27

bd-thumb
HELLERTON

America belum kembali lagi ke asrama sejak reuninya dengan Shepley. Dia sering tidak datang saat makan siang, dan jarang menelepon. Aku tidak keberatan mereka menghabiskan waktu untuk menebus waktu yang mereka habiskan saat putus. Sejujurnya, aku senang America terlalu sibuk untuk meneleponku dari apartemen Shepley dan Travis. Terasa canggung bila mendengar suara Travis di belakang, dan aku merasa sedikit iri bahwa dia menghabiskan waktu bersama Travis sedangkan aku tidak.

Aku dan Finch semakin sering bertemu, dan dengan egois bersyukur bahwa dia juga tidak punya kekasih seperti aku. Kami masuk kelas, makan, dan belajar bersama, bahkan Kara mulai terbiasa melihatnya.

Jari-jariku mulai mati rasa karena udara dingin saat aku berdiri di luar gedung asrama sementara Finch merokok.

"Maukah kau mempertimbangkan untuk berhenti merokok sebelum aku terkena hipotermia karena berdiri di sini untuk memberimu dukungan moral?" tanyaku.

Finch tertawa. "Aku mencintaimu, Abby. Sangat mencintaimu, tapi tidak. Aku tidak akan berhenti."

"Abby?"

Aku berpaling dan melihat Parker berjalan di trotoar dengan tangan di dalam sakunya. Bibirnya yang penuh terlihat kering di bawah hidungnya yang merah, aku tertawa ketika dia seolah meletakan rokok khayalan di mulutnya dan menghembuskan kepulan udara yang berkabut.

"Kau akan menghemat banyak uang bila seperti ini, Finch," dia tersenyum.

"Kenapa hari ini semua orang mengejek kebiasaan merokokku?" dia bertanya, merasa terganggu.

"Ada apa, Parker?" tanyaku.

Dia mengeluarkan dua tiket dari sakunya. "Film Vietnam baru itu sudah keluar. Tempo hari kau bilang ingin menontonnya, jadi kupikir aku akan membeli tiket untuk kita malam ini."

"Tidak ada tekanan," kata Finch.

"Aku bisa pergi bersama Brad jika kau sudah punya rencana," dia berkata sambil mengangkat bahu.

"Jadi ini bukan kencan?" tanyaku.

"Bukan, hanya teman."

"Dan kita lihat bagaimana ini berhasil untuk kalian." Ledek Finch.

"Tutup mulutmu!" aku tertawa cekikikan. "Itu kedengarannya menyenangkan, Parker, terima kasih."

Matanya berbinar. "Apa kau ingin makan pizza atau sesuatu sebelumnya? Aku tidak terlalu suka makanan di bioskop."

"Pizza boleh," aku mengangguk.

"Itu uh…itu bagus, kalau begitu. Filmnya mulai jam sembilan, jadi aku akan menjemputmu sekitar jam enam tiga puluh?"

Aku mengangguk lagi dan Parker melambaikan tangan selamat tinggal.

"Ya Tuhan," kata Finch. "Kau wanita yang rakus, Abby. Kau tahu itu tidak akan berjalan dengan baik saat Travis mendengarnya."

"Kau dengar Parker bilang tadi. Itu bukan kencan. Dan aku tidak bisa membuat rencana berdasarkan apa yang bisa Travis terima atau tidak. Dia juga tidak meminta izinku dulu saat dia membawa Megan pulang."

"Kau tidak akan pernah melupakannya, ya?"

"Kemungkinannya tidak, tidak akan."

***

Kami duduk di pojok, dan aku menggosok-gosok tanganku yang memakai sarung tangan, agar hangat. Aku tidak bisa menahan karena mengetahui kami duduk di tempat yang sama dengan aku dan Travis saat kami pertama bertemu, lalu tersenyum karena teringat hari itu.

"Apa yang lucu?" tanya Parker.

"Aku menyukai tempat ini. Saat yang menyenangkan."

"Aku lihat gelangnya di pakai," kata Parker

Aku melihat ke bawah pada berlian yang mengkilap di pergelangan tanganku. "Sudah kubilang padamu aku menyukainya."

Pelayan menyerahkan pada kami daftar menunya dan mengambil pesanan minuman kami. Parker memberitahuku tentang jadwal musim Seminya, dan membicarakan tentang perkembangan pelajarannya untuk MCAT (Ujian MAsuk Fakultas Kedokteran). Pada saat pelayan menyajikan bir pesanan kami, Parker masih terus bicara. Dia terlihat gugup, dan aku bertanya-tanya apakah menurut Parker kami sedang berkencan, mengingat apa yang telah dia katakan.

Dia berdehem. "Maafkan aku. Aku rasa aku memonopoli pembicaraan terlalu lama." Dia meminum birnya dan menggelengkan kepala. "Hanya saja aku sudah lama tidak mengobrol denganmu, sehingga banyak yang ingin aku bicarakan."

"Tidak apa-apa. Memang sudah sangat lama kita tidak mengobrol."   

Tak lama kemudian, pintu berdenting. Aku berpaling lalu melihat Travis dan Shepley masuk. Hanya membutuhkan satu detik bagi Travis untuk balik menatapku, namun dia tidak terlihat terkejut.   

"Ya Tuhan," aku bergumam.

"Kenapa?" tanya Parker, berpaling ke belakang dan melihat mereka duduk di seberang kami.

"Ada tempat makan burger di seberang jalan yang bisa kita datangi," kata Parker dengan suara berbisik. Dia masih segugup sebelumnya, itu telah membawanya ke level baru.

"Kurasa itu akan semakin canggung apabila kita pergi sekarang," gumamku.

Wajahnya terlihat sedih, merasa kalah. "Kau mungkin benar."

Kami mencoba melanjutkan pembicaraan kami, tapi terasa seperti dipaksakan dan menjadi tidak nyaman.

Pelayan menghabiskan waktu lebih lama di meja Travis, menyisirkan jari ke rambutnya dan bergeser dari satu kaki ke kaki satu lagi. Dia akhirnya ingat untuk mengambil pesanan kami saat Travis menerima telepon.

"Aku pesan tortellini," kata Parker, melihat ke arahku.

"Dan aku memesan…" aku berhenti bicara. Teralihkan saat Travis dan Shepley berdiri.

Travis mengikuti Shepley ke pintu, namun dia ragu-ragu, berhenti, dan berbalik. Ketika dia melihatku memperhatikannya, dia berjalan lurus menelusuri ruangan. Pelayan itu tersenyum penuh harap, sepertinya dia berpikir Travis mendekat untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Dia langsung kecewa saat Travis berdiri di sampingku tanpa sedikitpun melihat ke arahnya.

"Aku ada pertarungan dalam empat puluh lima menit, Pidge. Aku ingin kau berada di sana,"

"Trav…"

Wajahnya sangat pandai mengendalikan emosinya, namun aku dapat melihat rasa tegang di sekitar matanya. Aku tak yakin apa dia tidak ingin meninggalkan makan malamku dengan Parker berlanjut, atau dia benar-benar menginginkanku berada di sana bersamanya, tapi aku sudah membuat keputusan sesaat setelah dia meminta.

"Aku membutuhkanmu untuk berada di sana. Ini pertarungan ulang dengan Bradly Peterson, anak dari State. Penonton akan penuh, banyak uang yang beredar…dan Adam bilang Bradly sudah berlatih."

"Kau sudah pernah melawannya sebelumnya, Travis, kau tahu akan menang dengan mudah."

"Abby," kata Parker pelan.

"Aku membutuhkanmu di sana," kata Travis, rasa percaya dirinya menghilang.

Aku melihat Parker dengan senyuman menyesal. "Maafkan aku."

"Apakah kau serius?" tanyanya, alisnya naik ke atas. "Kau akan pergi di tengah-tengah makan malam?"

"Kau masih bisa menelepon Brad, kan?" tanyaku sambil berdiri.

Ujung bibir Travis naik saat dia melemparkan uang dua puluh dolar ke atas meja.

"Ini akan mengganti kerugianmu."

"Aku tidak peduli dengan uangnya…Abby…"

Aku mengangkat bahuku. "Dia sahabat baikku, Parker. Jika dia membutuhkanku di sana, aku harus pergi."

Aku merasakan tangan Travis membungkus tanganku saat dia menuntunku. Parker memperhatikan dengan pandangan terpana di wajahnya. Shepley sudah menghubungi orang-orang dari dalam mobilnya, menyebarkan berita.

Travis duduk di belakang bersamaku, tetap memegang tanganku dengan erat.

"Aku baru menutup telepon dari Adam, Trav. Dia bilang anak-anak State datang dalam keadaan mabuk dan membawa banyak uang. Mereka sudah mulai kesal, jadi mungkin kau ingin menjauhkan Abby dari mereka."

Travis mengangguk. "Kau dapat menjaganya."

"America di mana?" tanyaku.

"Dia sedang belajar untuk ujian Fisika."

"Lab nya sangat bagus," kata Travis. Aku tertawa satu kali lalu melihat ke arah Travis yang sedang tersenyum kecil.

"Kapan kau melihat lab nya? kau tidak mengambil mata kuliah Fisika," tanya Shepley.

Travis tertawa geli dan aku menyikutnya. Dia menutup rapat bibirnya hingga keinginan tertawanya hilang lalu mengedipkan satu matanya padaku, meremas tanganku sekali lagi. Jari-jarinya terjalin dengan jariku, dan aku mendengar desahan pelan dari bibirnya. Aku tahu apa yang dia pikirkan karena aku merasakan hal yang sama. Dalam sepotong waktu itu, seperti tidak ada yang berubah.

Kami menepi di tempat yang gelap di tempat parkir, dan Travis menolak untuk melepaskan tanganku hingga kita merangkak ke dalam jendela bawah tanah di Gedung Sains Hellerton. Gedung itu di bangun setahun yang lalu, sehingga udara belum lembab dan berdebu seperti ruang bawah tanah lainnya yang telah kami masuki.

Saat kita memasuki lorong, gemuruh penonton terdengar di telinga kami. Aku mengintipkan kepalaku keluar untuk melihat lautan manusia, banyak dari mereka yang tidak kukenal. Semua orang memegang satu botol bir di tangannya, namun mahasiswa State sangat mudah di bedakan dalam kerumunan. Mereka yang berjalan terhuyung dengan mata sedikit tertutup.

"Tetap berada di dekat Shepley, Pigeon. Akan menjadi sedikit gila di sini," dia berkata dari belakangku. Dia memeriksa kerumunan, menggelengkan kepala karena penonton yang banyak.

Bawah tanah Hellerton adalah tempat yang paling luas di kampus, sehingga Adam sering menjadwalkan pertarungan di sini saat dia menginginkan penonton yang banyak. Bahkan dengan ruang tambahan, orang-orang masih terhimpit diantara tembok dan harus mendorong orang lain untuk mendapat tempat yang bagus.

Adam muncul di pojok dan tidak berusaha untuk menyembunyikan rasa tidak sukanya saat melihat aku berada di situ. "Kupikir aku sudah bilang padamu bahwa kau tidak bisa membawa kekasihmu ke pertarungan lagi, Travis."

Travis mengangkat bahunya. "Dia bukan lagi kekasihku."

Aku menjaga penampilanku tetap tenang, namun dia telah mengatakan itu dengan blak-blakan, itu mengakibatkan rasa terusuk di dadaku.

Adam melihat ke arah jari kami yang terjalin lalu menatap Travis. "Aku tak akan pernah mengerti kalian berdua." Dia menggelengkan kepala lalu melihat ke arah kerumunan. Orang-orang masih berdatangan dari arah tangga, dan mereka yang di bawah sudah penuh sesak. "Kita melawan penghisap ganja gila malam ini, jadi jangan macam-macam, ok?"

"Aku akan memastikan mereka terhibur, Adam."

"Bukan itu yang aku khawatirkan. Brady sudah berlatih."

"Begitu juga aku."

"Omong kosong," Shepley tertawa.

Travis mengangkat bahunya. "Aku berkelahi dengan Trent minggu kemarin. Bajingan itu sangat cepat."

Aku tertawa geli dan Adam menatap tajam ke arahku. "Kau sebaiknya menganggap ini serius, Travis," dia berkata sambil menatap mata Travis. "Aku bertaruh banyak pada pertarungan ini."

"Dan aku tidak?" kata Travis, merasa kesal karena ceramah Adam.

Adam berbalik, memegang pengeras suara di mulutnya saat dia berdiri di atas kursi di atas banyaknya penonton yang mabuk. Travis menarikku ke sampingnya saat Adam menyapa penonton lalu membacakan peraturannya.

"Semoga berhasil," kataku, menyentuh dadanya. Aku tak pernah merasa cemas melihat pertarungannya sejak pertarungannya dengan Brady dulu, namun aku tidak bisa menghilangkan perasaan tidak enak yang aku rasakan sejak kami menginjakan kaki di Hellerton. Ada sesuatu yang salah, dan Travis merasakannya juga.

Travis menarik bahuku dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirku. Dia menjauh dengan cepat, mengangguk satu kali. "Hanya itu keberuntungan yang aku butuhkan."

Aku masih terpana pada hangat bibirnya Travis saat Shepley menarik lenganku ke dinding di belakang Adam. Aku ditabrak dan disikut, mengingatkanku pada malam pertama aku menonton pertarungan Travis, namun kerumunan mulai tidak sabar, dan beberapa mahasiswa State mulai berkelahi. Mahasiswa Eastern bersorak dan bersiul pada Travis saat dia menerobos masuk The Circle, sedangkan mahasiswa State antara mencemooh Travis dan bersorak pada Brady.

Aku berada di posisi terbaik untuk melihat Brady yang lebih tinggi dari Travis, berkedut tidak sabar untuk mendengar pengeras suara berbunyi. Seperti biasa, ada seringai kecil di wajah Travis, tidak terpengaruh oleh kegilaan di sekitarnya. Ketika Adam memulai pertarungan, Travis dengan sengaja membiarkan pukulan pertama Brady masuk. Aku terkejut ketika wajahnya tersentak dengan keras ke samping karenanya. Brady telah berlatih.

Travis tersenyum, giginya merah terang, lalu dia fokus mengikuti setiap pukulan yang Brady ayunkan.

"Mengapa dia membiarkan Brady memukulnya beberapa kali?" tanyaku pada Shepley.

"Aku rasa dia bukan membiarkannya lagi," kata Shepley, menggelengkan kepalanya. "Jangan khawatir, Abby. Dia sedang bersiap-siap untuk menyamakan kedudukan."

Setelah sepuluh menit Brady sudah kehabisan nafas, namun dia masih tetap dapat mendaratkan pukulan keras pada Travis. Travis memegang sepatu Brady saat dia mencoba menendangnya, dan menahan kakinya lebih tinggi dengan satu tangan, mengakibatkan dia kehilangan keseimbangan. Penonton meledak saat Brady jatuh, namun dia tidak lama berada di bawah. Dia berdiri, dengan dua garis merah tua mengalir dari hidungnya. Beberapa saat berikutnya, dia mendaratkan dua pukulan lagi di wajah Travis. Darah keluar dari luka di alis Travis dan menetes di pipinya.

Aku menutup mataku lalu berpaling berharap Travis akan mengakhiri pertarungan dengan cepat. Gerakan kecil tubuhku membuatku berada di antara penonton, dan sebelum aku dapat memperbaiki posisiku, aku sudah beberapa kaki jauhnya dari Shepley yang tengah asyik menonton pertarungan. Aku berusaha menerobos kerumunan dengan sia-sia, hingga aku dapat merasakan dinding di belakangku.

Seorang pria kehilangan keseimbangannya dan menggunakan bajuku untuk membantunya berdiri, menumpahkan bir di tubuhku. Aku basah kuyup dari leher ke pinggang, berbau pahit dan amis bir murah. Pria itu masih memegang bajuku tergenggam di tangannya saat dia berusaha menarik dirinya dari lantai, dan aku melepaskan dua jarinya sekaligus hingga dia melepaskanku. Dia tidak melihat dua kali ke arahku, mendorong dirinya ke depan menuju kerumunan.

"Hey! Aku mengenal dirimu!" teriak seseorang di telingaku.

Aku menjauh, langsung mengenalinya. Itu adalah Ethan, pria yang Travis ancam di bar—pria yang entah bagaimana caranya lolos dari tuntutan pelecehan seksual.

"Ya," kataku, mencari celah di antara kerumunan saat aku merapikan bajuku.

"Itu gelang yang bagus," dia berkata, jarinya menelusuri lenganku dan menarik pinggangku.

"Heh," aku memperingatkan, menarik lenganku menjauh.

Dia mengusap lenganku, terhuyung dan menyeringai. "Kita dihentikan dengan tidak sopan terakhir kali aku mencoba bicara denganmu."

Aku berjinjit, melihat Travis mendaratkan dua pukulan di wajah Brady, sambil memeriksa kerumunan di sela-selanya. Dia mencariku bukannya fokus pada pertarungan. Aku harus kembali ke tempatku sebelum dia terlalu teralihkan perhatiannya.

Aku hampir berhasil berjalan menuju kerumunan saat jari Ethan masuk ke bagian belakang celana jinsku. Punggungku menabrak dinding sekali lagi.

"Aku belum selesai bicara denganmu," kata Ethan, menatap baju basahku dengan niat cabul.

Aku menarik tangannya dari belakang jinsku, menancapkan kukuku. "Lepaskan!" aku berteriak ketika dia menolak.

Dia tertawa, dan aku mencari wajah yang aku kenal di kerumunan saat dia menarik ku ke arahnya. "Aku tidak akan melepaskanmu."

Aku mencoba mendorong Ethan, namun lengannya sangat berat dan genggamannya sangat erat. Karena panik, aku tidak dapat membedakan mana mahasiswa Eastern mana mahasiswa State. Tidak ada yang menyadari pergumulanku dengan Ethan, dan karena sangat berisik, tidak ada seorangpun yang dapat mendengar protesku juga. Dia mendekat, tangannya meraih bagian belakangku dan meremasnya.

"Aku selalu berpikir pantatmu sangat indah." Dia berkata sambil menghembuskan bau bir basi di wajahku.

"LEPASKAN!" aku berteriak, mendorongnya.

Aku melihat ke arah Shepley, dan melihat Travis akhirnya melihatku di kerumunan. Dia langsung mendorong beberapa orang di sekitarnya.

"Travis!" aku berteriak, namun teredam oleh suara yang bersorak. Aku mendorong Ethan dengan satu tangan dan berusaha meraih Travis dengan tangan lain.

Travis membuat sedikit kemajuan sebelum di dorong kembali ke dalam The Circle. Brady mengambil keuntungan dari perhatian Travis yang teralihkan dan menghunjamkan sikunya ke samping kepala Travis.

Penonton lebih tenang sedikit saat Travis menonjok seseorang di kerumunan, mencoba satu kali lagi mendekat ke arahku.

"Pergi menjauh darinya!" teriak Travis.

Di antara jarak aku dengan usaha putus asa Travis untuk menggapaiku, beberapa kepala berpaling melihat ke arahku. Ethan tidak menyadarinya, tetap berusaha menahanku cukup lama untuk menciumku. Dia mengusapkan hidungnya di sepanjang tulang pipiku lalu menuju leherku.

"Kau sangat wangi," dia melantur.

Aku mendorong wajahnya agar menjauh, namun dia mencengkram pergelangan tanganku, tidak terpengaruh.

Dengan mata terbuka lebar, aku mencari Travis lagi. Dia berusaha keras mengarahkan Shepley padaku. "Bawa dia! Shep! Bawa Abby!" dia berkata, masih berusaha menerobos kerumunan. Bradly menariknya kembali ke The Circle dan menonjoknya lagi.

"Kau sangat seksi, kau tahu itu?" kata Ethan.

Aku menutup mataku saat aku merasakan bibirnya di leherku. Rasa marah muncul di dalam diriku dan aku mendorongnya lagi. "Aku bilang LEPASKAN!" teriakku, menghunjamkan lututku ke selangkangannya.

Dia membungkuk, satu tangan dengan otomatis melayang ke sumber rasa sakit, tangan satunya lagi tetap mencengkram bajuku, menolak untuk melepaskan.

"Sialan kau!" teriaknya.

Beberapa saat berikutnya, aku sudah terlepas. Mata Shepley tampak liar, menatap Ethan saat dia mencengkram lehernya bajunnya. Dia menahan Ethan di dinding dan meninju wajahnya beberapa kali, berhenti hanya pada saat darah mengalir dari mulut dan hidung Ethan.

Sheple menarikku ke tangga, mendorong siapapun yang menghalanginya. Dia membantuku naik ke jendela yang terbuka, lalu menuruni tangga darurat, menangkapku saat aku melompat beberapa kaki ke tanah.

"Kau baik-baik saja, Abby? Apa dia menyakitimu?" tanya Shepley.

Satu lengan sweater putihku sobek dan hanya tergantung pada seutas benang, selain itu aku tidak terluka. Aku mengelengkan kepala, masih terguncang.

Shepley memegang pipiku dengan lembut, menatap ke dalam mataku. "Abby, jawab aku. Apa kau baik-baik saja?"

Aku mengangguk. Saat andrenalin meresap ke aliran darahku, air mata mulai mengalir. "Aku baik-baik saja."

Dia memelukku, menekan pipinya di dahiku, lalu menegang. "Sebelah sini, Trav!"

Travis berlari dengan kecepatan penuh, berhenti hanya pada saat dia mendekapku di pelukannya. Dia berlumuran darah, yang menetes dari matanya dan ada noda darah di bibirnya.

"Ya Tuhan… apa dia terluka?" tanyanya.

Tangan Shepley masih di atas punggungku. "Dia bilang dia baik-baik saja."

Travis berhadapan denganku sambil memegang bahuku dan mengerutkan dahinya. "Apa kau terluka, Pidge?"

Pada saat aku menggelengkan kepala, aku melihat gerombolan pertama dari bawah tanah muncul dari tangga darurat. Travis tetap memelukku dengan erat, dengan diam memperhatikan wajah mereka. Seorang pria yang gemuk dan pendek melompat dari tangga dan terdiam membeku saat dia menyadari kami berdiri di trotoar.

"Kau," kata Travis, geram.

Dia melepaskanku, berlari menyebrangi rumput, menjatuhkan pria itu ke tanah.

Aku melihat ke arah Shepley, merasa bingung dan ngeri.

"Itu pria yang terus mendorong Travis kembali masuk ke The Circle," kata Shepley.

Kerumunan kecil berkumpul di sekitar mereka saat mereka baku hantam di tanah. Travis memukul wajah orang itu terus-menerus. Shepley menarikku ke dadanya, masih terengah-engah. Pria itu berhenti melawan, dan Travis meninggalkannya di tanah dalam genangan darah. Mereka yang berkerumun di sekitarnya bubar, memberi Travis jalan, melihat kemarahan di matanya.

"Travis!" teriak Shepley, menunjuk ke arah lain gedung.

Ethan tertatih-tatih di tempat gelap, menggunakan dinding bata gedung Hellerton untuk menahannya tetap berdiri. Saat dia mendengar Shepley berteriak pada Travis, dia berbalik tepat pada saat penyerangnya menyerang. Dia terkulai di halaman, melempar botol bir di tangannya ke bawah dan bergerak secepat kaki bisa membawanya ke jalan. Saat dia tiba di mobilnya, Travis menangkap dan membantingnya ke mobil.

Ethan memohon pada Travis, bahkan ketika Travis mencengkram bajunya dan menghantamkan kepalanya ke pintu mobil. Dia berhenti memohon ketika suara bergedebuk yang keras dari kepalanya yang mendarat di jendela depan mobil, lalu Travis menariknya ke depan mobil dan menghancurkan lampu depan mobil dengan wajahnya Ethan. Travis meluncurkan Ethan di atas kap mobil, menekan wajah Ethan ke bemper sambil memaki-makinya.

"Sialan," kata Shepley. Aku berpaling dan melihat Hillerton berkilau berwarna merah dan biru berasal dari lampu mobil patroli polisi yang dengan cepat mendekat. Semua berbondong-bondong melompat dari puncak tangga, seperti air terjun orang-orang menuruni tangga darurat, dan mahasiswa yang kebingungan berlari ke segala arah.

"Travis!" aku berteriak.

Travis meninggalkan tubuh Ethan yang terkulai di kap mobil dan berlari ke arah kami. Shepley menarikku ke tempat parkir, membuka pintu mobilnya. Aku melompat ke kursi belakang, tidak sabar menunggu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Mobil seperti terbang dari tempat parkir ke jalan, berdecit saat berhenti karena mobil polisi kedua memblokir jalan.

Travis dan Shepley duduk di kursi mereka, dan Shepley memaki saat dia melihat mobil yang terjebak mundur dari satu-satunya jalan keluar. Dia menginjak gas, dan mobil Charger Shepley naik turun saat melewati trotoar. Dia berputar di atas rumput, dan melaju diantara dua gedung, mobilnya memantul lagi saat dia mencapai jalan di belakang kampus.

Ban bedecit dan mesin mobil meraung saat Shepley menginjakan kakinya di atas pedal gas. Aku meluncur dari kursi ke badan mobil ketika kita berbelok, sikuku yang sudah bengkak terbentur. Lampu jalan terlihat seperti coretan karena kita melaju dengan cepat ke apartemen, tampak seperti satu jam telah berlalu pada saat kita menepi ke tempat parkir.

Shepley memarkirkan mobilnya lalu mematikan mesin. Mereka membuka pintu mobil dalam keheningan, dan Travis meraih ke kursi belakang, mengangkat tubuhku.

***

"Apa yang terjadi? Ya ampun, Trav, apa yang terjadi pada wajahmu?" tanya America, berlari menuruni tangga.

"Aku akan menceritakannya di dalam," kata Shepley, menuntunnya ke pintu.

Travis mengangkatku ke atas, melewati ruang tamu dan menelusuri lorong tanpa sepatah katapun, menidurkanku di tempat tidur. Toto mencakar-cakar kakiku, melompat ke tempat tidur untuk menjilat wajahku.

"Jangan sekarang, buddy," kata Travis dengan suara pelan, membawanya ke luar lalu menutup pintu.

Dia berlutut di hadapanku, menyentuh lengan bajuku yang sobek. Matanya mulai dalam tahap memar, merah dan bengkak. Kulit marah di atasnya sobek dan basah karena darah. Bibirnya berlumuran darah, dan beberapa ruas jarinya sobek. Kaosnya yang berwarna putih sekarang kotor karena campuran darah, rumput dan tanah.

Aku menyentuh matanya dan dia meringis, menjauh dari tanganku. "Maafkan aku, Pigeon. Aku mencoba untuk meraihmu. Aku mencoba…" dia mendehem karena rasa marah dan cemas yang mencekiknya.

"Aku tidak bisa meraihmu."

"Maukah kau meminta America mengantarku ke asrama?" tanyaku.

"kau tidak bisa kembali kesana malam ini. Tempat itu di kelilingi banyak polisi. Tingalah di sini. Aku akan tidur di sofa."

Aku menarik nafas bimbang, berusaha menahan air mata. Dia sudah cukup merasa buruk. Travis berdiri dan membuka pintu.

"Kau mau kemana?" tanyaku.

"Aku mau mandi. Aku akan segera kembali."

America menerobos masuk melewati Travis, duduk di sampingku di atas tempat tidur, menarikku ke dadanya. "Maafkan aku karena tidak ada di sana!" dia menangis.

"Aku baik-baik saja," kataku, menghapus noda air mata di wajahku.

Shepley mengetuk pintu saat dia masuk, membawakanku gelas kecil yang setengahnya terisi whiskey.

"Ini," dia berkata sambil menyerahkannya pada America. Dia meletakan tanganku di gelas dan membangkitkanku.

Aku menenggak minumanku, membiarkan cairan itu mengalir di tenggorrokanku. Wajahku berkerut saat whiskey membakar jalannya menuju perutku. "Terima kasih," kataku, menyerahkan gelas kembali pada Shepley.

"Aku seharusnya mendapatkan dia lebih cepat. Aku tidak menyadari kau tidak ada. Maafkan aku, Abby. Aku seharusnya…"

"Itu bukan kesalahanmu, Shep. Itu bukan kesalahan siapapun."

"Itu kesalahan Ethan," geramnya. "Bajingan itu menghimpitnya di dinding."

"Sayang!" kata America, menarikku ke sampingnya.

"Aku ingin minuman lagi," kataku, mendorong gelas kosongku pada Shepley.

"Aku juga," kata Shepley, kembali ke dapur.

Travis masuk ke kamar memakai handuk di pinggangnya, memegang bir dingin yang di letakan di atas matanya. America keluar kamar tanpa mengatakan satu patah katapun lalu Travis memakai celana boxernya, kemudian dia menarik bantalnya. Shepley membawa empat gelas kali ini, semua penuh hingga meluap terisi cairan berwarna kuning tua. Kami semua meminumnya tanpa ragu.

"Sampai bertemu besok pagi," kata America, mencium pipiku.

Travis mengambil gelasku, menaruhnya di meja lampu tidur. Dia memperhatikanku beberapa saat lalu berjalan menuju lemarinya, menarik kaos dari gantungan baju dan melemparnya ke tempat tidur.

"Maafkan aku mengacaukan semuanya," dia berkata, memegang bir di matanya.

"kau terlihat berantakan. kau akan merasa sangat sakit besok."

Dia menggelengkan kepala, merasa jijik. "Abby, kau dilecehkan malam ini. Jangan khawatirkan aku."

"Sangat sulit kalau matamu sangat bengkak," kataku, meletakan kaosnya di pangkuanku.

Rahangnya tegang. "Ini semua tidak akan terjadi kalau aku meninggalkanmu bersama Parker. Tapi aku tahu jika aku mengajakmu, kau akan ikut. Aku ingin membuktikan padanya kalau kau masih milikku, tapi kau jadi terluka."

Aku tidak siap untuk mendengar kata itu, seolah aku salah mendengar. "Itu alasanmu mengajakku datang malam ini? Untuk membuktikan sesuatu pada Parker?"

"Itu sebagian alasanku mengapa mengajakmu," dia berkata dengan sedikit malu.

Darah terkuras dari wajahku. Untuk pertama kalinya sejak kita bertemu, dia membodohiku. Aku pergi ke Hellerton bersamanya berpikir kalau dia membutuhkanku, berpikir terlepas dari semuanya, kita kembali pada keadaan kita sebelumnya. Aku hanya seperti hydrant air; dia sedang menandai wilayahnya, dan aku membiarkannya melakukan itu.

Mataku berkaca-kaca. "Keluar!"

"Pigeon," dia berkata sambil maju satu langkah ke arahku.

"KELUAR!" kataku, mengambil gelas dari meja dan melemparkannya ke arah Travis. Dia menghindar, dan gelasnya hancur terkena dinding menjadi ratusan serpihan kecil. "Aku benci kau!"

Dia menghela nafas seolah udara melumpuhkannya, dan dengan ekspresi terluka, dia meninggalkanku sendiri.

Aku melepas pakaianku dan memakai kaos tadi. Suara yang meledak keluar dari tenggorokanku mengejutkanku. Sudah lama sejak terakhir aku menangis terisak tidak terkendali. Tidak lama kemudian, America berlari masuk ke dalam kamar. Dia naik ke atas tempat tidur dan melingkarkan tangannya di sekelilingku. Dia tidak bertanya ada apa atau mencoba menghiburku, dia hanya memelukku saat aku membiarkan air mata membuat sarung bantal basah kuyup.

***

Penerjemah: +Oseu
Edit: +Meyke AD

Poskan Komentar

27 comments

thanks mas mimin akhirnya dah dipost...

danke mbak Meyke, Teteh Oseu & mas Yudi..

Yaampun
Kenapa jadi berantem lagi
(⌣́_⌣̀)
Makasih mb oseu, mb meyke, mas mimin :D

Benerr2 disaster .mksh mbak oesu mbak meyke ad mas mimin

hm abby trluka krna prkataan travs .. sbar abby !!
mksih mba oseu mba meykeu .. hm up bab 19 cpet ending donk !!
mba walking disaster mo di publish ga ?

Engga nahan pas ngeliat abby dilecehkan sm ethan. Rasa2 nya mo nongol di naskah sbg pemeran pembantu yg menolong abby. Sy seneng bgt pas tw akhirnya si ethan babak belur.

Well.. Satu lg yg bikin sy kacau.
Bagian si abby yg kecewa berat sm si travis. Merasa dibodohi ^bnr bgt tuh^
travis jd gede kapala nih.

Telusur sana sini. Walking disaster terbit maret kah, ato udah terbit ?
Well, beneran bkn ya klo walking disaster itu ngambil point of view nya travis dr bf ?

Thanks ya mba oseu dan mba meyke.
Makasih jg buat admin.
Kyak nya sy blm mengucupkan slm knal nih.. Slam knal ya mba oseu,mba meyke, mas yudi, dan para reader setia PN.
Semangat slalu

†ђąηk ўσυ mba oseu,mba meyke n mas yudi

komen dulau baru baca
akhirnya di posting jg BD, FSF jg sering2 ya mas admin
thank you mas admin & mbak Oseu

Dear Mas Yudi.. Boleh request ga? Kalo BD habis, ganti Easy nya Tamara Webber, ato Wallbanger nya Alice Clayton, ato Losing It nya Cora Carmack... Pasti pada banyak yg suka... Please please... #ngerayu

Wah Travis kurang pintar lihat sikon pas ngomong ke Abby...moga aja pasangan ini segera rujuk lagi...makasih PN :)

Makasih mb oseu, n mas yudi.. Muaccchhh...

@rumah cantik: kok tau mbak, emg salah satu dr novel yg disebutin itu msh dlm di TL, are you some kind of psychic? hehe...

Thanks yuuuu mba Oseu + Meyke AD dan juga tak lupa si boss mas mimin,,
selalu terbawa arus klo baca kisah travis &Abby
Mba Oseu can't wait for the next chapter ^^_^:)

mksh mb meyke n mb oseu..

hiks.. ikut sedih ngerasain abby di manfaatkan begitu sama travis..
aduh trav, kasih tau aja, ngomong baik2 sama abby..
geregetaaann...
makasih mas Yudi, makasih mbak oseu.. ^___^

Klo fira boleh milih ya mas yudi
fra pilih,,yang Easy nya Tamara Webber ^^
tpi klo gak keberatan sih pingin ke tiga3y di TL
#rakuuuuus

‎​‎​‎hehehe... You have no idea, mas.. ;)
Aku tunggu yaaa... T‎hanks a bunch mas Yudi...

Ya ambruk kapan sech neh pigeon ma trav rujuk bkin gw galau bgni udh lama bnr ga rujuk mlh mslh terus mkin galau nunggu lanjutanyan btw tararengkiu mba oseu and mas yud yud besok post lg ya,pdhl neh gw bsok uas msh smpt2nya galau gara psngan ini ahayy yg pnting gw udh ga pnsran untuk bca tp gntian pnsran ma lanjutannye x_x #ribet bener keknya gw bye

aku rasa abby ini ego nya tinggi selangit bgt -,- travis punya pengganti lain aja baru tau rasa huh~~

Heheh abby bknnya egois , tp insecure,;)

erghhhhhhhhhhhhhh again.. brantem lagi. hik merci alot mba oseu+mas mimin T_T

Yach berantem lgi.... ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba oseu, mba Meyke dan mas Yudi.

Kacau gregetan arghh -___- pidge travis udah napa jangan berantem, salah paham mulu !
bilang kangen + sayang + balikan aja susah banget huhu
well thanks mba oseu mba meyke dan tentunya mas yudi :*

@Ida nuraida & @Emi : Walking Disaster tanggal 16 April baru rilis tapi di web Amazon buku nya syudah mulai di PO-in :)

@ayu muhairani : tanks mba info nya .. btw tar klo ada info dr WD share ya mba hehehehe

@ mba oseu alamatemailku renne_tjia@ yahoo.co.id tks b4 ya

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top