus terang.

"Oh? Mengapa?" Kate memiringkan kepalanya ke satu sisi, dan aku tahu dia sepenuhnya meniru cara Nancy Drew (karakter fiksi dalam serial fiksi misteri remaja).

"Dia melakukan pendekatan seksual padaku," gumamku. Aku mencoba untuk menendang pergelangan kaki Kate di bawah meja, dan meleset. Sial!

"Kapan?" Kate melotot kearahku.

"Sudah lama sekali."

"Kau tak pernah cerita padaku dia pernah melakukan pedekatan seksual padamu!" katanya bergetar. Aku mengangkat bahu, meminta maaf.

"Yang pasti ini bukan karena dendam soal itu. Maksudku reaksinya adalah cara yang terlalu ekstrim," lanjut Kate, tapi sekarang dia mengarahkan pertanyaannya pada Christian. "Apakah dia stabil secara mental? Bagaimana dengan semua informasi tentang dia di gedung Greys-mu?" Cara dia menginterogasi Christian ini membuat kegusaranku semakin meningkat, tapi pertanyaannya sudah keluar, aku tidak tahu apa-apa jadi dia tidak bisa bertanya padaku. Pemikiran itu sangat menjengkelkan.

"Kami pikir ada hubungannya dengan Detroit," jawab Christian enteng. Terlalu enteng. Oh tidak, Kate, tolong berhenti bertanya untuk saat ini.

"Hyde dari Detroit juga?"

Christian mengangguk.

Pesawat berakselerasi, dan aku mengencangkan genggamanku di tangan Christian. Dia menatapku untuk menenangkanku. Dia tahu aku benci saat lepas landas dan mendarat. Dia meremas tanganku dan ibu jarinya mengusap buku-buku jariku, menenangkanku.

"Apa yang kau ketahui tentang dirinya?" Tanya Elliot, lupa akan fakta bahwa kita sedang meluncur dengan cepat di landasan pacu dengan sebuah pesawat jet kecil yang akan melesat naik ke angkasa, dan sama-sama tidak menyadari bahwa kejengkelan Christian semakin meningkat pada Kate. Kate mencondongkan tubuhnya, mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Ini bukan untuk dipublikasikan," kata Christian langsung padanya. Mulut Kate membentuk garis tipis namun tidak kentara. Aku menelan ludah. Oh, sial.

"Kami hanya tahu sedikit tentang dia," lanjut Christian. "Ayahnya meninggal dalam perkelahian di sebuah bar. Ibunya seorang pemabuk berat. Dia keluar masuk panti asuhan saat anak-anak, keluar masuk karena terlibat masalah, juga. Terutama mencuri mobil. Menghabiskan waktunya di penjara remaja. Ibunya kembali ke jalan yang benar melalui beberapa program kesejahteraan sosial, dan Hyde juga berubah. Dia mendapat beasiswa ke Princeton University."

"Princeton?" Rasa ingin tahu Kate menjadi terusik.

"Yap. Dia anak yang cerdas." Christian mengangkat bahu.

"Tidak terlalu cerdas. Karena dia bisa tertangkap," Elliot bergumam.

"Tapi tentunya dia tidak bisa melakukan aksi ini sendirian?" Tanya Kate. Christian menegang di sampingku. "Kami masih belum tahu." Suaranya sangat tenang. Brengsek. Mungkin ada seseorang yang bekerja sama dengan dia? Aku berbalik dan melongo merasa ngeri saat menatap Christian. Dia meremas tanganku sekali lagi tapi tanpa menatap mataku. Pesawat naik dengan lancar ke udara, dan perasaanku seakan tenggelam yang membuat perutku menjadi mual.

"Berapa umurnya?" aku bertanya pada Christian, sambil membungkuk mendekat kearahnya jadi hanya dia yang bisa mendengar. Banyak yang ingin aku ketahui apa yang terjadi, Aku tak ingin mendorong Kate bertanya lebih jauh lagi. Aku tahu pertanyaannya sangat menjengkelkan Christian, dan aku yakin dia sudah menyiapkan daftar pertanyaan sialan itu setelah kami minum Cocktail.

"Tiga puluh dua. Kenapa? "

"Hanya penasaran saja."

Rahang Christian mengencang. "Jangan penasaran terhadap Hyde. Aku hanya senang keparat itu dipenjara." Katanya yang mirip dengan teguran, tapi aku memilih untuk mengabaikan nada suaranya.

"Apa kau berpikir dia bekerja dengan seseorang?" Memikirkan ada orang lain yang mungkin terlibat membuatku merasa sakit. Itu berarti masalah ini belum berakhir.

"Aku tidak tahu," jawab Christian, dan rahangnya mengencang sekali lagi.

"Mungkin ada seseorang yang mempunyai dendam padamu?" Aku menambahkan. Sialan. Aku harap itu bukan makhluk jalang itu. "Seperti Elena?" Bisikku. Aku menyadari aku sudah membisikkan namanya dengan keras,tapi hanya dia yang bisa mendengar. Aku melirik dengan cemas kearah Kate, tapi dia asyik mengobrol dengan Elliot. Elliot tampak jengkel padanya. Hmm.

"Kau suka menjelek-jelekkan dirinya, kan?" Christian memutar matanya dan menggelengkan kepalanya dengan jijik. "Dia mungkin menyimpan dendam, tapi dia tidak akan melakukan hal semacam ini." Dia meyakinkanku dengan tatapan abu-abunya yang menenangkan. "Mari jangan lagi membicarakan dia. Aku tahu dia bukan topik favorit pembicaraanmu."

"Apa kau sudah menanyakan itu padanya?" Aku berbisik, tak yakin apakah aku benar-benar ingin tahu.

"Ana, aku belum pernah bicara dengannya sejak pesta ulang tahunku. Tolong, hentikan ini. Aku tak ingin membicarakan tentang dia." Dia mengangkat tanganku dan menyapu buku-buku jariku dengan bibirnya. Matanya terbakar saat menatapku, dan aku tahu ini bukan alur pertanyaan yang harus aku lanjutkan sekarang.

"Cari kamar," goda Elliot. "Oh benar—kau sudah punya, tapi kau tidak membutuhkan itu untuk waktu yang lama." Dia menyeringai.

Christian mendongak dan memberikan sorotan tatapan dingin pada Elliot. "Hentikan, Elliot," katanya tanpa kebencian.

"Dude, hanya memberitahumu bagaimana seharusnya." Mata Elliot bercahaya penuh kegembiraan.

"Sepertinya kau tahu saja," gumam Christian menyindir, mengangkat alis matanya.

Elliot menyeringai, menikmati olok-olokan itu. "Kau menikah dengan pacar pertamamu." Elliot menunjuk kearahku.

Oh, sial. Kemana lagi arah pembicaraan ini? mukaku memerah.

"Bisakah kau menyalahkanku?" Christian mencium tanganku lagi.

"Tidak." Elliot tertawa dan menggelengkan kepalanya.

Mukaku memerah, dan Kate menepuk paha Elliot.

"Berhentilah bersikap tolol," katanya menegur Elliot.

"Dengarkan apa kata pacarmu," kata Christian pada Elliot, sambil menyeringai, kekhawatiran dia sebelumnya telah lenyap. Telingaku plong saat kami berada di ketinggian, dan ketegangan di dalam kabin menghilang saat pesawat sudah berada pada ketinggian tertentu. Kate cemberut pada Elliot. Hmm...apakah ada sesuatu diantara mereka? Aku tak yakin.

Elliot benar. Aku mendengus terhadap ironi ini. Aku—adalah—pacar pertama Christian, dan sekarang aku istrinya. Saat dia berumur lima belas dengan si jahat Mrs. Robinson—tidak masuk hitungan. Karena Elliot tidak tahu tentang mereka, dan jelas Kate tidak memberitahunya. Aku tersenyum padanya, dan dia memberiku kedipan mata penuh konspirasi. Rahasiaku aman bersama Kate.

"Oke, ladies and gentlemen, kita sedang menjelajah di ketinggian sekitar tiga puluh dua ribu kaki, dan perkiraan waktu penerbangan kita adalah satu jam dan lima puluh enam menit," Stephan mengumumkannya. "Anda sekarang bebas untuk bergerak di kabin."

Natalia tiba-tiba muncul dari dapur.

"Perkenankan saya menawarkan kopi, siapa yang mau?" Dia bertanya.

***

Penerjemah: +Saiya Henny
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

18 comments

akhir nya update,,,^^

sungkem dulu ah ke mami Saint Saiya *eh* maksudnya mimi Saiya Henny :* maacih mami~ *sungkem*
maacih mas mimin yg udah capek edit ;) Fighting!

ty mba hen and mas yudi

Jadi pengen baca nancy drew + nick carter lagi heheh

aaaa~~~~
liburan sekeluarga ini ya???
Ethan ma Mia gmna ni perkembangannya ya??
kekekekekek

Tq update ny ^^... d tggu lnjtnnya yaa ;)

Nggantung......blm kelihtn anti klimaksnya. Tp tetep aku suka. Please dong link untk downloadnya. Btw thanks ya...

tambah seruuuuuu.... ditunggu dengan tak sabar bab berikutnya. Thanks admin.

Huaaah
Akhirnya di posting jugaa,Kangen banget ama Mr & Mrs Grey :3
Thanks mb henny, mas mimin :D

Tq tq banyak mas admin, akhirnya di update .....sungguh menyenangkan teman baca di saar dingin krn hujan truuus

Horaaayyy kluarga grey lburan breng seru bgt tuhh pengen rasanya ikutan nimbrung #plak

Akhirx stelah d tunggu2,,, hmmm tpi kok berasa d bab nihhh da yang kurang yaaa,,,,, mikir sambil mijit kepala maklum gi sakit gigi ;)
love cristian n ana,,, thanks mba heni, mas yudi

†ђąηk ўσυ mba Henny n mas Yudi

mksih mba henny akhir nya di posting mslah nya msih sputar hyde yah sebel !!

aaakkkk Abang Christiaannn...
hukz,,sdihnya gara2 snyal abal2 ru bs olnline skrg..
mksh Mba Henny n Mas Yudi

Senangnya bsa bca fsf lgi..:-D
thnks for mbak Henny dan mas Yudi..

selalu menantikan bab berikutnyaa...penasaraaan .. :)

Hmmmmm aspen,,, like it. *menghayal tingkat tinggi* haha..
Makasih mba n mas...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top