19

bb2-thumb
Detroit, Michigan

Bandara Detroit Metro sangat berisik. Aku berpegangan pada lengan Shane dan membiarkan ia membawaku ke keramaian, mencoba mengabaikan keraguan dalam pikiranku. Salah satu pikiranku adalah berbicara mengenai berhentinya aku dari pekerjaanku, meninggalkan tunanganku, dan pergi ke Afrika dengan orang yang baru kukenal. Hal lainnya adalah semua hal ini berlangsung secara bersamaan.

Yang aku punya hanyalah dompetku dan sebuah tas backpack. Shane bilang kami lebih baik membeli koper untukku daripada mengambilnya kembali ke rumah Jhon. Aku tidak membantah. Hal terakhir yang aku ingin adalah konfrontasi dengan mantan tunanganku. Aku sudah berbicara pada orang tuaku, dan mereka sangat terkejut dengan berita bahwa aku meninggalkan pekerjaanku dan terbang mengelilingi dunia dengan pria yang baru aku kenal...menuju zona perang.

Jika boleh jujur, aku sedikit takut juga. Sepanjang hidupku, aku selalu bertanggung jawab dan berhati-hati. Aku menjadi mahasiswi setelah masa SMA-ku dan tinggal dengan orang tuaku, dan kemudian pindah ke rumah Jhon setelah berkencan selama 2 tahun.  Aku mendapat RN (Registered Nurse) ku dari kampus yang bisa aku jangkau pulang pergi dari rumah. Aku tak pernah ikut perkumpulan mahasiswi atau hidup sendirian, tak pernah pergi ke pesta minum-minum atau mengalami one night stand (hubungan satu malam). Aku tak pernah melakukan hal yang tidak dapat ditebak.

Dan kemudian aku bertemu Shane. Dia memiliki cara membuka hambatanku, sebuah cara membuatku menginginkan hal-hal yang baru dan hidup berbeda. Dan aku mengenalnya hanya kurang dari 48 jam. Dua hari, atau satu malam dan satu siang hari kemudian hari berikutnya.

Aku bukannya ingin mengubah pikiranku, tapi aku sedikit gemetar.

Shane sepertinya menyadari hal ini. "Semuanya baik-baik saja, jangan tegang," katanya, tersenyum ke arahku.

Berdiri setinggi enam kaki empat inchi (193 cm), seperti Adonis, dengan garis muka terpahat dan mata hijau-abu-abu yang memerangkap, Shane Sorrenson menarik perhatian setiap wanita dan beberapa pria, di Bandara. Menjadi gadis dalam pelukannya, aku menemukan diriku menjadi subjek tatapan cabul daripada yang bisa aku lakukan. Aku berusaha mengabaikan tatapan-tatapan itu dan menjaga kakiku bergerak ketika Shane menggiringku melalui persimpangan dan menuju garis security. Dia menoleh sekali ke belakang, dan menggelengkan kepalanya. "Aku tak punya waktu untuk hal ini."

Sambil menarik tanganku, ia membimbingku menuju garis depan di mana ia masuk dan membisikkan sesuatu di telinga penjaga TSA (Transportation Security Administration). Penjaga itu nampak terkejut dan kemudian mengangguk dan mengarahkan kami, ke arah suara-suara jengkel di akhir garis.

Itu adalah petunjuk pertamaku bahwa Shane mungkin lebih dari yang aku kira. Bagaimana mungkin seorang pria, hanya dengan kata-kata, bisa melewati pemeriksaan?

Shane memberiku senyuman sombong dan menggiringku melewati bandara menuju sayap keberangkatan internasional. Bukannya masuk ke gate, Shane membimbing kami ke arah yang tak ditandai, pintu yang terkunci. Ia mengeluarkan keycard dari dompetnya, melakukan scan, dan memimpinku melewati ruang sempit, sebuah ruang masuk yang putih dan terang.

"Kemana kita akan pergi?" Tanyaku.

Shane hanya mengedipkan mata, "Kau akan tahu."

Matanya nampak kurang senang dengan pertanyaanku selanjutnya, jadi aku memilih diam dan mencoba menyesuaikan dengan kaki lebarnya.

Ruang masuk itu bercabang, jadi aku tak akan bisa menemukan jalan kembali meski aku mencoba, tapi Shane sepertinya tahu dengan jelas kemana ia akan pergi.

Di ujung, Shane membawa kami ke sebuah pintu yang ditandai dengan tanda merah "exit", mendorongnya membuka dan menarikku keluar ke udara malam yang dingin.

Airport di belakang kami terlihat meninggi. Kami ada di bagian airport yang aku tak pernah tahu bahwa tempat ini ada,  baris demi baris hanggar tertutup dengan pintu-pintu terbuka lebar, mesin jet berbunyi, lampu-lampu berkedip, mobil-mobil pembawa bagasi berlalu lalang, ini semua adalah kekacauan. Shane menuntunku berjalan kaki melintasi landasan menuju pintu hanggar dan menuju ruang yang menggema yang terisi jet penumpang pribadi kecil, lembut berwarna hitam. Jet ini sejenis pesawat untuk para aktor dan bintang, pebisnis kaya, bukannya perawat ER kelas menengah dari Troy, Michigan.

Seorang pria dengan setelan bisnis kusut melihat kami dan berlari untuk menemui kami. "Jetnya penuh, dan siap untuk pergi, Mr. Sorrenson. Rencana penerbangan sudah dicatat dan kami hanya menanti Anda dan tamu...Anda...untuk mengudara."

Mr. Sorrenson? Yang aku tahu Shane adalah CEO dan pendiri perusahaan, tapi hal ini membuatku segan, Shane tampak kesal mengetahui bahwa aku terkejut. Ia melirikku sekilas dengan sudut matanya, seperti bertanya-tanya apakah aku mengetahui sesuatu.

Aku sudah memberitahumu, Bradles. Panggil aku Shane. Mr. Sorrenson adalah ayahku."

"Baiklah sir-maksudku, Shane." kata Bradley.

"Apakah Anda membawa barang bawaan, sir?"

"Berhenti memanggilku Sir, sialan dan tidak. Tidak ada bawaan. Hanya dua buah tas."

Aku tertawa.

"Memangnya apa yang lucu?" Ia bertanya padaku.

"Tidak. Cuma kau." Aku mengguncangkan lengannya.

"Kenapa denganku?"

"Kenapa kau tak membiarkannya memanggilmu Mr. Sorrenson? atau Sir? dia cuma mau menunjukkan rasa hormat."

Shane mendengus. "Ini rumit. tapi, dia bukannya mau hormat, dia menjadi menyebalkan. Aku tak suka."

Ia menginjak ke bagian curam, melangkah di bagian sempit menuju bagian dalam jet, memotong beberapa pertanyaanku yang mengarah padanya.

Aku mengikutinya naik dan masuk ke dalam jet. Kurang dari semenit, Shane sudah duduk dengan tenang, di kursi kulit lounge dengan telepon seluler di telinganya. Dia menggunakan jempolnya memintaku duduk di kursi di sebelahnya. Dia sedang sibuk dan itu sudah berlangsung sejak ia mendapat telepon pada dini hari kemarin. Setelah ia mendapat telepon, ia berubah dari yang sebelumnya pasangan yang manis dan tentatif menjadi pekerja yang fokus dengan waktu dan kesabaran yang singkat untuk segala sesuatu tapi membawa kami ke Airport dan ke penerbangan.

Ia mendapatkan passport untukku dalam beberapa jam, dengan beberapa telepon saja, mengatur beberapa barangku untuk diambil dari rumah Jhon, mengemas dan menyimpannya dan membawa kami pergi dari kondonya menggunakan limousine.

Bel peringatan berbunyi dalam kepalaku, khususnya sekarang saat aku duduk dalam jet pribadi. Kursinya dilapisi dengan kulit yang nampak mahal, dan di balik masing-masing kursi ada monogram "S" tercetak di atasnya.

"'S' untuk Sorrenson?"

Aku duduk di kursi yang dipilih Shane, membelalakkan mata ke arah kemewahan di sekitarku. Ada bar yang terisi penuh di sepanjang dinding dan TV layar datar yang sangat besar di sisi lainnya. Melalui salah satu pintu yang terbuka aku bisa melihat kamar mandi yang lebih nyaman dibanding kamar mandi di rumah orang tuaku, dan di pintu lainnya, sebuah tempat tidur yang besarnya mendekati tempat tidur di apartemenku.

Setelah 5 menit memberi perintah di teleponnya, Shane mematikannya dan beralih padaku.

"Belum pernah terbang dengan pesawat pribadi sebelumnya?" tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku. "Aku belum pernah terbang sebelumnya, titik."

"Kau belum pernah berada dalam pesawat? Bahkan, ke Florida?"

"Shane, aku tak pernah meninggalkan Michigan. Aku pernah ke Ontario sekali, dengan Jhon, tapi hanya itu."

Ia mengangkat alisnya, mimik muka yang sudah kupelajari dapat mengekspresikan lebih dari ribuan kata. "Well," katanya, "Kau berada di sini untuk sebuah tantangan, kalau begitu."

Aku berusaha merumuskan pertanyaanku dengan hati-hati. "Shane...jet ini...milikmu? Milik perusahaanmu maksudku?"

Ia mengangkat bahu. "Ini milik keluargaku. Ayahku...punya banyak uang. Hanya saja lebih mudah untuk terbang secara pribadi, aku rasa."

"Siapa Ayahmu?"

"Shane menjepit batang hidungnya, seolah-olah ingin menyimpan informasi itu untuk dirinya saja. "Henry James Sorrenson."

Sekarang, aku tahu nama itu. Ayahnya merupakan salah satu orang terkaya di negara ini, seorang mogul bisnis yang memiliki beberapa miliar dolar. Namanya tidak sering muncul dalam berita, tapi Jhon, sebagai seorang bankir, secara rutin membaca majalah dan koran seperti Wallstreet Journal dan Forbes.

"Jadi, kau..."

Ia memotongku, kata-katanya cepat dan tegang. "Hanya Shane. Bisnis ayahku, kekayaan ayahku tak ada hubungannya denganku."

"Shane, aku—"

"Apakah kau benar-benar tak tahu siapa aku? Atau kau berpura-pura bodoh?"

Kegusarannya sangat nyata. Pria manis, perhatian, sensual yang aku temui dalam hujan, mengendarai Harley sudah hilang.

"Kenapa aku harus berlagak bodoh? Bagaimana aku bisa tahu siapa kau atau siapa ayahmu?"

"Kau akan terkejut. Keluargaku, saudara-saudara laki-lakiku, kami cenderung menarik perhatian. Para wanita tahu siapa kami, dan mereka terkadang melakukan segala cara untuk mendekati kami, berharap—"

Sekarang saatnya aku memotong. "Kalau kau pikir aku hanyalah orang yang mata duitan, lalu kenapa kau bawa aku kesini?"

"Aku tak mengatakan bahwa aku berpikir kau—"

"Itu yang tersirat darimu," kataku, merasa kesal sekarang. "Dan aku tidak menghargainya. Aku tahu kau pasti khawatir dengan orang-orang yang mengenalmu, tapi itu tak berarti setiap wanita yang mendekatkan dirinya padamu adalah untuk uangmu."

Aku berdiri, menyesali ketidaksabaranku. "Panggilkan aku mobil atau sesuatu. Aku akan pulang ke rumahku...atau ke rumah orang tuaku...hanya saja biarkan aku keluar dari jet ini, tolonglah."

Shane berdiri dan mengikutiku. "Kita sudah mulai bergerak, Leo. Jika kau benar-benar tak ingin pergi, aku masih bisa mengantarmu kembali. Tapi...dengarkan, Aku tak benar-benar bermaksud mengatakan kau di sini untuk uang keluargaku. Duduklah, kumohon."

Tangannya yang besar menekan bahuku, tekanan yang lembut dan terus menerus. Aku ingin tetap kesal, membiarkan hal ini menjadi rasa takutku sehingga aku bisa kembali ke rumah.

Kembali ke rutinitas yang membosankan, yang bisa ditebak....

Ia sepertinya mengetahui pertahananku melemah, karena ia memutarku dan menekanku ke arah pintu, satu jari menarik daguku untuk menatapnya. Matanya membakarku, dan hanya itu saja yang terjadi. Hanya sekilas, matanya menyapu wajahku ke seluruh tubuhku. Normalnya, seks adalah hal terakhir yang ada di pikiranku ketika aku dalam periode menstruasiku, tapi sesuatu mengenai Shane, sesuatu saat kami menghabiskan waktu di tempat tidurnya menimbulkan kelaparan dalam diriku. Bahkan, sekarang, saat moodku seharusnya tidak bisa ditebak, semua yang bisa aku pikirkan adalah bagaimana ia bisa membuatku merasa, dan bagaimana aku menginginkannya lagi. Tangannya menyentuhku seperti ia memilikiku, seperti ia tahu setiap rahasia dari tubuhku. Ia tahu bagaimana menggambarkan kenikmatan dariku seperti seolah-olah kami adalah pasangan yang sudah puluhan tahun dan bukannya beberapa hari.

Suara bergemuruh masuk melalui kabin, dan Shane menarikku ke arahnya menuju kursi. Aku membiarkannya mendudukkanku dan mengikatkan sabuk pengamanku, dan ia memegang tanganku ketika suara gemuruh meningkat berubah menjadi raungan.

Dan aku menjadi sadar dengan tekanan di dadaku, menyebar ke perutku. Jendela di samping Shane terbuka, menampakkan sayap hitam panjang dengan lampu-lampu yang berkedip pada ujungnya, dan garis putih yang bercahaya dalam samar-samar yang panjang, dan kemudian tanah terasa menjauh. Tekanan pada dada dan perutku berubah menjadi tak tertahankan ketika sesuatu yang berat merayapiku, menekanku ke kursiku. Jet itu bergerak dan melambung, bergetar sangat keras hingga aku berpikir ada sesuatu yang salah, sehingga pesawat itu akan hancur di sekitar kami.

Aku menjepit tangan Shane, gemetaran, semua ketegangan dan ketakutanku keluar ketika aku menyadari kami telah meninggalkan tanah, meninggalkan Amerika, meninggalkan semua yang aku tahu.

"Semuanya baik-baik saja, kita cuma lepas landas." Shane bergumam padaku. "Getarannya akan berhenti dalam beberapa menit."

Aku memutar kepalaku untuk melihatnya, dan ketenangan dalam mata hijau-abu-abunya menenangkanku.

Ia membuka sabuk pengamannya dan kemudian milikku, mengangkatku dengan tangannya. Memberi petunjuk ke arah kamar tidur, ia berkata "Kenapa kau tak berbaring dan beristirahat. Aku akan mengambilkanmu minum."

Aku mengangkat alisku ke arahnya. "Berbaring dan rileks, hmmm?"

Ia mendorongku ke arah kamar tidur, memukulku dari belakang ketika aku melangkah. "Ya, rileks. Ada saat untuk itu nanti, ketika kau tak...berhalangan."

"Berhalangan?"

"Yeah, well...kau tahu yang kumaksud." ia mengangkat bahu, terlihat malu.

Pria sangat lucu jika itu mengenai periode menstruasi.

Aku naik ke atas kasur yang luas, yang lebih lembut ternyata dari kasurku sendiri di rumah. Aku mengangkat selimut, mengagumi seprainya, yang sepertinya lebih mahal dari segala sesuatu di seluruh pakaianku jika digabungkan.

Ini adalah perasaan yang menggelisahkan, menyadari aku tak memiliki apa-apa. Aku punya telepon selularku, tapi itu atas nama Jhon, dan tidak akan berfungsi ketika kami keluar dari wilayah udara Amerika. Semuanya bergantung pada Shane, dan kami akan pergi ke negara asing, ke zona perang...

"Bagaimana aku bisa setuju?"

Shane datang dengan segelas alkohol. Aku mengambil salah satu, mencium baunya, merasakannya, dan menyadari bahwa ini adalah gin dan tonic terbaik.

"Untuk awal yang baru," katanya, mendetingkan gelasku dengan gelasnya.

"Untuk awal yang baru." Aku minum dengan lama, berterima kasih untuk rasa memabukkan yang dengan segera mendatangiku, dimulai dari perutku.

Mata Shane mengamatiku, "Kau ketakutan."

"Um, yeah," kataku sambil tertawa. "Apakah kau tak begitu? Aku meninggalkan semuanya di belakang dan setiap orang yang aku kenal, dengan pria yang baru aku temui. Aku tak memiliki apapun, kecuali bra-ku. Baju yang aku pakai, semua baju dan perlengkapannya...semua ini milikmu."

"Punya pikiran lain?" Shane duduk di sampingku di kasur, dengan kaki menyilang.

"Pikiran lain, seperti aku menyesali semuanya ini? tidak, tak terlalu. Ini adalah petualangan, dan aku bersemangat, tapi yeah, aku takut. Khususnya sejak aku tahu kita bukannya pergi untuk liburan. Kita akan pergi ke zona perang."

Shane meletakkan tangannya di pahaku, meremasnya lembut. "Aku akan menjagamu. Kau tahu itu, kan?"

Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat tak peduli. "Sungguh. Maksudku, aku tak akan berada di sini jika aku tak mempercayaimu. Ketika kau bilang padaku aku ikut denganmu, Aku seharusnya tertawa di depanmu. Aku bisa kembali ke rumah orang tuaku. Hal ini akan memalukan dan sulit, tapi mereka akan mengurusku sampai aku dapat mencari jalan keluar."

"Aku tak pernah bilang begitu, Leo. Aku memintamu." kata Shane.

Aku memutar mataku. "Kau bilang padaku. Kau memberiku pilihan, tapi kau tahu itu bukan salah satunya. Kembali ke mantanku yang brengsek, atau pergi denganmu. Tak perlu berpikir banyak di sini."

"Kenapa kau percaya padaku?"

Aku menarik nafas panjang dan berat sebelum menjawab; ini adalah pertanyaan yang adil, dan aku juga ingin menjawabnya untuk diriku. "Ada banyak hal. Kau menjagaku ketika aku dalam masalah. Kau tak mengambil keuntungan dariku. Maksudku...kau melakukannya, tapi tidak sebelum aku memberitahukan dengan jelas bahwa aku juga menginginkanmu." Aku mengingat kembali pada kenangan saat itu. "Siapa yang aku bodohi? Aku mengarahkan diriku padamu."

Shane memberiku senyuman jahat. "Jangan berdebat, manis."

"Diamlah. Aku yakin aku bukanlah wanita pertama yang menyodorkan dirinya padamu, dan aku tahu aku tak akan menjadi yang terakhir."

Mata Shane menggelap. "Kau mungkin bukan yang pertama, aku tak akan bohong tentang hal itu. Wanita menyodorkan diri mereka padaku sepanjang hidupku, tapi semuanya selalu mengenai namaku dan uang ayahku, kurang lebih."

Ia menarikku ke pangkuannya dan membungkus lengannya di sekitarku. "Untuk menjadi yang terakhir? Setelah denganmu, Leo, Aku tak yakin akan ada orang lain yang melebihinya." Ia mengambil minumannya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.

Aku memerah dan membenamkan diriku ke dalam dekapannya. "Kau baru saja mengatakannya."

"Aku tidak."

Aku melihat ke arahnya, merengut. "Kau membuatku memikirkan hal yang tak mungkin."

Aku mengisap dan mengelus jari-jariku melalui rambutnya. "Tapi aku? Aku tak tahu apapun. Aku tak pernah melakukan apapun, tak pernah kemana-mana...Aku hanya selalu dengan Jhon. Aku memang bukan perawan, tapi aku memang seperti itu untuk semua hal yang aku tahu mengenai perlengkapan..seks, selain posisi missionari."

Shane tertawa, menghibur tapi bukannya mengejek. "Leo, apa kau tahu bagaimana perasaanku tentangmu? Yeah, aku lebih sering bersama orang lain dibanding kau, tapi....ini tak selalu tentang pengalaman, atau apa yang kau tahu dan tak kau tahu. Kau menginginkannya. Ini seperti kau tak pernah merasakan apa-apa sebelumnya, dan kau tak pernah merasa cukup. Caramu bereaksi dengan apa yang kulakukan...hal itu membuatku menjadi liar."

"Semua percakapan tentang seks ini membuatku bergairah," kataku.

"Aku juga, tapi kau...kau tahu."

Aku dapat merasakan ia mengeras di bawahku. Aku ingin menyentuhnya, merasakannya. Kami tak dapat melakukan secara persis seperti yang aku mau, tapi ada cara lain. Aku meletakkan gelasku di samping gelasnya dan berputar di atas pangkuannya. Aku melingkarkan kakiku di sekitar pinggangnya, menekan mulutku ke arahnya dan merasakan gin di nafasnya. Aku mencari mulutnya dengan lidahku, aroma alkohol di dalam mulutku. Ia mempererat cengkeramannya, menjalankan telapak tangannya naik dan turun di punggungku; jari-jarinya menjalar di pemisah antara kaos dan jinsku, untuk menyentuh kulitku.

Aku mengerang saat tekanan tangannya berada pada tubuhku, menekan dadaku dan menggerakkan pinggulku melawannya.

"Apa yang kau lakukan?" Shane berbisik, berusaha menarik diri. "Kau menggodaku."

Aku menarik kaosku terbuka dan melepas bra-ku. "Menggoda? Aku? Tak pernah." Aku melemparkan bra-ku ke samping. Mata Shane terbakar, dan tangannya meluncur ke tulang belakangku, menggelitik di sekitar tulang rusukku dan meluncur di sekitar putingku. Kejantanannya keras di bawahku, menekan ristletingnya.

"Menggoda." Shane menjepit putingku di antara jari-jarinya. "Membuatku menginginkanmu ketika aku tak bisa memilikmu."

"Tak bisa memilikiku?" Aku menggerakkan lidahku di sepanjang bibir atasku dan berdiri dari pangkuannya. "Kau bisa memilikiku, hanya saja bukan di situ. Aku yakin kau bisa memikirkan cara lain, bisakah kau?"

Aku mendorongnya ke belakang dan membuka celananya, mengangkat kaosnya keluar dari tubuhnya.

Shane melepas kaosnya dan meletakkannya di sebelah, mengamatiku. Aku membuka celananya dan menarik jinsnya, meninggalkannya hanya dengan underwearnya.

Kejantanannya menekan bagian terbuka dari celana boxernya. Aku menekannya, menyandar padanya dan mendaratkan ciuman di sepanjang tubuhnya, setiap puting, sisi tubuhnya, turun ke arah perutnya menuju ototnya yang membentuk V. Aku melepas boxernya, menyentuh kakinya dan pinggangnya dengan bibirku. Punggungnya melengkung ketika aku membungkus jari-jariku di sekitarnya. Rambutku berantakan dan terjatuh menggelitiki perutnya ketika aku membungkuk untuk menyentuh ujungnya dengan lidahku ke bagian ujung dari kepala kejantanannya yang membesar. Payudaraku menyelinap dan meluncur di sepanjang kulitnya dengan setiap gerakan. Aku menjalankan lidahku di sepanjang ujungnya, menjilati cairan yang keluar dari dirinya; ia mengerang dan memutar pinggangnya. Aku menggenggam miliknya sampai ke pangkalnya dan menyebarkan ludahku di sepanjang miliknya, mencampurnya dengan cairannya yang keluar, dan kemudian memasukkannya ke mulutku, menekan lidahku melawan gigi bawahku.

"Lalu...bagaimana denganmu?" Shane terkesiap.

Aku melihat ke arahnya. "Bagaimana denganku?"

"Kau melakukan ini padaku, tapi aku tak—tak bisa melakukan hal yang sama padamu..." Katanya. Ia kesulitan berpikir, menyusun kalimatnya.

"Hal bagusnya, kita tidak sedang membuat skor bukan, huh?" Kataku, mengocoknya dengan kedua tangan. "Kalau begitu kau berhutang padaku, bagaimana?"

Ia hanya bisa mengangguk, kemudian, ketika pinggangnya mulai melawan dan melengkung. Ia hampir sampai, aku sedang akan memasukkannya kembali ke dalam mulutku ketika sebuah pikiran merasukiku. Ia menyalahkanku karena menggodanya, jadi aku memutuskan mengikuti tuduhannya, sedikit.

Aku melepaskannya dan memberinya jilatan akhir di sepanjang ujungnya dan kemudian meniupkan udara ke arahnya. Aku menggerakkan lenganku ke tubuhnya, menggosokkan diriku melawannya, masih mengenakan celanaku. Aku mencium bahunya ketika aku mendapatkannya, kemudian dagunya, dan mulutnya.

"Leo, ya Tuhan, kau membuatku gila. Aku baru saja akan—" ia menggoyangkan pinggangnya ke milikku,sebuah permintaan keluar "Ya Tuhan, aku sudah hampir sampai, please..."

Aku mengeluarkan suara lugu yang palsu. "Oh, kau sudah? Aku tak seharusnya berhenti kalau begitu bukan, huh? Kau mau aku melanjutkannya, Shane?"

Matanya terbuka dan menatapku. "Menggoda."

Aku tersenyum padanya, memberikan tatapan nakal dan mesum. "Ohh, aku tak menggodamu. Aku akan membuatmu sampai. Hanya saja...belum."

Aku menuruni tubuhnya hingga kejantanannya berhenti di payudaraku, yang mana memberiku sebuah ide. Aku menggenggam payudaraku di tanganku dan menekannya bersamaan di sekitar miliknya yang keras, berdenyut, dan mengguncangkan diriku sehingga ujung kemaluannya keluar di antaranya. Ia menggeram dan menyebut namaku, dalam nada yang sama seolah-olah ia mengeluarkan kata kutukan. Ujung kejantanannya terangkat ke atas dan mendekati wajahku, jadi aku menyentuhkan daguku turun dan mengambilnya ke dalam mulutku, mengisapnya keras dan mengulanginya sekali lagi.

"Lakukan lagi, please..." Suara Shane serak dan seluruh badannya gemetar di bawahku.

Aku mengguncangkan tubuhku naik dan turun, menekannya dekat dan lebih dekat ke tepi, mengambil kepalanya ke dalam mulutku setiap ia mendorong keluar dari belahan dadaku.

"Oh ya Tuhan, aku hampir sampai, tolong jangan berhenti..." Ia terkesiap.

Tapi aku berhenti dan ia dengan tiba-tiba kehilangan, menggeram dengan kebutuhan. Aku turun ke bawah dan menaruh pipiku pada tulang pinggannya, menjilat batangnya dan menangkup kedua bolanya di tanganku. Aku menjilati dan menciumnya, bekerja dengan mulutku di sepanjang keseluruhan kejantanannya, tapi tak pernah membiarkannya masuk, tak pernah membiarkannya yakin. Ia menyentakkan pinggulnya dengan liar sekarang, sebuah permohonan dalam diam untuk membiarkannya sampai.

"Beritahu aku apa yang kau mau, Shane?"

"Kau...aku menginginkanmu."

Aku tertawa, mengambil kejantanannya dalam genggaman tanganku dan memompanya, memperlambatnya di sepanjang batangnya yang licin.

"Kau memilikiku. Aku di sini." Kataku. "Katakan apa yang benar-benasr kau mau. Katakan, aku ingin mendengarmu mengatakannya."

Shane terkejut ketika ia mendekati sampai. Dan aku kecolongan sekali lagi ketika ia mulai menggosokkan pinggangnya ke arahku.

"Ya Tuhan, Leo. Kau tahu apa yang kumau."

"Ya, aku tahu. Tapi aku mau kau mengatakannya." Aku mendapatkan sensasi dari permainan ini, dari menggambarkan kenikmatannya keluar hingga hampir menyakitkan, semacam mendirikan kekuasaan pada dirinya, kata-kata yang terlintas dan berhenti di kepalaku: dominasi.

Aku merendahkan kepalaku ke arahnya, menggelitikinya dengan rambutku, menggosokkan ujung kepalanya ke payudaraku, pada saat tertentu, menstimulasi putingku. Aku membuat diriku sendiri basah dengan melakukan hal ini untuknya.

"Kau ingin aku memohon?" Shane mengeluarkan kata-kata terakhir.

"Uh huh." Aku mengarahkan lidahku di atas kejantanannya, mengambilnya ke mulutku sedalam yang aku bisa, dan mengucapkannya lagi, "mmm-hmmm."

Getaran dari suaraku melawan bagian sensisitifnya dan mendorongnya menjadi liar dan ia hampir sampai. Ia mengguncangkan pinggangnya lebih cepat sekarang, dan aku mengeluarkan miliknya, menggenggamnya, memompanya dengan penuh semangat, membuatnya siap, hampir sampai.

Aku merasakan ia membesar dan semakin membesar ketika ia mendekati orgasme dan aku melepaskannya pada saat ia hampir sampai, terengah-engah.

"F*ck me, Leo." Shane mengerang. "Kau ingin aku memohon? Baiklah, aku mohon. Please, Leo. Buat aku datang. Please."

"Apakah sesulit itu?" Kataku, menggerakkan tanganku pada kejantanannya, dengan gerakan tangan bergantian.

"Ya, aku tak pernah memohon. Tak pernah sekalipun."

"Sekarang kau melakukannya."

"Hanya untukmu," kata Shane. "Hanya kau yang bisa...melakukannya."

Ia kehabisan nafas sekarang, memajukan pinggangnya ke arah tanganku. Aku merasa ia gemetar, berdenyut, dan kemudian aku mengunci bibirku di sekitar kejantanannya ketika ia mulai mencapai klimaks.

"Ya, ya. Aku sampai. Aku keluar. Jangan berhenti, please, jangan berhenti."

Aku tak berhenti, kali ini. Aku merasa badannya mengepal dan pembuluh darah pada ereksinya berdenyut-denyut di mulutku ketika ia sampai dengan keras, menyemburkan cairan panas dan asin. Ia tidak menggeram atau melenguh kali ini, seperti sebelumnya di rumahnya. Ia  terengah-engah kehabisan nafas, dan menggertakkan giginya dan mengerang dengan suara rendah. Aku memompanya lebih keras, mengisapnya untuk mengimbangi gerakan pinggangnya. Ia masih datang, menyemprot lagi dan lagi, dan aku tak membiarkannya turun dari puncak, tak mengeluarkannya dari mulutku, tapi melanjutkan gerakan tanganku pada kemaluannya hingga gerakannya melemah dan ia menjadi melembut di tanganku.

Ketika ia masih terengah-engah dan lemas di tanganku,

Aku merangkak berbaring di atasnya dan lengannya melingkupiku. Tubuhnya gemetar dengan guncangan, menggetarkanku.

"Ya Tuhan..tadi itu, sangat intens," kata Shane.

"Kau keluar dengan keras."

Ia melihat ke bawah ke arahku, dengan campuran emosi di matanya. "Tak ada yang pernah melakukan hal itu sebelumnya padaku, membuatku menunggu seperti itu."

"Membuatmu menunggu?" Aku menggigit dadanya dengan gigiku. "Aku membuatmu memohon."

Shane tertawa. "Yeah, kau melakukannya. Kau pasti sangat bangga sekarang, kan?"

Aku mengangguk. "Yeah, sedikit."

"Well, jangan dipikirkan kalau begitu." Ia menekanku ke belakang dan merendahkan mulutnya ke payudaraku, mengambil putingku dengan giginya. "Dan kau sebaiknya percaya kalau aku akan membalasmu."

Oh wow, ia akan membalasku. Ia mempermainkan putingku, membuatnya mengeras dan nyeri, memanasi perutku. Ia meletakkan kakinya di antara milikku dan aku melingkarkan kakiku di sekitarnya, menggerakkannya ke arah kejantanannya yang keras dan kuat. Ia mengambil kedua payudaraku di tangannya, menciumku dengan cukup keras hingga membuatku kehilangan nafas, memijit putingku dan menggosokkan kakinya ke kewanitaanku.

Hanya dengan mulutnya pada mulutku, tangannya pada tubuhku, kakinya berada di antara kewanitaanku sudah cukup untuk membuatku memanas, meningkatkan tekanan pada otot-ototku. Tapi, meskipun kami bergerak bersama, meski ia menyentuh putingku, menciumnya, dan menggigitnya, aku tak bisa sampai tanpa stimulasi langsung.

Dan kemudian dengan senyum jahatnya, Shane bergerak menjauhiku, dan berbaring di kasur, mengambil gelasnya yang berisi gin dari samping meja yang ia letakkan ketika aku pertama kali mulai menyentuhnya tadi.

"Tidak!" Aku merangkak ke arahnya.

"Aku memintamu kembali."

Aku menjatuhkan badanku di atasnya, basah, nyeri dan mendamba.

"Aku pikir yang kau maksud sebelumnya...seperti yang aku lakukan padamu."

Aku menggosokkan tubuhku padanya, mengangkanginya. "Kumohon, jangan seperti ini. Kita tak bisa bercinta selama beberapa hari ke depan!"

Shane hanya terkekeh. "Ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, bukan?"

***


Penerjemah: +Meyke AD

Poskan Komentar

19 comments

whoa..hot hot hot..tq mas admin dan mba meyke ^^

Waaahhh panas panas...mba meyke TL kpanasan G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ ya..xixixixix
º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°º ya mba n mamas
D tgu kelanjutannya

Nah tukang ojekkk siapa yg lewat....thanks...ya buat admin dan tl nya

hahaha,,, dibales...
mksh Mba Meyke n Mas Yudi

Bab pertama,,,langsung PANA§
Mba Meyke kepanasan nggak di stu,,,
nii fira bawakan kipas angin ¿¿¿:-)

kipas ud full nih, plus cuaca dingin hujan, tp ttp gerahhh...

Wah, tukang ojek seksi~ mbak Meyke kuat banget deh te-el ini wkwk
makasih mbak Meyke dan mas mimin *hugs*

˚◦°•hмм...(―˛―“)..•°◦˚

Yaampun astagaaa
Panaaasss
Makasih mb meyke,mas admin :D

Wow,,,,
Leo nakal yagh??

Danke mbak Mey,,makasih mas Yudi,,,

Wow,,,,
Leo nakal yagh??

Danke mbak Mey,,makasih mas Yudi,,,

wow,,,wow,,,makin seru nih...

Uhhhhhh menemani hujan yg deras...hiottt
mksh mb meyke...n mas mimin yg udh post

thankz..mbk meyke,mz yudi.
Hmmm..wow.. Hot, tpi pnasaran nie..slanjut'y gmna yaaa...

thankz..mbk meyke,mz yudi.
Hmmm..wow.. Hot, tpi pnasaran nie..slanjut'y gmna yaaa...

Setiap bab kya Πγª psti Hot.. Heheh. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Meyke dan Mas Yudi.

huwaaa ini yang dari dulu gue tunggu...
akhirnya pasangan paling HOT ini balik juga.. welcome back ^^

wow hot hot pop !!hhe
mksih mba meykeu ...mas yudi !!

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top