5

Penulis: +Qweno Tiara


fate
Jyeri P.O.V

Kesibukan yang berhilir mudik di sekelilingku tak mampu menyadarkanku dimana aku berada sampai sebuah dering telpon menyergapku.

“yeoboseyo?” sapaku dari ujung telepon.

“Jyeri~ah..jigeum eodi-e isseoyo1?” Suara Han Ah eonni2 mengalun lembut menyadarkanku dimana keberadaanku. Aku mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras-keras hingga beberapa orang melihatku sekilas. Otakku masih sibuk mencerna bagaimana bisa aku sampai ada di sini dengan tiket sudah ada di tangan.

Kalimat-kalimat Han Ah eonni selanjutnya mengalir begitu saja dan aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang terlanjur aku perbuat.

***

Awan-awan putih yang berkumpul seolah membentuk suatu dataran itu terlihat sangat menggoda untuk sekedar dihampiri dan bermain di atasnya, layaknya memijak tanah bersalju. Aku terkekeh geli menyadari pria itu mencintai salju hingga dinding kamarnya bergambar krystal salju. Dulu sempat terpikirkan bahwa saking dinginnya pria itu hingga membuat kamarnya membeku. Ternyata, justru dirinyalah sumber kehangatan yang memenuhi tempat tinggalnya.

Pembicaraanku dengan Han Ah eonni mengusik kenyamananku. Kekehan geli sekali lagi menghiasi bibirku. Setidaknya bukan aku saja yang gila disini. Rupanya, kami mengalami hal yang sama. Buktinya, tempat tinggalnya ditinggalkan begitu saja padahal sejauh yang Han Ah eonni tahu, pria ini tidak pernah sekalipun tinggal di tempat lain kecuali kantor miliknya. Itupun jika ada pekerjaan yang mendesaknya untuk menginap di sana dan beberapa hari ini, pimpinan perusahaan itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya.

Oh...hanya hari pertama setelah kepergianku dan itu menimbulkan masalah cukup berarti di perusahaan karena pria ini tak berhenti marah-marah pada kesalahan sekecil apapun. Layaknya wanita yang dalam masa sensitifnya padahal dia dikenal sebagai pria yang dinginnya menyamai kutub selatan dan utara.

Sesuatu melintas di otakku membuat aku mematri hal apa yang harus ku lakukan begitu aku menginjakkan kakiku kembali ke tanah karena pria ini selalu berbuat nekat dan semaunya.

Ulasan semua hal yang terjadi padaku 5 hari ini berlompatan dalam otakku. Dimulai dari keinginanku berbalik sesegera mungkin pada saat pertama kali menginjakan kaki di bandara Ngurah Rai - Bali, berkali-kali salah mengira orang sebagai pria itu. Dan hal sederhana yang sayangnya memperburuk diriku secara keseluruhan adalah pikiranku yang terus berada di dirinya hingga membuat liburan yang bertujuan mendinginkan otakku untuk berfikir secara matang justru membuat diriku bertambah kacau balau.

Mengingat semua hal yang telah terjadi padaku, menyendiri dan berpikir merupakan hal yang amat kubutuhkan. Aku tak pernah menyangka bahwa suatu hari seorang pria paruh bayah menapakkan kakinya di rumahku dan mengatakan bahwa aku adalah anak kandungnya. Ayah yang telah membesarkanku selama 21 tahun, ku kira awalnya, ternyata seorang bawahan Appa3 yang membawaku lari ketika aku mengalami kecelakaan dengan luka parah dan hilang ingatan. Ironisnya, inilah jawaban mengapa aku tak mampu mengingat memori di bawah 8 tahun.

Ketakutan dan keterpaksaan yang membuat ayahku melakukan hal ini. Semenjak omma4ku meninggal, appa menjadi super protektif padaku. Mengetahui aku terluka parah dan hilang ingatan, serta hal yang mungkin di lakukan appa untuk membalasnya meski bukan kesalahan penuh ayah, menjadi dasar kenekatan ayah membawaku pergi ke Indonesia. Jauh dari Appa.

Lewati fase dimana kenyataan ini membuatku sedikit terguncang. Appa memintaku kembali ke Seoul hari itu juga dan meneruskan karirku sebagai desainer muda  di sana. Appa juga menjamin tak ada hal buruk apapun yang akan terjadi pada Ayah dan Bunda.  Dan disinilah aku, Seoul. Memulai hidup baru sebagai Song Jyeri, nama asliku.

Tak lama setelah aku pindah ke Seoul, Han Ah eonni - tangan kanan Appa - memintaku datang ke kantor Appa. Inilah yang membuatku bertemu dengan pria yang ku asumsikan sebagai patung berjalan pada awalnya. Dingin mempesona.

Sebuah butik di daerah Gangnam siap didirikan atas namaku sebagai hadiah atas kepindahanku ke Seoul. Dan orang yang diberi tanggung jawab membantuku dalam segala persiapannya, dari memilih lampu berdaya berapa yang cocok untuk butikku hingga nama apa yang cocok untuk butikku adalah priaku.

Tak butuh waktu lama menyadari bahwa Priaku terkurung dalam kesempurnaan yang tercacati. Ia tampan, segala hal ada di tangannya, namun sedingin kutub selatan dan utara. Alis tebalnya mempertegas bahwa ia pemegang kendali penuh dalam hal apapun. Bibir merah yang jarang bergerak untuk tersenyum itu menjadi salah satu daya pikatnya. Mata dan hidungnya tercipta dengan keserasian satu sama lain. Sayangnya, ia tak dapat mendengar di telinga kirinya.

Pada awal pertemuan kami ada getaran kecil di hatiku yang menyadarkanku bahwa ada sesuatu istimewa di balik dirinya yang tak semua orang tahu. Seiring bergulirnya waktu yang singkat, getaran kecil berubah menjadi percikan listrik kecil yang terus mengahampiriku tiap kali aku dan dia berdekatan. Bahkan rasanya, semua hal yang terjadi padaku seolah mengantarkanku bertemu dan berakhir dengan dirinya.

Hingga, kebenaran terungkap. Korban kecelakan beberapa tahun silam bukan hanya aku dan ayah. Priaku terlibat dan konsekuensinya telinga kirinya kehilangan kesempatan mendengar di umur 12 tahun.

Aku masih bisa berdiri tegak dengan sisa-sisa kekuatanku saat mengetahui selama ini aku tidak tumbuh besar dengan Appa dan Ommaku. Duniaku benar-benar kehilangan porosnya begitu mengetahui aku ikut andil dalam menorehkan luka pada priaku. Aku perlu berfikir, memastikan bahwa ini bukan rasa bersalah.

Kelegaan menyelinap di hatiku. Ujung bibirku terangkat membentuk senyuman.

Kriss P.O.V

Hawa panas yang mendera seluruh Seoul sama sekali tidak sebanding dengan gerah yang ku alami. Ini lebih terbakar di hati dan seluruh tubuhku. Entah karena memang matahari yang terobsesi melihat ketampananku atau hujanku tak kunjung kembali dari liburan panjang yang ia ambil di Bali.

Aku mendesah berat ketika  melewati kedai es krim langganan kami yang tak jauh dari apartemenku. Song Jyeri, aku akan membelikanmu semua es krim vanilla yang ada di sana sampai kau bosan untuk sekedar melihatnya saja jika kau kembali padaku saat ini juga.

Kepalaku menggeleng dengan keras saat sadar bahwa hal itu tidak mungkin. Dia baru saja menelpon hanya untuk menambah kabut hitam di hariku yang sudah mendung. Tidak akan pulang sampai 3 hari kedepan. What the hell. Lalu bagaimana aku bisa menjalani sisa 3 hari ini jika sekarang saja aku sepertinya berhalusinasi pada kehadirannya tiap saat. Khayalan bodoh ini sungguh tidak membantu. Justru membuatku ingin berlari menuju tempatnya sekarang berada.

Oh...tentu saja akan kulakukan kalau saja J - panggilanku padanya - tidak mengancamku untuk tak pernah kembali. Gadis bodoh ini benar-benar merebut seluruh duniaku. Aku mendecak sebal menyadari lagi kenyataan yang amat jelas padaku. Begitu dia kembali padaku, rela tidak rela dia harus mengikat janji denganku.

Seorang kasir menyambutku dengan senyuman ketika pintu kaca tembus pandang terbuka dan bell selamat datang  yang sama seperti terakhir kali kami kemari, tentu saja pemiliknya tak mau repot-repot untuk menggantinya dalam 5 hari, berdentang.

Aku lebih menyukai es krim chocolate ketimbang es krim vanilla tapi saat ini rasanya es krim vanilla di hadapanku, hasil dari pemesanan melanturku, terlihat  sangat menggoda dan membuatku berhasrat segera mengambil dan menjilatnya untuk sekedar mengingat bagaimana rasa manis bibir Jyeri. Dengan berat hati aku memutuskan untuk pulang ke apartment tempat dimana semua tentang Jyeri membaur menjadi satu.

***

Aku membuka pintu apartemenku perlahan. Alam bawah sadarku berharap sebuah hadiah muncul tiba-tiba dan mengejutkanku. Kenyataannya, apartemen ini sepi tak berkehidupan sejak 3 hari lalu saat aku tak mampu lagi untuk bertahan lebih lama tinggal hanya dengan bayangan Jyeri. Oh Gosh, dia hanya berlibur selama beberapa hari dan seperti ini keadanku? Gadis ini…

Menghempaskan tubuh dengan amat keras pada sofa setidaknya mengurangi secuil  kegelisahanku. Aku memandang pintu masuk dengan es krim di depanku, lagi-lagi berharap pintu itu secara ajaib terbuka dan memunculkan Jyeri.

Aku mendesah. Pandanganku beralih pada es krim di tanganku yang masih utuh.

Jyeri P.O.V

Aku berjingkat perlahan, keluar dari persembunyianku. Aku mengernyit melihat es krim vanilla yang berada di hadapannya. Sepanjang aku mengenalnya ia lebih memilih coklat ketimbang vanilla. Dan ekspresi mukanya sungguh membuatku ingin tertawa terpingkal-pingkal. Dia terlihat amat berhasrat untuk menjilat es krim itu tapi di satu sisi sepertinya amat sayang untuk menghabiskannya.

Aku tersenyum nakal saat sebuah ide melintas di otakku. Kakiku berjinjit, berusaha untuk sama sekali tidak menimbulkan suara saat melangkah menuju tubuh tegap yang tengah kurindukan hampir mati 5 hari ini.

Aku mengakuinya, meninggalkannya untuk sekedar liburan kurasa ide terburuk sepanjang hidupku. Aku sama sekali tak berpikir pergi sebentar dari sisinya justru memutar balikkan diriku. Aku tidak berbohong mengatakan akan pulang 3 hari lagi. Itu jadwal kepulanganku sebelum aku memutuskan tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Dan aku tahu, jika aku tak mengancamnya dia akan pergi menjemputku ke Bali saat aku dengan ngelindur sudah tiba di Seoul. Pria ini alasan nafas dan gerakku, sekarang dan seterusnya. Aku tersenyum menyadari kenyataan sederhana itu.

Aku menyelipkan tanganku pada lehernya dan mengecup pipi putihnya, salah satu bagian yang kunantikan untuk bertemu bibirku, kilat kemudian meraup es krim vanilla kesukaanku.

Kriss P.O.V

Sebuah tangan menyelip ke leherku. Memaksa dengan lembut untuk berpaling padanya. Bibir lembut basah menempel di pipi panasku. Aku mengerjapkan mata. Menelisik kejadian tiba-tiba ini nyata atau bukan. Aku benci  saat bibirnya pindah ke es krim vanilla yang kupegang. Oh Sial, Aku cemburu pada es krim vanilla ini.

Tangan kiriku meraih leher putihnya dengan cepat dan menarik wajahnya mendekat. Mempersingkat jarak antara bibirku dan bibirnya yang berlumuran es krim. Meraup bibir dingin itu seolah aku tidak pernah merasakan hal seperti ini padahal tiap saat bersamanya aku tak pernah melewatkannya.

When will you stop make me crazy?!” desisku di sela ciuman kami yang makin lama bertambah panas.

Jyeri P.O.V

Cahaya televisi menari-nari mengitari ruangan gelap yang melingkupi kami. Detak Jantung pria yang tengah meminjamkan dadanya untuk menjadi tempat menyandarku terdengar begitu jelas. Berdebar begitu cepat, seirama dengan detakan jantungku. Jemarinya bermain dengan anak rambutku yang tak ikut terikat. Sedangkan tangan hangat miliknya yang lain, membungkus tubuhku sembari mengelus lembut bahu dan lenganku. Sentuhannya seperti menenangkan syaraf-syarafku yang terlalu tegang. Aku akan menjadi wanita bodoh sedunia jika aku tidak menyadari apa yang tengah terjadi pada kami berdua.

“J..” panggilnya lembut penuh dengan ketegasan. Aku membalas dengan gumaman. 

“Sudah cukup berpikirnya. Sekarang kau harus bersiap-siap bersumpah di depan Tuhan untuk menghabiskan sisa hidupmu denganku.” 

***


1: Dimana kau sekarang?; 2: kakak perempuan; 3: Ayah; 4: Ibu

Poskan Komentar

5 comments

hmmm,,,bingung aq dg penempatan POVny,,
Maaphkan,,,
anw,,tetap menulis yagh,,
Makasih mas Yudi,,

Bingung~
Heheheh
(ˆ⌣ˆ)♉

Awalx sih bingung, tpi akhirx ngerti jg alur ceritax. Makasih mas yudi! Makasih mba tiara. Btw, P.O.V itu apa artix yaaaa,,, gak ngerti aq he he he :D

dear Fitri,,,bantu jawab yagh,,,
POV itu Point of View : sudut pandang,,,
terima kasih,,

Ini ad sambungannya nggak, pasti ad nih....
Nyelip d mana sih? Bantuin cari dong..

*memaksakan diri

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top