19

fiy-thumb
Minggu depannya, aku tidak melihat Max, aku bicara sekali dengannya, ketika Kevin memintaku untuk menghubungkannya dengan Max ditelpon.

Jacqueline menelpon setiap hari untuk bertanya apakah aku mendengar sesuatu tentang dia yang akan mendapatkan peran di film itu. Kevin meyakinkannya bahwa menunggu adalah wajar, dan hari kamis dia sudah memerintahkanku untuk memberitahu Jacqueline bahwa Kevin berada di sebuah rapat, yang berarti aku harus mengambil alih tugas menghibur dan meyakinkannya.

Satu malam, sesudah makan dan minum lebih dari segelas anggur, aku bercerita kepada Krystal tentang pertemuanku dengan Max.

“Max Dalton?”

“Ya.”

“Siapa dia?”

Aku tertawa, "Aku tak tahu siapa dia sebelumnya, sampai aku mencari tahu. Dan ini terjadi setelah aku bertemu dengannya, ” Aku menceritakan semuanya tentang rapat itu.

“Oh, ya aku tahu filmnya, ya ampun, aku hanya tidak tahu namanya.”

Mayoritas kita seperti itu. Menurut Kevin, dan dikonfirmasi oleh pengalamanku sendiri, orang jarang tahu penulis dan produser, kecuali untuk beberapa nama besar.

“Dan,” aku berkata “bagian terburuknya adalah, dia sangat tampan dan seksi.”

“Kenapa itu menjadi bagian terburuknya?”

“Karena, aku harus bekerja dengannya dan aku tidak bisa fokus ketika dia ada didekatku atau ketika dia ada di telpon."

Krystal meneguk minumannya dan menggelengkan kepalanya. “Kau di Hollywood, sayang. Bersiaplah untuk terpesona oleh banyak orang.”

***

Krystal menelpon ke kantor pada hari jumat sore. “Ayo ke Vegas!”

“Apa? kapan?”

“Akhir pekan ini.”

Aku tidak siap untuk bepergian kemanapun, apalagi ke Vegas, “ Untuk apa?”

“Untuk apa? Ini Vegas sayang! Kita tidak butuh alasan apapun. Tapi jika kau membutuhkan alasan, ini bagus untuk merayakan sebulan pertamamu bekerja pada the biz (bisnis hiburan)."

Krystal adalah satu-satunya orang yang aku kenal yang menyebut dunia hiburan dengan “the Biz.” Itu membuatku bertanya-tanya apakah dia berusaha terlalu keras. Mungkin itu sebabnya ia tidak bisa mendapatkan representasi.

Aku melihat jam di komputerku – 4.16 “Kedengarannya bagus, pertama-tama kupikir aku tak punya pakaian khusus ke Vegas, dan – “

“Oke, kau mencari-cari alasan untuk tidak pergi, tapi kau akan pergi.”

“Kata siapa?”

Suaranya menggema, seperti pada saat dia berjalan kekamar mandi. “kataku. Ini adalah bagian inisiasi. Ayolah ini hanya dua hari.  Percayalah, kau tak akan menyesalinya."

Hening, akhirnya aku memikirkan sesuatu. ”Siapa saja yang pergi?”

“Hanya kau dan aku.”

Aku senang, ketika mendengar Marco tidak ikut. Ada sesuatu pada laki-laki itu yang tidak aku sukai, seperti cara dia menatap Krystal, cara dia menatapku, ketika Krystal meninggalkan kamar. Dia tak banyak bicara. Tapi dia suka menatap dalam-dalam, itu sangat mengganggu, aku tak tahu, apa yang Krystal lihat pada diri Marco, dan aku tak akan bertanya, itu bukan urusanku.

Dia semakin membujukku. ”Aku akan membayar biaya bensin dan semua hal lainnya, serahkan padaku.”

"Kau tak perlu melakukan itu."

"Aku tahu aku tak perlu. Tapi aku mau."

"Baiklah," kataku. "Kapan kau ingin pergi?"

***

Pada pukul sembilan malam itu, kami sudah menyetir dua jam dari sekitar empat jam perjalanan menuju Vegas. Cuacanya bagus, dan sedikit macet, meskipun kami terjebak di belakang sebuah RV di suatu tempat di Nevada yang memperlambat kami.

“Bagaimana kabar Grace?” Krystal bertanya.

Ini membuatku sadar, aku sudah tidak berbicara dengannya sekitar seminggu, suatu rekor bagi kami. Aku sangat sibuk dan tidak sempat menelponnya. Dan tentu saja, dia juga tidak menelponku, jadi aku tidak merasa bersalah. Dua jalan yang berbeda, hanya itu.

“Kukira dia baik-baik saja,” Jawabku.

“Kau kira?”

Aku menjelaskan bagaimana aku tidak menelpon Grace akhir-akhir ini.

Krystal mengecilkan suara stereo. “Kupikir dia akan suka disini.”

“Ha, aku meragukan itu.”

“Aku tahu, maksudku, jika dia diberikan kesempatan, jika dia diberikan sedikit kesempatan.”

Yang kami bicarakan adalah kakak perempuanku, dan nada bicara Krystal sedikit negatif sarkastis jadi aku hanya mengangkat bahu dan berkata, "Ya."

Apa yang coba dia katakan adalah, kakakku telah mengambil rute yang sama dengan ibuku, menikah muda, punya anak dua, dan menjadi ibu rumah tangga, tak ada ambisi lain di luar hal-hal itu. Jujur, aku menghormati itu. Aku hanya berharap Grace bisa melihat dunia sebelum dia menetap. Dia hanya dua tahun lebih tua dariku, tapi dia bertindak seperti dia berumur tiga puluh tahun. Dia bertindak seperti ibuku. Dan melihat bagaimana aku sudah punya dua orang tua yang ingin membuat setiap keputusan untuk hidupku, hal terakhir yang aku butuhkan adalah yang orang tua yang ketiga.

Dan, sungguh, ia seharusnya tahu itu. Tekanan untuk menjadi Mrs. Chris Cooper adalah seperti sesak napas yang terjadi secara lambat dan konstan. Beberapa kali setelah aku putus dengan dia, ibuku telah mendesakku untuk menumpahkan seluruh kebenaran tentang apa yang telah dilakukan Chris. Apa yang menghentikanku dari melakukan hal itu adalah perasaan bahwa itu hanya akan membuat mereka lebih protektif terhadapku. Dan dengan kota yang sekecil itu, ada setiap kesempatan di mana dunia akan mendengar ceritaku, dan orang-orang tidak akan percaya padaku. Sebaliknya, mereka akan bersatu di belakang Chris Cooper, seorang jemaat gereja Amerika, dan mantan gelandang dari tim yang dua kali juara football di SMA. Satu-satunya pilihanku adalah untuk tetap menunduk dan pergi saja.

"Oh, well," Krystal berkata. "Dia yang rugi."

"Ya."

Percakapan itu tidak akan semakin jauh bahkan jika aku berusaha menghentikannya, karena tak lama kemudian kita melihat lampu-lampu Vegas dan orang-orang seperti memberi isyarat untuk datang ke sana. Aku sangat gembira.

***

Kami tiba di hotel, menyerahkan kunci mobil ke valet, dan masuk kedalam, yang hanya bisa aku gambarkan sebagai sensory overload.

Cahaya, musik, denting mesin permainan, berdengung, bersenandung dan berdering. Orang dimana-mana. Orang-orang yang terlihat sedih. Orang-orang yang mencari kegembiraan. Orang-orang tampak seperti kesurupan. Aku pasti bagian dari kelompok terakhir.

Kami langsung ke kamar, menyegarkan diri, dan berpakaian untuk malam pertama kami di Vegas. Aku punya gaun hitam favoritku, heels hitam, anting bulat dari perak, dan kalung perak dengan liontin anggrek Gehry - hadiah dari ibuku.

“Aku tidak terlihat seperti pelacur, kan?" Kata Krystal.

Aku menjulurkan kepalaku keluar dari kamar mandi, sambil memakai anting-anting. " Tentu saja tidak, kau terlihat seksi."

Aku melihat diriku lagi di cermin. Aku benar-benar merasa agak seksi.

Kami turun ke kasino pada tengah malam. Ini sudah menjadi lebih sibuk dalam waktu yang relatif singkat ketika kami berada di lantai atas.

"Ini adalah ketika Vegas benar-benar akan dimulai," kata Krystal padaku saat kami keluar lift.

Sementara dia bersikeras membayar semuanya, aku tidak akan membiarkan dia memberiku uang untuk berjudi. Aku menghargai dia membayar tagihan untuk tempat kami menginap tapi tidak untuk berjudi. Aku merasa lebih nyaman kehilangan uangku sendiri.

Dan dalam waktu singkat. Roda rolet telah mengisapku dan mengambil anggaran perjudianku untuk malam ini. Setelah itu, aku hanya minum tiga gelas anggur dan melihat orang-orang, dan pada akhirnya memang sangat menarik hiburan di tempat seperti Las Vegas.

Orang terakhir yang aku ingin lihat adalah Max, tapi dia di sana, berdiri di dekat meja permainan craps, terlihat menakjubkan, tentu saja. Dia memiliki janggut yang sepertinya tidak bercukur selama dua hari tapi selain itu wajah halus, dan ia mengenakan celana panjang hitam, blazer hitam, dan kemeja biru, tanpa dasi. Dia tampak lebih tinggi dari kupikir saat ini. Mungkin itu hanya kontras frame yang kuat di samping setengah lusin atau lebih orang lain. Dan wanita. Siapa yang bisa melupakan wanita? Mereka semua pirang, dan mereka semua tergantung pada dirinya diantara guliran dadu.

Aku memikirkan kembali pertanyaan Krystal apakah dia tampak seperti pelacur dan menyadari, aku tidak perlu khawatir. Wanita-wanita ini tampak lebih dari pelacur. Mungkin itulah mereka. Perkiraanku tentang Max tiba-tiba jatuh sedikit.

Aku berdiri di sana mungkin selama lima menit, menonton, dan kemudian Krystal muncul di sampingku.

"Sialan blackjack. Ini curang!"

Tanpa berhenti menatap Max, aku berkata, "Kalah besar, ya?"

"Yup. Aku biasanya lebih baik di... apa yang kau lihat?"

"Bukan apa," kataku. "Siapa."

"Oke. Siapa." Dia berbalik untuk berdiri disampingku dan melihat kearah yang aku tunjuk. "Dia hot."

"Sudah kubilang. Itulah Max Dalton. "

Krystal memegang gelas anggur miring di mulutnya. "Oh, wow."

"Ya. Wow saja tidaklah cukup."

"Lihatlah pelacur-pelacur tak tahu malu itu di sekelilingnya."

Sekarang, sudah cukup banyak yang aku lihat. Beberapa dari mereka tampaknya melangkah terlalu jauh hingga sepertinya akan menjatuhkan gaun mereka di sana di kasino terbuka dan membiarkan dia melakukan apapun pada mereka.

"Mari kita pergi ke tempat lain," kataku.

Krystal mulai mengatakan sesuatu tentang permainan yang disebut Keno ketika aku melihat Max sekali lagi. Seharusnya tidak kulakukan. Dan aku tidak akan bertatapan dengannya, dan dia tidak akan melambaikan tangannya kearahku.

"Oh, tidak," kataku pelan.

"Itu tidak harus permainan Keno. Kita bisa menemukan...-"

"Tidak," kataku. "Dia melihatku."

Krystal memandang ke seberang ke arah Max. "Dia memanggilmu kesana."

Aku tahu aku seharusnya datang. Kami memiliki bisnis dengannya dan mengabaikan dia bukan keputusan bisnis yang cerdas. Banyak yang tergantung dengan keputusannya mengenai apakah Jacqueline akan mendapatkan peran atau tidak.

"Pergilah!" Krystal mendorongku. "Aku ingin melihat tampang  cewek-cewek itu ketika kau sampai di sana."

Aku menatapnya. "Terima kasih banyak."

Dia tersenyum dan berkata, "Kau selalu dapat mengandalkanku untuk memberi dukungan."

Saat aku mulai berjalan menuju Max, itu seperti seseorang telah menurunkan volume suara se isi kasino. Mataku tertuju pada dirinya. Itu adalah pengalaman pertamaku. Aku melalui kerumunan wanita di sekelilingnya. Mereka enggan untuk memberikanku jalan sampai Max mengulurkan tangannya dan aku mengulurkan tangan untuk meraihnya.

"Halo, Olivia."

"Mr. Max. Maksudku, hai, Max. Maaf. Kau mengatakan kepadaku untuk tidak memanggil Mr Dalton, dan aku..." Ya Tuhan, betapa memalukan. Aku terdengar begitu bodoh, aku bahkan tidak menyelesaikan kalimatnya. Aku memutuskan untuk hanya diam.

"Sebenarnya, aku lebih senang di panggil Mr. Max."

Aku menghargai humornya. Ini membuatku nyaman sedikit.

"Apa yang kau minum?"

"Anggur. Chardonnay."

Ia melambai ke pelayan dan menyuruhnya untuk membawa Chardonnay. "Dan satu White Russian untukku."

Pelayan berkata, "Ya, Sir," dan ketika ia berjalan pergi Max berbalik kearahku.

"Terima kasih," kataku.

"Olivia, kau tahu tentang permainan craps?"

Aku menatap meja yang membingungkan, kemudian naik ke bandar. Aku tak pernah bermain craps dan tidak mungkin akan tahu caranya dalam dua detik, terutama dengan anggur yang menjelajah melalui aliran darahku dan suhu yang naik ketika berada di situasi ini.

"Aku akan menganggap itu sebagai jawaban tidak," kata Max.

"Kau benar."

"Tidak masalah." Dia ke meja dan mengambil dadu. "Lagipula, Kau di sini hanyalah untuk keberuntunganku."

"Aku tidak yakin aku tipe keberuntungan yang kau inginkan." Aku berhenti dengan singkat dan mengatakan bahwa aku telah kehilangan anggaran judi di bawah tiga puluh menit.

Max menatapku dari atas dan ke bawah, kemudian naik lagi. "Kurasa kau persis seperti apa yang kuinginkan."

Wajahku memerah. Aku merasa panas menjalar mulai dari dadaku dan naik sampai keleherku. Apa yang aku butuhkan setelah mendengar itu adalah segelas air dingin. Tidak untuk diminum, tapi untuk menyiram wajahku dan membangunkanku dari pengalaman yang aneh.

Pelayan kembali dengan minuman kami. Max menaruh uang seratus dolar pada nampan dan mengucapkan terima kasih. Dia menyodorkan segelas anggur, mengangkat gelas White Russian-nya dan berkata, "Untuk Vegas." Kami mendentingkan gelas kami bersama-sama, dan saat aku menyesap anggur aku membiarkan mataku berkeliaran di kerumunan di sekitar kami. Para wanita pasti tidak menyukai apa yang mereka lihat. Aku membayangkan beberapa dari mereka telah menghabiskan beberapa jam menempel padanya seperti perban, dan di sini aku, seorang gadis yang bagi mereka tampaknya datang entah dari mana, dan sekarang adalah obyek rayuan Max. Merayu dengan intens. Mungkin lebih dari itu....

Dia mengangkat genggaman tangannya di antara wajah kami dan membuka jari-jarinya, menunjukkan dadunya. "Tiuplah ini."

Alis didahiku terangkat. Tidak perlu pikiran kotor untuk paham dengan segala macam interpretasi cabul tentang kata-katanya, tapi itu bukan maksud kata-katanya. Itu adalah apa yang dia katakan. Ada nada memerintah, yang disampaikan dengan resonansi mendalam dari suaranya sangat jantan.

"Ayo lakukan," desaknya saat aku ragu-ragu.

Dia mengangkat tangannya dekat ke wajahku. Aku menarik napas tajam, kemudian meniup dadu, dan sepersekian detik kemudian ia meluncurkannya ke atas meja. Ketika dadu itu akhirnya berhenti, aku melihat bahwa masing-masing telah mendarat pada angka dua.

“Hard way four.” bandar berkata, dan meraup dadu.

Orang-orang di sekitar kita bersorak. Max menatapku. "Kerja yang bagus."

"Itu bagus, kukira?"

***

Selama lima belas menit berikutnya, ia mencoba menjelaskan permainan itu padaku. Aku hanya paham sangat sedikit. Tapi Max sangat baik. Pada saat aku berdiri di sampingnya, ia telah memenangkan lima puluh ribu dolar. Itu hanya salah satu aspek tambahan pada malam itu yang membuat kepalaku berputar.

Krystal telah berada di kerumunan, dan ketika kami berhenti bermain aku memperkenalkannya kepada Max.

"Krystal, senang bertemu dengan Anda. Max Dalton. "

Dia tersenyum ketika mereka berjabat tangan. "Saya adalah penggemar dari karya Anda."

"Terima kasih."

Ini adalah bagian di mana kupikir Krystal akan memberi isyarat halus - atau mungkin tidak begitu halus - petunjuk bahwa ia adalah seorang aktris, tapi itu tidak dia lakukan.

Jadi aku yang melakukannya. Tapi dia menghentikanku sebelum aku terlalu jauh. "Aku akan meninggalkan kalian berdua," katanya tiba-tiba. "Mr. Dalton, senang rasanya benar-benar bertemu Anda." Ketika dia menatapku, aku melihat bahwa dia benar-benar seperti tidak nyaman. "Aku akan menunggu dikamar. Atau ... terserah. Selamat bersenang-senang!"

Dan dengan itu, ia pergi ke tempat lain di kasino, meninggalkanku berdiri bersama Max, bertanya-tanya apa yang  harus aku lakukan sekarang.

***

Penerjemah:
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

19 comments

Makasih mb Yana,peluk kecup dr jauh
Makasih Mas Yudi... Brb baca akh

◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mas yud
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mb yana

Bang yudi posting yg beautiful disasternya juga dong. Pnsran banget gw bacanya... Kmrn kan udah libur 3 malam

makasih mbak yana and mas mimin. :D *big hug and kiss*

Udah baca epubNya tpi msih separoh,,,agak2 bermasalah soalNya englishQ G bgitu bagus...
Makasih Mbak yana, N mas Yudi...
Kyle and MonicaNya translate Tonight donk...
i'l wait yach ~^O^~

makasih bwt postingannya... akhirnya, bs baca lanjutannya lagi. seru-seru...

Wah...tambah lagi dunk, masa cuma 1 hehe... :)

makasih mb yana mas mimin..
akhirnya bsa baca d pornov lge..
*abs vakum 4 hari*

penasaran ma lanjutanx..

Makasih mas mimin, makasih mb yana *peluk*

trms mas admn n mba yana...tp mlam ne cma postng 1 kah??? tmbh lg dnk

Hahaha,,Unyuuu bgtz sih mrk..
Mksh Mba Yana n Mas Yudi...

makasih para translator ^^
aaaa mad admin juga deh ^^
seneng diupdate lagi ^^
aku selalu menunggu cerita nya ^^
semangat yaa

Cuma 1 kah yg diposting? (⌣́_⌣̀)

Btw makasih ya angel trans yg cuantiiik n mas yudiii yg cakeeepp
Hehehe

†ђąηk ўσυ mas yudi n mba Yana

✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Yana & mas Yudi.. Kya Πγª klanjutan Πγª Ʊϑɑ̤̈̊ħ mulai pegang kipas2 dech... =DH̶̲̥̅̊α̩̩̩̩̥ά̲̣̥α̇̇̇..h̶̲̥̅̊α̇̇̇ɑ̤̥̈̊α̣̣̥..​​​​H̶̲̥̅̊α̩̩̩̩̥ά̲̣̥α̇̇̇ɑ̤̥̈̊=D

Arrrrgggghhhhhhh baru sempat baca.....
Jangan lama" kelanjutannya
Makasih mas yudi dan mbak Yana :)

my beloved translator.. thank you so much...
hug and kiss.. muach...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top