14

fim-thumb
Aku tidak yakin bagaimana menjelaskan betapa anehnya ini ketika keesokan harinya aku menjelajahi Los Angeles dengan menggunakan Porche 911 convertible kepunyaan Max. Itu aneh karena aku merasa begitu bebas dan gembira, tapi dipikiranku masih ada ketakutan dari insiden dengan Chris.

Ketika malam dimulai dengan sesuatu yang mengerikan akhirnya berubah menjadi malam percintaan yang memabukkan dengan Max, dan keesokan harinya aku dibawa ke negara anggur California.

Pada awalnya dia tidak memberitahuku kemana kami pergi. Dia hanya pergi ke Bandara kecil Bob Hope di luar dari Burbank, di mana banyak bintang Hollywood menyimpan pesawat pribadinya.

Aku kagum ketika dia bilang dia mempunyai pesawat pribadi. Aku setengah berharap dia memberitahuku bahwa dia telah menyewa pesawat untuk kita. Aku tidak tahu mengapa. Dia adalah orang berpengaruh di Hollywood. Jadi kenapa dia tidak memiliki pesawat sendiri?

"Tapi aku tidak menerbangkannya," katanya.

"Oh, baiklah aku tidak terkesan."

Dia menangkap sarkasmeku dan tersenyum. "Naiklah ke pesawat. Pesawatku."

Dan itulah yang kulakukan, dengan gembira berlari menaiki tangga dan Max mengikutiku, menepuk pantatku sekali.

Ketika kami mendarat, kami melihat pemandangan pantai California. Menjadi bagian dari Midwest, aku jarang melihat pantai. Aku telah melihat pantai California, apa yang kulihat, sangat menggugah hati. Pemandangan dari udara pun lebih cantik.

Max telah menyiapkan sarapan saat berada di penerbangan, dan sekitar tiga puluh menit ke dalam perjalanan, kami minum jus jeruk dan kopi, dan berbagi sepiring besar roti Perancis dengan buah berri, krim dan sirup.

"Apa kau mencoba membuatku gemuk hingga tak ada orang lain yang akan menginginkanku?"

Max menatapku atas dan ke bawah. "Satu piring roti Perancis tak akan membuatmu gemuk."

Aku melemparkan serbetku padanya. "Jahat. Kau tahu itu bukan yang kumaksud."

Dia menelan gigitan terakhir sarapannya dengan senyum di wajahnya, meneguk OJ dan berkata, "Aku tidak peduli jika orang lain menginginkanmu. Mereka tak akan mengambilmu dariku."

***

"Selamat datang di Napa," kata Max saat kami mendarat.

Aku telah  mendengar tentang tempat ini sepanjang hidupku, tetapi sekalipun belum pernah ke sana, itu hanya sebagai fantasi dalam pikiranku. Sama seperti yang aku rasakan tentang Max. Tapi dia benar-benar nyata. Begitu juga Napa. Dan kami berada di sini seperti apa yang dijanjikannya untuk berakhir pekan yang menakjubkan.

Mobil Max menunggu kami di bandara tidak ada kemewahan yang mencolok, hanya sebuah Jeep tua yang menyenangkan, dan Max mengemudikannya seperti dia baru saja mencurinya.

Kami melalui jalan yang berliku-liku melalui kebun anggur. Max seperti pemandu wisata, dia mengatakan dengan rinci tentang berbagai perkebunan anggur yang kami lewati.

Kami akhirnya berhenti di sebuah pondok di sisi bukit. Itu wilayah pribadi, terletak di sepetak pepohonan. Aku keluar dari mobil dan melihat sekeliling, menghirup udara, segar dan renyah.

"Ayo," Max berkata saat aku menatap keluar di pedesaan, melihat pemandangan. "Ada banyak waktu untuk melihat-lihat. Apa yang aku inginkan sekarang adalah berada didalam dirimu."

"Kenapa, Mr. Dalton," kataku berbicara seperti putri kerajaan, "apa yang ada dipikiranmu?"

Aku mencoba bersikap main-main. Kami senang untuk berolok-olok dan menggoda selama perjalanan kesini. Aku mengharapkan dia untuk membalasnya. Tapi dia tidak melakukannya.

"Apa yang ada di benakku, Olivia yang cantik, adalah kau...telanjang, di tempat tidur, sehingga aku bisa melakukan segala cara denganmu."

Dia melangkah ke arahku dan sebelum sadar, mulutnya sudah berada dimulutku. Bibirku terpisah, membiarkan lidahnya menggeser masuk.

Max menggendongku dan melingkarkan kakiku di pinggangnya, mengunci pergelangan kakiku di belakang punggungnya. Dia berjalan ke sofa.  Ada sesuatu tentang pria ini dan sofa...

Dia menidurkanku dengan lembut, dan aku merasa ereksinya menekan diantara kedua kakiku.

"Mari kita lepaskan ini." Dia membuka kancing celanaku, membuka ritsleting, dan mulai menurunkan dari pinggul kekakiku. Ketika ia menciumku lagi, ia membuat suara mengerang yang dalam di dadanya, hampir seperti geraman, bercampur dengan napasnya yang hangat bibirku.

Max menelusurkan tangannya dibagian dalam kakiku, dan menyelipkan jarinya di bawah elastis celana dalamku. Kami bertatapan saat aku melengkung ketika merasakan jarinya menyentuh clitku.

"Sudah basah," katanya.

"Kau memiliki efek padaku."

Dia menciumku lagi, keras, penuh gairah, mengambil lidahku ke dalam mulutnya dan mengisap di atasnya. Jarinya tinggal tepat di clitku, melingkari dengan sempurna ditempat yang sudah licin tersebut. Lalu ia menggunakan ibu jarinya untuk menggosok clitku, dan aku merasa dia menyelipkan satu jari dalam diriku, kemudian jari yang kedua.

Dahi kami bersentuhan dan aku melihat jauh ke dalam matanya saat ia menggodaku sepenuhnya. Max menjilat bibirku, lalu berkata, "Aku akan membawamu ke titik di mana kau memohon padaku untuk bercinta."

"Aku sudah ada dititik itu," kataku, tanpa ragu-ragu.

Dia menggelengkan kepalanya sedikit. "Tidak, belum. Aku akan menjadi hakimnya."

Max kembali menciumku dan jari-jarinya terus mengeksplorasi, menemukan titik yang membuatku menggeliat. Dia tahu sudah mendapatkanku. Dia terus menggosok di sana saat aku menggeliat di bawahnya.

Persetan. Orang ini tahu bagaimana cara membuatku klimaks dengan begitu nikmatnya, begitu mudah. Seperti biasanya....

Dia berhenti dan bangkit, berlutut di sofa. Dia menarik kemejanya di atas kepalanya. Aku suka melihat otot-ototnya bergerak di bawah kulitnya.

Dia berdiri, membuka ikat pinggangnya, membuka ritsleting celananya, dan segera berdiri di sana benar-benar telanjang. Setiap kali aku melihatnya aku semakin kagum dengan tubuhnya yang indah. Dan tampaknya dia menikmati caraku menatapnya, karena ia hanya berdiri di sana-benar-benar terlihat olehku, dan kejantanannya mengeras dengan penuh nafsu.

"Duduk," katanya.

Nada memerintah dalam suaranya menggelitik tubuhku. Sebelumnya belum pernah ada seorang pria yang bisa bicara padaku seperti itu tanpa memicu hal sepele dalam diriku, atau bahkan menyebabkan sedikit tawa. Tapi dengan Max...ia sangat jauh berbeda.

Dia melangkah ke arahku dan, tanpa kata, mengarahkan kejantanannya ke mulutku. Aku membuka mulutku dan merasakan kepala kejantanannya melewati bibirku.

"Hisap aku disitu."

Sekali lagi, sifat memerintahnya yang blak-blakan mendesakku untuk menyenangkannya.

Kepala kejantanannya terletak diantara bibirku yang mengerucut. Aku mengisap lembut, kemudian menggerakkan lidahku dalam gerakan melingkar di sekitarnya. Sebuah tetesan precum menjadi hadiah untukku.

"Kau tampak begitu cantik ketika melakukan itu. Ambil semuanya sekarang."

Max meletakkan tangannya di sisi kepalaku, telapak tangannya di pipiku, jari-jarinya menunjuk ke bawah dan melengkung di bawah daguku. Dia memegang kepalaku saat kepalaku bergerak maju mundur, perlahan-lahan, dia bercinta dengan mulutku.

Aku merasa kejantanannya menjadi lebih keras dan lebih besar saat meluncur masuk dan keluar dalam mulutku.

Max menariknya keluar setelah satu menit atau lebih. "Lihat apa yang kau lakukan untukku, Olivia."

Ereksinya besar, penuh, tampak seperti ada di ambang batas siap meledak tepat di depan wajahku. Licin dan berkilau karena hisapanku. Mengarah lurus dan sedikit keatas. Berhasrat. Siap.

Max bergerak ke arahku, membungkuk, dan menciumku dengan penuh semangat. "Berbaringlah."

Aku memposisikan diri seperti apa yang diinginkannya.

Dia berlutut di depanku, dan dalam waktu kurang dari dua detik mulutnya sudah berada di diriku. Lidahnya membukaku dan menyelinap ke dalam lubang basahku. Sialan, aku bisa orgasme hanya dari permainan lidah Max. Tapi aku belum menginginkannya. Aku ingin terbangun perlahan-lahan sebelum melepaskannya.

"Jangan klimaks dulu," katanya, seolah-olah ia bisa membaca pikiranku. Dan sialan, dilihat dari segala hal yang mampu ia lakukan saat bersamaku, mungkin dia bisa membacanya.

Bibir Max mengepung clitku. Menyedot masuk kedalam mulutnya dan aku mendorong pinggulku ke atas untuk mendekatkan ke wajahnya.

Aku memandang ke arahnya. Matanya terbuka lebar, melihat tepat kembali ke arahku. Dia sudah menyaksikan reaksiku. Saat itu, ia menyelipkan jari kedalam diriku lagi,menekuknya hingga mengena ditempat yang telah ia temukan sebelumnya. Aku mencengkeram jarinya bersamaan ketika dia menggosokku.

Dia menarik wajahnya, namun terus menyetubuhiku dengan jarinya. Hanya satu pada awalnya, tapi kemudian yang lain ikut bergabung. Pandanganku akan berkabut karena kenikmatan, tapi aku bisa melihat ke bawah tubuhku dan melihat dia masih menatapku. Menonton saat aku menggeliat di sofa dan meraih salah satu bantal begitu erat, aku mungkin bisa merobeknya sampai terbuka.

Kurasa aku hampir kehilangan suaraku, tetapi aku sadar itu salah ketika tanpa sadar aku berkata, hampir berteriak, "Bercintalah denganku, Max. Bercintalah denganku!"

Seperti yang ia katakan, Max akan membawaku sampai ke suatu titik dimana aku memohon padanya agar bercinta denganku.

Dan akhirnya, untungnya, itulah yang dia lakukan...

Dengan kondom yang terpasang, ia mendorong ke dalam diriku perlahan-lahan. Dalam. Kemudian keras, dari pangkalnya. Ada sedikit rasa sakit menusuk saat ia meregangkanku, tapi dengan cepat berubah menjadi kenikmatan.

Sama seperti terakhir kali saat kita bercinta, Max memegang lagi kedua pergelangan tanganku di tangannya yang kuat dan lenganku disematkan di atas kepalaku di belakang sofa. Aku bergoyang-goyang saat ia menyodokku, yang menambah kecepatan dan intensitas. Aku bisa melihat di wajahnya betapa ia menginginkanku, membutuhkanku, membaringkanku disofa dengan kakiku yang terbuka lebar untuknya dengan cara apapun yang ia mau...dan itu adalah wajah terseksi yang pernah kulihat di wajah seorang pria.

"Katakan padaku bagaimana rasanya."

Aku hampir kehabisan napas tapi aku berhasil: "Sempurna"

Dia menyodokku lebih keras, kemudian berhenti, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. "Kau yang sempurna." Max menjatuhkan kepalanya dan mengambil putingku ke dalam mulutnya, mengisap dalam lahap, kemudian menjalankan lidahnya di sekitar tepi putingku, menjentikkan lidahnya di atasnya, membuatnya jadi keras penuh. Lalu ia menutup bibirnya sekitar putingku yang lain, dan menekannya diantara lidah dan gigi atasnya, lembut di satu sisi, kasar disisi yang lain, nikmat dan ada sedikit rasa sakit.

Aku menahan napas dan akhirnya harus membiarkannya terbuang dan mengambil napas lagi . Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku sudah melakukannya. Sialan, seberapa jauh aku membiarkan diriku terhanyut hingga aku lupa untuk bernapas ketika ia melakukan hal itu padaku?

Dia melepaskan pegangan di pergelangan tanganku, kemudian membungkus tangannya di sekitar pergelangan kakiku dan mengangkatnya di depannya, jadi sekarang aku berbaring miring.

Dia masih terkubur jauh di dalam diriku.

"Sebutlah namaku."

Aku tidak memiliki kekuatan bernapas untuk mengatakan apapun, paru-paruku bekerja keras, nyaris terengah-engah.

"Sebutlah namaku, Olivia."

"Ma-Max..."

"Olivia."

"Max."

Dorongannya meningkat, lebih keras dan lebih dalam. "Olivia."

Dalam situasi yang lain, mengulangi menyebut nama masing-masing bolak-balik akan menjadi konyol. Hanya permainan anak-anak. Tapi ini jauh lebih baik dari cuma sekedar permainan anak-anak. Itu koneksi verbal. Hanya kami berdua, sendiri, bercinta, memanggil nama satu sama lain.

Max sedang berlutut di lantai dan aku berbaring miring disofa, sudutnya sangat sempurna. Satu tangannya dipahaku, satu di pantatku, saat ia mendorong kedalam diriku.

Aku mencengkeram bantal dan menariknya ke atas wajahku. Aku ingin berteriak karena sensasi tidak nyata ini dan aku ingin suaraku teredam. Tapi Max mengulurkan tangan dan menarik bantalnya.

"Aku ingin mendengarmu."

Saat aku mengerang dan bernapas berat, Max membungkuk di atasku. Dia membalik tubuhku menjadi tengkurap dan menurunkan lututku di lantai, lenganku masih di sofa.

Dari belakang, ia meluncur lebih dalam ditubuhku ketika pinggulnya bertemu pantatku.

"Lepaskan suaramu, Olivia."

Aku menjerit dan "Oh!" Dan kemudian "Ya!" Dan kemudian namanya.

"Ya begitu."

Max menyibak rambutku ke satu sisi, mengekspos leherku. Aku merasakan bibirnya di leherku, mengisap pada kulitku, lalu sisi keras dari giginya menyerempet dikulitku.

Persetan. Rasanya seperti ia mencoba untuk memakanku, mengkonsumsi semuanya dari diriku...

Mulutnya masih di leherku, dia meraih pinggulku. Aku masih bisa merasakan salah satu jarinya tepat di clitku, dan dia mulai membuat lingkaran di sekitarnya. Aku menjatuhkan kepalaku ke sofa dan melepaskan semuanya—kuserahkan kontrol sepenuhnya pada Max.

"Ogasme lah untukku," bisiknya. "Sekarang."

Aku tidak bisa menahan. Dalam sekejap, orgasme yang melanda sekujur tubuhku, dan seksku mengejang melingkupi kejantanannya.

Dia memperlambat dorongannya, menikmati orgasmeku perlahan-lahan. Dan kemudian aku merasakan kejantanannya berkedut dan berdenyut. Kemudian menghembuskan napas makin keras di atas leherku, panas dan beruap.

"Persetan..." dia mengerang saat dia mulai klimaks.

***


Penerjemah: Miss Voldermort
Edit: +Portalnovel

Poskan Komentar

14 comments

Ga pake basa basi, bab 1 langsung bikin ngos-ngosan..Fiuuuuhhh #lapkeringet+paketabungoksigen

Ga pake basa basi, bab 1 langsung bikin ngos-ngosan..Fiuuuuhhh #lapkeringet+paketabungoksigen

panass....
thank you mimin n miss voldemort *wink*

"Aku tidak peduli jika orang lain
menginginkanmu. Mereka tak akan
mengambilmu dariku." those guys out there should take it as their quota !! Di jamin klu ga dpt tamparan , sdh pasti sang wanita klepek2

º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mamas n miss
Puanass ya

Astagaaaaa hoott
*kipas2*
Makasih miss voldemort, mas mimin :D

Untungnya... Hawanya dingin So menghangatkan suasana hihihiihii
Thank you
Thank you
Thank you

Hhuuffhh,,,
Gerah euy,,,,
Danke mas Yudi,,
Danke Miss Kau-Tahu-Siapa,,,

Cerita Πγª bsa mengubah suasana dingin2 jdi panas... ☺•.•ŤћªªŇќķ•.•ўººU•.•☺ Miss Voldermort dn mas Yudi.

uhuk br baca..
ampunnnn s max ini.
maksh mas mimin n mis voldemort

wow o.O
makasii mas yudi n miss voldemort :* :* :*

ditunggu next bab nya xD
Semangka! :D

Bab pertama,,sungguh _$unggh PaNaS membahana
°°°~~°°:)A:)~~}°°k :)~~§}~~°°€:) mi§ Vold€ mort
Juga mas mi2n *****~~~~^^

yaampun... Ckckckc..i can't nothing to say heee..
Thankz miss voldermort n mz yudi..luv u all :)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top