16

bbtb-thumb
Robert langsung menatap kearahnya sebelum kata-katanya menembus kabut tebal perasaan cemburu yang menerkamnya. Seketika itu juga dia bergerak kearahnya.

Dia melangkah memutari meja dan pada detik berikutnya sudah berada dihadapannya. Mengulurkan tangannya dan meraih Renee lalu mendorong punggungnya kebelakang. Dia menahannya dengan satu tangan sementara yang lain meraih keatas dan mencengkeram rambutnya lalu menarik wajahnya ke arahnya.

Matanya seakan mabuk penuh gairah saat ia mengaitkan mulutnya ke mulut Renee. Ciuman yang kasar, posesif, tanpa kompromi. Robert menahan tubuh Renee sambil mulutnya melahap mulut Renee.

Renee semakin menempelkan tubuhnya ke cengkeraman Robert saat sensasi melanda dirinya. Perasaan ganda menyelimuti dirinya. Perasaan bahagia membanjirinya, karena dia sepenuhnya mengenali hasrat Robert. Dan dia merasa sakit, karena dia tahu dia tak akan berhasil mempertahankannya. Robert mengganggunya dan tidak ada pria lain sebelum dia yang melakukannya, dan Renee berpikir dia tidak memiliki apapun yang dibutuhkan untuk menjerat seorang pria se intens Robert Thibodeaux. Tapi itu tidak akan menghentikannya untuk menikmati pengalaman ini. Momen ini adalah sekali dalam seumur hidup, untuk merasakan gairah seperti ini. Dan dia sudah cukup dewasa, dan wanita seutuhnya, untuk mewujudkan hal ini.

Robert mengalami cengkeraman gairahnya yang paling intens yang pernah dia alami. Tubuhnya seakan berpikir untuk dirinya sendiri. Dia hampir tidak menyadari kalau ia tidak punya kendali. Dia hanya tak ingin melukai hati Renee. Dia hanya ingin melihatnya telanjang, sekarang. Tapi ia tidak ingin melukai hatinya. Kata-kata itu seperti mantra di dalam benaknya.

Dia melepaskan tangan Renee dan menarik bajunya keatas dan mendorongnya keatas kepalanya lalu melepaskannya. Hal ini dilakukan dengan sangat cepat. Tidak bisa dilakukan dengan pelan-pelan. Tapi dia ingin menyentuh seluruh tubuh Renee. Melihat semua tubuhnya. Dia menjangkau diantara tubuhnya dan Renee lalu melepas kaitan bra-nya yang ada di depan. Payudara langsung Renee tumpah ketangannya. Robert mengerang dan menundukkan kepalanya lalu menarik puting merah muda yang sudah keras ke dalam mulutnya.

Renee dibanjiri oleh hasrat yang begitu cepat, dia merasa seperti akan tenggelam. Mulut Robert bergerak menghisap payudaranya, membuatnya basah diantara kakinya. Cairan panas tumpah diantara pangkal pahanya dan Renee mendorong tubuhnya kearah dia. Dia memegang kepala Robert di dadanya.

Hal ini tidak cukup bagi Robert dan ia mengangkat tubuh Reneeke dalam pelukannya dan membawanya ke kamar tidur. Dia membaringkannya di tempat tidur dan menarik kemejanya ke atas kepalanya. Dia menarik napasnya saat menatap Renee terbaring di sana, kakinya tergeletak terpisah dan kepalanya bersandar pada sikunya, dadanya terengah-engah.

Ya Tuhan, Robert nyaris ejakulasi di dalam celananya.

Dia berdiri di kaki ranjang dan mengulurkan tangannya lalu meraih kaki Renee. Dia menarik kearahnya dan memegang celana pendek Renee lalu menariknya keluar, kemudian menyeret celana dalamnya ke bawah pada saat yang sama.

Tiba-tiba gerakan ini membuat Renee cemas dan dia segera menggerakkan tubuhnya kembali ke atas, menjauh dari Robert. Dadanya terengah-engah dari gerakannya yang tiba-tiba dan juga karena gairahnya. Dia berbaring di sana, telanjang, kecuali masih ada bra yang sudah terbuka, sambil menatap Robert.

Robert mengambil kesempatan itu untuk melepaskan seluruh pakaiannya. Dia terus menatap ke arah Renee, tatapannya berpindah dari rambut pirangnya yang begitu menakjubkan, lalu turun kebagian tubuh mungilnya yang sempurna, kuku kakinya dicat. Ereksinya semakin mengeras dan membesar hingga terasa sakit.

Renee memejamkan matanya saat melihat dia telanjang dengan sempurna. Seluruh tubuh Robert berukuran besar.

Robert menempatkan salah satu lututnya di tempat tidur dan mulai melakukan sesuatu pada Renee.

Renee benar-benar tersentak saat mengetahui hal itu sekarang. "Aku tidak memakai kontrasepsi." Dia mengamati garis miring merah terbentuk ditulang pipi Robert, dan berpikir sejenak bahwa Robert tidak mungkin akan berhenti. Dia menatap Renee penuh dengan rasa kesal. "Please. Disana. Ada di dalam laci itu." Renee memberi isyarat dengan tangannya kearah laci kecil di bawah kotak perhiasannya.

Dia memutar ke tempat yang di tunjuk Renee dan kembali lagi kepadanya beberapa saat kemudian, lalu dia menyelubungi miliknya.

Dengan segera Robert bergerak kembali kearahnya, menyambar kakinya lagi dan mendorongnya terpisah. Dia berdiri sejenak, menatap di antara kedua kaki Renee yang terbuka, dengan satu lutut di atas tempat tidur dan miliknya yang sudah membesar itu berdenyut di antaranya.

Renee mulai terengah-engah. Ketika Robert tidak bergerak, dia tersipu hingga merah padam dan memindahkan satu tangannya untuk menutupi dirinya sendiri dari tatapan Robert. Robert mendongak beralih menatap mata Renee. Ketegangan memantul di antara mereka.

Lengannya kekar dan ototnya keras. Wajahnya seperti mengancam, karena keyakinannya itu, pengejarannya seakan tercapai. Tangannya mencengkeram pergelangan kaki Renee. "Lepaskan. Ini milikku. Biarkan aku melihat." Suaranya parau sedikit mengeram, dan Renee cenderung tidak ingin membantah kata-kata Robert.

Renee meresponnya dengan memindahkan tangannya lalu menutupi matanya sehingga ia tidak akan melihat Robert saat melihat dirinya ke arah sana. Rasanya terlalu intim. Sesuatu yang sangat intim. Robert memintanya hal yang begitu intim padanya. Menuntutnya.

Robert bergerak di atas tempat tidur. Dia mendorong pergelangan kaki Renee ke atas, dan menekuk lututnya, seperti yang diinginkan Robert. Renee tertegun dan sangat terangsang dengan posisi Robert yang siap memasuki dirinya.

Dia menggerakkan kakinya yang kuat di antara paha Renee dan menggunakannya untuk menahan kaki Renee agar terbuka lebih lebar lalu dia mengulurkan satu tangannya dan menyelipkan jarinya ke dalam dirinya. Renee tersentak dan cairan panas membasahi seluruh jari Robert. "Ini milikku." Dia memainkan jari-jarinya di dalam diri Renee sambil mengawasi. Dalam hitungan detik, Renee langsung menegang dan mengangkat tubuhnya agar semakin dekat. Ia sudah mengalami orgasme seperti ini sebelumnya bersama Robert. Dia ingin merasakannya lagi.

Seharusnya ini tidak boleh terjadi. Tepat ketika ia merasa seperti ada gelombang yang hampir mengantarkannya ke sana, Robert melepaskan tangannya. Untuk pertama kalinya, Renee menurunkan tangannya yang menutupi matanya dan menatap ke arah Robert.

Perhatian Robert telah berpindah ke klit Renee. Dia mulai membelainya di sana. "Kau begitu cantik. Sangat cantik." Robert memperhatikan tangannya saat dia memainkan milik Renee.

Renee terpesona oleh kejujuran dan kelembutan dari suaranya. Hal ini sudah cukup untuk mengirimnya kejalan menuju orgasme lagi.

Tapi dia melepaskan tangannya lagi. Renee terengah-engah. "Please."

Robert mengulurkan tangannya dan membelai dengan lembut ke puting yang berwarna merah muda itu. "Oke, Sayang."

Dia turun ke bawah dengan menyangga kedua tangannya yang kuat lalu membuka lebar-lebar kaki Renee. Tatapannya berpindah kearah Renee tepat sebelum ia mendorong kepalanya di antara kedua kaki Renee dan mulai menyapukan lidahnya. Seakan ada aliran listrik memukul dirinya. Lidah Robert ada di antara pangkal pahanya, mengikisnya. Bergerak keatas-kebawah, terus berulang-ulang. Mulutnya mengunci clit Renee dan dia mulai mengisapnya sambil menyelipkan dua jari di dalam dirinya. Robert menggunakan mulut dan jari-jarinya pada diri Renee tanpa berhenti, menuntut orgasme dari dirinya. Renee tahu momen ini yang membuat dia kehilangan pikirannya ketika ia seakan mengambang di udara sebelum dilemparkan kedalam sebuah orgasme yang sangatlah erotis dibandingkan apapun yang pernah dia kenal.

Robert terus mendorong kedalam dirinya dengan mulut dan jarinya sampai otot internal Renee melonggar. Renee mereda dari ketinggian yang diberikan Robert dan kesopanan kembali berperan padanya. Dia memejamkan matanya dari tatapan Robert dan mencoba untuk menggerakkan kakinya merapat.

Robert tak peduli. Dia mendorong kaki Renee berbuka dengan satu gerakan halus dan bergerak naik diatas tubuhnya. Robert memposisikan dirinya di diantara pangkal pahanya dan mengangkat salah satu kaki Renee di atas lengannya. Dia terkesiap saat Robert membuka tubuh Renee sepenuhnya dihadapannya.

"Buka matamu, Renee." Dia mendorong miliknya ke arah celahnya yang basah.

Mata Renee langsung terbuka. Dia terpesona dengan apa yang dilihatnya. Wajah Robert yang arogan, memancarkan rasa posesif saat dia menempatkan miliknya di gerbang masuk tubuhnya. Tatapannya mengeras. Gairah primitif terpampang diwajahnya. Dia sedikit menghujam dan pelan-pelan mendorong ke dalam tubuh Renee. Ia mengeram dan mengangkat kaki Renee untuk menyesuaikan posisinya untuk mengakomodir dirinya agar lebih nyaman. Dia meluncur masuk satu inci lagi kedalam dan Renee memejamkan matanya.

Robert melihat mata Renee terpejam tapi dia terlalu jauh melayang untuk menuntut perhatiannya. Tubuhnya benar-benar terpisah dari pikirannya dan ia mulai melakukan dorongan pelan, mendorongkan dirinya kedalam. Milik Renee terasa begitu basah dan lembut meyelimutinya. Dan mencengkeram dirinya. Ya Tuhan, dia begitu sempit. Dia mendorong masuk seluruh miliknya dan menikmati setiap detiknya saat dia mengisi diri Renee sepenuhnya. Milik Renee begitu lembut dan basah menyelubunginya. Otak Robert seakan dibius dan ia mulai bergerak ke dalam dirinya lagi. Dia mengulurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pantat Renee keatas agar dirinya lebih dalam lagi. Kenikmatan yang begitu intens. Dia mencoba untuk melakukannya dengan perlahan tapi kontrolnya telah hilang. Dia mendorong Renee begitu keras. Robert berpikir mungkin dia mendapatkan kembali kontrolnya namun kemudian tangan Renee yang lembut memeluk bahunya dan aroma femininnya masuk ke dalam hidungnya.

Robert seakan melayang ke atas dan melewati batas jurang saat ia ejakulasi di dalam diri Renee.

Robert memeluk Renee sementara detak jantung mereka perlahan-lahan kembali normal. Otak Robert mulai terurai dan pikirannya kembali tersusun. Sial. Dia tidak bisa percaya apa yang baru saja terjadi. Ya Tuhan, jika Renee tidak menghentikannya dan meminta untuk menggunakan kondom, ia tidak akan memikirkan tentang hal itu. Dan itu belum pernah terjadi pada Robert sebelumnya. Belum pernah.

Sekali lagi dia merasa terganggu saat ia melepas pengaman dari dirinya. Maksudnya itu bukan karena dia tidak sabar pada penundaannya. Sialan, bukan karena itu. Rasanya ini jauh lebih buruk. Itu adalah perasaan kesal karena ada sesuatu yang menghalangi diantara mereka. Sesuatu yang memisahkan dirinya dengan Renee.

Dia tidak ingin sesuatu menghentikannya untuk memiliki dan mendapatkan Renne.

Pikiran Robert melayang ke peristiwa tadi. Pada awalnya dia tidak punya rencananya. Dia hanya ingin bertemu dengan Renee. Dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengannya. Dan kenyataan ini yang membuatnya begitu kesal.

Kemudian ia mendatangi rumahnya dan melihat si brengsek Cameron melakukan pendekatan padanya dan ia benar-benar kehilangan kesadarannya. Menjadi sangat marah. Hanya seperti itu, kecerdasannya meninggalkan akal sehatnya dan testosteron-nya yang mengambil alih. Rencananya sudah kacau. Sial, dia tidak punya suatu rencana. situasi ini membutuhkan perencanaan yang tepat dan yang berkaitan dengan strategi. Dan ia memutuskan sesuatu sambil berjalan tanpa perencanaan sama sekali. Sial, dia bahkan tidak tahu apa yang ia inginkan lagi. Dia masih ingin tidur dengan Renee. Bahkan lebih dari itu, sekarang ia tahu bagaimana rasanya saat bagian tubuh Renee yang indah menyelubungi dirinya dengan ketat serta kelembutannya ketika mencengkeram miliknya.

Namun, dia tak tahu kemana langkah ini akan berakhir. Dalam beberapa hari terakhir ia merasa benar-benar egois karena ia berusaha menyuruh Renee mengundurkan diri dari pekerjaannya. Itu benar-benar apa yang dia inginkan, dan ia tak pernah memperhatikan kebutuhan Renee atau kehidupannya. Dan sekarang dia bahkan tidak yakin dia ingin Renee mengundurkan diri. Tidak bisakah dia memiliki semuanya? Tidak bisakah dia memiliki dia di tempat tidur dan di kantornya? Asalkan Renne bersedia, apa ada aturan yang mengatakan bahwa Robert tidak bisa memiliki semuanya? Dan tidak diragukan lagi Renee sangat kompeten pada pekerjaannya. Dia jelas membutuhkannya. Dia membutuhkan uang.

Gambaran kondominium kecil ini muncul dalam pikirannya. Ia telah berbagi kamar tidur satu-satunya ini dengan putrinya selama lima belas tahun. Belum yang lain-lain. Dia teringat kembali waktu kemarin malam saat Renee membungkus sisa-sisa makanan dan menempatkannya di dalam lemari es. Ya Tuhan, apakah Renee menyimpan mie ramen untuk nanti?

Perutnya mengepal. Kemauan Renee yang begitu keras, begitu cantik. Terlalu cantik untuk mengkhawatirkan begitu banyak tentang uang.

Sebuah gambaran mantan istrinya datang merasuki pikirannya. Wanita jalang yang tamak dan serakah yang belum pernah mengenal kerja keras seharipun dalam hidupnya. Dia selalu menuntut lebih, sesuatu yang lebih baik, yang paling baru. Rumah, pakaian, mobil. Dia telah membuat hidup Robert menjadi sengsara sejak hari pertama ia telah memasangkan cincin di jarinya. Dan dia telah memerasnya sejak saat itu. Pengacara mantan istrinya telah memerasnya, dan benar-benar memerasnya habis-habisan, meskipun mereka tidak memiliki anak selama pernikahannya.

Renee bukanlah wanita seperti itu. Dia membaca CV-nya dimana dia sebelumnya sudah pernah bekerja selama sepuluh tahun di sana. Dia tidak tergantung pada seorang pria, dan tidak pernah terjadi. Jika ada, mungkin hanya ayah dari anaknya yang berkewajiban memberinya untuk anaknya.

Dia sudah banyak melakukan sesuatu,dan semua itu hanya dengan pendidikan SMA. Dia sudah dibebani dengan seorang anak sejak awal, tapi semua itu hanya membuat Renee lebih kuat. Dia sudah membeli sebuah rumah untuk mereka berdua di sini, dan selanjutnya dia sudah melakukannya tanpa ada bantuan, dan hanya dengan uang yang sangat sedikit.

Dia tidak terobsesi mencari seorang pria untuk merawatnya, meskipun dia cukup cantik yang mana dia bisa dengan mudah mewujudkan hal itu. Itu sangat jelas. James Cameron mengatakan bahwa Renne sudah menolaknya, dan si brengsek itu mungkin memiliki lebih banyak uang dari pada dirinya. Tidak, dengan semua bukti ini, Renee benar-benar seorang wanita mandiri, dan dia menyukai jalan seperti itu. Robert mengagumi Renee untuk itu. Menghormati apapun tentang dia. Karena pengalamannya, gambaran tentang wanita mandiri begitu memabukkan. Tapi kemudian, gambaran evokatif Renee yang bergantung pada dirinya muncul dalam pikirannya. Gagasan tentang Renee sepenuhnya menjadi tergantung pada dirinya terasa sangat menarik. Sudah pernah terpikirkan mengenai gagasan halus Renee yang membutuhkan gaji yang diberikan Robert kepadanya mulai mendesak. Gambaran erotis untuk memiliki Renee dalam kekuasaannya, kontrolnya, diam-diam menyerang pikirannya.

Dia tidak tahu apa yang dia inginkan.

Kecuali padanya.

Dia menginginkan Renee.

***


Penerjemah: +Saiya Henny
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

16 comments

Just marry her, Robert ┼┼aa..┼┼aa..┼┼aa..┼┼aa.. *berasa jadi sutradara. ♥•..τнänκ (∩_∩) чoü..•♥ mba Henny and mas Yudhi ( ◦˘ з(◦'ںˉ◦)

smoth banget penulisannya ! Keren buat mba hen and mas yudi

huaa,,, bloweerrr mnaaa bloweerrr...
mksh Mba Henny n Mas Yudi

Cium cium mbak henny :* maaci mbak hen~
Maaci mas mimin (。'▽'。)

Cium cium mbak henny :* maaci mbak hen~
Maaci mas mimin (。'▽'。)

blowernya lg buat ngering baju wkwkwk

hot dech.....
peluk buat mbak henny and thanks mas yudi....

peluk-peluk semuanya tx jg mas yudi

◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mb henny
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mas yudhi

Makasihhh mbak henny

Makasih Mbak Henny,,,,
Makasih Mas Yudi,,
Sun sayang utk org2 dsekitar kalian,,mmmuuuaaahhh,,,

setuju Om Robert, sejak 2 bab sebelumnya aku juga pengen usul gitu, jadiin istri! dengan begitu anda bisa mendapatkannya, dan dia bisa membantu anda mengambangkan bisnis anda. betul kan? ^^
suwun Mbak Henny dan Mas Yudi ^^

Huaaaa panaasss
Hihihihi
Makasih mb henny, mas admin :D

Om Robert Ʊϑɑ̤̈̊ħ mulai tkut kehilangan tante Renne nich. Stiap bab btambah seru ... ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Henny & Mas Yudi.

makasih mb henny n mas mimin..
om robert cpetan tante renee d iket *eh*

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top