7

bbtb-thumb
Renee meninggalkan kantor tepat pada pukul lima dan langsung menyetir menuju apotik terdekat. Dia tidak minum pil kontrasepsi karena ia tidak sedang dalam hubungan dengan laki-laki saat ini. Ia tidak punya alat kontrasepsi apapun di rumahnya dan tidak mempercayai dirinya sendiri bahwa ia tidak membutuhkannya.

Ia menolak untuk hamil. Banyak hal bisa terjadi, tapi ia akan merasa terkutuk jika salah satu hal itu adalah hamil.

Pada pukul 5.45 sore ia menaiki tangga ke kondominium lantai duanya dan bertatapan dengan wajah Robert Thibodeaux, bersandar di depan pintunya, ia bersedekap.

Perasaan terkejut dan senang menjerit dalam pembuluh darahnya. Dengan susah payah Renee mengumpulkan keberaniannya sebelum bicara. “Kau tidak membuang-buang waktu, bukan?” Renee mengusir Robert dengan bahunya sewaktu ia memasukkan kunci ke pintu.

“Aku menghabiskan 7 minggu dengan sia-sia.” Robert meletakkan tangannya di pintu dan mendorongnya sewaktu kunci terbuka. Robert mengikuti Renee masuk ke dalam, membalikkan tubuhnya dan mengunci kembali pintunya.

Renee bergerak ke dapur mungil dan meletakkan kertas belanja dari apotik dan tasnya. Renee mengamati Robert melihat-lihat kondominiumnya. Renee tahu apa yang akan dilihatnya. Renee bersumpah ia tidak akan meminta maaf atas perbedaan sudut pandang mereka, dan lalu memutuskan ia akan melakukannya. “Aku tahu ini tidak besar. Tapi ini milikku. Milikku dan Brittany. Kami telah tinggal disini selama 15 tahun. Aku membeli tempat ini ketika masih baru, jadi meskipun tempat ini kecil, tempat ini bersih dan tempat ini milikku.”

“Hey. Jangan membela diri. Aku tidak melihat sesuatu yang salah dengan tempat ini. Aku pernah tinggal di tempat yang jauh lebih buruk. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi percayalah, tempat ini adalah sebuah mansion dibandingkan beberapa tempat yang pernah kutinggali.” Robert bergerak menjauhi pintu depan ke dalam area ruang tamu kecil dan melihat-lihat. “Faktanya, tempat ini menyenangkan.”

Renee melihat tempat tinggalnya melalui pengamatan Robert. Sekalipun mungil, kondominiumnya eklektik dan mencerminkan dirinya. Ia telah dengan mendekorasi tempat itu selama 15 tahun terakhir jika ia punya uang. Ketika mereka pindah ke tempat ini, Brittany baru menginjak usia empat tahun, dan tidak membutuhkan kamar ekstra. Pindah ke tempatnya sendiri jauh lebih penting dibandingkan ukuran tempat ini. Menilik ke belakang, masa kecil dan masa remaja Brittany sudah cukup keras, tetapi mereka satu tim, satu unit, dan mereka memecahkan masalah mereka bersama-sama.

Pintu depan berhubungan langsung dengan ruang tamu mungil dan di pisahkan oleh dinding dimana terletak ruang makan. Masing-masing ruangan terhubung ke dapur kecil. Kamar tidur dan kamar mandi berada di sebelah kiri aula kecil. Dapurnya memiliki bar kecil dengan 2 tempat duduk bar, dan karena ruang makan tidak lagi penting, Renee memasang gorden besar berwarna krem dan emas di ruangan itu untuk member privasi di seberang tempat masuknya.

Sebuah tempat tidur ada di dalamnya, begitu juga sebuah meja kecil dan kursi. Ada bantal-bantal berwarna dan tirainya member efek dramatis, dan temannya selalu bilang kalau kondominiumnya seolah-olah keluar dari majalah home décor. Hal itu membuatnya merasa nyaman, karena hampir segala sesuatu di kondominium itu berasal dari toko loak, atau dijahitnya sendiri. Sebelum Brittany pergi kuliah, biasanya Renee tidur di kamar darurat. Namun sewaktu ia masih muda, Renee sering memberikan kamarnya pada Brittany sewaktu teman Brittany menginap dan mengadakan pesta piama. Pengaturan itu berhasil untuk mereka.

Renee memandang Robert yang telah duduk di sofa. Ia bersedekap dan membelalak ke arah Robert. “Anggap rumah sendiri.”

Robert tersenyum padanya, pelan dan menjengkelkan. Robert menepuk sofa di sebelahnya dan mengangkat alisnya.

“Tidak bisa. Aku tak tahu kenapa kau pikir kau punya hak untuk datang kemari, tapi aku mau mandi. Aku teraniaya di kantor hari ini. Tolong kunci pintu waktu kau keluar.” Renee berbalik dan lenyap ke dalam satu-satunya kamar mandi di dalam kondominium itu.

Satu jam kemudian, setelah mandi air panas yang lama, Renee berdoa Robert sudah akan pergi ketika Renee membuka pintu kamar. Untuk jaga-jaga, ia memakai celana pendek dan t-shirt alih-alih jubah mandi besar yang nyaman yang ingin dipakainya.

Ia berhenti dengan tiba-tiba ketika ia melihat ke arah sofa. Robert tertidur lelap, telentang. Satu kaki di sofa, kaki yang lainnya yang memakai sepatu bot di lantai dengan satu lengannya terentang di dahinya. Renee menangkap nafas Robert selagi mengamatinya. Robert kelihatan berbeda. Tidak terlalu menakutkan. Tidak terlalu jahat. Benar-benar seksi. Renee bimbang sesaat. Apa yang harus ia lakukan terhadap Robert?

Renee memutuskan untuk mengabaikan Robert dan mengerjakan keperluannya. Sebentar lagi jam tujuh dan ia lapar. Sayangnya, Renee tahu Robert juga pasti lapar. Ia memutuskan untuk memasak cukup untuk berdua, dan jika Robert tidak memakannya, Renee akan meletakkan makanan itu ke kulkas untuk besok malam.

Pelan-pelan Robert bangun karena desisan panci dan sesuatu yang dimasak. Ia berbaring diam sewaktu menyesuaikan diri dengan suasana baru. Bau makanannya enak dan ia membuka satu matanya untuk melihat Renee bergerak dengan rajin di dapur kecil itu.

Wajahnya bersih dari make-up, dan dengan t-shirt peach kecil dan celana pendek, ia terlihat berusia 20an, padahal Robert tahu Renee berusia 38.

Bau dan suara dari kesibukan rumah menggugahnya. Ia belum benar-benar memikirkan soal apa yang diharapkannya sewaktu ia datang kemari dari kantor hari ini, tapi ini bukanlah yang diharapkannya. Satu-satunya persepsi tentang Renee adalah apa yang dilihatnya di kantor, dan satu kali di Wine Bar. Saat itu Renee berpakaian untuk kepentingan kontak social dengan make-up dan rambut tanpa cela. Robert belum pernah melihat Renee di luar itu, dan apa yang dialaminya saat ini membuatnya bingung.

Robert mengamati Renee rumahnya sendiri. Renee bergerak dengan gerakan ekonomis yang menandakan ia memahami dapur itu dengan baik. Robert tahu anak Renee sedang kuliah, dan Renee terlihat sepeti ibu muda tanpa anak gadis. Rumah ini cocok untuknya, sama seperti pakaian yang dipakainya. Dan bagi seorang pria yang makan fast food berlebihan, apapun yang dibuat Renee baunya luar biasa.

Renee melihat gerakan Robert melalui sudut matanya. Tangannya bergetar pelan sewaktu Robert berdiri dan meregang dan menuju dapur. Ia menarik bangku bar dan duduk.

Renee mematikan kompor tempatnya memasak sop dan berbalik menghadap Robert. “Kupikira aku sudah bilang padamu agar kau pergi.”

Robert mengabaikan komentar Renee. “Baunya enak. Apa itu?”

Renee bersedekap dan melotot menatap Robert. Ketika pandangan Robert jatuh ke dadanya dimana t-shirt mungilnya mengetat, Renee merasa tersipu mulai dari leher sampai wajahnya.

Ia jauh dari nyaman dengan keadaan ini. “Makanan.”

Robert mengabaikan nada permusuhan itu dan tersenyum. “Ya, terima kasih, aku mau.”

Renee memutar matanya dan berbalik untuk menyendok sop ke mangkuk dan meletakkan sandwich di piring. Ia menyiapkan minuman dan menempatkan semuanya di tempat yang sesuai.

Renee duduk dan mengambil peralatan makannya. Ia menatap Robert yang duduk di sebelahnya dan bilang, “Silakan.”

Robert menunggu hingga Renee memakan suapan pertamanya dan kemudian Robert mengambil sendoknya. Warna dan bau yang menguar dari makanan itu membuat air liurnya menetes. Robert bahkan tak tahu Renee bisa memasak, tapi hal itu tidak mengejutkannya. Mie yang lezat dengan sesuatu yang ia ingat di masa kecilnya muncul dari sopnya. Dua sandwich yang berwarna coklat sempurna dan terbagi empat mengelilingi mangkuk. Sebuah potongan apel memisahkan masing-masing sandwich dalam penataan kuliner yang berwarna. Robert makan makanan di piring besar dengan mantap.

Ia menatap balik dan mengamati Renee menyuapkan makanan dari porsi yang lebih kecil yang disediakannya bagi dirinya sendiri.

Makanan yang dimasaknya enak dan mengenyangkan.

Sudah ¾ piring yang dihabiskannya sebelum ia sadar ia minum air es dan makan mie ramen yang dicampur dengan sop ayam kalengan dan sandwich keju bakar.

Ia tidak memikirkan makanan itu karena merasa terlalu terlena dengan keberadaan Renee yang duduk disebelahnya. Ia sudah kenyang, dan benaknya sudah melompat ke hal-hal lainnya.

Seperti tekanan seksual yang menguar di antara mereka.

Renee memaksakan gigitan berikutnya dan tahu ia tidak akan bisa makan lagi. Kegelisahannya meningkat. Ia turun dari bangku bar dan mengambil piring kosong Robert dan meletakkan ke mesin cuci piring. Ia membungkus sisa makanan di piringnya yang hampir tak disentuhnya dengan plastik dan menyimpannya di kulkas.

Robert mengamati Renee dari tempatnya duduk. Tidak butuh lebih dari 5 menit untuk membersihkan dapur kecil itu. Renee sudah hampir tak punya sesuatu untuk dilakukan, dan kemudian Robert akan menyambar kesempatannya. Mengenai hal itu, tentu saja Renee tidak meragukannya sama sekali. Renee memutuskan bahwa ia tidak akan berdalih atas tindakannya. Ia harus mencari kesibukan lain. Renee belum siap dan tidak bisa membiarkan dirinya dipojokkan oleh Robert. Renee menatap ke arah kaki telanjangnya.

Robert baru akan turun dari kursi bar dan berjalan ke tempat Renee ketika ia melihat Renee berlutut dan mengambil kaos kaki dan sepatu tenis dari sebuah keranjang anyam. Dengan bersyukur Renee menunduk ke lantai dan memasang kaos kaki dan sepatu itu ke kakinya, lalu berjalan ke pintu.

Renee menatap balik pada Robert. “Aku mau cari udara segar sebelum terlalu malam. Sampai jumpa besok.”

Berapa banyak lagi petunjuk yang harus Renee berikan pada Robert?

Robert mengamati Renee yang berdiri di pintu depan. Renee kelihatan seperti angin kuat yang bisa membagi dirinya sendiri jadi dua. Buku jarinya memutih di tempat dimana ia memegang pegangan pintu. Renee memaksakan diri agar ia berdiri tegak dan sebuah getaran kecil menyiksa tubuhnya. Ia berada di ujung tanduk.

Robert tahu ia bisa memaksa Renee, tetapi sesuatu tentang waktu yang baru saja berlalu membentuk gerutuan di pikirannya. Tak perlu dipertanyakan lagi kalau Renee adalah rasa gatal yang harus digaruknya, tapi menunggu akan menambah dimensi godaan dari situasi tersebut. Robert tak pernah menunggu selama ini demi wanita manapun sebelumnya, namun ia tahu entah bagaimana bahwa pengekangan ini akan menghasilkan sesuatu yang berharga. Bayangan akan Renee yang telanjang dan menyerah padanya menyalakan nafsunya, dan pengejaran serta kemenangan mutlak merupakan hadiah bagi Robert.

Robert memiliki otak analitis, dan hal itu tidak mengecewakannya. Robert akan membiarkan Renee berpikir bahwa Renee memiliki kontrol atas situasi ini saat ini, jadi hal itu akan membuatnya menyerah pada Robert dengan lebih baik lagi, nantinya.

Renee mengamati Robert meninggalkan bar dan melangkah ke arahnya. Dalam beberapa detik, Robert sudah berada di hadapan Renee. Nafas Renee tersangkut di tenggorokannya ketika tangan Robert bergerak ke dagunya. Robert mengangkat wajah Renee dan matanya menjerat mata Renee. Pengaruhnya serasa sengatan listrik. Perut Renee menegang dan lututnya gemetar dengan lemas. Tidak pernah, tidak akan pernah, Renee bertemu dengan seseorang yang membuatnya merasa seperti ini. Bahkan mendekati perasaan seperti ini pun belum pernah.

Renee selalu berada dalam posisi memegang kendali. Selalu ada pria yang mengejarnya. Ia berganti dari satu hubungan romantis ke hubungan romantis lainnya, tidak pernah membiarkan seorang pria pun terlalu dekat dengannya.

Tidak pernah sejak pria yang dengan kejam menghamili dan meninggalkannya.

Renee menegakkan tubuhnya.

Tangan Robert yang lain terangkat dan jemarinya menyisir rambut Renee dan memegang kepala Renee. Renee tidak bisa menekan getaran kecil ditubuhnya. ada tatapan menuduh di mata yang mengikatnya, dan Renee tak tahu mengapa. Renee ingin Robert pergi malam ini, jauh darinya, jadi Renee bisa berpikir. Jadi Renee bisa bernafas. Sikap dominan Robert membingungkan bagi kedamaian hati Renee. Stabilitas Renee terguncang.

Robert menjepit dagu Renee lebih keras lagi. “Sekali lagi, kau akan lolos. Tapi pahami aku ketika kubilang padamu hal itu tidak akan berlanjut terus. Kau akan menyerah dan hal itu tak akan lama lagi.”

Robert merasakan efek provokatif mata Renee terhadapnya. Kelembutan tubuh Renee sangat dekat dengannya. Kemaluannya membengkak dan mendesak celananya. Tangan Robert mengencang tidak dengan sukarela pada Renee. Mata Renee melebar menatap Robert. Robert melihat penderitaan dalam mata Renee yang bulat membesar saat ia menatap mata itu dipenuhi air mata, setengah detik sebelum Renee menurunkan bulu mata dan menutup matanya.

Rasa posesif dan kemarahan menghantam perutnya. Ini jadi tak bisa ditoleransi lagi. Renee mulai membuatnya terpesona dan hal itu tidak bisa dibiarkan. Tidak boleh dibiarkan. Robert perlu membersihkan Renee dari pikirannya, dan secepatnya.

Jalan terbaik untuk mengusir rangsangan itu adalah dengan menghilangkan dirinya sendiri keluar dari jangkauan Renee.  

Robert melepaskan pegangannya pada Renee dan pergi.

***


Penerjemah: +Kunta 
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

7 comments

Wah...Robert sabar juga ya ... Makasih PN :)

†ђąηk ўσυ mbaa Kunta n mas yudi

Comment dolooo.... Kangen q terobati sma Om Robert sma tante Renee. Heheh ☺•.•ŤћªªŇќķ•.•ўººU•.•☺ Mba Kunta dan Mas Yudi...

Fiuuuh
Sabar amat robert hahhaha
Makasih mb kunta, mas mimin :D

hiyaaaaaaa....... ndak jadi lagi..... sabaaaarrrrr...
Makasih Mbak kunta & Mas Yudi

Huhhh~
gak jadi lagi yah !
Sama sama gak mau ngalah #plakk

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top