29

Penulis: +Siti Yuyun


bima-thumb
SMA Budaya Bakti, Lapangan Basket Indoor.

“BIMA! BIMA! BIMAAAA!” Teriak cewek-cewek berseragam putih abu-abu yang berdiri berjajar di tribun lapangan.

Meski berbeda rupa dan badge, hanya satu orang yang membuat mereka histeris. Orang itu, lebih tepatnya cowok itu, melempar senyum miring sesaat setelah mengantar langsung bola berwarna orange ke ring yang ada 3 meter dari atas tanah. Begitu bola masuk melewati ring, volume teriakan semakin meningkat hingga tidak ada yang mendengar peluit dari wasit. Wasit yang merupakan guru olah raga SMA Budaya Bakti turun ke lapangan, meniup-niup peluitnya beberapa kali sambil melambai-lambaikan tangan saat pemain dari SMA Budaya Sakti masih mendribel bola.

“SELESAI! TIME OUUUUTTTTTT!!!” teriak wasit sekuat nafasnya.

Teriakan histeris kembali terdengar. Wasit menutup mulutnya dengan kesal, tidak mungkin dia bisa mengalahkan suara lebih dari seratus perempuan histeris dalam ruangan tertutup. Wasit berjalan ke luar lapangan, dia berbicara pada pelatih dari masing-masing SMA. Di saat itu, para pemain sedang berjabat tangan, menunjukkan rasa sportifitas dan persaudaraan. Selain itu, SMA mereka memang seperti saudara karena di naungi oleh satu yayasan yang sama.

Pertandingan persahabatan itu berakhir dengan damai, jika teriakan histeris para siswi dikecualikan, SMA Budaya Bakti menang 67-45 melawan SMA Budaya Sakti. Sekali lagi, SMA Budaya Bakti membawa pulang piala bergilir.

“Ya tuhan, rasanya telingaku masih bergema” kata Andre yang mengusap telinganya.

Tawa khas lelaki terdengar di ruang ganti ekstrakulikuler Basket SMA Budaya Bakti.

“Itu karena di luar memang masih ada cewek-cewek histeris penggemarnya Bima.” terang Irfan sambil menunjuk punggung lebar dan berotot di pojok ruangan dengan jari telunjuknya.

Otot-otot kuat di kulit mulus berwarna coklat yang selalu membuat semua cowok di ruangan itu cemburu bergerak dengan mengagumkan saat Bima memakai seragam putihnya. Kain itu bukannya membuat pesona otot-otot itu tertutup, tapi malah membuatnya semakin menarik. Membuat setiap cewek yang melihatnya ingin merobek kain itu.

“Nah, aku pergi dulu. Banyak yang harus kulakukan.” kata Bima sambil berbalik dengan tas olahraga di tangan kirinya.

Semua cowok di ruangan itu tahu dengan jelas apa yang akan dilakukan Bima. Menerima siapapun cewek yang melemparkan diri padanya. Dia playboy kelas ikan hiu. Entah sudah berapa ratus cewek, ratusan di sini benar-benar ratusan cewek secara harfiah, yang telah terjamah oleh Bima. Tidak peduli dari tingkatan apa cewek itu, bahkan guru PPL yang praktek di sekolah mereka juga pernah masuk daftar cewek Bima. Mereka ke-Gep oleh guru agama Islam di ruang praktek kimia dengan guru PPL duduk di pangkuan Bima tanpa menggunakan baju.

Sekolah tidak mungkin mengeluarkan Bima karena cowok itu adalah anak dari pemilik yayasan. Setelah rapat tertutup, kepala sekolah membuat peraturan khusus.Sekolah mereka tidak akan lagi menerima guru PPL perempuan. Meski mereka bisa mencegah korban perempuan dari luar sekolah, sekolah tidak bisa mencegah korban Bima dari lingkungan sekolah. Semua cewek itu ‘melemparkan’ diri dengan senang hati pada Bima dan itu sulit untuk di cegah.

Selain Bima, masih ada empat lelaki yang membuat cewek-cewek melemparkan diri mereka. Keempat-empatnya adalah sepupu Bima. Sepupu pertama bernama Juna, blesteran Korea-Indonesia yang membuat bukan hanya cewek tapi juga cowok terbengong-bengong melihat wajah tampan namun cantik miliknya. Dia punya 7 pacar dalam satu minggu dan berregenerasi dengan konstan. Sepupu kedua dan ketiga, Dewa dan Nico, mereka dengan bangga mengatakan sudah tidak perjaka di umur 14 tahun. Mereka seperti saudara kembar karena ayah mereka kakak beradik dengan ibu yang kakak beradik juga. Sepupu keempat adalah sepupu ternormal dari yang lain. Namanya Reza, dia hanya seorang cowok yang gampang bosan dan mengganti pacar setiap seminggu sekali.

Mereka berlima mendapatkan julukan Pandawa Lima. Melihat dari jumlah mereka, hubungan keluarga dan ketampanan mereka, mereka cocok sekali dengan nama itu. Meski jika di lihat dari kelakuan mereka kepada perempuan, mereka lebih cocok jadi Lima Kurawa. Kehadiran mereka membuat reaksi berbeda. Para Perempuan mengagumi mereka, namun juga merasa sakit hati karena tidak di anggap serius. Bagi para lelaki, mereka tidak suka dengan kehadiran Pandawa Lima karena membuat mereka kehilangan perhatian dari para perempuan tapi mereka juga selalu berkhayal menjadi salah satu dari mereka.

***

“Bima!”

Langkah Bima terhenti dan badan tingginya langsung kaku meski dari luar dia tidak terlihat berbeda. Bima merasa jantungnya melonjak-lonjak dan perutnya sakit. Dia tidak pernah suka dengan reaksi itu tapi dia tidak pernah bisa mengontrolnya. Reaksi itu semakin parah saat sosok kecil berkulit putih karamel dengan rambut hitam legam yang di kuncir dua berhenti di depan Bima.

“Hai...Din...” sapa Bima dengan suara malas.

Dini menekan bibirnya rapat-rapat, merasa tersinggung. Dia melihat cewek tinggi langsing yang sedang bergelayut di lengan kanan Bima. Cewek itu menatap Dini acuh. Dini menggerutu dalam hati, cowok sama ceweknya sama aja. Nyebelin.

Dini mengalihkan pandangannya dari cewek baru Bima dan mendongak menatap Bima yang 42 cm lebih tinggi darinya.

“Aku Cuma mau mengingatkanmu soal wawancara setengah jam lagi. Oh iya, tadi kamu dicariin pacar cewek di sebelahmu. Itu aja, Bye.”

Dini berbalik dan berjalan meninggalkan Bima dan cewek cheersleader yang juga pacar salah satu pemain SMA Budaya Sakti. Bima tidak kaget kalau pacar cewek itu akan datang mencarinya tapi dia juga tidak takut. Dia tidak salah, cewek itu datang padanya tanpa di paksa.

Bima melepaskan belitan tangan cewek yang entah namanya siapa dia lupa dan memberikan sentuhan lembut di pipi mulusnya yang tirus.

“Nanti, Babe."

Bima pergi mengejar Dini dengan beberapa langkah panjangnya. Kaki Dini terlalu pendek dan Bima selalu dengan mudah mensejajarinya. Dini menoleh saat melihat Bima di ujung matanya.

“Cebol, kamu lupa ngasih tahu di mana wawancaranya.”

Bima tersenyum dalam hati saat melihat mulut manyun dan kerutan di kening Dini.

“Di sekretariat kalian!” teriak Dini kesal.

Bima tersenyum lebar saat Dini berjalan cepat meninggalkannya. Bima memang tidak suka perasaan campur aduk di perutnya tapi Bima selalu menikmati membuat Dini menjadi uring-uringan. Dadanya terasa ringan dan pinggiran bibirnya selalu terangkat tanpa usaha. Untunglah Dini gampang di pancing. Cewek itu selalu sensitif kalau disinggung soal tinggi badannya.

Bima mengejar Dini lagi, siap untuk membuat cewek pendek itu memperhatikannya. Dini selalu bisa membuatnya lebih baik saat sedang lelah dan untunglah mata Bima selalu bisa melihat Dini dimanapun cewek itu berada.

***

Poskan Komentar

29 comments

haa... ada lanjutannya kah???? keboo.. eh.. kepoo...

Weeeeew ini cerpen menarik tapi terlalu pendeeeek buangeeeet Rek :o

ada lanjutannya ga.....?

pendek bgt ceritanya...
tapi ok...:)

mb shin... i love myowndramastory...

lanjutannya manaaa????(gaya iklan rokok)

ceritanya bagus tp kurang puanjaaaang :-)

eeeeemmmm kentaaangggg deh perasaan Mba Yuyun... hehehe...
mksh Mas Yudi n Mba Yuyun

Kalo ada lanjutan ny pasti sangat lebih menarik;)

Ad lnjutanny? Pnasaran.. Psti bgus klo ad smbungannyyy..

Hah.! Apa2 ini mba yuyun
*emosi-emosi*
ƪ(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ

Lochhh ko udahan si.... Lanjotinnn donkkkk pleaseeeee.......

koq nggantung???
haisssshhh,,bikin penasaran saja,,,
lanjutanny posting dsini adjah,,,atw ada blog ga??
hadewh,,penasaran TINGKAT dewa aku,,,

Lah ni biji mane critanya begitu doang atw adA lanJutanNya °=-?..нмм..=-?° <8-| )(> _/ \_.. Hmmm... ?? .mudh2 ne bab 1 y mbak yuyun.btw semangat y mbak yuyun.

kalo lanjtin pasti bagus banget nih,aq harap ada lanjutannya nih,please di lanjutin yah

gantung banget, sumpah ini cerpen paling pendek yg pernah ku baca. Rasanya pengen teriak, mana penulisnya sih, lanjutin donk, masa cuma segini aja, bikin penasaran aarrrrrrrgh....

segitu aja?
serius?
seperti biografi cerita ini.

hmm menarik nih kalo di buatin novel nya..
pasti seru

Terimakasih komentarnya :) senang bisa bikin kalian senang. Hehehe...

Untuk cerita si-Bima masa SMA-nya udahan sampai situ dan langsung di skip ke usia dewasa karena Bima terlalu 'nggak tahu perasaan'nya dan lebih konsentrasi ke karir basket.

Sekali lagi, makasih ya udah mau baca dan ngasih komentar :D

Yuyun

Yach Mba Yuyun bkin penasaran... Kiraian ada lanjutan Πγª. Hehehe

What!?
Lagi asik baca eh ternyata udah selesai :/
Ini seperti lagi sakit perut, cari2 toilet eh begitu nemu, toiletnya rusak.
Sukses bikin penasaran

yang mau nyempetin diri baca lanjutan si-Bima dan sepupunya yang lain, mampir ke blog saya ya :D

Thank you

lah, mana gregetnya???

Mbak yuyun tintanya abis?...
Aku bliin deh setrek tapi lanjutin ya ya ya

nama blog nya apa nih?????

Yuyuuuuuuuuun kok ceritanya nanggung sich......ampe melongo yang baca

http://sitiyuyun.blogspot.com/
Bacaaa yaaahhh

kok cmn segitu sihhh....????

Yaaah naggung bangeeet (۳º̩̩́_º̩̩̀)۳ (●̮̮__●̮̮)hiks(●̮̮__●̮̮)hiks

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top