8

bb2-thumb
Kairo, Mesir

Panasnya tempat ini bukan hanya karena perbedaan suhu, masalah derajat panas. Tapi berkaitan dengan kehidupan itu sendiri. Cuaca di sini merupakan monster yang menyelinap melalui lorong-lorong dan berkeliaran di jalan-jalan utama, menempel ke jendela, dinding, dan di langit-langit, menggulung bintang dan bahkan bulan di malam hari.

Shane bilang aku akan melewatinya, tapi kami sudah berada di Kairo sekitar 1 minggu, mengumpulkan persediaan, pertemuan-pertemuan dengan perusahaannya yang lain, dan aku masih berjuang bernafas setiap kali aku melangkah dari pendingin super dari hotel setiap pagi. Perbedaan di dalam ruangan dan di luar ruangan sangat mengejutkan. Di dalam hotel sangat dingin hingga membuatmu menggigil dan kulitmu berdiri, di luar kau tak bisa bergerak karena panas yang mendidih, tak bisa bernafas karena udara kering dan sinar matahari pada kulitmu.

Saudara-saudara laki-lakinya sama seperti Shane, pria besar dengan tubuh dan otot yang keras, wajah yang datar dan kaku juga tampan seolah-olah mereka dipahat dari kayu oleh seniman dan menjadi hidup. Akan tetapi, mereka berbeda kepribadian.

Jika Shane hangat dan lembut-bersamaku, setidaknya-dan posesif dengan intelektual yang tajam, saudara laki-lakinya fisiknya lebih lelaki, kepandaian mereka beragam pada tangan, mata, dan kaki dibandingkan kecerdikan dan perhitungan. Mereka bermata dingin, ramah, berbicara perlahan dan sedikit tersenyum.

Mereka secara terbuka terkejut dengan keberadaanku dan keposesifan Shane yang jelas terlihat. Kami bertemu di kafe kecil di mana seorang pria tua merokok dalam lingkaran yang terbentuk dari pipa panjang seperti logam yang Shane sebut hookah. Kakaknya meminum kopi hitam dari cangkir kecil yang membuat semua perlengkapan terlihat mungil di tangan mereka. Mereka masing-masing berdiri ketika kami datang, tanganku menggenggam Shane erat.

Keempat saudaranya memiliki tinggi yang sama dan semuanya berambut gelap dan bentuk tubuh atraktif yang sama, tetapi perbedaan di antara mereka sangat banyak. Rob, yang paling tua, adalah pria yang dewasa, mendekati empat puluh menurut perkiraanku, benar-benar seorang laki-laki, gagah dan keras dan bergerak perlahan, mata yang bercahaya berwarna hitam, rambut pendek, luka besar melintang di wajahnya seperti terkena ledakan meriam. Jon adalah yang tertua kedua, mungkin tiga puluh enam. Ia tinggi seperti yang lain, sekitar 6 kaki 3 inci, tapi ia kurus, lembut, dan sehat, lengan yang keras dan otot yang tak berlemak, sosok yang tajam, tangan yang cekatan, kepala yang dicukur, dan tubuh yang bertato. 

Shane yang tertua ketiga, dan Luke adalah yang paling muda. Di antara semuanya, Luke yang paling atraktif. Ia memiliki tampilan seorang bintang, rambut yang sempurna, hidung yang lurus dan proporsional, dagu yang kuat, mata hijau yang hampir berwarna-warni, tubuh yang seolah-olah dipahat dari batu, melebihi Shane—Luke mengenakan rompi kulit biker yang memperlihatkan dadanya yang terbuka.

Kami berjalan menuju cafe yang gelap, berasap, sebuah tempat di luar ruangan yang tak memiliki pendingin udara, dan seluruh saudaranya berdiri.

Shane memang bukan yang tertua, tapi untuk beberapa alasan, mereka semua memperlakukannya seperti ia adalah pemimpin mereka. Mereka berjabat tangan dan menggerakkan bahu antar pria yang sebenarnya bukanlah ritual memeluk yang sebenarnya. Shane meletakkan tangannya di punggungku, terlalu pelan untuk bisa disebut sebuah isyarat perkenalan, dan memperkenalkanku sebagai anggota terbaru dari tim ini.

Semuanya melihat ke arahku. Luke, si bintang film, bahkan sampai merendahkan kacamatanya dan memandangku dengan tatapan lurus seperti dalam film Top Gun.

Shane menaikkan alisnya dan menyempitkan matanya, tatapan mengancam yang terus terang. Luke menaikkan tangannya dalam tanda 'aku menyerah' dan melepaskan kacamatanya.

Aku terkesan dengan semua postur mereka, tapi menjaga kekaguman itu hanya untukku.

"Lama sekali hingga kau sampai kesini," Rob menggerutu, suaranya gaduh seperti suara longsoran.

Shane melambaikan tangannya dengan malas. "Aku memiliki beberapa urusan di London. Sekarang aku di sini. Jadi, apa yang terjadi di Sudan?"

"Pertempuran, memangnya apa lagi?" Kata Jon,  mengangkat bahunya dengan singkat.

"Pertempurannya terfokus di Khartoum, sebagian besar. Kita akan berada di tempat itu, aku rasa. Tempat itu merupakan tempat pertempuran terbesar, dan kita paling dibutuhkan di sana."

Rob melirik ke arahku melalui bagian atas pinggiran cangkir kopi mikronya, kemudian ke arah Shane. "Jadi, Leona. Kau pernah bekerja seperti ini sebelumnya?"

Ia melambai sambil lalu ke arah Timur. “Semacam di bawah tekanan atau sejenisnya?”

Shane menjawabkan untukku. "Ia menghabiskan sedikitnya 10 tahun sebagai perawat gawat darurat. Ia akan baik-baik saja."

Aku memutar mataku ke arah Shane, terganggu karena ia berbicara untukku. "Aku bisa berbicara untukku sendiri, kau tahu. Dan ya, aku pernah. Aku mungkin belum pernah berada dalam pertempuran, seperti kalian berempat, tapi aku tahu cara bersikap tetap tenang di bawah tekanan."

"Aku harap begitu," kata Rob. "Karena aku yakin tak ada waktu untuk menyelamatkan pendatang baru ketika peluru-peluru sialan itu mulai beterbangan.”

"Ia akan baik-baik saja," kata Shane, suaranya dalam dan terganggu.

Meskipun ia meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja, ia nampak khawatir, yang mana tidak membantu kegugupanku. Aku berlagak tenang untuk Shane bersaudara, tapi kini aku duduk di negara lain, dikelilingi dengan jutaan orang yang bahasanya tak aku pahami, agamanya tak kumengerti, dan budayanya yang benar-benar asing untukku. Aku merasa entah bagaimana aku sudah terlibat sedalam ini.

Shane menyadari ketakutanku yang tersembuyi dan menggoyangkan tanganku di bawah meja.

Bukan untuk pertama kali, dan tak juga merupakan yang terakhir. Aku berpikir, bagaimana aku sudah melibatkan diriku ke dalam hal ini?

Kami meninggalkan Khartoum hari berikutnya, jadi aku akan segera mencari tahu.

***

Penerjemah: +Meyke AD

Poskan Komentar

8 comments

Kenalan dg kakak ipar dan adik ipar deh si olive. Kpn ya ketemu sm martua nya ?

Makasih mba meyke dan mas admin.

Makasih mbak Meyke..Makasih Mas Yudi

Singkat bab ini...
Tks mba meyke n mamas

Makasih mbak meyke and mas mimin :D

mksh mb meyke n mas mimin...
uhhh singkat n padet yah bab ini..
shane 1 aj bgtu gmn ad 4...

Makasih mb meyke, mas yudi :D

bab ini pendek banget yah

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top