36

fsf-thumb
Aku berguling, secara insting mencari Christian hanya untuk merasakan keberadaannya. Sial! Aku seketika terbangun dan melihat dengan cemas ke sekeliling kabin. Christian sedang mengamatiku dari kursi yang kecil di ujung tempat tidur. Membungkuk, ia menaruh sesuatu di lantai, kemudian bergerak dan berguling ke tempat tidur di sebelahku. Ia mengenakan celana pendek dan T-shirt abu-abu.

"Hey, jangan panik. Semuanya baik-baik saja," katanya, suaranya lembut dan menenangkan - seperti ia sedang berbicara dengan binatang liar yang terpojok. Dengan lembut, ia mengelus dan merapikan rambut dari wajahku dan secepat itu pula aku menjadi tenang. Aku melihat dia mencoba tapi gagal untuk menyembunyikan kekhawatirannya.

"Kau menjadi sangat mudah terkejut beberapa hari terakhir," gumamnya, matanya melebar dan serius.

"Aku baik-baik saja, Christian." Aku memberinya senyum lebarku karena aku tak ingin ia mengetahui betapa aku khawatir tentang insiden kebakaran itu. Ingatan menyakitkan tentang apa yang aku rasakan saat Charlie Tango disabotase dan Christian menghilang - kekosongan yang hampa, rasa sakit yang tak dapat di jabarkan - selalu muncul kembali; memori itu menggangguku dan menggerogoti hatiku. Sambil tetap mempertahankan senyum di wajahku, aku mencoba untuk menahan perasaan itu.

"Apa kau menontonku yang sedang tertidur?"

"Ya," katanya sambil menatapku siaga, memperhatikanku. "Kau mengigau."

"Oh?" Sial! Apa yang ku katakan?

"Kau khawatir," tambahnya, matanya penuh dengan perhatian. Apakah ada hal yang bisa aku sembunyikan dari pria ini? Ia mendekat dan menciumku diantara kedua alisku.

"Saat kau mengerutkan dahi, ada bentuk V kecil disini. Jadi aku menciumnya. Jangan khawatir sayang, aku akan menjagamu."

"Bukan diriku yang ku khawatirkan, tapi kau," aku menggerutu. "Siapa yang akan menjagamu?"

Ia tersenyum lembut saat mendengar nada bicaraku. "Aku sudah cukup besar dan cukup kuat untuk menjaga diriku sendiri. Ayo. Bangun. Ada satu hal yang ingin aku lakukan sebelum kita kembali ke rumah." Ia tersenyum padaku, senyuman kekanakan yang lebar yang menyatakan ya-aku-baru-berumur-dua-puluh-delapan-tahun, dan menampar pantatku. Aku menjerit, terkesiap, dan menyadari bahwa kami akan kembali ke Seattle dan perasaan melankolis datang kembali. Aku tak ingin pergi. Aku menikmati waktu 24 jam 7 hari seminggu bersamanya, dan aku belum siap untuk membaginya dengan perusahaan dan keluarganya. Kami menjalani bulan madu yang penuh kebahagiaan. Dengan sedikit cekcok, aku mengakuinya, tapi itu normal untuk pasangan yang baru saja menikah, kan?

Tapi Christian tak bisa menahan kegembiraannya yang meluap-luap, dan terlepas dari pikiranku yang gelap, hal itu menular padaku. Saat ia bangkit dengan anggun dari tempat tidur, aku mengikutinya, penasaran. Apa yang ia pikirkan?

Christian menaruh kunci di telapak tanganku.

"Kau ingin aku mengemudi?"

"Ya." Christian nyengir. "Itu tidak terlalu berlebihan kan?"

"Tidak. Apakah itu alasan kau mengenakan jaket keselamatan?" Aku mengerutkan dahiku.

"Ya."

Aku tak bisa menahan tawa kecilku. "Betapa kau mempercayai keahlianku dalam mengemudi, Mr. Grey."

"Selalu, Mrs. Grey."

"Well, jangan ajari aku."

Christian mengangkat kedua tangannya menunjukkan sikap defensif, tapi ia tersenyum. "Apakah aku berani?"

"Ya kau berani, dan ya kau akan melakukannya, dan kita tak akan bisa berhenti dipinggir jalan dan berargumen di trotoar."

"Poin bagus, Mrs. Grey. Apakah kita akan tetap berdiri di sini seharian dan memperdebatkan tentang skill mengemudimu atau kita akan mencoba bersenang-senang?"

"Poin bagus, Mr. Grey." Aku memegang stang Jet Ski itu dan menaikinya. Christian naik dibelakangku dan mendorong kami menjauh dari kapal pesiar. Taylor dan dua orang kelasi tampak terhibur melihat kami. Bergeser maju, Christian melilitkan tangannya ketubuhku dan merapatkan pahanya ke pahaku. Ya, ini yang aku sukai dari transportasi ini. Aku memasukan kunci dan menekan tombol starter, dan mesin mulai meraung.

"Siap?" aku berteriak pada Christian melawan suara bising mesin.

"Selalu," katanya, mulutnya dekat dengan telingaku.

Dengan lembut, aku menarik tuas dan Jet Ski itu menjauh dari Fair Lady, terlalu tenang dan aku menyukainya. Christian mengencangkan pelukannya. Aku menarik gas lebih dalam, dan kami meluncur maju dan aku merasa puas saat kami tidak terlempar.

"Whoa!" Christian berteriak dari belakang, tapi kegembiraan dalam suaranya terdengar jelas. Aku melewati Fair Lady menuju laut lepas. Kami berlabuh di luar Pelabuhan de Plaisance de Saint-Claude-du-Var, dan Bandara Nice Côte d'Azur terlihat dikejauhan, dibangun dengan gaya Mediterrania, atau yang sejenisnya. Aku pernah mendengar pesawat aneh mendarat sejak kami sampai semalam. Aku memutuskan kami harus melihat lebih dekat.

Kami meluncur mendekat, melintas cepat diantas ombak. Aku menyukai ini, dan aku senang Christian memperbolehkan aku mengemudi. Semua kekhawatiran yang aku rasakan dua hari ini meleleh begitu saja saat kami bergerak ke arah bandara.

"Lain kali kita melakukan ini kita akan pakai dua Jet Ski," teriak Christian. Aku tersenyum karena imajinasiku tentang melakukan balapan dengannya sungguh menggetarkan jiwa.

Saat kami bergerak diatas laut biru yang tenang kearah sesuatu yang terlihat seperti ujung landasan terbang, deru menggelegar sebuah jet yang mendarat membuatku terperanjat. Suaranya sangat keras sehingga aku panik, berbelok dan menginjak gas pada saat yang bersamaan, keliru akan pedal rem.

"Ana!" Christian berteriak, tapi terlambat. Aku terlempar ke samping Jet Ski, tangan dan kaki tersentak, membawa Christian bersamaku terjatuh dalam cipratan yang spektakuler.

Berteriak, aku terjatuh ke laut biru yang bersih dan menelan air laut Mediterrania. Airnya terasa dingin karena jauh dari pantai, tapi aku kembali ke permukaan sedetik kemudian, berkat jaket keselamatanku. Terbatuk dan bergagap, aku menyeka air laut dari mataku dan mencari Christian. Ia sudah berenang kearahku. Jet Ski itu mengambang tenang beberapa kaki jauhnya dari kami, mesinnya mati.

"Kau baik-baik saja?" Matanya penuh kepanikan, saat ia mendekatiku.

"Ya," aku berteriak parau, tapi aku tak bisa menahan kegembiraanku. Lihat, Christian? Itulah hal terburuk yang bisa terjadi pada sebuah Jet Ski! Ia menarikku kedalam pelukannya, kemudian menangkup kepalaku diantara kedua tangannya, memeriksa wajahku.

"Lihat, tak seburuk itu!" Aku tersenyum saat kami bergerak di air.

Alhasil ia tersenyum kearahku, jelas merasa lega. "Tidak, aku rasa tidak. Kecuali sekarang aku basah," gerutunya, tapi nadanya jenaka.

"Aku juga basah."

"Aku suka saat kau basah." Ia mengerling.

"Christian!" Aku memarahinya, mencoba untuk marah seperti yang seharusnya namun hanya bercanda. Ia menyeringai, terlihat tampan, kemudian maju dan menciumku liar. Saat ia menarik dirinya, aku kehabisan nafas. Matanya lebih gelap, jahat dan panas, dan aku merasa hangat ditengah dinginnya air laut.

"Ayo. Kita kembali. Sekarang kita harus mandi. Aku yang akan mengemudi."

~~~

Kami bermalas-malasan di ruang tunggu kelas satu British Airways di Heathrow, London, menunggu penerbangan kami menuju Seattle. Christian asyik membaca the Financial Times. Aku mengeluarkan kamera miliknya, ingin mengambil beberapa fotonya. Ia terlihat sangat seksi dalam pakaian yang menjadi ciri khasnya yaitu kemeja putih dan celana jeans, dan kacamata hitamnya tergantung di kerah V kemejanya yang terbuka. Kilatan flash kamera mengganggunya. Ia berkedip padaku dan menyunggingkan senyuman malu-malunya.

"Apa kabarmu, Mrs. Grey?" tanyanya.

"Sedih karena akan pulang," aku menggumam. "Aku suka kau menjadi milikku seorang."

Ia menggenggam tanganku dan mengangkat tanganku kearah bibirnya, mengecup buku jariku dengan kecupan manis. "Aku juga."

"Tapi?" Aku bertanya, mendengar kata kecil itu tak tersampaikan dari statemen sederhananya.

Ia membeku. "Tapi?" ia mengulangi kata itu dengan berat hati. Aku menggerakkan kepalaku ke satu sisi, menatapnya dengan ekspresi "katakan padaku" yang sudah sering ku praktikkan beberapa hari terakhir ini. Ia mendesah, menurunkan korannya. "Aku ingin orang yang membakar perusahaanku tertangkap dan menjauh dari kehidupan kita."

"Oh." Sepertinya hal itu cukup adil, tapi aku terkejut pada nadanya yang kasar.

"Aku akan memastikan testis Welch berada di piring jika ia membiarkan hal seperti ini terjadi lagi." Punggungku menggigil saat mendengar nada mengancamnya. Ia menatapku tenang, dan aku tak tahu jika ia berani kurang ajar padaku atau sejenisnya. Aku hanya melakukan sesuatu yang terlintas di pikiranku untuk meredakan tensi diantara kami dan mengangkat kamera untuk mengambil foto lainnya.

~~~

"Hey, tukang tidur, kita sudah sampai," Christian berbisik.

"Hmm," aku menggumam, enggan untuk meninggalkan mimpi yang menggiurkan tentang Christian dan aku di atas selimut piknik di Taman Kew. Aku sangat lelah. Bepergian ternyata sangat melelahkan, meskipun berpergian menggunakan pesawat kelas satu. Kami sudah berada di atas pesawat selama lebih dari delapan belas jam, kurasa - dalam kelelahan aku hilang arah. Aku mendengar pintuku dibuka, dan Christian condong kearahku. Ia membuka sabuk pengamanku dan mengangkatku keatas tangannya, membangunkanku.

"Hey, Aku bisa berjalan," Aku memprotes sambil mengantuk.

Ia mendengus. "Aku harus membopongmu melewati ambang pintu."

Aku menaruh tanganku dilehernya. "Melewati tigapuluh lantai?" Aku memberinya senyuman menantang.

"Mrs. Grey, aku sangat senang untuk mengumumkan bahwa kau bertambah beratnya."

"Apa?"

Ia tersenyum lebar. "Jadi jika kau tidak keberatan, kita akan menggunakan elevator." Ia memicingkan matanya padaku, meskipun aku tahu ia sedang menjahiliku.

Taylor membuka pintu kearah lobi Escala dan tersenyum. "Selamat datang Mr. Grey, Mrs. Grey."

"Terima kasih, Taylor," kata Christian.

Aku memberi Taylor senyuman tersingkat dan melihatnya kembali kedalam Audi dimana Sawyer sedang menunggu di kursi pengemudi.

"Apa maksudmu aku sudah bertambah berat?" Aku menatap garang pada Christian. Senyumannya semakin lebar, dan dia menarikku lebih erat ke dadanya saat ia membopongku melewati lobi.

"Tidak terlalu banyak," ia meyakinkanku namun wajahnya tiba-tiba menjadi gelap.

"Ada apa?" Aku mencoba untuk menahan kepanikan di suaraku tetap dalam kendali.

"Kau mengembalikan berat badanmu yang tadinya kau hilangkan saat kau pergi meninggalkanku," katanya pelan saat ia menekan tombol elevator. Eskpresi suram melintasi wajahnya.

Kesedihannya yang tiba-tiba dan mengejutkan, menyentak dihatiku. "Hey." Aku menaruh jemariku di wajahnya dan ke rambutnya, menariknya dekat denganku. "Jika aku tak pergi, apakah kau akan tetap berdiri disini, seperti ini, sekarang?"

Matanya melembut, sewarna awan mendung, dan senyumnya senyum malu-malu, senyuman favoritku. "Tidak," katanya dan melangkah kedalam elevator sambil membopongku. Ia turun dan menciumku lembut. "Tidak, Mrs. Grey, aku tak mungkin ada disini. Tapi aku akan tahu bahwa aku bisa menjagamu tetap aman, karena kau tak akan membantahku."

Samar-samar terdengar penyesalan dalam nada suaranya... Sial.

"Aku suka membantahmu." Aku menggodanya.

"Aku tahu. Dan itu membuatku sangat... bahagia." Ia tersenyum kearahku ditengah kebingungannya.

Oh, terima kasih Tuhan. "Meskipun aku gemuk?" Aku berbisik.

Ia tertawa. "Meskipun kau gemuk." Ia menciumku lagi, kali ini lebih panas, dan aku menautkan jariku di rambutnya, memegangnya agar tetap menciumku, lidah kami bertautan dalam gerak tarian sensual yang pelan, tertaut satu sama lain. Saat elevator berbunyi ping dan berhenti, kami berdua kehabisan nafas.

"Sangat senang," gumamnya. Senyumannya lebih gelap sekarang, matanya temaram dan penuh dengan janji yang cabul. Ia menggelengkan kepalanya untuk memulihkan dirinya sendiri dan membawaku ke serambi.

"Selamat datang di rumah, Mrs. Grey." Ia menciumku lagi, lebih murni kali ini, dan memberiku senyuman paten-milik-Christian-Grey-bertegangan-ratusan-gigawatt, dimatanya menari-nari kebahagiaan.

"Selamat datang dirumah, Mrs. Grey." Aku berseri-seri, hatiku menjawab panggilannya, meluap dengan kebahagiaannya sendiri.

Aku pikir Christian akan menurunkanku, tapi tidak. Ia membopongku melewati serambi, koridor, masuk ke dalam ruang utama, dan mendudukkanku di meja utama di dapur dimana aku duduk dengan kaki yang menggantung. Ia mengambil dua gelas champagne dari lemari dapur dan sebotol champagne dingin dari kulkas - Bollinger favorit kami. Ia dengan cekatan membuka botol itu, tidak menumpahkan sedikitpun, menuangkan champagne berwana pink pucat kedalam masing-masing gelas, dan menyerahkan satu padaku. Mengambil gelas yang satunya, ia dengan lembut membuka kakiku dan maju untuk berdiri diantara keduanya.

"Bersulang untuk kita, Mrs. Grey."

"Untuk kita, Mr. Grey," Aku berbisik menyadari senyumanku yang malu-malu. Kami bersulang dan meneguk champagne itu.

"Aku tahu kau lelah," ia berbisik, menyapukan hidungnya di hidungku. "Tapi aku benar-benar ingin ke tempat tidur... dan bukan untuk tidur." Ia mencium sudut bibirku. "Ini malam pertama kita kembali ke sini, dan kau benar-benar milikku." Suaranya menghilang saat ia menempatkan ciuman lembut di leherku. Ini pagi buta di Seattle, dan aku sangat lelah, tapi gairah merekah di dalam perutku dan dewi batinku pun mendengkur.

~~~

Christian tidur dengan damai di sampingku saat aku melihat cahaya fajar merah muda dan keemasan melewati jendela besar. Lengannya tersampir lembut di atas payudaraku, dan aku mencoba untuk menyamai nafasnya agar aku bisa kembali tidur, tapi itu sia-sia. Aku segar, setiap sel tubuhku bekerja, pikiranku bergerak cepat.

Banyak hal yang terjadi tiga minggu belakangan ini - siapa yang kubodohi, maksudnya adalah tiga bulan belakangan ini - sehingga aku rasa kakiku belum kembali ke tanah. Dan sekarang aku disini, Mrs. Anastasia Grey, menikah dengan seorang mogul paling lezat, seksi, dermawan, paling kaya yang bisa ditemui seorang wanita. Bagaimana ini bisa terjadi begitu cepat?

Aku berbalik, berbaring mirip untuk menatapnya, menilai ketampanannya. Aku tahu ia memperhatikanku saat tidur, tapi aku jarang punya kesempatan melihatnya tidur. Ia terlihat begitu muda dan bebas dalamm tidurnya, bulu matanya yang panjang, sedikit janggut menutupi dagunya, dan bibirnya yang seperti pahatan sedikit terbuka, santai saat ia bernafas dalam-dalam. Aku ingin menciumnya, mendorong lidahku diantara bibirnya, mejalankan jariku diatas janggutnya yg tajam. Aku benar-benar harus menahan keinginan untuk menyentuhnya, tidak mengganggunya. Hmm... aku bisa sedikit menggoda telinganya dengan gigiku dan menghisapnya. Bawah sadarku menatap garang melalui kacamata separuh bulannya, teralih perhatiannya dari buku kedua Compete Works of Charles Dickens, dan mencercaku secara mental. Biarkan pria malang itu, Ana.

Aku kembali bekerja pada hari Senin. Kami masih punya hari ini untuk menyesuaikan diri, kemudian kami akan kembali ke rutinitas masing-masing. Akan aneh rasanya tidak melihat Christian sepanjang hari setelah melewati setiap menit bersamanya tiga minggu terakhir ini. Aku kembali terlentang dan menatap langit-langit. Seseorang mungkin berpikir bahwa menghabiskan waktu bersama terlalu sering akan sangat menyiksa, tapi itu bukan kasusku. Aku menyukai setiap dan seluruh menitnya, bahkan pertengkaran kami. Setiap menit... kecuali berita kebakaran di Grey House.

Darahku berdesir dingin. Siapa yang berniat menyakiti Christian? Pikiranku menggerutu pada misteri ini lagi. Seseorang dalam bisnisnya? Seorang mantan? Pegawai yang tidak puas? Aku tak habis pikir, dan Christian tetap bungkam tentang semua itu, memberi informasi seminimal mungkin padaku dengan dalih untuk melindungiku. Aku mendesah. Ksatria hitam-dan-putihku yang berkilau selalu berusaha untuk menjagaku. Bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya lebih terbuka?

Ia berbalik dan aku masih tak ingin membangunkannya, tapi hal itu memberikan efek sebaliknya. Sial! Dua mata cerah menatapku.

"Ada apa?"

"Tak ada apa-apa. Kembalilah tidur." Aku coba memberikan senyum meyakinkan. Ia merenggang, mengosok wajahnya dan kemudian tersenyum lebar.

"Jet lag?" tanyanya.

"Apakah karena itu? Aku tak bisa tidur."

"Aku punya obat mujarab untuk semua penyakit disini, hanya untukmu, sayang." Ia tersenyum seperti anak sekolah, membuatku memutar mata dan terkikik pada saat yang bersamaan. Dan hanya dengan itu seluruh pikiran negatifku tersapu dan gigiku menemukan telinganya.

~~~

Christian dan aku bergerak ke utara kearah I-5 menuju jembatan 520 dalam Audi R8. Kami akan makan siang dirumah orang tuanya, makan siang hari Minggu untuk menyambut selamat datang dirumah. Semua anggota keluarga akan hadir, ditambah Kate dan Ethan. Akan terasa aneh merasakan banyak orang setelah beberapa minggu terakhir hanya ada kami berdua. Aku bahkan tak punya kesempatan berbicara dengan Christian pagi ini. Ia sibuk dengan urusannya saat aku sibuk membongkar kopor kami. Ia bilang aku tak perlu melakukannya, Mrs. Jones yang akan melakukannya. Tapi itu hal lain yang harus mulai kubiasakan - mendapatkan bantuan pelayan. Aku menjalarkan jemariku diatas kulit yang melapisi pintu untuk mengalihkan pikiranku yang mengembara. Aku merasa lelah. Apakah ini jet lag? Khawatir akan pelaku pembakaran?

"Apa kau akan membiarkan aku mengemudikan ini?" aku bertanya, terkejut aku bisa mengatakan kata-kata itu dengan keras.

"Tentu saja," balas Christian, tersenyum. "Apa yang menjadi milikku adalah milikku. Jika kau membuatnya lecet, Aku akan membawamu ke Red Room of Pain." Ia melirik padaku dengan senyuman jahat.

Sial! Aku melongo menatapnya. Apakah ini lelucon?

"Kau bercanda. Kau akan menghukumku jika membuat lecet mobilmu? Kau lebih mencintai mobilmu dari pada aku?" godaku.

"Hampir," katanya dan mengulurkan tangannya untuk meremas dengkulku. "Tapi mobil ini tak menghangatkanku di malam hari."

"Aku yakin hal itu bisa diatur. Kau bisa tidur didalam mobil," bentakku.

Christian tertawa. "Kita belum berada dirumah selama sehari dan kau sudah menendangku keluar?" Ia terlihat senang. Aku menatapnya dan ia memberikanku senyuman lebar, dan meskipun aku ingin marah padanya, sangat mustahil marah saat ia sedang dalam mood seperti ini. Sekarang hal itu terlintas dipikiranku, ia sudah lebih baik sejak ia meninggalkan ruang kerjanya pagi ini. Dan itu membuatku sadar bahwa aku sedang merajuk padanya karena kami harus kembali ke realitas, dan aku tak tahu apakah ia akan kembali ke mode Christian yang lebih tertutup pra-bulan madu, atau aku akan mendapatkan versi baru yang sudah dikembangkan.

"Mengapa kau sangat senang?" aku bertanya.

Ia menyunggingkan senyum lainnya padaku. "Karena percakapan ini sangat... normal."

"Normal!" Aku mendengus. "Tidak setelah tiga minggu pernikahan! Tentunya."

Senyumannya langsung menghilang.

"Aku bercanda, Christian," gumamku cepat, tak ingin membunuh moodnya. Ini menamparku saat aku menyadari bahwa ia selalu ragu akan dirinya. Aku rasa ia memang selalu seperti ini, tapi hal ini tersembunyi dibalik penampilannya yang mengintimidasi. Ia sangat mudah digoda, mungkin karena ia tak terbiasa digoda. Ini adalah pengungkapan, dan aku menemukan lagi bahwa kami harus saling belajar banyak satu sama lain.

"Jangan khawatir, aku akan tetap memakai Saab," aku menggumam dan berbalik untuk menatap jendela, mencoba menghapus mood jelekku.

"Hey. Ada apa?"

"Tidak."

"Kadang-kadang kau sungguh membuatku frustasi, Ana. Katakan padaku."

Aku berbalik dan tersenyum padanya. "Sama seperti dirimu, Mr. Grey."

Ia membeku. "Aku mencoba," katanya lembut.

"Aku tahu. Begitu juga denganku." Aku tersenyum dan moodku kembali cerah.

~~~

Carrick terlihat menggelikan saat menggunakan topi koki dan celemek Licensed to Grill (Berlisensi untuk memanggang) saat ia berdiri disamping barbecue. Setiap kali aku melihatnya, hal itu membuatku tersenyum. Faktanya, semangatku sudah naik lagi. Kami semua duduk mengelilingi meja di teras rumah keluarga Grey, saat Elliot dan Christian saling mengejek dan mendiskusikan rencana rumah baru, dan Ethan dan Kate menginterogasiku dengan pertanyaan tentang bulan madu kami. Christian tetap memegang tanganku, jemarinya memainkan cincin pernikahanku.

"Jadi jika kau bisa menyelesaikan rencana itu dengan Gia, aku punya jangka waktu September hingga pertengahan November dan membawa semua kru untuk menyelesaikannya," kata Elliot saat ia merengang badan dan menaruh lengan di sekitar bahu Kate, membuat Kate tersenyum.

"Gia akan datang untuk mendiskusikan rencana itu besok malam," balas Christian. "Aku harap kami bisa menyelesaikannya saat itu." Ia berbalik dan menatap penuh harap padaku.

Oh...ini berita baru.

"Tentu." Aku tersenyum padanya, sebagian besar untuk kebaikan keluarganya, tapi semangatku tenggelam lagi. Mengapa ia mengambil keputusan tanpa memberitahuku? Atau ini karena aku memikirkan Gia - pinggul yang menggoda, payudara yang penuh, pakaian dari perancang mahal, dan parfum - tersenyum terlalu profokatif kepada suamiku? Bawah sadarku menatap garang padaku. Christian tak memberikanmu alasan untuk cemburu. Sial, aku sangat labil hari ini. Apa yang terjadi padaku?

"Ana," panggil Kate, menarikku keluar dari khayalanku. "Kau masih di Perancis selatan?"

"Ya," aku membalas dengan senyuman.

"Kau terlihat sangat baik," katanya, meskipun ia menegang saat mengatakannya.

"Kalian berdua terlihat sangat baik." Grace berseri saat Elliot mengisi gelas kami.

"Untuk pasangan yang berbahagia." Carrick tersenyum lebar dan mengangkat gelasnya, dan semua orang disekeliling meja mengulangi pernyataan itu.

"Dan selamat untuk Ethan yang berhasil masuk ke program studi psikologi di Seattle," teriak Mia bangga. Gadis itu memberinya senyuman menggoda, dan Ethan tersenyum lebar padanya. Aku berpikir apakah ia sudah membuat langkah maju dengan Ethan. Sulit dikatakan.

Aku mendengarkan senda gurau disekeliling meja. Christian menceritakan perjalanan kami selama tiga minggu, memberi tambahan di sana sini. Ia terdengan santai dan terkontrol, kekhawatiran akan pelaku pembakaran terhapuskan. Aku, disisi lain, tidak bisa mengubah moodku. Aku mengambil makananku. Christian mengatakan aku gemuk kemarin. Ia bercanda! Bawah sadarku menatap galak padaku lagi. Elliot tak sengaja menjatuhkan gelasnya, mengejutkan semua orang, dan ada kepanikan kecil untuk membersihkannya.

"Aku akan membawamu ke rumah kapal dan menampar pantatmu disana jika kau tidak menghapus mood jelekmu," Christian berbisik padaku.

Aku tersentak, berbalik, dan menatapnya. Apa? Apakah ia menggodaku?

"Kau tak akan berani!" Aku mengerang padanya dan dari dalam aku merasakan kegembiraan yang familiar. Ia menaikkan satu alisnya padaku. Tentu saja ia berani. Aku menatap kearah Kate di seberang meja. Dia memperhatikan kami. Aku kembali ke Christian, memicingkan mataku padanya.

"Kau harus menangkapku lebih dulu - dan aku sedang menggunakan sepatu rata," desisku.

"Aku akan sangat senang melakukannya," bisiknya dengan senyuman cabul, dan aku rasa ia bercanda. Aku merona. Anehnya, merasa lebih baik.

Saat kami menyelesaikan makan makanan penutup strawberry dan krim, hujan turun tiba-tiba dan membasahi kami. Kami semua bangkit untuk membawa piring dan gelas dari meja, menaruhnya di dapur.

"Hal baiknya adalah cuaca menahan diri hingga kita selesai," kata Grace merasa puas, saat kami kembali ke ruang belakang. Christian duduk dikursi piano hitam yang mengkilat, mengijak pedal, dan mulai memainkan nada familiar yang aku tak bisa kenali.

Grace menanyakan padaku tentang pendapatku mengenai Saint Paul de Vence. Dia dan Carrick pergi kesana di bulan madu mereka, dan itu membuatku memikirkan firasat baik, melihat betapa bahagianya mereka sekarang. Kate dan Elliot bercengkrama di salah satu sofa yang besar saat Ethan, Mia dan Carrick sedang mengobrol tentang psikologi, kurasa.

Tiba-tiba, seluruh keluarga Grey berhenti berbicara dan menatap Christian.

Apa?

Christian bernyanyi pelan untuk dirinya sendiri di depan piano. Keheningan meliputi kami semua saat kami memutuskan untuk mendengar suaranya yang lembut. Aku sudah pernah mendengarnya bernyanyi, bukan? Ia berhenti, tiba-tiba penasaran akan keheningan yang terjadi di ruangan itu. Kate menatap penasaran kearahku dan aku mengangkat bahuku. Christian kembali duduk dan membeku, malu menyadari bahwa ia menjadi pusat perhatian.

"Lanjutkan," desak Grace lembut. "Aku belum pernah mendengarmu bernyanyi, Christian. Sekalipun." Ia menatapnya penasaran. Christian duduk, menatap ibunya, dan setelah sedetik, ia mengangkat bahunya. Matanya melirik gugup padaku, kemudian ke jendela. Tiba-tiba ruangan menjadi penuh dengan obrolan penasaran, dan aku menonton suamiku tercinta.

Grace mengejutkanku, memegang tanganku kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

"Oh, sayang! Terima kasih, terima kasih," bisiknya, jadi hanya aku yang pernah mendengar dia bernyanyi. Hal itu membuat jantungku naik ke tenggorokkan.

"Um.." Aku balas memeluknya, tak habis pikir mengapa ia berterima kasih. Grace tersenyum, matanya berbinar, dan mencium pipiku. Oh my... apa yang sudah aku lakukan?

"Aku akan membuat teh," katanya, suaranya serak karena air mata yang tak menetes.

Aku menghampiri Christian yang sekarang berdiri, menatap keluar melewati jendela.

"Hai," Aku menggumam.

"Hai." Ia menaruh tangannya disekeliling pinggangku, menarikku kearahnya, dan aku memasukan tanganku ke dalam kantung celana jeansnya. Kami menatap hujan.

"Merasa lebih baik?"

Aku mengangguk.

"Baik."

"Kau tahu bagaimana membuat ruangan menjadi tenang."

"Aku melakukan itu setiap saat," katanya dan ia tersenyum lebar padaku.

"Di tempat kerja, ya, tapi tidak disini."

"Benar, tidak disini."

"Tak ada yang pernah mendengarmu bernyanyi? Sekalipun?"

"Sepertinya tidak," katanya. "Kita pergi sekarang?"

Aku menatapnya, mencoba menebak moodnya. Matanya lembut dan hangat dan sedikit senang. Aku memutuskan untuk mengganti topik.

"Kau akan menampar pantatku?" aku berbisik, dan tiba-tiba ada kupu-kupu di perutku. Mungkin inilah yang aku butuhkan...inilah yang aku rindukan.

Ia menatapku, matanya semakin gelap.

"Aku tak ingin menyakitimu, tapi aku senang bermain."

Aku menatap gugup ke sekeliling ruangan, tapi kami jauh dari pendengaran.

"Hanya jika kau nakal, Mrs. Grey." Ia merunduk dan menggumam di terlingaku.

Bagaimana ia bisa memberikan efek janji yang sensual kedalam enam kata sederhana?

"Akan kulihat apa yang bisa aku lakukan." Aku tersenyum lebar.

Setelah kami berpamitan, kami berjalan kearah mobil.

"Ini." Christian melemparkan kunci R8 padaku. "Jangan dirusak" - tambahnya dengan serius - "atau akan akan sangat marah."

Mulutku menjadi kering. Ia membiarkanku mengemudikan mobilnya? Dewi batinku melompat dalam balutan sarung tangan kulit mengemudinya dan sepatu flat. Oh ya! teriaknya.

"Apa kau yakin?" aku bertanya, terpaku.

"Ya, sebelum aku berubah pikiran."

Aku rasa aku tak pernah tersenyum selebar  ini. Ia memutar matanya dan membuka pintu pengemudi sehingga aku bisa masuk. Aku menyalakan mesinnya bahkan sebelum ia duduk di kursi penumpang, dan ia masuk dengan cepat.

"Tak sabar, Mrs. Grey?" tanyanya dengan senyuman kecut.

"Sangat."

Perlahan, aku menjalankan mobilnya dan membelokannya ke jalan. Aku berusaha untuk tidak membuatnya mogok, mengejutkan diriku sendiri. Boy, koplingnya sensitif. Dengan hari-hati menjalankan mobil, aku melirik ke spion dalam dan melihat Sawyer dan Ryan naik ke dalam Audi SUV. Aku tak tahu para pengawal itu mengikuti kita ke sini. Aku berhenti sebelum aku masuk ke jalan utama.

"Kau yakin soal ini?"

"Ya," kata Christian mengatakannya dengan tegang, membuatku berpikir ia tak yakin soal ini. Oh, Fifty-ku yang malang. Aku ingin menertawai dirinya dan diriku sendiri karena aku merasa gugup dan bersemangat. Sebagian kecil dari diriku ingin agar Sawyer dan Ryan tertinggal jauh dibelakang hanya untuk bersenang-senang. Aku melihat lalu lintasnya kemudian membawa R8 masuk ke jalan. Christian duduk dengan tegang dan aku tak bisa menahan diri. Jalanan sepi. Aku menginjak pedal gas dan kami meluncur maju dengan cepat.

"Whoa! Ana!" teriak Christian. "Pelan - kau akan membunuh kita berdua."

Aku dengan segera menurunkan kecepatan. Wow, mobil ini bisa ngebut!

"Maaf," aku menggumam, mencoba untuk terdengar menyesal tapi gagal total. Christian tersenyum lebar padaku, untuk menyembunyikan rasa leganya, ku pikir.

"Well, itu terhitung sebagai tindakan nakal," katanya dengan biasa dan aku melambatkan mobil.

Aku menatap di kaca spion dalam. Tak ada tanda-tanda Audi, hanya sebuah mobil gelap dengan kaca yang juga gelap mengikuti dibelakang kami. Kupikir Sawyer dan Ryan bingung, panik untuk mengejar kami, dan untuk alasan tertentu ini membuatku senang. Tapi karena tak ingin membuat suamiku terkena serangan jantung, kuputuskan untuk menjaga sikap dan mengemudi dengan pelan dan percaya diri kearah jembatan 520.

Tiba-tiba, Christian menyumpah dan kesulitan untuk mengeluarkan BlackBerry-nya dari kantong jeansnya.

"Apa?" bentaknya marah pada siapapun yang berada di ujung telpon. "Tidak." katanya dan melirik kebelakang kami. "Ya. Dia."

Aku dengan cepat melirik spion, tapi tak melihat hal aneh, hanya beberapa mobil dibelakang kami. SUV di belakang empat mobil, dan kami bergerak dalam kecepatan sama.

"Aku mengerti." Christian mendesah panjang dan keras dan menggosok dahinya dengan jarinya, tensi terpancar dari dalam dirinya. Ada sesuatu yang salah.

"Ya...Aku tak tahu." Ia melirikku dan menurunkan telepon dari telinganya. "Kita baik-baik saja. Tetap mengemudi," katanya tenang, tersenyum padaku, tapi senyuman itu tak menyentuh matanya. Sial! Adrenalinku mulai meningkat. Ia mengangkat telepon lagi.

"Okay di 520. Sesaat setelah kami sampai... Ya.. Pasti."

Ia menaruh teleponnya ke tempat speaker, memasangnya di hands-free.

"Apa yang terjadi, Christian?"

"Perhatikan jalan, sayang," katanya lembut.

Aku bergerak ke arah 520. Saat aku melirik Christian, ia menatap lurus kedepan.

"Aku tak ingin kau panik," katanya tenang. "Tapi segera setelah kita masuk ke jalan 520, aku ingin kau menginjak gas lebih dalam. Kita sedang diikuti."

***

Penerjemah: +Helda Ayu
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

36 comments

trims ya baby girl *peluk*
mas mimin tengkyu yaa...

maacih mas mimin n mbak helda..

Wow Christian-Ana, pencerah senin malam *.*
Thanks mba helda n mas yudi... :*

akhirnya yang ditunggu-tunggu
thx mas mimin, mba helda :*

°•♥°τhαnк чöü°♥•° om yudi n mba helda..

Slalu nanggung dah,bnr2 bkn frustasi ni.. :'(

Buka PN bkn aq lupa klo lg skit ni...

*om yudi,nambah SWTD ya..*smbl colek2 n ngedip2 om yudi..

suami kuuuu.....hihihihi
maacih mbak helda dan mas yudi.

OmG, lagi dooooonk :-*

Aaakkkk,,hmpiirrrr lupa sm Abang Christian gr2 Ayang Mikail,,xixixi..
Mksh Heldaaa n Mas Yudiii...
;D

peluk cium buat mas admin....

trims mba heldya n mas admin....lnjutttt

Makasih mbak helda.. mr grey so sweet... tambah jatuh cinta padanya.. thanks alot mas yudi.. ^^

How are you mr.grey ???
Thank you so much kak +helda and mas +yudi !!!!

menegangkan..
tq helda n mas yudi.
berpelukan..

Keren, tMbah bikin penasaran ....

Thks m santhy & Mas Mimin

wuah.....my christian back........
peluk cium mbak Helda dan Mas Yudi...
akhirnya, ampe berkali-kali kubaca cerita sebelumnya hanya karena terlalu merindukan dia.....

Makasi mas mimin buat editannya~
Enjooyyyy all~~~ :D

saking pensaran ma lanjutan'y ne, brusan aq brusha bca lanjutan'y via pdf.. Dan wow.. Menegangkan *.* #g' maksud spoiler
Tp ttp lebh seru yg terjemhan, soal'y ne mata jereng bca yg english :D
Di tunggu lanjutan'y mba helda n mas yudi..
sya sngat me'apresiasi terjemhan mu mba helda.. Baguuuuuuuuus!
*peluk mba helda*

maaf.. ngg bisa ikut komen...
lagi konsen baca dulu.. maaf yaa..

kereeeeen permusuhan terbuka sdh dimulai..tks mas admin

huahhhhh... mbak helda... makasih ya, seneng banget deh waktu liat ada FSF bab 5a. selama baca nya, selama itu pula senyum-senyum gak karuan. hihihi... love you mbak :D

mamas juga nih top banget deh, thank ya mas yudi... :)

whoaaaahh!!
Dag Dig Dug DWEEEERR..... xxD

aaaaakk.. tegang sumpah >,<

alurnya ga nyantai dari suasana soft nyaman n damai keluarga harmonis langsung brubah jd ketegangan^^'
kereeeen~~~~

mkasii mba helda n om yudi :*

semangaaaatt.... xD

Mksih mbak helda..:D

Ouch.. Menegangkn..x_x

Ciayo mbak translate na..:D

D tnggu next chap na..:D>.<

yah rada curiga sama berat badan ana yg bertambah udah mulai hamil kali ya hehe
Ecie mas grey udah mulai mw terbuka sedikit2 sm keluarganya

Dan mulai deh ketegangan nya lg... Mana si ana yg nyetir lg...

Thanks mba helda n mas yudi

aaaaaaaa makin seru ceritanya
cepetan dipost ya min part selanjutnya

Makasih mas mimin, mba helda...

tanks mas ... crta nya memuaskan stlah bbrapa hari nunngu skarangd di kasih yang wow panjang gila !!
tanks mas hhhe

maksih mb helda n mas mimin..menemani siang hari ini..

ditunggu bab berikutnya...

thanks mb helda dan mas Yudi,
heheeh
wissss
Mr. and Mrs. Grey maen kejar" ya???
buat ngelabuhi pengintainya,,,,
kekekeke

Ana, saatnya kau tunjukkan bakat pembalap mu ngebuuuuuuuut......
Aduh gak sabar liat tampang mr grey
trims mbak helda n bang minmin

Ana, saatnya kau tunjukkan bakat pembalap mu ngebuuuuuuuut......
Aduh gak sabar liat tampang mr grey
trims mbak helda n bang minmin

ada yg ngikutin pasangan pengantin baru??ngebutttt mrs grey...

baca novelnya ja deg2an n kadang senyum2 sendiri palagi nonton film nya yaa...
semoga thn depan bisa dirilis di indo...mr grey nya : Ian Somerhalder
Thanks mas admin n mba helda
succes ya...

^_^

Kyaaaa, suka bgt sama pasangan Mr. & Mrs. Grey ini ..
They're so sweeetttt ... >.<

Dear Admin,

Knp ketika saya buka yg bab 5b, tp yg kebuka bab 5a yaa.. bs tlng bantuannya

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top