15

bb2-thumb
Kami tiba di Bandara Heathrow London dan aku sangat kacau. Aku tak bisa berhenti menyentuh Shane, berpegangan padanya, membelainya. Aku sangat membutuhkannya. Shane tak membantuku. Ia menyentuhku, bermain dengan payudaraku, menciumku hingga aku mengembang, membuatku panas dan terganggu, dan kemudian ia berhenti, dan tak ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya melanjutkan lagi. Ia hanya tertawa dan bilang kalau aku layak mendapatkannya.

Ia memperlihatkanku London, dari balik Limo sewaan, mengajakku ke bar favoritnya, makan malam dengan teman-temannya dan perkumpulan bisnis. Dinner-dinner itu sejauh ini adalah hal paling menyeramkan yang pernah kulakukan, mencoba menjadi elegan dan berkelas untuk bisnis Shane di Eropa, berhubungan dengan aksen eksotis mereka dan kuku-kuku yang di manikur serta tatapan ingin tahu.

Shane membawaku ke butik dan membuatku diukur dan mengepas setengah lusin baju yang dibuat untukku, yang harga setiap bajunya lebih dari yang aku peroleh dari sebulan gajiku.

Shane tak pernah melirik harganya, tak pernah bertanya. Aku bisa bilang ia hidup di dunia ini di mana harga bukan hanya menjadi objek, tapi tak pernah mempertimbangkannya dalam membuat keputusan. Setiap label harga yang aku lihat memiliki nol yang lebih dari apapun yang pernah aku beli, dan aku masih mengharapkannya setidaknya menaikkan alisnya, tapi tak pernah ia lakukan.

Kami menghabiskan tiga hari di London, dan aku rasa ini adalah untuk keuntunganku lebih dari apapun. Aku bisa bilang begitu karena Shane terbagi perhatiannya, pikirannya sudah ada pada misi itu.

Sebelum kami meninggalkan London, ia membawaku ke dokter untuk pemeriksaan menyeluruh, imunisasi, suntikan pencegah kehamilan, Vaksin TB dan Malaria dan kuliah panjang mengenai tindakan pencegahan kesehatan di negara ketiga.

Kami diterbangkan dengan jet pada pagi hari keempat kami di Inggris. Aku duduk di samping Shane, di atas tempat duduk kulit dan meremas tangannya selama jet kami take-off. Hal itu masih menakutkan, tapi tidak seburuk ketika pertama kali.

Dalam rangka menarik perhatiannya dari pikirannya yang merenung, aku memberikan pertanyaan yang telah berada dalam otakku untuk beberapa hari.

"Shane? Ketika kita bertemu, kau mengendarai Harley dalam keadaan hujan. Kemana kau akan pergi?"

Ia melengkungkan alisnya pada pertanyaanku. "Aku memperbaiki motor klasik sebagai hobi. Harley yang itu adalah Shovelhead yang dibuat tahun 1967, aku membetulkan mesinnya. Aku baru saja memberinya sentuhan akhir, jadi aku pikir aku akan mencobanya untuk putaran yang cepat."

Shane menolehkan kepalanya. "Aku baru sampai tiga blok ketika hujan menjadi lebat. Aku sangat marah. Aku harus mengganti kulit dari kursinya, mungkin."

"Kasihan, kau harus mengganti kulitnya." Aku menggodanya, melepas sabuk pengamanku ketika penerbangan menjadi mendatar.

"Aku berharap kau bisa melihat dirimu sendiri," kata Shane, matanya mengerjap dengan tawa bahkan ketika matanya menggelap dengan hasrat.

"Gaun biru kecilmu menempel ke kulitmu. Kau hampir tak berpakaian. Kau bertelanjang kaki, marah, dan berdarah. Kau berlari ke arahku dan ketika kau melihatku, kau terlihat seolah kau belum pernah melihat pria sebelumnya."

Periode menstruasiku sudah berhenti, dan berada pada batasan di mana aku akan memukul kepalanya dengan sebotol cairan dan menariknya ke tempat tidur. Aku rasa ia mengetahuinya, dan ia bermaksud menggodaku lebih lagi. Ia tidak bangkit, tetap duduk dan bahkan ketika aku duduk di pangkuannya dan menggoyangkan pantatku ke arah selangkangannya.

Ia sudah siap untukku, tubuhnya berbicara, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan acuh tak acuh dan berbeda. Aku tak mempedulikannya.

"Aku belum pernah melihat pria sebelum aku bertemu denganmu," aku berbisik di telinganya, menggigit daun telinganya.

"Jadi, kau bilang aku adalah pria pertamamu?" Lengan Shane melingkari pinggangku.

"Bisa jadi seperti itu, Lelaki sejati pertamaku, bagaimana dengan itu?"

Aku melepaskan kancing bajunya yang bawah dan fokus pada melepaskan setiap kancing, mencium dadanya ketika aku menginginkannya lebih dan lebih. Nafasnya menjadi lenguhan panjang dan detak jantungnya menjadi bertambah cepat di dadanya, jadi aku tahu bahwa ia tak benar-benar tak terpengaruh, meski ia masih menahan diri, tangannya berhenti di tulang belakangku, kepalanya bersandar ke belakang. 

Aku merasakan ereksinya menjadi membesar dan keras di balik ristletingnya. Pinggulnya mulai bergerak menekanku dalam arah yang berlawanan, dan aku menyadari kejantanannya terlipat di dalam celananya dalam posisi tak nyaman. 

Aku memutuskan menggunakan hal ini untuk melawannya. Aku menarik bajunya turun dari bahunya sehingga jatuh di sikunya dan membiarkannya di situ.

Ia harus melepaskan aku untuk melepaskan diri atau terhambat dengan baju yang membatasi di lengannya. Aku menjalankan telapak tanganku di dadanya, mengambil salah satu putingnya yang kecil di antara gigiku dan mengisapnya cukup keras hingga keluar protes darinya.

Kemudian, aku meluncur di atasnya, membangkitkan gairah kami berdua: gairah yang hanya membuat salah satu dari kami menderita, dan Shane tetap menggerakkan selangkangannya ke arahku dalam usahanya yang sia-sia untuk melepaskan diri. Aku menoleh dan memberinya tatapan polos. "Ada yang salah, Mr. Sorrenson?"

Shane menggeram saat aku menggunakan nama belakangnya, tapi menolak memperpanjang masalah itu. "Tidak. Tak masalah Miss Larkin."

"Kau yakin? tak ada...yang lain?"

"Tidak. Semuanya sempurna."

Aku merangkak naik dan memutar jari tengahku ke dalam pinggang celananya, cukup untuk membuat perutnya bergerak refleks, kemudian menariknya untuk meredakan tekanan untuk sesaat, tapi tidak cukup untuk membuat ereksinya ke posisi yang lebih nyaman.

Aku bisa merasakan ereksinya di ujung sisi celananya, tersiksa mengenai kain, membesar dengan cepat setiap detik, membesar dengan setiap sentuhan bagian belakangku mengenai pangkal pahanya.

Aku meluncur dari kursi, meletakkan tangannya pada diriku dan membawanya ke bahuku ketika aku menyentuhkan lidahku ke perutnya dan turun ke arah pinggulnya, mencium dan menjilati kulitnya. Aku berlutut di antara lututnya dan menyikut ereksinya dengan daguku, berusaha membebaskannya.

"Kau yakin?" Aku menjalankan jariku di sepanjang ereksinya. "Kau terlihat...tidak nyaman...bukan?"

"Tidak." Ia menyempitkan matanya dan masih menahan dirinya, menolak menggerakkan ototnya.

Aku menyeret jariku melewati tonjolan ereksinya, merasakannya berkedut di bawah sentuhanku, tapi ia tetap menolak menyerah.

Saatnya bermain nakal.

Aku berdiri di depannya dan berputar, memperlihatkan bagian punggungku padanya. Aku mengenakan gaun, lipatannya menyapu paha di atas lututku dengan stocking tinggi, sandal rendah tanpa hak.

Aku membungkukkan pinggangku pada sandalku yang tak ada hak-nya, membiarkan lipatan gaunku naik sehingga memperlihatkan pantatku padanya, yang hanya mengenakan thong. Ia tak melihatku berpakaian hari ini, karena ia terburu-buru keluar untuk menerima telepon, jadi ia tak tahu apa yang aku pakai di balik gaunku. Atau apa yang tak kupakai, seperti kali ini.

"Ya Tuhan, Leo. Apa yang kau lakukan padaku?" Ia menggeram.

"Yang aku lakukan? aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya melepas sandalku."

"Kau...sudah selesai, lalu?"

"Mmm-hmmm." Aku melepas satu sandal dan melemparnya ke arahnya, dan kemudian melakukan seperti tadi untuk yang satunya lagi.

Ia masih tak beranjak, dan aku bisa melihat kejantanannya menekan celananya.

"Kau pasti menjadi satu-satunya pria dengan kekeras kepalaan yang pernah ada," kataku, sambil menepukkan sandal yang lain di pangkuannya.

"Aku tak pernah tahu 'kekeras kepalaan' adalah sebuah kata."

"Diamlah. Kalau aku bilang itu berarti begitu."

"Tidak, bukan begitu. Aku adalah lelaki yang paling 'kekeras kepalaannya' aku rasa itu maksudmu."

Ia menggeser panggulnya lagi, dan aku melihat kejantanannya bergeser dengan pelan, tekanannya berkurang sedikit.

"Dan aku tak tahu apa yang kau bicarakan."

Aku tertawa. "Aku tak tahu kenapa kau tak mau membetulkannya. Itu akan terasa tak nyaman,"

Shane menaikkan alisnya, akhirnya melepaskan sabuk pengamannya.

"Aku nyaman saja. Aku mau tidur siang."

Sialan. Pada titik ini, ini adalah tes kemenangan dan aku sudah memutuskan tak akan kalah.

Aku menderita karena ingin ia menyentuhku, tapi aku menolak memperlihatkannya.

"Tidur siang, hmm?"Aku melihatnya melalui bahuku, menyeringai ke arah relaksasinya yang dipaksakan. "Itu bukan ide yang buruk. Tapi, aku mungkin tak bisa tidur dengan pakaian seperti ini."

Aku mendengar gemuruh pelan dari dadanya, sebagian menyetujui, sebagian menolak ketika aku mengangkat tanganku untuk melepas gaunku.

Aku menjaga kepalaku miring ke sisi sehingga aku bisa melihatnya ketika aku menurunkan ristleting gaunku, menurunkan lengan bajuku, dan membiarkan kainnya jatuh mengumpul di sekitar kakiku.

Aku merasakan kemenangan ketika ia mengeluarkan geraman dari bibirnya; ia menarik testisnya dan membiarkan ereksinya menjadi vertikal, tapi kemudian mencengkeram lengan kursi dengan jarinya sekali lagi.

Aku membungkukkan pinggangku lagi, meraih mata kakiku untuk memperlihatkan keseluruhan pantatku ke arah Shane, yang tak jauh dariku.

Aku licin dan basah dengan gairah dan bersemangat saat ini, dan aku tahu ia bisa merasakannya. Aku membungkuk sejujurnya untuk keuntungannya kali ini.

Aku bukan seorang penari, sama sekali tak pernah terbersit, tapi aku memberikan yang terbaik khususnya tanpa musik. Aku berdiri dengan perlahan, berputar untuk melihatnya dan masih saja kurang, membiarkannya menelanjangiku dengan matanya. Kejantanannya mengeras, dan cengkeramannya pada lengan kursi semakin kuat hingga aku mendengar suara kayu berderak di bawah  kekuatan jari-jarinya.

Aku menjalankan ibu jariku di sekitar garis thong-ku, menekannya ke bawah hingga memperlihatkannya puncak vaginaku, kemudian melepasnya dan menjalarkan telapak tanganku menaiki perutku untuk menangkup payudaraku. Menggoyangkan pinggulku ke arahnya, aku menarik cup bra-ku turun untuk memperlihatkannya putingku, satu puting, kemudian yang lain.

Dada Shane membesar sekarang, tatapannya dan matanya membakar. Ia menginginkanku, dan pertahanannya menghilang. Pinggulnya berputar, hanya sekali, dan ia menekan kepalanya kembali ke sandaran kursi, bibirnya melengkung membentuk geraman primitif.

Aku membebaskan diriku dari thong yang kukenakan, segitiga katun hitam perlahan meluncur sedikit ke bawah.

Shane menggeram lagi di dadanya dan memutar tangannya menjadi kepalan.

"Ada apa, Shane?" Aku mendekatinya hingga menyelinap di antara lututnya.

"Kau terlihat..tegang."

"Aku tidak tegang," ia menggeram.

Aku mencakar bahunya, ototnya yang keras berkumpul dan mengeras di bawah jari-jariku.

"Apa kau yakin? kau kelihatan tegang, aku bisa membantumu, kau tahu."

Aku menggerakkan jariku di bahunya, memutarnya dengan semua kekuatanku. Payudaraku berada tepat di depan matanya, dan pinggulku di antara lututnya. Tangannya bergetar di pahanya dan nafasnya menjadi semakin tak beraturan.

"Kau tahu kau ingin menyentuhku," aku mengembuskan nafas di telinganya. "Aku basah untukmu. Penuh dengan cairan. Kau bisa tenggelam di dalamnya."

Aku tak pernah berbicara seperti ini sebelumnya, tak pernah senakal ini, dalam rangka menggoda pria yang berusaha bertahan dariku. Semuanya terasa baik, penuh kekuatan. Aku menggosokkan payudaraku padanya, dan ia melenguh. Ini terasa nikmat, penuh dengan kekuatan. Aku menggosokkan payudaraku ke arahnya, dan ia mengerang, dengan suara yang hampir tak terdengar pada kelembutan kulitku tepat di belahan dadaku.

"Kau bisa mengangkatku," kataku, meletakkan tangannya di tubuhku. "Kau bisa menarik Thong ini lepas dariku dan berada di dalamnya dalam sedetik. Atau kau bisa saja hanya...menyentuhnya dan meletakkan jarimu ke dalam vaginaku. Aku akan orgasme untukmu, di sini, sambil berdiri."

Aku meletakkan tangannya pada lekukan pinggulku dan meraihnya untuk menarik jepitan bra-ku, melepas kaitannya tapi menyisakan satu kancing. Payudaraku tergantung bebas di depannya, dan tangannya meluncur ke belakangku, ke arah kaitan yang tersisa.

"Ya, Shane. Lepaskan. Aku ingin merasakan mulutmu di dadaku."

Ia menggeram lagi, mencakarkan jarinya ke arah bawahku. Aku mendengkur di belakang tenggorokanku pada sensasi jarinya yang dengan kuat menggaruk kulitku dan aku melengkungkan punggungku ke arahnya.

Ia menekan wajahnya ke belahan dadaku dan menghembuskan nafasnya di keharuman kulitku. Dua jarinya membuka kaitan dan kancingnya bersamaan dan melepaskan bra, menarik talinya dari bahuku dengan dua jari yang sama, janggutnya yang kasar mengenai dagingku, mulutnya akhirnya mulai mencium gundukan payudaraku. Aku membiarkan bra-nya jatuh ke pangkuannya, menolehkan kepalaku ke belakang dan mengerang ketika ia mengambil putingku ke mulutnya.

Aku menjauh darinya, menarik keluar dari cengkeramannya. Ia menggeram dengan posesif dan menarikku lagi. Aku melangkah keluar dan melesat ke arah tempat tidur, menjadi pelan ketika ia bergerak dari kursinya. Sebuah senyum kemenangan menyeringai di bibirku ketika ia mendekat ke arahku.

Aku mundur beberapa langkah darinya hingga kakiku menekan tempat tidur.

"Tak ada tempat untuk lari sekarang, singa kecil," katanya, menusukkan jarinya ke otot dan daging pantatku.

"Oh tidak," aku berkata dengan suara yang kecil, mataku membelalak ketakutan. "Kau menangkapku."

Ia menampar pantatku, sebuah tamparan yang keras menggunakan telapak tangannya, membuatku mengerang dengan keras dan menekan ke arahnya. "Gadis nakal."

Aku memutar lengannya dan membungkuk ke arah ranjang, jantungku berdetakan di dadaku, mengantisipasi sensasi sakit. Ia menampar pantatku lagi dan kemudian mengelusnya dengan kelembutan sebelum melakukannya lagi pada sisi pantatku yang sebelahnya.

Jarinya meluncur menuruni tulang belakangku ke arah tulang ekorku dan melewati pinggiran, mengikuti garis dari thong-ku. Aku membuka pahaku lebar ketika ia meletakkan jari di antara kakiku dan menarik tepian celana dalamku. Ia meletakkan tangan di sekitar pinggulku di antara kasur dan aku, dan mengambil pinggiran celana dalamku di tangannya, kemudian menggantinya dengan tangannya yang lain dan merenggangkannya di sekitar pinggulku, menyatukan kainnya di tangannya.

Ereksinya menekan sisi belakangku dan aku tak bisa berhenti menggerakkan pinggulku untuk menggoyang ke dalamnya.

"Nanti," janjinya. "Tapi, yang pertama adalah melepaskan ini."

Aku mengharapkan ia melepaskan thong-ku, tapi ia malah menarik tangannya menjauh dan mulai menaikkan kekuatannya. Aku merasakan kainnya meregang dan menarikku, merasakan tangannya gemetar akibat hal itu, dan kemudian kainnya terpisah dengan suara yang lembut. Ia menarik celana dalamku lepas dan melemparnya ke sisi.

Aku bergelung di lengannya lagi dan mendorong ia menjauh, putus asa ingin merasakan ia berada di dalamku sekarang, liar karena ingin merasakan dagingnya menyentuhku, panasnya di kulitku, dan ototnya yang keras berlawanan dengan kelembutanku. Aku membuka celananya dan menendangnya turun, kemudian menarik celana dalamnya, memaksa diriku untuk bergerak perlahan, untuk menggoda kami berdua sedikit lebih lama.

Ban pinggang celana boxernya meluncur ke bawah melewati ereksinya ketika aku nenangggalkannya, seinci demi seinci, hingga semuanya terlepas, basah dan berkilau dengan cairannya yang basah, nadinya berdenyut dan ujungnya membesar.

Celana dalamnya mengikuti celananya berada di lantai, dan kontrolku sudah hilang ketika aku mengambil kejantanannya ke tanganku dan menggerakkannya.

Aku membungkuk untuk memasukkannya ke mulutku, untuk merasakannya, tapi ia menarikku menjauh.

"Aku tak akan bertahan hingga tiga puluh detik kalau kau melakukan itu," katanya. "Kau membuatku gusar."

Ia menciumku, yang pertama dengan panas, ciuman keras yang selalu ia berikan padaku setiap hari. Yang membuatku kehilangan nafas dan menekuk kakiku ke karpet, mengirimkan kupu-kupu melalui kulitku menyebar di antara pahaku. Aku mengangkat kakiku ke pinggulnya, mengalungkan lenganku ke lehernya untuk memperdalam ciumannya, tenggelam dalam panasnya nafas dari mulutnya. Ia meletakkan kedua tangannya di bawah pantatku dan mengangkatku ke atas. Aku melompat, menarik lehernya, dan ia menangkapku ketika aku melingkarkan kedua kakiku di sekitar pinggangnya, terjepit antara otot-otot di kakiku dan di pusat diriku.

Aku merasakan kejantanannya keras dan menyusup pada lipatan basah vaginaku, dan aku melengkungkan tubuhku ke arahnya ketika aku terduduk, menusukkan dirinya ke dalam diriku.

"Oh Tuhan, kau sangat ketat," ia berbisik, bibirnya bergerak ke arahku.

Ia mengangkatku ke atas dan menurunkan beratku ke dalam dirinya, menyodorkan diri pada pinggulnya pada saat yang bersamaan. Bibir vaginaku membentang lebar untuk memberinya jalan, setiap dorongan lembut membuatku membuka semakin lebar, membiarkannya masuk lebih dalam. Aku menggigit bahunya ketika ototku yang meregang terasa kesemutan, memutar pinggulku untuk melumasi miliknya dengan cairanku. Hari demi hari penggodaan, keinginan, penderitaan karena gairah yang tak tersalurkan, tarian telanjang dan kerinduan yang lama, serta pemanasan yang terus menerus, semuanya terbayar saat ini ketika akhirnya aku memiliki Shane berada di dalam diriku hingga kurasakan sakitnya candu kenikmatan.

Aku tak dapat bernafas ketika ia melakukan penetrasi, tak dapat mengerang atau mengeluh atau menyebut namanya ketika ia mendorong masuk. Yang bisa aku lakukan hanyalah menggeliat dengan kepuasan yang tak tertahankan ketika ia mendorong masuk.

Berat tubuhnya menekanku ke kasur, membuatku telentang dengan kaki teruntai ke tepi, salah satu kakinya menginjak lantai dan kaki yang lainnya di kasur. Tangannya menarik pinggulku untuk bergerak ke dalamku, mendorong tekanan orgasmeku yang meningkat menjadi rentetan ledakan-ledakan kecil. Aku sudah hampir sampai, dengan dorongan yang meningkat menuju puncak klimaks...

Aku mengerang dalam kejutan ketika beratnya tiba-tiba hilang, keberadaannya di dalamku lenyap. Ia merasa bagaimana dekatnya aku dan menarik diri dariku.

"Ya Tuhan, sialan, Shane!" Aku menerjangnya.

"Aku sudah begitu dekat. Kembali! kau sudah membalasku karena menggodamu."

Shane tertawa dan menaiki kasur lagi, mengangkatku ke arah kepala. Aku berguling ke belakang dan meraihnya untuk menariknya turun ke arahku, tapi ia bertahan.

"Oh tidak. Yang tadi hanya untuk bersenang-senang." Ia membungkuk ke arahku, menciumku, dan ujung dari ereksinya menusuk pahaku, menyebarkan kebasahan yang lengket sepanjang paha dalamku. Aku menekan pinggulku ke arahnya, mencarinya, menginginkannya menekan ke dalamku.

"Aku akan menghukummu karena membuatku memohon." Ia menyentuhkan jarinya padaku ketika aku berbicara, memasukkannya ke dalam dan memutarnya ke arah G-spotku. "Aku akan membuatmu membayarnya, Leo. Kau akan memohon kepadaku untuk membuatmu selesai."

Aku merasakan ketakutan yang sebenarnya, kemudian. Aku sudah siap merasakan kesakitan, tekanan mengembang pada pinggangku karena kebutuhanku yang tak tersalurkan, dan sekarang ia berusaha membuatnya menjadi lebih buruk? Oh, sialan.

Pikiranku hilang ketika ia membelai dinding bagian dalamku, kemudian mundur untuk memutar intiku yang kaku. Aku menekan ke arah jarinya, naik, naik, sangat dekat, ya, dekat sekali...dan tiba-tiba ia berhenti, menyusurkan jarinya naik ke atas perutku dan mencubit salah satu putingku, kemudian yang satunya lagi.

Ia menarik dan memperhatikan payudaraku, menciumnya, menjilatnya, meningkatkan tekanan di antara pahaku tapi tak membiarkanku mendekati klimaks.

Aku tahu permainannya, kemudian, dan memutuskan untuk mengikutinya tanpa permohonan. Ia telah memintaku; aku tak akan pernah. Aku akan sanggup menunggunya keluar.

Ia bergerak ke atas dan mencium mulutku, menangkup daguku dan daun telingaku, kemudian menekannya lama, dengan rentetan ciuman perlahan turun ke arah perutku. Ia mencium setiap tulang pinggulku, kemudian menjilat lipatan antara kaki dan daerah pubisku, yang telah kucukur rapi.

Ia memisahkan setiap labiaku dengan lidahnya, kemudian memeriksa bagian depannya, lembut, jilatan perlahan membuatku menahan lenguhan dan mengeluarkan erangan. Ia memegang pinggulku di tangannya dan menekan mulutnya ke vagina bagian depanku dan memutar klitorisku dengan ujung lidahnya. Aku mulai berharap ia akan menghentikan permainannya ketika aku mendekati klimaks sekali lagi, tekanannya naik dan terbentuk, tangannya menyelinap di antara mulutnya untuk menggerakkan dindingku dan menyentuh lagi G-spotku, dan kemudian aku beberapa detik lagi, satu jilatan, satu sentuhan, satu jentikan lidahnya dari ledakan...Tapi kemudian ia berhenti.

Aku hampir menangis. Ia menyeringai pada pinggulku yang putus asa, caraku mencengkeram punggungnya dan mencakar kukuku dengan tajam ke punggungnya, cukup keras untuk membuat tanda, jika tidak berdarah.

"Aku hampir sampai, Leo," kata Shane, berlutut di atasku. "Aku akan membiarkanmu orgasme, jika kau menolongku terlebih dulu."

Aku menatapnya, menolak menerima umpannya. Masalahnya, kejantanannya yang besar tepat di atasku, memohon untuk disentuh, dan aku pikir aku bisa mengerjainya, melepaskan diriku untuk membuatnya klimaks. Ini merupakan usaha yang pantas, sepertinya. Aku menariknya, meletakkan tanganku di sekitarnya dan menariknya turun. Ia membiarkanku menyentuhnya, membiarkanku meletakkan kejantanannya di dalam mulutku, dan menghisapnya sebentar, kemudian ia menariknya menjauh.

Upayaku berhasil. Aku bisa melihat ototnya yang membesar tersiksa, pembuluh darahnya berdenyut dan giginya menggertak. Ia hampir sampai.  Ini tak akan susah, aku tak berpikir lagi, tapi ia menahan dirinya lagi-lagi. Ia mengubah taktiknya, membawa kami berdua menjauh dari ujung, dengan menciumi tubuhku pada tempat-tempat yang tidak sensual. Ia mencium lenganku, siku dalamku, sisi sampingku, bahuku, leherku dan meskipun ciumannya bukan pada zona yang bisa membangkitkan gairah, tetap saja menaikkan antisipasiku, tetap menambah tekanan di antara kakiku.

Kemudian aku mendapat ide genius dan melakukannya sebelum aku bisa menebak diriku sendiri untuk kedua kalinya.

"Please, Shane. Berikan padaku." Aku tak perlu bertindak berlebihan untuk terlihat meyakinkan.

"Biarkan aku orgasme, please. Aku mohon padamu."

"Kau tak bisa menipuku, gadisku."

Aku menggeliat dalam lengannya, menggosokkan tubuhku pada dirinya. Aku tak berpura-pura lagi, aku sungguh tersiksa dan tergoda. "Aku tidak menipumu, aku janji. Aku membutuhkanmu. Aku tak bisa lagi menahannya. Please, jangan buat aku menunggu."

Aku bisa merasakan keragu-raguannya, kebimbangannya. Ia menutupinya dengan mengelus bagian pintu masukku dengan ujung kemaluannya, menahan dirinya di tangannya dan mengolesi pahaku dengan cairannya yang meleleh.

"Please, please." Aku menerjangnya dengan kakiku, mengaitkannya ke sekitarnya. "Aku membutuhkanmu berada di dalamku. Aku sekarat, Shane, tolong, biarkan aku memilikimu di dalamku. Aku tak akan pernah menggodamu lagi, aku janji."

Aku mengunci kakinya, dan turun untuk meraih batangnya, menggelitiki ujungnya dan mengelus ibu jariku di sekitar kepala ereksinya. Aku menariknya ke arahku, mengaitkan kakiku ke dalam dengan segenap kekuatanku. Ia bertahan, kuat, tapi sudutnya salah sehingga aku yang menang. Ujung kejantanannya dekat denganku, menyentuh bagian terbuka dari bibir vaginaku, bergerak sesenti demi sesenti ke dalam. Aku mengerang dengan kebutuhan sekarang, menyerah pada gairahku. "Please, Shane. Sedikit lagi. Ya...ya, seperti itu. "Pertahanannya memudar, merosot. Ia juga ingin berada di dalam.

Aku melingkarkan lenganku yang lain di sekitar kaki kami dan menangkup bolanya, merasakan kelembutan kulit scrotumnya di telapak tanganku dan memijatnya lembut, menyentuhkan jariku ke kulit tipis di antara bolanya, dan menekannya, menyapunya sekilas, kemudian ketika ia mulai bergerak di dalamku, aku meningkatkan tekanannya dengan gerakan melingkar.

"Oh, persetan dengan ini," Shane menggeram.

Ia menyelipkan tangannya di bawah pantatku dan mengangkatku ke atas ke arahnya. Ia duduk dan menempatkanku di pangkuannya, dan kami mengerang berbarengan ketika ia memasukkan dirinya ke dalamku. Ia menenggelamkan dirinya sampai ke pangkal, menggoyangkan pantatnya ke dalamku, mendorong pinggulnya ke arahku dan menggeram pada setiap gerakannya.

Dahi kami beradu, keringat dan nafas berpadu. Aku mengangkat kakiku dan bergerak turun, mencengkeram tubuhnya, menyodorkan payudaraku ke arahnya dan memanggil namanya, klimaks kami meningkat bersamaan, gerakan kami berirama dengan keputusasaan yang sama.

Aku naik dan turun, ia mencengkeramku, dan kami menggeram bersamaan, mengerang, saling mencakar, berusaha lebih dekat, membakar diri kami satu sama lain.

Tekanan di dalamku berada pada titik puncak, sebuah ledakan yang tertunda mendidih di dalam tubuhku, sebuah supernova pada jurang pembebasan.

Tak ada yang bisa menghentikanku sekarang dari usahaku mencapai puncak, dari meningkatkan ketinggian ekstasi dengan Shane. Aku melengkung untuk menciumnya, bernafas ke dalam mulutnya, merasakan getaran erangannya di antara gigiku, merasakan ototnya yang mengeras dan melingkar di dalamku, kekuatan lengannya di sekitarku, menahanku tetap di tempat.

Aku berada di tepian sekarang dan tak bisa menggerakkan otot-ototku kecuali untuk menggeliatkan pinggulku pada kejantanannya. Aku terangkat ke atas oleh lengannya. Ia menurunkan kecepatanku, tak pernah menghentikan gerakannya di dalamku, menyebarkan beratnya di atasku, merendahkan beratku tapi tak menekanku.

Namanya adalah kata yang hanya mampu aku panggil, melenguh tanpa nafas ketika ia menekan dengan kekuatannya ke dalamku, setiap dorongan membawaku lebih tinggi, lebih dekat. Aku mengikatkan kakiku di sekeliling punggungnya dan lenganku di lehernya, menariknya erat, merintih ketika ia meningkatkan temponya.

Dan kemudian terjadilah, di antara satu erangan dan yang berikutnya. Pecah, aku orgasme lebih dulu di bawahnya. Pada saat otot-ototku mengepal hebat, jeritan tak berdaya dari nafasku di telinganya, ia meledak, melepaskan benihnya dalam pancaran panas, membawaku ke dalam pelepasan orgasme yang liar.

Klimaksnya seperti tak berakhir, cairan kental membanjiriku, nafasnya terengah-engah di telingaku, dorongannya ke arahku adalah ketukan gerak yang menggebu-gebu, menekan klimaksku mencapai puncak dan menjadi yang lainnya, ledakan berikutnya, dan menjadi ledakan kebahagiaan.

Dan ia masih saja keluar, masih menggerakkan batangnya ke dalamku, hingga yang dapat kulakukan adalah memeluknya erat, mengunci otot-ototku pada dirinya, dan mendaki kebahagiaan.

Pada akhirnya ia melambat dan berhenti, merosot di sampingku, tubuh kami bergidik dan licin karena keringat.

Dan kemudian ia merusaknya.

"Ya Tuhan, kau menang," erangnya. "Kau menipuku, dasar kau wanita jalang yang licik."

Oh, kata-kata itu. Aku sangat membenci kata-kata itu. Aku meradang, memaksa diriku untuk diam, dan bukannya melompat melintasi ruangan dan berteriak seperti yang ingin aku lakukan.

Ia merasakan aku menegang, merasa jarak yang merentang secara tiba-tiba.

"Ada apa? Apa yang salah?"

"Tidak ada apa-apa." Aku berusaha mengingatkan diriku bahwa ia bukan John, bukan ayahku, ia tak mungkin tahu.

Shane tertawa waktu ia mengatakannya, dengan jelas bermaksud sebagai pujian. Aku menang. Aku tahu itu, dan kebanggaan atas fakta bahwa aku telah mengungguli Shane Sorrenson masih bersinar dengan bangganya di dadaku, tapi cara ia mengucapkan kata-kata yang biasa tadi melemparkanku.

"Leo, ayolah. Aku benci ketika wanita melakukan itu. 'Tak ada apa-apa,' katamu, tapi itu malah menunjukkan keanehan bahwa ada sesuatu." Ia menyangga dirinya dengan siku dan berusaha meraih wajahku.

"Hey, aku tak bisa memperbaikinya kalau kau tak bilang apa yang salah."

Seperti pria pada umumnya. Selalu memperbaiki.

"Hanya, jangan gunakan kata-kata tadi di sekitarku lagi, oke?" Aku menekan kemarahanku pergi, berusaha mendorong diriku untuk menyadari bahwa ia tak bersalah. Ia tak bermaksud apapun mengenai hal ini.

Shane menyapu sehelai rambut dari wajahku, mencium tulang pipiku. "Baiklah. Aku minta maaf. Aku tak bermaksud apapun. Aku cuma terkesan. Kau membuatku melakukan apa yang kau mau. Tak ada seorang pun yang pernah melawanku dan menang. Aku selalu, selalu mendapatkan apa yang kumau."

Aku hanya setengah tersenyum. "Baiklah, sepertinya kau mendapat lawan, buddy."

Ia mencium sudut mulutku, daguku, dan tulang pipiku yang lain. "Seperti begitu." Matanya berubah menjadi serius, kemudian. "Kenapa hal itu mengganggumu?"

Aku duduk dan meletakkan bantal di belakangku. "Cerita lama sebenarnya. Aku seharusnya melupakannya. Aku tahu kau tak bermaksud buruk. Semuanya baik-baik saja."

"Bukan, bukan seperti itu." Ia menyentuhkan dua jari ke pipiku, memalingkan wajahku ke arahnya. "Beritahu aku, please."

Kepolosannya yang jujur membuatku mendesah, dan matanya yang menatapku dengan intens membuatku mengalah.

"Ugh. Baiklah. Semuanya kembali ke ayahku. Itu adalah kebiasaannya. Ia selalu melakukannya ke ibuku. Aku merendahkan suaraku hingga menyerupai nada suara pria.

"Ayolah, Marnie, jangan menjadi wanita penggerutu, Seperti itu, setiap waktu. Ia tak bermaksud apa-apa, terkadang. Itu hanya sesuatu yang ia ucapkan ketika ibuku membuatnya kesal, atau ketika mereka sedang bercanda. Tapi ia selalu melakukannya setiap saat. Ia bilang seperti itu juga ke diriku, dengan nada yang sama. 'Ayolah, Leo, jangan jadi penggerutu.' Ibuku membencinya, begitu juga aku. Ibuku selalu membencinya, dan ia selalu dipanggil seperti itu setidaknya sekali seminggu dalam 25 tahun ini.

"Alasan yang benar-benar menggangguku, tentu saja karena John. Ia mendengar ayahku bilang seperti itu sekali kepada ibuku, dan menyadari bagaimana hal itu sangat mengganggu ibuku, dan aku. Jadi, berikutnya ketika ia dan aku bertengkar, ia akan mengucapkannya padaku, seperti yang digunakan ayahku, hanya untuk membuatku kesal. "Ayolah, Leo, jangan menggerutu."

"Dasar brengsek."

"Yeah. Itu adalah hal yang ia lakukan. Ia tak berteriak ketika ia marah, hanya membuat tatapan iblis, muka tenang seperti biasanya. Ia melakukan itu untuk menekanmu, dan ketika kau kalah, ia akan merasa ia berada di atas angin karena ia bahkan tak perlu menaikkan suaranya."

"Hal seperti itu akan membuatku menjadi gila," kata Shane, memutar rambutku yang ada di jarinya.

"Aku juga. Membuatku benar-benar gila. Itulah kenapa aku sering sekali putus dengannya."

"Well, Maafkan aku tadi bicara seperti itu. Aku tak tahu—"

Aku mengerling ke arahnya, mengusapkan bibirku ke bibirnya untuk membuatnya diam.

"Aku tahu," kataku. "Ini cuma memicuku saja. Sekarang, diam dan beritahu aku lagi bagaimana aku mengalahkanmu."

Shane terkekeh dan menarikku ke atasnya. Ia adalah pria dengan aura seks yang menakjubkan, Shane sudah mengeras lagi. Aku meluncurkan vaginaku ke arahnya, merasakan ia membesar dan mengeras. 

Ketika ia cukup keras untuk meluncur di dalamku, secepatnya aku mengarahkannya masuk, menggerakkan pinggulku ke arahnya ketika ia melanjutkan memasukkan seluruh miliknya di dalamku.

"Kau menang," katanya, kata-katanya teredam mulutnya yang penuh dengan payudaraku. "Kau mengalahkanku. Kau menipuku hingga memberimu apa yang kau mau."

"Apa kau lupa," kataku padanya. "Aku sangat bertekad, ketika aku menginginkan sesuatu."

"Itu adalah salah satu dari banyak yang hal yang aku suka (cinta)—um. Dari menghabiskan waktu denganmu."

Itu tadi adalah ucapan yang keceplosan, mudah dilupakan ketika gairah kami mengembang, dan aku membiarkannya saja, tapi tak akan pernah melupakannya.

Ia melihatku begitu hati-hati ketika ia selesai mengucapkannya, tapi aku hanya menutup mataku dan menyandarkan tubuhku padanya, meregangkan tubuhnya menjauh dari kejantanannya, menaikinya, tanganku terletak di perutnya di mana tubuh kami bersatu. Tangannya berada di pinggulku dan menarikku turun ke arahnya.

Tak ada lagi muslihat, kali ini, tak ada saling menggoda atau foreplay, hanya perlahan, putaran lembut dari pinggul kami, kekerasan tubuh kami yang berpadu, tensi yang terbentuk di antara kami. Keringat bercampur di tubuh kami dan nafas kami berubah dari tarikan yang panjang menjadi lenguhan erangan.

"Ya Tuhan, Ya,” aku berbisik, jatuh ke arahnya, menekan wajahku ke bahunya, "Ya, ya.”

Ibu jarinya berada di lipatan pinggulku, mendorongku lebih cepat ketika ia menuju klimaks.

"Jangan…jangan berhenti,” kata Shane. "Ya Tuhan, aku akan keluar. Aku akan keluar dengan keras…”

Aku menekan bibirku ke telinganya dan membisikkan kata-kata, "Aku suka merasakan saat kau akan keluar...oh, Tuhan. Aku di sana denganmu, Aku akan klimaks bersamamu.”

Aku memakai kata-katanya, kata yang ia harap tak aku sadari telah ia keluarkan.

Matanya bersinar seperti kilauan granit dan ia mengambil mulutku dengan mulutnya ketika kami meledak bersamaan, sensasi dan emosi bergabung dan melalui kami sebagai satu kesatuan, ambruk bersamaan, tak yakin di mana aku mulai dan ia berakhir.

Tak ada dari kami yang membahas perkataannya yang keceplosan tapi hal itu menggantung di udara di antara kami setelah perasaan puas ini datang, tebal, dan hampir nyata. Ketika aku memutuskan untuk tidur, aku membayangkan sejauh mana keceplosan kata tadi pergi, jika ia memang bermaksud seperti yang ia katakan, bahwa ia suka menghabiskan waktu denganku dan ia dengan sederhana mengungkapkan kata-kata itu sendiri. Pilihan lainnya adalah, jika ini menjadi sesuatu yang lebih dalam, menakutkanku. Aku tak terlalu yakin apakah aku menginginkan ini menjadi sesuatu yang lebih dalam, atau hanya sebagai kata-kata biasa belaka.

***

Penerjemah: +Meyke AD

Poskan Komentar

15 comments

Berendam dulu yaaah, it's so d*mn HOT. Ada untungnya ini diposting mlm jum'at ┼┼aa..┼┼aa..┼┼aa..┼┼aa..

Aduh.... Panaass.... Panasss....

Thanks mas Yudi & mb Meyke...

Huuuhhh panasssssss.....tks mba meyke n mamas...

hhhuuuuaaaaa.............ngipas dulu nih.....
thx mbak meyke en mas yudi

Astaga astagaa panaas nyaaa
Leo & Shane emang hooot
Hahahaha
Makasih mb meyke, mas mimin :D

Malammm jumatttt ada apa ya....

panas.. keren rangkain kata demi katanya.. wkkwkww mantabb.. makasi mbak Meyke dan mas Yudi :D

again,, very smoth ! Love it

Wah jd gerah bget.mn ya suami kok g plg2.haha.mksh mbak meyke ad.mas yudi

Panjang dan detail.... ,,,,,
::‧(◦ˆ ⌣ ˆ◦)::‧(y)
Si!!! . ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Meyke dan Yudi

Sukses bgt buat panas2 nya padahal cuaca disini lg dingin..
Makasih mba meyke dan mas admin.

mksh mbk meyke mz yudi..
Huft tpi sedih c leo'y huhuhu..

*ikut merasakan kesedihan leo..mewekk

Wow... Ini Leo emng benar benar perempuan.... Sempurna "
Makasih :)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top