4

Penulis: Bernike Ferianti

Chistmas Tears and Smile
depressed

Akankah aku bisa melupakan semua yang terjadi padaku...


25 Desember 2008

Hari ini seharusnya adalah hari dimana aku merayakan kemenangan atas kelahiran sang juru selamat dunia Tuhan Yesus Kristus. Tetapi hari ini berubah tiga ratus enam puluh derajat dalam hidupku. Hari ini akan kukenang sepanjang hidupku, tak akan pernah aku lupakan, setiap sel dalam hidupku tak akan lupa pada tanggal ini setiap tahunnya. Septyardi Gunawan Hadisasongko lahir 17 September 1986, wafat 25 Desember 2008. Tulisan di batu nisan itu sangat menampar wajahku, membuat tubuhku terkulai, tak mampu berdiri dengan kedua kakiku. Tak pernah aku bayangkan Mas Ardi kini harus tidur diam didalam peti mati. Peti kayu bercat warna putih yang setiap sudutnya dipoles dengan warna emas, dengan penutupnya yang berhiaskan gambar kayu salib dan malaikat kecil itu sungguh membuatku sakit. Aku hanya bisa terisak menatap peti itu dimasukkan kedalam liang lahat. Ketika satu tanah dilempar pertanda tanah lain akan menguburnya aku hanya bisa menjerit dan semua menjadi gelap.

25 Desember 2007

Hari ini aku bersiap-siap untuk berangkat kegereja, papa, mama, Mas Yules, adik laki-laki ku Yulian dan adik perempuanku Yulia sudah menungguku di mobil. Aku selalu membutuhkan waktu paling lama untuk berhias ketika akan pergi.

Ketika aku datang dengan berlari dan menenteng hihghells ku dan tas kecil ketika memasuki mobil dan duduk di bagian tengah bergabung dengan kakakku. Aku hendak mencium pipi kanan kakakku dan melirik ke samping tempat duduk kakakku dan ada seorang pria aku undurkan niatku, dan bertanya, "Siapa?"

"Sebelum nyium pipi orang sembarangan, aku kenalkan sama adik kelasku di universitas plus teman sekamar dikost, Ardi, selanjutnya nanti kalian bisa mengobrol sendiri," jawab kakakku.

Pipi menginjak rem mobil, dengan segera aku memakai sepatu highells ku yang kutenteng sejak tadi kemudian membuka pintu dan berjalan menuju pintu masuk gereja. Aku duduk satu deret dengan saudari sepupuku Christin, disusul Mas Yules dan temannya siapa tadi namanya, Ardi atau Adi? Entah aku lupa namanya. Yang aku bayangkan saat ini adalah Christin duduk berdampingan dengan Andre. Andai saja Cipto beragama sama denganku, pasti kita bisa merayakan hari kemenangan bersama berdua. Sudah tiga tahun ini aku natalan sendiri dan hanya bersama keluarga.

Kebaktian natal dimulai dengan menyanyikan lagu pembuka Kumasuk Ruang Maha Kudus dilanjutkan dengan doa pembuka kebaktian. Dilanjutkan dengan lagu pujian kidung natal seperti dari pulau dan benua, jinggle bel, sorak haleluya, dan saatnya acara persembahan dari para jemaat untuk menunjukkan pelayanan kepadaNya. Tiba saatnya si kembar bernyanyi, mereka berdua tergabung dalam group vokal digereja. Kakakku pandai bermain musik, dan aku pandai bermain piano dan menyanyi, tapi tak pernah kutunjukkan untuk melayaniNya. Mimi sering marah ketika aku hanya bernyanyi untuk diriku sendiri dan bermain piano dirumah. Dan kini tiba saatnya ke puncak acara yaitu menyalakan lilin, diiringi lagu malam Kudus para penari yang memakai baju putih mengedarkan api dari lilin mereka kepada para jemaat.

Tiga jam acara berlangsung dan kini kita sudah selesai dan dalam perjalanan pulang. Cipto sudah menunggu didepan teras rumah. Dan aku menyambutnya dengan senyum dibibirku dan dia mengecup keningku.

"Selamat  malam pak, ibu, dan Mas Yules kapan pulang?" Cipto menyapa kedua orang tuaku dan juga Mas Yules karena ya, mereka berteman baik karena sama-sama menggeluti hobi yang sama yaitu basket dan pernah membela tim yang sama yaitu tim SMA Negeri 1 Pati.

"Hentikan basa-basimu, Mas Yules pulang baru tadi sore, ayo masuk," dengan menggeret lengan kekar Cipto aku mencoba memasuki pintu rumahku.

Mimi sibuk menyiapkan makan malam yaitu nasi goreng dan es sirup, dan setelah ini kita akan bertukar kado. Acara makan malam berjalan lancar dan pipi tak hentinya menanyakan asal-usul laki-laki yang dibawa kakakku entah dari negeri mana dia berasal aku tak memperhatikan dan asyik mengobrol dengan Cipto.

Makan malam usai dan kita pindah ke ruang santai sambil menonton televisi, pipi duduk di sofa sendirian di ujung meja dan mimi duduk di sofa bersama sikembar yang mengapitnya. Aku mencari hadiahku di bawah pohon natal tapi nihil.

"Selalu tidak sabar menunggu hadiah, tapi ternyata tak ada yang memberikannya," seloroh pipi sambil tersenyum geli.

"Harus sabar nona cantik, kau selalu begitu semangat dalam hal apapun," kata Mas Yules menimpali.

"Oh, ya Riyan mana Ke, dia belum terlihat sampai makan malam selesai, dia tidak sakit kan Ke?" Mimiku selalu mengkhawatirkan Riyan saat dia tidak muncul dirumah ini.

Yah, Riyan sudah seperti anak sendiri dikeluargaku, dia kehilangan ibunya saat dia masih kecil dan ayahnya bekerja diluar kota jadi Mimi yang selalu memperhatikan Riyan sejak saat itu. Bukannya Riyan ekonominya kurang, lebih malah, melebihi keluargaku juga.

"Riyan ada acara Mi, dia akan datang nanti," jawabku enggan karena sama sekali tidak mengkhawatirkan Riyan, dia sudah besar.

Pipi beranjak dari duduknya dan menuju kekamarnya, dia keluar membawa empat bungkus kado. Pipi membagi kado itu untukku, Mas Yules, Yulian, dan Yulia. Aku membuka kado yang isinya ternyata buku diary. Pipi tahu aku suka menulis, dan kejutannya lagi buku itu special karena baik sampul dan kertasnya berwarna ungu. Aku memeluk tubuh pipi dan membisikkan, "Aku sayang Pipi dan Mimi selamanya". Cipto juga memberiku hadiah yang tak kalah spesial, yaitu kalung mas Putih dengan bandul S penuh permata. Aku ragu apa arti hadiah ini, tapi dia meyakinkan bahwa itu hanya hadiah tidak lebih, aku belum siap dengan komitmen.

Empat bulan berlalu dan kini masuk di bulan april. Aku putus dengan Cipto tepat dihari ulang tahun Riyan 14 April karena aku melihat Cipto dan perempuan lain dikamarnya dirumahnya.

Aku mendengarkan lagu curhat dari Numatta dan memainkannya dengan pianoku. Lagu Curhat itulah yang selalu aku mainkan ketika aku patah hati. Seluruh keluargaku berada dirumah Riyan dan tinggal aku sendirian di sini. Setelah selesai memainkannya dengan penuh tangis air mata aku kembali ke kamarku. Aku meringkuk didalam tempat tidur hanya bisa menangis menyesali mengapa selalu seperti ini, mengapa selalu terkhianati. Aku merasakan ada tangan yang mengelus pundakku, dan aku menengok dan melihat siapa orangnya. Ternyata Riyan, aku langsung menangis dipelukannya dan terisak tanpa bisa berkata-kata. Riyan mengelus punggung dan rambutku menenangkan.

"Mengapa kamu bersedih dihari bahagiaku?"tanyanya dengan suara serak.

"Cipto, aku melihat dia..." aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.

"Kenapa, ada apa dengan dia, dia menyakitimu lagi, dia berselingkuh, atau mencium gadis lain, atau memeluk gadis lain, atau dia meninggalkanmu demi gadis lain?"

Aku hanya bisa mengangguk ketika Riyan mengatakan semua dugaannya, karena memang semua dugaan itu benar dan melebihi dari kebenarannya. Cipto bercinta dengan gadis dirumahnya. Riyan hanya bisa memelukku dan menenangkan aku lagi sambil mengumpat tak jelas. Kemudian dia berdiri dan mendudukkan aku diranjangku lagi.

"Aku akan buat perhitungan dengan dia, aku tak tahan Ke, berapa kali dia seperti ini?"

"Sudahlah Yan, biarkan saja, kau kembali saja ke pestamu."

***

Satu bulan yang penuh siksaan aku lalui sendiri, sebenarnya ada Riyan tapi aku selalu ingin sendiri saja. Aku menangis, tak tahu harus berbuat apa, makan terasa tak enak, pergi jalan-jalan juga malas, apalagi berkumpul dengan teman. Aku hanya ingin sendiri dengan duniaku sendiri. Hingga akhirnya Mas Ardi datang dalam hidupku. Malam-malam dia menelfonku. Basa-basi menanyakan aku sedang apa, sudah makan atau belum, dan lain sebagainya untuk menunjukkan perhatiannya. Awalnya aku jengkel, tapi karena dia tak menyerah, aku luluh dan jatuh dalam pelukannya. Hanya dalam waktu satu bulan.

Mas Ardi dengan kesabaran dan ketulusannya mencoba berlabuh dihatiku. Andai aku bunga maka aku adalah mawar merah. Aku berduri tapi Mas Ardi tak takut tersakiti, dia memotong semua duri di tangkaiku agar dia bisa memegangku. Aku layu tapi Mas Ardi perhatian dan menyiramiku setiap hari, hingga bisa merona kembali. Aku luluh dengan pesonanya, perhatiannya, ketulusannya, dan kesabarannya. Hingga kenyataan bahwa Mas Ardi mempunyai sakit gagal ginjal kronis tapi aku menerimanya, aku bertekad untuk mendampinginya saat dia membutuhkanku.

Dua bulan setelah kita bersama aku berkomitmen dengannya dengan ikatan pertunangan, cincin melingkar di jari manis tangan kiriku dan dirinya ada inisial SB, inisial nama kita. Septyardi Bernike. Awalnya Mimi tak setuju tapi karena aku bersikeras, mau apa lagi yang menjalani aku, bukan orang tuaku. Menjalani hari-hari indah bersama, walau hanya dengan handphone karena Mas Ardi kuliah di Semarang tepatnya di jurusan Ilmu Kedokteran Universitas Diponegoro semester 6. Tapi aku bahagia bersamanya, dia berjanji padaku natal tahun ini aku tak akan sendirian. Dan aku menanti janji itu, selalu.

Hingga akhirnya tanggal 6 Desember dia berada dirumahku untuk menginap. Saat tengah malam dia berada dirumahku dia berkata dan bercerita masa lalunya. Aku tahu sekarang, Mas Ardi jarang berkumpul dengan keluarganya maka dia sering kemari karena dia merasa keluargaku penuh dengan kehangatan sebagai sebuah keluarga.

"Andai aku mempunyai kesempatan membina keluarga bersamamu kelak, aku tak akan pernah mengabaikan anak dan istriku. Aku akan menyayangi kalian, bekerja keras untuk kalian, dan selalu pulang untuk berkumpul bersama kalian," mimpinya dia utarakan.

Mas Ardi mencium jari manis tangan kiriku yang ada cincin pertunangan kita. Mencium keningku, serta mengecup lembut bibirku. Aku terkejut dengan ciuman ini, karena baru pertama kali kurasakan. Aku memeluk dirinya, dan dia membalas memelukku erat.

Pagi harinya Mas Ardi berpamitan pulang, dan mengecup keningku. Serta mengucapkan sebuah pernyataan yang aku tak pernah tahu apa maksudnya, "Jika aku pergi dan tak kembali, harus selalu kamu ingat masih ada masa depanmu yang panjang, dan aku akan selalu menyayangimu, selalu."

Kata-kata itu akhirnya mulai terjawab ketika tanggal 18 Desember aku mendapat kabar tak terduga dari Mas Danan. Kabar itu awalnya hanya kata berseloroh, tapi aku mencari tahu kebenarannya dari kakakku. Mas Ardi masuk rumah sakit dan koma sudah 4 hari, dan aku tak tahu. Dan kakak kandungmu serta keluargamu membohongimu. Ingin aku berteriak kepada Tuhan, aku tak kuat melihat Mas Ardi tidur didepanku dan tak tahu apakah akan membuka mata atau tidak. Tak ada kepastian membuatku takut, melihatnya seperti itu membuat hatiku sakit, aku terluka, aku menderita merasakan diamnya.

Tanggal 24 Desember malam, aku berkaca pada kaca toilet rumah sakit. Kaca itu memantulkan gambar seorang gadis, terlalu banyak kesedihan yang ditanggungnya. Terlihat lingkaran hitam dimatanya, matanya cekung, dan wajahnya pucat, badannya kecil, agak kurus terlihat tulang pipinya agak menonjol. Malam ini aku menagih janjinya, janji untuk menemaniku saat malam natal, agar aku tak sendirian.

"Mas, mana janjimu padaku tak akan membiarkanku sendirian saat natal tiba, ayo buka matamu, temani aku, menghias pohon natal, membuka kado natal, kebaktian natal berdua digereja. Mas Ardi bangun, aku butuh kamu."

Tubuh itu bergolak, frekuensi pernafasannya bertambah, dan detak jantungnya meningkat. Perawat dan dokter termasuk ibu kandungnya dan juga dokter ikut masuk memeriksa keadaannya. Lama sekali menit berlalu, aku hanya bisa menangis  khawatir, dan berdoa yang terbaik untuk Mas Ardi. Lima belas menit kemudian aku melihat Ibu Mas Ardi keluar dari ruangan itu dengan tertunduk. Aku menghampirinya, dan dia mengabarkan sesuatu yang tak pernah ingin aku dengar, seumur hidupku.

"Ardi sudah pergi ketempat yang lebih nyaman, kita hanya bisa mengikhlaskannya sayang," kata Ibu.

Berita itu bagai petir berkekuatan 10000 volt menghantamku, membuat sarafku lemah, tak mampu berdiri, dan hanya mampu menangis. Kakakku memeluk tubuhku. Mencoba menenangkan, memberi sebanyak mungkin pengertian. Tapi akal sehatku berhenti saat ini, aku tak bisa mendengar apapun yang orang lain katakan, aku hanya bisa merasakan sakit yang amat sangat. Kehilangan. Kehilangan sosok yang aku siap untuk menyerahkan jiwa ragaku, sosok yang menenangkanku, menjagaku, menyayangiku, mencintaiku, sosok yang menghapus tangisku mengganti dengan senyum bahagia.

Mimi memutuskan membuang semua barang yang berhubungan dengan Mas Ardi. Tapi tak bisa dengan cincin pertunangan yang masih dijariku dan memori tentangnya. Aku tak mau makan, hanya bisa menangis, dan menangis. Menyesali mengapa dia datang padaku jika hanya singgah dan memberi senyum untuk sebentar saja. Tak ada natal indah, yang ada hanya natal penuh tangis yang tak akan kulupa setiap tahunnya. Aku menjadi takut pada tanggal 25 Desember setiap tahunnya karena kehilangannya. Aku seperti trauma, aku takut, aku depresi, bahkan paranoid terhadap cinta.

Kehilangannya membuatku sakit, sangat sakit, sampai hancur berkeping-keping. Kini mawar merah itu layu, dan tumbuh banyak duri. Daunnya hampir mengering. Dan akarnya sudah rapuh untuk menyangganya berdiri. Hampir saja aku menyerah dalam tidur.

Empat tahun sudah aku mengisolasi diriku. Banyak yang mencoba mendekati tapi hanya bisa memandangku saja, karena tak ada yang bisa menyakinkanku. Aku masih merasakan sakit kehilangan dan terkhianati. Aku belum siap untuk membuka hati. Hingga teman kecilku mencoba datang meyakinkan.

Riyan entah mengapa dia datang padaku dan menyakinkan hatiku bahwa dia tak akan menyakitiku dan meninggalkanku. Riyan mencoba masuk dan menjinakkan hatiku, mencoba melunakkan. Setiap hari dia ada untukku, selalu siap 24 jam saat kubutuhkan. Dia tak pernah mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya, hanya membuktikan perasaannya melalui perbuatan nyata dihidupku. Natal ditahun selanjutnya aku benar tak akan sendirian.

Kini aku sadar bahwa akan ada pelangi sehabis hujan, dan laut yang tenang setelah badai. Tak ada gunanya memegang apel kayu dalam genggaman yang akan membuatmu lapar. Lihatlah disekelilingmu ada apel yang lebih manis yang bisa kau genggam, mengapa kamu menyia-nyiakannya dan tak melihatnya. Sekarang aku yakin dan mantap untuk mengenggam apel manis itu. Dan tak akan melepaskannya, seumur hidupku. Sama seperti aku menyimpan kenangan tentang Mas Ardi yang tak akan hilang dalam hidupku, dia mengajarkanku keikhlasan untuk kehilangan. Dan Cipto mengajarkanku untuk bersabar menghadapi pengkhianatan dan belajar untuk memaafkan. Riyan menyadarkanku bahwa ada sesuatu yang lebih baik saat kita dihadapkan dalam kondisi yang buruk. Selalu ada senyuman dibalik tangisan, dan selalu ada harapan dibalik kesengsaraan.

***

Pesan: Tuhan memberikan jalan cerita hidup kepada  manusia berbeda-beda dan unik. Dan cinta juga begitu unik dan tak terduga. Cinta berbagai rasa dan gairah. Cinta butuh pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, kesetiaan, kepercayaan, memaafkan, dan penantian.

Poskan Komentar

4 comments

hadeh tragic.com good job babe

Nice message. Thanks

bagus critany,,,
P.S : apakah ini kisah pribadi??

Sepertinya kisa pribadi :)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top