7

fim-thumb
Aku akan sangat puas jika bisa tidur siang setelah serangkaian seks yang luar biasa, tapi Max sangat ingin memperlihatkan kebun anggur itu padaku. Dia juga bilang bahwa dia lapar, sebenarnya aku mulai curiga, alasan sebenarnya adalah dia sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat. Ada apa dengan pria yang harus makan setelah berhubungan seks? Sesuatu tentang naluri hewani, mungkin. Dilihat dari keganasan Max di sofa tadi, kurasa itu adalah asumsi yang bagus.

Kami mandi bersama-sama. Max mencuci rambutku dan itu menjadi hal yang sangat intim dan erotis, yang kutulis dalam bukuku. Aku menyukai bagaimana tanganku yang tergelincir dan meluncur diseluruh tubuh telanjangnya. Lupakan ide tidur siang, aku bisa tinggal di kamar mandi itu sepanjang hari.

Tapi ada begitu banyak yang harus dilakukan, begitu banyak sesuatu untuk dilihat.

Kami makan siang di sebuah restoran masakan California, di luar geladak, menghadap ladang anggur yang tampak tiada habisnya.

"Bagaimana?"

Kami telah berpindah menu dari salad ke flatbread dengan tomat segar lokal, artichoke hearts (jantung bunga artichoke), bawang, jamur, diakhiri dengan bumbu dan lapisan segar mozzarella buatan sendiri.

"Menakjubkan," kataku. " Bahkan aku hampir tidak akan menyebutnya pizza."

"Jenis yang paling sehat. Mau anggur lagi?"

Aku mengangguk tapi tidak bicara, masih mengigit.

Kami menikmati jeda keheningan beberapa saat dan kemudian aku bertanya pada Max apakah dia masih menulis skenario film.

Dia menatapku dan mengerutkan kening. "Sepanjang waktu."

"Apakah kau akan memfilmkan salah satunya?"

Max meneguk anggurnya, meletakkannya di atas meja, dan napasnya yang berat meninggalkan mulutnya. "Mungkin tidak."

"Kenapa?"

"Aku hanya menulis untuk diriku sendiri sekarang. Kupikir aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan di filmku yang sudah dibuat."

Ada sesuatu di wajahnya yang mengatakan padaku bahwa dia tak ingin membicarakannya. Mungkin semacam penyesalan, atau kejenuhan, atau...mungkin kelelahan.

"Aku tidak yakin berapa lama lagi aku akan melakukan ini," katanya. Dan dengan cepat, ia menambahkan, "Tapi itu hanya diketahui antara kau dan aku."

Aku bertanya-tanya apakah film yang akan ia buat dengan klien kami, Jacqueline Marthers, akan menjadi yang terakhir baginya. Aku telah membaca naskahnya dan berpikir itu akan menjadi sebuah film yang luar biasa. Berpikir bahwa aku telah memainkan beberapa bagian kecil dalam hasil karya Max yang mungkin menjadi film terakhir Max Dalton itu mendebarkan sekaligus mengerikan pada saat yang sama.

Lebih penting lagi adalah kenyataan bahwa ia telah berbagi rahasia denganku. Dia cukup mempercayaiku untuk memberitahuku bahwa dia berpikir untuk keluar dari bisnis ini. Tidak mungkin aku akan melanggar kepercayaan darinya.

"Oke," kataku, "Jadi kau menulis untuk dirimu sendiri. Apakah semua skrip-mu tergeletak di sembarang tempat?"

"Tidak tergeletak di sembarang tempat." Dia tersenyum. "Aku menyimpan semuanya dalam laci meja. Yang terkunci," ia menambahkan, "jadi jangan berpikir tentang mencurinya dan menjualnya di eBay."

"Apa?!"

Max tertawa terbahak-bahak. "Tuhan, kau sangat menyenangkan untuk digoda, kau tahu itu?"

"Kita punya selera humor yang bagus."

"Ya, kita punya itu."

Dia mengangkat anggurnya, kami mendentingkan gelas, dan minum.

Kami menghabiskan setidaknya satu jam di sana, bermalas-malasan, menghadap ke kebun anggur, saling memandang, dan membicarakan hal-hal kecil, hanya itu, sampai pada percakapan tentang Chris.

"Apa yang mampu dia lakukan?"

Aku mengangkat bahu. "Apa maksudmu?"

"Kau sudah bilang apa yang dia lakukan malam itu, tapi apa ada lagi?"

"Tidak."

Alisnya naik. "Jujur?"

"Jujur. Dan aku lebih suka tidak membicarakan tentang urusan dia sekarang."

"Olivia, kalau aku ingin melindungimu, aku perlu tahu."

"Aku tidak butuh kau untuk melindungiku," kataku, sedikit lebih masam dari yang dimaksudkan. "Jika dia kembali, aku akan menelepon polisi."

Max menggeleng. "Mereka tidak akan melakukan apa-apa. Setidaknya tidak sampai ia melanggar batas yang sangat besar dan mencoba untuk menyakitimu, atau benar-benar menyakitimu."

Aku tahu dia benar. Ditambah lagi, ada aspek lain untuk menjauhkan semua ini dari keluargaku.

Untuk saat ini, walau bagaimanapun nama Chris telah muncul di LA, aku mulai berpikir bahwa mungkin ada masalah yang lebih mendalam dari kendali kemarahan obsesifnya. Tapi apa yang akan kulakukan? Mengungkapkan rasa takut itu kepada Max? Lalu apa? Aku tidak tahu persis apa yang Max bisa lakukan. Aku benar-benar hanya ingin Chris pergi, kembali ke Ohio, dan tinggal di sana.

Dan sama seperti aku ingin Christ pergi, aku juga ingin topik tentang Chris segera berakhir. Hal ini seharusnya menjadi liburan akhir pekan yang fantastis. Dan itu sudah terjadi, tapi kekhawatiran Max mengenai Chris telah mengancurkannya. Aku harus mengembalikan pembicaraan kita menuju ke arah semula.

"Ceritakan lebih banyak tentangmu."

Dia menatapku. "Apa yang ingin kau ketahui?"

Aku berpikir sejenak, kemudian berkata, "Semuanya."

"Itu banyak."

"Apakah kita terburu-buru?"

Max tersenyum dan meneguk anggurnya. Kemudian ia menceritakan kisah hidupnya.

***


Penerjemah: Miss Voldermort
Edit: +Portalnovel

Poskan Komentar

7 comments

tq miss V...... and tq mimin... dah lama g koment dolo...

Gracias miss Voldi and mas mimin.... :*

Trims miss "V" jd erotis nih nyebutnya,hehehe...

Thanks Miss Voldemort, mas yudi :D

Makasih
Makasih
Makasih

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top