14

bbtb-thumb
Robert bersandar di kursinya dan menyilangkan tangannya di belakang kepalanya. Renee menutup pintu dan berbalik menghadapnya, tetapi tidak bergerak mendekat. Renee tidak mengatakan apapun. Dia berdiri di sana, menunggu dengan tenang. Dengan ketenangan yang membuat Robert bertambah gila.

Renee memperhatikan dengan terpesona selagi ekspresi Robert makin bertambah kejam. Suara Robert terdengar agak jauh. "Aku mau kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu."

Renee menarik lurus punggungnya, berdiri tegak dan menjawab dengan sebuah kata sederhana. "Tidak."

Robert merubah taktik dengan segera. "Kemarilah."

Renee merasa terkejut hingga merasakan rona merah di wajahnya. Ia membiarkan tawa agak histeris keluar dan menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Renee, kemarilah, sayang." Robert menepuk permukaan mengkilap mejanya.

Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan Robert jika ia benar-benar datang ke sana? Renee tergoda mencari tahu. Keinginan tersembunyi momen itu mendorongnya dan Renee menyadarinya. Renee melangkah dua langkah ke depan meja Robert, lalu ia berhenti. "Tidak."

Robert mengerang ketika Renee berhenti. "Aku mulai lelah mendengar kata tidak dari bibir indahmu. Cari kata-kata lain."

Robert berdiri.

Renee melangkah mundur.

Robert menyeberangi ruangan hingga ia berdiri di depan Renee. Ia meraih dan mengunci pintu.

Syaraf Renee menegang ketika grendel kunci menutup dan ia mencoba mengontrol nafasnya. Robert sangat besar. Robert punya bahu selebar New Orleans Saint. Renee tahu Robert terbiasa mengerjakan pekerjaan fisik yang keras untuk menghidupinya hingga ia mengambil kesempatan dan membuka perusahaan konstruksinya sendiri. Hal itu sudah terbayar. Di lihat dari standar manapun ia kaya, tapi ia masih punya tubuh berotot seorang buruh pekerja fisik.

Renee menginginkan hal ini hingga hal itu hampir menelannya. Tapi taruhannya sudah berubah. Bukan pekerjaannya lagi yang dijadikan taruhan. Pekerjaan akan datang dan pergi. Sudah berapa lama sejak ia terakhir kali merasakan perasaan seperti ini mengenai seorang pria? Apakah ia pernah merasa seperti ini? Jika ia membiarkan Robert menangkapnya sekarang, segalanya akan berakhir. Robert akan memanfaatkannya, mengeluarkan Renee dari sistemnya, dan hal itu akan berlangsung seperti itu. Renee menginginkan lebih. Ia tidak bisa membiarkan Robert tahu pengaruhnya pada Renee, ia tidak bisa menyerahkannya dengan mudah pada Robert.

Nafas Renee terengah ketika Robert meraih dan mengunci rambutnya di tangannya. Robert melilitkan rambut Renee di tangannya hingga Robert menyentuh kepala Renee. Ia bersandar dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Renee. Punggung Renee bersandar di pintu.

Robert menjauhkan bibirnya. "katakan ya, Renee."

Renee menggelengkan kepalanya. "Tidak."

Robert mengacuhkan Renee. "Rok ini cukup pendek, sayang." Tangan Robert meluncur ke bawah dan mengencang di  sekitar keliman rok Rene. "Apa kau memakainya untukku?"

Renee berdiri kaku penuh antisipasi dalam genggaman Robert. Otaknya meleleh. Robert telah mendominasi Renee sebelumnya di ruang arsip, mengguncang Renee dengan kekuatan serta intensitasnya. Hari ini godaannya berubah. Kelembutan terdengar dalam suaranya. Sikapnya sama galaknya seperti sebelumnya, gerakannya posesif dan meyakinkan, namun suaranya lembut. Perubahan pribadinya mengancam keseimbangannya.

Mata Robert berubah menjadi coklat tua sewaktu menatap Renee. Ini sudah cukup baik hingga Renee pikir ia akan mati. Renee menelan ludah ketika ia merasakan tangan Robert perlahan-lahan menarik roknya ke atas pahanya. Renee tahu jika ia melihat ke bawah, celana dalamnya akan kelihatan.

Mata Renee mulai sayu dan menutup. Genggaman tangan Robert di rambut Renee mengencang. "Tidak, tidak, tidak. Biarkan matamu terbuka untukku."

Dengan berani Renee membuka matanya.

"Bagus. Kau punya mata yang indah. Sekarang. Kita punya negosiasi yang harus kita bereskan." Robert merendahkan kepalanya dan menghisap bibir bawah Renee. Mata Renee menutup lagi.

Renee merintih dan merasakan celana dalamnya basah. Ia berpegangan pada Robert ketika Robert menghisap dan menjilat bibir bawahnya.

Robert menekankan kejantanannya pada Renee dan Renee merasakan ereksi Robert yang keras. Renee semakin sulit bernafas.

Robert mengangkat kepalanya. Renee membuka matanya dan matanya terpaku pada Robert. "Gadis baik." Suaranya dalam. "Okay. Kau tidak mau mengundurkan diri dari pekerjaanmu. Aku akan membiarkanmu menang sekarang. Tetapi kau akan harus memberiku balasan." Renee tersentak di tangan Robert. Robert mengontrol gerakan Renee. "Sh….sh…aku ingin memastikan kau mengerti kemana hal ini akan berlanjut."

Renee berpegangan erat-erat dengan diam di tangan Robert.

Suara Robert mendesak. "Anggukkan kepalamu kalau kau paham."

Kepala Renee tersentak ke atas dan ke bawah, hanya sekali.

"Bagus. Tentu saja, aku harus membuktikannya." Tangan Robert berpindah dari ujung lipatan rok Renee ke gundukan feminin di antara paha Renee. Robert mengirimkan panas melalui celana dalamnya. Mata Renee menutup sewaktu mulut Robert turun padanya.

Robert merasakan semua kelembutan Renee di sekitarnya dan berpikir kepalanya akan meledak. Ya Tuhan, ia ingin menyetubuhi Renee sejak lama. Ia tak tahu bahwa ia sudah menguasainya. Untuk yang pertama kalinya dengan Renee, seks di kantor bukanlah yang ia inginkan. Bahkan, seks di kantor adalah yang sedang ia usahakan untuk ia coba hindari. Ia harus mengendalikan hal ini. Tapi ia harus menyentuh Renee. Sekarang.

Tubuh Renee sangat liat selagi ia berdiri terperangkap diantara pintu dan tubuh besar Robert. Serbuan lidah Robert di mulutnya dan tangan Robert di antara kakinya membius Renee. Renee mulai mendorong Robert dengan erangan frustasi.

Dengan kasar Robert menyingkirkan celana dalam Renee dan menemukan lipatan femininnya. Lidah dan bibir Robert memulai menghisap dengan lembut selagi jari tangannya yang besar dan kasar mendorong ke dalam miliknya. Detak jantung Renee bertambah cepat selagi panas membanjiri mereka dan jari Robert meluncur ke dalam dirinya.

Otot milik Renee menjepit jari Robert dengan serakah dan ia merintih terengah-engah. Renee menghentikan ciuman untuk menghirup oksigen ke paru-parunya. Robert membiarkan dia menghirup udara dan langsung menciumnya lagi. Serangan gencar itu benar-benar brutal secara fisik. Robert meneguk dari mulut Renee dan tidak menunjukkan ia akan memberi Renee kelonggaran. Tangan Robert mendorong Renee, jari tangan Robert membuat Rene tak berdaya di lengannya sewaktu Robert menusuk jari ke dalamnya ketika Renee hampir mengalami orgasme. 

Robert mengangkat kepalanya dan memandang Renee, berpegangan di lengannya. Renee menyeimbangkan dirinya sewaktu Robert menggeram padanya. "Kau akan memberikan padaku apa yang kuinginkan. Ini hanyalah permulaan."

Renee mengenali kesombongan dan sikap arogan pada suara Robert sewaktu Robert merendahkan bibirnya ke bibir Renee. Hal itu masih belum cukup untuk tetap menjaganya terbang menuju tepian. Tubuh Renee menegang sewaktu orgasme yang intens menelannya.

Ia bersandar di pintu, perasaannya berkabur dan detak jantungnya tak terterkendali,  saat ia mencoba untuk berdiri.

Deringan telepon menyentak Renee kembali kepada realitas.

Deringan telepon itu menginterupsi keheningan di sekitar mereka dan tidak mau berhenti. Robert memindahkan tangannya dari Renee sewaktu dengan selembut mungkin dan memantapkan Renee di pintu. Ia berjalan ke mejanya dan mengangkat teleponnya. "Thibodeaux."

Renee mencoba mengontrol gelembung-gelembung histeris yang mengancam naik ke permukaan sewaktu ia membereskan pakaiannya. Renee melihat Robert berbalik menghadapinya sembari mendengarkan orang yang meneleponnya. Ekspresi yang tak tergambarkan bermunculan di wajahnya hingga dengan cepat berubah menjadi pertentangan. Renee terganggu dan sedih sewaktu Robert tetap mendengarkan dalam keheningan dan menatapnya dengan tatapan menyala-nyala penuh amarah.

Dan kemudian semuanya terlepas. Kemarahannya naik ke permukaan. "Tidak. Sialan, Cameron, dia sekretarisku. Kau tak boleh punya nomor teleponnya." Robert berhenti mendengarkan sewaktu Renee menatap terkejut dalam diam sewaktu ia menyadari percakapan Robert adalah tentang dirinya. "Bukan urusanmu ia menikah atau tidak. Menjauhlah darinya. Jangan telepon dia. Jangan datang kemari. Faktanya, aku yang akan membawa cetak birunya padamu kalau sudah siap." Robert membanting telepon.

Robert memberengut marah. Renee mengenali kemarahan yang tak ada habis-habisnya meningkat dan memandar dari Robert. Mata Robert tidak terlihat bimbang selagi ia melangkah kearah Renee lagi. Renee merasa akan pingsan sewaktu ia menyadari Robert akan datang lagi padanya. Dengan hanya beberapa detik waktu yang dimilikinya, ia membuka kunci pintu, berbalik dan lari.

***

Penerjemah: +Kunta
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

14 comments

hahaha,,, Tante Renee kabuurrr... xixixi...
makiin penasaran sama cerita Om n Tante ini (berasa muda)
mksh Mba Kunta n Mas Yudi

Wooow
*nahan napas*
Makasih mb kunta, mas mimin :D

Hm....mantap,
Btw Mas mimin kok fifty shadesnyA kok g pernah muncul ya....
Kangen nie AMA mr. Cristian...
Thks for all

Xixi.... Makasih mba kunta n ms yudi...

Olive nya kabur tuh max.
Pasti krn engga kuat menghadapi pesona si max nih.
Walah, klo sy udah jatuh dr awal tuh klo disuruh ngadepin si max. Pesona character co dominan di novel, susah di lewatkan sich. XP

Makasih ya mba kunta sm mas admin.
Semangat terus :D

Olive nya kabur tuh max.
Pasti krn engga kuat menghadapi pesona si max nih.
Walah, klo sy udah jatuh dr awal tuh klo disuruh ngadepin si max. Pesona character co dominan di novel, susah di lewatkan sich. XP

Makasih ya mba kunta sm mas admin.
Semangat terus :D

Olive nya kabur tuh max.
Pasti krn engga kuat menghadapi pesona si max nih.
Walah, klo sy udah jatuh dr awal tuh klo disuruh ngadepin si max. Pesona character co dominan di novel, susah di lewatkan sich. XP

Makasih ya mba kunta sm mas admin.
Semangat terus :D

†ђąηk ўσυ mba kunta n mas admin

Om Robert Ribet ama Sich... Bukan pelecehan kok om klo tante Renee jga suka, kn malah bagus Tante Renee ttp krj jdi bsa ktemu stiap hari dktr.. Heheh. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Kunta dan mas Yudi

Yah...baru penasaran dah kabur olivianya...
Lanjut bsk y om robe

trims mbak kunta

Astaga . .
Renee tetap pada pendirian nya gak mau mengundurkan diri .
James kah yg nelpon ?

jiaah..
takut keenakan lagi kyx ny si tante renee
:-q
@bee

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top