19

Kami menghabiskan dua hari dalam gubuk kecil di pedesaan beberapa mil dari kota, memakan masakan yang dibuat oleh lelaki hitam keriput dan istrinya, tidur dalam selimut yang kasar di lantai. Setelah hampir empat hari berada di dalam neraka yang terus menerus, ini adalah surga. Pada pagi di hari ketiga, Shane membangunkanku pagi-pagi, mendudukkanku di atas keledai yang diberi keranjang. Ia berjalan di sampingku dan menepuk keledainya agar bergerak. Aku memutuskan untuk mengikutinya dan tak bertanya apa-apa, kejutan akan menjadi menyenangkan. Selain itu, jika ini berarti menjauh dari saudara-saudara Shane dan memberi kami waktu sendiri, aku sangat siap untuk itu.

Kami berjalan melalui panasnya pagi, berbincang dengan malas, atau hanya berjalan dalam diam. Kami sampai di sungai hampir tengah hari dan di sinilah Shane berhenti, menggelar selimut, sekeranjang makanan yang dibuat oleh pengurus kami di desa dan sebotol anggur yang berdebu.

"Piknik?" tanyaku. "Sebuah piknik yang sebenarnya?"

Shane melihatku seperti aku menumbuhkan sayap. "Apa? Kau tak pernah piknik sebelumnya?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak. Tidak benar-benar piknik. John dan aku pernah bermain kano di Sungai Rifle. Kami berhenti di pinggir sungai dan membawa beberapa keju dan sosis, dan air panas yang menjijikkan. Hal itu benar-benar mengerikan."

Shane tertawa. "Baiklah, kalau begitu, selamat datang dalam piknik pertamamu yang sebenarnya."

Kami mendapat tempat di bawah pohon-pohon yang tergantung rendah, di mana panasnya sedikit berkurang. Makanannya sederhana, daging kari yang aku duga adalah kambing, seperti keju kambing, sayuran, dan buah lokal. Anggurnya kering dan keras. Ini adalah hal terbaik yang pernah aku rasakan.

Kami berada di antah berantah, sebuah tempat sederhana yang tak mungkin ada di Amerika. Sungainya lebar, deras, dan dalam, sangat berisik. Burung-burung beterbangan di atas dan di seberang sungai adalah hutan, seperti mencuri kehidupan. Langitnya sangat luas, biru, dan tak terbatas. Shane dan aku seperti hanya berdua di dunia ini.

Ketika kami selesai makan, Shane mengembalikan perlengkapan di dalam keranjang dan berbaring di sampingku. Matanya menatap mataku, tangannya menjalar ke perutku: ini adalah isyarat halus, tapi cukup.

Aku merasakan kebutuhanku di perutku, gairahku meningkat ketika merasakan tangan Shane menyapu kulit telanjangku.

Aku berdiri dari selimut dan melepaskan kancing bajuku, menariknya keluar melalui kepalaku dan kemudian melepaskan ikat pinggangku sehingga aku bisa mencopot celanaku. Seragam bukanlah pakaian terseksi yang pernah aku pakai, dan tak ada cara untuk melepaskannya dengan cara yang menggairahkan. Mata Shane memperlihatkan nafsunya untukku, bahkan ketika dia masih, melihatku menanggalkan pakaianku.

Selain lokasi kami yang tersembunyi, ada sesuatu yang menarik dan keberanian mengenai melepaskan pakaianku di tengah hari, di luar ruangan. Ketika aku berdiri di atas Shane dalam celana dalam dan bra sport, aku berhenti.

"Giliranmu," kataku.

Shane menggeram dan berdiri, menarik bajunya dan celananya pada saat yang bersamaan,dan kemudian kami berdua mencengkeram satu sama lain, hanya memakai dalaman di pinggir sungai. Lengannya keras dan membuatku nyaman, ereksinya membesar di antara kami. Aku mencapainya di bawah celananya dan menyentuhnya, memegang kejantanannya di tanganku dan mendesah merasakan dirinya di tanganku.

Ia menanggalkan bra-ku, mencium pundakku dan kemudian dadaku, dan kemudian kulitku yang menegang di dekat putingku yang tegak. Ia berlutut di depanku dan menarik celana dalamku turun dengan kedua jari di setiap pinggangku, menyentuhkan dirinya di antara kakiku sehingga aku berdiri lenganku terbuka lebar, tanganku berada pada pundaknya.

Ia membelai bulatan pantatku dengan tangannya, kemudian membawa jarinya di sekitar pinggangku untuk membuka pahaku lebar dan menutupi bibir bawahku yang lembab dengan mulutnya. Aku melenguh dan lututku limbung ketika ia mencelupkan lidahnya ke dalam diriku, memutarku, intiku yang sensitif kemudian menjentikkannya dengan kelincahan ujung lidahnya dengan tak henti-hentinya, menyerempet pintu masukku dan meluncur ke dalam, memutar sekitarnya untuk menyentuh dinding vaginaku, kemudian yang berikutnya.

Ia memeriksa dan menjilatiku hingga getaran di lututku meningkat dengan besar untuk dilepaskan, dan kemudian ia menangkapku dengan lengannya, membaringkanku di tanah. Aku menautkan jariku ke rambutnya ketika ia menghadapkan wajahnya padaku dan membawaku ke tepian orgasme.

Aku melenguh ketika jari-jarinya, basah dengan cairanku, meluncur keluar dari intiku dan mencari kulit yang meregang di belakangnya hingga ia menemukan pembukaanku yang lain, ketat dan keras. Ia menyapunya pertama kali, hanya sentuhan menggoda, menjilatinya dengan kelembabanku sendiri, dan kemudian ia mulai melakukan tekanan lembut, menggeliatkan jarinya hingga bagian pembukaku meregang lebih lebar, sedikit demi sedikit. Aku mengerang pada sensasi itu, merasakan orgasme membelok dan berkembang di dalamku. Aku menanamkan lututku di tanah dan mengangkat pinggulku, memberinya akses lebih baik.

"Kau menginginkanku di situ?" tanyaku, menahan nafas. "Kau ingin melakukannya pada pantatku?"

Shane melihatku, masih bekerja dengan tangannya jauh di dalam diriku, sesenti demi sesenti. "Ya, tapi belum. Tidak di tempat ini, dan tidak sekarang ini." Ia menaikkan alisnya ingin tahu. "Kau ingin aku melakukannya? Apa itu akan terasa enak?"

Aku hampir tak dapat bicara ketika tekanan meningkat di dalam tubuhku, tapi aku berusaha menjawabnya. "Aku suka…aku suka dengan apa yang kau lakukan. Tapi…aku tidak…aku tidak yakin aku bisa menerimamu. Kau begitu besar…"

Shane terkekeh ketika ia mengembalikan lagi mulutnya ke seksku dan menjilatiku lagi, sebuah gerakan ke atas perlahan. "Kau bisa menampungku. Nantinya. Aku akan lembut dan berhati-hati."

"Aku tahu kau akan begitu…"Aku mendesah.

Sesaat sebelum tekanan menggelembung di dalamku, Aku memegang wajahnya dengan tanganku dan menariknya ke atasku.

"Aku ingin kau berada di dalamku," Aku memberitahunya. "Aku ingin kau rapat denganku."

Ia merendahkan dirinya ke arahku, menyangga dirinya dengan lengannya, menciumku. Aku menemukan kejantanannya dengan jari-jariku yang mencari dan mengarahkannya masuk, menikmati kelembutannya ketika masuk dan denyutan batangnya yang meluncur ke dalam. Ia membisikkan namaku ketika ia mulai mendapat ritme, mendorong ke dalam diriku sepelan mungkin yang ia mampu. Ia bergetar dengan kebutuhan, tubuhnya terguncang di atasku ketika ia mengendalikan dorongannya hingga menjadi tekanan yang paling perlahan di dalamku, sentuhan yang sangat lembut masuk dan keluar tubuhku.

Aku menahan diriku selama yang aku mampu, melihatnya melalui mata yang berat. Tekanan di dalamku mulai terbangun lagi, menjadi meruncing ketika aku menariknya ke arahku, tapi sekarang tekanan itu membangun kembali momentumnya; Shane mendorong kearahku dengan cepat ketika nafasku datang bahkan dalam desahan yang tak teratur, dan kemudian kakiku terangkat ke atas menyesuaikan diri untuk melilit di sekitar pantatnya yang meregang dan menariknya rapat, mendorongnya untuk bergerak lebih dalam. Ia tetap tak peduli, tetap dengan caranya, menjaga dirinya tetap dangkal dan perlahan.

"Lebih cepat sekarang, Shane, please," Aku berbisik padanya, tak dapat memerintah nafasku untuk bersuara lebih keras.

"Oh Tuhan, yes," katanya, menusuk lebih dalam dengan setiap suku kata, menggambarkan erangan pertama yang disuarakan dariku.

Ia memutar, menarikku hingga berada di atasnya, memutar lengannya di sekitarku. Aku berusaha duduk dan bersandar, tapi ia memperdalam gerakannya setiap saat aku bergerak, semakin dalam dan bertambah dalam, dan aku tak bisa menahan diriku untuk bergerak ke atas. Yang bisa aku lakukan hanya menjatuhkan beratku pada dadanya dan memutar pinggulku pada kemaluannya, menghimpit inti diriku dengan miliknya.

Miliknya yang besar di bawahku, lengannya di sekitarku, suaranya di telingaku, menyuarakan namaku dengan cara seperti memujaku…Aku menemukan ketakutan yang mundur dengan keberadaannya, intinya yang keras membangun terror yang lembut.

Aku menangis karena intensitas percintaan kami sebelumnya, tapi kali ini berbeda. Klimaks yang aku dapat terbentuk perlahan, kejatuhanku dari tepian menuju kebebasan yang liar sebuah kejatuhan yang tak dapat dihindari hingga menjadi kenyamanan yang lazim. Ini seperti jatuh ke bawah kasur yang lembut, ledakan di dalam tubuhku dipupuk dan menjadi lebih jauh karena perhatian Shane yang tanpa belas kasihan, tangan dan mulutnya berada pada putingku, bibirnya pada bibirku, kasih sayangnya terlihat berada di setiap tempat pada satu waktu dan di seluruh diriku ketika aku datang bersamaan dengannya. Aku menangis kemudian, ketika aku merasa ia lepas di dalam tubuhku dan rasa terpesonaku padanya berputar naik dan turun, berkembang menjadi sesuatu yang lebih kuat dibanding orgasme belaka, sebuah pelepasan fisik dari hormon dan kontraksi otot-otot.

Hal ini baru, naiknya intensitas di dalam diriku, sebuah perasaan panik berkembang di dalamku. Ini terlalu banyak, terlalu besar. Bahkan ledakan setelah Shane menggodaku dan orgasme yang tertahan tak seperti ini. Aku tak bisa menerimanya, tak bisa menahannya. Ada sesuatu yang spiritual di dalamnya, seolah-olah jiwaku telah dicengkeram dan diperluas, dan bersinar keluar untuk mencari esensi diri Shane dan bersama-sama semuanya terjalin, kusut, dan membelit menjadi sesuatu yang lainnya.

Aku merasa Shane gemetar di bawahku, merasakan setiap ototnya mengejang dan nafasnya terengah-engah, merasakan jantungnya berdegup kencang di dadanya. Aku merasakan sesuatu yang lain dari dirinya, sebuah pengetahuan yang tak dapat dinyatakan secara jelas bahwa ia merasakan sama seperti yang aku rasakan. Ia bergetar seperti halnya diriku.

Aku lemas di atasnya, lengannya melintang di punggungku.

"Shane? Apa kau juga merasakannya?"

Ia menganggukkan dagunya ke kepalaku. "Aku tak tahu apa yang terjadi tadi…."

Perasaan panik yang membesar atas apa yang kurasakan masih mengalir melaluiku. Aku memeluk Shane erat dan bernafas melaluinya, tapi hal itu tak menghilang. Keberadaannya, kekuatannya terlihat membesar, menumbuhkannya, bahkan ketika ia hanya berbaring saja denganku dan memperbaiki nafasnya.

Aku berguling darinya dan menuju lengannya, mengalungkan lenganku untuk melihat wajahnya. Wajahnya berkerut dalam usahanya untuk menyembunyikan emosi yang kuat.

"Ada apa?" tanyaku. "Apa ada yang salah?"

"Ini bukan apa yang salah, tapi ini adalah apa yang benar." Ia menindihku, ketika aku akan menghindar, ia berusaha mencegahnya. "Aku rasa apa yang baru saja terjadi, apa yang baru saja kita rasakan. Itu adalah….yang membuat bercinta seperti seharusnya, tapi tak pernah sebelumnya seperti itu, karena biasanya hanya selalu mengenai berhubungan seks."

"Kau menakutiku." Aku tak ingin berfikir mengenai apa yang ia tunjukkan. Itu terlalu banyak, terlalu cepat.

Seks yang hebat adalah sesuatu yang penting. Dan Ya Tuhan, seks dengan Shane adalah pembelokan pikiran, guncangan bumi. Ia memberikanku pengalaman seksual yang tak pernah aku tahu bahwa itu ada, membawaku ke tepian terjauh dari kenikmatan. Itu semua menakjubkan. Dan, jika aku benar-benar jujur dengan diriku, itu adalah bagian dari alasan mengapa aku mau datang ke Afrika dengannya. Aku datang karena aku menikmati seks dengannya, dan karena aku ingin perubahan dalam hidupku, pergolakan drastis dan ini adalah cara untuk melakukannya. Aku ikut karena John akan kembali,  dan karena setiap orang yang aku tahu tak menyetujui. Aku melakukan ini untuk memberontak.

Tapi sekarang Shane menyiratkan sesuatu yang lain, menunjukkan ada sesuatu yang lebih dari hubungan kami, dan Rob juga menyiratkan sesuatu yang sama. Aku bukanlah orang yang fobia dengan komitmen, tapi…ini tak disangka. Bukan tidak menyambutnya, tetapi mengejutkan. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan ini atau untuk mengatasinya. Aku tak mengenal Shane, tak benar-benar mengenalnya. Aku baru bertemu dengannya dua minggu yang lalu.

Emosiku dengan John tak pernah intens. Ia familiar dan dapat ditebak. Bersama dengan John itu nyaman. Bahkan, ketika kami berdebat, hal itu akan menjadi biasa, sebuah ritual yang kami lewati lusinan kali dalam tahun-tahun kami bersama.

Shane…ia misterius dan berkuasa, dan rupanya kekayaan ada di dirinya seperti datang dari keluarga terkenal yang kaya. Ia manis, peka, kuat, dan penuh perhatian…

"Shane, Aku..."

Suaraku terpotong oleh dering telepon. Shane mengutuk dan menyambar celananya dan mencari kantongnya hingga ia menemukan sebuah telepon seluler besar.

Aku tak membantunya, malah tertawa. "Bagaimana kau mendapat jaringan telepon di tempat seperti ini? Demi Tuhan, kita berada di tengah-tengah Sudan."

Ia terkekeh. "Ini telepon satelit. Aku bisa mendapatkan sinyal di manapun."

Ia tersadar ketika ia melihat nomor pada layar. Ia menjawabnya. "Ya? Sialan. Oke, ya. Kami ada di pinggiran sungai, beberapa mil sebelah timur desa. Kami akan siap. Bye."

Ia terlihat pucat dan gemetaran. Ia mulai berpakaian, dengan cepat dan efisien. Ia melemparkan pakaianku dan aku mulai berpakaian juga, takut dengan ekspresi di wajahnya.

"Apa yang terjadi? Siapa tadi yang menelponmu?"

Ia mengumpulkan perlengkapan kami ke dalam keranjang dan menggantungkannya kembali ke atas keledai. Aku membantunya sesudah aku berpakaian.

"Itu tadi pamanku, Geoff. Sebuah helikopter sedang dalam perjalanan ke sini sekarang." Aku merasa jarak yang menjauh, mengkonfirmasi apa yang ia katakan.  "Ayahku terkena serangan jantung."

"Oh Tuhan, Shane...apa ia...sudahkah ia…?

"Tidak, ia masih hidup, tapi ini tak bagus. Mereka membutuhkanku kembali ke Amerika SECEPATNYA."
 
***

Penerjemah: +Meyke AD

Poskan Komentar

19 comments

Thanks mb Marry, post pertama lagi dr admin baru PN.

Thanks mbak meyke and mbak marry :D

admin pn sekarang ada berapa yah? thanks mb meyke, mb marry & ms yudi juga;-)

Udah trio dong PN nya luv u all

Slamat mb merry jd admin br..
Trio admin.. 3 musketeers!

All for one, one for all!

Mas yudhi enak y uda ada yg mbntuin.. Bs kipas2 smbl leyeh2 ni.. Hahaha aseekkk

Lah admin baru lg??slmat mba marry...asik byk admin..xixixi º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba meyke,mba mimin n mamas

Woooaah~
Rame sekarang admin PN
Hihihiih
Makasih mb meyke, mb marry :D

asyikkk... Mami Marry.. congratulationss babee.. mwah mwah mwahh wkkwkwkkw.. makin sibuk dah dirimu skrg... lol

aduh @mas yudi jd malu :)

Makasih ya all :) *berpelukannnn ala teletubies hehehe

Makasih mb meyke n bun marry..
Aihhh abang ojek tyt oh tyt..

Makasih mb meyke n bun marry..
Aihhh abang ojek tyt oh tyt..

✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Buat para Admin PN ya.

⇨ mb #Meyke {http://bit.ly/UGBHUH} :: hasil karya ini super banget … ngebacanya sangat nikmat … BRAVO !

⇨ mb #Marry {http://bit.ly/12cm8Kg} :: Salam kenal ya …

⇨ masbro #Yudi {http://bit.ly/U928jW} :: *no comment deh* You're the best …

mba meyke memang smoth banget penulisannya mas,, hat off for her ;)

Salam kenal juga mas :) *bow

muacih mbk meyke, mz yudi.
Shane mw pergi.. C leo ikut kn,,jgn dtnggalin yua shane.. :"(

aigooooo...
pasangan ini tuh bener" yahh^^'
fiuuuuuuhh.....
mkasii mba meyke :* :*
mba merry congrats yahh :D
Big Thanx for PN :)

makasih PN dan seluruh kru yg terlibat

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top