10

fiy-thumb
"Itu pasti membutuhkan waktu lama," kata Kevin saat aku berjalan ke kantor.

"Maaf."

Aku mencoba untuk tidak membuat kontak mata dengan dia, meskipun aku tahu itu hanya akan membuatnya semakin tampak bahwa aku sepertinya menyembunyikan sesuatu.

"Yah?" Katanya. "Apa yang terjadi?"

"Dengan apa?"

"Apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Kenapa?"

Dia menyipitkan mata sedikit dan menatapku samping. "Kau tidak terlihat baik-baik saja. Kau tampak...berbeda. Apakah ada yang salah?"

Aku pernah mendengar istilah "rambut kusut sehabis bercinta" sebelumnya, tapi adakah istilah "rambut kusut sehabis bercinta dg jari"? Apakah itu yang dia maksud? Atau mungkin aku hanya begitu gugup yang terlihat jelas wajahku. Lagipula, aku tak ingin dia memperjelasnya.

"Semuanya baik-baik saja, Kevin. Aku sudah punya kontraknya." Aku merogoh tasku untuk mengambil amplop. "Dan kemudian setelah aku pergi, aku harus berhenti di suatu tempat dan mengurus sesuatu."

Tampaknya dia tidak percaya padaku.

Aku merendahkan suaraku dan menambahkan, "urusan pribadi." Aku membuat semacam wajah yang tampak malu untuk memperkuat ceritaku, dan tampaknya dia percaya.

"Ah, maaf," katanya.

Aku menggeleng. "Jangan khawatir." Aku menyerahkan amplop ke Kevin.

Dia membukanya, mengeluarkan kontrak dan dengan cepat melihatnya. "Apakah kau tahu apa artinya kertas ini ? Ini sangat besar artinya bagiku." Dia menatap lagi dengan kebanggaan yang ekstrim di wajahnya.

"Aku ikut senang mendengarnya."

Dia mendongak dari kertas. "Senang bagi kita semua. Kau bagian dari tim di sini. Aku tidak bisa melakukan ini tanpa bantuanmu."

Ini membuatku sedih mendengarnya. Untuk satu hal, itu adalah hal yang sederhana baginya, dan itu bukan sesuatu yang sering datang di Hollywood. Dan yang kedua ketika aku tahu itu benar bahwa aku telah melakukan banyak hal untuk membantu dia mendapatkan peran untuk Jacqueline, dan aku juga melakukan banyak hal untuk menempatkan bisnis Kevin ke dalam bahaya.

Semua itu akan menjadi salah satu rumor tentang Kevin yang menggunakan asisten muda untuk membujuk eksekutif studio dengan cara yang tidak etis.

Aku sangat bahagia bahwa itu adalah hari Jumat dan aku punya dua hari penuh untuk pergi menjauh dari Kevin dan kantor.

Di sisa hari itu yang bisa aku pikirkan hanyalah kapan aku bisa bertemu Max lagi. Dia mengatakan itu akan menjadi kejutan, dan ketika aku meninggalkan kantornya kupikir itu terdengar menarik. Tetapi ketika pulang dari kerja itu membuat sarafku menjadi gila.

Aku punya rencana malam ini untuk pergi ke klub dengan Krystal dan dua temannya yang baru aku kenal. Mungkin itu akan menjadi pengalih pikiranku dari semua yang berhubungan dengan Max.

***

Gaun ini membuatku terlihat seperti pelacur, kan?"

Aku berada di kamar mandi sedang memakai make-up saat Krystal masuk dan mengajukan pertanyaan. Aku ingat dia menanyakan hal yang sama ketika kami berada di Vegas. Aku menatapnya di cermin. Ia mengenakan gaun ketat berwarna peach strapless yang panjang sampai dikakinya. Itu indah, tapi aku berpikir apa yang akan terjadi jika dia sengaja menginjak tepinya. Pasti payudaranya akan menyembul keluar jika hal itu terjadi.

"Kenapa kau terus menanyakan apakah kau terlihat seperti pelacur?"

Dia berbalik ke samping dan melihat profilnya di cermin. "Aku tak tahu. Aku hanya tidak ingin terlihat seperti pelacur murahan."

"Kau tampak hebat. Tapi ada satu hal saja..." aku bercerita tentang hem dan dia bilang dia sudah memikirkan hal itu, dan jika itu terjadi, mungkin itu akan menjadi pusat perhatian sepanjang malam.

"Itu akan jadi suatu merendahkan," kataku.

Aku selesai bersiap-siap, sementara berdebat dengan diriku sendiri apakah menceritakan tentang apa yang terjadi di kantor Max pada hari sebelumnya. Terus terang, aku kagum dengan caraku menahan diri.

Krystal memberi tahu arah ke klub favoritnya saat aku menyetir, tempat yang disebut Drais terletak di atas W Hotel di Hollywood Boulevard. Setelah berkunjung ke Las Vegas, aku agak siap untuk beraksi - cahaya, musik, orang-orang tampan berpakaian rapi dan, tapi ini merupakan level yang lebih tinggi. Ini adalah tempat terbagus di Hollywood untuk nongkrong, di tempat itu ada sebuah restoran, kolam renang, dan klub malam. Di dalamnya, musik sangat keras, pencahayaannya memamerkan dinding merah, hitam, ungu, dan hijau. Kursi nyaman yang besar dan sofa di mana-mana. Orang-orang menari di bawah lampu lantai yang besar, lengkap dengan nuansanya. Orang-orang lebih banyak berada di tepi kolam renang.

Itu adalah malam yang indah. Dari sudut pandang dari atap Hotel W, aku memiliki perspektif yang sama sekali baru dari LA. Setidaknya dalam arti visual.

Kami akhirnya berjumpa dengan dua teman Krystal itu yang dia ingin kenalkan kepadaku - Julia dan Rachel. Mereka juga calon aktris, dan dalam waktu sepuluh menit aku mendengar mereka bicara lebih banyak tentang audisi dan agen dibandingkan yang Krystal dapatkan dalam sebulan aku tinggal bersamanya. Aneh.

Ketika mereka bicara tentang orang-orang terkenal yang mereka lihat di sini sebelumnya, nama Max muncul.

"Omong-omong tentang setan," kata Julia.

Kita semua melihat ke arah dia mengangguk ke suatu arah.

Sialan. Ada dia. Berdiri di area bar. Ia bicara kepada dua orang yang tidak kukenal, dan kemudian kami membuat kontak mata. Seringai lambat muncul di wajahnya dan ia mengucapkan kata: "Surprise."

Dan aku memang terkejut. Sebenarnya, bukan karena kata-kata itu. Mungkin tidak ada yang bisa lebih baik untuk menggambarkan apa yang kurasakan, napasku tertahan di tenggorokan, lututku pun jadi lemas, dan aku merasakan sensasi kesemutan di seluruh kulitku yang menyebabkan putingku menjadi keras dan denyutan yang samar diantara kakiku.

"Aku pernah mendengar cerita tentang orang itu," kata Julia.

Krystal menatapku dengan ekspresi khawatir. Aku sangat senang tidak menceritakan apa yang terjadi di kantor Max sore itu.

Rachel menyesap margarita. " katakanlah."

Ya, ceritakanlah, ujarku dalam hati. Mungkin aku perlu tahu lebih banyak tentang Max sebelum aku membiarkan dia memberiku kejutan yang ia janjikan sebelumnya.

"Mata keranjang," kata Julia.

Krystal menatapku, lalu pada Julia. "Kau pernah mendengar cerita akhirnya?"

Julia mengatakan, "Tidak, tapi aku sudah mendengar banyak hal."

"Seperti apa?" Tanyaku.

"Bahwa dia sudah meniduri banyak aktris."

Krystal tertawa. "Oh, seram. Hei, itu Hollywood. Dia hot dan lajang. Tidak ada hukum yang menentang dia untuk melakukan apa yang dia inginkan."

Julia berbalik ke Krystal. "Jangan katakan kau…"

"Tidak." Krystal menggelengkan kepalanya. "Aku hanya melihat dia secara pribadi cuma sekali, sebenarnya." Dia menatapku.

"Kau?" Kata Julia, melihatku dari atas dan ke bawah, seperti aku adalah seseorang yang tidak mungkin akan sampai dua kali dilihat Max. Setidaknya itulah kesimpulanku.

Aku tidak repot-repot menjawabnya. Aku hanya tersenyum. Aku tahu apa yang akan terjadi, dan aku memutuskan untuk membiarkan dia bicara untuk dirinya sendiri.

Rachel mengaduk minumannya. "Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan denganku. Lihatlah bagaimana tubuh itu. Sialan." katanya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Oh, sialan." Mata Julia membesar. "Apakah dia...Yep. Dia datang ke mari."

"Come to mama," gumam Rachel.

Tapi dia tidak datang ke arah Rachel. Dia mendatangiku.

"Halo, Olivia." Dia mencium pipiku.

Aku berbisik, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Mulutnya masih dekat telingaku. "Surprise..."

Rachel dan Julia menatapku, shock tampak terlihat di wajah mereka. Mereka menatap Krystal, yang mengangkat bahu dengan senyum di wajahnya.

Max meletakkan tangannya di punggungku. "Apakah sejauh ini semua orang bersenang-senang?”

Krystal dan teman-temannya mengatakan iya.

Aku tidak repot-repot memperkenalkan dia ke Rachel dan Julia. Kebencian mereka bagiku sangat jelas dari cara mereka menatapku, tapi aku tak peduli.

Max menatapku, kemudian pada mereka. "Ku harap kalian semua tidak keberatan ladies, tapi aku harus menculik Olivia untuk sementara waktu."

Ketiganya menggelengkan kepala mereka.

Ketika kami sampai beberapa meter jauhnya, Max bertanya siapa yang menyetir.

"Aku. Kenapa?"

"Kau harus memberikan kunci mobilmu untuk Krystal."

"Kenapa?"

"Agar dia bisa pulang."

Aku tertawa gugup. "Aku tahu apa yang kau maksud, tapi... kita mau ke mana?"

Dia menciumku ringan di bibir. "Ini kejutan, ingat?"

Aku mengambil kunci mobil dari tasku dan berjalan beberapa langkah kembali ke Krystal dan menyerahkan kuncinya.

"Kau akan pergi?"

Aku mengangkat bahu. "Aku tak tahu."

Julia dan Rachel keduanya menatapku dengan mulut terbuka.

"Dia bilang dia punya kejutan bagiku," ujarku. "Aku akan lihat nanti. Atau besok. Atau... kapanpun. "

Aku berbalik dan berjalan pergi, aku merasa seperti baru saja memenangkan putaran kejuaraan catty girl playoffs.

***

Penerjemah:
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

10 comments

pertamax koment..tq mimin n mbk yana...

Waahhhh, kok cuma dikit. Tapi makasih ya PN, bikin penasaran nich :)

thanks mbak yana, and mas mimin :D

Nanggung bangets mksih mbak YANA MUKTI N MAS YUDI

Ngga sabar nunggu lanjutannya. . .
Thanx

iya singkat, tp tetap aja menghibur koq. tks portal novel

Aduh kentaaang
Hihihihi
Makasih mb yana, mas mimin :D

hahaha,,,,kshn Julia sm Rachel.. mkny don't judge the book by its cover..xixixi
100 bwt Olivia..keyenn sm crnya..
mksh Mba Yana n Mas Yudi..

wohooooo max udah mulai main sepertinya ^^
lanjut yaa ^^

penasarannnnn....
makasih mbak yana n mas yudi @

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top