29

Penulis: +Amanda Sheila


accidentally-into-you
Pria itu?! Dari sebegini luasnya dan sebegitu banyaknya orang yang hidup di Stockholm, pria itu yang jadi dosenku?!

*flashback*

Dingin, itu yang Lisa rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di bandara Arlanda. Lisa baru saja mendarat di Stockholm, Swedia. Dinginnya luar biasa. Tapi dingin yang menggigit terasa menyenangkan saat uap-uap udara keluar dari mulutnya. Ah! Seperti di film-film! Lisa menghembuskan napas kuat-kuat lewat mulut. Kalau di Indonesia melakukan ini, sudah pasti dimaki-maki orang. Bau, kata mereka. Hahaha. Sebodo amat, di sini bukan Indonesia, pikirnya. Ini Stockholm, jendraaaal!

Setelah satu tahun berjuang, akhirnya Lisa berhasil mendapatkan beasiswa S2 sastra di luar negeri yang dia idam-idamkan. Sebenarnya mau di mana saja boleh, tapi Lisa sama sekali tidak menyangka bahwa universitas Stockholm yang menerimanya. Dari gosip yang beredar, universitas itu selalu memasang standar tinggi bagi mahasiswa asing yang meng-apply formulir beasiswa. Dan, dari sekian ribu orang, Lisa termasuk yang lolos!

Berjalan pelan dengan koper hitam kecil dan tas ransel kesayangan, pandangannya lompat dari jendela satu ke jendela lain. Bahkan bandaranya pun indah luar biasa! Teratur dan bersih. Senyum kecil di bibirnya, coba ibu bisa ikut...

Sejenak tangannya sibuk merogoh kantung celana jinsnya untuk mengambil handphone, dia lupa mengatur ulang pengaturan jaringan internasional. Lisa ingin segera memberi kabar pada ibunya bahwa dia sudah mendarat di Stockholm. Terus berjalan dan mengalihkan pandangan ke layar handphone...

BRUK!

Begitu cepat dan tahu-tahu Lisa sudah menabrak orang. Handphone-nya terjatuh begitu juga tubuhnya. Orang yang ditabrak, untung saja, masih berdiri tegak. Tapi...Uh-oh. Di lantai berceceran kopi yang masih berasap. Gelas kertas tergeletak tak jauh dari tempat Lisa jatuh terduduk. Lisa mendongak dan menatap orang yang dia tabrak. Bola mata berwarna biru langit. Hanya itu yang menarik perhatian Lisa. Seumur hidupnya, Lisa belum pernah melihat mata berwarna biru secara langsung, kecuali di TV atau majalah.

Tidak perlu waktu lama untuk Lisa memindahkan pandangan ke wajah yang memiliki bola mata biru itu. Pria tampan, mungkin berusia tiga puluhan, rambutnya yang pirang---hampir seperti emas, terpotong rapi dan elegan, dan mengenakan setelan jas hitam yang.. Basah karena kopi! Tergagap, Lisa segera berdiri dan membuka tas ransel untuk mengambil sapu tangan handuk.

"Maaf, mohon maaf sekali. Aku...Aku tidak memperhatikan jalan..Maaf..." Lisa bergerak mendekat dan berusaha sebisa mungkin melap jas pria itu di bagian yang basah.

"..." Dengan bahasa Swedia, orang itu terdengar marah. Lalu merebut sapu tangan handuk milik Lisa dan menempel-nempelkan ke jasnya.

"Maaf, aku tidak bisa bahasa Swedia. Maafkan aku, pak..." Kuping Lisa terasa panas sekali. Dia malu setengah mati, pertama karena menabrak dan menumpahkan kopi ke tubuh orang asing dan ketahuan kalau sama sekali buta dengan bahasa Swedia.

"..." Masih terdengar marah, Lisa menangkap sorot wajah orang itu seperti mengejeknya. Sempurna, Lisa dimarahi sekaligus diejek.

"Sekali lagi saya mohon maaf, pak. Bagaimana kalau saya mengganti biaya laundry atau... Bagaimana kalau saya meneraktir anda kopi?" Buru-buru diambilnya dompet dari tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa lembar Krona Swedia. Di luar dugaan, orang itu semakin marah. Dia mengangkat tangan dan menggelengkan kepala. Alisnya berkerut dan sangat tidak ramah. Ah...Aku salah lagi, pikir Lisa.

"Simpan uangmu." Dengusnya kasar dengan bahasa Inggris dan mengembalikan sapu tangan handuk Lisa yang sudah bernoda cokelat lalu berjalan pergi.

"Tapi...!" Dia terus berjalan menjauh dan Lisa tidak kuasa mengejar. Memandang kopi yang menggenang di lantai di depannya, rasanya Lisa ingin menangis. Perlahan diambilnya handphone yang tergeletak di dekat kakinya, tidak retak atau mati untung saja, dan mengumpulkan tas-tas lalu berjalan mencari pos taksi.

Cara yang sempurna berkenalan dengan orang Swedia...

*end flashback*

Mulut menganga dan tanpa sadar menahan napas, Lisa melihat mata biru itu di depan kelasnya. Berkemeja putih tanpa dasi dengan dua kancing atas terbuka dan rambut pirang tersisir rapi. Mati aku!

Si mata biru melihat wajah familiar duduk dua baris dari depan. Dia gadis yang menumpahkan kopi! Dan dia adalah siswanya? Mengernyitkan dahi, dia memperkenalkan diri. Dengan bahasa Inggris yang fasih.

"Selamat pagi, nama saya Eric Levy dan saya akan menggantikan ibu Delacour untuk mengajar kalian."

Sial! Selama ini dia bisa bahasa Inggris! Lisa menundukkan kepalanya, berharap bisa menembus lantai dan melarikan diri. Eric Levy? Dengan nama, rambut pirang dan mata biru, kenapa orang itu mirip sekali dengan Eric Northman di True Blood?! Semoga dia tidak ingat aku, semoga dia tidak ingat aku..Diucapkan berulang kali seperti mantra, Lisa tidak sadar bahwa Eric mulai mengabsen dan sampai di namanya.

"Melisa Praiyadi?" Lisa yang masih tidak ngeh namanya dipanggil, disodok Jessica yang duduk di sebelahnya.

"Lis, giliranmu!"

"YA!" Refleks, Lisa berdiri sambil mengangkat tangannya. Tawa pelan terdengar di ruang kelas. Aduh. Melihat hal itu Eric hanya menahan diri, berusaha agar tidak memperlihatkan senyum. "Melisa Praiyadi?"

"Ha? Ah, bukan. Bukan Praiyadi, pak. Priadi dibaca Pree-yadi. Priadi."

Eric menghembuskan napas panjang dan melanjutkan sesi absen, berusaha tidak menatap Lisa yang merah padam, menggaruk kepalanya, duduk kembali dan menyurukkan kepalanya ke bangku. Menyentuh dagunya, Eric bergumam. Jadi namanya Melisa Priadi..

Sudah tiga minggu Eric mengajar di kelas Lisa. Pelan-pelan kekesalannya berubah menjadi rasa penasaran. Eric mencari informasi dan mendapati bahwa Melisa Priadi adalah siswa yang berhasil mendapatkan beasiswa di universitas ini. Pantas saja dia selalu bisa menjawab pertanyaan yang diberikan untuknya. Bahkan pertanyaan yang sengaja dibuat sulit oleh Eric. Lisa, begitu dia dipanggil oleh teman-temannya, mampu menjawab dengan baik dan cerdas. Hal ini sedikit banyak mulai menarik perhatian Eric.

Dengan rambut hitam sebahu yang selalu dikuncir tinggi, kulit cokelat bersih dan tubuh mungil, Lisa berasal dari Indonesia. Seiring dengan berlalunya hari, Eric semakin tidak mampu menahan diri untuk tidak mencuri pandang ke arah Lisa. Cara Lisa memainkan pensil, berbicara penuh semangat dengan teman sebelahnya, tersenyum dan menahan tawa sedikit banyak menggelitik hatinya. Dan.. Cara Lisa memandang Eric. Malu-malu dan sekejap merona hingga telinga membuat dada Eric berdegup agak lebih cepat dari biasanya.

Setengah mati Eric memikirkan cara untuk bisa berbicara dengannya di luar kelas. Batin Eric beradu argumentasi. Demi Tuhan, dia adalah muridmu, Eric! Berapa usianya? Sembilan belas? Bahkan dia terlihat seperti baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke enam belas! Usiamu tiga puluh tahun, buka matamu!

Sekali lagi hari Eric berlalu dengan diam.

***

"Lis! Ayo ikut!" Jessica, dengan wajah penuh make up, mendatangi Lisa yang masih berada di ruang kelas dan sedang merapikan peralatan tulisnya.

"Ke mana?" Lisa ingat dia harus membeli telur dan roti.

"Ke MC! Kita party, baby!"

"Hahaha. Jessy, kau tahu kan aku tidak suka party. Lagipula semua mata pasti tertuju padamu."

Merangkul pundak Lisa, Jess merayu, "Ayolah Lis, Greg memintaku untuk mengajakmu. Kau kan tahu dia sudah menaksirmu sejak bulan lalu. Ayo.. Please. Hari ini ladies night, semua minuman gratis. Ayolaaaah.."

"Jess, aku tidak minum." Lisa tersenyum lemah. Dia tidak berani minum minuman beralkohol. Dia ingat ibunya mewanti-wanti agar tidak bergaul kelewat batas. "Aku juga harus belanja."

"Ayolah. Kau tidak perlu minum, cukup duduk saja atau berdansa. Greg janji akan mengajak teman-temannya kalau kau ikut. Please, Lisa. Please."

Menarik napas panjang, Lisa menyerah, "Oke."

Jess melompat-lompat kegirangan dan Lisa ikut tertawa melihat kawannya. Eric, yang masih berada di kelas yang sama, melihat dan mendengar apa yang dibicarakan Lisa dan temannya yang centil itu. Bayangan Lisa berdansa di ruangan temaram dengan pria asing mulai mengganggu pikirannya.

Harusnya aku tidak datang ke tempat terkutuk tadi, batin Lisa. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di MC, Lisa tidak tahan lagi. Setelah berkali-kali menolak minuman bening yang ditawarkan Greg---siapa yang tahu apa saja yang dicampur di dalamnya, dan menggelengkan kepala saat diajak berdansa, Lisa pamit pulang. Jess sudah tenggelam dalam lautan manusia di tengah klub, lupa akan keberadaan Lisa. Greg, yang sedari tadi menatap Lisa dengan mata penuh hasrat, tampak kecewa saat Lisa beranjak pergi. Berulang kali dia berusaha menahan agar Lisa tidak pergi, berulang kali juga ditolak dengan baik.

Sekotak telur dan roti yang disimpan dalam kantong kertas cokelat dipeluk erat oleh Lisa. Setelah berjalan kaki dari toko serba ada, Lisa sampai di halte bis. Tidak ada orang, tentu saja, karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, saat musim seperti ini langit cenderung lebih cepat gelap. Apalagi hari ini salju turun cukup deras. Harusnya aku pakai baju lebih tebal. Menggerutu, Lisa berdiri menunggu bis.

Tiba-tiba, bulu kuduk Lisa berdiri. Rasanya seperti ada yang berjalan mendekat dan Lisa tidak berani menoleh. Kantong kertas dalam pelukannya dipeluk semakin erat. Pepper spray pun kau tidak punya. Bodoh kau, Lisa. Bagaimana kalau ada pemerkosa..

Pundaknya ditepuk pelan.

"Aaaaaargh!" Kantong kertas cokelat yang di pelukannya dilempar keras ke arah seseorang yang menepuk pundaknya. Lisa sudah berlari menjauh saat suara mengaduh yang terdengar familiar. Dia menoleh, terpeleset dan jatuh terduduk di salju.

"Ouw. Itu sakit, nona Priadi."

"Bapak Levy!" Buru-buru bangkit dan berjalan mendekat, Lisa nyaris tidak mempercayai apa yang telah dia perbuat.

Eric Levy, berdiri dengan wajah dan bagian depan kemejanya kotor dengan telur. Bahkan pipinya sedikit tergores kulit telur yang pecah. Sekali lagi kuping Lisa terasa panas karena malu.

"Pak, maafkan aku! Aku kira bapak tadi...Uhm..."

"Tidak apa-apa, nona Priadi. Saya yang harusnya minta maaf. Saya sudah mengagetkanmu."

Mengeluarkan sapu tangan handuk yang sama, Lisa mulai mengelap gumpalan telur yang mengotori wajah Eric. Kali ini Eric tidak berusaha mengambil sapu tangan Lisa, dia membiarkan Lisa yang membersihkan wajahnya.

"Sekali lagi aku minta maaf, pak. Mungkin karena sudah malam aku.." Lisa berbicara dengan cepat dan tanpa sadar Eric sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Lisa. Sesaat Eric bisa mencium wangi Lisa. Wangi sisa parfum yang manis khas anak perempuan, sedikit sabun dan.. Alkohol?

"...Harusnya aku menoleh dulu dan melihat siapa yang menepuk."

"Nona Priadi?" Wajah Eric kini setara dengan wajah Lisa.

"...Aduh, aku sungguh tidak menyangka kalau..."

"Lisa." Suara Eric yang lembut namun tegas menyadarkan Lisa dan Lisa kaget akan kedekatan mereka. Hidung Lisa dan Eric nyaris bersentuhan. Tergagap, Lisa mundur dua langkah dan menarik napas panjang.

"Ya, pak?"

"Kau minum alkohol?"

"Apa? Tentu tidak, pak. Aku baru saja dari klub tapi aku tidak minum."

"Kau yakin? Karena saya bisa mencium alkohol dari tubuhmu."

Tubuh? Pikiran Lisa melayang ke mana-mana. Pak Levy bisa mencium tubuhku? Pipi Lisa merah padam.

"Mungkin karena tadi aku duduk bersebelahan dengan teman yang sedang minum, pak." Tentu saja, saat di klub, Greg menempel-nempelkan pipinya ke pundak Lisa. Greg memang manis, tapi caranya memandang Lisa membuat Lisa merinding. Dan bukan merinding yang menyenangkan. Beda dengan saat pak Levy...

"Baiklah. Saya menepuk pundakmu karena ingin mengantarmu pulang. Dengan cuaca bersalju seperti ini, susah mendapatkan bis. Dan sepertinya saya memang harus benar-benar mengantarmu pulang, nona Priadi. Saya butuh kamar mandi." Eric menjaga agar suaranya dingin dan tanpa ekspresi. Padahal sebenarnya dadanya masih berdegup kencang karena kedekatannya dengan Lisa yang nyaris meruntuhkan pertahanannya tadi. Dia juga berusaha membuang jauh-jauh ingatan akan pemandangan Greg Benjamin yang duduk di sebelah Lisa dan menggesek-gesekkan dagunya di bahu Lisa. Iya, Eric mengikuti Lisa ke MC, memperhatikan tindak tanduk Lisa dan menarik napas lega saat Lisa berjalan pulang tanpa minum, dansa atau melakukan hal-hal aneh lainnya. Gadis ini lugu.

Menunduk, Lisa memainkan tali tasnya, "Sekali lagi aku minta maaf, pak."

"Tidak apa-apa." Perlahan Eric menyentuh lengan Lisa dan tanpa menggenggam, hanya menyentuh, mengajaknya ke mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari halte tempat mereka berada.

***

Pak Levy ada di flat-ku! Kyaaaaaahhh! Lisa memejamkan mata erat-erat saat mulai menjerang air untuk membuat kopi. Dadanya berdegup kencang sekali. Pak Levy saat ini sedang berada di kamar mandinya! Kamar mandinya! Perjalanan dari halte bis ke flat Lisa yang hanya memakan waktu lima belas menit mereka berdua habiskan dengan diam. Pak Levy terkesan sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lisa merasa bersalah saat membayangkan bahwa mungkin saja pak Levy masih ada janji dan jadi tertunda gara-gara tindakannya. Bukan salahku, kan? Aku hanya ingin membela diri dengan melempar kantong kertas itu. Dua gelas teh hangat sudah jadi.

Lisa berjalan ke ruang TV bersamaan dengan Eric yang keluar dari kamar mandi. Bertelanjang dada. Lisa nyaris tersandung kakinya sendiri saat melihat dada Eric yang tidak terlalu berotot tapi Lisa yakin keras, kuat dan.. Hangat. Ada sedikit bulu tipis di tengahnya.

Ya tuhan, bisa mati aku. Lisa menelan ludah, meletakkan tehnya di meja dan duduk di lantai yang berkarpet. Dia tidak sadar kalau dia menahan napas saat mengikuti tubuh Eric yang duduk di sofa dan meminum tehnya.

"Kenapa kau duduk di bawah, nona Priadi? Kau bisa duduk di sebelahku." Eric menepuk sebelahnya yang kosong.

"Tidak apa-apa, pak. Aku duduk di sini saja," karena bisa ada sungai air liur di kamarku kalau aku duduk di sebelahmu yang telanjang dada, pak. Pipi Lisa merona.

Eric bisa melihat semburat merah muda di wajah Lisa dan dia tidak mampu lagi berlama-lama duduk diam melihat Lisa yang memakai baju santai. Celana piyama dan kaos kebesaran yang nyaris menyentuh lututnya. Eric ingin menyentunya.

"Kau tinggal sendiri, nona Priadi?"

"Lisa saja, pak. Ini bukan di kampus," Lisa tertawa kecil.

Suara tawa Lisa membuat Eric pusing tujuh keliling. Suara yang jernih dan merdu, membuat Eric tanpa sadar ikut tersenyum saat mendengarnya.

"Baiklah, Lisa, asal kau juga memanggilku Eric," Eric memberikan penekanan khusus saat menyebut nama Lisa. Lisa bergidik pelan. "Kau tinggal sendiri di sini?"

"Iya, pak...Eh, maksudku, Eric. Aku tinggal sendiri." Lisa tidak berani menatap wajah Eric terlalu lama. Dia takut Eric bisa melihat wajahnya yang semakin lama semakin terasa panas. Eric yang duduk bersandar di sofa tersenyum sekali lagi saat melihat kegugupan Lisa. Matanya berkeliling melihat flat gadis itu. Kecil dan hangat. Kesan itu yang dirasakan Eric sejak memasukinya pertama kali. Tidak ada kamar, hanya ada dapur kecil, kamar mandi dan ruangan yang cukup luas untuk menampung satu sofa kecil, TV kecil dan kasur kecil yang terletak di bawah jendela. Tidak terlalu banyak barang dan pernak-pernik, tapi Eric merasa nyaman. Yang menarik perhatiannya adalah banyaknya foto yang ditempel di salah satu dinding di sisi kasur Lisa. Eric ingin mendekat dan melihat satu persatu tapi takut melanggar privasi Lisa.

"Tidak ada teman sekamar? Kau berani tinggal sendiri di negara asing?"

"Kalau aku takut tinggal sendiri di negara asing, dari awal aku pasti tidak akan datang ke sini." Lisa tersenyum kecil. "Aku malah senang. Di Indonesia, negara asalku, aku selalu ingin tinggal sendiri, tapi tidak pernah boleh oleh ibuku. Kalau di sini, ibuku tidak bisa melarang, kan?"

Eric menganggukkan kepala dan menatap Lisa sepuas hatinya. Jika berbicara seperti ini, tidak akan dianggap aneh kalau menatap lama-lama, bukan?

"Lalu kenapa Swedia? Kenapa bukan Amerika atau, entahlah, Jepang?"

"Karena...Well, Eric, kau pasti tertawa."

Mengernyitkan dahi, Eric menatap mata Lisa lekat-lekat, "Tidak akan. Aku berjanji."

"Hmmmm," Lisa memutar matanya dan menjawab, "Karena True Blood."

"Karena apa?"

"True Blood. Kau tahu, serial Amerika tentang vampir den semacamnya? Salah satu tokohnya diceritakan berasal dari Swedia. Dan ternyata aktornya juga berasal dari Swedia. Alexander Skarsgard? Kau kenal?"

Eric mengingat-ingat, sepertinya memang ada artis yang bernama Alexander Skarsgard yang pernah membintangi film chick-flicks beberapa tahun lalu. Eric sedikit tergelitik dengan apa yang dia dengar.

"Jadi, kau memilih bersekolah di Swedia karena kau adalah fans dari artis itu?"

Lisa mengangguk pelan dan Eric tertawa keras. Mata Lisa terbelalak dan dia menahan napas. Eric tampak muda saat tertawa seperti itu. Hati Lisa terasa hangat saat dia tahu bahwa dia adalah alasan Eric tertawa.

"Hahaha, Lisa, kau benar-benar lucu." Eric menghapus air mata di ujung matanya. Gadis ini lugu sekali. "Jadi bukan karena universitasnya, kotanya, makanannya atau cuacanya tapi karena aktor yang kau sukai berasal dari sini?" Eric tertawa lagi.

"Lihat kan, kau tertawa," Lisa berpura-pura merengut dan kemudian ikut tertawa. "Dan kau tahu tidak, Eric?"

"Hmm?" Masih tertawa kecil, Eric masih sibuk mengatur napas.

"Tokoh True Blood yang kusukai bernama Eric. Eric Northman. Rambutnya pirang dan bola matanya berwarna biru. Sama sepertimu."

Eric spontan menoleh dan memandang Lisa dalam-dalam. Sepertiku? Aktor yang Lisa sukai mirip denganku? Apa itu berarti sedikit banyak Lisa akan..

Lisa yang menangkap pandangan Eric mendadak salah tingkah setelah tidak sadar menjelaskan tentang kemiripan Eric Levy dan Eric Northman. Dia buru-buru berdiri untuk mencuci gelas tehnya dan Eric yang sudah kosong dari tadi. Dadanya kembali berdegup kencang.

"Jadi...itu artinya aku tampan seperti aktor kesukaanmu, Lisa?" Eric menggoda Lisa. Dia tersenyum saat melihat telinga Lisa merah menahan malu.

"Dengan segala hormat, bapak Eric Levy, tapi Eric-ku jauh lebih tampan darimu." Lisa menjawab Eric dengan membelakanginya. Berharap agar wajahnya yang merah tersembunyi. Eric-ku? Dada Eric berdesir. Senyum kembali muncul di bibirnya. Tekad Eric kini sudah bulat. Dia tidak peduli Lisa adalah murid di kelasnya. Mereka sudah sama-sama dewasa. Lisa sudah pasti bukan anak di bawah umur. Eric akan membuat Lisa menjadi miliknya.

"Lisa, berapa usiamu?"

"Apa? Kenapa kau tiba-tiba tanya, Eric?" Lisa sudah selesai mencuci gelas.

"Penasaran saja. Kau tampak seperti remaja berusia tujuh belas tahun."

Tertawa, Lisa meletakkan gelas di rak kecil di sebelah bak cuci piring, "Enak saja. Aku ini sudah dewasa. Tahun ini usiaku dua puluh dua."

Eric tersenyum lega.

***

Salju yang sedari tadi turun cukup deras perlahan berubah menjadi badai, menahan Eric untuk pulang. Lagipula Eric memang enggan untuk pulang, flat Lisa terasa nyaman. Apalagi dengan keberadaan Lisa, Eric jadi malas untuk pulang dan sendirian. Lisa juga merasakan hal yang sama, dengan adanya Eric di sini bersamanya, Lisa merasa aman. Karena walaupun Lisa berani tinggal sendiri, ada saat di mana Lisa takut sendirian. Lisa selalu membayangkan saat dia tidur ada yang membuka pintu kamarnya dan meringsek masuk. Lisa bergidik setiap kali membayangkan hal itu.

"Lisa, kalau kau tidak keberatan, boleh aku bermalam di sini? Di luar salju deras sekali dan aku takut walaupun memakai rantai, banku tidak mampu menembusnya." Eric kini menutup tubuhnya dengan selimut rajut yang Lisa bawa dari Indonesia. Selimut kesayangan Lisa. Aku tidak akan mencuci selimut itu selamanya, batin Lisa.

"Sebenarnya aku tidak keberatan, Eric. Bahaya kalau menyetir mobil dalam cuaca seperti ini. Tapi..." Apa kata orang nanti? Pria lajang menginap di rumah perempuan yang juga lajang. Ibu Pilkey di kamar seberang pasti akan berpikir macam-macam. Tapi, aku tidak mungkin membiarkan Eric menyetir mobil, kalau terjadi apa-apa padanya, aku..

"Tapi apa, Lisa?" Alis Eric berkerut melihat Lisa yang diam saja dengan wajah bingung. Apa dia tidak nyaman aku menginap di flat-nya? Apa dia tidak nyaman denganku?

"Ah, tidak apa-apa, Eric. Kau bisa menginap di sini. Kau tidur saja di kasurku, aku akan tidur di sofa." Eric nyaris terbatuk mendengar apa yang dikatakan Lisa. Bukan, bukan karena senang bisa merasakan tidur di kasur yang menjadi tempat tidur Lisa selama ini, tapi karena mendengar bahwa Lisa akan tidur di sofa.

"Apa?! Tidak akan mungkin kau kubiarkan tidur di sofa, Melisa! Ini rumahmu, kau tidur di kasurmu dan aku tidur di sofa."

"Tapi sofaku terlalu kecil, Eric. Kakimu akan menggantung. Kau tidur di kasur saja."

Mendengar Lisa yang ngotot memaksa Eric tidur di kasurnya, Eric berusaha menahan  senyum. "Aku tidak peduli kakiku mau menggantung atau tidak, kau akan tidur di kasurmu. Atau.. Kita tidur bersama-sama?"

Kali ini Lisa yang nyaris terbatuk. Tidur bersama?! Bibir Lisa membentuk huruf o dan tergagap. "Eric! Aku.. Kita tidak.. Kau.. Ah!" Lisa kaget setengah mati mendengar apa yang baru saja dikatakan Eric, dan Eric tampak santai saja mengatakannya. Tuhan, ini mimpi? Lisa memang bukan anak remaja, dia juga sudah beberapa kali pacaran. Tapi sekalipun dia belum pernah tidur dan "tidur" dengan laki-laki. Dan kali ini saat dia diajak tidur bersama oleh pria---bukan laki-laki, yang luar biasa tampan seperti Eric, lutut Lisa goyah. Ingat kata ibu, Lisa. Ingat kata ibu..

"Bercanda, bercanda. Tenang saja Melisa." Eric tersenyum menenangkan Lisa. Dalam hati Eric berharap Lisa mengiyakan ajakannya. Dia membayangkan bagaimana rasanya mengelus pipi lembut, menghirup wangi rambut hitam yang baru kali ini dilihatnya tergerai dan menyentuhkan bibirnya ke bibir mungil itu. "Tapi, kalau kau ingin..."

Eric perlahan mendekati Lisa tanpa melepaskan pandangannya dan berdiri tepat di depannya. Lisa mendongak, kepalanya setinggi leher Eric. Mata biru Eric membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Napas Eric terasa hangat di dahi Lisa. "Kalau kau tetap ingin aku tidur di kasurmu, aku ingin kau tidur bersamaku."

***

Ada yang bernapas di leherku. Aduh, berat. Apa? Aku tidak bisa bergerak. Ada tangan di perutku. Bukan tanganku. Eh? Eric?! Bukannya tadi malam dia tidur di sofa? Kenapa?!

Sesaat setelah Eric mengatakan hal yang membuat bulu kuduk Lisa meremang, Lisa kabur ke kamar mandi dan mengatur napas di dalamnya sekitar sepuluh menit. Eric tertawa melihat wajah Lisa yang merah hingga telinga, tapi begitu lima menit pertama Lisa tidak keluar juga, Eric mulai khawatir. Apa tindakannya terlalu cepat dan membuat Lisa ketakutan? Eric menggedor pintu dan meminta maaf. Tidak lama kemudian Lisa keluar dengan wajah yang masih bersemu, Eric tertawa lagi. Tapi buru-buru meminta maaf dengan wajah yang dibuat seperti anak kecil, perlahan Lisa tertawa juga. Eric sudah tidak menyinggung-nyinggung soal tidur bersama Lisa, tapi dia tetap memaksa untuk tidur di sofa dan Lisa tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya dengan dada berdegup kencang membayangkan Eric Levy, dosennya, yang bertelanjang dada tidur satu ruangan dengannya, Lisa pergi tidur.

Tapi tidak dengan Eric. Satu jam, dua jam, tiga jam, lima jam, napas Lisa mulai teratur pertanda dia sudah tertidur, dan Eric masih belum bisa tidur. Berputar-putar di selimut wol dan selimut rajut, akhirnya Eric menyerah. Duduk di sofa yang kecil itu, Eric memandang ke arah kasur tempat Lisa tidur. Tubuh kecil Lisa tertutup selimut sampai dada, tapi tetap saja Eric merasa.. Panas?

Hebat kau, Melisa Priadi, mampu tidur satu ruangan dengan pria dewasa yang bukan kekasihmu, batin Eric. Berjalan pelan, Eric mendekati kasur Lisa. Sesaat pandangannya lepas dari Lisa dan mendarat di kumpulan foto yang nyaris menutup seluruh dinding. Banyak foto Lisa dengan seorang ibu, seorang perempuan, keluarga besar dan teman-teman sekolah jika dilihat dari seragam yang sama. Tidak ada satupun foto mesra dengan laki-laki. Bagus, gadis ini tidak punya pacar.

Pandangan Eric kembali ke pada Lisa yang tidur menyamping. Manis sekali. Tangannya tergeletak membuka di samping wajahnya. Perlahan, Eric berlutut di sisi kasur dan mendekatkan bibirnya ke pipi Lisa. Nyaris tidak menyentuh, Eric menghirup wanginya. Bersih dan terasa segar. Khas Lisa. Dengan berusaha tanpa membangunkan Lisa, Eric berbaring di sebelahnya. Mengubur wajahnya di rambut Lisa, Eric bernapas pelan. Eric mabuk oleh wanginya. Gadis ini, perlahan tapi pasti mulai mendapat tempat di hati Eric. Masih banyak tentang Lisa yang belum Eric ketahui, tapi Eric yakin dan ingin mengupasnya sedikit demi sedikit. Yang pasti, keluguannya membuat Eric seperti kembali menjadi remaja lagi. Tanpa sadar Eric tertidur.

Lisa setengah mati berusaha melepaskan diri dari pelukan Eric. Eric yang sudah bangun lebih dahulu memeluknya erat-erat sambil berpura-pura tidur.

"Eric.. Bangun. Eric? Eric! Ugh.."

"Selamat pagi, Lisa."

"Lepaskan, kenapa kau ada di kasurku? Aduh, jangan begini.." Eric melepaskan pelukannya dan Lisa buru-buru bangun. Belum sempat turun dari kasur, Eric menariknya lagi dan kali ini mereka tergeletak berhadapan. Ah! Mata Lisa terbelalak.

"Lisa, aku tidak akan berpura-pura dan aku tidak akan menahan diri lagi. Aku tertarik padamu. Apakah kau tertarik padaku?"

Ya Tuhan! Ini masih pagi dan Lisa hampir terkena serangan jantung. Eric menatap mata Lisa dalam-dalam, masih bertelanjang dada, dengan wajah yang begitu dekat dengan wajah Lisa. Tidak ada morning breath yang tercium dari Eric, malah Lisa yang takut napasnya bau. Lisa tidak berani menjawab Eric, selain karena takut napasnya bau, dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Tentu saja dia tertarik dengan Eric, tapi dua kali dia menumpahkan sesuatu ke tubuh Eric, melemparnya dengan telur dan demi tuhan, Eric adalah dosennya! Kenapa Eric bisa tertarik pada gadis seperti Lisa?

"Bagaimana? Kau menyukaiku, Melisa?" Wajah Eric semakin dekat.

Pelan, Lisa mengangguk.

Dan sekejap bibir Eric menyentuh bibirnya.

***

*Setiap percakapan yang bertulisan miring, anggap saja bahasa inggris.* ;)

Poskan Komentar

29 comments

aaakkk keyeeennn..keyeeennn sukaaa. sukaaaaaa.....
(ngebayangin Eric jadi orang beneran)
mksh Mas Yudi n Mba Amanda...

moooooorreeeeee !! Keren !?!!

Waw keren! Lucuuuu suka banget... M Amanda bikin cerita yg lain ya...
Tq M Yudi... Miss u so much #hug
Kangen M Tika... :*
Kangen M Helda... :*
Kangen semua2.x~

Keren2!:D
Andai ad lnjutannya..;;)<3<3

jd igt Prof.Emerson ny gabriels inferno :* ..

Lanjutin dong, please :D

Romantis.... keren....

nice:))
ceritanya bgus.

Bagus ceritanya.. kalo ada lanjutanya oke juga tuh....^.^

Bagus ceritanya.. kalo ada lanjutanya oke juga tuh....^.^

Hihihiih
Lucuuu
So sweeetttt :3

aihh.. bikin kepoo ama lanjutannya.. aduh duh.. mau lg donk cin... mau mau mau.... bagus banget e... aih...

Lucu, Ini lanjutannya mana *pencet next page*

Ini lucuuuu ceritanya, like it :D mba nya yg bkin cerpen, klo ada lanjutannya mau donk dkirim ke eike hihi

Aku suka ini...
Trus bkarya...nanti aku yg baca :)

"setiap kata yg dtulis miring, anggap saja itu dlm B. Ing",,
Dhapeq smuany kliatan tegak, sistah Amanda,, :lol

eehmm,,,boleh mnta lanjutanny ga??
Si Alexander Skarsgard is so HAWT, baby,,
Aku juga suka True Blood,,,
Awalny ku pikir namany gegara si William Levy,,t'nyata based on Alex's cast,,,
Sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bangetz ma cerpen nie,,

Mas Yudi,,,makasiiiiiiiiiiiiihhh,,,

"setiap kata yg dtulis miring, anggap saja itu dlm B. Ing",,
Dhapeq smuany kliatan tegak, sistah Amanda,, :lol

eehmm,,,boleh mnta lanjutanny ga??
Si Alexander Skarsgard is so HAWT, baby,,
Aku juga suka True Blood,,,
Awalny ku pikir namany gegara si William Levy,,t'nyata based on Alex's cast,,,
Sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bangetz ma cerpen nie,,

Mas Yudi,,,makasiiiiiiiiiiiiihhh,,,

aq suka ini cerpennya,dilanjutin dong pasti kerennnnnn

Keren critanya...suka bgtttttt...:)

ahaha...setiap yg tulisannya miring ,,,sy bacanya ikut miring alias nenggleng..:D..gut stori sis!

,,,,,
::‧(◦ˆ ⌣ ˆ◦)::‧(y)
Si!!! ... Cerita •☺k•...•☺k bgt mba, romantis, lucu, dn cerita Πγª tdk tlalu mengada2.. Dlanjutin dong cerita jdi penasaran nunggu lanjutan Πγª trus dposting di PN yach. Heheh

WUAAAH! Aku nggak nyangka loh kalo ceritaku bakal di-post di blog yang luar biasa keren ini! Aduh, terima kasih banyak atas komentar kakak-kakak sekalian, aujadi terharu nih. Ciyus.
Accidentally Into You ini ada lanjutannya, tentu saja. Tapi aku terlanjur patah arang, karena, yah namanya aja insecure. Lebih karena takut nggak ada yang bakal suka soalnya. Jadi nggak pernah aku posting di mana-mana. Cuma chapter pertama ini yang iseng aku kirimin ke PorNov. Hihihi.
Yah, siapa tahu.. Kakak-kakak sekalian bisa rayu mas Yudi jadi chapter 2-nya bisa di-post juga. Kan sangat menyenangkan kalau cerita isengku ada yang baca. Sekali lagi terima kasih banyak atas komentarnyaaa. *peluk dan cium satu-satu*
Ah iya, ada yang sadar nggak, waktu Lisa masak air untuk bikin kopi, eh yg disajikan malah teh. Muahahaha! Aku malu! *kabur naik rajawali*

aq suka,mw lnjtannya dunk :)

Ah, chapter dua-nya sudah aku post di wordpress-ku looo. Monggo dibaca dan ditunggu komentarnyaaaa. Klik aja username yg aku pake skr di komentar ini. Langsung menuju ke blog-ku kok. Terima kasih banyak! *peluk*

Amanda Sheila ;)

Lutju... Keren... Saran : harus dilanjutkan....

Sukaaaa abiiisss...
Salam kenal ya..

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top