17

Penulis: +Ayu Natha Rosady


bad-moment
Rasa rindu ini semakin mendalam. Semakin tak terkendali. Selalu tersesaki air mata dalam setiap doa. Ternyata aku benar-benar haus akan sentuhannya yang selalu sanggup mengalirkan kehangatan ke seluruh titik hati ini. Tapi manisnya kebersamaan kami terhalang oleh jarak dan waktu. Aku merindukannya.

***

Dua tahun lalu ketika aku di awal usia dua puluh dua, aku baru saja kuliah lagi. Aku mengenalnya dalam sebuah perbincangan kecil di kampus. Jujur, aku suka memanjakan kedua mataku dengan berlama-lama memandangnya. Senyumannya, tatapan matanya selalu sanggup membuatku terpaku. Bagiku, dia memiliki segalanya yang aku cari selama ini. Aku jatuh cinta padanya, Davian Nata Putra.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Tuhan mengabulkan keinginanku. Sekarang tidak ada lagi aku dan dia. Yang ada hanya kami dan masa depan kami.

***

Sudah dua tahun ini kami menjalin cinta. Dan kami punya janji menikah di akhir tahun depan. Aku semakin bahagia dan bersemangat menjalani hari-hariku. Begitu banyak rencana untuk persiapan pernikahan kami. Kami bahkan sudah membeli rumah mungil. Aku yakin dia serius tentang kami dan aku benar-benar ingin bisa jadi istri terbaik untuknya. Juga ibu teristimewa untuk anak-anak kami.

Dia sering berkata padaku, "You are my soul, you are my heart, you are my pride. Do you know why?  Because you are my everything."

Aku pun selalu punya jawaban, "And you are my everything too. You are my world. You are my future."

***

Hari ini Minggu yang cerah. Tapi pekerjaannya yang sering membuatku cemburu itu lagi-lagi membuatnya harus tetap bekerja. Padahal semalam pun kau sudah pulang sangat larut. Dan dalam dua minggu terakhir ini aku tahu dia sangat lelah. Tapi dia masih selalu punya waktu untukku.

Tiba-tiba terbesit di fikiranku untuk sebuah kejutan kecil di pagi hari. Kau kan baru berangkat kerja jam 10 pagi. Pagi ini aku ingin jadi orang pertama yang kau lihat saat kau membuka mata dari tidur lelapmu. Membuatkanmu sarapan. Atau kalau perlu aku akan menyuapimu. Menyiapkan pakaian kerjamu. Everything for this morning. I want to do it just for you, honey.

Aku segera mandi. Setelah berpamitan dengan ayah bundaku, dengan penuh senyum aku pergi ke rumahnya dengan taksi yang sudah kupesan dari tadi. Tidak sabar rasanya ingin membangunkannya pagi-pagi seperti ini. Dia pasti senang.

***

"Assalamu’alaikum, dek..." sapaku saat Kinanti, adik perempuannya yang sebenarnya beberapa bulan lebih tua dariku, membukakan pintu untukku, "Assalamu’alaikum, ma..." ucapku ketika melihat mama duduk di kursi tamu. Tapi kenapa aku melihat kecemasan di wajah lelahnya.

"Walaikumsalam, kak. Kak Ayu koq kesini pagi-pagi?" jawabnya lirih. Entah kenapa aku melihat kegelisahan di wajahnya.

"Pengin aja. Pengin bangunin kakakmu itu. Sekalian sekali-sekali aku mau buatin sarapan untuk dia." jawabku dengan senyum meskipun sebenarnya aku merasa aneh dengan pertanyaan Kinanti, "Hlo…Kak Nata nggak pulang, dek? Kemana? Kak Nata kenapa, dek?" cemas langsung memenuhi hatiku saat tersadar bahwa motor yang biasa dia pakai tidak ada di rumah pagi ini.

***

Perjalanan yang terasa sangat lama membuat hatiku berdenyut memikirkannya. Tapi aku bisa melihat dengan jelas kegelisahan dan rasa takut yang sama dengan yang kurasakan di wajah mama dan Kinanti. Bahkan mama terus menggenggam erat tanganku. Tuhan...semoga semua baik-baik saja.

***

Langkahku terasa sangat berat saat turun dari taksi dan menatap sebuah bangunan di hadapanku. Berjalan perlahan memasuki bangunan itu dengan terus menopang tubuh lemas mama dan merangkul Kinanti yang melangkah kaku, "Selamat pagi, pak." aku bicara pada seorang pria yang sedang duduk dengan angkuh di balik sebuah meja panjang.

"Pagi. Ada yang bisa dibantu?" jawabnya formal.

"Saya tadi dapat telepon dari sini dan diminta kesini. Hmm...tentang Pak Nata."

"Anda siapanya?" tanyanya dengan pandangan menilai.

"Saya calon istrinya."

Aku mengikuti pria itu ketika dia beranjak dari kursinya. Aku berusaha menguatkan mama. Dalam genggamanku, aku merasakan mama semakin larut dalam situasi ini, mama semakin lemas dalam setiap langkahnya. Kinanti berjalan perlahan di belakangku sampai akhirnya pria itu berhenti di depan sebuah ruangan kecil dan menyuruh kami masuk.

Pria tadi meninggalkan kami begitu saja. Sampai akhirnya ada seseorang yang memberikan penjelasan kepada kami. Tapi aku punya keyakinan bahwa apa yang aku dengar adalah jauh dari kenyataan yang sebenar-benarnya. Mama pun sampai tak sadarkan diri setelah mendengar semua penjelasan itu.

***

Ketika Kinanti menemani mama yang belum juga tersadar, aku memilih untuk menguatkan hati untuk melihat kekasihku, kanda tercinta, calon suamiku, Nata. Dan...aku terhenyak melihat dia duduk di sudut sebuah ruangan dengan kaos dan celana pendek putih tipis yang membuat hatiku makin teriris. Seperti seluruh udara di sekitarku hilang begitu saja. Aku hanya mampu menatapnya dengan sakit, tapi air mataku tak sedikitpun menetes. Hati ini terlalu berkeping-keping hancurnya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin membuatnya nyaman.

Dia melangkah gontai ke arahku, berlutut di hadapanku yang seketika itu juga membuat lututku jadi tumpuan tubuhku. Dia menggenggam tanganku, mencium tanganku berkali-kali dengan linangan air mata yang baru kali ini aku lihat di wajahnya, wajah yang selama ini selalu membuatku tersenyum, wajah yang selama ini memberi kekuatan di setiap detik yang aku lalui. Tapi kali ini wajah itu basah oleh air mata yang terus mengalir. Kerapuhan terlihat jelas di matanya.

"Kanda, kenapa? Kenapa?" hanya itu yang keluar dari bibirku ketika jutaan kata maaf terus meluncur dari bibirnya.

"Dinda… Tolong jangan tinggalin kanda." pintanya dengan suara bergetar dan nyaris tak terdengar karena ada ketakutan di dalamnya.

Aku tak akan pergi, sayang. Aku ingin memelukmu. Aku ingin… Batinku merintih, memohon. Tapi penghalang ini membuatku tak sanggup mendekap erat dirinya. Ingin menghancurkan penghalang ini tapi aku tak mampu. Hanya dapat menyentuh dengan segala keterbatasan. Jari-jariku menelusuri wajahnya. Saat menatap kedua matanya, aku merasakan cinta itu masih ada, masih sama, tapi ada luka di hati kami. Luka yang terlalu seketika tapi sangat dalam. Aku tahu itu.

Aku menyentuh kedua bahunya untuk memintanya berdiri, "Kanda, berdiri ya…Please…Kanda nggak perlu berlutut di depan dinda. Jangan lakukan itu. Itu sangat menyakitkan hati dinda, melukai dinda."

Kedua tanganku menangkup wajahnya, mengusap lembut air matanya. Meskipun ada jeruji besi yang menghalangiku untuk merengkuhnya, tapi aku yakin hati kami bicara lebih banyak dan lebih mendalam melalui tatapan mata kami. Lebih berarti dari pada segalanya. Ahh… iya. Jeruji besi. Ya Allah…apa ini benar jajaran jeruji besi yang menghalangiku untuk memeluknya? Dan di dalam sana hanya ada lantai dingin yang akan jadi alas tidurnya?  Benarkah ini tahanan?

Tiba-tiba sebuah suara kasar memecahkan keheningan yang ada. Seorang polisi muda yang begitu angkuh menyuruhku untuk segera pergi. Karena tak mau terjadi hal-hal buruk pada kekasihku, aku bergegas meninggalkan tempat itu. Aku hanya sempat mencium tangannya ketika dia mencium keningku.

Kulihat mama sudah sadar dan masih terbaring di salah satu sofa di ruang penyidik. Aku harus sanggup menguatkan mama.

***

Ketika sudah di rumah, aku terus peluk mama yang tak henti-hentinya menangis dari tadi. Kinanti hanya termenung dalam sebuah kesedihan. Aku pun sebenarnya ingin menelungkupkan wajahku dalam tangisan dari hati terdalam.

Senja yang semakin hilang berganti malam membuatku harus pulang, "Ma...Ayu pulang ya. Mama tenangkan diri mama ya. Mama harus kuat untuk putra mama."

"Ya, sayang. Mas Nata pasti nggak bersalah khan? Semua ini pasti jebakan. Mama yakin. Bantu Mas Nata lewati ini semua ya." ucap mama lemah.

"Ayu nggak akan tinggalin putra mama. Ayu janji, ma."

***

Sepuluh hari telah berlalu. Segala cara kutempuh untuk bisa sekedar berkirim surat dengannya meskipun juga tidak bisa terlalu sering. Jika mama besuk, aku bersyukur masih dapat mendengar suaranya lewat telepon. Seperti kali ini, "Kanda…sehat khan?" hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku.

"Kanda sehat…Dinda gimana?" suaranya membuat hatiku teriris.

"Dinda kangen banget sama kanda." tangisku tak dapat ku tahan lagi.

"Maafin kanda... maaf...Tolong tunggu kanda ya, dinda. Kanda mohon...Kanda nggak akan sanggup jalani ini semua tanpa dinda."

"Kanda...Kita punya begitu banyak janji untuk masa depan kita. Dan janji harus ditepati khan? Dinda nggak akan tinggalin kanda. Dinda akan tunggu kanda bukan hanya karena janji tapi karena dinda sangat amat mencintai kanda. Kita akan lewati ujian ini bersama. Dan kita juga akan buktikan bahwa kanda nggak bersalah. Kanda harus kuat ya. Demi dinda. Demi cinta kita."

"Makasih ya, dinda. Kanda janji akan bangkit dan jaga dinda selamanya setelah semua rintangan ini berhasil kita lewati. Kanda percaya cinta dinda sangat luar biasa untuk kanda. I love you..."

"I love you too..."

***

Kini semua telah berlalu hingga empat puluh lima hari. Setiap hela nafasku kulalui dengan doa dan air mata. Aku tak pernah putus merintih dan memohon pada Tuhan untuk cinta kita. Ujian ini memang sangat berat. Tapi aku yakin mampu melewati semua dan kembali melangkah bersamanya.

Rasa rindu ini semakin mendalam. Semakin tak terkendali. Selalu tersesaki air mata dalam setiap doa. Ternyata aku benar-benar haus akan sentuhannya yang selalu sanggup mengalirkan kehangatan ke seluruh titik hati ini. Tapi manisnya kebersamaan kami terhalang oleh jarak dan waktu. Aku merindukannya.

I Love You, Davian Nata Putra.
Dariku, yang selalu mencintaimu.
Sekar Ayu Putri


***

Poskan Komentar

17 comments

Huaaaaa sediiihhhhhh *sobs* indaaahh cerpennyaaaaaa :''') keep writing mbak ayuuuuu *hugs

Maaci mas mimin (。'▽'。)

kisah nyata kah?
pke hati kya'y nulis crta ne...

kayanya sih gitu *melirik penuh curiga*

heheh yg di atas se ujon :p

magkin ya helda.. *lirik2 yg nulis*
Tpi org'y mna????

bkan'y berburuk sangka mba marry.. Cma sy ngrsa feel'y.. Kya'y tu ne crta d tulis pke hati.. Nth itu ksah nyata pribadi penulis ato shbat'y ato spa yg mncrtakan kisah ne.. Sat sy ngbca wlwpun cma singkat.. Itu lah yg sy rsa.. #jiaaaah komen apa bnget :D

Ayroooooo,,,,,,aduwh,,aku kangen dirimu,,,
Lama tak jumpa,,,
Tulisanmu,,,aduwh,,tulisanmu sungguh indaahh,,
Ayro,,ini kisah nyata???
Si Nata beneran ada??
isshh,,penasaran aq,,

Mas Yudi,,makasiih,,,

kepooooooo semuanya,,,
xixixi

@ Helda Ayu : (mengulurkan tissue untuk menghapus sedihnya mba' helda)
Makasih, mba'... Pgn bisa pny blog kyk mba' shanty ni. Hehe.. Tp br merilis dikit".

@ Sila Chaniago : Huumpt... Kisah nyata... With me as Sekar Ayu Putri. Doanya ya..
(bertanya".. emg beneran berasa y pake' hati gitu? duuuh... support bgt buat aku tu)

@ Just Saying : Heee... Tp Sila bener koq.

@ Riska Nove : Hai Riska... Iya.. lama ga comment" aku di portalnovel. Tp baca trs tiap hari. Iya ni, kisahku sendiri. Tp bukan dgn nama" sebenarnya hlo. Mohon doanya y..

@ Naoki : Pd kepooo... Tp gpp.. Kepo lagi ngetrend sih. :)

Oiya... Klo pada mo mampir ke ayunatharosady.blogspot.com, makasih y.. Promosi sekalian buat spirit nulis trs.

Thanks all..

Hai dear,,,aq liat td dpost G+mu,,
Ada postingn ttg blog gitu,,
Tp blom smpat intip,,
Keep writing yagh Dear,,,
Smga hal yg t'jadi dtulisanmu cpat selesai & b'akhir dg baik,,amiiinn,,

oh my God.. Feeling aq bner.. Yg semngat ya mba Ayu.. N tabah.. Smga smw mslah'y bsa d tangani dg baik...
Iya mba.. Kya'y tu pke hati bgt.. Wlwpun hanya sekilas.. *insting sesama wanita berbicara.. :D
Keep calm, spirit.. N writing ya.. Dg nulis se'enggak'y bsa ngurangi sesak di dada *bahsa sya ya ampun... :D

Thx dear..

Jujur, agak gaptek ma G+. Hehe.. Ni di hum juga ga bisa mulus koneksi internetnya. Maklum.. rumah di dkt bukit" ma jurang". Hoho..

Amien.. Makasih y, riska..
Sebenernya berencana pgn bikin cerbungnya. Tp ga tau ni mampu ato engga'.

Yup... 100 buat feelingnya Sila.. Makasih y, Sila..

Tp bener koq. Walaupun wkt bikin mpe' ngabisin tissue tp emg bisa bgt mengurangi rasa sesak di dada. (lama" bisa jadi judul lagu ni : Sesak Di Dada)

:-(
So touched..
Tetap semangat mba ayu.
Tq mas yudi..

klw mang ini kisah nyata,smga smua urusannya cpat kelar y.

mbg ayu makasih buat cerita bagus kok trus berkarya...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top