18

Penulis: Esther Ria Mei Utami

beautiful-trick

"Anna, saya ada urusan. Tolong kamu cancel agenda saya hari ini ya?"

Anna menoleh. "Oh, baik bu." Jawabnya hormat.

"Berkas kemarin sudah selesai?"

"Ah, ma…maaf bu. Ini masih ada yang harus diperbaiki." Anna meringis.

Wanita paruh baya itu, Ibu Martha, hanya tersenyum. "Jangan terlalu memaksakan, kerjakan saja semampumu, Anna."

Anna hanya mengangguk sambil kembali meringis. Memamerkan gigi mungilnya. Dalam hatinya ada sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan pada lawan bicaranya ini. Sejak ia mengambil posisi sekretaris Ibu Martha sebagai jabatan dalam ajang magangnya berapa hari lalu, ada satu kejanggalan pada atasan yang baru dikenalnya tersebut. Ibu Martha terkenal sangat kejam dan berhati dingin pada bawahannya dan Anna telah mengetahui itu sebelum ia mengambil keputusan, namun mengapa sifat itu ia rasa tak pernah ditunjukannya ketika ia bersamanya. Tentu ini membuat ia bingung. Ibu Martha selalu memperlakukan dan bersikap pada Anna seakan ia bukanlah orang luar baginya.

"Anna, bisa nanti malam kamu kerumah saya?"

Perkataan Ibu Martha memecahkan lamunan Anna. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sedari tadi orang itu tetap berdiri didepannya dengan tatapan yang seakan bisa mengetahui semua pikiran lawan bicaranya.

"Ba..baik bu," Anna menjawab dengan gugup, terlalu kaget dengan pemintaan atasannya itu. "tapi, emm...untuk apa ya bu?" Anna bertanya dengan sangat hati hati, takut ia akan menyinggung perasaan Ibu Martha.

"Datang saja." Jawabnya sambil tersenyum kemudian meninggalkan Anna yang masih terpaku di tempatnya.

***

Anna sedang berkutat dengan setumpuk pekerjaannya, namun ditengah keasyikannya bekerja ia melihat seorang laki-laki berjas hitam yang masuk ke dalam ruang Ibu Martha tanpa berkompromi atau bertanya padanya dulu. "Aish…mengganggu pekerjaanku saja. Siapa sih main masuk ruang orang seenaknya." Umpatnya dalam hati kemudian dengan langkah malas dia menuju ruang atasannya tersebut.

"Emm, maaf tuan. Ibu Martha ti…" Anna terdiam, tak bisa meneruskan perkataanya. Tiba-tiba ia merasakan tenggorokannya kering dan susah untuk bernafas saat ia menatap sosok laki-laki-penerobos-tanpa-izin - yang berdiri di hadapannya. Mata onyx yang menatap intens emerald miliknya. Bentuk hidungnya, bibir tipis yang tengah merengut, tulang rahang yang terpahat sempurna. Refleksi nyata dari kesempurnaan.

"Kau?" laki-laki itu menoleh, memicingkan onyx miliknya dan melangkah mendekati Anna. "Apa yang kau lakukan disini? Ah jangan-jangan..." Tambahnya menggantung sambil mengamati Anna intens.

Anna hanya menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya, ia merutuki jantungnya yang tiba-tiba berdegup tak normal. Tangannya gemetar. Ia takut atau bisa dibilang grogi dengan tatapan itu. "Emm, saya sekretaris baru Ibu Martha." Katanya dengan volume yang sangat lembut dan dan berusaha menyembunyikan suaranya yang bergetar karena gugup.

Laki-laki itu mendengus kemudian menyeringai

"Hm, begitu ya? Hmm oke kita coba." Ucapnya enteng.

"Ha? Ap…apa maksud anda?" Anna terkejut dengan perkataan laki-laki itu yang terkesan ambigu baginya. Volume suaranya naik dan wajahnya mengeras. Tak sadar ia mendongakkan kepalanya dan langsung tepat melihat manik mata laki-laki itu. Segera Anna langsung mundur menyadari jaraknya dengan laki-laki itu sangat dekat.

Laki-laki itu menyadari lawannya mencoba membuat jarak segera mengambil langkah. Ia membawa Anna ke dinding dan menguncinya dengan kedua tangan kekarnya.

"Aww! apa yang akan anda lakukan, lepaskan saya!" Anna masih terkejut dan kesakitan karena punggungnya menghantam dinding cukup keras dan ia merasa dalam bahaya sekarang. Dengan panik ia mencoba mendorong laki-laki itu namun usahanya sama sekali tak membuahkan hasil karena postur laki-laki itu tang cukup tinggi besar dan tidak sebanding dengan ia yang kecil. Ia menyerah dan hanya menunduk ketakutan.

Laki-laki itu hanya tersenyum sinis, matanya terus mengamati setiap inci gadis kecil didepanya ini. "Bodoh! Kau kira akan ku apakan dirimu?" Katanya pelan sambil tertawa kemudian melepaskan kunciannya ketika melihat wajah Anna yang begitu ketakutan. "Ah, pintar juga pemikiran wanita tua itu menjerat mangsanya." batinnya, kemudian dia menjauh dan duduk di kursi ibu Martha.

Anna masih berusaha mengatur napasnya dan mencerna apa sebenarnya yang terjadi. Ia mengambil napas panjang dan mencoba untuk mengambil alih kendali dari laki-laki di depannya ini. "Menyebalkan! Awas saja nanti!. Kau harus bisa Anna, kau tidak boleh takut, kau pasti bisa menanganinya." geramnya dalam hati.

"Tuan, ibu Martha sedang tidak dikantor jadi lebih baik anda membuat janji lain waktu saja. Nan-"

"Aku tidak mencari wanita tua itu, duduklah." Potongnya sakratis.

Anna mencibir dalam hati dan merasa bingung juga dengan perintah tersebut. Ia mencoba bersabar dengan sikap otoriter dan menyebalkan laki-laki itu. Berkali kali ia menghembuskan napasnya kemudian dengan berat hati ia duduk di depan laki-laki tersebut.

Laki laki itu hanya diam dan terus memandangi Anna. Tatapannya sulit untuk diartikan. Anna pun hanya menunduk tanpa mencoba bicara sepatah katapun. Berapa menit berlalu tanpa pembicaraan membuat Anna merasa risih dan terus memanyunkan bibirnya.

"Kembalilah bekerja."

ucapan laki-laki itu sukses membuat Anna kaget. "Aish, dia pikir dia siapa. Bukannya dia yang tamu, kenapa aku yang…aggghh." Batinnya.

"Tapi tuan tidak berhak ada di ruangan ini dan salah satu tugas saya adalah memastikan ruangan ini aman." Jawab Anna dengan sekali nafas. Kesabarannya sudah mulai habis.

"Kau bukan satpam, Anna. Pergilah, atau perlu aku antar?" balas laki-laki itu sambil tersenyum geli melihat gadis didepannya mulai kehilangan kontrol.

"Da..darimana anda tahu nama saya dan sebenarnya siapa anda ini?"

Laki laki itu hanya mengerutkan alisnya dan tersenyum.

***

"Ahhhh, kau tahu betapa frustasinya aku, Ara. Pekerjaanku, Ibu Martha, semuanya ditambah makhluk menyebalkan itu tadi. Arrggh!" Anna merebahkan badannya di kasur temannya tersebut.

"Hmm, kalo dari ceritamu ini aku curiga jangan-jangan bos kamu itu ada niat jelek gitu sama kamu. Mau nyulik kamu mungkin atau…wah jangan jangan dia lesbian trus suka tuh sama kamu hahaha."

"Araaaa! Jauhkan pikiran kotor kamu itu atau aku pulang sekarang!" Anna menjerit tepat disebelah telinga Ara dan kontan membuat Ara berhenti tertawa dan menutup kupingnya.

"Hey, jangan rusak telingaku! Eh, Apakah laki-laki itu sama sekali tak menyebutkan namanya Anna? Kartu nama begitu atau sejenisnya? Dia kan sudah sukses membuat kamu mati kutu. Ah bukankah cocok sekali  dengan kriteria pacarmu, misterius gimana gitu hahaha." Ara kembali mengoceh dengan suara nyaringnya.

Anna hanya menutup telinga dan matanya. Pikirannya kembali melayang pada laki-laki tadi. Setelah cukup berdebat dengannya, tiba tiba dia berdiri dan langsung menyeret Anna kembali ke mejanya. Anna yang kaget dengan tindakan laki-laki itu hanya terdiam dan bengong. Ia bahkan bingung harus mengatakan apa pada laki-laki yang kurang sopan dan seenaknya sendiri itu. Apalagi setelah tragedi ciuman bibir pertama Anna. Yah, saat dirinya masih terdiam, laki-laki itu bahkan mengambil kesempatan untuk mencium bibirnya singkat kemudian pergi tanpa sepatah katapun. Anna yang tak siap dengan serangan tiba-tiba itu hanya bisa melotot dan memegang bibirnya. Dan tentu saja informasi penting ini ia rahasiakan dari sahabat bawelnya itu.

"Argggh, menyebalkan! Awas saja nanti kalau ketemu. Argggh!" Anna berteriak histeris dan mengusap usap bibirnya kasar. Kontan hal ini membuat sahabatnya itu bingung dan bengong.

"kenapa pula orang ini ckck." desisnya bingung.

***

Pukul 19.00

Anna masuk kedalam mobil jemputan milik Ibu Martha, di badannya kini terbalut gaun merah marun selutut dengan selendang senada menutupi bahunya yang terbuka. Wajahnya tampak berkerut mencari-cari apa sebenarnya yang direncanakan bosnya tersebut dengan mengirimkan gaun padanya, yah tentu saja gaun itu bukan milik Anna, dia tak pernah suka untuk memakai gaun apalagi dengan bahu terbuka. Hanya karena menghormati bosnya saja ia rela untuk berkorban sedemikian rupa. Ditambah dengan telfon ibu Martha yang akan mengirimkan mobil untuk menjemputnya.

Tak terasa ia telah sampai di sebuah pekarangan mewah yang telah dipenuhi oleh mobil-mobil yang tak kalah mewahnya juga. Anna turun dari mobil dengan wajah tegang, menduga-duga hal apa lagi yang akan terjadi.

"Sepertinya sedang ada pesta. Apa bapak tidak salah mengantarku kesini?" tanyanya pada supir yang memandunya menuju kedalam rumah tersebut.

"Tentu tidak, nona. Silahkan masuk. Semua orang telah menunggu anda." Jawabnya tersenyum ramah.

"Menunggu? Aku? Aishh.. apa-apaan ini." geramnya dalam hati. Ia melangkah ragu menuju rumah yang begitu mewah tersebut. Sesekali ia membenarkan gaun dan rambutnya yang tergerai menutupi punggungnya. Sungguh tidak percaya diri ia berada di tempaat semewah ini.

"Anna! Ayo lekas naik ke panggung. Acara sudah akan dimulai."

"Ibu! Mengapa ibu ada disini? Sejak kapan ibu ada di Jakarta. Ibu? Sebenarnya ada apa ini? Aku benar-benar-"

"Aishh, nanti saja bicaranya. Sekarang saatnya kau naik." Kata Ibu, Rosalline, ibu kandung Anna. "kau terlihat sangat cantik, putriku." Tambahnya berbisik pada Anna.

"Tapi…" Anna menelan ludahnya. Ia benar-benar mulai kehilangan akalnya untuk menduga duga. Ia tak berani menatap sekelilingnya sampai saat ia berada diatas panggung, sebuah tangan kokoh memegang jari tangannya dan membimbingnya menuju tengah panggung.

"Kau!..,mengapa-"  Anna panik melihat orang yang telah menuntunnya ke tempat Ibu Martha berdiri. Orang yang telah berani-beraninya mencuri ciuman pertamanya.

"Sttt, pelankan suaramu dan tersenyumlah. Semua orang sedang memperhatikan kita." Laki-laki itu berbisik dan memeluk erat pinggangnya. Senyumnya tak lepas dari bibir indahnya. Anna hanya menelan ludah berkali-kali dan mencoba tersenyum kaku pada semua tamu undangan yang ada.

"Ya. Para tamu undangan yang saya hormati, disini saya akan mengenalkan calon anggota baru keluarga Daniswara atau lebih tepatnya calon istri dari Mario Daniswara, putra kebanggaan saya, Annastasya Toer…"

Semua tamu undangan bertepuk tangan sambil sesekali berkomentar pada yang lainnya. Perkataan spektakuler Ibu Martha cukup membuat Anna kehilangan setengah kesadarannya. Tangan Mario, calon suaminya itu terus memegang pinggangnya dengan erat dan tersenyum bahagia pada semua undangan. Sesekali dia melirik Anna, membayangkan apa yang ada dalam pikiran wanita disebelahnya tersebut.

Anna melihat ke arah ibunya yang juga ikut bertepuk tangan dengan hebohnya,  mencoba mencari kejelasan namun sang ibu hanya menanggapai dengan senyuman dan kedipan mata pada Anna.

"Bukankah ini menarik, Anna? Kau akan menjadi calon ibu bagi anak-anak kita. Ah, kau ingin berapa anak nanti?" bisik Mario sambil tertawa geli melihat Anna yang terseyum kaku dengan kesadarannya yang mulai menurun.

Sekian

Poskan Komentar

18 comments

hah???? mana lanjutanya??? apa anna bakal diem aja, dinikahin mario? penasaran T.T

cerpennya pd bkn pnasaran smw,mw lg dunk :) keep writing

Selanjutnya mengarang bebas aj rena, sesuai keinginan kita :D

aw..aw..aw... another alpha male??.....cukup menarik... apa lagi kalo ada lanjutannya tambah menarik...;)

ne mah kentang u,u
Mana? Mana? Mana lanjutannya?
*ubek2 PN :D
But thanks uat penulis.... :)

Lebih seru kl ada lanjutannya..

Astagaaa tanggung bangeeet
Lagi doonk~
Hihihhi

Ah,,,ga ngerti aq,,
Si danish itu sapa??? :pengen makan roti danish,,,

But,,lanjutanny pliiiiiissss,,,,

Jully say:

Aigo..........np sich smua pd tanggung....????
*sambil nangis bombay*

Hedehhhhh cerpen pada buat kentang ni....huhuhuhuhu T~T, pgen triakkkk why potato agaiiiinnnnn

aaarghh....hobi banget sih buat org penasaran, sumpah bisa mati penasaran nih

ni lanjutannya mana, nanggu banget....
sambung donk buruan *maksa* hehheehehhe
tp thanks lol cerita bagus

Hadeh... Kl dilanjutin ini udh pasti seru... Tp jd gak seru krn ceritanya nanggung bgt...

aaaaakkkk muuu lnjutanyaaaa... muuu lanjutnnyaaaaa.....
hukz...

Apa nama blog pnulis,a?
Bgi donk..

Bagus ceritanyaa...
Salam kenal buat penulis.. :)

Lanjutin donk...bgs loh ideny...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top