22

bd-thumb
ASAP

Beberapa minggu telah berlalu, dan aku terkejut bagaimana cepatnya Liburan Musim Semi sudah hampir tiba. Aliran gosip dan tatapan yang telah kami perkirakan sudah mulai hilang, dan kehidupan sudah kembali ke normal. Ruang bawah tanah Eastern tidak mengadakan pertarungan sudah berminggu-minggu. Adam menegaskan untuk tetap low profile setelah insiden penangkapan yang menimbulkan pertanyaan apa sebenarnya yang telah terjadi pada malam itu, dan Travis menjadi mudah marah karena menunggu telepon yang akan memanggilnya untuk melakukan pertarungan terakhir tahun ini; pertarungan yang membayar hampir semua tagihannya selama musim panas, dan untuk hidup enak selama musim gugur.

Salju masih tebal di atas tanah, dan pada hari Jumat sebelum libur, pertarungan bola salju terakhir terjadi di halaman yang tertutupi es seperti kristal. Aku dan Travis menghindari salju yang berterbangan saat berjalan ke kafetaria, dan aku berpegangan erat pada lengan Travis, berusaha menghindari salju dan agar tidak terjatuh ke tanah.

"Mereka tidak akan melemparnya padamu, Pidge. Mereka tahu itu," kata Travis, menempelkan hidung merah dan dinginnya di pipiku.

"Arah lemparan mereka tidak sama dengan rasa takut mereka terhadap kemarahanmu, Trav."

Dia memelukku erat di sampingnya, menggosok-gosok lengan jaketku dengan tangannya saat dia menuntunku melewati kekacauan itu. Kami tiba-tiba berhenti berjalan saat beberapa wanita yang melintas berteriak karena dilempari bola salju tanpa ampun oleh tim baseball. Setelah mereka pergi, Travis membawaku dengan aman ke pintu.

"Lihat kan? Aku sudah bilang kita akan berhasil," dia berkata sambil tersenyum.

Rasa girangnya menghilang saat bola salju padat mengenai pintu, tepat di antara wajah kami. Mata Travis menatap memeriksa halaman, ada beberapa mahasiswa menatap ke arah lain karena takut pada keinginan Travis untuk membalas dendam.

Dia menarik pintu terbuka, memperhatikan salju yang mencair meluncur ke bawah pintu besi yang di cat ke tanah. "Ayo kita masuk."

"Ide yang bagus," aku mengangguk.

Dia menuntun tanganku ke jalur prasmanan, menempatkan berbagai macam makanan kukus dalam satu nampan. Kasir sudah menghentikan ekspresi tercengangnya yang sudah diperkirakan oleh kami dari beberapa minggu yang lalu, karena sudah terbiasa dengan kebiasaan kami.

"Abby." Brazil mengangguk padaku lalu mengedipkan sebelah matanya pada Travis. "Kalian berdua sudah punya rencana minggu depan?"

"Kami akan tinggal di sini. Kakak-kakakku akan datang kemari," kata Travis, mengalihkan perhatiannya saat dia mengatur makan siang kami, membagi dua piring styrofoam kecil di hadapan kami di atas meja.

"Aku akan membunuh Davis Lapinski!" America mengumumkan, membersihkan salju dari rambutnya saat dia mendekat.

"Tepat sasaran!" Shepley tertawa. America memandangnya dengan tatapan peringatan dan tawanya berubah menjadi cekikikan gugup. "Maksudku…dasar brengsek dia."

Kami tertawa melihat ekspresi menyesalnya saat dia memperhatikan America melangkah menuju jalur prasmanan, Shepley langsung mengikutinya.

"Dia benar-benar takut pada America," kata Brazil dengan ekspresi sebal di wajahnya.

"America sedikit tegang," Travis menjelaskan. "Dia akan bertemu orangtua Shepley minggu ini."

Brazil mengangguk, alisnya terangkat ke atas. "Jadi mereka akan…"

"Menuju ke sana," kataku, mengangguk bersamanya."Ini permanen."

"Wow," kata Brazil. Keterkejutan tidak hilang dari wajahnya saat dia menyuapkan makanan, dan aku dapat melihat rasa bingung di sekitarnya. Kami semua masih muda, dan Brazil tidak mengerti komitmen Shepley.

"Ketika kau merasakannya, Brazil…kau akan mengerti rasanya," kata Travis sambil tersenyum padaku.

Kafetaria bising oleh kegembiraan, karena pertarungan bola salju di luar dan beberapa jam terakhir menuju liburan yang berlalu dengan cepat. Saat tempat duduk penuh, suara mengobrol yang mengalir dengan stabil berubah menjadi suara keras yang bergema, volume meningkat saat semua orang mulai berbicara melawan kebisingan.

Pada saat Shepley dan America kembali sambil membawa nampan, mereka telah berbaikan. Dengan senang dia duduk di sampingku, berceloteh tentang momen bertemu-orangtua mendatangnya. Mereka akan pergi sore ini untuk bertemu orangtua Shepley, alasan sempurna untuk menjadi salah satu krisis America yang terkenal.

Aku memperhatikannya memilih roti saat dia mencemaskan apa yang harus dikemas dan berapa banyak tas yang bisa dia bawa tanpa kelihatan berlebihan, namun dia terlihat berusaha menahannya.

"Aku sudah mengatakannya padamu, sayang. Mereka akan mencintaimu. Mencintaimu seperti aku mencintaimu, aku mencintaimu," kata Shepley, menyelipkan rambut America ke belakang telinganya. America menarik nafas dan ujung bibirnya tertarik ke atas seperti biasanya setelah Shepley membuatnya lebih tenang.

Telepon Travis bergetar, menyebabkannya meluncur beberapa inchi di atas meja. Dia mengabaikannya, terus membicarakan dengan antusias tentang permainan poker pertama kami dengan semua kakaknya Travis kepada Brazil. Aku melirik sekilas pada layar, menepuk bahu Travis saat aku membaca nama di layar.

"Sayang?"

Tanpa permisi pada Brazil, dia berpaling dari Brazil lalu memberiku perhatian penuhnya. "Ya, Pigeon?"

"Kau mungkin ingin menjawabnya."

Dia melihat ke bawah pada handphone-nya dan menghela nafas, "Atau tidak."

"Itu mungkin penting."

Dia mengerutkan bibirnya sebelum mengangkat telepon ke telinganya. "Ada apa, Adam?" Matanya melihat ke sekeliling ruangan sambil mendengarkan, mengangguk sesekali. "Ini pertarungan terakhirku, Adam. Aku masih belum yakin. Aku tidak akan pergi tanpanya dan Shepley akan pergi ke luar kota. Aku tahu…aku mendengarmu. Hmmm…itu sebenarnya bukan ide yang buruk."

Alisku ditarik masuk, melihat matanya bersinar karena apa pun ide Adam telah membuatnya ceria. Ketika Travis menutup telepon, aku menatapnya penuh harap. "Itu akan cukup untuk membayar uang sewa selama delapan bulan ke depan. Adam mendapatkan John Savage. Dia sedang berusaha untuk menjadi petarung profesional."

"Aku belum pernah melihat dia bertarung, apakah kau sudah pernah?" tanya Shepley, bersandar ke depan.

Travis mengangguk. "Pernah satu kali di Springfield. Dia bagus."

"Tidak cukup bagus," kataku. Travis mendekat dan mencium lembut keningku dengan apresiasi. "Aku bisa tinggal di rumah, Trav."

"Tidak," dia berkata sambil menggelengkan kepala.

"Aku tidak ingin kau terkena pukulan seperti waktu itu karena kau mengkhawatirkan aku."

"Tidak, Pidge."

"Aku akan menunggumu," aku tersenyum, berusaha terlihat lebih bahagia pada ide itu dari yang sebenarnya aku rasakan.

"Aku akan meminta Trent untuk datang. Dia satu-satunya orang yang aku percaya sehingga aku bisa berkonsentrasi pada pertarungan."

"Terima kasih banyak, bajingan," Shepley menggerutu.

"Hey, kau sudah mendapatkan kesempatanmu," kata Travis, hanya setengah meledeknya.

Bibir Shepley ditarik ke samping karena menyesal. Dia masih merasa bersalah karena kejadian malam itu di Hellerton. Dia meminta maaf padaku setiap hari selama seminggu, akhirnya rasa bersalahnya bisa dikendalikan menjadi hanya menderita dalam diam. Aku dan America berusaha meyakinkannya bahwa dia tidak bersalah, namun Travis selalu menganggap bahwa Shepley-lah yang bertanggung jawab.

"Shepley, itu bukan salahmu. Kau menariknya menjauh dariku, ingat?" kataku, meraih ke belakang America untuk menepuk lengan Shepley. Lalu aku melihat pada Travis, "Kapan pertarungannya?"

"Minggu depan," dia mengangkat bahunya. "Aku ingin kau ada di sana. Aku membutuhkanmu untuk berada di sana."

Aku tersenyum, meletakkan daguku di bahunya. "Kalau begitu aku akan berada di sana."

Travis mengantarku ke kelas, genggamannya menjadi lebih erat beberapa kali setiap kali aku tergelicir di atas salju. "Kau harus lebih berhati-hati," ledeknya.

"Aku melakukannya dengan sengaja, bodoh."

"Jika kau ingin aku memelukmu, kau hanya tinggal bilang," Travis berkata sambil menarikku ke pelukannya.

Kami tidak mempedulikan mahasiswa yang melintas dan bola salju yang melayang di atas kepala kami saat dia mencium bibirku. Kakiku terangkat dari tanah dan dia terus menciumku, mengangkatku dengan mudah melintasi kampus. Saat dia menurunkanku di depan pintu kelas, dia menggelengkan kepalanya.

"Nanti saat kita mengatur jadwal kita semester depan, akan lebih bagus kalau kita mengambil lebih banyak mata kuliah yang sama."

"Aku setuju," jawabku, memberinya sebuah ciuman lagi sebelum menuju tempat dudukku.

Aku melihat ke atas, dan Travis memberiku satu senyuman lagi sebelum berjalan menuju kelasnya di gedung sebelah. Orang-orang di sekitarku sudah terbiasa melihat pertunjukan kasih-sayang kami yang tidak tahu malu seperti teman sekelas Travis yang sudah terbiasa melihatnya terlambat masuk kelas beberapa menit.

Aku terkejut waktu berlalu dengan cepat. Aku menyerahkan jawaban ujian terakhirku hari ini dan berjalan menuju aula asrama. Kara sedang duduk di tempat biasanya di atas tempat tidur, membaca, saat aku menggeledah laciku mencari beberapa barang yang aku butuhkan.

"Kau akan pergi ke luar kota?" tanya Kara.

"Tidak, aku hanya membutuhkan beberapa barang. Aku akan ke gedung Sains untuk menjemput Travis, lalu aku akan berada di apartemennya selama seminggu."

"Aku sudah menduganya," dia berkata, masih tetap melihat ke halaman bukunya.

"Semoga liburanmu menyenangkan, Kara."

"Mmmmm."

Kampus hampir kosong, masih ada beberapa orang yang keluyuran. Saat aku berbelok, aku melihat Travis berdiri di luar, menghabiskan rokoknya. Dia memakai topi rajutan di atas kepala yang rambutnya telah di cukur habis dan satu tangannya masuk ke dalam saku jaket kulit berwarna coklat tua yang dipakainya. Asap keluar dari lubang hidungnya saat dia melihat ke bawah, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga tinggal beberapa kaki aku darinya, baru aku menyadari betapa kacau pikirannya.

"Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?" tanyaku. Dia tidak mengangkat kepalanya ke atas. "Travis?"

Matanya berkedip beberapa kali ketika suaraku terdengar olehnya dan ekspresi sedihnya berganti menjadi sebuah senyuman yang dipaksakan. "Hai, Pigeon."

"Semuanya baik-baik saja?"

"Semua baik-baik saja sekarang," jawab Travis, menarikku ke pelukannya.

"Baiklah. Ada apa?" aku berkata sambil cemberut dan mengangkat alisku, memperlihatkan rasa raguku.

"Hanya sedang memikirkan banyak hal," dia menghela nafas. Ketika aku menunggu  dengan harap, dia melanjutkan. "Tentang minggu ini, pertarungan, dan tentang kau akan berada di sana nanti…"

"Aku sudah bilang kalau aku akan tinggal di rumah saja."

"Aku membutuhkanmu di sana, Pidge." dia berkata sambil membuang rokok ke bawah. Dia memperhatikannya menghilang ke dalam jejak kaki di salju lalu memegang tanganku, menarikku ke tempat parkir.

"Apakah kau sudah bicara dengan Trent?" tanyaku.

Dia menggelengkan kepalanya. "Aku sedang menunggu dia menelepon balik."

America menurunkan jendela mobilnya dan menjulurkan kepalanya keluar dari mobilnya Shepley. "Cepatlah! Di sini sangat dingin!"

Travis tersenyum dan mempercepat langkahnya, membukakan pintu mobil untukku. Shepley dan America mengulangi pembicaraan yang sama yang telah mereka bicarakan beberapa kali sejak America mengetahui akan bertemu dengan orangtua Shepley sementara aku memperhatikan Travis yang sedang memandang keluar jendela. Pada saat kami berhenti di tempat parkir apartemen, telepon Travis berbunyi.

"Apa yang terjadi, Trent?" dia berkata saat menjawab teleponnya. "Aku meneleponmu empat jam yang lalu, seperti orang sibuk saja. Terserahlah. Dengar, aku membutuhkan bantuanmu. Aku akan bertarung minggu depan. Aku ingin kau datang. Aku belum tahu kapan waktunya, tapi saat aku meneleponmu nanti, aku ingin kau datang dalam waktu satu jam. Bisakah kau melakukannya untukku? Bisa apa tidak, bodoh? Karena aku ingin kau menjaga Pigeon. Ada orang brengsek yang menyentuhnya terakhir kali dan…ya." Nada suaranya menjadi menakutkan. "Aku sudah membereskannya. Jadi kalau aku menelepon…? Thank's Trent."

Travis menutup telepon dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil.

"Sudah merasa lebih tenang?" tanya Shepley, melihat Travis dari kaca spion.

"Yap. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan kalau dia tidak datang."

"Aku sudah mengatakannya padamu." Aku memulai.

"Pidge, berapa kali aku harus mengatakannya padamu?" dia merengut.

Aku menggelengkan kepala karena nada kesalnya. "Aku tidak mengerti. Kau tidak membutuhkanku di sana dulu."

Jarinya dengan lembut memegang pipiku. "Karena aku belum mengenalmu dulu. Kalau kau tidak berada di sana aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku bertanya-tanya kau ada di mana, apa yang sedang kau lakukan…jika kau di sana dan aku bisa melihatmu, aku bisa fokus. Aku tahu ini gila, tapi itu yang terjadi."

"Dan gila seperti itulah yang aku sukai," aku tersenyum, mendekat untuk mencium bibirnya.

"Tentu saja," America bergumam pelan.

***

Di bawah bayangan gedung aula Keaton, Travis memelukku erat di sampingnya. Uap dari nafasku bersatu dengan uap nafasnya di udara malam yang dingin, dan aku dapat mendengar percakapan pelan terdengar dari pintu samping yang hanya berjarak beberapa kaki, tidak menyadari kehadiran kami.

Keaton adalah gedung tertua di Eastern, dan meskipun The Circle pernah diadakan di sana sebelumnya, ada perasaan tidak enak mengenai tempatnya. Adam mengharapkan penonton yang banyak, dan ruang bawah tanah Keaton bukanlah ruang bawah tanah yang paling luas di kampus. Beberapa balok disusun menjadi kotak sepanjang dinding bata tua, sebagai tanda gedung ini sedang di renovasi.

"Tempat ini adalah ide terburuk Adam," Travis menggerutu.

"Sudah terlambat untuk mengubahnya sekarang." Aku berkata sambil memandangi perancah.

Telepon Travis menyala dan dia melihat pada layar. Wajahnya menjadi berwarna biru karena lampu dari layar, dan aku dapat melihat dua garis khawatir di antara alisnya yang aku sudah tahu ada di sana. Dia memijit tombol dan menutup teleponnya, memelukku lebih erat.

"Kau tampak gugup malam ini," bisikku.

"Aku akan merasa lebih tenang kalau si bodoh Trent sudah ada di sini."

"Aku di sini, dasar kau gadis kecil cengeng," kata Trent, dengan suara pelan. Aku hampir tidak dapat melihatnya di kegelapan, namun senyumnya bersinar di bawah sinar bulan.

"Bagaimana kabarmu, Sis?" kata Trent. Dia memelukku dengan satu tangan, dan mendorong Travis dengan tangan satunya.

"Aku baik-baik saja, Trent."

Travis langsung terlihat tenang, lalu dia menuntun tanganku ke belakang  gedung.

"Jika ada polisi dan kita terpisah, kita bertemu di asrama , ok?" kata Travis pada kakaknya. Kami berhenti di depan jendela yang terbuka yang menuju ruang bawah tanah, tanda bahwa Adam sudah berada di dalam dan sedang menunggu.

"Kau serius?" kata Trent, menatap jendela. "Abby saja tidak akan muat ke jendela itu."

"Kau akan muat," Travis meyakinkannya, merangkak ke bawah masuk ke dalam kegelapan. Seperti sebelumnya, aku membungkuk dan mendorong mundur tubuhku, tahu Travis akan menangkapku.

Kami menunggu beberapa saat, lalu mendengar Trent menggerutu saat melewati jendela kecil itu dan mendarat di lantai, hampir kehilangan keseimbangan saat kakinya mendarat di lantai semen.

"Kau beruntung aku mencintai Abby. Aku tidak akan melakukan ini untuk orang lain," Trent menggerutu, membersihkan baju dengan tangannya.

Travis melompat ke atas, dengan gerakan cepat dia menarik jendela hingga tertutup. "Lewat sini," kata Travis, mengarahkan kami di kegelapan.

Dari lorong ke lorong, aku berpegangan dengan erat pada lengan Travis, merasakan Trent berpegangan pada ujung bajuku. Aku dapat mendengar kerikil semen yang terinjak di lantai. Mataku terbuka lebih lebar, berusaha untuk menyesuaikannya dengan kegelapan ruang bawah tanah, namun tidak ada sedikitpun cahaya yang dapat membuat kami fokus.

Trent menghela nafas saat kami berbelok untuk ketiga kalinya. "Kita tidak akan menemukan jalan keluar dari sini."

"Ikuti aku saja nanti. Semua akan baik-baik saja," kata Travis, merasa terganggu karena keluhan Trent.

Ketika lorong menjadi sedikit terang, aku tahu kami sudah semakin dekat. Saat gemuruh pelan penonton terdengar menjadi teriakan gelisah yang meneriakan nama dan angka, aku tahu kami sudah sampai. Di ruangan tempat Travis menunggu dipanggil biasanya hanya terdapat satu lentera dan satu kursi, namun karena sedang renovasi, ruangan ini dipenuhi oleh meja, kursi dan beberapa peralatan yang ditutupi kain putih.

Travis dan Trent sedang mengatur strategi untuk pertarungan saat aku mengintip keluar. Di luar sama penuh dan kacaunya seperti pada saat pertarungan terakhir waktu itu, tapi dengan ruangan yang lebih kecil. Perabotan ditutupi kain berdebu berderet di dekat dinding, yang disingkirkan untuk memberi ruang untuk para penonton.

Ruangan itu lebih gelap dari pada biasanya, dan aku rasa Adam hanya ingin berhati-hati untuk tidak menarik perhatian pada apa yang sedang kami lakukan. Lentera digantung di langit-langit, menciptakan efek terlihat lebih kumal pada uang yang diangkat ke atas saat taruhan masih dibuka.

"Pigeon, kau mendengar apa yang aku katakan?" tanya Travis, menyentuh lenganku.

"Apa?" aku bertanya sambil berkedip.

"Aku ingin kau berdiri di dekat pintu ini, ok? Berpegangan pada lengan Trent sepanjang waktu."

"Aku tidak akan bergerak. Aku janji.

Travis tersenyum, lesung pipi sempurnanya terlihat di pipinya. "Sekarang kau yang terlihat gugup."

Aku melirik ke arah pintu lalu kembali menatap Travis. "Perasaanku tidak enak, Trav. Bukan karena pertarungannya, tapi karena…sesuatu. Tempat ini membuatku takut."

"Kita tidak akan lama di sini." Kata Travis berusaha menenangkanku. Suara Adam terdengar dari pengeras suara, lalu sepasang tangan hangat yang aku kenal memegang kedua sisi wajahku. "Aku mencintaimu," kata Travis sambil mengangkatku dari lantai, memelukku erat saat dia menciumku. Dia menurunkanku ke lantai lalu meletakkan tanganku di lengan Trent. "Jangan lepaskan pandanganmu darinya," kata Travis pada kakaknya. "Walaupun hanya satu detik, tempat ini akan menjadi kacau setelah pertarungan dimulai."

"…mari kita sambut penantang kita malam ini…JOHN SAVAGE!"

"Aku akan menjaganya dengan hidupku, adikku," kata Trent sambil menarik-narik lenganku. "Sekarang pergi kalahkan orang itu agar kita bisa cepat pergi dari sini."

"…TRAVIS ‘MAD DOG’ MADDOX!" Adam berteriak di pengeras suara.

Suara di ruangan itu memekakkan telinga saat Travis berjalan menerobos kerumunan. Aku melihat ke arah Trent, ada senyuman kecil di wajahnya. Orang lain mumgkin tidak akan melihatnya, tapi aku dapat melihat rasa bangga di matanya.

Saat Travis masuk ke tengah The Circle, aku menelan ludah. Tubuh John tidak lebih besar dari Travis, namun dia terlihat berbeda dari orang yang pernah Travis lawan sebelumnya, bahkan dari pria yang Travis lawan di Vegas. Dia tidak berusaha mengintimidasi Travis dengan tatapan menakutkan seperti yang lain; dia sedang mempelajari gerakan Travis, mempersiapkan cara untuk bertarung melawan Travis di dalam pikirannya. Matanya selain terlihat sedang menganalisa, itu juga terlihat kosong. Aku tahu sebelum pertarungan dimulai bahwa Travis tidak hanya akan sekedar bertarung, dia sedang berdiri berhadapan dengan iblis.

Travis tampaknya menyadari perbedaannya juga. Seringai yang biasanya ada sekarang tidak ada, digantikan dengan tatapan intens. Saat tanda pertarungan dimulai, John menyerang.

"Ya Tuhan," aku berkata sambil mencengkeram kuat lengan Trent.

Trent bergerak seperti Travis, seolah mereka adalah orang yang sama. Aku semakin tegang setiap John mengayunkan pukulannya, melawan dorongan untuk menutup mataku. Tidak ada gerakan yang sia-sia; John sangat lihai dan penuh perhitungan. Kalau dibandingkan,  lawan Travis yang lain terlihat sangat ceroboh. Kekuatan yang belum terlatih di balik setiap pukulan pria itu saja sudah membuat kagum, seolah semuanya telah diatur dan dilatih agar sempurna.

Udara di ruangan itu menjadi berat dan pengap; debu dari kain penutup beterbangan dan masuk ke tenggorokanku setiap kali aku menarik nafas. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin tidak enak perasaanku. Aku tidak bisa menghilangkannya, namun aku memaksa diriku untuk tetap diam di tempatku agar Travis dapat berkonsentrasi.

Pada satu waktu, aku terhipnotis oleh pemandangan di tengah ruang bawah tanah, saat berikutnya, aku didorong dari belakang. Kepalaku tersentak karenanya, namun aku mencengkram lebih erat, menolak untuk bergerak dari tempat yang sudah aku janjikan. Trent melihat ke belakang dan menarik baju dua orang pria di belakang kami lalu mendorongnya ke lantai seolah mereka hanyalah boneka kain.

"Mundur atau aku akan membunuhmu!" dia berteriak pada mereka yang menatap dua pria yang jatuh itu. Aku mencengkram lengannya lebih erat dan dia menepuk tanganku. "Aku akan melindungimu, Abby. Tonton saja pertarungannya."

Travis melakukannya dengan baik, dan aku menarik nafas saat dia melukai pria itu. Penonton semakin histeris, namun peringatan Trent membuat orang-orang di sekitar kami menjaga jarak aman. Travis mendaratkan pukulan kuat lalu melirik padaku, langsung mengembalikan perhatiannya pada John. Gerakannya gesit, hampir penuh perhitungan, terlihat seperti dapat meramalkan serangan John, bahkan sebelum John melakukannya.

Karena John sudah tidak sabar, dia melilitkan tangannya ke tubuh Travis, menariknya ke bawah. Seperti satu kesatuan, kerumunan yang mengelilingi ring buatan menjadi semakin berdesakan, semua ingin melihat ke dalam ring saat pertarungan terjadi di lantai.

"Aku tidak bisa melihatnya, Trent!" aku berteriak sambil berjinjit.

Trent melihat sekeliling, menemukan kursi kayu Adam. Dengan gerakan seperti sedang berdansa, dia memindahkanku dari tangan satu ke tangan yang satunya, membantuku naik kursi sehingga aku sekarang berada di atas penonton. "Bisakah kau melihatnya?"

"Ya!" aku berkata sambil memegang tangan Trent agar tidak jatuh. "Dia berada di atas John, tapi kakinya John melilit leher Travis!"

Tubuh Trent miring ke depan sambil berjinjit, meletakkan tangannya yang bebas di sekitar mulutnya, "BANTING PANTATNYA, TRAVIS!"

Aku melirik sekilas pada Trent di bawah lalu memiringkan tubuhku ke depan agar dapat melihat lebih jelas pada ke dua pria yang berada di lantai. Tiba-tiba Travis berdiri, kaki John masih berada di lehernya.

Travis kemudian terjatuh di atas lututnya, membanting punggung dan kepala John ke lantai semen dengan keras. Kaki John terkulai, melepaskan leher Travis, lalu Travis memundurkan sikunya, memukuli John terus menerus dengan kepalan tangannya yang dikepalkan dengan rapat hingga Adam menariknya menjauh dari John, melemparkan kain merah kotak ke arah tubuh John yang terkulai.

Kegembiraan meledak di ruangan itu saat Adam mengangkat  tangan Travis ke udara. Trent memeluk kakiku, sambil berteriak mengucapkan selamat atas kemenangannya pada adiknya. Travis melihat ke atas ke arahku sambil tersenyum lebar dan berdarah; mata kanannya mulai bengkak.

Saat uang berpindah tangan dan kerumunan mulai berpencar dan bersiap untuk keluar, mataku melihat ke arah lentera yang berkelap-kelip dan bergoyang ke depan dan ke belakang tak terkendali di ujung ruangan di belakang Travis. Cairan menetes dari dasarnya, membasahi kain penutup di bawahnya. Perutku langsung mual.

"Trent?"

Setelah mendapat perhatiannya, aku menunjuk ke ujung ruangan. Pada saat itu juga, lentera jatuh dari gantungannya, ke atas kain penutup di bawahnya, langsung meledak menjadi kobaran api.

"Ya Tuhan!" Trent berkata sambil memegang kakiku.

Beberapa pria yang ada di sekitar api langsung loncat menjauh, melihat terpana pada api saat merembet pada kain di dekatnya. Asap hitam keluar dari pojok, dan dengan bersamaan, semua orang di ruangan ini menjadi panik, saling mendorong untuk keluar.

Aku menatap mata Travis, dan pandangan ketakutan terlihat di wajahnya.

"Abby!" dia berteriak, mendorong lautan manusia yang ada diantara kami.

"Ayo!" Trent berteriak sambil menarikku dari kursi ke sampingnya.

Ruangan menjadi gelap, dan suara keras seperti ada yang meledak terdengar dari sisi lain ruangan. Lentera lain memicu dan membuat api semakin besar dengan ledakan kecil. Trent menarik lenganku, menarikku di belakangnya saat dia berusaha menerobos orang-orang untuk keluar.

"Kita tidak bisa keluar lewat situ! Kita harus kembali ke jalan tempat kita masuk tadi!" aku berteriak, memberontak.

Trent melihat ke sekeliling, membuat rencana untuk keluar di tengah-tengah kebingungan. Aku melihat pada Travis lagi, melihatnya berusaha melintasi ruangan. Saat orang-orang semakin banyak, Travis terdorong semakin jauh. Teriakan gembira sebelumnya berganti menjadi jeritan ketakutan dan keputusasaan saat semua orang berusaha untuk keluar.

Trent menarikku ke pintu, dan aku melihat ke belakang, "Travis!" aku berteriak, mencoba meraihnya.

Dia terbatuk, menggerak-gerakkan tangannya agar asap menjauhinya.

"Ke arah sini, Trav!" Trent memanggilnya.

"Bawa saja dia keluar dari sini, Trent! Bawa Pigeon keluar!" dia berkata sambil terbatuk-batuk.

Merasa ragu, Trent melihat ke arahku. Aku dapat melihat rasa takut di matanya. "Aku tidak tahu jalan keluar!"

Aku melihat ke arah Travis sekali lagi, dia berada di dekat api yang sudah menyebar kemana-mana. "Travis!"

"Cepat pergi! Kita akan bertemu di luar!" suaranya tenggelam di antara kekacauan yang ada di sekitar kami, dan aku menarik lengan baju Trent.

"Lewat sini, Trent!" kataku, merasakan airmata dan asap membakar mataku. Banyak orang yang panik di antara Travis dengan satu-satunya pintu untuk dia keluar.

Aku menarik tangan Trent, mendorong semua orang yang menghalangiku. Kami tiba di pintu keluar, lalu aku melihat ke depan dan ke belakang. Dua lorong gelap menjadi remang-remang diterangi api yang ada di belakang kami.

"Lewat sini!" Kataku, menarik tangannya lagi.

"Kau yakin?" tanya Trent, suaranya terdengar sangat ragu dan ketakutan.

"Ayo!" kataku menarik tangannya sekali lagi.

Semakin jauh kami berlari, lorong menjadi semakin gelap. Setelah beberapa saat, aku benafas semakin mudah karena asap berada jauh di belakang, namun suara jeritan tidak berkurang, malah semakin kencang dan panik dari sebelumnya. Suara mengerikan di belakang kami menguatkan tekadku, membuat langkahku semakin cepat tapi terarah. Pada belokan ke dua, kami berjalan tanpa bisa melihat apa pun dalam kegelapan. Aku meletakkan tangan di depanku, merasakan dinding sepanjang jalan dengan tanganku yang bebas, mencengkeram tangan Trent dengan tangan yang lain.

"Apa kau pikir dia berhasil keluar?" tanya Trent.

Pertanyaannya merusak konsentrasiku, dan aku berusaha mendorong keluar jawabannya dari pikiranku. "Terus berjalan," kataku, tercekat.

Trent berhenti sebentar, namun saat aku menariknya lagi, ada cahaya remang-remang. Dia memegang pemantik api, memicingkan mata untuk mencari jalan keluar. Aku mengikuti cahaya saat dia menggerakkannya mengelilingi lorong, dan aku terkesiap saat pintu keluar terlihat.

"Lewat sini!" aku berkata sambil menariknya lagi.

Saat aku bergegas melintasi ruangan berikutnya, segerombolan orang menabrakku, membuatku terjatuh ke lantai. Tiga wanita dan dua pria, semua wajahnya kotor dan mata yang lebar dan ketakutan menatapku.

Salah satu pria menarikku untuk membantuku berdiri. "Ada beberapa jendela di sana yang bisa kita lalui untuk keluar." dia berkata.

"Kami baru saja datang dari arah sana, tidak ada apa-apa di sana," aku berkata sambil menggelengkan kepala.

"Kau pasti tadi tidak melihatnya. Aku tahu itu ada di sana!"

Trent menarik tanganku. "Ayo, Abby, mereka tahu jalan keluar!"

Aku menggelengkan kepala. "Kita masuk dari sini bersama Travis. Aku tahu itu."

Trent memegangku lebih erat. "Aku sudah berjanji pada Travis untuk selalu bersamamu. Kita akan pergi bersama mereka."

"Trent, kita tadi dari sana…tidak ada jendela di sana!"

"Ayo kita pergi, Jason!" teriak salah satu wanita.

"Kami akan pergi," kata Jason, melihat ke arah Trent.

Trent menarik tanganku lagi dan aku melepaskannya. "Trent, aku mohon! Lewat sini, aku yakin!"

"Aku akan pergi bersama mereka," kata Trent, "Aku mohon ikutlah bersamaku."

Aku menggelengkan kepala, air mata jatuh di pipiku. "Aku sudah pernah kemari sebelumnya. Itu bukan jalan untuk keluar!"

"Kau harus ikut bersamaku!" dia membentak sambil menarik lenganku.

"Trent, hentikan! Kita pergi ke arah yang salah!" aku menangis.

Kakiku terseret di atas lantai semen saat dia menarikku bersamanya. Dan ketika bau asap semakin kuat, aku menarik lepas tanganku, berlari ke arah yang berlawanan.

"ABBY! ABBY!" Trent memanggilku.

Aku terus berlari, sambil meletakkan tangan di depanku, agar tidak menabrak dinding.

"Ayo pergi! Dia akan membuatmu terbunuh!" teriak seorang wanita.

Bahuku menabrak dinding dan aku berputar, terjatuh ke lantai. Aku merangkak di atas lantai, sambil tetap meletakkan tangan di depanku. Ketika jariku menyentuh eternit, aku menelusurinya lalu berdiri. Ujung pintu terasa di bawah sentuhanku dan aku mengikutinya ke ruangan sebelah.

Kegelapan tiada akhir, namun aku berusaha menghilangkan rasa panikku, dengan hati-hati menjaga agar langkahku tetap lurus, mengapai dinding berikutnya. Beberapa menit berlalu, dan aku merasakan ketakutan yang mucul di dalam diriku saat suara ratapan terdengar.

"Aku mohon," aku berbisik di dalam kegelapan, "Jadikan ini jalan keluar."

Aku merasakan ujung pintu lain, dan saat aku masuk, seberkas cahaya berwarna perak bersinar di hadapanku. Cahaya bulan masuk menerobos kaca jendela, dan isak tangis keluar dari tenggorokanku.

"T-TRENT! Ada di sini!" aku memanggil ke belakangku. "TRENT!"

Aku memicingkan mataku, melihat gerakan kecil di kejauhan. "Trent?" panggilku, jantungku berdegup kencang di dadaku. Dalam sekejap, sebuah bayangan menari di dinding, dan mataku terbelalak ngeri ketika aku menyadari bahwa apa yang tadi aku kira adalah bayangan seseorang ternyata adalah kobaran api.

"Ya Tuhan," aku berkata sambil melihat ke arah jendela. Travis tadi menutupnya, dan itu terlalu tinggi untuk bisa aku raih.

Aku melihat sekeliling mencari sesuatu untuk dinaiki. Ruangan itu penuh dengan perabotan kayu yang ditutupi kain putih. Kain yang sama yang akan dilahap api hingga ruangan ini menjadi seperti neraka.

Aku menarik sepotong kain putih, melepasnya dari sebuah meja. Debu beterbangan di sekitarku saat kain itu dilempar ke bawah lalu menyeret kayu berukuran besar itu melintasi ruangan ke bawah jendela. Aku mendorongnya menempel ke dinding dan aku menaikinya, terbatuk karena asap yang perlahan menyusup ke dalam ruangan. Jendela itu masih beberapa kaki di atasku.

Aku mendengus setiap kali mencoba untuk mendorongnya terbuka, dengan asal memutar kunci ke depan dan ke belakang sambil mendorong. Jendela itu sama sekali tidak bergeming.

"Ayolah, sialan!" aku berteriak, bersandar di lenganku.

Aku miring ke belakang, menggunakan seluruh berat badanku dengan sedikit kekuatan yang dapat aku usahakan untuk memaksanya terbuka. Ketika itu tidak berhasil, aku memasukan kukuku ke dalam celah jendela, mencongkel dan menariknya hingga aku rasa kukuku terangkat dari kulitku. Cahaya berkelebat di ujung mataku, dan aku berteriak ketika aku melihat api merembet ke kain putih sepanjang lorong yang aku lalui tadi.

Aku melihat ke jendela, sekali lagi menancapkan kukuku ke ujung jendela. Darah menetes dari ujung jariku, ujung jendela yang terbuat dari besi menyayat kulitku. Instingku muncul mengalahkan semua akal sehatku, dan aku mengepalkan tanganku, memukul-mukul kaca. Kaca jendelanya sedikit retak, diikuti percikan darahku setiap kali memukul.

Aku memukul kacanya sekali lagi dengan kepalan tanganku, lalu melepas sepatuku, membantingnya ke jendela dengan kekuatan penuh. Suara sirene terdengar di kejauhan dan aku terisak menangis, memukul-mukulkan telapak tanganku ke jendela. Sisa hidupku hanya berjarak beberapa inchi, di balik jendela. Aku mencongkel jendela sekali lagi, lalu mulai memukul kaca dengan kedua tanganku.

"TOLONG AKU!" aku berteriak, melihat api yang sudah semakin mendekat. "SIAPAPUN, TOLONG AKU!

Suara batuk samar-samar terdengar di belakangku. "Pigeon?"

Aku langsung berputar karena mendengar suara yang aku kenal. Travis muncul dari pintu di belakangku, wajah dan bajunya penuh dengan abu.

"TRAVIS!" aku menangis. Aku bergegas turun dari meja dan berlari menuju tempat dia berdiri, kehabisan tenaga dan kotor.

Aku berlari ke arahnya, dan dia memelukku, terbatuk saat dia menarik nafas. Tangannya memegang kedua pipiku.

"Di mana Trent?" tanyanya, suaranya serak dan lemah.

"Dia mengikuti mereka!" aku menjawab sambil menangis, air mata mengalir di wajahku. "Aku sudah mencoba membujuknya untuk ikut denganku, tapi dia tidak mau!"

Travis melihat ke bawah ke arah api yang semakin mendekat. Aku menarik nafas, terbatuk ketika asap memenuhi paru-paruku. Dia melihat ke arahku, matanya berkaca-kaca. "Aku akan mengeluarkan kita dari sini, Pidge." Dia menciumku dengan gerakan cepat dan kuat, lalu dia naik ke atas tangga buatanku.

Dia mendorong jendela, dan memutar kuncinya, semua ototnya bergetar saat dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong kaca.

"Mundur, Abby! Aku akan memecahkan kacanya!"

Takut untuk bergerak, aku hanya bisa menjauh satu langkah dari satu-satunya jalan kami untuk keluar. Sikunya Travis ditekuk saat dia mengangkat kepalan tangannya ke belakang, berteriak saat dia memukulkannya ke jendela. Aku berpaling, menutup wajah dengan tanganku yang berdarah saat kaca pecah di atasku.

"Ayo!" dia berteriak, mengulurkan tangannya padaku. Panas api memenuhi ruangan, dan aku melayang di udara saat dia mengangkatku dari lantai dan mendorongku keluar.

Aku menunggu sambil berlutut saat Travis memanjat keluar, lalu membantunya berdiri. Suara sirene menggelegar dari belakang gedung, dan cahaya merah biru dari lampu mobil pemadam kebakaran dan polisi menari di dinding bata gedung sebelah.

Kami berlari menuju kerumunan orang yang berdiri di depan gedung, mencari wajah kotor Trent. Travis meneriakkan nama kakaknya, suaranya semakin terdengar putus asa pada setiap panggilan. Dia mengeluarkan handphonenya untuk memeriksa apakah ada missed call lalu menutupnya, menutup mulut dengan tangannya yang hitam.

"TRENT!" Travis berteriak, memanjangkan lehernya saat dia mencarinya di kerumunan.

Mereka yang telah berhasil keluar berpelukan dan merintih di belakang mobil ambulans, menatap ngeri saat mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air melalui jendela dan para pemadam kebakaran berlari ke dalam, menarik selang di belakang mereka.

Travis mengacak-acak rambut pendek di atas kepalanya, menggelengkan kepalanya. "Dia tidak berhasil keluar," dia berkata dengan suara pelan. "Dia tidak berhasil keluar, Pidge."

Nafasku tercekat saat aku melihat abu di pipinya tercoreng oleh air mata. Dia jatuh berlutut dan aku mengikutinya.

"Trent pintar, Trav. Dia pasti berhasil. Dia pasti menemukan jalan keluar lain," aku berkata, mencoba meyakinkan diriku juga.

Travis roboh di pangkuanku, mencengkeram bajuku dengan kedua tangannya. Aku memeluknya. Aku tidak tahu apalagi yang harus aku lakukan.

Satu jam telah berlalu. Kami memandang dengan harapan yang semakin menipis saat pemadam kebakaran membawa keluar dua orang, masuk lalu keluar lagi tanpa membawa apapun. Ketika paramedis mengobati orang yang terluka dan ambulans melaju di kegelapan malam membawa korban yang terbakar, kami menunggu. Setengah jam kemudian, pemadam kebakaran membawa keluar mayat-mayat orang yang tidak terselamatkan. Korban tewas dijajarkan di atas tanah, jumlahnya melebihi jumlah orang yang selamat. Travis tetap menatap ke arah pintu, menunggu mereka mengeluarkan kakaknya dari abu.

"Travis?"

Kami menoleh bersamaan dan melihat Adam berdiri di samping kami. Travis berdiri, menarikku bersamanya.

"Aku senang melihat kalian berhasil keluar," kata Adam, terlihat terpana dan kebingungan.

"Di mana Trent?"

Travis tidak menjawab.

Pandangan kami kembali ke arah aula Keaton yang hangus terbakar, asap tebal masih membumbung dari jendela. Aku memendamkan kepalaku di dada Travis, menutup rapat mataku, berharap aku akan segera terbangun dari mimpi.

"Aku harus uh…aku harus menelepon ayahku," kata Travis, alisnya menyatu saat dia membuka handphonenya.

Aku mengambil nafas, berharap suaraku terdengar lebih kuat dari yang aku rasakan. "Mungkin kau harus menunggu, Travis. Kita belum mengetahui apapun."

Matanya tidak berpaling dari tombol angka, dan bibirnya gemetar. "Ini tidak mungkin terjadi. Dia seharusnya tidak berada di sana."

"Itu kecelakaan, Travis. Kau tidak bisa mengetahui hal seperti ini akan terjadi," aku berkata sambil menyentuh pipinya.

Wajahnya ditahan, matanya tertutup rapat. Dia menarik nafas panjang dan mulai menghubungi nomor telepon ayahnya.

***

Penerjemah: +Oseu
Editor : +Meyke AD

Poskan Komentar

22 comments

Mba oseu.. mba meyke..mas yudi...makasih byk ya..tinggal 1 bab lg.. ga sabar lg ne nunggu nya.. thanks all..

IWIWIWIWIWIW mau habiiiiisss >,< ga nyangkaaa secepat ini~
*sungkem sama teh Oseu dan mas Yudi*

Few chapters to go, bentar lagi pisah sama Pidge dan Trav. Semoga mas admin ganteng dan para translator akan melanjutkan seri selanjutnya -Walking Disaster- Keep up the great works all #peluk

Bener-bener.. Bener-bener deh..
Buat sy tegang sangat di bab.
Moga trent slamet. Moga trent slamet.
Penasaran.. Sanggup engga ya sy tahan rasa penasaran hingga bab brikutnya.
Whoaa~ Engga sbr. XP

Peluk hangat untuk mba oseu dan mba meyke yg baik hati dg semangat '45 di PN
makasih slalu jg buat mas admin.

Ya ampun makin Complex dan seru konfliknya , Menegangkan :D

Ish yaampun tegang bangeeet
Ga sabar
Penasaran bangett
Makasih mb meyke, mb oseu, mas admin :D

Wah ne mah bab lbh tegang drpda mau ktmu calon mertua ya ambruk smga trent selamat,buat trav sma pigeon yg tabah ya (˘̩̩̩^˘̩̩̩ ) (ʃ˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ) °·♡·♥τнänκчöü♥·♡·° mba oseu dan mas yud yud ga sbr nunggu bab terakhir bkin ga tenang nehh

Biar pun udah selesai baca english version tapi tetap menanti kelanjutan TL dari PN,,,
˚˚°º(*)(*)τhαñk<3ϔσù(*)(*)º°˚˚ buat yang udah berbaik hati untuk TL ,,, fighting!

aaaaaa sumpah gk tegaaaaa
Kasian bgt... Jgn ampe Trent mati T_T

tnang travis trent psti slmat !!brjuang trent ...
mksih mba oseu mba meykeu ...

ː̗̀(☉,☉)ː̖́ eeeuww!!! Speecless

tinggal 1 bab lgi :)

BIG thanks to mba oseu ama mas admin... :-*

nih movienya koq ga ada kabar2 lgi sieh? sma ama fifty... bakal jdi dibuat ga seh movienya?

oh tidak, jan bilang trent mati T-T oh god sake, semoga trent selamat T-T

TReNt selamat kan??????

Kasih tau ga yaaaa? ;))

Menanti bab berikutnya :)

@mba oseu : ah mba oseu bikin penasaran klimaks :"( well makasih banyak mba TL menegangkannya.

Mudh2n Trent slamat...

mb oseu makasihhhhh
mb meyke makasih..
mas mimin makasih...
tingal 1 bab lge..*cium sayanh buat mas travis*

tenang readers...trent selamat kok
hehehe.....sorry mbak Oseu ngasi bocoran..., abis gak sabar :))

Walking disaster-nya di-TL juga dooong...
(•͡.̮ •͡ )

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top