8

fiy-thumb
Kami bersantai di sofa selama sekitar tiga puluh menit, memikirkan apa yang baru saja kami lakukan.

"Itu menakjubkan," kata Max.

"Yang terbaik."

Aku tidak berbohong. Itu memang seks terbaik yang pernah kumiliki, tidak diragukan lagi karena dia menjadi pria paling seksi yang pernah tidur denganku, dan cara dia melakukannya, mengambil kendali, menguasaiku.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Aku benar-benar tidak mengharapkan apa-apa, tapi apa yang akhirnya terjadi adalah mengejutkan.

"Apakah kau siap?" Katanya.

Aku menatapnya dengan senyum di wajahku. "Itu tergantung. Aku harus  membersihkan diri dari apa yang baru saja kita lakukan." aku tertawa, dan dalam beberapa detik, aku menyesalinya.

"Kau bisa istirahat di jalan. Aku akan memastikan kau akan baik-baik saja."

Apa? Dia akan mengantarku pulang. Aku tidak mau bertanya mengapa, dan merasa lebih dari kewalahan, aku mungkin tidak dalam kerangka berpikir yang benar untuk percakapan ini. Di atas semuanya, apa yang akan kulakukan? Memohon padanya untuk membiarkanku menginap?

Kami nyaris tidak bicara di dalam perjalanan kembali ke LA. Semakin lama kita berada di dalam mobil, semakin aku merasa sakit hati, dimanfaatkan, dan murahan. Aku bertanya-tanya di mana namaku akan berada di daftar nama wanita lain yang ia bawa pulang, begitu menggebu-gebu, dan kemudian dilupakan.

Ketika kami sampai ke tempatku dia berkata, "Aku akan mengantarmu sampai ke pintu."

"Tidak, kau tak perlu lakukannya...Sungguh." aku mengambil tasku dan meraih pegangan pintu.

"Olivia, tunggu sebentar." Dia meraih tanganku dan membawanya ke wajahnya. Dia mencium punggung tanganku dan berkata, "Terima kasih untuk malam yang luar biasa."

Aku berhasil mengeluarkan senyum palsu terbaikku yang ku bisa dan cepat keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa. Aku berjalan di jalan setapak, sampai ke pintu, memasukkan kunci di lubangnya... tanpa berbalik untuk melihat dia duduk di sana didalam mobilnya. Butuh kemauan yang keras untuk melakukannya, aku  tak tahu aku memilih untuk melakukan itu.

Aku melangkah masuk dan segera pergi ke kamar mandi. Aku memandang diriku di cermin dan air mata mulai mengalir.

Bagaimana aku bisa begitu bodoh? Begitu mudah tertipu? Kenapa aku membiarkan pertahananku bobol? Kenapa aku membiarkan seorang pria menggunakan dan mengontrolku seperti itu? Sial! Aku tahu aku bisa lebih baik dari itu!

Semua pikiran negatif yang dulu aku punya, setelah Chris, datang bergemuruh kembali ke pikiranku. Aku menyalahkan diriku sendiri atas segala sesuatu yang telah terjadi malam itu, sama seperti aku menyalahkan diriku sendiri karena membiarkan diriku menjadi begitu rentan terhadap Chris Cooper.

Apa yang Chris lakukan adalah jauh dari apa yang Max baru saja lakukan padaku, tapi itu semua karena aku membiarkan diriku menjadi rentan terhadap sesuatu yang selalu penuh dengan bahaya, yang membuatnya seperti tindakan yang kuat, tapi sesuatu yang aku tidak siap untuk melakukannya lagi, dan melihat apa yang terjadi.

Aku begitu emosional dan meninggalkan kamar mandi. Mungkin Krystal masih terjaga, dan dia akan membiarkanku melampiaskan frustrasiku. Dan mungkin akan menjadi  "Aku bilang juga apa" untuk kuhadapinya, tapi pada saat itu aku tak peduli. Aku hanya tidak ingin sendirian.

Ketika aku sampai ke kamarnya, aku menemukan bahwa dia tidak ada di sana.

Bagus. Aku sendirian.

Aku berpikir untuk menelpon Grace, tapi sekarang sudah hampir pukul satu pagi di si di L.A, dan  benar-benar larut malam di Ohio. Tidak mungkin aku akan  meneleponnya. Mungkin itu pilihan terbaik bahwa aku tidak bisa bicara dengan kakakku sekarang.

Akibat kelelahan fisik dan emosional aku tertidur dengan cepat, terima kasih Tuhan. Aku butuh istirahat.

Apa yang aku tidak butuh adalah mimpi: Aku berdiri dengan punggung menempel ke dinding, dan dia telah menyudutkanku. Dia memunggungiku, dan yang aku bisa lihat adalah siluet tubuhnya, berdiri sekitar dua meter di depanku. Aku tak punya jalan keluar. Tubuhku bergetar dengan rasa takut. Adrenalin mengalir melalui pembuluh darahku. Aku bisa mencoba untuk berlari, tapi aku tahu dia akan menangkapku. Aku melihat siluet bahu kanannya naik dan ditarik kembali. Kemudian hal yang lebih menakutkan yang pernah kulihat: lengannya telah mengepal siap menghantam, sejajar dengan wajahku.

***

Aku terbangun, bersyukur bahwa itu hanya mimpi, bahwa aku belum terkena pukulan, dan kerusakan yang dilakukannya adalah saat aku berbaring di sana berendam dalam keringat dingin.

Sialan Max. Tidak, aku yang sialan karena membiarkan kewaspadaanku turun dan membiarkan orang lain masuk ke zona amanku.

Orang-orang mengatakan aku telah memasang dinding pembatas setelah insiden dengan Chris. Tapi apa yang mereka tidak tahu adalah bahwa itu lebih dari dinding. Ini sebuah benteng. Ada parit di sekitarnya, dan air bawahnya diisi dengan buaya. Ada jembatan dengan kabel yang akan menyala dengan semburan api besar jika seorang pria mencoba untuk menyeberanginya.

Jadi bagaimana Max Dalton bisa masuk ke dalam benteng pertahananku?

Aku melepaskan sprei tempat tidur yang basah, dan menanggalkan pakaianku. Aku berbaring kembali, telanjang, telanjang di tempat tidur, dan untungnya kantuk datang sekali lagi...kali ini tanpa mimpi.

***

Ketika aku bangun di pagi hari, masih belum ada tanda-tanda adanya Krystal, tapi mobilku ada di sana. Aku sudah berharap dia akan membiarkanku meluapkan semua pada dirinya.

AKu tidak melihatnya selama sisa akhir pekan. Aku mengirim sms padanya beberapa kali, tetapi tidak mendapat balasan. Aku tahu aku tidak bisa menelepon Grace dan menceritakan semuanya. Dan ketika Minggu bergulir aku selalu menelepon orang tuaku - aku tidak merasa butuh bicara dengan mereka. Aku mengirim email sebagai gantinya, pura-pura flu dan sakit tenggorokan, dan meminta maaf karena tidak bisa bicara. Ayahku menulis kembali dalam waktu tiga puluh menit, menyampaikan pesan ibuku tentang resep obat untuk sakit tenggorokan. Aku merasa bersalah karena berbohong pada mereka, tapi aku tidak bisa bicara dengan mereka saat itu. Aku tidak punya pilihan.

Aku menghabiskan akhir pekan sendirian saja, menonton hal-hal yang akan dimasukkan ke dalam daftar antrian Netflixku.

Di satu sisi, aku juga takut untuk menghadapi hari Senin. Kutahu aku tidak bisa bolos bekerja, tak peduli betapa aku ingin menghindarinya, tapi terlihat seperti ada sesuatu yang salah dan akan membuat Kevin bertanya padaku tentang hal itu. Dari sisi baiknya bahwa aku memiliki sesuatu selain dari streaming film yang harus aku fokuskan, dan tidak berpikir tentang betapa bodohnya aku telah melakukan hal sejauh itu dengan Max.

Kevin memanggilku tak lama setelah aku membuka kantor dan mengatakan bahwa dia akan keluar sepanjang hari. Aku menarik napas lega. Aku bisa kembali dengan mudah ke pekerjaanku selama satu hari.

Aku akhirnya bisa berhubungan dengan Krystal kembali ketika makan siang dengan menu salad di mejaku.

"Bagaimana akhir pekanmu?" Tanyanya.

"Oke."

"Apa yang terjadi dengan Max?"

Pintu air telah terbuka dan aku mengatakan padanya semua ceritanya.

Ketika aku selesai dia berkata, "Dasar bajingan, Lihat, ini apa yang sudah kubilang padamu agar kau waspada."

"Aku tahu, aku tahu." Aku tidak ingin dikuliahi.

"Dan dia tidak meneleponmu sepanjang akhir pekan?"

"Tidak."

"Ah, lupakan dia," katanya. "Aku tahu kau memiliki hubungan kerja dengan dia, tapi hanya sampai di situ saja."

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Krystal bertanya, "Jadi...apakah itu nikmat?"

Aku menghela napas. "Terbaik malah."

Dia tertawa kecil. "Oke, jadi kau hanya mengingat itu sebagai seks terbaik yang pernah kau rasakan dan lupakan. Hidup harus terus berlanjut di kota ini."

"Omong-omong, apa yang kau lakukan sepanjang akhir pekan lalu?"

"Oh, Tuhan. Aku bertemu dua orang cowok..." Dia melanjutkan untuk menceritakan kisahnya menghabiskan akhir pekan dengan dua pria, lengkap dengan rincian cabul dari threesome pertamanya.

“Apa kau bercanda?” Ujarku.

"Tidak."

"Sialan. Dan kupikir kau sedang bekerja dan aku terus berpikir bahwa aku hanya tidak ketemu denganmu atau ada sesuatu yang lain." Itu tidak benar-benar apa yang aku pikir. Bagaimana aku tidak ketemu dia diantara jam kerjanya? Aku mulai tahu bahwa Krystal memiliki semacam gaya hidup liar dan cukup unik. Dan aku mulai bertanya-tanya bahwa gaya hidupnya tidak berhubungan dengan bekerja di sebuah restoran dan pergi ke audisi. Tapi aku tidak mau ikut campur. Belum saatnya.

***

Kami tidak bicara lagi tentang hal itu sepanjang sisa minggu. Aku hanya melihatnya pada Rabu malam, dan hanya beberapa menit ketika aku berangkat ke tempat tidur saat ia sampai di rumah.

Aku menelepon orang tuaku selama beberapa menit pada hari Selasa untuk membiarkan mereka tahu bahwa kondisiku lebih baik, bekerja, dan segala sesuatu akan baik-baik saja. Grace kebetulan berada di sana ketika aku menelepon dan kami bicara selama beberapa menit.

Dia merendahkan suaranya pada satu saat dan berkata, "Aku bertemu Chris di pom bensin."

Mendengar namanya disebut aku menggigil sampai ketulang dan membawaku kembali pada gambaran dari mimpiku yang kualami akhir pekan lalu.

"Aku bahkan tak ingin tahu."

"Well," katanya, "dia ingin tahu kabarmu."

"Apa yang kau katakan padanya?"

Ada jeda. kemudian hening.

"Grace? Apa yang kau katakan padanya?" Aku bertanya, nada tegas dalam kata-kataku.

"Aku mengatakan padanya bahwa kau pindah ke California."

"Uh huh. Dan?"

Aku mendengar pintu ditutup, dan kemudian terdengar seperti angin bertiup di telepon. Dia pergi keluar untuk menghindar dari jangkauan pendengaran orang tua kami.

"Maafkan aku," katanya. "Aku tahu itu bodoh. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kau baik-baik saja, dan bahkan lebih baik, tanpa dia. Aku ingin membuatnya merasa seperti sampah."

Aku mengertakkan gigiku. "Jika ia menelpon ke sini-"

"Dia tak akan mencari tahu di mana kau bekerja. LA sangat besar, kan?"

Aku bersandar di kursiku. Aku tidak ingin berdebat tentang hal ini. "Kau seharusnya tidak mengatakan apa-apa padanya."

"Aku tahu. Maafkan aku."

"Tapi," kataku, "Aku ingin si brengsek itu tahu bahwa aku tidak hancur tanpa dia. Ini satu-satunya rasa...kemenanganku atau semacamnya, kau tahu?"

Kami melewartkan masalah itudan dia menceritakan padaku tentang bayinya dan hal-hal lain yang terjadi di kota kecil kami. Untuk pertama kalinya, dan agak aneh, aku merasa sedikit bernostalgia. Tidak benar-benar rindu dengan rumah. Belum saatnya. Kupikir itu hanya sebuah fantasi pelarian yang mudah untuk menghadapi kenyataan bahwa aku belum benar-benar menyesuaikan dengan keramaian dan hiruk pikuk LA dan Hollywood. Hanya rindu kesederhanaan dan ketenangannya saja.

***


Penerjemah:
Edit: +portalnovel 

Poskan Komentar

8 comments

makasih Duo Y___mas Yudi & mbak Yana___

Sankyuuu mb yana n mas mimin..
*peluk2 olivia*

Slalu gitu ya setelah "kejadian" seringx suasanax jadi canggung hmmm... Makasih PN :)

Trims ya mba yana dan mas yudi..
Max sm oliv moga jadian dh..
Engga rela klo cm jd one night stand aja.
Cupid ,dimana cupid ?

Hi galz happy reading ya.. :)
Max emang gitu orangnya, cuek2 nafsu ... eh ^_^

✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Yana & mas Yudi..

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top