19

toc-thumb
Kyle bersandar pada tempat tidur hotel dan mentransfer foto-foto Monica dari ponsel ke laptopnya. Saat itu selesai, Kyle  mengamati empat foto itu dengan cepat lalu mengamati lagi dengan pelan.

Gairahnya meningkat dengan kebutuhan yang hebat.

Tidak diragukan Monica itu cantik. Kyle selalu tahu itu. Monica tinggi dan langsing dan ia memiliki wajah yang menawan dengan warna yang dramatis.

Monica seharusnya sudah menjadi miliknya sejak lama.

Saat Kyle memandang foto-foto itu, Kyle mengamati setiap inchi tubuh Monica. Setiap inchi yang diizinkan oleh Monica. Pandangan Kyle bergerak ke aras kaki mulus Monica, ke atas pahanya dan turun lagi ke kaki mulusnya. Pandangan Kyle terfokus pada ketidaksempurnaan di paha kanan Monica dan Kyle mengamati dengan bertanya-tanya sampai kenangan dari masa lalu menghancurkan hatinya.

Monica baru saja berumur lima belas tahun. Ayah Monica bekerja dalam shift di sebuah pabrik kimia dan biasanya ayahnya tidur sepanjang hari. Ibunya bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit lokal. Monica adalah anak satu-satunya dan menghabiskan banyak waktunya di rumah Kyle dengan Ashley. Suatu hari, ayah Kyle sedang bekerja dan ibu Kyle baru saja pergi ke toko bahan makanan.

Monica dan Ashley menghabiskan berjam-jam liburan musim panas dengan bersepeda, berenang di kolam renang tetangga dan menjelajahi lingkungan pinggiran kota di mana keluarga mereka berdua tinggal.

Kenangan Kyle menjadi semakin tajam pada kejadian itu.

Ashley berlari ke dalam rumah berteriak mencari ibu mereka. Kyle sudah pulang dari pekerjaan musim panasnya dan Kyle mencoba untuk menenangkan Ashley. Ashley mulai menarik tangan Kyle dan mengatakan bahwa Monica terluka.

Kyle masih bisa mengingat cengkeraman ketakutan Ashley.

Kyle berlari ke jalan bersama Ashley, mungkin enam atau tujuh rumah dan menemukan Monica tergeletak di rumput hijau, darah mengalir dengan cepat ke bawah kakinya.

Jantung Kyle hampir saja berhenti berdetak.

Saat itu tengah hari dan orang-orang di sekitar lingkungan mereka sedang sunyi. Kebanyakan orang dewasa sedang bekerja dan anak-anak sedang berada di penitipan.

Kyle berlutut di sebelah Monica dan mata Monica terangkat memandangnya. Kyle bisa melihat rasa sakit yang tergambar di mata Monica, juga rasa percaya, kepada Kyle, percaya bahwa Kyle tahu apa yang harus dia lakukan. Bahwa Kyle bisa mengatasi situasi.

Suara Monica gemetar. “Aku pikir ini b-buruk. Sakit. Aku t-takut untuk melihat.”

Kyle menarik nafas dalam dan menyapukan tangannya ke pipi Monica, mengangkat dagunya dan memandang jauh ke dalam mata Monica. “Ini akan baik-baik saja, Monica. Kau tak perlu melihat. Aku akan melihatnya. Pandang aku saja, OK?”

Dengan anggukan Monica, mata Monica memandang dengan seksama ke wajah Kyle, Kyle menurunkan tangannya ke kaki Monica dan dengan hati-hati menggeser jemari Monica yang menutupi lukanya.

Kyle berharap dia melihat luka lecet yang parah, tapi itu bahkan lebih dari itu. Monica terpotong sangat parah. Tidak hanya luka tertusuk, bahkan dalam dan bergerigi. Dan panjang. Darah mengalir deras dari lukanya, tapi lukanya tidak dekat dengan pembuluh darah, jadi lukanya tidak mengancam nyawa. Tapi darah yang mengalir harus dihentikan dan Kyle bisa mengatakan lukanya perlu dijahit. Tidak diragukan.

Kyle tidak perlu mengatakan hal itu dulu kepada Monica. Jelas Monica tidak bisa berjalan, sepedanya masih berada di jalan di sebelah trotoar di mana kecelakaan itu terjadi. Ashley sudah memakai sepeda Ashley sendiri untuk pulang dan mencari pertolongan.

“Semua akan baik-baik saja, angel. Tapi aku yakin ibumu ingin melihat ini. Apakah dia masih berada di rumah sakit hari ini?” Kyle menjaga suaranya untuk tetap tenang.

Mata Monica masih menempel pada Kyle dan dengan anggukan Monica, Kyle menoleh kepada Ashley yang sedang berdiri mengamati.

Kyle merogoh saku celananya untuk mencari kunci, lalu menyerahkan kuncinya kepada Ashley. Kedua gadis ini telah belajar untuk mendapatkan izin mengemudi, tapi bukan izin mengemudi yang sebenarnya. “Bawa sepeda Monica kembali ke rumah dan bawa Mustang kemari. Ok?”

Bola Mata Ashley membesar. Kyle tidak pernah membiarkan Ashley meyentuh mobilnya. Tidak pernah. Dan Kyle bisa mengatakan bahwa Ashley bisa paham apa maksud semua ini. Betapa buruk hal yang terjadi. Ashley menelan ludah dengan gugup dan melihat kembali ke luka di kaki Monica yang sekarang ditekan oleh Kyle.

“Ok Ash? Aku ingin kau fokus. Bawa sepeda Monica pulang dan bawa mobilku kemari. Mobilku seperti mobil punya ibu. Mobilku otomatis. Tidak ada bedanya. Putar kuncinya, bawa ke jalan dan bawa kemari. Kau bisa melakukannya. Jangan khawatir, pergi dan ambil mobilnya." suara Kyle keras tapi tegas.

Ashley mengangguk, wajahnya benar-benar pucat tapi kemudian Ashley berbalik dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Kyle.

Kyle tetap memberikan tekanan kepada luka Monica dan mencoba untuk mengalihkan pikiran Monica dari rasa sakit. “ Apa yang terjadi?”

“Tadi ada k-kucing putih gila.”

“Kuncing bermata merah dan buntut tebal?”

“Ya. Dia berlari tepat di bawah roda sepedaku. Aku t-tidak tahu bagaimana aku bisa melewatkannya.”

“Apa yang membuat kau terluka?” Kyle berpikir mungkin Monica perlu mendapatkan suntik tetanus.

“Aku tidak tahu.”

Ashley mendekat dengan membawa mobil hanya dengan kecepatan sepuluh mil per jam.

Ashley memarkirkan mobil dan melompat keluar mobil.

Kyle bicara kepada adik perempuannya. “Gadis pintar. Aku akan membawa Monica kepada ibunya di rumah sakit. Jika kau ingin ikut, naik ke kursi belakang.”

Ashley melompat ke kursi belakang dan Kyle menggendong Monica.

Kyle melihat Monica menggretakkan giginya saat Kyle tidak sengaja menggoncangkan tubuh Monica. “Maaf.” Kyle meminta maaf.

Monica masih memandang Kyle. Mereka tidak pernah melepaskan pandangan dan Kyle merasa bahwa dia adalah pusat dari kehidupan Monica. Ini perasaan yang membahagiakan.

Kenangan perjalanan ke rumah sakit kabur di pikiran Kyle. Kyle hampir tidak bisa mengingatnya. Hanya kenangan bahwa mereka terburu-buru agar rasa sakit Monica segera hilang.

Ibu Monica sedang membantu operasi saat mereka sampai di sana. Rumah sakit tempat ibu Monica bekerja hanya sebuah rumah sakit dengan fasilitas menengah dan ibu Monica sudah lama bekerja di sana. Mereka menunggu dengan segera setelah Kyle memberikan kepada resepsionis nama Monica dan mengatakan kepada mereka siapa ibu Monica.

Mereka di tempatkan di sebuah ruangan dan menunggu hanya beberapa menit sebelum dokter datang. Dokter yang datang seorang profesional, memanggil Monica dengan nama "Miss Lambert," dan memberi tahu dengan tenang bahwa ibu Monica sudah memberikan izin kepadanya untuk melakukan prosedur yang harus dilakukan, tapi tidak ada yang bisa menggantikan ibunya dan ibunya sedang berada di tengah-tengah operasi.

Ibu Monica tidak bisa datang.

Kyle mengamati wajah Monica saat dokter menjelaskan semua itu kepada Monica. Saat Monica menyadari bahwa ibunya tidak bisa datang, mata Monica melayang kepada Kyle dengan panik dan tidak melepaskannya.

Kyle tidak akan pernah melupakan sampai dia mati apa yang Kyle rasakan saat pandangan Monica jatuh padanya dan memandangnya dengan kebutuhan. Untuk dukungan. untuk arahan. untuk pertolongan.

Ashley Sahabat Monica dan duduk tepat di sebelah Kyle, tapi mata Monica jatuh kepada Kyle. hanya Kyle. Di dalam perlawanan rasa sakit, takut dan butuh.

Kyle tak akan pernah lupa apa rasanya. Tapi Kyle tak bisa menggambarkannya. Kyle ingat rasa sakit saat merasakan kesakitan yang Monica alami. Kyle ingat dia ingin melakukan sesuatu, apapun untuk menghilangkan rasa takut dari Monica. Kyle ingat merasa spesial, seperti tergantung padanya untuk membuat hal ini lebih baik bagi Monica.

Kyle tidak ragu, hanya berdiri dan berjalan ke arah dimana Monica duduk di atas meja, kakinya terangkat. Kyle berjalan ke sebelah Monica, mengangkat tangan Monica ke atas tangannya dan menggenggamnya dengan erat.

Kyle bicara kepada dokter.

"Aku Kyle Weldon, sir. Teman baik Monica. aku 18 tahun dan aku akan mendampinginya."

Kyle memandang lurus kepada pria yang lebih tua itu tapi Kyle merasa Monica menghembuskan nafas dalam dan sedikit rileks.

Dokter memandang Kyle sebentar dan mengangguk. Lalu dokter itu memandang ashley yang masih pucat seperti hantu. "Itu tidak apa-apa, tapi kupikir wanita muda ini harus membuat dirinya nyaman di ruang tunggu."

Ashley berdiri dan memandang Monica dengan pertanyaan di matanya.

"Tidak apa-apa Ash. Aku a-akan baik-baik saja." Kyle merasa Monica menggenggam tangannya lebih erat saat Monica menjawab pertanyaan Ashley yang tidak terucap.

Ashley mengangguk dan meninggalkan ruangan.

Setelah itu, kenangan dalam pikirannya kembali kabur. Kyle ingat seorang suster masuk, bicara dengan nada yang menenangkan tapi tangan Monica tidak pernah melepaskan Kyle. Kyle ingat suster itu bergerak mengelilingi Kyle beberapa kali saat suster itu menyiapkan segala sesuatu.

Monica mendapat sepuluh jahitan, tapi yang paling buruk adalah suntikan sebelum tindakan pengobatan yang sebenarnya. Dokternya bertindak lembut dan mengatakan kepada Monica bahwa Monica akan merasa seperti di cubit. Pandangan Monica jatuh kepada Kyle lagi dengan kegelisahan dan Kyle bersandar ke depan ke arah Monica dan berbisik di telinganya. "Semua akan baik-baik saja, sayang. Aku di sini, angel. Berpegangan padaku."

Dokter baru saja selesai saat ibu Monica datang dengan keprihatinan lalu kelegaan mengalir ke dalam wajahnya.

Kyle ingat pergolakan rasa sakit yang tiba-tiba muncul dan sesal saat dia harus menjauh dari Monica untuk memberikan ruang kepada ibu Monica yang segera memeluk Monica.

Kyle tersadar dari lamunannya saat dia melanjutkan memandang foto kaki mulus Monica. Lukanya sudah sembuh dengan baik. Jika seseorang tidak tahu bahwa ada bekas luka di sana, mereka tidak akan mampu untuk mengenalinya.

Rasa posesif yang tajam melanda Kyle. Kyle tahu rasa itu ada pada dirinya.

***

Selasa malam ponsel Monica berbunyi. Ashley Weldon muncul di layar. Realisasi melanda Monica dengan senyum lembut. Monica harus merubah itu. Apakah Monica akan terbiasa untuk berpikir tentang sahabatnya berganti nama menjadi Ashley Mckay sekarang?

Monica mengangkat ponselnya. "Kau seharusnya sedang berbulan madu!"

Ashley menjawab dengan tertawa "Aku sedang berbulan madu dan ini menyenangkan!"

"Apakah kau bahagia?" Monica bertanya, walau dia sudah tahu jawabannya.

"Tentu saja. Dia pria yang aku inginkan. " Suara Ashley tegas dan yakin.

"Aku tahu dia yang kau inginkan, Ash," Monica berkata.

"Kau pernah tidak menyukainya," Ashley mengingatkan Monica.

"Ya. Aku juga tak tahu bahwa pria itu tergila-gila padamu. Aku hanya menjagamu."  Belum lama Monica tahu apa yang sebenarnya Ryan inginkan dari sahabatnya.

"Aku tahu. Tidak apa-apa. bagaimana denganmu?" Ashley bertanya kepada Monica.

"Bagaimana dengan aku?" Suara Monica ragu.

"Yang benar Monica? kau berhubungan dekat dengan kakakku di resepsi pernikahanku dan kita akan memainkan permainan ini?" Suara Ashley bernuansa rasa tidak percaya.

"Dia mendapatkan panggilan sebelum hal apapun dapat terjadi. Dia sekarang berada di Colorado untuk memadamkan kebakaran hebat."

Sejenak Ashley terdiam sebelum Ashley menjawab Monica. "Sial. Aku tidak tahu tentang itu. Apakah dia menciummu?"

"Ya." Monica tidak keberatan Ashley tahu. bahkan itu sebuah kelegaan.

"Oh Tuhan. Kau dan kakakku. Sahabatku dan kakakku. Aku kaget."

"Bagaimana kau bisa kaget? Apakah kau serius mengatakan padaku bahwa kau tak pernah tahu aku tertarik padanya?" Monica sudah bertanya-tanya soal ini sejak lama. Apakah Ashley tahu perasaan Monica kepada kakaknya?

"Aku tidak pernah tahu." Kata Ashley tulus.

"Hmmm, kurasa aku menyembunyikannya dengan baik kalau begitu,"  Monica berkata.

"Kurasa begitu." Ashley menyetujuinya dengan lembut.

"Apa kau tidak keberatan?" Monica bertanya.

"Serius? Aku sayang kamu! kau adalah sahabat baikku. Sekarang kau akan menjadi kakak perempuanku. Aku--"

Monica memotong kata-kata Ashley. "Whoa. Pelan-pelan. Jangan meletakkan kesialan di sana."

"Jadi, itu yang kau inginkan?" Ashley bertanya kepada sahabatnya.

"Dengan seluruh hatiku." kata-kata Monica lembut.

Kesunyian melanda kedua sahabat ini sampai Ashley bicara, "Aku berharap hubungan kalian berdua berjalan dengan baik. Aku berharap demi diriku hubungan kalian akan berjalan dengan baik. Tolong, tolong, katakan kepadaku bahwa kau dan aku akan baik-baik saja tidak perduli apa yang akan terjadi pada kalian berdua."

"Jangan pernah berpikir begitu. Kita baik-baik saja. Aku tidak bisa kehilanganmu Ashley. Kau dan Julie adalah sahabatku. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua."

Rasa ragu dan takut melanda Monica jauh ke dalam dirinya. Banyak hal yang Monica bisa dapatkan dari hubungannya dengan Kyle. Tapi banyak hal juga yang akan hilang dari Monica jika hubungan mereka berubah menjadi buruk.

"Kupikir Julie tahu, kan?" Monica bertanya.

"Ya. Dia yang bilang padaku. Gibson yang menemui kalian berdua, ingat?"

"Ya. Aku ingat. Apakah Julie tidak keberatan? maksudku dengan aku dan Kyle?"

"Tentu. Dia sayang padamu sebesar aku menyayangimu. Ini akan sempurna. Kita semua akan menjadi keluarga besar yang bahagia."

"Aku takut, Ash, " Monica mengakuinya dengan suara pelan.

"Aku tahu itu. Tapi kau sendiri yang bilang, Kakakku seorang pria yang baik. Kau pantas mendapatkannya. Dia pantas mendapatkanmu. Ini akan baik-baik saja. Jangan takut untuk mengejar apa yang akan membuatmu bahagia."

"Terima kasih Ash. terima kasih untuk pengertiannya." Monica menjawab.

"Tidak masalah. Aku harus pergi sekarang. Ryan bilang Gibson sudah mendahuluinya mahir menaruh bayi ke dalam rahim. Itu kata-katanya. Kami harus menyusul mereka." Suara Ashley berubah menjadi bersemangat.

“Apakah kau serius? Kalian sedang berusaha untuk hamil?” Monica tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa kaget dalam suaranya.

“Tidak begitu berusaha. Hanya berlatih dan tidak melakukan apapun untuk mencegahnya.”

Monica tertawa geli. “Semoga berhasil dengan itu semua, sayang.”

“Terima kasih. Aku akan menelponmu lagi nanti. Good luck dengan kakakku. Bye.”

“Bye.” Monica melemparkan ponselnya dan bertanya-tanya bagaimana dia bisa bertahan sampai Jum’at.

***
Sisa minggu merangkak seperti siput. Monica tidak lagi menerima SMS dari Kyle, tapi ia tidak berpikir ada hal yang perlu dikhawatirkan dengan itu. Ia tahu Kyle masih akan tetap pulang Jumat malam. Ia tahu Kyle masih serius untuk datang menemuinya. Ia yakin soal itu. Suara Kyle tegas; kata-katanya kukuh bahwa Monica sesuai dengan apa yang Kyle inginkan. Perasaan seperti itu tidak akan hilang hanya dalam waktu satu malam.

Monica juga tahu Kyle sehat. Kyle pasti sehat karena jika tidak Monica pasti telah mendapat kabar. Adik perempuan Kyle pasti akan mengetahui jika sesuatu terjadi padanya dan Ashley pasti telah memberitahunya. Monica juga menonton berita. Kebakaran hebat di Colorado, walau hebat, tapi dapat di atasi dan tidak ada kematian atau kecelakaan buruk lainnya.

Jadi Monica tahu segala sesuatunya baik-baik saja dan apa yang harus dia lakukan adalah hidup sampai Jumat malam. Hal itu terbukti menjadi bagian yang sulit.

Monica menelpon Julie pada hari Kamis dan mereka bertemu di kota untuk makan siang di sebuah restoran dekat dengan tempat kerja mereka berdua.

Dengan terburu-buru Julie menghampiri Monica dan memeluknya dan bicara langsung ke inti. "Gibson bilang Kyle menciummu. Apakah dia menciummu? Kapan kau akan bertemu dengannya lagi?"

Monica mengarahkan Julie ke meja mereka dan kedua wanita ini duduk sebelum dia menjawab. "Bagaimana bisa kau mempunyai energi yang begitu besar? Bukankah kau seharusnya mengalami morning sickness atau sejenisnya?"

"Aku baik-baik saja memasuki tiga semester kedua kehamilan. Kau tahu itu. Aku baik-baik saja. Berhenti mencoba untuk mengalihkan perhatianku. Kita bisa membicarakan urusan bayi selama makan makanan penutup nanti."

"Makanan penutup?"

"Kau pikir aku tidak akan makan makanan penutup?"

"Kupikir kau adalah wanita hamil paling cantik yang pernah kulihat. Apakah Gibson masih menyimpanmu dengan gembok dan anak kunci?"

"Dia sudah lumayan tenang sedikit karena aku sekarang cukup bulat hingga mulai susah berjalan. Aku punya firasat dia akan mencoba untuk menjaga tubuhku tetap seperti ini."

"Well, kau terlihat cantik. Dan ya, Kyle menciumku."

"Ok, sekarang kita mengarah ke suatu tempat. Apakah itu asyik?"

"Pernahkah kau melihat Kyle?" Monica menggoda.

"Ya dan dia bukan keluarga yang cukup dekat denganku untuk tidak bisa mengatakan padamu betapa menawannya dia. Tindakan yang bagus Monica."

"Aku belum melakukan apapun." Suara Monica mengandung kegelisahan.

"Jangan mencoba untuk membodohiku. Gibson mengatakan padaku apa yang dia lihat. Maksudku dia bilang padaku setiap detail yang kecil. Dan dia bilang padaku dengan cara seorang pria bicara. Kau tahu, cara seorang pria bicara dengan pria lainnya." Julie tertawa. "Aku belajar itu darinya sekarang karena kami sudah menikah. Dia mengatakan semuanya. Dan ini pendapatnya bahwa Kyle tertarik padamu."

"Benarkah? Gibson bilang begitu?"

"Ya. Dia mengatakannya dan dia mempercayainya. Dia menggambarkan padaku dengan perkataan ada sesuatu di mata Kyle."

“Jadi , bagaimana menurutmu?” Monica bertanya padanya.

“Kupikir kau harus berpikir kapan kau melangsungkan pernikahan di bulan apa. Aku akan menjadi pendamping wanita lagi, kan? Entah itu akan menjadi sangat cepat, atau kau harus memberikan aku waktu beberapa bulan untuk mengurangi berat badanku. Tidak berarti aku berencana untuk menambah banyak berat badan.”

“Ok. Aku akan bicara denganmu seperti aku bicara dengan Ashley. Jangan mendatangkan kesialan!”

“Aku tidak boleh bicara tentang pernikahan?”

“tidak. Jangan dulu. Jika Kyle mendengar bahwa kau dan adik perempuannya sudah merencakan pernikahannya, Dia akan lari. Kau tahu bagaimana laki-laki.”

“Ok. Aku setuju. Aku akan mengikuti instruksimu.” Julie bicara dengan tersenyum.

“jadi bagaimana kabar bayi Jones?” Monica bertanya.

“Dia baik-baik saja. Kami sebenarnya berpikir untuk memberinya nama Gibson-Jones.”

“Aku tidak paham, kenapa kalian berdua ingin melakukan hal itu? Bukankah akan membingungkan jika nanti anak kalian mulai bersekolah dan kalian memiliki nama terakhir yang berbeda dengan anak kalian? Kenapa bukan Weldon-Jones?”

“Tidak berbeda sebenarnya. Kau tahu Gibson adalah nama gadis ibu mertuaku?”

“Tidak. Aku belum pernah mendengar tentang itu.”

“Apakah kau tidak pernah bertanya-tanya kenapa nama pertamanya Gibson?”

“Kupikir itu pernah melintas di benakku, lalu apa yang terjadi?”

“Saat orang tuanya menikah, ibunya punya masalah dengan Jones sebagai nama akhir yang terlalu umum. Dan nama sambung belum ada zaman itu. Jadi ibunya memberikan padanya nama gadisnya sebagai nama pertamanya. Entahlah, aku pikir untuk membedakan.”

“Dan sekarang kalian berpikir untuk melakukan hal yang sama sebagai nama keluarga. Itu sepertinya menarik.”

“Ya, kami pikir begitu. Tapi kupikir dibutuhkan beberapa generasi untuk menjadikan hal itu normal. Aku hanya tidak ingin menderita, atau anak-anakku menjadi menderita karenanya. Kau tahu, dengan semua kebingungan. Tapi kami pikir mereka lebih baik memiliki nama akhir yang berbeda. Kau tahu untuk media sosial dan lainnya. Tapi kuberi tahu padamu, berpikir apa yang diinginkan oleh anak-anakmu hampir dibilang mustahil. Kau hanya bisa menembak dalam gelap dan berharap kau melakukan apa yang terbaik.”

“Well, itu terdengar seperti alasan yang logis untukku. Dan ide yang bagus. Kupikir sangat baik jika kalian berdua memikirkan hal itu.”

“Terima kasih.”

“Kau tahu kan Ashley mungkin akan segera hamil juga?”

“Apa kau serius?”

“Tentu, jika takdirnya begitu, kurasa. Mereka tidak melakukan apapun untuk mencegah kehamilan. Aku berharap itu bukan rahasia. Dia tidak bilang padaku agar jangan memberitahumu soal ini.”

Julie tertawa. “Wow.”

“Ya, aku tahu. Ryan mendesak Ashley tentang bagaimana Gibson sudah mendahuluinya.”

“Oh tuhan! Laki-laki. Mereka gila. Tapi akan sangat asyik jika itu terjadi. Pikirkan. Anak-anak Gibson dan Ryan akan menjadi sepupu. Lalu kalian semua akan memiliki anak-anak, mereka semua akan menjadi sepupu!”

Monica memberikan tatapan menjengkelkan kepada sahabatnya. “Jangan bicarakan hal itu.” Suaranya pelan. “Hanya pastikan bahwa kau memikirkan aku jika kau melihat bintang jatuh.”

***

Nach restu kedua sahabat sudah di dapat, tinggal tunggu Jumat malam nich Kyle mau datang. Dandan yang cantik yach neng Monica. Om Kyle jangan ngapelin neng Monica pakai seragam pemadam kebakaran yach. hahahaha...


Penerjemah: +Diana Dee
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

19 comments

koment dolo baru baca.... bab2 pertama udah pemanasan nih...ngebut..

Danke mbak Dee,,,,
Danke mas Yudi,,,,

Makasih mb Dee... Makasih Mas Yudi...

Nice..
jd sodaraan semuanya:)

mbak dee bisa aj, masa ngapel g dandan? Kekeke.. 0h ya thanx mas mimin and mbak dee

owh Kyle itu sweet banget.. Pangeran penyelamat masa kecil Monica :D

Thanks mba dee n mas yudi :)

tq mba dee n mas yudi.
ikut gak sabar nunggu jumat malam.
bsk kan mas yudi. #ngarep

gpp mbk dee klo kyle ngapel pke seragam pemadam. kali aja fantasii sex**lnya monica sama 'man in uniform' xi.xi..

Paliiing sk sm kt2 Ashley (smg g slh inget) "Jangan takut untuk mengejar apa yang akan membuatmu bahagia."
Keyeeennnn..
Mksh Mba Dee n Mas Yudi

tiga pasangan yg cocok, komplit dan bahagia....
mudahh2an ryan dan Ashley cepet punya anak juga
nyusul Gibson dan Julie... ^__^

mbak deeeeee...
makasiiiiiiiiiiiihh...
ditunggu cerita2 romantis yg lainnya...
asiiik, ini tinggal satu part lagi, ga sabaarr

mas Yudii, makasiiiih ^___^

✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴..mba Dee & mas YUdi

hmm......... gak jadi komen ahhh.......

can't wait until friday...^^
makasih Mbak Dee & Mas Yudi.. :)

g sabar nunggu kelanjutan'y
thanks mas yudi&mba dee,
tetap semangat,,,

makasih mbak Dee n mas Yudi
:)

Koment mba dee lucu...
Msa kyle pake seragam pemadam kebakaran???

Klu pake bju pemadam kebakaran ribet donk mba' dee. Btw thanks y

ih geregetan dehh >///< ga sabar nunggu next Bab xxD

mkasii mbe dee n mas yudi :)
sangat ditunggu kelanjutannya, hohohoo...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top