20

bd-thumb
SEJENAK DALAM DOSA

Travis meletakkan tas kami dan melihat ke sekeliling ruangan. “Bagus, kan?”

Aku melotot padanya dan dia mengangkat alisnya. “Apa?”

Aku membuka ritsleting tas ku dan menggelengkan kepala. Pikiran tentang beberapa strategi yang berbeda dan kurangnya waktu memenuhi kepalaku. “Ini bukan liburan. Kau seharusnya tidak berada di sini, Travis.”

Beberapa saat kemudian dia sudah berada di belakangku, memeluk pinggangku. “Aku pergi kemanapun kau pergi.”

Aku menyandarkan kepalaku di dadanya lalu menghela nafas. “Aku harus langsung turun. kau bisa diam di sini atau menonton pertunjukan penari telanjang. Aku akan menemuimu lagi nanti, ok?”

“Aku akan pergi bersamamu.”

“Aku tak ingin kau berada di sana, Trav.” Ekspresi terluka terlihat di wajahnya dan aku menyentuh lengannya. “Jika aku ingin memenangkan empat belas ribu dolar dalam waktu singkat, aku harus berkonsentrasi. Aku tidak menyukai siapa aku saat aku ada di meja judi, dan aku tak ingin kau melihatku saat seperti itu, ok?”

Dia mengusap rambut dari mataku lalu mencium pipiku. “Baiklah, Pidge.”

Dia melambaikan tangan pada America saat dia meninggalkan kamar, dan America mendekatiku, masih memakai baju yang sama dengan yang dia pakai ke pesta kencan. Aku mengganti pakaianku dengan celana pendek berwarna emas lalu memakai sepatu hak tinggi, meringis saat melihat ke cermin. America mengikat rambutku ke belakang lalu menyodorkan tabung hitam padaku.

“Kau membutuhkan sekitar lima lapis maskara lagi, dan mereka akan langsung membuang KTP mu jika kau tidak memoles perona pipimu lebih tebal lagi. Apa kau sudah lupa bagaimana memainkan permainan ini?”

Aku mengambil maskara dari tangannya dan menghabiskan sepuluh menit lagi untuk memperbaiki make-up ku. Setelah aku selesai, mataku mulai berkaca-kaca. “Sialan, Abby, jangan menangis,” kataku, melihat ke atas dan menyeka bagian bawah mataku dengan tisu.

“kau tidak harus melakukan ini, Abby. kau tidak berhutang apapun pada Mick,” kata America, memegang bahuku saat aku berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya.

“Dia berhutang uang pada Benny, Mare. Jika aku tidak melakukan ini, mereka akan membunuhnya.”

Ada sedikit rasa kasihan di ekspresi wajahnya. Aku sudah sering melihat dia menatapku seperti itu sebelumnya, namun kali ini dia putus asa. Dia sudah melihat Mick menghancurkan hidupku lebih sering dari yang kami berdua bisa hitung. “Bagaimana berikutnya? Terus berikutnya? kau tidak bisa terus melakukan ini.”

“Dia berjanji untuk menjauh dariku. Mick Abernathy memang sudah melakukan banyak hal, tapi dia selalu menepati janjinya.”

***

Kami berjalan menelusuri lorong dan melangkah masuk ke dalam lift yang kosong. “Kau sudah membawa semua yang kau butuhkan?” tanyaku, selalu mengingat ada kamera.

America mengetuk SIM palsunya dengan kuku lalu tersenyum. “Namanya Candy. Candy Crawford,” dia berkata dengan aksen selatan yang sempurna.

Aku mengulurkan tanganku. “Jesica James. Senang bertemu denganmu, Candy.”

Kami berdua memakai kaca mata kami dan berdiri diam seperti batu saat pintu lift terbuka, memperlihatkan cahaya lampu neon dan kesibukan di dalam kasino. Orang-orang dari semua lapisan masyarakat berjalan ke arah yang berbeda. Vegas merupakan surganya neraka, satu-satunya tempat di mana kita dapat menemukan penari memakai pakaian bulu yang mencolok warnanya dan make-up panggung, para pelacur yang hampir tidak mengenakan pakaian namun dapat terima, para pengusaha yang memakai jas mahal, dan sebuah keluarga dalam satu gedung. Kami berjalan pelan di lorong yang di batasi oleh tali berwarna merah, dan menyerahkan tanda pengenal kami pada pria yang memakai jaket merah. Dia memandangku untuk beberapa saat dan aku menurunkan kaca mataku.

“Bisakah sedikit agak cepat, itu akan sangat membantu,” kataku, berusaha terlihat bosan.

Dia mengembalikan tanda pengenal kami lalu menyingkir ke samping, membiarkan kami lewat. Kami melewati beberapa lorong mesin slot, meja permainan black jack, lalu berhenti di permainan roulette. Aku memandang ke sekeliling ruangan memperhatikan beberapa meja poker, lalu memutuskan untuk bermain di mana beberapa pria yang sudah tua sedang duduk.

“Meja yang itu.” kataku, mengangguk ke seberang ruangan.

“Mulai dengan agresif, Abby. Mereka tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada mereka.”

“Tidak. Mereka sudah lama di Vegas. Aku harus bermain pintar kali ini.”

Aku berjalan menuju meja itu, memamerkan senyumanku yang paling mempesona. Orang lokal dapat mencium seorang penipu dari jauh, tapi aku punya dua hal yang membantuku yang akan menutupi aroma penipu manapun: Muda…dan payudara.

“Selamat malam, Gentlemen. Keberatankah kalau aku bergabung bersama kalian?”

Mereka tidak melihat ke atas. “Tentu, Sweet cheeks. Ambil kursi dan tampil cantik. Hanya saja jangan bersuara.”

“Aku ingin ikut bermain,” menyerahkan kacamataku pada America. “Tidak banyak aksi di permainan black jack.

Salah satu dari mereka mengunyah cerutunya. “Ini permainan poker, Princess. Ambil lima kartu. Coba keberuntunganmu di mesin slot.”

Aku duduk di atas satu-satunya kursi yang kosong, membuat pertunjukan memperlihatkan kakiku. “Aku selalu ingin bermain poker di Vegas. Dan aku masih memiliki semua chip ini…,” aku berkata sambil menyusun chipku di atas meja, “dan aku sangat bagus saat bermain online.”

Kelima pria itu melihat chipku lalu melihat ke arahku. “Ada minimal taruhan, Sugar,” kata orang yang membagikan kartu.

“Berapa?”

“Lima ratus, Peach. Dengar…aku tak ingin membuatmu menangis. Bantulah dirimu sendiri dan pilihlah salah satu mesin slot.”

Aku mendorong ke depan chip ku, mengangkat bahuku dengan cara wanita ceroboh dan terlalu percaya diri sebelum menyadari dia telah kehilangan uang kuliahnya. Mereka saling melihat satu sama lain. Orang yang membagikan kartu mengangkat bahunya dan melemparkan chip miliknya.

“Jimmy,” dia mengulurkan tangannya. Ketika aku menjabat tangannya, dia menunjuk pada pria lainnya. “Mel, Pauly, Joe, dan itu Winks.” Aku melihat ke arah pria yang mengunyah tusuk gigi, dan seperti yang telah aku kira, dia mengedipkan satu matanya padaku.

Aku mengangguk dan menunggu dengan antisipasi palsu saat Jimmy mengocok kartu putaran pertama. Aku sengaja kalah pada dua putaran pertama, tapi pada putaran ke empat, aku sudah bangkit. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk veteran Vegas mengetahui rahasiaku sama seperti Thomas.

“kau bilang kau bermain secara online?” tanya Pauly.

“Ya, bersama ayahku.”

“kau berasal dari Vegas?” tanya Jimmy.

“Dari Wichita,” aku tersenyum.

“Dia bukan pemain online, aku beritahu itu,” Mel menggerutu.

Satu jam berikutnya, aku telah mengambil dua ribu tujuh ratus dolar dari lawanku, dan mereka mulai berkeringat.

“Menyerah,” kata Jimmy, melempar kartunya dengan muka masam.

“Jika aku tidak melihatnya sendiri, aku tidak akan pernah percaya,” aku mendengar suara di belakangku.

Aku dan America berbalik bersamaan, dan aku tersenyum lebar. “Jesse,” aku menggelengkan kepala. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ini tempat milikku yang kau tipu, Cookie. Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku memutar mataku dan melihat ke arah teman baruku yang menatapku curiga. “kau tahu aku membenci nama panggilan itu, Jess.”

“Maafkan kami,” kata Jesse, menarik lenganku agar aku berdiri, America memperhatikanku dengan waspada saat aku digiring pergi beberapa kaki.

Ayah Jesse mengelola kasino ini, dan aku sangat terkejut dia mau bergabung dalam bisnis keluarga. Dulu kami saling kejar-kejaran sepanjang lorong hotel di lantai atas, dan aku selalu mengalahkannya saat kami berlomba menuju lift. Dia sudah tumbuh dewasa sejak terakhir kali aku melihatnya. Aku mengingat dia sebagai remaja pra puber yang kurus; pria di hadapanku berpakaian seperti pit boss (film seri Amerika), tidak lagi kurus dan sudah menjadi pria dewasa. Dia masih memiliki kulit coklat yang halus dan mata hijau yang aku ingat, namun yang lainnya benar-benar kejutan yang menyenangkan.

Matanya yang hijau berkilau di bawah sinar lampu. “Ini nyata. Aku tahu itu kau ketika aku lewat tapi aku tidak dapat meyakinkan diriku sendiri bahwa kau akan datang kemari lagi. Ketika aku melihat Tinkerbell ini menyapu bersih meja poker, aku langsung tahu itu kau.”

“Ini aku,” aku tersenyum.

“kau terlihat…beda.”

“kau juga. Bagaimana ayahmu?”

“Pensiun,” dia tersenyum. Berapa lama kau akan berada di sini?”

“Hanya sampai hari Minggu. Aku harus kembali kuliah.”

“Hai, Jess,” kata America, memegang tanganku.

“America,” dia tertawa geli. “Aku seharusnya tahu. Kalian selalu bersama-sama seperti bayangan.”

“Jika orangtuanya tahu aku membawanya kemari, semua itu akan berakhir dari dulu.”

“Sangat senang bertemu denganmu, Abby. Kenapa kita tidak pergi makan malam?” dia bertanya sambil memperhatikan pakaianku.

“Aku ingin sekali, tapi aku di sini bukan untuk bersenang-senang, Jess.”

Dia mengangkat tangannya ke atas dan tersenyum. “Begitu juga aku. Serahkan tanda pengenalmu.”

Kepalaku menunduk, mengetahui ada pertarungan di tanganku. Jesse tidak akan terpengaruh oleh pesonaku dengan mudah. Aku tahu aku harus mengatakan yang sebenarnya pada Jesse. “Aku berada di sini untuk Mick. Dia sedang dalam masalah.”

Jesse  bergeser. “Masalah apa?”

“Yang biasa.”

“Aku harap aku bisa membantu. Mengingat masa lalu, dan kau tahu aku menghormati ayahmu, tapi kau tahu aku tidak bisa membiarkanmu tinggal."

Aku menarik lengannya dan meremasnya. “Dia berhutang uang pada Benny.”

Jesse menutup matanya lalu menggelengkan kepalanya. “Ya Tuhan.”

“Aku punya waktu sampai besok. Anggap saja aku berhutang padamu, Jesse. Tapi biarkan aku tinggal sampai besok.”

Dia menyentuhkan telapak tangannya ke pipiku. “Begini saja…jika kau makan malam denganku besok, aku akan memberi kau waktu sampai tengah malam nanti.”

Aku melihat ke arah America lalu melihat pada Jesse. “Aku kemari bersama seseorang.”

Dia mengangkat bahunya. “Terima atau pergi, Abby. kau tahu bagaimana di sini…kau tidak bisa mendapatkan apapun secara gratis.”

Aku menghela nafas, merasa kalah. “Baiklah. Aku akan menemuimu besok malam di Ferraros jika kau memberiku waktu sampai tengah malam.”

Dia membungkuk ke bawah lalu mencium pipiku. “Aku sangat senang bertemu denganmu lagi. Sampai bertemu besok…jam lima, ok? Aku kerja jam delapan.”

Aku tersenyum saat dia melangkah pergi, tapi senyumku langsung hilang saat aku melihat Travis menatapku dari meja Roulette.

“Oh sialan,” kata America, menarik lenganku.

Travis menatap tajam ke arah Jesse saat dia melewatinya, lalu berjalan ke arahku. Dia memasukkan tangannya ke saku dan melihat sekilas ke arah Jesse yang sedang memperhatikan kami dari ujung matanya.

“Siapa itu?”

Aku mengangguk ke arah Jesse. “Itu adalah Jesse Viveros. Aku mengenalnya sejak lama.”

“Berapa lama?”

Aku melihat ke arah meja poker. “Travis, aku tidak punya waktu untuk ini.”

“Aku rasa dia membuang cita-citanya untuk menjadi pendeta,” kata America, mengirimkan seringai menggoda ke arah Jesse.

“Tadi itu adalah mantan pacarmu?” tanya Travis, seketika itu juga marah. “kau bilang dia dari Kansas?”

Aku mendelik pada America lalu memegang dagu Travis dengan tanganku, memaksanya untuk memperhatikan aku. “Dia tahu aku belum cukup umur untuk berada di sini, Trav. Dia memberiku waktu sampai tengah malam. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, sekarang aku harus kembali bermain, ok?”

Rahang Travis bergetar di bawah kulitnya, lalu dia menutup matanya, menarik nafas panjang. “Baiklah. Sampai bertemu tengah malam nanti.” Dia membungkuk lalu menciumku, namun bibirnya terasa dingin dan menjaga jarak. “Semoga berhasil.”   

Aku tersenyum saat dia menghilang di keramaian, lalu mengalihkan perhatianku kembali kepada semua pria di meja poker. “Gentlemen?”

“Silahkan duduk Sherly Temple,” kata Jimmy. “Kami akan mengambil uang kami kembali, sekarang. Kami tidak suka ditipu.”

“Lakukan yang terbaik.” Aku tersenyum, mengocok kartu dengan mahir lalu membagikannya pada semua pemain dengan teliti.

“Waktunya tinggal sepuluh menit,” bisik America.

“Aku tahu,” kataku.

Aku sudah memenangkan enam ribu dolar. Aku berusaha tidak memikirkan waktu yang tersisa namun lutut America bergerak naik turun dengan gugup di bawah meja. Tumpukan chip taruhan para pemain sekarang lebih tinggi dari sebelumnya, taruhannya semua atau tidak sama sekali.

“Aku belum pernah melihat pemain sepertimu, Nak. kau hampir selalu memenangkan permainan. Dan dia tidak menunjukkan satu gerakan apapun yang mengindikasikan kartu yang dia tidak pegang, Winks. kau memperhatikan itu?” kata Pauly.

Winks mengangguk, sikap riangnya sedikit berkurang pada setiap putaran. “Aku tahu. Tidak satu garukan ataupun senyuman, bahkan pandangan matanya tetap sama. Itu tidak normal. Semua orang pasti punya satu Tell*.”

“Tidak semua orang,” kata America dengan sombong.

Aku merasakan sepasang tangan yang aku kenal menyentuh bahuku. Aku tahu itu Travis tapi aku tidak berani melihat ke belakang, tidak dengan tiga ribu dolar yang berada di tengah meja.

“Call (Ikut bertaruh),” kata Jimmy.

Mereka yang berkerumun di sekitar meja kami bertepuk tangan saat aku meletakkan kartuku. Jimmy adalah satu-satunya yang hampir mengalahkanku dengan three-of-a-kind (kartu triple). Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kartu straight-ku (Kartu berurutan).

“Luar biasa!” kata Pauly, melempar dua kartu angka duanya ke atas meja.

“Aku keluar,” Joe menggerutu, sambil berdiri lalu menghentakkan kakinya melangkah menjauhi meja.

Jimmy sedikit lebih ramah. “Aku boleh mati malam ini karena merasa telah bermain melawan orang yang sepadan, nak. Sangat menyenangkan, Abby.”

Aku membeku. “kau mengenalku?”

Jimmy tersenyum, bertahun-tahun menghisap cerutu dan minum kopi meninggalkan noda di giginya yang besar. “Aku pernah melawanmu sebelumnya. Enam tahun yang lalu. Aku sudah lama ingin bertanding ulang.”

Jimmy mengulurkan tangannya. “Jaga dirimu baik-baik, nak. Sampaikan salamku pada ayahmu.”

America membantuku mengumpulkan chip yang aku menangkan, aku berbalik ke belakang dan melihat Travis, melirik jam tanganku. “Aku membutuhkan sedikit waktu lagi.”

“Ingin mencoba bermain black jack?”

“Aku tidah boleh kehilangan uang, Trav.”

Dia tersenyum. “kau tidak akan pernah kalah, Pidge.”

America menggelengkan kepalanya. “Dia tidak terlalu bisa bermain black jack.”

Travis mengangguk. “Aku menang sedikit. Aku mendapat enam ratus. kau boleh mengambilnya.”

Shepley menyerahkan chipnya padaku. “Aku hanya mendapat tiga ratus. Ini untukmu.”

Aku menghela nafas. “Terima kasih, guys, tapi masih kurang lima ribu.”

Aku melirik jam tanganku lagi lalu melihat ke atas dan melihat Jesse mendekat. “Bagaimana?” dia bertanya sambil tersenyum.

“Masih kurang lima ribu, Jess. Aku membutuhkan waktu lagi.”

“Aku sudah melakukan yang aku bisa, Abby.”

Aku mengangguk, aku tahu aku sudah meminta terlalu banyak. “Terima kasih sudah mengizinkan aku tinggal.”

“Mungkin aku bisa meminta ayahku untuk bicara kepada Benny untukmu?”

“Ini masalah Mick. Aku akan meminta pada Benny perpanjangan waktu.”

Jesse menggelengkan kepalanya. “kau tahu itu tidak akan mungkin terjadi, Cookie, tidak peduli berapa banyak yang kau bawa. Kalau kurang dari yang dia pinjam, Benny akan mengirimkan seseorang. kau harus menjauhinya sebisa mungkin.”

Aku merasakan mataku menjadi perih. “Aku harus mencoba.”

Jesse mendekat satu langkah, membungkuk untuk berbisik. “Naik pesawat dan pulanglah, Abby. kau dengar aku?”

“Aku mendengarmu,” bentakku.

Jesse menghela nafas dan ada rasa simpati di tatapan matanya. Dia memelukku dan mencium rambutku. “Maafkan aku. Jika bukan pekerjaanku taruhannya, kau tahu aku akan memikirkan jalan lain.”

Aku mengangguk, melepaskan diri darinya. “Aku tahu. kau sudah melakukan apa yang kau bisa.”

Dia mengangkat daguku dengan jarinya. “Sampai bertemu besok jam lima.” Dia membungkuk untuk mencium ujung bibirku lalu berjalan melewatiku tanpa berkata apapun lagi.

Aku melihat ke arah America, yang sedang memperhatikan Travis. Aku tidak berani menatap mata Travis; aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah marahnya.

“Ada apa jam lima?” tanya Travis, suaranya terhambat karena rasa emosi yang dia tahan.

“Dia setuju untuk makan malam dengan Jesse jika dia diizinkan tinggal. Dia tidak punya pilihan, Trav,” kata America. Aku dapat mengira dari nada hati-hati America kalau Travis sedang lebih dari marah.

Aku menatap tajam Travis, dan dia melotot ke arahku dengan ekspresi yang sama dengan Mick saat dia menyadari aku mengambil keberuntungannya, merasa dikhianati.

“kau punya pilihan.”

“Apakah kau pernah berhubungan dengan mafia, Travis? Maafkan aku jika perasaanmu tersakiti, tapi makan gratis dengan teman lama bukanlah harga yang mahal untuk dibayar untuk membuat Mick tetap hidup.”

Aku dapat melihat bahwa Travis ingin menyerangku, namun tidak ada yang dapat dia katakan.

"Ayolah, guys, kita harus mencari Benny,” kata America, menarik lenganku.

***

Travis dan Shepley mengikuti di belakang tanpa berkata apapun saat kami melewati pertunjukan penari telanjang menuju gedung milik Benny. Lalu lintas—baik mobil maupun orang di jalan yang ramai mulai tumpah. Pada setiap langkah, aku merasa semakin mual, seperti ada lubang di perutku, pikiranku berlomba untuk memikirkan argumen kuat yang dapat membuat Benny mengerti alasannya. Pada saat kami mengetuk pintu besar berwarna hijau yang sudah pernah aku lihat beberapa kali sebelumnya, aku harus bicara sesedikit mungkin seperti uang yang aku bawa.

Itu bukan suatu kejutan untuk melihat penjaga pintu yang bertubuh sangat besar—hitam, menakutkan, berbadan lebar dan juga tinggi—namun aku terkejut melihat Benny berdiri di sampingnya.

“Benny.” Aku menarik nafas.

“My, my…kau bukan Lucky Thirteen lagi, sekarang, ya kan? Mick tidak mengatakan kalau kau tumbuh menjadi wanita yang cantik. Aku sudah menunggumu, Cookie. Aku dengar kau membawa uang untuk membayar hutang padaku.”

Aku mengangguk dan Benny menunjuk ke arah teman-temanku. Aku mengangkat daguku agar terlihat seolah aku percaya diri. “Mereka bersamaku.”

“Aku rasa semua temanmu harus menunggu di luar,” kata si penjaga pintu dengan suara bass yang abnormal.

Travis langsung memegang tanganku. “Dia tidak akan masuk ke sana sendirian. Aku akan ikut dengannya.”

Benny memandang Travis dan aku menelan ludah. Ketika Benny melihat ke arah penjaga pintu dan ujung bibirnya sedikit terangkat, aku sedikit agak tenang.

“Cukup adil,” kata Benny. “Mick akan senang mengetahui kau mempunyai teman yang sangat baik bersamamu.”

Aku mengikutinya masuk ke dalam, melihat ke belakang dan melihat rasa khawatir di wajah America. Travis tetap memegang lenganku dengan erat, dengan sengaja berdiri di antara aku dengan si penjaga pintu. Kami mengikuti Benny masuk ke dalam lift, naik empat lantai dalam keheningan, lalu pintu pun terbuka.

Terdapat meja mahoni yang besar di tengah ruangan yang luas. Benny tertatih menuju kursi mewahnya lalu duduk, memberi isyarat pada kami untuk duduk di dua kursi kosong yang berhadapan dengan mejanya. Ketika aku duduk, bahan kulit kursinya terasa dingin di bawahku, dan aku bertanya-tanya berapa banyak orang yang pernah duduk di kursi ini, beberapa saat sebelum kematian mereka. Aku meraih untuk menarik tangan Travis, dan dia meremas tanganku untuk menenangkanku.

“Mick berhutang padaku sebesar dua puluh lima ribu. Aku yakin kau membawa uang sebesar itu,” kata Benny, menulis sesuatu di buku catatannya.

“Sebenarnya,” aku terhenti, membersihkan tenggorokanku, “Aku kekurangan lima ribu, Benny. Tapi aku punya satu hari lagi besok untuk mendapatkan sisanya. Dan lima ribu itu mudah, benar kan? kau tahu aku pandai dalam hal itu.”

“Abigail,” kata Benny, merengut, “kau mengecewakanku. kau mengetahui peraturanku lebih baik dari itu.”

“A...aku mohon, Benny. Aku mintamu untuk menerima yang sembilan puluh sembilan persennya, dan aku akan menyerahkan sisanya padamu besok.”

Mata bulatnya Benny menusukku lalu melihat ke arah Travis dan kembali lagi padaku. Dan pada saat itulah aku mengetahui ada dua pria melangkah ke depan, keluar dari sudut yang gelap di ruangan itu. Pegangan Travis di tanganku semakin erat, dan aku menahan nafasku.

“kau tahu aku tidak akan menerima sedikitpun selain dari pembayaran full. Fakta bahwa kau memberiku kurang dari itu memberitahuku sesuatu. kau tahu itu memberitahuku apa? Bahwa kau tidak yakin akan mendapatkan sisanya.”

Kedua pria tadi mendekat satu langkah lagi ke depan.

“Aku akan mendapatkan uangmu, Benny,” aku tertawa dengan gugup. “Aku memenangkan delapan ribu sembilan ratus dalam waktu enam jam.”

“Jadi apa kau mengatakan kalau kau akan membawa delapan ribu sembilan ratus lagi untukku dalam waktu enam jam?” Benny memberikan senyum jahatnya.

“Tenggat waktunya baru tengah malam besok,” kata Travis, melihat ke belakang kami dan memperhatikan bayangan kedua pria itu mendekat.

“A…apa yang kau lakukan, Benny?" tanyaku, tubuhku kaku.

“Mick meneleponku tadi. Dia mengatakan bahwa kau akan mengambil alih hutangnya.”

“Aku hanya membantunya. Aku tidak berhutang padamu.” Aku berkata dengan tegas, insting bertahanku muncul.

Benny meletakkan kedua sikunya yang berlemak, pendek, dan gemuk di atas meja. “Aku berpikir untuk memberi Mick sebuah pelajaran, dan aku penasaran seberapa beruntungnya dirimu, nak.”

Travis melonjak keluar dari kursinya, menarikku bersamanya. Dia mendorongku ke belakangnya, berjalan mundur menuju pintu.

“Ada Josiah di luar pintu, anak muda. kau pikir kau akan kabur kemana?”

Aku sudah melakukan kesalahan. Ketika aku berpikir tentang membujuk Benny untuk mengerti alasannya, aku seharusnya mengantisipasi keinginan Mick untuk bertahan hidup, dan kegemaran Benny untuk menghukum.

“Travis,” aku memperingatkan, melihat anak buahnya Benny mendekat.

Travis mendorongku menjauh darinya beberapa kaki di belakangnya dan berdiri tegak. “Aku harap kau tahu, Benny, bahwa ketika aku mengalahkan anak buahmu, aku bukan bermaksud untuk tidak hormat. Tapi aku sangat mencintai wanita ini, dan aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya.”

Benny langsung tertawa terbahak-bahak. “Aku serahkan padamu, nak. kau mempunyai keberanian paling besar dari orang-orang yang melewati pintu itu. Aku memperingatkanmu pada apa yang akan kau dapatkan. Orang yang agak besar di samping kananmu adalah Davis, dan jika dia tidak bisa mengalahkanmu dengan tinjunya, dia akan menggunakan pisau yang tergantung di ikat pinggangnya. Orang yang di samping kirimu adalah Dane, dan dia adalah petarung terbaikku. Dia akan bertarung besok, dan sejujurnya dia tidak pernah kalah. Ingat untuk tidak menyakiti tanganmu, Dane. Aku sudah mempertaruhkan banyak uang untukmu.”

Dane tersenyum liar pada Travis, matanya girang. “Ya, tuan.”

“Benny, hentikan! Aku akan mendapatkan uang itu!” teriakku.

“Oh tidak…ini akan menjadi lebih menarik dengan cepat,” Benny terkekeh, bersandar di kursinya.

David berlari ke arah Travis dan tanganku menutup mulutku. Orang itu kuat, tapi ceroboh dan lambat. Sebelum David memukul atau meraih pisaunya, Travis melumpuhkannya, mendorong wajah David langsung ke lututnya. Ketika Travis melayangkan tinjunya, dia tidak membuang waktu, melayangkan semua kekuatannya ke wajah orang itu. Lalu dua pukulan dan satu pukulan menggunakan sikunya, David terbaring di lantai dalam genangan darah.

Kepala Benny bersandar ke belakang, tertawa histeris dan memukul-mukul meja dengan senang seperti anak kecil yang sedang menonton kartun pada Sabtu pagi. “Well, lanjutkan, Dane. Dia tidak membuatmu takut kan?”

Dane mendekati Travis lebih hati-hati, dengan fokus dan perhitungan seorang petarung profesional. Tinjunya melayang ke wajah Travis dengan kecepatan yang luar biasa, namun Travis dapat menghindar, menyeruduk Dane menggunakan bahunya dengan kekuatan penuh. Mereka jatuh di atas meja Benny, lalu Dane mencengkram Travis dengan kedua tangannya, melemparkannya ke lantai. Mereka baku hantam di lantai beberapa saat, lalu Dane berdiri, memposisikan dirinya untuk memukul Travis saat dia terjebak di antara Dane dan lantai. Aku menutup wajahku, tidak sanggup melihat.

Aku mendengar erangan kesakitan, lalu aku mengangkat kepalaku dan melihat Travis seperti melayang di atas Dane, menahannya dengan mencengkeram rambut shaggynya, memukulkan beberapa tinjunya ke samping kepala Dane. Setiap pukulan, membuat wajah Dane membentur bagian depan meja Benny, lalu Dane bergegas berdiri, kehilangan arah dan berdarah.

Travis memperhatikannya beberapa saat, lalu menyerang lagi, mendengus setiap menyerang, sekali lagi menggunakan kekuatan penuh. Dane menghindar sekali dan mendaratkan pukulannya di rahang Travis.

Travis tersenyum dan mengangkat satu jarinya. “Itu adalah satu-satunya kesempatanmu memukulku.”

Aku tidak mempercayai pendengaranku. Travis sudah membiarkan anak buahnya Benny memukulnya. Dia menikmatinya. Aku tidak pernah melihat Travis bertarung tanpa batasan; itu sedikit menakutkan untuk melihatnya melepaskan semua yang dia punya melawan pembunuh yang terlatih dan punya keahlian ini. Sebelumnya, aku tidak menyadari apa yang dapat Travis lakukan.

Dengan suara tawa Benny yang mengganggu di belakang, Travis menghabisi Dane, mendaratkan sikunya di tengah-tengah wajahnya, menjatuhkannya sebelum dia menyentuh lantai. Aku mengamati tubuhnya saat memantul satu kali di atas karpet import milik Benny.

“Luar biasa, anak muda! Sangat menakjubkan!” kata Benny, bertepuk tangan dengan senang.

Travis menarikku ke belakangnya saat Josiah muncul di ambang pintu dengan tubuhnya yang besar.

“Haruskah aku mengurus yang satu ini, Tuan?”

“Tidak…tidak…tidak…,” kata Benny, masih merasa limbung karena pertunjukan spontan tadi. “Siapa namamu?”

Travis masih terengah-engah. “Travis Maddox”, jawab Travis, mengelap darah Dane dan David di tangan ke celana jinsnya.

“Travis Maddox, aku yakin kau dapat menolong kekasih kecilmu.”

“Bagaimana caranya?” Travis terengah.

“Dane seharusnya bertarung besok malam. Aku sudah bertaruh banyak padanya, dan tampaknya Dane tidak akan cukup kuat untuk memenangkan pertarungan dalam waktu dekat. Aku sarankan kau menggantikannya, memenangkan uang untukku, dan aku akan melupakan sisa hutang Mick yang lima ribu seratus itu.”

“Travis berpaling padaku. “Pigeon?”

“kau baik-baik saja?” aku bertanya sambil mengelap darah dari wajahnya. Aku menggigit bibirku, merasa wajahku kusut karena gabungan antara rasa takut dan lega.

Travis tersenyum. “Itu bukan darahku, sayang. Jangan menangis.”

Benny berdiri. “Aku orang yang sibuk, nak. Lewat atau main?”

“Aku akan melakukannya,” kata Travis. “Beritahu kapan dan di mana aku akan berada di sana.”

“kau akan melawan Brock McMann. Dia bukan orang biasa. Dia pernah dilarang mengikuti UFC tahun lalu.”

Travis tidak terpengaruh. “Katakan saja di mana aku harus berada.”

Seringai hiu Benny terukir di wajahnya. “Aku menyukaimu, Travis. Aku rasa kita akan menjadi teman baik.”

“Aku rasa tidak akan,” Travis berkata sambil membuka pintu untukku dan tetap dalam posisi melindungi hingga kami sampai di pintu depan.

***

“Ya Tuhan!” America menjerit karena melihat cipratan darah di atas baju Travis. “Kalian baik-baik saja?” dia menarik bahuku dan memeriksa wajahku.

“Aku baik-baik saja. Seperti hari biasa di kantor. Untuk kami berdua,” aku berkata sambil mengusap mataku.

Travis memegang tanganku dan kami bergegas menuju hotel bersama Shepley dan America yang mengikuti di belakang. Tidak banyak yang memperhatikan penampilan Travis. Dia berlumuran darah dan hanya beberapa turis dari luar kota yang menyadarinya.

“Apa yang terjadi di dalam sana tadi?” akhirnya Shepley bertanya.

Travis membuka bajunya hingga tinggal pakaian dalamnya lalu menghilang ke kamar mandi. Pancuran air menyala dan America menyodorkan sekotak tisu padaku.

“Aku baik-baik saja, Mare.”

Dia menghela nafas dan mendorong kotak itu padaku sekali lagi. “kau tidak baik-baik saja.”

“Ini bukan rodeo pertamaku dengan Benny,” kataku, ototku terasa nyeri karena rasa tegang yang aku rasakan dalam dua puluh empat jam terakhir ini.

“Ini pertama kalinya kau melihat Travis benar-benar lepas kendali terhadap seseorang,” kata Shepley. “Aku pernah melihatnya satu kali, dan itu bukan pemandangan yang bagus.”

“Apa yang telah terjadi?” America memaksa.

“Mick menelepon Benny. Mengalihkan tanggung jawab hutangnya padaku.”

“Aku akan membunuhnya! Aku akan membunuh orang sialan yang menyedihkan itu!” teriak America.

“Benny tidak menganggapku yang bertanggung jawab, tapi dia bermaksud memberikan Mick sebuah pelajaran karena mengirim anak perempuannya untuk membayar hutangnya. Dia memanggil dua anjingnya dan Travis mengalahkan mereka. Mereka berdua. Dalam waktu kurang dari lima menit.”

“Jadi Benny melepaskanmu?” tanya America.

Travis keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya, satu-satunya bukti dari perkelahiannya adalah tanda merah kecil pada tulang pipi di bawah mata kanannya. “Salah satu dari mereka yang aku kalahkan harus bertarung besok malam. Aku akan menggantikannya dan sebagai imbalannya Benny akan melupakan lima ribu terakhir sisa dari hutangnya Mick.”

America berdiri. “Ini sangat konyol! Kenapa kita membantu Mick, Abby? Dia sudah melemparkanmu pada serigala! Aku akan membunuhnya!”

“Tidak jika aku membunuhnya lebih dulu,” Travis mendidih.

“Mengantrilah.” kataku.

“Jadi kau bertarung besok?” tanya Shepley.

“Di tempat yang bernama Zero’s. Jam enam. Melawan Brock McMann, Shep.”

Shepley menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Itu sangat tidak mungkin, Trav. Orang itu sinting!”

“Ya,” Travis tersenyum, “tapi dia tidak bertarung untuk kekasihnya, kan?” Travis memelukku di dalam lengannya, menciumi rambutku. “kau baik-baik saja, Pigeon?”

“Ini adalah kesalahan. Ini salah dalam segala level. Aku tidak tahu mana dulu yang harus di pikirkan masak-masak.”

“Apa kau tidak melihat aku tadi? Aku akan baik-baik saja. Aku pernah melihat Brock bertarung sebelumnya. Dia tangguh tapi bukan berarti tidak bisa di kalahkan.”

“Aku tidak ingin kau melakukan ini, Trav.”

“Well, aku juga tidak ingin kau pergi makan malam bersama mantan pacarmu besok. Aku rasa kita berdua harus melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk menyelamatkan ayahmu yang tidak berguna itu.”

Aku sudah pernah melihat itu sebelumnya. Vegas merubah seseorang, menciptakan banyak monster dan orang-orang bejat. Sangat mudah untuk membiarkan cahaya lampu dan mimpi curian meresap ke dalam darahmu. Aku pernah melihat semangat itu, rasa tidak akan terkalahkan di wajah Travis semakin besar, dan satu-satunya obat untuk itu adalah perjalanan pulang dengan pesawat.

***

Aku melirik jam tanganku lagi.

“Kau harus pergi ke tempat lain, Cookie?” tanya Jesse, terlihat geli.

“Aku mohon berhentilah memanggilku Cookie, Jess. Aku tidak menyukainya.”

“Aku juga tidak suka kau pergi. Tapi itu tidak menghentikanmu.”

“Ini percakapan yang basi dan melelahkan. Mari kita makan saja, ok?”

“Baiklah, mari bicarakan tentang pacar barumu. Siapa namanya? Travis?” Aku mengangguk dan dia tersenyum. “Apa yang kau lakukan bersama orang sakit jiwa yang bertatoo itu? Dia tampak seperti salah satu anggota keluarga Manson (Penjahat di Amerika).”

“Jaga sikapmu, Jesse, atau aku pergi dari sini.”

“Aku tidak bisa melupakan betapa berbedanya penampilanmu. Aku juga tidak akan melupakan bahwa kau duduk di depanku.”

Aku memutar mataku. “Lupakanlah.”

“Itu dia,” kata Jesse. “Wanita yang aku kenal.”

Aku melihat jam tanganku. “Pertarungan Travis dua puluh menit lagi. Aku harus pergi.”

“Kita masih harus makan makanan penutupnya.”

“Aku tidak bisa, Jesse. Aku tidak ingin dia khawatir jika aku tidak datang. Ini sangat penting.”

Bahu Jesse turun. “Aku tahu. Aku merindukan hari-hari saat aku penting untukmu.”

Aku memegang tangannya. “Kita masih anak kecil waktu itu. Itu beberapa tahun yang lalu.”

“Kapan kita tumbuh dewasa? kau berada di sini adalah pertanda, Abby. Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi tapi sekarang kau duduk di sini. Bersamaku.”

Aku menggelengkan kepalaku perlahan, tidak ingin menyakiti perasaan teman lamaku. “Aku mencintainya, Jess.”

Rasa kecewanya terlihat dari senyuman kecil di wajahnya. “Kalau begitu sebaiknya kau pergi.”

Aku mencium pipinya lalu pergi dari restoran, memanggil taksi.

***

“Tujuannya ke mana?” tanya supir taksi.

“Zero’s.”

Supir taksi melihat ke belakang ke arahku, bertanya sekali lagi. “kau yakin?”

“Aku yakin! Ayo jalan!” kataku, melemparkan uang ke tempat duduknya.

***


*perubahan sikap atau perilaku seorang pemain poker yg dipakai sebagai petunjuk pemain lain utk menilai kartunya.


Penerjemah: +Oseu
Editor: +Meyke AD

Poskan Komentar

20 comments

thanks mbak oseu, mbak meyke and mas mimin :D

maturnuwum mb Ose, mbak Meyke...gak lupa maturnuwun mas Yudi.

Thank you mbak oseu, mbak meyke dan mas yudi.
Ah akhirnya aku bisa baca juga dari pc dan koment hehe

ditunggu kelanjutannya yah.

wah... Travis kereeen.. *.*
Cinta mengubah mu hihihi
Thanks mba oseu n mas yudi...
*kiss*

Wuiih~ ikutan tegang
Makasih mb oseu, mb meyke, mas mimin :))

Semoga kau baik baik saja Nak' :(
*cium Travis*

ini tegang banget.
abby jadi beda.
tapi yg paling bikin sy salut adalah, travis yg gentleman bgt.
so sweet~

thanks untuk mba oseu dan mba meyke.
trims jg tuk mas yudi.

mick bener bener ayah yg tidak punya perasaan, ck! kelaut aja sana mick-_- ahh terharu dengan kisah cinta abby dan travis u,u
makasih yaaa~~ lanjut~~

ini bab menghantam emosi jiwa gw..
thanks mas mba.. udah posting. semangat bwt bab slanjutnya......

ini bab menghantam emosi jiwa gw..
thanks mas mba.. udah posting. semangat bwt bab slanjutnya......

Tengkyu mba Oseu,mba meyke,,,
slalu menunggu lanjutanya,,

makasih lagi buat mas yudi dan oseu......

Baca bab ini, tegang banget...bikin deg-degan...pingin getok ayahnya Abby, n salut untuk Travis :)

aku tak bisa main poker hahaaa,,, pengen les ma abby dech hehee

smangat yah travis ... ksian abby !!
tak getok pala mu mick hhhe !!mksih mba oseu mba meykeu .. di tunggu lanjutan nya ..

aku penasaran banget sama rupa travis. aku bayangin travis maddox yang penuh tattoo kayak travis barker drummernya blink 182.
gak sabar baca terjemahan bab 16 dst, aku udah baca pdf nya, hmm... it's pain. painnya bikin hatiku juga ikutan pain.

aw aw aw awesome.... pray 4 Travis....
maturnuwun mbak Oseu, mbak Meyke dan mas Yudi ^^

aww makasih mb oseu n mb meyke
pray for travis..baek baek ya kang d vegas sna..

aq da bca novel ni mpe habiz.. Ťªpi ko akhir novelny aneh.. and ga memuaskn bgtzzz... ga seru sprti awal cerita novelny...
Ãpǻªª ada lanjuttan ήЧά.. nie novel mz yudi..???!!! mb meyke n mb oseu..???
†нªηк's sebelumnya.... :)

@ Queens Lolipops, bukan lanjutan seh tp ada buku ke dua yang judulnya Walking Disaster,itu nyeritain semua dari sudut pandang Travis. Baru terbit tar bulan April kalo ga salah.

Buat smua yang dah baca TL-an aku, makasih ya.. *peluk kalian smua ;)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top