24

bd-thumb
FULL HOUSE

Aku berputar-putar, meneliti bayanganku di cermin dengan pandangan ragu. Warnanya putih dan backless, sangat pendek, dan bagian badannya di tahan oleh untaian pendek berlian imitasi yang membentuk tali di leherku.

“Wow! Travis akan kencing di celana kalau dia melihat kau memakai itu!” kata America.

Aku memutar mataku. “Sangat romantis.”

“kau harus membeli itu. Tidak usah mencoba yang lain, itu yang terbaik,” dia berkata sambil bertepuk tangan dengan gembira.

“kau tidak berpikir ini terlalu pendek? Mariah Carey saja memakai yang lebih panjang dari ini.”

America menggelengkan kepalanya. “Aku memaksa.”

Aku gantian duduk di bangku saat America mencoba beberapa gaun, lebih sulit saat harus memilih untuk diri sendiri. Dia memilih gaun yang sangat pendek, ketat, sewarna dengan kulitnya dan salah satu bahunya tidak tertutup.

Kami mengendarai mobil Hondanya America ke apartemen dan mengetahui mobil Shepley tidak ada dan Toto di tinggal sendiri.

America mengeluarkan teleponnya lalu menelepon, tersenyum saat Shepley menjawab teleponnya.

“Kau pergi kemana, sayang?” dia mengangguk lalu melihat ke arahku. “Kenapa aku akan marah? Kejutan apa?” dia bertanya, hati-hati. Dia melihat ke arahku lagi lalu masuk ke kamar Shepley, menutup pintunya.

Aku mengusap telinga Toto yang berwarna hitam saat America bisik-bisik di kamar. Saat dia keluar, dia berusaha menahan senyum di wajahnya.

“Apa yang mereka lakukan sekarang?” tanyaku.

“Mereka dalam perjalanan pulang. Aku akan membiarkan Travis yang memberitahumu,” dia berkata sambil tersenyum lebar.

“Ya Tuhan…apa?” tanyaku.

“Aku tidak bisa memberitahumu. Ini kejutan.”

Aku memainkan rambutku dengan gelisah dan mengikir kukuku, tidak bisa duduk diam saat menunggu Travis mengungkapkan kejutannya. Pesta ulang tahun, anak anjing—aku tidak bisa membayangkan apa lagi. Suara keras mesin mobil Shepley memberitahu kalau mereka telah tiba, mereka tertawa saat berjalan naik di tangga.

“Mereka sedang dalam mood yang bagus.” kataku. “Pertanda baik.”

Shepley masuk lebih dulu. “Aku hanya tidak ingin kau berpikir kenapa dia melakukannya sedangkan aku tidak.”

America berdiri menyambut kekasihnya, lalu memeluknya. “Jangan konyol, Shep. Aku tidak akan marah karena hal itu.” “Jika aku ingin kekasih yang sinting aku akan berpacaran dengan Travis,” kata America, tersenyum saat memiringkan kepalanya untuk mencium Shepley.

“Itu tidak ada hubungannya dengan perasaanku padamu,” Shepley menambahkan.

Travis melangkah masuk dengan perban kain kasa kotak di pergelangan tangannya. Dia tersenyum padaku lalu berbaring di sofa, meletakkan kepalanya di pangkuanku.

Aku tidak dapat mengalihkan pandanganku dari perban itu. “Ok…apa yang telah kau lakukan?”

Travis tersenyum dan menarikku ke bawah untuk menciumnya. Aku dapat merasakan rasa gugup memancar darinya. Di luar dia tersenyum, namun aku dapat merasakan dia merasa tidak yakin dengan bagaimana reaksiku nanti terhadap apa yang telah dia lakukan.

“Aku membeli beberapa barang hari ini.”

“Barang apa?” tanyaku, curiga.

Travis tertawa. “Tenanglah, Pidge. Itu bukan sesuatu yang buruk.”

“Apa yang terjadi dengan pergelangan tanganmu?” aku berkata, sambil menarik tangannya.

Suara menggelegar mesin diesel terdengar di luar dan Travis melompat dari sofa, untuk membuka pintu. “Sudah waktunya mereka datang! Aku sudah di rumah setidaknya lima menit!” dia berkata sambil tersenyum.

Seorang pria berjalan mundur, menggotong sofa berwarna abu-abu yang di tutupi plastik, diikuti seorang pria lagi yang memegang bagian belakangnya. Shepley dan Travis memindahkan sofa—dengan aku dan Toto masih terduduk di atasnya—ke depan, lalu sofa baru diletakkan di tempat sofa lama sebelumnya berada. Travis menarik plastiknya dan menggendongku di tangannya, lalu mendudukanku di sofa baru yang lembut.

“kau membeli yang baru?” kataku, tersenyum lebar.

“Ya, dan beberapa barang lainnya juga. Terima kasih, guys,” dia berkata saat pria yang  mengangkut sofa tadi mengangkat sofa lama lalu pergi.

“Hilanglah semua kenangan,” aku menyeringai.

“Itu semua bukan kenangan yang ingin aku ingat.” Dia duduk di sampingku sambil menghela nafas, memperhatikanku beberapa saat sebelum dia menarik lepas plester yang menahan kain kasa di pergelangan tangannya. “Jangan panik.”

Pikiranku terus memikirkan apa yang ada di bawah perban itu. Aku membayangkan luka bakar, luka yang dijahit atau sesuatu yang sama mengerikannya.

Dia menarik perban dan aku terkesiap saat melihat tatoo tulisan sederhana di bagian bawah pergelangan tangannya, kulit di sekitarnya merah dan mengkilap karena antibiotik yang dia oleskan. Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya saat membaca tulisannya.

Pigeon

“kau menyukainya?” tanyanya.

“kau membuat tatoo namaku di pergelangan tanganmu?” aku mengatakan itu tapi tidak terdengar seperti suaraku. Pikiranku tidak bisa fokus, tapi aku berusaha tetap bicara dengan suara tenang.

“Ya,” dia berkata sambil mencium pipiku saat aku menatap tidak percaya pada tinta permanen di kulitnya.

“Aku berusaha melarangnya, Abby. Dia sudah beberapa lama tidak melakukan sesuatu yang gila. Aku pikir dia akan menjadi gila,” kata Shepley, menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana menurutmu?” Travis meminta jawaban.

“Aku tidak tahu harus bagaimana,” kataku.

“kau seharusnya meminta izin pada Abby sebelumnya, Trav,” kata America, menggelengkan kepalanya dan menutup mulut dengan jarinya.

“Minta izin untuk apa? Untuk membuat tatoo?” dia mengernyit, melihat padaku lagi. “Aku mencintaimu. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku adalah milikmu.”

Aku bergerak dengan gugup,”Tapi itu permanen, Travis,”

“Begitu juga dengan hubungan kita, permanen,” dia berkata sambil menyentuh pipiku.

“Perlihatkan padanya yang satu lagi,” kata Shepley.

“Satu lagi?” aku berkata sambil melihat pergelangan tangannya yang satu lagi.

Travis berdiri, mengangkat kaosnya. Perut six-pack nya terlihat mengagumkan dan kencang saat dia bergerak. Travis berputar, dan di sisi tubuhnya ada tatoo lain yang membentang sepanjang tulang rusuknya.

“Apa itu?” aku berkata sambil memicingkan mataku pada simbol vertikal di tubuhnya.

“Itu bahasa Ibrani,” Travis tersenyum.

“Apa artinya itu?”

“Artinya, ‘Aku milik kekasihku dan kekasihku adalah miliku’.”

Mataku menatap matanya. “kau tidak puas dengan satu tatoo, jadi harus membuat dua tatoo?”

“Ini adalah sesuatu yang selalu aku katakan akan aku lakukan saat menemukan orang yang tepat. Aku bertemu denganmu…aku melakukannya dan membuat tatoo ini.” Senyumnya hilang saat dia melihat ekspresiku. “kau marah?” dia berkata sambil menurunkan kaosnya.

“Aku tidak marah. Aku hanya…bingung.”

Shepley memeluk America dengan satu tangannya dengan erat. “kau harus mulai membiasakan diri dengan ini, Abby. Travis orangnya impulsif dan bersungguh-sungguh terhadap apapun. Ini akan membuatnya tenang hingga dia bisa menyematkan cincin di jarimu.”

Alis America terangkat, melihat ke arahku lalu pada Shepley. “Apa? Mereka baru saja mulai berpacaran!”

“Aku…pikir aku perlu minum,” kataku sambil melangkah ke dapur.

Travis tertawa geli, memperhatikanku menggeledah lemari. “Dia bercanda, Pidge.”

“Apa aku bercanda?” tanya Shepley.

“Dia tidak bilang dalam waktu dekat,” Travis membela diri. Dia berpaling pada Shepley sambil menggerutu, “Terima kasih banyak, brengsek.”

“Mungkin sekarang kau akan berhenti membicarakan hal itu,” Shepley menyeringai.

Aku menuangkan satu sloki tequila ke dalam gelas lalu menenggaknya, dan menelannya sekaligus. Aku menekan wajahku saat tequila membakar tenggorokanku.

Travis memeluk pinggangku dari belakang dengan lembut. “Aku bukan melamar, Pidge. Ini hanya tatoo.”

“Aku tahu,” kataku, menganggukan kepalaku sambil menuang satu gelas minuman lagi.

Travis mengambil botol dari tanganku lalu menutupnya, memasukannya kembali ke lemari. Ketika aku tidak berbalik, dia memutar badanku hingga berhadapan dengannya.

“Ok. Aku seharusnya membicarakan ini denganmu terlebih dahulu, tapi aku memutuskan membeli sofa, lalu satu hal menuju hal lainnya. Aku jadi bersemangat.”

“Ini terlalu cepat untukku, Travis. kau sudah menyebutkan tentang tinggal bersama, kau baru saja menandai dirimu dengan namaku, kau memberitahuku bahwa kau mencintaiku…ini semua terlalu…cepat.”

Travis cemberut. “kau panik. Aku sudah bilang jangan panik.”

“Sangat sulit untuk tidak panik! kau mengetahui tentang ayahku dan semua yang kau rasakan sebelumnya tiba-tiba menjadi semakin kuat!”

“Siapa ayahmu?” tanya Shepley, sangat jelas merasa tidak senang karena tidak tahu apa-apa tentang itu. Ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, dia menghela nafas. “Siapa ayahnya Abby?” dia bertanya pada America. America mengelengkan kepala agar Shepley diam.

Ekspresi Travis terlihat kesal. “Perasaanku padamu tidak ada hubungannya dengan ayahmu.”

“Kita akan ke pesta kencan besok. Itu seharusnya menjadi hal yang penting di mana kita mengumumkan hubungan kita, dan sekarang namaku terukir di tanganmu dan semua pembicaraan tentang bagaimana kita saling memiliki satu sama lain! Itu menakutkan, ok? Dan aku panik!”

Travis menarik wajahku lalu mencium bibirku, kemudian mengangkatku dari lantai, mendudukanku di meja dapur. Lidahnya memohon untuk masuk ke dalam mulutku, dan ketika aku mengizinkannya masuk, dia mengerang.

Jarinya masuk ke pangkal pahaku, menarikku lebih dekat. “kau sangat seksi kalau sedang marah,” dia berkata sambil tetap menciumku.

“Ok,” aku menarik nafas, ”aku sudah tidak marah.”

Dia tersenyum, merasa senang karena rencananya untuk mengalihkan telah berhasil. “Semua tetap sama, Pidge. Masih tetap hanya kau dan aku.”

“Kalian berdua memang sinting,” kata Shepley, menggelengkan kepalanya.

America memukul pelan bahu Shepley. “Abby juga membeli sesuatu untuk Travis hari ini.”

“America!” aku menegurnya.

“kau sudah menemukan gaun?” tanya Travis, tersenyum.

“Ya,” aku melingkarkan kaki dan tanganku di tubuhnya. “Besok giliran kau yang akan panik.”

“Aku tidak sabar ingin melihatnya,” dia berkata sambil mengangkatku dari atas meja dapur. Aku melambai pada America saat Travis menggendongku menelusuri lorong.

***

Hari Jumat setelah kelas usai, aku dan America menghabiskan sore di pusat kota, memanjakan diri dan berdandan. Kuku kaki dan tangan di kuteks, menghilangkan bulu yang tidak diinginkan, kulit diberi warna coklat mengkilap, dan rambut di cat warna terang. Saat kami kembali ke apartemen, semua permukaannya sudah tertutupi oleh beberapa karangan bunga mawar. Berwarna merah, pink, kuning, dan putih—tampak seperti toko bunga.

“Ya Tuhan!” jerit America saat dia berjalan masuk melewati pintu.

Shepley melihat ke sekelilingnya, berdiri dengan bangga. “Kami pergi untuk membeli dua bunga, tapi kami berdua berpikir satu karangan bunga tidak akan cukup.”

Aku memeluk Travis. “Kalian sangat…mengagumkan. Terima kasih.”

Travis memukul pantatku. “Tiga puluh menit sebelum pesta di mulai, Pidge.”

Para pria berganti pakaian di kamar Travis sementara aku dan America berdandan di kamar Shepley. Pada saat aku akan mengenakan sepatu hak tinggiku yang berwarna silver, seseorang mengetuk pintu.

“Waktunya pergi, ladies,” kata Shepley.

America melangkah keluar, dan Shepley pun bersiul.

“Di mana dia?” tanya Travis.

“Abby mempunyai sedikit kesulitan mengenakan sepatunya. Dia akan keluar sebentar lagi,” America menjelaskan.

“Rasa tegang ini membunuhku, Pidge.” teriak Travis.

Aku melangkah keluar, gelisah dengan gaunku sementara Travis berdiri di hadapanku, tanpa ekspresi.

America menyikutnya dan dia pun berkedip. “Ya ampun.”

“Apakah kau siap untuk merasa panik?” tanya America.

“Aku tidak panik, dia terlihat sangat mengagumkan,” kata Travis.

Aku tersenyum lalu perlahan berputar untuk memperlihatkan padanya model belakang gaunku yang backless.

“Ok, sekarang aku panik,” Travis berkata sambil berjalan ke arahku dan memutarku.

“kau tidak menyukainya?” tanyaku.

“kau harus pakai jaket.” Dia berlari kecil ke rak baju lalu dengan tergesa-gesa membungkus bahuku dengan jaketku.

“Dia tidak bisa memakai itu semalaman, Trav,” America tertawa geli.

“kau terlihat cantik, Abby,” kata Shepley sebagai permintaan maaf atas kelakuan Travis.

Ekspresi Travis terluka saat dia bicara. “Kau memang cantik. kau terlihat luar biasa…tapi kau tidak bisa memakai itu. Rok mu..wow, kakimu sangat…rok mu terlalu pendek dan itu hanya setengah gaun.  Itu bahkan tidak ada punggungnya!”

Aku tidak dapat menahan senyumku. “Modelnya memang seperti ini, Travis.”

“Apa kalian hidup untuk saling menyiksa satu sama lain?” Shepley mengernyit.

“Apa kau punya gaun lain yang lebih panjang?” tanya Travis.

Aku melihat ke bawah. “Sebenarnya bagian depan terlihat cukup sederhana. Hanya bagian belakangnya saja yang terbuka dan memperlihatkan punggungku.”

“Pigeon,” Travis meringis pada saat mengatakan kata berikutnya, “Aku tidak ingin kau marah, tapi aku tidak bisa membawamu ke rumah perkumpulanku seperti itu. Aku akan berkelahi pada lima menit pertama kita tiba di sana, Sayang.”

Aku mendekatinya lalu berjinjit kemudian mencium bibirnya. “Aku percaya kau tidak akan begitu.”

“Malam ini akan menyebalkan.” gerutunya.

“Malam ini akan luar biasa,” kata America, merasa tersinggung.

“Pikirkan saja bagaimana mudahnya nanti melepas gaun ini,” kataku, mencium lehernya.

“Itulah masalahnya. Semua pria lain di sana juga akan memikirkan hal yang sama.”

“Tapi hanya kau yang akan membuktikannya,” kataku riang. Dia tidak menjawab, dan aku mendekat lagi untuk menafsirkan ekspresinya. “Apa kau benar-benar ingin aku mengganti pakaianku?”

Travis memperhatikan wajahku, gaunku, kakiku, lalu dia menghembuskana nafasnya. “Apapun yang kau pakai, kau tetap cantik. Aku hanya harus terbiasa dengan itu, kan?” dia mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. “Baiklah, kita sudah terlambat. Mari kita pergi.”

Aku merapatkan tubuhku pada tubuh Travis agar merasa hangat saat kami berjalan ke mobil Shepley menuju Sigma Tau.

***

Udaranya penuh dengan asap, namun hangat. Musik menggelegar dari ruang bawah tanah, dan kepala Travis bergerak mengikuti irama. Semua orang langsung berpaling bersamaan. Aku tidak yakin mereka berpaling karena Travis datang ke acara pesta kencan, karena dia memakai celana panjang katun longgar, atau karena gaunku, tapi mereka semua menatap.

America mendekat dan berbisik di telingaku. “Aku sangat senang kau ada di sini, Abby. Aku merasa seperti masuk ke dalam filmnya Molly Ringwald.

“Senang bisa membantu,” kataku, mengerutu.

Travis dan Shepley melepas jaket kami, lalu menuntun kami melewati ruangan itu menuju dapur. Shepley membawa empat botol bir dari kulkas dan menyerahkan satu pada America lalu padaku. Kami berdiri di dapur, mendengarkan saudara perkumpulan Travis membicarakan pertarungan terakhirnya. Mahasiswi perkumpulan yang menemani mereka kebetulan wanita yang sama yang diikuti Travis masuk ke kafetaria saat pertama kali kami mengobrol, wanita yang berdada besar dan pirang.

Lexie sangat mudah di kenali. Aku tidak dapat melupakan wajahnya saat Travis mendorongnya jatuh dari pangkuannya karena menghina America. Dia memandangiku penuh rasa ingin tahu, terlihat seperti memperhatikan semua kata-kataku. Aku tahu dia merasa penasaran mengapa Travis Maddox berpendapat bahwa aku menarik, dan aku berusaha untuk menunjukan alasannya. Aku terus memegangi Travis, mengatakan gurauan pintar pada saat yang tepat dalam percakapan, dan bercanda dengan Travis tentang tatoo barunya.

“Dude, kau mengukir nama kekasihmu di pergelangan tanganmu? Apa yang merasukimu hingga melakukan hal itu?” kata Brad.

Dengan bangga Travis membalik tangannya untuk memperlihatkan tatoo namaku. “Aku tergila-gila padanya,” Travis berkata sambil melihatku dengan tatapan yang lembut.

“kau belum begitu mengenalnya,” Lexie mendengus.

Travis tidak melepaskan pandangannya dariku. “Kami menghabiskan tiap detik bersama. Aku mengenalnya.” Dia mengerutkan alisnya, “Aku pikir tadi tatoo ini membuatmu panik. Sekarang kau membanggakannya?”

Aku mendekat dan mencium pipinya sambil mengangkat bahuku. “Lama kelamaan aku jadi menyukainya.”

Shepley dan America menuruni tangga dan kami mengikutinya, sambil berpegangan tangan.

Semua kursi digeser ke tembok untuk membuat lantai dansa sementara, dan pada saat kami sedang menuruni tangga, lagu berirama pelan diputar.

Tanpa ragu Travis menarikku ke tengah lantai dansa, memelukku erat dan meletakkan tanganku di dadanya. “Aku bersyukur belum pernah datang ke acara ini sebelumnya. Sehingga hanya kau yang pernah aku ajak ke acara ini.”

Aku tersenyum dan meletakkan pipiku di dadanya. Dia meletakkan tangannya di bawah punggungku, terasa hangat dan lembut di punggungku yang terbuka.

“Semua memandangmu karena memakai gaun ini,” kata Travis. Aku melihat ke atas, mengira akan melihat ekspresi yang tegang, namun dia sedang tersenyum. “Aku rasa itu keren…berada bersama wanita yang diinginkan semua orang.”

Aku memutar mataku. “Mereka tidak menginginkanku. Mereka hanya penasaran kenapa kau menginginkanku. Dan lagi pula, aku merasa kasihan pada siapapun yang berpikir mereka punya kesempatan. Aku benar-benar dan sepenuhnya jatuh cinta padamu.”

Wajahnya tampak sedih. “kau tahu mengapa aku menginginkanmu? Aku tidak tahu bahwa aku tersesat hingga kau menemukanku. Aku tidak tahu rasanya kesepian hingga malam pertama yang aku lalui tanpa dirimu di tempat tidurku. kau adalah satu-satunya yang aku rasa tepat dalam hidupku. kau adalah yang selalu aku nantikan, Pidge.”

Aku meraih ke atas untuk memegang wajahnya di tanganku dan dia memelukku, mengangkatku dari lantai. Aku mencium bibirnya, dan dia menciumku dengan emosi dari semua yang telah dia katakan tadi. Pada saat itulah aku menyadari mengapa dia membuat tatoo itu, kenapa dia memilihku dan mengapa aku berbeda. Itu bukan hanya karena diriku, bukan juga hanya karena dirinya, itu karena bagaimana saat kami bersama yang menjadi pengecualian.

Lagu berirama lebih cepat terdengar dari speaker, dan Travis menurunkanku. “Masih ingin berdansa?”

America dan Shepley muncul di samping kami dan aku mengangkat alisku. “Jika kau pikir bisa mengimbangiku.”

Travis menyeringai. “Coba saja.”

Aku menggerakkan pinggulku di pinggulnya dan tanganku bergerak naik di atas kemejanya, membuka dua kancing teratasnya, Travis tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, lalu aku berbalik, bergerak menempel tubuhnya tapi membelakanginya mengikuti irama. Dia menarik pinggulku dan aku meraih ke belakang, menarik pantatnya. Aku condong ke depan dan dia meremas erat diriku. Ketika aku berdiri tegak, dia menyentuh bibir lalu telingaku.

“Kalau terus seperti itu, maka kita akan pulang lebih awal.”

Aku berbalik dan tersenyum, meletakan tanganku di lehernya. Dia mendekatkan tubuhnya padaku dan aku mengangkat kemejanya, memasukan tanganku ke atas di punggungnya, menekan jariku ke ototnya yang ramping, lalu tersenyum karena suara yang dia keluarkan saat aku merasakan lehernya.

“Ya Tuhan, Pigeon, kau membuatku tidak tahan,” katanya, mencengkram rokku, mengangkatnya cukup untuk menyentuh pahaku dengan ujung jarinya.

“Aku rasa kita tahu itu terlihat seperti apa,” Lexie mengejek dari belakang kami.

America berputar, melangkah ke depan tepat di hadapannya. Shepley menariknya tepat waktu.

“Katakan sekali lagi!” kata America. “Ayo kalau berani, dasar pelacur!”

Lexie bersembunyi ketakutan di belakang kekasihnya, terkejut karena ancaman America.

“Sebaiknya kau membeli penutup mulut untuk teman kencanmu, Brad,” Travis memperingatkan.

Dua lagu kemudian, rambut di belakang leherku sudah berat dan basah. Travis mencium di bawah telingaku. “Ayo, Pidge. Aku ingin merokok.”

Dia menuntunku menaiki tangga, lalu membawa jaketku sebelum naik ke lantai dua. Kami berjalan keluar ke balkon dan menemukan Parker dengan teman kencannya. Wanita itu lebih tinggi dariku, rambutnya pendek dan lurus, berwarna hitam, diikat ke belakang dengan jepit rambut. Aku melihat sepatu hak tingginya yang runcing, dengan kakinya melingkar di pinggul Parker. Dia berdiri dengan punggungnya bersandar di tembok, dan ketika Parker menyadari kami melangkah keluar, dia menarik tangannya dari bawah rok wanita itu.

“Abby,” kata Parker, terkejut dan terengah.

“Hai, Parker,” kataku, menahan tawa.

“Bagaimana, eh…bagaimana kabarmu?”

Aku tersenyum dengan sopan. “Aku baik-baik saja, kau?”

“Ehm,” dia melihat teman kencannya, “Abby ini Amber. Amber…Abby.”

“Abby Abby?” tanyanya.

Parker mengangguk tidak nyaman dengan singkat. Amber menjabat tanganku dengan ekspresi muak di wajahnya, lalu melihat pada Travis seperti dia baru bertemu dengan musuhnya. “Senang bertemu denganmu...kurasa.”

“Amber,” Parker memperingatkan.

Travis tertawa satu kali, lalu membukakan pintu agar mereka bisa lewat. Parker menarik tangan Amber dan mundur masuk ke dalam.

“Itu tadi sangat…canggung,” kataku, menggelengkan kepala sambil melipat tanganku di dada, bersandar pada pagar balkon. Saat itu dingin dan hanya ada beberapa pasangan yang berada di luar.

Travis selalu tersenyum. Bahkan Parker tidak merusak mood nya. “Setidaknya dia sudah tidak berusaha melakukan hal yang paling bodoh untuk mendapatkanmu kembali.”

“Aku rasa dia tidak berusaha untuk mendapatkanku kembali seperti dia berusaha untuk menjauhkanku darimu.”   

Travis mengerutkan hidungnya. “Dia mengantar satu wanita untukku sekali. Sekarang dia bertingkah seperti itu adalah kebiasaannya untuk menyelinap dan menyelamatkan semua mahasiswi baru yang aku tiduri.”

Aku melihatnya dengan tatapan sinis dari ujung mataku. “Bukankah aku sudah pernah bilang aku membenci kata itu?”

“Maaf,” Travis berkata sambil menarikku ke sampingnya. Dia menyalakan rokoknya dan menarik nafas panjang. Asap yang dia hembuskan lebih tebal dari biasanya, bercampur dengan udara musim dingin. Dia membalikkan tangannya dan menatap lama pergelangan tangannya. “Aneh tidak apabila tatoo ini bukan hanya menjadi favorit baruku, tapi ini juga membuatku nyaman mengetahui itu ada di pergelangan tanganku?”

“Sangat aneh.” Travis mengangkat alisnya dan aku tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku tidak bisa bilang aku mengerti itu, tapi itu sangat manis…menurut caranya Travis Maddox.”

“Jika rasanya sesenang ini hanya karena membuat tatoo ini di tanganku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya nanti saat memasangkan cincin di jarimu.”

“Travis….”

“Dalam waktu empat, atau mungkin lima tahun lagi,” dia menambahkan.

Aku menarik nafas. “Kita harus pelan-pelan. Sangat, sangat pelan.”

“Jangan memulai, Pidge,”

“Jika kita selalu secepat ini, aku akan bertelanjang kaki dan hamil sebelum aku lulus kuliah. Aku belum siap untuk tinggal bersamamu, aku belum siap untuk cincin, dan aku sama sekali belum siap untuk berumah tangga.”

Travis mencengkram bahuku dan memutarku agar berhadapan dengannya. “Ini bukan pidato ‘aku ingin berpacaran dengan orang lain dulu’, kan? Karena aku tidak akan membagi dirimu. Tidak akan mungkin.”

“Aku tidak ingin orang lain,” kataku, jengkel. Dia menjadi tenang dan melepaskan bahuku, lalu memegang pagar balkon.

“Lalu apa maksudmu kalau begitu?” tanyanya, melihat ke angkasa.

“Maksudku kita harus melangkah perlahan. Hanya itu maksudku.” Dia mengangguk, sangat jelas tampak tidak senang. Aku menyentuh tangannya. “Jangan marah.”

“Kita seperti berjalan satu langkah ke depan tapi mundur dua langkah, Pidge. Setiap kali aku pikir kita berada dalam satu halaman, kau mendirikan dinding pembatas. Aku tidak mengerti…kebanyakan wanita memaksa kekasih mereka untuk serius, agar membicarakan perasaan mereka, memaksa untuk mengambil langkah selanjutnya…”

“Aku pikir kita tahu aku tidak seperti wanita kebanyakan?”

Dia menundukkan kepalanya, merasa frustrasi. “Aku lelah harus terus menebak. kau melihat hubungan ini mengarah kemana, Abby?”

Aku mencium dadanya. “Ketika aku memikirkan masa depanku, aku melihat dirimu.”

Travis menjadi tenang, mendekapku erat. Kami berdua memandangi awan malam bergerak di langit. Lampu sekolah menerangi blok yang gelap, dan orang yang datang ke pesta ini melipat tangannya di atas jaket mereka yang tebal, bergegas masuk ke dalam rumah perkumpulan.

Aku melihat kedamaian yang sama di mata Travis yang pernah aku lihat hanya beberapa kali, dan itu menyadarkanku seperti beberapa malam yang lalu, bahwa ekspresinya begitu karena kepastian dariku.

Aku pernah merasa tidak aman, dan itu meninggalkan satu pukulan ketidakberuntungan pada orang lain; orang yang takut pada bayangannya sendiri. Sangat mudah untuk takut pada sisi gelap dari Vegas, yang tidak pernah tersentuh oleh sisi terangnya. Namun Travis tidak takut untuk berkelahi atau untuk membela seseorang yang dia sayangi, atau untuk melihat ke dalam mata wanita hina yang merasa dipermalukan dan marah. Dia dapat masuk ke dalam ruangan dan memandang rendah orang yang berukuran dua kali lebih besar dari tubuhnya, percaya bahwa tidak ada yang dapat menyentuhnya—bahwa dia tidak dapat dikalahkan oleh apapun yang akan menjatuhkannya.

Dia tidak takut pada apapun. Hingga dia bertemu denganku.

Aku adalah bagian dari hidupnya yang tidak dia ketahui, kartu liarnya, variable yang tidak dapat dia kontrol. Terlepas dari rasa damai yang aku berikan padanya, pada momen lain di hari lain, kekacauan yang dia rasakan saat aku tidak ada jadi sepuluh kali lebih buruk saat aku ada. Rasa marah yang dulu mencengkramnya sekarang menjadi lebih sulit untuk dia tangani. Menjadi pengecualian tidak lagi misterius, atau hal yang spesial. Aku telah menjadi kelemahannya.

Sama seperti aku bagi ayahku.

“Abby! Disini rupanya kau! Aku sudah mencari kau ke mana-mana!” kata America, berteriak dari pintu. Dia mengangkat handphone nya. “Aku baru di telepon ayahku. Mick menghubungi mereka tadi malam.”

“Mick?” Wajahku kacau karena merasa jijik. “Mengapa dia menelepon mereka?”

America mengangkat alisnya seolah aku mengetahui jawabannya. “Ibumu selalu menutup telepon dari ayahmu.”

“Apa yang dia inginkan?” kataku, merasa mual.

Dia menutup bibirnya  rapat. “Untuk menanyakan kau berada di mana.”

“Mereka tidak memberitahunya kan?”

Wajah America murung. “Dia ayahmu, Abby. Ayahku pikir dia punya hak untuk tahu.”

“Dia akan datang kemari,” kataku, merasakan mataku mulai perih. “Dia akan datang kemari, Mare!”

“Aku tahu! Maafkan aku!” kata Amerika, mencoba untuk memelukku. Aku menjauh darinya dan menutup wajahku dengan tangan.

Sepasang tangan kuat, protektif yang aku kenal memegang bahuku. “Dia tidak akan menyakitimu, Pigeon,” kata Travis. “Aku tidak akan membiarkannya.”

“Dia akan mencari cara untuk menyakitinya,” kata Amerika, memandangku dengan mata berair. “Dia selalu begitu.”

“Aku harus pergi dari sini.” Aku menarik jaket dan memakainya lalu menarik pegangan pintu. Aku terlalu kesal untuk bergerak perlahan untuk dapat mengkoordinasikan agar tidak mendorong pegangan pintu ke bawah sambil menarik pintu dalam waktu yang bersamaan. Pada saat airmata frustrasi mengalir turun di pipiku yang beku, tangan Travis berada di atas tanganku. Dia menekan ke bawah, membantuku menekan pegangan pintu kebawah, lalu dengan tangan satunya lagi, dia mendorong pintu agar terbuka. Aku memandangnya, sadar akan kelakuan bodoh yang aku lakukan, menunggu untuk melihat ekspresi yang bingung atau tidak setuju di wajahnya, namun dia melihat kebawah ke arahku hanya dengan ekspresi pengertian.

***

Travis memelukku dan kami menelusuri The House, menuruni tangga dan menerobos sekumpulan orang menuju pintu depan. Mereka bertiga berusaha mengimbangi langkahku saat aku bergegas menuju mobil. Tangan America menunjuk ke depan dan menarik jaketku, menghentikan langkahku. “Abby!” dia berbisik sambil menunjuk ke arah sekumpulan kecil orang.

Mereka mengerumuni lelaki tua lusuh yang menunjuk dengan ketakutan ke arah The House, sambil memegang sebuah foto. Pasangan itu mengangguk, mendiskusikan foto itu bersama yang lain.

Aku melompat ke arah pria itu dan menarik foto itu dari tangannya. “Apa yang kau lakukan disini?”

Kerumunan orang itu pun bubar, melangkah masuk ke The House, Shepley dan America berdiri di samping kanan dan kiriku. Travis memegangi bahuku dari belakang.

Mick melihat ke arah gaunku dan mendecakkan lidahnya tanda tidak setuju. “Well, well, Cookie. kau memang tidak bisa lepas dari Vegas…”

“Diam. Tutup mulutmu, Mick. Pergilah,” aku menunjuk ke belakang Mick, “dan kembalilah ke tempatmu berasal. Aku tidak ingin kau berada di sini.”

“Aku tidak bisa, Cookie. Aku butuh pertolonganmu.”

“Selalu seperti itu, tidak ada yang lain?” America mencibir.

Mick memicingkan matanya ke arah America lalu melihat padaku lagi. “kau terlihat sangat cantik. kau sudah tumbuh dewasa. Aku tidak akan bisa mengenalimu kalau kita berpapasan di jalan.”

Aku menghela nafas, tidak sabar dengan basa-basinya. “Apa yang kau inginkan?”

Dia menahan tangannya dia atas dan mengangkat bahunya. “Aku terlibat satu masalah, kiddo. Ayahmu yang sudah tua ini membutuhkan uang.”

Aku menutup mataku. “Berapa banyak?”

“Aku awalnya baik-baik saja, benar-benar baik. Aku hanya perlu meminjam sedikit untuk meningkatkan taruhan dan…kau tahu.”

“Aku tahu,” bentakku. “Berapa banyak yang kau butuhkan?”

“Dua puluh lima.”

“Ya ampun, Mick, dua ribu lima ratus dolar? Jika kau berjanji akan keluar dari sini..aku akan memberikannya padamu sekarang,” kata Travis sambil mengeluarkan dompetnya.

“Maksud dia dua puluh lima ribu dollar,” aku melotot ke arah ayahku.

Mata Mick menatap Travis. “Siapa badut ini?”

Travis mengangkat pandangan dari dompetnya dan aku merasakan berat badannya di punggungku saat dia menahan emosinya. “Aku tahu sekarang, mengapa orang yang pintar seperti dirimu menurun menjadi orang yang meminjam uang pada anaknya yang masih remaja.”

Sebelum Mick bicara, aku mengeluarkan handphone ku. “kau berutang pada siapa sekarang, Mick?”

Mick menarik rambutnya yang berminyak dan beruban. “Well, ceritanya lucu, Cookie—,”

 “Siapa?” aku berteriak.

“Benny.”

Mulutku menganga dan aku mundur satu langkah, menabrak Travis. “Benny? kau berutang pada Benny? Kenapa juga kau…” aku menarik nafas, merasa tidak ada gunanya bila di lanjutkan. “Aku tidak punya uang sebanyak itu, Mick.”

Dia tersenyum. “Sesuatu mengatakan kau memilikinya.”

“Well, aku tidak punya! kau benar-benar dalam masalah kali ini, kan? Aku tahu kau tidak akan berhenti sampai kau mati terbunuh!”

Dia bergeser, seringai sombong di wajahnya menghilang. “Berapa yang kau punya?”

Aku menutup rapat rahangku. “Sebelas ribu dolar. Aku sedang menabung untuk membeli mobil.”

Mata America menusukku. “kau dapat dari mana sebelas ribu dolar, Abby?”

“Dari pertarungan Travis,” kataku, menatap mata Mick.

Travis menarik bahuku dan menatap mataku. “Kau dapat sebelas ribu dari pertarunganku? Kapan kau bertaruhnya?”

“Aku dan Adam saling mengerti,” kataku, tidak peduli dengan rasa terkejut Travis.

Mata Mick tiba-tiba bersemangat. “Kau dapat melipat gandakan itu pada akhir pekan ini, Cookie. Dan kau akan mendapatkan untukku dua puluh lima ribu pada hari minggu, sehingga Benny tidak akan mengirimkan premannya padaku.”

Tenggorokanku terasa kering dan sempit. “Itu akan menghabiskan semua uangku, Mick. Aku harus bayar kuliahku.”

“Oh, kau akan mendapatkan uang lagi nanti,” katanya, melambaikan tangannya tidak peduli.

“Kapan tenggat waktunya?” tanyaku.

“Senin pagi. Tengah malam,” dia berkata tanpa rasa menyesal.

“kau tak perlu memberinya sepeserpun, Pigeon,” kata Travis, menarik lenganku.

Mick menarik pinggangku. “Setidaknya itu yang bisa kau lakukan! Aku tidak akan berada di sini kalau bukan karena dirimu!”

America menepiskan tangan Mick lalu mendorongnya. “Jangan berani-beraninya kau mulai membicarakan omong kosong itu lagi, Mick! Dia tidak memaksamu meminjam uang dari Benny!”

Dia menatapku dengan rasa benci di matanya. “Jika bukan karena dia, aku akan memiliki uang sendiri. kau mengambil segalanya dariku, Abby. Aku sekarang tidak memiliki apapun!”

Aku pikir berada jauh dari Mick akan mengurangi rasa sakit yang aku rasakan karena menjadi anaknya, namun airmata yang menetes dari mataku mengatakan hal sebaliknya. “Aku akan mengantar uangnya pada Benny hari minggu. Dan pada saat itu, aku ingin kau meninggalkanku sendiri. Aku tidak akan melakukannya lagi, Mick. Mulai dari sekarang, kau sendirian, kau dengar aku? Pergi. Menjauh.”

Dia menutup rapat mulutnya lalu mengangguk. “Terserah kau saja, Cookie.”

Aku berbalik dan berjalan menuju mobil, mendengar America di belakangku. “Kemasi barang-barangmu, boys. Kita akan pergi ke Vegas.”

***


Penerjemah: +Oseu
Editor : +Meyke AD

Poskan Komentar

24 comments

xie xie ni mba Oseu, mbak Meyke & mas Yudi,,,

tq mimin... n mbak oseu nmbak meyke.. gpp no 2 yg pnting koment dolo..

Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

Makasih ya oseu + meyke dan mas yudii
(˘⌣˘)ε˘`)

mkasih mbak oseu, mbak meyek and mas mimin :D

Wah...mulai seru, makasih PN :)

makasihhh,,,hihihi ini part 13 &14 di jadiin satu nih mas mimin??

Seru.......ayahx abby,penjudi berat :(

Kasihan abby ya.mksh mbak oesu.n mbak meyke ad.n mas yudi

Wooaaa
Abby keren hihihihi
Ayahnya jahat bgt
Makasih mb oseu, mb meyke, mas mimin

seruuuu..
abby tertekan bgt di sini dari berbagai pihak. terutama ayah nya.
vegas. mo pulkam tuh kayak nya. xP

thanks ya mba oseu, meyke and mas yudi.

seruuuu..
abby tertekan bgt di sini dari berbagai pihak. terutama ayah nya.
vegas. mo pulkam tuh kayak nya. xP

thanks ya mba oseu, meyke and mas yudi.

idih idih Ayahnya kok gitu bangeeet padahal katanya dia raja judi kok bisa pinjem uang huuuuuuu *sorakin Mick*
Travis-Pigeon bertahan ya :3

wow... *.*
Travis bkin tatoo 'Pigeon', aq mau jg ih xixixi
Thanks ma oesu, meyke n mas yudi...

Travis keren bikin tatoo nya.. :)
†ђąηk ўσυ mbaa oseu mba meyke n mas yudi

UUUhhh,,,satu bab lgi menuju kesensaraan
Makasih mba Oseu,,,
slalu menunggu setiap posty,,,

novel fav ku di pn !!
smangat abby !!mksih mba oseu mba meyke mas yudi di tunggu klanjutannya !

terimakasih.. bang yudi sering" dong novel yg genre begini

'Begitu juga dgn hubungan kita permanen' hihiii travis :) trs kalo tiba2 putus gimana ini? ;p,alur ceritanya menarik makin seru!

Go to the vegas ... Abby has a foker face

makasih, aku selalu menunggu kelanjutannya...

Makasi mba Oseu, Mba Meyke dn Mas Yudi..

wow wow wow..... vegas, their coming!
maturnuwun Mbak Oseu, Mbak Meyke & Mas Mimin, seru! ^^

xie xie ni oseu he meike cece

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top