34

bd-thumb
PESAWAT JET

Nomor di layar berganti menjadi sebuah nama ketika telepon berdering, dan mata Travis terbelalak saat dia membacanya. Telepon berada di atas telinganya dengan gerakan cepat.

"Trent?" suara tawa tidak percaya keluar dari bibirnya, dan sebuah senyuman terlihat di wajahnya saat dia melihat ke arahku, "Ini Trent!" Aku menarik nafas dan meremas lengannya ketika dia berbicara. "Di mana kau? Apa maksudmu kau di asrama? Aku akan ke sana sekarang, jangan kemana-mana!"

Aku tersentak ke depan, mencoba mengikuti langkah Travis saat dia berlari dengan cepat melintasi kampus, menyeretku di belakangnya. Ketika kami tiba di asrama, paru-paruku berteriak menginginkan udara. Trent berlari menuruni tangga, menabrak kami berdua.

"Ya Tuhan, bro! Kupikir kau sudah terbakar!" Trent berkata sambil memeluk kami berdua dengan erat hingga aku kesulitan untuk bernafas.

"SIALAN kau!" Travis berteriak sambil mendorong kakaknya menjauh. "Aku pikir kau sudah mati! Aku menunggu pemadam kebakaran membawa tubuhmu yang hangus terbakar keluar dari Keaton!"

Travis mengerutkan dahinya pada Trent untuk beberapa saat, lalu menarik dan memeluknya. Tangannya menjulur keluar, meraba-raba hingga dia merasakan bajuku, lalu menarikku juga ke pelukannya. Setelah beberapa saat, Travis melepaskan Trent, namun tetap menggandengku di sampingnya.

Trent melihatku dengan tatapan meminta maaf. "Maafkan aku, Abby. Aku panik."

Aku menggelengkan kepalaku. "Aku senang kau tidak apa-apa."

"Aku? Aku akan lebih memilih mati jika Travis melihatku keluar dari gedung itu tanpa dirimu. Aku berusaha menemukanmu setelah kau lari, tapi aku tersesat dan harus mencari jalan lain. Aku berjalan menelusuri gedung mencari jendela itu, tapi aku bertemu dengan beberapa orang polisi dan mereka memaksaku keluar. Aku diangkut keluar dari sana!" kata Trent, mengacak-acak rambut pendeknya.

Travis mengelap pipiku dengan jempolnya, lalu menarik kaosnya, menggunakannya untuk membersihkan abu dari wajahnya. "Ayo kita pergi dari sini. Sebentar lagi akan banyak polisi berkeliaran di tempat ini."

Setelah memeluk kakaknya sekali lagi, kami berjalan menuju mobil Honda milik America. Travis memperhatikanku memasang sabuk pengaman lalu mengerutkan dahinya saat aku terbatuk.

"Mungkin aku harus membawamu ke rumah sakit. Untuk memeriksamu."

"Aku baik-baik saja," jawabku, menggenggam jarinya di jariku. Aku melihat ke bawah, ada luka yang dalam di ruas jarinya. "Itu akibat pertarungan atau jendela?"

"Jendela," jawabnya, merengut saat melihat kukuku yang berdarah.

"Kau menyelamatkan hidupku, kau tahu."

Dia merengut. "Aku tidak akan keluar tanpa dirimu."

"Aku tahu kau akan datang," aku tersenyum, meremas jarinya.

***

Kami tetap berpegangan tangan hingga kami tiba di apartemen. Aku tidak tahu darah siapa saat aku membersihkan noda merah dan abu dari tubuhku di bawah pancuran. Menjatuhkan diri ke atas tempat tidur Travis, aku masih dapat mencium bau asap dan kulit yang terbakar.

"Nih," kata Travis, menyodorkan gelas pendek yang terisi cairan berwarna kuning tua, "Ini akan membuatmu tenang."

"Aku tidak lelah."

Dia menyodorkan gelas itu lagi. Matanya tampak lelah, merah, dan berat. "Cobalah untuk beristirahat, Pidge."

"Aku merasa takut untuk menutup mataku," aku berkata sambil mengambil gelas itu dan meminumnya.

Dia mengambil gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di meja, duduk di sampingku. Kami duduk terdiam, membiarkan beberapa jam yang lalu tercerna. Aku menutup rapat mataku saat teringat jerit ketakutan dari mereka yang terjebak di bawah tanah memenuhi pikiranku. Aku tak yakin berapa lama bagiku untuk bisa melupakannya, atau aku mungkin tak akan pernah melupakannya.

Tangan hangat Travis di lututku menarikku dari mimpi burukku. "Banyak orang yang meninggal malam ini."

"Aku tahu."

"Besok baru kita akan tahu jumlahnya berapa banyak."

"Aku dan Trent berpapasan dengan sekelompok orang saat akan keluar. Aku penasaran apa mereka berhasil keluar. Mereka tampak sangat ketakutan…"

Aku merasakan air mata memenuhi mataku, namun sebelum mereka turun di pipiku, tangan kekar Travis memelukku. Aku langsung merasa terlindungi, berdekatan dengan tubuhnya. Merasa seperti di rumah saat berada dalam pelukannya yang dulu membuatku takut. Namun saat ini, aku bersyukur aku bisa merasa aman setelah mengalami kejadian yang sangat menyeramkan. Hanya ada satu alasan mengapa aku merasa seperti itu.

Aku miliknya.

Saat itulah aku tahu. Tanpa keraguan di pikiranku, tanpa merasa khawatir akan apa yang akan dipikirkan orang lain, dan tidak merasa takut salah atau menerima konsekuensinya, aku tersenyum pada apa yang akan aku katakan.

"Travis?" aku berkata di dadanya.

"Apa, sayang?" jawabnya pelan.

Telepon kami berbunyi bersamaan, dan aku menyerahkan telepon Travis padanya saat aku mengangkat teleponku. "Halo?"

"ABBY?" America memekik.

"Aku baik-baik saja, Mare. Kami baik-baik saja."

"Kami baru mendengarnya! Ada di semua berita!"

Aku dapat mendengar Travis yang sedang menjelaskan bagaimana kejadiannya pada Shepley di sampingku, dan aku berusaha sebaik mungkin untuk menenangkan America. Menjawab semua pertanyaannya, berusaha menjaga suaraku tetap tenang saat menceritakan kembali kejadian yang paling menakutkan dalam hidupku, aku merasa tenang sesaat setelah Travis memegang tanganku.

Aku seperti sedang menceritakan pengalaman orang lain, duduk dengan nyaman di apartemen Travis, berada jauh dari mimpi buruk yang bisa saja membuat kami berdua kehilangan nyawa. America menangis ketika aku selesai, menyadari bagaimana nyarisnya kami kehilangan nyawa kami.

"Aku akan mulai berkemas sekarang. Kami akan pulang besok pagi," America terisak.

"Mare, tidak perlu pulang cepat. Kami baik-baik saja."

"Aku harus melihatmu. Aku harus memelukmu sehingga aku yakin kau tidak apa-apa," dia menangis.

"Kami baik-baik saja. Kau bisa memelukku hari Jumat."

Dia terisak lagi. "Aku menyayangimu."

"Aku juga menyayangimu. Selamat bersenang-senang."

Travis melihat ke arahku lalu menekan teleponnya dengan kuat di telinganya, "Sebaiknya kau memeluk kekasihmu, Shep. Dia terdengar sedih. Aku tahu, man…aku juga. Sampai bertemu nanti."

Aku menutup telepon beberapa detik sebelum Travis, dan kami duduk terdiam beberapa saat, masih memproses apa yang telah terjadi. Setelah beberapa lama, Travis bersandar ke bantal, lalu menarikku ke atas dadanya.

"America baik-baik saja?" dia bertanya sambil memandangi langit-langit.

"Dia sangat sedih. Tapi dia akan baik-baik saja."

"Aku sangat lega mereka tak ada di sini."

Aku menutup rapat gigiku. Aku bahkan tidak memikirkan apa yang akan terjadi seandainya mereka tidak sedang berada di rumah orang tua Shepley. Pikiranku kembali pada ekspresi ketakutan para wanita yang ada di ruang bawah tanah, melawan para pria untuk keluar. Mata ketakutan America menggantikan wanita tanpa nama di ruangan itu. Aku merasa mual memikirkan rambut pirangnya yang indah menjadi kotor dan hangus bersama dengan mayat-mayat yang tergeletak di halaman.

"Aku juga." Aku berkata sambil gemetar.

"Kau sudah melalui banyak hal malam ini. Aku seharusnya tidak menambah bebanmu."

"Kau juga berada di sana, Trav."

Dia terdiam beberapa saat, dan pada saat aku membuka mulutku lagi untuk bicara, dia menarik nafas.

"Aku jarang merasa takut," dia akhirnya bicara. "Aku takut pada saat pertama kali aku terbangun di pagi hari dan kau tidak ada di sini. Aku takut ketika kau meninggalkanku sepulang dari Las Vegas. Aku takut saat aku pikir aku harus memberitahu ayahku bahwa Trent meninggal di dalam gedung itu. Tapi pada saat aku melihatmu melewati api di ruang bawah tanah…aku merasa sangat ketakutan. Aku berhasil mendekati pintu, beberapa kaki dari pintu keluar, dan aku tidak bisa melangkah keluar."

"Apa maksudmu? Apa kau gila?" kataku, kepalaku tersentak ke atas untuk menatap matanya.

"Aku tak pernah merasa seyakin ini tentang apapun dalam hidupku. Aku berbalik, berjalan menuju ruangan tempat kau berada. Aku tidak mempedulikan yang lain. Aku bahkan tak tahu apakah kita akan selamat atau tidak, aku hanya ingin bersamamu, apa pun artinya itu. Satu-satunya yang aku takutkan adalah untuk hidup tanpamu, Pidge."

Aku mendekat, mencium bibirnya dengan lembut. Saat bibir kami terpisah, aku tersenyum. "Kalau begitu tidak ada yang perlu kau takuti lagi. Kita untuk selamanya."

Dia menghela nafas. "Aku akan melakukannya lagi, kau tahu. Aku tidak akan menukar satu detik pun jika itu artinya kita akan berada di sini, saat ini."

Mataku terasa berat, dan aku menarik nafas dalam. Paru-paruku memprotes, masih merasa terbakar karena asap. Aku terbatuk sedikit, lalu merasa tenang, merasakan bibir hangat Travis di keningku. Tangannya di atas rambutku yang basah, dan aku dapat mendengar detak jantungnya yang teratur di dadanya.

"Ini dia" dia berkata sambil menghela nafas.

"Apa?"

"Momen ini. Ketika aku memandangimu yang sedang tidur…kedamaian di wajahmu? Ini dia. Aku tidak pernah merasakannya setelah ibuku meninggal, tapi aku dapat merasakannya lagi." Dia kembali menarik nafas dalam dan menarikku lebih dekat. "Aku langsung tahu begitu melihatmu ada sesuatu tentangmu yang aku butuhkan. Ternyata sama sekali bukan sesuatu tentangmu. Tapi dirimu."

Ujung bibirku terangkat ke atas saat aku menyembunyikan wajahku di dadanya. "Itulah kita, Trav. Tidak ada yang masuk akal, kecuali kita bersama. Apakah kau menyadari itu?"

"Menyadari? Aku telah mengatakannya padamu sepanjang tahun!" dia meledek. "Sudah resmi. Wanita murahan, pertarungan, perpisahan, Parker, Vegas…bahkan api…hubungan kita dapat menghadapi apapun."

Aku mengangkat kepalaku lagi, melihat kepuasan di matanya saat dia menatapku. Itu sama dengan kedamaian yang aku pernah lihat di wajahnya sesaat setelah aku kalah taruhan dan harus tinggal bersamanya di apartemen, setelah aku mengatakan padanya kalau aku mencintainya untuk pertama kali, dan pada pagi hari setelah acara Valentine. Itu semua mirip, tapi berbeda. Yang ini mutlak—permanen. Harapan hati-hatinya telah menghilang dari matanya, kepercayaan tanpa syarat menggantikannya.

Aku mengenali itu karena matanya mencerminkan apa yang aku rasakan.

"Vegas?" tanyaku.

Alisnya mengernyit, tidak yakin apa maksudku. "Ya?"

"Apakah kau pernah berpikir untuk kembali ke sana?"

Alisnya mengernyit lagi. "Kupikir itu bukan ide yang bagus untukku."

"Bagaimana kalau kita pergi kesana hanya untuk satu malam?"

Dia melihat ke sekeliling ruangan yang gelap, merasa bingung. "Satu malam?"

"Menikahlah denganku," aku mengatakannya tanpa ragu. Aku terkejut karena betapa cepat dan mudahnya kata-kata itu keluar.

Bibirnya terbuka menjadi sebuah senyuman lebar. "Kapan?"

Aku mengangkat bahuku. "Kita dapat memesan tiket pesawat untuk besok. Sekarang sedang Libur Musim Semi. Tidak ada yang harus aku lakukan besok, apakah ada yang harus kau lakukan besok?"

"Aku akan menerima gertakanmu," dia berkata sambil mengangkat telepon. "American Airlines," dia berkata sambil memperhatikan reaksiku dengan teliti saat panggilannya tersambung. "Aku membutuhkan dua tiket ke Vegas. Besok. Hmmmmm…," dia melihat ke arahku, menungguku berubah pikiran. "Dua hari, pulang-pergi. Apapun yang anda punya."

Aku meletakkan daguku di dadanya, menunggunya memesan tiket. Semakin lama aku membiarkannya menelepon, semakin lebar juga senyumannya.

"Ya…uh, tunggu sebentar," dia berkata sambil menunjuk ke dompetnya. "Tolong ambil kartu kreditku, Pidge?" dia menunggu reaksiku lagi. Dengan senang aku mengambilnya keluar dari dompet dan menyerahkannya pada Travis.

Travis menyebutkan nomornya pada agen, melihat ke arahku setiap dia menyebutkan satu angka. Saat dia menyebutkan tanggal berlaku kartu dan melihat aku tidak memprotesnya, dia menutup bibirnya rapat. "Ehm, ya. Kami akan mengambilnya ke sana. Terima kasih."

Dia menyerahkan teleponnya padaku dan aku meletakkannya di atas meja, menunggunya berbicara.

"Kau baru saja memintaku untuk menikahimu," dia berkata, masih menungguku untuk mengakui kalau itu adalah tipuan.

"Aku tahu."

"Itu tadi serius, kau tahu. Aku baru saja memesan dua tiket ke Vegas untuk besok sore. Itu artinya kita akan menikah besok malam."

"Terima kasih."

Dia memicingkan matanya. "Kau akan menjadi Mrs. Maddox ketika kau mulai kuliah hari senin."

"Oh," aku berkata sambil melihat sekeliling.

Alis Travis naik. "Berubah pikiran?"

"Aku akan mengurus perubahan dokumen penting minggu depan."

Dia mengangguk pelan, dengan hati-hati berharap. "Kau akan menikahiku besok?"

Aku tersenyum. "Ah ha."

"Kau serius?"

"Yap."

"Aku sangat mencintaimu!" dia menarik kedua sisi wajahku, menciumku dengan keras. "Aku sangat mencintaimu, Pigeon," dia berkata sambil terus menerus menciumiku.

"Ingat selalu itu selama lima puluh tahun mendatang saat aku masih mengalahkanmu dalam permainan poker," aku tersenyum geli.

Dia tersenyum, penuh kemenangan. "Jika itu berarti enam atau tujuh puluh tahun bersamamu, Sayang…kau mendapat izinku untuk melakukan sebisamu."

Aku menaikkan satu alisku, "Kau akan menyesali itu."

"Kau mau taruhan?"

Aku tersenyum sejahat mungkin yang aku bisa. "Apa kau cukup yakin untuk mempertaruhkan motor mengkilap yang di luar itu?"

Dia menggelengkan kepalanya, ekspresi serius mengantikan senyum menggodanya yang dia berikan beberapa detik yang lalu. "Aku akan mempertaruhkan semua yang aku punya. Aku tak menyesali satu detik pun saat bersamamu, Pidge, dan aku tak akan pernah."

Dia memegang tanganku dan menariknya tanpa ragu, menggoyangkannya sekali, lalu mendekatkannya ke mulutnya, menekan bibirnya dengan lembut di tanganku. Kamar menjadi hening, bibirnya meninggalkan kulitku dan satu-satunya suara yang terdengar adalah suara udara yang meninggalkan paru-parunya.

"Abby Maddox…," kata Travis, senyumnya berkilau di bawah sinar bulan.

Aku menekan pipiku ke dadanya yang telanjang. "Travis dan Abby Maddox. Harus punya cincin yang bagus untuk itu."

"Cincin?" kata Travis, merengut.

"Kita akan pikirkan tentang cincin nanti, Sayang. Aku hanya asal bicara."

"Ehm…" dia terdiam, memperhatikanku menunggu reaksiku.

"Apa?" aku bertanya, merasa tegang.

"Jangan panik ya," dia berkata saat dia bergeser dengan gugup. Pegangannya padaku menjadi lebih erat. "Sepertinya…aku sudah menangani masalah itu."

"Masalah apa?" tanyaku, aku memanjangkan leherku untuk melihat wajahnya.

Dia menatap langit-langit lalu menghela nafas. "Kau pasti akan panik."

"Travis…"

Aku cemberut saat dia melepaskan satu tangannya dariku, meraih laci di meja lampu tidurnya. Dia meraba-raba beberapa saat dan aku meniup poni basah dari mataku.

"Apa? Kau membeli kondom?"

Dia tertawa satu kali, "Bukan, sayang." Alisnya bersatu saat dia terus mencari, meraih lebih jauh ke dalam laci. Setelah dia menemukan apa yang dia cari, perhatiannya beralih, dan dia menatapku saat menarik satu kotak kecil dari tempat persembunyiannya.

Aku melihat ke bawah saat dia meletakkan kotak beludru di atas dadanya, lalu meletakkan tangan di belakang kepalanya.

"Apa itu?" tanyaku.

"Kelihatannya apa?"

"Ok. Aku akan mengulang pertanyaanku…kapan kau membelinya?"

Travis menarik nafas, dan saat dia melakukan itu, kotak itu naik bersamaan dengan dadanya, dan turun saat dia mengeluarkan udara dari paru-parunya. "Beberapa saat yang lalu."

"Trav…,"

"Aku hanya kebetulan melihatnya pada suatu hari…dan aku langsung tahu ada satu tempat di mana seharusnya itu berada…di jari kecilmu yang indah."

"Suatu hari kapan?"

"Apakah itu penting?" bantahnya. Dia meringis sedikit, dan aku tidak dapat menahan tawaku.

"Bolehkah aku melihatnya?" aku tersenyum, tiba-tiba merasa pening.

Dia juga tersenyum, dan melihat ke arah kotak. "Bukalah."

Aku menyentuhnya dengan satu jari, merasakan beludru tebal di bawah ujung jariku. Aku menggenggam kotak berwarna emas itu dengan kedua tanganku, perlahan membuka tutupnya. Aku melihat cahaya kelap-kelip di dalamnya dan aku langsung menutupnya lagi.

"TRAVIS!" aku menjerit.

"Aku tahu kau akan panik!" Travis berkata sambil terduduk dan memegang tanganku.

Aku dapat merasakan kotak itu di dalam genggaman tanganku, seperti sebuah granat berduri yang dapat meledak kapan saja. Aku menutup mata dan menggelengkan kepalaku. "Apakah kau gila?"

"Aku tahu. Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi aku harus membelinya. Itu adalah cincin yang paling tepat. Dan aku benar. Aku bahkan belum pernah menemukan yang sesempurna ini lagi."

Aku membuka mataku dan bukannya sepasang mata coklat cemas yang aku lihat, matanya justru berkilau karena bangga. Dengan perlahan dia melepas genggaman tanganku dari kotak lalu membuka tutupnya, menarik cincin dari celah kecil yang menahannya. Berlian bulat besar berkilau meskipun dalam cahaya yang redup, setiap fasetnya menangkap sinar bulan.

"Itu…ya Tuhan, sangat menakjubkan," aku berbisik saat dia mengambil tanganku.

"Bolehkah aku menyematkannya di jarimu?" dia bertanya, melihat ke arahku. Ketika aku mengangguk, dia menutup rapat bibirnya, memasukkan lingkaran berwarna perak ke jariku, menahannya untuk beberapa saat sebelum melepaskannya. "Sekarang baru menakjubkan."

Kami berdua memandangi tanganku untuk beberapa saat, sama-sama terkejut karena betapa kontrasnya berlian yang besar berada di atas jariku yang kecil. Lingkaran itu membentang di bagian bawah jariku, terbagi menjadi dua lingkaran yang menyatu di ujung tempat berlian besar itu berada, berlian yang lebih kecil berjajar di setiap lingkaran yang terbuat dari emas putih.

"Kau bisa membayar uang muka untuk sebuah mobil dengan ini," kataku, berbisik, tidak mampu lagi menambah kekuatan pada suaraku.

Mataku mengikuti tanganku yang Travis dekatkan ke bibirnya. "Aku telah membayangkan seperti apa jadinya saat ini berada di jarimu jutaan kali. Sekarang cincin ini sudah di situ…"

"Kenapa?" aku tersenyum, melihatnya menatap tanganku dengan senyuman emosional.

Dia menatapku. "Kupikir aku harus berusaha selama lima tahun sebelum aku dapat merasakan hal ini."

"Aku sangat menginginkan ini sama sepertimu. Hanya saja aku memiliki poker face," aku tersenyum lalu menciumnya.

***

Penerjemah: +Oseu
Editor : +Meyke AD

Poskan Komentar

34 comments

kyaaaaaaaaaaaa........!
ini bab trakhir sbelum epilog kan...?
o em ji..
*speechless*
Travis..
aku padamu..

maaci teh Oseu dan mbak Meyke ヽ(♥´з`)/kiss kiss~
maaci mas Yudi~

Aahh,,,makasih Teteh Oseu & mbak Meyke,,
Makasih juga mas Yudi,,,

Kita2 di undang ga nih ke Vegas???

Oh My Angeeel , Dewaaa Eroooos . soooo Sweeeeet :D

Akhirnya mereka menikah juga..... Yeeeeeee
Thks Mas yudi & m oseu keren.....

Thanks mas Yudi, mba Oseu

Berlian emang lambang cinta abadi.....
aplg klo berlianyya gede.....hehehe...
mia jg mau.....
(~ngareeep~)

and now ,,,,,, makin terobsesi sm travis ! *jedotin palal ke tembok

Ty teh oseu mayke and mas mimin love u all

Ga ad lnjutanny mbak?:d
Aaaaaaaa..<3<3
Akhirny brstu jga..awww..

jiiaaaaaaaaaah.....kepingin nangis...

tq mas mas mimin

kyaaaaaa this is the most my favorite part... *.*
Thanks mba oseu...
Mas yudi jg mksih...

Horayyyyyy finally merka merid jga akhirnya siap2 mau kondangan ke vegas nehhhhh,ayee ayeee tinggal nunggu epilognya dechhhh muachh muachh semua yg udh translate travissssss :* :* :*

Kyaaaaaaaaaaaaaa.......
akhirnya bahagia juga.... tadinya dah deg...degan z kalo2 tren meninggal....
Travis....... cowo bangt... thanks mbak Oseu thanks mimin :-)

Astagaaah manisnyaaa :D
Traviisss so sweeeettt :3
Makasih mb oseu, mb meyke, mas yudi :D

suka sma novel ini...
maddox...

makasih mba meyke dan oseu...

kiss kiss muach muach

aku suka cara ngelamar travis ke abby gyaaaaaaaaaaaa ><~~~
sukurlah trent selamet ^^~
makasih... lanjut yaaa satu part lagi ^^~~

Fiuhh~
syukurlah masih lanjut ada trent nya.

Makasih ya mba oseu, mba meyke dan mas admin. :D

Tinggal nunggu lanjutannya dh, cerita dari sisi travis maddox... ^.^v

ooooowwwwhhhhh.... dua anak muda yang hebat! semoga langgeng sampai maut memisahkan..... ^^
haturnuhun Mbak Oseu, Mbak Meyke, dan Mas Yudi

wah mlm td byk postingan tnyta..mksh mas yudi n mba mba terjemah..

Akhir Πγª jdi Abby Maddox jga... ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Oseu, mba Meyke dan mas Yudi.

Akhir Πγª jdi Abby Maddox jga... ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Oseu, mba Meyke dan mas Yudi.

Uhukkk mr n mrs maddox..kyaiinhgg
maksh mb meyke mb oseu n mas mimin..
Pengen liat cincinya...

Untungg Trent slamat..udh harap" cemas..†ђąηk ўσυ mba oseu n mba meyke n mas admin :p

Akhir Πγª jdi Abby Maddox jga... ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Oseu, mba Meyke dan mas Yudi.

abby si mrs poker face !!akhir nya brsatu jga ama akang travis !!
travis lope u !!!mmmmuuuuaa hhhha
mksih mb aoseu mba meykeu ...

Terimakasih mba oseu mas yudi.
Mau dong walking disasternya. Please bgt

Terimakasih mba oseu mas yudi.
Mau dong walking disasternya

wow....
mau jadi abbynya.wkwk

ini bru story keren.

sweett.... makasih byk buat.... semuanya

Yach.. tinggal epilognya.. tapi seru buanget novelnya....

Yach.. tinggal epilognya.. tapi seru buanget novelnya....

Yeyy happy ending..:-D

Travis...
so sweet..
thanx mba ose n mas yudi
:)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top