23

bd-thumb
DANSA TERAKHIR

Sesaat sebelum matahari menembus cakrawala, aku dan America diam-diam meninggalkan apartemen. Kami tidak bicara selama perjalanan ke asrama, dan aku merasa bersyukur karena keheningan itu. Aku tak ingin bicara, ataupun berpikir, aku hanya ingin memblokir dua belas jam terakhir ini. Badanku terasa berat dan pegal, seolah aku telah mengalami kecelakaan mobil. Saat kami masuk ke kamarku, aku melihat tempat tidur Kara sudah rapi.

"Bolehkan aku meminjam catokanmu?" tanya America.

"Mare, aku baik-baik saja. Pergilah kuliah."

"Kau tidak baik-baik saja. Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian saat ini."

"Hanya itu yang aku inginkan saat ini."

Dia membuka mulutnya untuk berdebat, namun dia menghela nafas. Tidak akan ada yang dapat mengubah pikiranku. "Aku akan kembali untuk memeriksamu sepulang kuliah. Beristirahatlah."

Aku mengangguk, mengunci pintu di belakangnya. Tempat tidur berderak di bawahku saat aku menjatuhkan diri di atas tempat tidur dengan gusar. Selama ini aku percaya bahwa aku penting untuk Travis; bahwa dia membutuhkanku. Namun saat ini, aku merasa seperti mainan baru Travis seperti yang pernah Parker katakan. Dia ingin membuktikan pada Parker bahwa aku masih miliknya. Miliknya.

"Aku bukan milik siapapun," aku berkata pada kamar yang kosong.

Saat kata-kata itu meresap, aku diliputi kesedihan yang kurasakan dari malam sebelumnya. Aku bukan milik siapa-siapa.

Aku tidak pernah merasa kesepian seperti ini selama hidupku.

***

Finch meletakan botol berwarna coklat di hadapanku. Kita berdua merasa tidak ingin merayakannya, namun setidaknya aku terhibur dengan fakta bahwa, menurut America, Travis akan menghindari pesta kencan ini apapun yang terjadi. Kertas kraf berwarna merah dan pink membungkus kaleng bir kosong yang tergantung di langit-langit, dan gaun berwana merah dalam berbagai model berlalu-lalang. Semua meja di taburi kertas foil kecil berbentuk hati, dan Finch memutar matanya karena dekorasi yang konyol ini.

"Hari Valentine di rumah perkumpulan mahasiswa. Romantis," dia berkata sambil memperhatikan sepasang kekasih yang melintas.

Shepley dan America sudah berada di lantai bawah berdansa dari semenjak kami tiba, aku dan Finch memprotes kehadiran kami dengan cemberut di dapur. Aku meminum isi botol dengan cepat, bertekad untuk mengaburkan ingatan pesta kencan terakhir yang aku datangi.

Finch membuka tutup botol lain dan memberiku satu botol lagi, menyadari kebutuhanku untuk melupakan. "Aku akan mengambil lagi," kata Finch, kembali menuju kulkas.

"Bir yang di dalam tong yang untuk tamu, yang di botol untuk anggota Sig Tau," kata seorang wanita ketus di sampingku.

Aku melihat ke arah gelas merah di tangannya. "Atau mungkin kekasihmu memberitahumu itu hanya karena ingin kencan yang murah."

Dia memicingkan matanya dan pergi menjauh dari meja dapur, membawa gelasnya ke tempat lain.

"Siapa itu?" tanya Finch, meletakkan empat botol lagi.

"Hanya salah seorang gadis dari perkumpulan mahasiswi murahan," kataku, memperhatikan wanita itu menjauh.

Pada saat Shepley dan America bergabung bersama kami, sudah ada enam botol kosong di meja di sampingku. Gigiku mati rasa, dan terasa lebih mudah untuk tersenyum. Aku sudah lebih merasa lebih nyaman, bersandar ke meja dapur. Travis sudah membuktikan tidak akan muncul, sehingga aku bisa menjalani sisa waktu pesta dengan tenang.

"Apa kalian akan berdansa atau tidak?" tanya America.

Aku melihat ke arah Finch. "Apakah kau mau berdansa denganku, Finch?"

"Apa kau akan mampu berdansa?" dia bertanya, mengangkat alisnya.

"Hanya ada satu cara untuk mencari tahu," kataku, mendorongnya menuruni tangga.

Kami melompat dan bergoyang hingga keringat terbentuk di bawah gaunku. Pada saat aku pikir paru-paruku akan meledak, lagu berirama pelan terdengar dari speaker. Finch menatap tidak nyaman ke sekeliling kami, melirik setiap pasangan saling mendekat.

"Kau akan memaksaku berdansa diiringi lagu ini, kan?" tanyanya.

"Ini hari Valentine, Finch. Anggap saja aku seorang pria."

Dia tertawa, menarikku ke pelukannya. "Sangat sulit melakukannya saat kau mengenakan gaun pendek berwarna pink."

"Terserah saja. Seperti kau tidak pernah melihat seorang pria memakai gaun saja."

Dia mengangkat bahunya. "Benar juga."

Aku tertawa geli, menyandarkan kepalaku di bahunya. Alkohol membuat tubuhku terasa berat dan lesu saat aku mencoba bergerak diiringi tempo yang lambat.

"Keberatan jika aku menyela, Finch?"

Travis berdiri di samping kami, setengah senang dan setengah bersiap menunggu reaksiku. Darah di pipiku langsung terbakar.

Finch melihat ke arahku, lalu pada Travis. "Tidak."

"Finch," aku mendesis saat dia berjalan menjauh. Travis menarikku mendekat padanya dan aku berusaha menjaga jarak sebisa mungkin.  "Kupikir kau tak akan datang."

"Tadinya aku tidak akan datang, tapi aku tahu kau akan berada di sini. Aku harus datang."

Aku melihat sekeliling ruangan, menghindari matanya. Setiap gerakannya, membuatku selalu waspada. Tekanan jari-jarinya berubah saat dia menyentuhku, kakinya bergerak di samping kakiku, lengannya bergerak, mengusap gaunku. Terasa sangat konyol untuk berpura-pura tidak merasakannya. Matanya sudah sembuh, memarnya sudah hampir hilang, bercak merah di wajahnya sudah tidak ada seolah aku hanya mengada-ada. Semua bukti dari malam yang mengerikan itu telah hilang, hanya meninggalkan kenangan yang menyakitkan.

Dia memperhatikan setiap tarikan nafasku, dan saat lagu hampir berakhir, dia menghela nafas. "Kau terlihat sangat cantik, Pidge."

"Jangan."

"Jangan apa? Jangan mengatakan kalau kau cantik?"

"Pokoknya...jangan."

"Aku tidak sungguh-sungguh."

Aku menarik nafas frustrasi. "Terima kasih."

"Tidak…kau terlihat cantik. Aku sungguh-sungguh. Aku membicarakan tentang yang aku katakan di kamar. Aku tak akan bohong. Aku menikmati menarikmu dari kencanmu bersama Parker…"

"Itu bukan kencan, Travis. Kami hanya makan. Dia tidak mau berbicara denganku sekarang, berkat dirimu."

"Aku sudah dengar. Aku menyesal."

"Tidak, kau tidak menyesal."

"Kau...kau benar," kata Travis, tergagap saat melihat ekspresi tidak sabarku. "Tapi aku…itu bukan satu-satunya alasanku membawamu ke pertarungan. Aku menginginkanmu untuk berada di sana bersamaku, Pidge. Kau adalah jimat keberuntunganku."

"Aku bukan apa-apamu," bentakku, melotot ke arahnya.

Alisnya ditarik ke bawah dan dia berhenti berdansa. "Kau adalah segalanya untukku."

Aku menutup rapat bibirku, berusaha untuk tetap memperlihatkan rasa marahku, namun sangat sulit untuk tetap marah padanya saat dia menatapku seperti itu.

"Kau tidak sunguh-sungguh membenciku, kan?" dia bertanya.

Aku berpaling darinya, membuat jarak yang lebih jauh di antara kita. "Kadang aku berharap aku membencimu. Itu akan membuat semuanya lebih mudah."

Senyum hati-hati terukir di bibirnya, membentuk garis halus. "Jadi apa yang membuatmu lebih kesal? Apa yang telah aku lakukan hingga membuatmu ingin membenciku? Atau mengetahui kau tidak bisa membenciku?"

Rasa marahku kembali. Aku mendorongnya lalu melewatinya, berlari ke atas menuju dapur. Mataku mulai berkaca-kaca tapi aku tidak ingin terlihat berantakan karena menangis terisak di pesta kencan. Finch sedang berdiri di samping meja dan aku menghela nafas lega saat dia memberiku bir lagi.

Satu jam berikutnya, aku melihat Travis menolak semua wanita yang mendekat sambil meminum whiskey di ruang tamu. Setiap kali dia melihat ke arahku, aku berpaling, bertekad untuk melewati malam ini tanpa kejadian yang akan menarik perhatian orang banyak.

"Kalian berdua terlihat menderita." kata Shepley.

"Mereka tidak akan terlihat sebosan itu apabila mereka melakukan ini dengan sengaja," gerutu America.

"Jangan lupa...kami berdua tidak ingin datang," Finch mengingatkan mereka.

America memperlihatkan wajah terkenalnya yang membuatku terkenal karena menurutinya. "Kau bisa berpura-pura menikmatinya, Abby. Demi aku."

Pada saat aku akan membuka mulutku untuk memberinya jawaban yang pedas, Finch menyentuh lenganku. "Kurasa kita sudah cukup menjalankan tugas kita. Kau siap untuk pergi, Abby?"

Aku meminum sisa birku dengan ayunan cepat lalu memegang tangan Finch. Secepat apapun aku ingin pergi, kakiku membeku saat lagu yang sama dengan lagu saat aku dan Travis berdansa di pesta ulang tahunku terdengar ke atas. Aku mengambil botol Finch dan meminumnya, berusaha untuk memblokir ingatan yang datang bersama lagu itu.

Brad bersandar di meja dapur di sampingku. "Ingin berdansa?"

Aku tersenyum padanya, menggelengkan kepala. Dia akan mulai bicara lagi, namun ada yang memotongnya.

"Dansa denganku." Travis berdiri beberapa kaki dariku, tangannya meraih tanganku.

America, Shepley, dan Finch mereka semua menatapku, menunggu jawabanku dengan cemas sama seperti Travis.

"Tinggalkan aku sendiri, Travis," kataku, menyilangkan tanganku.

"Ini lagu kita, Pidge."

"Kita tidak punya lagu."

"Pigeon…"

"Tidak."

Aku melihat pada Brad dan memaksakan sebuah senyuman. "Aku ingin sekali berdansa, Brad."

Bintik-bintik di wajah Brad meregang di pipinya saat dia tersenyum, menunjuk agar aku berjalan duluan ke tangga.

Travis mundur, ekspresi terluka Travis sangat jelas terlihat di matanya. "Bersulang!" teriaknya.

Aku terlonjak, menoleh tepat pada saat dia duduk di atas kursi, merebut bir dari salah satu anggota Sig Tau yang terkejut yang berada di dekatnya. Aku melirik America, yang memperhatikan Travis dengan ekspresi sedih.

"Untuk orang bodoh!" dia berkata sambil menunjuk pada Brad. "Dan untuk wanita yang telah menghancurkan hatimu," dia menundukkan kepalanya padaku. Matanya hilang fokus. "Dan untuk ketakutan absolut kehilangan teman baikmu karena kau cukup bodoh untuk jatuh cinta padanya."

Dia meminum lagi birnya, menghabiskan sisanya, lalu membuang botolnya ke lantai. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara musik dari lantai bawah, dan semua orang menatap Travis dengan bingung.

Merasa dipermalukan, aku menarik tangan Brad dan menuntunnya ke bawah ke lantai dansa. Beberapa pasangan mengikuti kami, memperhatikanku untuk melihat air mata atau reaksi apapun terhadap ocehan Travis. Aku menenangkan ekspresiku, menolak untuk memberikan apa yang mereka inginkan.

Kami berdansa beberapa langkah kaku dan Brad menghela nafas. "Itu tadi sedikit agak…aneh."

"Selamat datang dalam hidupku."

Travis mendorong pasangan yang ada di lantai dansa untuk memberinya jalan, lalu berhenti di sampingku. Membutuhkan beberapa waktu baginya untuk berdiri tegak. "Aku akan menyela."

"Tidak, ya Tuhan!" kataku, menolak melihat ke arahnya.

Setelah beberapa saat yang tegang aku melihat ke atas, melihat mata Travis yang menatap tajam mata Brad. "Jika kau tidak menjauh dari kekasihku, aku akan menyobek tenggorokanmu. Di sini, di lantai dansa ini."

Brad tampak kebingungan, matanya dengan gugup melihat ke arahku lalu pada Travis. "Maaf, Abby," dia berkata sambil perlahan menarik lengannya menjauh dariku. Dia mundur ke tangga dan aku berdiri sendirian, merasa di permalukan.

"Bagaimana perasaanku sekarang padamu, Travis...hampir sama dengan benci."

"Berdansalah denganku," dia memohon, sambil berayun untuk menjaga keseimbangannya.

 Lagunya berakhir dan aku menghela nafas lega. "Pergi minum sebotol whiskey lagi sana, Trav." Aku berbalik untuk berdansa dengan satu-satunya pria yang berdansa sendiri di lantai dansa.

Iramanya sedikit lebih cepat, dan aku tersenyum pada pasangan baruku yang terkejut, berusaha mengabaikan fakta bahwa Travis berada beberapa kaki di belakangku. Anggota lain Sig Tau berdansa di belakangku, memegang pinggulku. Aku meraih ke belakang, menariknya lebih dekat. Itu mengingatkanku pada bagaimana Travis berdansa dengan Megan di The Red malam itu, dan aku berusaha sebisa mungkin menciptakan kembali pemandangan yang aku harap dalam berbagai keadaan aku dapat melupakannya. Dua pasang tangan berada dekat pada setiap bagian tubuhku, dan sangat mudah untuk mengabaikan sisi pendiamku dengan jumlah alkohol di dalam tubuhku.

Tiba-tiba, aku berada di udara. Travis melemparku ke atas bahunya, pada saat yang sama mendorong teman perkumpulannya dengan keras, menjatuhkannya ke lantai.

"Turunkan aku!" aku berkata sambil memukul-mukul punggungnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu mempermalukan dirimu sendiri karena aku," dia menggeram, melompati dua tangga sekaligus.

Setiap pasang mata yang kami temui melihatku menendang dan berteriak saat Travis membawaku melintasi ruangan. "Kau pikir," aku berkata sambil memberontak, "Ini tidak memalukan? Travis!"

"Shepley! Apakah Donnie di luar?" tanya Travis, menghindar dari tanganku yang memukul-mukul.

"Uh...ya?" kata Shepley.

"Turunkan dia!" kata America, maju satu langkah ke arah kami.

"America," aku menggeliat, "Jangan hanya berdiri di situ! Tolong aku!"

Bibirnya naik dan dia tertawa satu kali. "Kalian berdua terlihat konyol."

Alisku tertarik ke dalam karena kata-katanya, antara terkejut dan marah karena dia menganggap situasi ini lucu.

Travis berjalan menuju pintu dan aku melotot ke arah America. "Terima kasih banyak, teman!"

Udara dingin menyerang bagian kulitku yang terbuka, dan aku protes lebih kencang. "Turunkan aku, sialan!"

Travis membuka pintu mobil dan melemparku ke kursi belakang, duduk di sampingku. "Donnie, kau yang mengantar orang-orang yang mabuk malam ini?"

"Ya," jawabnya, gugup melihatku yang berusaha untuk kabur.

"Aku ingin kau mengantar kami ke apartemenku."

"Travis...kupikir..."

Suara Travis tenang, tapi menakutkan. "Lakukan, Donnie, atau aku akan memukulkan tinjuku ke belakang kepalamu, aku bersumpah demi Tuhan."

Donnie menjauh dari kekangan Travis dan aku menerjang pegangan pintu. "Aku tak akan pergi ke apartemenmu!"

Travis memegang satu pergelangan tanganku lalu yang satunya lagi. Aku membungkuk untuk menggigit lengannya. Dia menutup matanya, lalu suara mengaduh pelan keluar dari rahangnya yang tertutup rapat saat gigiku menancap di kulitnya.

"Melawanlah sesukamu, Pidge. Aku sudah bosan dengan omong kosongmu."

Aku melepaskan gigitanku dan menarik paksa lenganku, lepas dari genggamannya. "Omong kosongku? Biarkan aku keluar dari mobil ini!"

Dia menarik pergelangan tanganku dekat ke wajahnya. "Aku mencintaimu, sialan! Kau tak akan pergi kemana-mana hingga kau tidak mabuk lalu kita akan coba memahaminya."

"Kau satu-satunya yang belum memahami ini, Travis!" kataku. Dia melepaskan pergelangan tanganku dan aku menyilangkan tanganku di dada, cemberut sepanjang sisa perjalanan ke apartemen.

Ketika mobil berjalan pelan untuk berhenti, aku condong ke depan. "Bisakah kau mengantarku pulang, Donnie?"

Travis menarik tanganku agar keluar dari mobil lalu dia mengayunku ke atas bahunya lagi, membawaku ke atas. "Selamat malam, Donnie."

"Aku akan mengadukan ini pada ayahmu!" teriakku.

Travis tertawa terbahak-bahak. "Dan dia mungkin akan menepuk bahuku dan mengatakan padaku bahwa sudah waktunya aku melakukan ini."

Dia berusaha untuk membuka kunci pintu saat aku menendang dan menggerak-gerakkan tanganku, berusaha untuk lepas.

"Hentikan, Pidge, atau kita berdua akan jatuh ke bawah!" Setelah dia membuka pintu, dia berjalan ke kamar Shepley.

"Turunkan. Aku. Ke bawah!" teriakku.

"Baiklah," dia berkata sambil menjatuhkanku di atas tempat tidur Shepley. "Tidurlah. Kita akan bicara nanti pagi."

Kamarnya gelap; satu-satunya lampu berasal dari lampu persegi panjang yang menyorot pintu masuk kamar dari lorong. Aku berusaha untuk fokus dalam kegelapan, bir, dan kemarahan, lalu saat dia menyalakan lampu, itu menerangi senyuman puasnya.

Aku memukul tempat tidur dengan kepalan tanganku. "Kau tidak bisa lagi memberitahuku apa yang harus aku lakukan, Travis! Aku bukan milikmu!"

Dalam sekejap itu membuatnya berbalik dan berhadapan denganku, ekspresinya berubah menjadi kemarahan. Dia berjalan ke arahku, meletakkan tangan di atas tempat tidur dan mendekat ke wajahku.

"WELL, AKU MILIKMU!" Urat di lehernya menonjol saat dia berteriak, dan aku menatap balik matanya, tidak bergeming. Dia menatap  bibirku, terengah-engah. "Aku milikmu," dia berbisik, kemarahannya hilang saat dia menyadari betapa dekatnya kami.

Sebelum aku dapat memikirkan satu alasan untuk tidak melakukannya, aku memegang wajahnya, dan mencium bibirnya. Tanpa ragu, Travis mengangkatku ke dalam pelukannya. Dengan beberapa langkah panjang, dia membawaku ke kamarnya, kami berdua jatuh di atas tempat tidur.

Aku menarik lepas bajunya, meraba-raba dalam kegelapan membuka ikat pinggangnya. Dia menyentaknya terbuka, melepasnya dan melemparnya ke lantai. Dia mengangkatku dari tempat tidur dengan satu tangan, dan membuka ritsleting gaunku dengan tangan satunya lagi. Aku menariknya dari atas kepalaku, melemparnya ke tempat yang gelap, lalu Travis menciumku, mengerang di bibirku. Dengan beberapa gerakan cepat, celana boxernya pun terlepas dan dia menekan dadanya di dadaku. Aku mencengkeram bagian belakangnya, namun dia menahannya ketika aku berusaha menariknya agar memasukiku.

"Kita berdua sedang mabuk," dia berkata sambil terengah-engah.

"Aku mohon." Aku menekan kakiku di pinggulnya, tidak sabar ingin menghilangkan rasa terbakar yang terasa di antara kedua pahaku. Travis mengatakan kita kembali bersama, dan aku tidak ada keinginan untuk melawan yang tidak terelakkan, maka aku lebih dari siap untuk menghabiskan malam ini terbalut seprai tempat tidurnya.

"Tidak boleh terjadi seperti ini," kata Travis.

Dia berada di atasku, menekan dahinya di atas dahiku. Aku harap ini hanya protes setengah hati, dan entah bagaimana aku akan bisa meyakinkannya bahwa dia salah. Melihat bagaimana kita tidak bisa saling menjauhi satu sama lain tidak dapat dijelaskan, namun aku tidak membutuhkan satu penjelasan lagi. Aku bahkan tidak membutuhkan alasan. Saat ini, aku hanya membutuhkannya.

"Aku menginginkanmu."

"Aku ingin kau mengatakannya," kata Travis.

Bagian dalam dari diriku berteriak membutuhkannya, dan aku tak dapat menahannya lebih lama lagi. "Aku akan mengatakan apapun yang kau mau."

"Kalau begitu katakan kau milikku. Katakan bahwa kau menerimaku kembali. Aku tidak akan melakukan ini kecuali kita bersama lagi."

"Kita tidak pernah benar-benar berpisah, kan?" tanyaku, berharap itu cukup.

Dia menggelengkan kepala, bibirnya menyapu bibirku dengan lembut. "Aku ingin mendengar kau mengatakannya. Aku ingin tahu bahwa kau benar-benar milikku."

"Aku telah menjadi milikmu dari detik pertama kita bertemu."

Suaraku bernada memohon. Pada waktu lain aku mungkin akan merasa malu, namun aku sedang merasa lebih dari menyesal. Aku telah melawan perasaanku, menjaganya, dan menutupnya rapat. Aku telah mengalami momen yang paling menyenangkan dalam hidupku selama di Eastern, semuanya bersama Travis. Bertengkar, tertawa, mencintai dan menangis, jika itu bersamanya, aku berada di tempat yang aku inginkan.

Satu sisi bibirnya tertarik ke atas saat dia menyentuh wajahku, lalu bibirnya menyentuh bibirku dengan ciuman lembut. Saat aku menarik tubuhnya padaku, dia tidak melawan. Ototnya menegang, dan dia menahan nafasnya saat dia mendorong ke dalam tubuhku.

"Katakan sekali lagi," dia berkata.

"Aku milikmu," aku terengah. Setiap sarafku, di dalam dan di luar terasa sakit karena menginginkan lebih. "Aku tidak ingin berpisah lagi darimu."

"Berjanjilah padaku," dia berkata, sambil mengerang saat mendorong lagi.

"Aku mencintaimu. Aku akan mencintaimu selamanya." Kata-kata itu lebih terdengar seperti desahan, namun aku menatap matanya ketika aku mengatakannya. Aku dapat melihat ketidakpastian di matanya menghilang, dan meskipun dalam cahaya redup, wajahnya terlihat bersinar.

Akhirnya merasa puas, dia mencium bibirku.

***

Travis membangunkanku dengan ciuman. Kepalaku terasa berat dan berkabut karena beberapa minuman yang aku minum tadi malam, namun satu jam sebelum aku jatuh tertidur berputar kembali di pikiranku dengan detil yang sangat jelas. Ciuman lembut menghujani setiap inchi tangan, lengan, dan leherku, lalu dia mencium bibirku, aku tersenyum.

"Selamat pagi," aku berkata sambil menciumnya.

Dia tidak menjawab; bibirnya terus menciumi bibirku. Tangannya yang kekar membungkusku, lalu dia membenamkan wajahnya di leherku.

"Kau pendiam pagi ini," aku berkata, sambil membelaikan tanganku di kulit punggungnya yang telanjang. Aku terus membelainya hingga bagian belakangnya, lalu aku mengaitkan kakiku di atas pinggulnya, mencium lehernya.

Dia menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin seperti ini," dia berbisik.

Aku mengerutkan dahi. "Apakah aku melewatkan sesuatu?"

"Aku tidak bermaksud untuk membangunkanmu. Kenapa kau tidak kembali tidur?"

Aku bersandar ke belakang ke atas bantal, mengangkat dagunya. Matanya merah, kulit di sekelilingnya merah dan bernoda.

"Apa yang terjadi padamu?" tanyaku, waspada.

Dia meletakkan tanganku di atas tangannya lalu menciumnya, menekan dahinya ke leherku. "Kembalilah tidur, Pidge. Aku mohon?"

"Apakah terjadi sesuatu? Apakah America?" pada pertanyaan terakhir, aku terduduk. Meskipun melihat ketakutan dalam mataku, ekspresinya tidak berubah. Dia hanya menghela nafas dan duduk bersamaku, melihat pada tanganku yang ada di tangannya.

"Tidak...America baik-baik saja. Mereka pulang ke rumah sekitar pukul empat pagi ini. Mereka masih tidur. Ini masih terlalu pagi, kembalilah tidur."

Merasakan jantungku berdebar di dadaku, aku tahu tidak akan mungkin kembali tidur. Travis menaruh tangannya di kedua sisi wajahku dan menciumku. Bibirnya bergerak dengan berbeda, seolah dia menciumku untuk terakhir kalinya. Dia menurunkanku di bantal, menciumku sekali lagi, lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, memelukku erat dengan kedua lengannya.

Semua kemungkinan yang membuat Travis bersikap seperti ini terlintas di pikiranku seperti channel televisi. Aku memeluknya erat, merasa takut untuk bertanya. "Apakah kau tidak tidur?"

"Aku...tidak bisa. Dan aku tidak ingin..." suaranya melemah.

Aku mencium keningnya. "Apapun itu, kita akan melaluinya, ok? Kenapa kau tidak tidur sebentar? Kita akan membicarakannya setelah kau bangun."

Kepalanya terangkat dan dia memeriksa wajahku. Aku melihat ketidakpercayaan dan harapan di matanya.

"Apa maksudmu kita akan melaluinya?"

Alisku ditarik masuk, merasa bingung. Aku tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadi pada saat aku tidur yang membuatnya sangat menderita seperti ini. "Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku ada di sini."

"Kau ada di sini? Seperti kau tinggal? Bersamaku?"

Aku tahu bahwa ekspresiku pasti terlihat konyol, namun kepalaku berputar karena alkohol dan pertanyaan Travis yang aneh. "Ya. kupikir kita sudah membicarakannya tadi malam?"

"Kita sudah membicarakannya," dia mengangguk.

Aku melihat sekeliling kamar, berpikir. Dindingnya tidak lagi polos seperti dulu saat kami pertama bertemu. Sekarang dindingnya dihiasi pernak-pernik dari tempat kami menghabiskan waktu bersama, dan cat putihnya terganggu oleh bingkai hitam yang memajang fotoku, kami, Toto, dan semua teman kami. Bingkai lebih besar yang memasang foto kami berdua saat ulang tahunku menggantikan topi sombrero yang dulu tergantung dengan paku di atas ujung kepala tempat tidur.

Aku memicingkan mataku padanya. "Kau pikir aku akan terbangun dan merasa kesal padamu, ya kan? Kau pikir aku akan pergi?"

Dia mengangkat bahunya, melakukan sedikit usaha untuk terlihat tidak peduli yang biasanya sangat mudah untuknya. "Kau terkenal begitu."

"Itukah yang membuatmu kesal? Kau terjaga semalaman mengkhawatirkan apa yang akan terjadi saat aku terbangun?"

Dia bergeser seolah kata berikutnya begitu sulit. "Aku tidak bermaksud tadi malam terjadi seperti itu. Aku sedikit mabuk, dan aku mengikutimu seperti penguntit, lalu aku menyeretmu keluar dari sana, di luar keinginanmu…lalu kita…," dia menggelengkan kepala, sangat jelas merasa jijik saat kejadian itu berputar di pikirannya.

"Merasakan seks terbaik dalam hidupku?" aku tersenyum, meremas tangannya.

Travis tertawa satu kali, ketegangan di sekitar matanya perlahan menghilang. "Jadi kita baik-baik saja?"

Aku menciumnya, menyentuh satu sisi wajahnya dengan lembut. "Ya, bodoh. Aku sudah berjanji, bukan begitu? Aku mengatakan padamu semua yang ingin kau dengar, kita kembali bersama, dan kau masih belum merasa senang?"

Wajahnya ditahan di sekitar senyumnya.

"Sayang, hentikan. Aku mencintaimu," aku berkata, melembutkan garis-garis khawatir di sekitar matanya. "Pertengkaran menggelikan ini seharusnya dapat berakhir pada hari Thanksgiving, tapi…"

"Tunggu...apa?" dia memotong, bersandar ke belakang.

"Aku sudah siap untuk menyerah saat Thanksgiving, tapi kau bilang kau sudah cukup berusaha untuk membuatku bahagia, dan aku terlalu gengsi untuk mengatakan padamu bahwa aku menginginkanmu kembali."

"Apakah kau bercanda? Aku hanya mencoba untuk membuat segalanya lebih mudah untukmu! Kau tahu bagaimana telah menderitanya aku?"

Dahiku berkerut. "Kau terlihat baik-baik saja setelah liburan."

"Itu demi kau! Aku takut aku akan kehilanganmu kalau aku tidak berpura-pura menerima bahwa kita hanya teman."

"Aku..." Aku tidak bisa membantahnya; dia benar. Aku telah membuat kami berdua menderita, dan aku tidak bisa menyangkalnya. "Aku menyesal, maafkan aku."

"Kau menyesal? Aku nyaris membuatku mati karena mabuk, aku hampir tidak bisa turun dari tempat tidur, aku menghancurkan teleponku menjadi jutaan serpihan kecil pada Malam Tahun Baru agar tidak meneleponmu…dan kau menyesal?"

Aku menggigit bibirku dan mengangguk, merasa malu. Aku tidak pernah tahu apa yang telah dia lalui, dan mendengar dia mengatakan itu membuat rasa sakit seperti tertusuk benda tajam di dadaku. "Aku benar-benar…minta maaf."

"Kau dimaafkan." Dia berkata sambil tersenyum. "Jangan pernah lakukan itu lagi."

"Tidak akan. Aku berjanji."

Dia memperlihatkan lesung pipinya sambil menggelengkan kepala. "Aku benar-benar mencintaimu."

***

Penerjemah: +Oseu
Editor: +Meyke AD

Poskan Komentar

23 comments

kyaaaa..
travis nakal ea..
mau dong digendoong (puppyeyes)

dah berkali2 baca tp tetep aj pengen lagi lagi dan lagi :-P
thx oseu,meyke n mas Yudi

kyaaaa..
travis nakal ea..
mau dong digendoong (puppyeyes)

dah berkali2 baca tp tetep aj pengen lagi lagi dan lagi :-P
thx oseu,meyke n mas Yudi

Akhirnya baikan... :D
makasih mbak oseu, mbak meyke and mas mimin :)

kyaaaa..
travis nakal ea..
mau dong digendoong (puppyeyes)

dah berkali2 baca tp tetep aj pengen lagi lagi dan lagi :-P
thx oseu,meyke n mas Yudi

@ mba oseu, ditunggu epubnya ya....... Alamat email saya renne_tjia@yahoo.co.id

Wow keren.mksh mbak oesu.mbak meyke ad.mas yudi

Makasih mb oseu.
Ditunggu seri selanjutnya...
Buat mas mimin, makasih buanyak,,,

Ughhh sweeeet very sweeet :') travis pidge love you longlast ah pkknya! hehe
thanks mba oseu meyke and mas yudi kece :*

good abby, gyaaaaaaaa aku senang akhirnya mereka bersatu lagi u,u thanks yaa ^^

Brp bab lagi mbak oseu???
Epub nya di share yaaa....hehehe..tengkyu

Traaaaa akhirnyaaa dpt sesuatu yg dinanti nanti jg ditengah ujan yg mengguyurr,trav sma pigeon balikan lagiii °·♡·♥τнänκчöü♥·♡·° pok oceu dan ma yud yud jiah ga sabr nunggu selanjutnya :*

Uwoooooh so sweeeet :3
Akhirnya balikan lagi
Asiiiik
Travis manis banget siiiih :3
Makasih mb oseu, mb meyke, mas mimin :D

Klo baca bab nii senyum2 bahagia
walaupun dah berkli2 bacay gak pernh bosan
tengku mba oseu+ mba meyke juga mas mimin
uupz¿¿¿ tingl 2 bab niii:-)

OMG ...pngkauan abby dan travis so sweett bngeett !!bner2 bkin mleleh kata2 nya*cetar membahana ..ahahahahah
mkasih mba oseu mba meykeu di tunggu next chapter nya ..
dri skian novel yg ku baca mnrutku novel ni yng pling bgus prtengkaran,prsahbatan,cinta,knflik nya bner2 kereeeenn !!!

thx mbak oseu en mas minmin

Sooooo Sweeeeeet :D

Sweet dehhh..†ђąηk ўσυ mba oseu,mba meyke n mas yudi

Yeayyyyyyyyyyyyyyyyyy.............. Melolong dulu a...au au* kegirangan senenkkkkk akhirrrrmnya balik jg, tiap hari dtunggu n bharap2 mereka rujukkk tanpa adana yg salah paham. Hohoho mkin ga sabar nungguin bab selanjutna. *cipokkkkkkk buasahhh tuk mba oseu+mba mayke+aa mimin yo ^.^

Waaaaaaa........ makin seru... kisahnya bener2 real tentang hubungn manusia. Yg perasaan n pemikiran g singkron....

yg mau file nya aku ada nih .. tapi dalam bentuk pdf . kalo mau bisa aku kirim :)

@Ayu Muhairani: Mau doooooong...
thank's buat Port Nov... :)

@Althafus mana email kamu ?

@Ayu Muhairani: althafussyahrafiymashira@gmail.com

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top