7

fim-thumb
Ternyata ia juga berasal dari Midwest. Jadi kita punya kesamaan. Hari itu ketika aku bertemu dengannya dan kemudian melakukan penelitian tentang dia di Internet, aku tidak melihat adanya informasi tentang tempat dan tanggal lahir, hanya usianya saja. Halaman Wikipedia-nya sebagian besar berisi tentang data profesional, yang sangat menarik perhatianku, tapi sekarang yang aku perlu lebih tahu adalah tentang Max sebagai manusia, bukan Max sang orang penting Hollywood.

Dia anak tunggal, ayahnya adalah salesman pakaian pria, ibunya seorang guru, orang tuanya menginginkan Max untuk masuk perguruan tinggi dan memperoleh gelar bisnis. Tapi Max tidak tertarik dalam hal itu.

Sebagian besar masa remajanya dihabiskan di bioskop dan perpustakaan, menyerap film dan sastra. Dia benar-benar terpesona dengan ide tentang tokoh karakter dan cerita yang bisa muncul dari mana saja. Dia bilang dia bisa mengingat malam-malam di tempat tidur, menatap langit-langit, benar-benar keheranan bahwa film-film besar dan buku- buku bagus dimulai dari halaman kosong, dan dengan pikiran dan keinginan seseorang halaman-halaman kosong itu mulai terisi dengan bentuk karakter dan cerita.

Dari kosong menjadi ada. Bahkan film-film jelek dan buku-buku jelek pun adalah produk dari kerja keras dan imajinasi seseorang, sehingga dalam pikiran Max karya-karya itu tetap pantas dihormati, bahkan walaupun jika karya itu tidak menarik secara pribadi baginya.

Dia mulai mengisi notebook dengan ide, plot, karakter, adegan, semua hal-hal besar yang campur aduk mengalir dari pikirannya bila penanya menyentuh kertas. Beginilah cara dia menghabiskan sebagian besar waktu luangnya. Bahkan waktu yang seharusnya dia isi dengan belajar.

Ketika ia berusia enam belas tahun, dia berhenti pergi ke gereja, merupakan suatu kekecewaan besar bagi orang tuanya. Ini bukan berarti bahwa ia menolak dididik yang diterimanya selama ini tapi karena ia memiliki fokus baru. Yang ingin ia lakukan hanyalah menulis, dan setiap kali ia tidak melakukannya, dalam pikirannya, dia telah membuang-buang waktu. Ketika ia mengumumkan keinginannya untuk berhenti menghabiskan dua atau tiga jam setiap hari Minggu di gereja, adu agumen meledak, dan ia meninggalkan rumah selama tiga hari.

"Aku harus pulang. Aku tak punya uang, dan rumah adalah tempat di mana ada makanan," dia mengatakan padaku sambil tersenyum.

Orang tuanya sangat senang ketika dia kembali ke rumah, setidaknya untuk malam pertama. Keesokan harinya mereka mulai mengeluarkan instruksi: sekolah, dan lebih sedikit waktu bermain, seperti yang disebut oleh ayahnya "membuang-buang waktu dengan menulis," dan tuntutan wajib untuk tetap pergi ke gereja.

Max mematuhinya. Dia tetap pergi ke gereja, tapi menghabiskan sebagian besar waktu menulis di kepalanya. Saat itulah dia menyadari bahwa dia memiliki memori seperti perangkap baja—ia bisa menulis dalam pikiran, bahkan mengedit dalam pikiran, dan ketika ia sampai di rumah dia dengan kalut menuliskannya secara acak-acakan dalam pusaran kegembiraan.

"Itu terburu-buru," katanya. "Fakta bahwa aku bisa melakukan itu adalah bukti lebih bahwa aku dilahirkan untuk menjadi seorang penulis."

Itu berhasil untuk sementara waktu. Lalu datanglah pertempuran tak terelakkan dengan orang tuanya tentang di mana ia akan kuliah. Mereka, tentu saja, ingin dia pergi ke sekolah negeri setempat, di mana ayahnya ingin kuliah disana jika ia memiliki kecerdasan dan uang yang cukup ketika dia seusia Max. Max pantang menyerah dalam keinginannya untuk pergi ke sekolah film. Orang tuanya mengatakan mereka tak akan mampu membayar jika dia pergi jauh, jauh ke UCLA, di mana Max ingin memulai di level sarjana dan kemudian melamar untuk sekolah film di tahun ketiga kuliahnya, sebagai persyaratan untuk diterima.

Orang tuanya bahkan tidak ingin dia mendaftar ke UCLA, tapi ia mengirimkan aplikasi lamarannya beserta dengan biayanya, yang dibayar dari tabungannya dari pekerjaan paruh waktunya di bioskop.

Adu argumen terus berlangsung ketika orang tuanya mengaku mengambil aplikasi UCLA dari kotak surat bulan lalu. Max tidak bisa percaya.

Sendirian di suatu siang dengan ayahnya, sementara ibunya berada di toko kelontong, Max menghadap ayahnya. "Berhentilah memukul ibu."

Ayah Max berbalik menghadapnya. "Apa yang akan kau lakukan tentang hal itu?"

Max melangkah lebih dekat dengan ayahnya, dan menatap kebawah padanya. Pada saat ini, Max lebih tinggi satu inci dari ayahnya, juga lebih berat dari ayahnya setidaknya dua puluh pound—dan semua itu otot.

"Sentuh ibu lagi dan ayah akan tahu apa yang akan kulakukan tentang hal itu."

Ayah Max tertawa, tapi tak mengatakan apa-apa.

"Dan selalu ada polisi," tambah Max.

"Jadi," kata ayahnya, "apa yang akan kau lakukan? Memerasku?"

Max hanya tertawa dan meninggalkan ruangan. Ayahnya sudah seperti bajingan, tak pernah memberi Max kebebasan yang ia inginkan atau butuhkan, selalu memperlakukan dia seperti ia tak mampu melakukan sesuatu dengan benar, mengambil sabuknya dan memukul Max, atau memukul dia dengan punggung tangannya, yang menyengat karena cincin kelas kuliah palsu yang dikenakannya (benda yang dikenakannya untuk mengesankan orang). Nah, sekarang semuanya telah berubah. Max lebih superior dari ayahnya.

Max tahu apa yang harus ia lakukan, dan ia menetaskan rencananya selama beberapa minggu ke depan.

Dia akan meninggalkan rumah, mengambil 361 dolar yang ia punya atas namanya, dan menumpang mobil melintasi setengah negara untuk ke Hollywood. Tapi itu mungkin tidak akan cukup.

Dia tidak pernah berpikir untuk memeras ayahnya sebelum ia sendiri menyebutkan kemungkinan itu. Sekarang tampaknya itu seperti ide yang sangat bagus. Terutama karena Max memiliki sesuatu yang lain dari ayahnya. Jadi, dua hari sebelum Max kabur ke luar kota, ia pergi ke toko tempat ayahnya bekerja dan mengatakan ia membutuhkan lima ribu dolar.

Ayahnya tidak bertanya apapun. Dia hanya menulis cek. Setelah apa yang ia katakan, ketika Max mengatakan bahwa dia tahu tentang Annette dan Roberta, dua perempuan selingkuhan ayahnya (hubungan dengan Roberta masih berlangsung, sejauh yang Max bisa bayangkan). Ayah Max bahkan tidak tampak terkejut, dia tidak bertanya bagaimana Max bisa tahu.

Ketika Max meninggalkan kantor, ia berbalik dan menatap ayahnya. Mata ayahnya sudah lelah, dan ia tampaknya telah menyerah untuk memiliki hubungan yang normal dengan anaknya.

Dua hari sebelum ulang tahunnya yang ketujuh belas, Max mengatakan kepada ibunya untuk mengepak barang-barang kesukaan ibunya, tapi hanya dua buah tas. Pada pagi hari ulang tahunnya, setelah ayahnya berangkat kerja, Max dan ibunya naik bus Greyhound. Busnya menuju ke California Selatan. Pada saat busnya berjalan ibu Max mengatakan dia selalu ingin Max melakukan apa yang dia inginkan, dan selama ini dia setuju dengan ayahnya karena ayahnya terus menguasainya. Max mengatakan ia sudah tahu.

Selama tiga tahun berikutnya, Max bekerja di bioskop, restoran, dan pompa bensin, sementara dia menyelesaikan SMA-nya. Ibunya mendapat pekerjaan sebagai asisten guru di sebuah sekolah menengah.

Akhirnya ia mendapat pekerjaan yang menarik baginya: sebagai penyiar PA (public address) pada bus wisata. Dia mengesankan pemilik perusahaan bus wisata karena punya pengetahuan luas, hampir obsesif tentang Hollywood. Hal ini menyebabkan dia mempunyai koneksi dengan seseorang yang bekerja sebagai asisten produksi junior di studio MGM. Kakinya sudah berada di pintu gerbang Hollywood.

Max mulai meninggalkan skrip asli miliknya tergeletak di sekitar studio—diruang konferensi, diberbagai slot surat, di bawah kaca depan mobil yang diparkir di tempat yang ditandai dengan nama-nama besar.

Begitulah cara dia menjual naskah pertamanya. Dia adalah seorang penulis skenario yang berhasil atas jerih payahnya sendiri, tanpa agen, dan semuanya itu sebelum ia berusia dua puluh tahun.

Pada saat ia berumur dua puluh lima ia memiliki tiga film blockbuster, nominasi Oscar, dan langkah berikutnya adalah menyutradarai dan memproduksi. Tapi dia tidak bahagia sejak itu.

"Dan," katanya, "sampai hari ini aku tidak pernah mengatakan kepada ibuku bahwa aku tahu tentang pengkhianatan ayahku."

"Kau bisa membuat ayahmu hancur."

Dia mengangguk. "Aku tahu. Tapi itu akan merusak ibuku juga. Tapi dia bahagia sekarang. Dia tinggal di Thousand Oaks. Tidak terlalu jauh dariku, tapi juga tidak terlalu dekat. Dia tak ingin tinggal tepat di jantung dari semua aksi Hollywood."

"Dan ayahmu?"

"Setahun ini aku belum pernah mendengar kabar apa-apa tentang dia."

Kami bosan duduk di meja, jadi Max menyarankan kita untuk berjalan-jalan melalui kebun anggur. Ini menggangguku bahwa dari keseluruhan cerita yang baru saja dikatakannya, dia tidak menyebutkan satu pun tentang pacarnya.

***


Penerjemah: Miss Voldermort
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

7 comments

Thanks mas yudi, miss Voldemort :D

yakiinn Olivia sanggup denger ttg pcrnya Max?? :p
mksh Miss Voldermort n Mas yudi

Thanks miss voldermort;) n mas yudi

ckckk olivia -___-
hahahaa..

makasii Miss V dan mas Yudi xD
ditunggu next babanya yahh^^

wahh max makin terbuka sama olivia :)
olivia penasaran sama mantan mantan max nih apa udah mulai cemburu ya hehehe
thanks admin n miss voldemort :D

Thank you
Thank you
Thank you

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top