16
bb2-thumb
Khartoum, Sudan

Aku melakukan yang terbaik untuk tidak mempedulikan suara tembakan dan teriakan-teriakan untuk fokus pada pendarahan seorang pria muda di depanku. Ia mengoceh secara panik dalam bahasa Arab, dadanya bergerak terengah-engah. Aku meletakkan perban ke lubang yang berdarah di sampingnya, menekan sekuat yang aku bisa sementara Shane berlutut di sampingku, mengisi suntikan dengan morfin. Sarung tangan karetnya berwarna merah tua, bajunya terkena cipratan dan menempel, mata hijau-abu-abu lasernya fokus, suram, dan tajam.

Ia menusukkan jarum suntik ke kaki korban, menekan jarum suntik ke sisi. Seketika, rasa sakit yang dirasakan pria muda itu berhenti, dan Shane mulai menutupnya dengan perban dan kain kasa. Shane bekerja dalam ritme yang tenang, setiap gerakan terlatih dan secara otomatis. Aku berpegangan pada kesadaranku saja. Hanya Shane satu-satunya hal yang aku kenal di dunia ini. Ia kekuatanku, sandaranku di mana aku menempel ketika dunia di sekitarku adalah kegilaan, kekacauan, dan perang.

Ia tak berbicara padaku, kecuali untuk memberikan perintah dalam waktu kurang dari tujuh puluh dua jam, dan kami tak cukup tidur lebih dari delapan puluh jam. Setiap jam dari waktu-waktu tadi kami habiskan dengan membalut luka menggunakan perban, menjahit, menyuntik ampul morfin, memegangi orang-orang ketika mereka tewas. Kami selesai menambal pria muda tadi, meninggalkannya untuk diserahkan ke kakak Shane untuk memindahkannya ke tempat aman. Shane mengambil tanganku dan menarikku ke korban berikutnya, seorang pria tua dengan jenggot panjang dan tiga lubang di bawah perutnya, dengan darah dan cairan lainnya yang merembes. Ia ketakutan dan berteriak. Shane melirik ke arahku, matanya memberi tanda. Ia menggelengkan kepalanya tak kentara, dan aku tahu korban ini tak akan bertahan. Shane memberinya morfin dan kemudian yang lainnya, dan pria itu terdiam, matanya memancarkan terima kasih pada Shane. Aku mendengar kata-kata yang aku kenali, "Allah...Insha'allah..." dan kemudian ia berhenti.

Aku sudah sering melihat orang meninggal sebelumnya. Aku bekerja di Gawat Darurat selama tujuh tahun, dimulai sebagai murid usia pertengahan dua puluh yang ketakutan dengan bayangannya sendiri, baru keluar dari suatu tempat antah berantah, semenanjung Michigan, dan aku bekerja di rumah sakit yang besar. Aku pernah melihat kematian. Aku akan menyertai pasien-pasien ketika mereka menghembuskan nafas terakhirnya. Beberapa dari mereka merupakan korban tembakan. Tapi…yang ini berbeda. Aku melihat laki-laki ini ditembak di depan mataku. Ia sehat dan bersemangat, berlutut di pintu masuk dengan senapan AK-47 yang meledak dan berisik, tak sampai sepuluh kaki jauhnya dari tempat kami bekerja.

Kemudian, dalam semburan darah dan suara gedebuk, laki-laki itu rubuh. Semua itu terjadi ketika kami sedang mengobati laki-laki muda tadi.

Aku tersedak, menarik nafas dalam, dan terjatuh di tanah tepat di sebelah laki-laki tua yang tewas itu. Tak ada yang berfungsi. Suara-suara meredup di sekitarku, ototku membeku, dan otakku mengendap. Aku tak dapat bergerak, tak dapat bernafas. Aku hanya ingin membaringkan tubuhku, menutup mataku, dan tak ingin melihat darah. Aku tak melihat, mendengar, dan merasakan apapun. 

Shane menggoyang-goyangkanku. "Kau harus bangun, sayang. Kau tak bisa berhenti di sini. Kita belum selesai." Ia menyentakkan lenganku dengan keras; sebuah dengungan panas melalui telingaku. "Bergeraklah, Leo!"

Sesuatu yang mendesak dalam suaranya, fakta utama bahwa ia berteriak membuatku bergerak. Kami mengenakan seragam dengan tanda silang merah yang besar di punggung, di lengan, di dada, dan di tas kami, dengan jelas menandai kami sebagai tenaga medis. Kami netral, mendapat kesempatan yang sama; kami menolong siapa saja yang terluka, tanpa mempedulikan hubungan politik. Mereka tak bermaksud membidik kami, kata Shane tadi, tapi tak menghentikan tembakan yang menyasar mengenai kami.

Ia menarikku berlari. Semua terasa kabur, pasir, bangunan-bangunan, langit biru, cahaya matahari. Shane berada di sampingku, tangannya memegangi bisepku dengan erat, sesuatu berderak-derak di depan kami dan di belakang kami, juga di sekeliling kami. Shane diam, besar, dan kuat berlari di sampingku, menjagaku. Kekuatanku.

Suara-suara kembali, emosi kembali.

Kami mencapai persimpangan dan Shane menarikku ke samping menuju ruangan kosong, bangunan yang pernah di bom, penuh dengan furniture yang rusak. Ia menekanku ke pojok dan melindungiku dengan tubuhnya. Kami berdua mengenakan pelindung tubuh, jadi ia terlihat lebih besar dibanding biasanya. Ia memiliki pistol yang menempel di setiap pahanya dan bandana hitam yang ditandai dengan silang merah di rambutnya. Matanya membakarku.

"Kamu baik-baik saja?" Suaranya melandaku, sebuah bisikan yang menyaingi hiruk pikuk tembakan dan teriakan-teriakan di luar. Ia berkeringat, dadanya naik turun dan tangannya berada di pinggulku.

 "Aku baik-baik saja," Aku mengiyakan, menatap ke arahnya.

Ya Tuhan, ia sungguh seksi. Shane benar-benar seorang prajurit. Aku menemukan diriku bergairah dengan keberadaannya di depanku, mata hijau abu-abunya tajam menatapku, tubuhnya yang keras melindungiku dari dunia, tak takut, dan tak terhentikan. Aku menjadi sadar karena caranya menyeretku, melindungiku, menyuruhku tetap berjalan, tenang seperti biasa. Ada sesuatu yang menajalar dalam diriku, energi yang berdengung dalam pembuluh darahku, seperti api yang tak bisa aku perlambat, dinginkan, atau aku kontrol, api di dalam pembuluh darahku, dan membakar perutku. Mata Shane terpaku ke arahku, berkilap dalam bayangan, mendorong api itu turun di antara pahaku, membuat daerah itu gemetaran.

Ini absurd, tapi tak ada yang lebih baik saat ini dibanding merasakan tangan Shane pada diriku. Ini adalah tempat yang salah, waktu yang salah, tapi aku tak bisa mengenyahkannya.

"Apakah ini buruk jika aku bergairah sekarang ini?" tanyaku, mengamati  matanya melalui bulu matanya yang direndahkan.

Ia menyeringai dan menekan pinggangnya ke arahku. "Tidak. Ini reaksi yang normal karena adrenalin. Aku selalu bergairah setelah pertempuran."

"Pertempuran masih berlangsung," kataku.

"Memang betul." kata Shane, mendekatkan jarak antara bibir kami. "Tapi kita sudah menjauh."

"Apa kita perlu keluar dari sini?"

Ia tak menjawab pertanyaanku, hanya menekan bibirnya ke bibirku, sebuah hawa panas yang pelan dan lembut melewati kami, gairah perlahan meningkat dari bersentuhannya mulut kami. Suara dan ketakutan serta kelelahan menghilang, digantikan dengan tubuh Shane melawan tubuhku dan bibirnya serta tangannya berada pada tubuhku. Aku kehilangan diriku dalam ciuman itu, setengah menyadari detak jantungku dan desingan peluru di luar, sebuah moment yang dengan jelas tak memungkinkan sama sekali menyusup dalam otakku.

Kami terpisah, dan matanya gila dengan kebutuhan, jarinya menekan pinggulku. Aku merasakan jantungnya bergemuruh di dadanya. Aku tahu ini gila, benar-benar menggelikan, tapi aku ingin loncat dan mengaitkan kakiku di pinggulnya, menurunkan celana kami dan membuatnya berada di dalamku.

Ia melihatnya di mataku, aku melihatnya di matanya. Kami bergerak pada saat yang bersamaan, terperangkap dalam kegilaan dari gairah adrenalin. Tangannya dan tanganku bergerak bersamaan, melepaskan celana dan menurunkannya dari pinggang kami. Aku tak benar-benar melepaskan celana, tapi melepaskan sepatuku dan membebaskan salah satu kaki.

Shane mengangkatku dan mengaitkan kakiku di sekitarnya. Ia mendorong dirinya dengan cepat, dorongan yang keras. Aku membenamkan mulutku ke lehernya, menggigitnya untuk meredam teriakanku. Tangannya di bawah pantatku, memegangiku, mengangkatku dan menurunkanku ke dalamnya, dengan ritme yang keras dan fantastis: keluar-masuk, keluar-masuk, keluar-masuk.

Aku hampir sampai, tepat pada puncak karena dorongan kejantanannya di dalamku. Momen yang berbahaya, kenyataan bahwa seseorang mungkin melewati kami pada saat ini, dan tak hanya melihatku, tapi mungkin melukai kami, bahkan membunuh kami….hal ini membuatku semakin bergairah, yang mana lebih erotis hanya karena kegilaan terlarang dari momen ini.

Shane berputar dan menekan punggungku menempel ke tembok, dan kami saling berhadapan sekarang sehingga ia bisa melihat pintu masuk dengan salah satu matanya.

Aku mendorong dinding yang kasar dengan punggungku untuk mengarahkan pinggulku turun ke arahnya, dan ia menaikkan kakinya untuk menusuk ke dalam diriku, membanting dengan dorongan yang tak terlalu menyakitkan menggunakan kekuatan kaki dan inti dirinya.

Bibir kami bertemu lagi, dan ledakan terjadi di dalamku, gemuruh ledakan melanda tubuhku, membuatku menjepit di sekitarnya, lengan dan kaki mengunci tubuhnya dengan kekuatan yang menggila dan berapi-api ketika klimaks menerjangku.

Aku berteriak di dalam mulutnya, dan sekarang ia mulai akan keluar, melambatkan dorongannya ketika ia keluar dari tubuhku, meracau di bibirku, keringat dari dahi kami berbaur, tangisan kami bercampur, orgasme kami bergabung.

Aku tersampir di bahunya, wajahku tepat di sampingnya, dan dengan ujung mataku aku melihat sekelebat gerakan di dekat pintu keluar masuk, kilatan kulit.

Aku meraih ke bawah tanpa berpikir dan menarik pistol Shane, mengarahkannya ke pintu. Aku tak tahu apa yang terjadi, apa yang membuatku melakukannya, tapi inilah, sebuah pistol di tanganku, mengarahkannya ke manusia lain.

Shane menyadarinya, mengalihkan salah satu lengannya yang berada di pantatku. Aku mengaitkan kakiku dengan erat di sekitarnya untuk menyangga berat tubuhku. Ia juga memegang senjata di tangannya, dan aku tak bisa melihat apa yang kami  tuju kecuali pintu, tapi aku tetap mengarahkannya ke sana sampai Shane merendahkan senjatanya dan  menyarungkannya kembali.

Ia mengangkatku darinya dan menurunkanku. Kami membetulkan pakaian kami dan aku memberikan Shane senjatanya kembali, masih tak bisa percaya dengan apa yang baru saja kami lakukan.

"Itu tadi…" Aku mulai bicara.

"Gila," Shane mengakhirinya.

"Ya." Aku merasa berani, dan tak terlalu basah. "Gila, tapi menyenangkan."

Ia mengambil dari dalam tasnya dan membawa keluar segumpal kain kasa. "Ini," Ia memberikannya padaku dan memutar punggungnya. "Aku rasa kau ingin sedikit membersihkan dirimu."

Aku mengambil kain kasa itu dan membersihkan diri, berterima kasih dan tersentuh dengan perhatiannya

Shane melihatku ketika aku membersihkan diri, sebuah seringaian tampak pada wajahnya. "Apa kau pernah menembakkan senjata sebelumnya?"

Aku mengancingkan bajuku, memasukkannya, dan merapikannya.

"Belum."

"Apa kau benar-benar sanggup menarik pelatuknya?"

Aku membuang kain kasa yang sudah kupakai pada  tumpukan puing-puing dan berdiri, menghadapnya. Aku mengangkat bahu. "Aku tak tahu. Apa kau bisa tahu bagaimana kau bereaksi sampai hal itu benar-benar terjadi?"

Shane menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak benar-benar begitu. Aku cuma terkesan karena kau menariknya."  Ia menundukkan kepalanya, terlihat hampir tersipu.

"Itu tadi saudara-saudaraku. Berada di pintu. Mereka melihat kita."

Aku tertawa, tidak benar-benar terkesan apalagi kaget.

"Mereka masih di luar bukan?"

"Yap, sepertinya."

Aku menaikkan suaraku agar sampai keluar. "Kalian sudah bisa masuk. Kami sudah selesai sekarang," aku melirik Shane. "Kau tidak dengan halus memperlihatkan status hubungan kita. Kepada saudara-saudaramu, maksudku. Kau seperti memberi tanda yang jelas di dahiku yang terbaca "milikku""

Shane menggeleng, tak melihat ketika ketiga saudaranya memasuki ruangan. "Aku mengenal mereka. Jika aku tak mengklaim dirimu, mereka akan segera bergerak. Kemudian aku harus membunuh mereka. Yang mana akan merugikan bisnis ini."

Luke berada di samping Shane. "Kau terdengar seperti Ayah. Semuanya selalu tentang bisnis. Shane masih tidak melihat, menyingkirkan kotoran di kakinya dengan jarinya. "Itu hanya guyonan, brengsek."

"Begitu juga aku, sialan."

Rob berdiri di dekat pintu keluar, melepas sepasang sapu tangan karet. "Diamlah, kalian berdua. Dasar brengsek kalian berdua."

Jon datang paling terakhir dan menurunkan bungkusan di tengah-tengah ruangan, berbaring, dan menggunakan tas sebagai bantal.

"Aku rasa kita sudah mengenai dinding. Kita masih jauh dari titik di mana kita akan efektif. Kita butuh istirahat."

Tak ada satupun dari mereka yang melihatku, tak juga Shane. Aku menyadari bahwa ini adalah cara mereka untuk tidak mempedulikan kami. Karena tak ingin masalah ini menggantung selama waktu istirahat yang akan kuhabiskan bersama mereka, aku memutuskan untuk melawannya.

"Kalian semua sialan. Aku akan mengatakannya, karena kalian semua bersikap seperti bayi karena hal ini, ya, Shane dan aku baru saja berhubungan seks. Tepat di tempat di mana kau duduk, sebenarnya, Luke."

Luke menyeringai dan berlari ke arah kakaknya yang terdekat.

Shane tertawa pelan, bahunya bergetar. "Hati-hati, Leo. Aku rasa kau baru saja menakuti Luke selamanya."

Luke menggeliat, berdiri, dan berpindah ke sisi lain ruangan. "Aku tidak ingin melihatnya, tidak ingin tahu bagaimana." Ia menyeringai padaku, nyatanya.

"Bukan urusanku." kata Rob, masih tak melihatku. "Kalian berdua sudah dewasa. Shane dapat bersetubuh dengan siapa yang ia inginkan."

"Yang menjadi perhatianku adalah di tengah-tengah perang sipil mungkin bukan tempat yang terbaik untuk melakukan itu." kata Jon. "Tapi kemudian, ini bukan aku yang melakukannya. Gairah seks adalah reaksi normal. Tubuh membutuhkan jalan untuk membersihkan hormon yang dilepaskan selama stress dan adrenalin dari sebuah pertempuran."

"Itu yang Shane katakan padaku," kataku. "Kami baru saja mengetes teorinya."

Saudara-saudaranya semuanya menahan tawa, berusaha menjaga ketenangannya dengan tidak melihat pada salah satu atau apapun. Untuk beberapa alasan, hal ini menggangguku. Sesuatu memberitahuku jika aku ingin rasa hormat dari pria-pria itu, aku harus mendapatkannya.

"Jadi, Shane," aku berkata, senormal mungkin yang aku bisa, "Apa kau merasa sudah dibersihkan? Atau aku harus meminta saudara-saudaramu untuk keluar selama beberapa menit?"

Shane tersedak dalam tawanya, melirikku dengan terkejut, kemudian ke arah saudara-saudaranya, yang semuanya memerah wajahnya dan bergetar.

"Aku rasa aku masih bisa untuk pembersihan lainnya." kata Shane.

"Aku tak ingin pergi," kata Jon, tanpa membuka matanya. "Tapi jangan sungkan. Aku tak akan mengganggu."

Luke yang pertama tertawa secara lebar, dan berikutnya semuanya tertawa, bahkan Jon yang praktis dan pendiam.

"Kamu bagus, Leo," kata Luke. "Aku bisa melihat mengapa Shane membawamu. Lagipula, kamu bekerja dengan baik hari ini. Tak buruk untuk seorang pendatang baru."

"Sudah kubilang ia akan baik-baik saja," kata Shane, kemudian berdiri. Aku harus pergi."

Jon berdiri. "Kita akan bertemu jam enam kalau begitu. Tak boleh pergi kemana-mana sendirian."

Kedua pria itu pergi, dan aku sendirian dengan Rob dan Luke. Rob berbadan  besar, keberadaannya diam di ujung yang jauh, menggali tanah dengan ujung pisau lipat. Luke hanya terdiam, melihatku, seolah-olah ia tak dapat mengenaliku.

"Apa?" tanyaku.

Luke mengangkat bahu. "Kau tak seperti wanita-wanita lain yang Shane kencani."

"Aku tak ingin tahu." Hal ini mendekati daerah berbahaya untukku. Aku hanya mengenal Shane begitu saja, dan ini adalah momen di mana aku merasa sangat pedih.

"Ini sebuah pujian," kata Luke. "Kebanyakan dari mereka...uh, well, tak sepertimu."

Áku tertawa. "Sangat membantu."

"Kau pintar, dan bisa diandalkan," kata Rob. "Dan kau bukan burung kecil penakut."

"Terima kasih, aku rasa."

"Bagaimana kau bisa sampai di sini? tanya Luke. "Shane tak pernah membawa orang lain bersamanya. Ia tidak mempekerjakan orang lain. Ini masalah keluarga, dan ini biasanya hanya untuk kami berempat."

Aku mengangkat bahu. "Itu terjadi di saat-saat terakhir. Aku tak mengenal Shane cukup lama."

Keduanya mengubah tampilan yang tak dapat aku baca. Sesuatu memberitahuku bahwa keberadaanku adalah teka-teki yang serius yang tak dapat mereka pecahkan.

"Berhenti menginterogasinya," Shane menggeram ketika ia kembali ke dalam, Jon tertinggal. "Aku tahu ia akan baik-baik saja, dan memang begitu."

Luke mengangkat tangannya dalam isyarat menghitung. "Hei, aku hanya penasaran." Ia menyeringai ke arah Shane, dengan mimik serakah diwajahnya. "Kau berhutang lima ribu dolar, kau tahu."

Muka Shane mengeras, ekspresinya muram dan marah. "Bukan sekarang, Luke."

"Kau kalah taruhan. Aku kira kau harus membayar secepatnya ketika kita sampai di Amerika."

"Kubilang bukan sekarang, Sialan."

Sesuatu memberitahuku ini ada hubungannya denganku. "Shane? Apa yang mereka bicarakan?"

Shane mendesah dan menjedukkan kepala belakangnya ke tembok.

"Terima kasih banyak, brengsek," katanya pada Luke. Padaku, ia berkata, luar lebih sepi. Ayo kita bicara di luar."

"Katakan padaku sekarang. Mereka dengan jelas tahu apa yang kau bicarakan." Aku melewati ruangan dan berdiri di depannya.

Ia mengambil tanganku dan matanya menatapku dan menjauh. "Baiklah. Aku akan membunuh Luke nanti. Dengar, kau tahu ketika aku memberitahumu, pada saat kita pertama kali bertemu, bahwa aku tak berhubungan dengan wanita selama setahun ini?"

"Seks, maksudmu. Kau tak berhubungan seks selama setahun."

"Yeah. Sebenarnya, itu karena aku bertaruh dengan Luke. Ia bertaruh lima ribu dolar denganku bahwa aku tak akan sanggup melewati seks selama dua tahun." Ia mengangkat bahu "Karena kau dan aku tidur bersama, maka aku kalah taruhan."

Aku memutar mataku. "Kau bilang kau hanya lelah karena seks yang tak ada gunanya. Jadi itu karena taruhan? itu benar-benar bodoh. Kenapa kau mau mengambilnya? Dua tahun itu seperti...selamanya. Ya Tuhan." Aku menggigil.

Luke tertawa.

"Itu juga yang aku pikirkan. Shane selalu menjadi bajingan, jadi aku memanfaatkan itu. Dan aku rasa aku benar."

"Tapi...lima ribu dolar? Benar-benar terjadi?"

Aku tak bisa membayangkan menghabiskan uang sebesar itu untuk sesuatu seperti taruhan.

"Apa kau tahu berapa banyak uang itu? kau tahu, kau bisa membayarnya untuk, seperti seperempat biaya sekolahku? atau setengah tagihan mobilku?"

Luke melambaikan tangannya. "Lima ribu? itu hal kecil. Itu seperti recehan untuk Shane. Penghasilannya lebih besar dari itu bahkan ketika ia sedang buang air."

"Apa yang kau bicarakan?" Kondominium Shane nyaman, tapi tak benar-benar bagus. Jika ia mampu menghabiskan lima ribu untuk sebuah taruhan dan adiknya menganggap hal itu sebagai 'recehan'...

Shane melintasi ruangan dalam satu langkah dan memegang tenggorokan adiknya. "Di..am."

Luke tidak melawan. "Oke, baiklah. Lepaskan, sialan. Aku bilang oke."

Shane menurunkannya dan bergegas keluar, tak terlalu melihatku.

Aku berputar ke arah Luke, yang sedang merapikan bajunya, kelihatan terkejut tapi tidak bingung.

"Apa yang terjadi, Luke?" Tanyaku.

Rob menjawabnya. "Shane seorang pria yang tertutup. Jika ada sesuatu hal yang tak ia katakan padamu mengenai dirinya, berarti ia memiliki alasannya." Ia melotot ke arah adiknya yang paling kecil.

"Luke seharusnya belajar kapan harus menghentikan keonaran."

Rob memasukkan pisau yang dari tadi dimainkannya ke tempatnya yang berada di pinggangnya.

"Shane adalah yang terbaik di antara kami." Kata Rob, akhirnya sambil melihat ke arahku. Ia benar-benar baik. Aku menyukaimu, Leo. Jadi aku akan memberitahumu sesuatu: kau ada di sini, dengan kami, melakukan hal ini? Ini adalah hal yang besar untuk Shane meski ia membuatnya seolah-olah tidak seperti itu. Ini berarti sesuatu."

"Berbicara tentang tahu kapan harus berhenti membuat onar," Luke bergumam.

Rob menaikkan alis ke arah Luke, sebuah isyarat ekspresif yang terlihat seperti kebiasaan keluarga.

"Kau bicara sesuatu? Aku akan mematahkanmu, anak manis."

Jon hanya diam sepanjang waktu, tapi ia berbicara sekarang. "Berhenti bertengkar. Seseorang harus berbicara dengannya, kau tahu."

Tak ada yang bersemangat dengan gagasan itu. Rob menyikut Luke di bahunya dengan sikunya.

"Aku? ia marah padaku. Jika aku yang pergi, aku hanya akan membuatnya menjadi lebih buruk." Kata Luke.

Aku mendesah. "Kalian semua payah. Aku yang akan pergi, kalau begitu."

Semua pria itu terlihat terkejut, tapi tak menghentikanku ketika aku meninggalkan bangunan itu untuk mencari Shane. Ia melintasi jalan dan beberapa pintu, berjongkok dengan bayangan dan bermain-main dengan sebuah peluru. Aku berdiri di sampingnya dan menunggu.

"Mereka bermulut besar," kata dia, akhirnya.

"Mereka baik. Aku menyukai mereka." Aku bergerak sehingga aku menyapu dagunya dengan pahaku. Keberadaannya mengambil ketakutanku. Berada di udara terbuka seperti ini, meskipun malam hari, menakutkanku. Beberapa hari terakhir aku  melihat pertempuran hampir selalu pada siang hari, akan tetapi saat ini sangat tenang.

"Kedua belah pihak harus mengatur pasukannya." Kata Shane,  menebak tepat pada sumber kekhawatiranku.

"Akan tenang selama satu atau dua hari ke depan. Kita akan keluar pada esok pagi dan benar-benar beristirahat besok."

Aku menyandarkan punggungku ke pintu kayu yang tertutup dan bergerak turun sehingga duduk di sampingnya. Lengannya merengkuhku, meraihku ke dadanya. Ia mengangkatku ke atas pangkuannya. Kediaman ini menyesakkan nafas, khususnya setelah suara-suara yang tak berakhir selama beberapa hari terakhir ini.

"Apa yang baru saja Luke bicarakan, Shane?"

"Apa itu penting? Ia bermulut besar. Ia tak tahu kapan harus menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri."

"Jika hal ini membuatmu kecewa, maka sangat jelas bahwa hal ini penting," kataku.

Shane mendesah. "Aku memiliki beberapa paten medis. Aku menemukan beberapa hal ketika aku di Kesatuan, dan hal ini menjadi usaha medis pribadi yang akan memberikan keuntungan. Aku menjadikannya bisnis. Aku membuatnya berjalan dengan sendirinya, karena aku tak ingin dipusingkan dengan hal ini.

"Jadi jet itu..."

"Itu benar-benar milik ayahku, bukan milikku." Ia mendesah, nafasnya mengenai rambutku.

"Itu bukan hal besar. Itu hanya soal uang."

Aku berpikir tentang semua ini. Ada lebih dari ini secara jelas, dan aku menduga ada yang lebih lagi mengenai Shane daripada yang aku sangkakan, tapi aku tak dapat dengan baik mengira tentangnya ketika ia mengatakan semua mengenai dirinya secara sekaligus, bukan?

"Selama kau bukan, seperti, semacam pembunuh berantai rahasia atau sesuatu lainnya." Aku memutar kepalaku untuk menekan bibirku ke bibrnya. "Aku ada di sini untukmu. Semua hal yang lain hanyalah detil."

Shane menggelengkan kepalanya. "Kau gila, apa kau tahu? Aku tak percaya kau benar-benar datang ke sini bersamaku. Kau mendapat pertempuran yang sebenarnya." Ia menyibakkan rambutku dari wajahku. "Aku pernah melihat banyak pria yang tidak dapat menangani apa yang sudah kau lewati selama beberapa hari ini. Aku sangat bangga padamu."

Aku terkesan bahwa ia bangga padaku, seperti ketika aku kecil belajar sebuah trik atau hal lain, tapi tidak dapat melewatinya. Dan aku bangga dengan diriku. Ini seperti di neraka, tapi aku masih di sini. Aku akan mendapat mimpi buruk selama beberapa waktu, aku rasa, tapi aku bisa mengatasinya.

***


Penerjemah: +Meyke AD

Poskan Komentar

16 comments

pertamax gan...yg penting comment dulu, baru baca ceritanya.. he...he...

Thanks mbak meyke and mas mimin :D

Bagian ini keren bgt.
Sy cinta bgt sm chara leo disini.. Suka dg pola pikir nya.

Makasih very much untuk mba meyke :kedip2:
makasih jg untuk mas admin. ^^

Astagaaa
Di tengah2 pertempuran, masih sempetnyaa X.X
Hahahaha
Makasih mb meyke, mas yudi :D

Keluarga yang Menarik,,,

Danke mbak Meyke,,,
Makasih Mas Yudi,,,

Tks mba meyke n mamas

Oh yaaaa ampyuuunnnn...
Msh smpt2ny lg perang gituuu... Hahaha...
Mksh Mba Meyke n Mas Yudi

Hub keluarga yg menarik. Saling memahami meski usil.... thanks mbak meyke & mas yudi

Mba meyke + mas yudhi, maaf aku cuma mw koreksi dikit. Judulnya kurang sehuruf, hehehehehe #readers yg cerewet. Anyway, thank u a whole bunch.

jd pengen punya suami dokter, tp jgn yg dikirim ke perang
hehehehe..
punya saudara cowok semua itu kadang seru ya :D

makasih mbak Meyke
makasih mas yudi..

Wuiiihh fantastis tuwh xD
Heumhh makin menarik ceritanya xD Konflik nya jg mulai kelyatan =D
suka sama luke yg kocak surronsen bersaudara~~~

aaaaaa penasaran >///<

mkasii mas yudi n mba meyke :* :*

ditunggu banget next bab nyah xxD

Wah Leo, bikin Shane bertekuk lutut ˚°º≈<3Sîþ(y)<3Sîþ(y)<3Sîþ(y)≈º°˚ :)

Leo...i love u..
Cemungut yua leo..hehehe..
Shane..nurut z deh ma leo
Thankz mz yudi, mbk meyke...
Tunggu lanjutn'y yua

Wow, OMG pertempuran luar dalam hehehe
Makasih makasih makasih

Mau ralat dikit, ada percakapan yg harusnya luke yg bilang bukan shane....
"Aku? ia marah padaku. Jika aku yang pergi, aku hanya akan membuatnya menjadi lebih buruk." Kata Shane.
Dari reader yg CINTA BERAT sama PORTNOV :)

suka deh dgn karakter leo dlm cerita ini

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top