36

bd-thumb
JANJI

Finch menggelengkan kepalanya. “Jadi, kau bersama Parker atau Travis? Aku bingung.”

“Parker tidak mau bicara denganku, jadi seperti mengambang di udara saat ini,” aku berkata sambil memantulkan tubuhku untuk membetulkan posisi tas ranselku.

Dia menghembuskan asap rokok, lalu mengeluarkan sepotong kecil tembakau dari yang menempel di lidahnya. “Jadi kau bersama Travis?”

“Kami hanya teman, Finch.”

“kau sadar kan semua orang berpikir bahwa kalian berdua mempunyai semacam hubungan teman-tapi-mesra yang tidak kau akui?”

“Aku tidak peduli. Mereka bisa berpikir apa saja yang mereka mau.”

“Sejak kapan? Apa yang terjadi dengan Abby yang gugup, misterius, dan selalu berhati-hati yang aku tahu dan sayangi?”

“Dia telah mati akibat stress karena semua gosip dan asumsi yang ada.”

“Sayang sekali. Aku akan merindukan menertawakan dirinya.”

Aku memukul lengan Finch, dan dia pun tertawa. “Bagus. Sudah waktunya kau berhenti berpura-pura.” dia berkata.

“Maksudmu apa?”

“Sayang, kau sedang bicara dengan orang yang hampir seumur hidupnya berpura-pura. Aku dapat mengenalimu dari jauh.”

“Apa yang kau maksud, Finch? Bahwa aku diam-diam menyukai sesama jenis?”

“Bukan, bahwa kau menyembunyikan sesuatu. Wanita yang memakai cardigan, pendiam, dan pergi ke restoran mewah saat bersama Parker Hayes…itu bukan dirimu. Entah itu kau penari telanjang dari kota kecil atau kau pernah masuk klinik rehab. Tebakanku sih yang terakhir.”

Aku tertawa terbahak-bahak. “Kau adalah seorang tukang tebak yang payah.”

“Jadi, apa rahasiamu?”

“Kalau aku memberitahumu, namanya bukan rahasia, ya kan?”

Wajahnya dipertajam oleh seringai nakalnya. “Aku sudah memberitahumu rahasiaku, sekarang beritahu aku rahasiamu.”

“Aku tidak suka menjadi orang yang membawa kabar buruk, namun orientasi seksualmu bukanlah merupakan sebuah rahasia, Finch.”

“Sial! Padahal kupikir aku memiliki daya tarik seksual pada diriku,” dia berkata sambil menghisap rokoknya lagi.

Aku meringis sebelum aku bicara. “Apakah kau mempunyai kehidupan yang bahagia di rumah, Finch?”

“Ibuku orang yang hebat…Aku dan ayahku mempunyai banyak masalah untuk di selesaikan, tapi kami baik-baik saja saat ini.”

“Aku mempunyai Mick Abernathy sebagai ayah.”

“Siapa itu?”

Aku cekikikan. “Lihat? Itu bukan masalah besar jika kau tak tahu siapa dia.”

“Siapa dia?”

“Sebuah masalah. Suka judi, minum, dan pemarah...Itu sudah menjadi  keturunan di keluargaku. Aku dan America datang kemari agar aku dapat memulai hidup baru, tanpa membawa stigma anak dari seorang pemabuk seperti dulu.”

“Seorang mantan penjudi dari Wichita?”

“Aku lahir di Nevada. Pada saat itu, semua yang Mick sentuh selalu berubah menjadi emas. Ketika aku berumur tiga belas tahun, keberuntungannya  berubah.”

“Dan dia menyalahkanmu.”

“America mengorbankan banyak hal untuk datang kemari bersamaku agar aku dapat melarikan diri, namun saat aku tiba di sini aku bertemu dengan Travis.”

“Dan saat kau melihat Travis…”

“Semua sangat familiar.”

Finch mengangguk, membuang rokoknya ke tanah. “Sial, Abby. Itu menyebalkan.”

Aku menyipitkan mataku. “Jika kau memberitahu orang lain apa yang aku katakan padamu, aku akan memanggil mafia. Aku kenal beberapa dari mereka, kau tahu.”

“Omong kosong.”

Aku mengangkat bahu. "Percayalah semaumu."

Finch memandangku curiga lalu tersenyum. “kau adalah orang yang paling keren yang aku kenal.”

“Itu sangat menyedihkan, Finch. kau harus keluar lebih sering,” kataku, sambil berhenti di depan pintu masuk kafetaria.

Dia mengangkat daguku ke atas. “Semua akan berjalan dengan baik. Aku adalah orang yang sangat percaya pada pepatah ‘semua terjadi karena suatu alasannya’. kau datang kemari, America bertemu dengan Shep, kau tahu tentang The Circle, sesuatu tentangmu membuat dunia Travis jungkir balik. Pikirkanlah,”

Katanya sambil mendaratkan ciuman singkat di bibirku.

“Hey!” kata Travis. Dia memegang pinggangku, mengangkatku ke atas, lalu menurunkanku di belakangnya. “kau adalah orang terakhir yang aku khawatirkan akan melakukan hal itu, Finch! Yang benar saja!” dia menggodanya.

Finch mendekat ke samping Travis lalu berkedip. “Sampai nanti, Cookie.”

Ketika Travis melihat ke arahku, senyumnya menghilang. “Kenapa merengut?”

Aku menggeleng, membiarkan adrenalin mengalir. “Aku hanya tidak suka dipanggil dengan sebutan itu. Punya kenangan buruk pada nama itu.”

“Panggilan sayang dari pendeta muda-mu?”

“Bukan,” aku menggerutu.

Travis mengepalkan tinjunya. “kau ingin aku memukuli Finch? Memberikan pelajaran padanya? Aku akan mengalahkannya.”

Aku tidak bisa menahan senyum. “Jika aku ingin mengalahkan dia, aku hanya tinggal bilang kalau Prada bangkrut, dan dia akan menyelesaikan sendiri sisanya.”

Travis tertawa, mendorong pintu agar terbuka. “Ayo! Aku menjadi kurus, di sini!”

***

Kami duduk di meja yang sama, saling mengejek satu sama lain, saling cubit, menyikut tulang rusuk. Mood Travis optimis seperti saat aku kalah taruhan. Semua orang di meja kami menyadarinya, dan saat Travis memulai perang makanan denganku, hal itu menarik perhatian semua orang di sekitar meja kami.

Aku memutar mataku. “Aku merasa seperti hewan di kebun binatang.”

Travis memandangku sebentar, menyadari semua tatapan itu, lalu berdiri. “I CAN’T!” dia berteriak. Aku menatapnya terpesona saat seluruh ruangan tersentak melihat ke arahnya. Travis mengayunkan kepalanya beberapa kali mengikuti ketukan lagu di kepalanya.

Shepley menutup matanya. “Oh, tidak.”

Travis tersenyum. “get no..sa..tis..faction,” dia bernyanyi. “I can’t get no..sat-is-fac-tion. ‘Cuz I’ve tried...and I’ve tried…I’ve tried…I’ve tried…,” dia naik ke atas meja saat semua orang menatap. “I CAN’T GET NO!”

Dia menunjuk ke arah pemain football yang berada di ujung meja dan mereka tersenyum, “I CAN’T GET NO!” mereka berteriak bersamaan. Lalu, semua orang bertepuk tangan mengiringi.

Travis bernyanyi menaruh tangan didepannya, seolah-olah itu itu adalah mikrofon, “When I’m drivin’ in my car, and a man comes on the..ra-di-o…he’s tellin’ me more and more…about some useless in-for-ma-tion! Supposed to fire my im-agin-a-tion! I CAN’T GET NO!

Uh no, no, no!” dia menari melewatiku, bernyanyi ke arah mikrofon khayalannya.

Semua orang bernyanyi dalam harmoni, “HEY, HEY, HEY!”

“That’s what I’ll say!” Travis bernyanyi.

Travis menghentakkan pinggulnya, lalu suara siulan dan jeritan dari beberapa para cewek di dalam ruangan terdengar. Dia berjalan melewatiku lagi, menyanyikan chorus lagunya di bagian belakang ruangan, para pemain football menjadi pengiringnya.

“Aku akan membantumu!” seorang wanita berteriak dari belakang.

“…’cuz I tried, and I tried, and I tried…” dia bernyanyi.

“I CAN’T GET NO! I CAN’T GET NO!” penyanyi latarnya bernyanyi.

Travis berhenti di hadapanku dan membungkuk ke bawah. “When I’m watchin’ my tv…and a….man comes on and tells me…how white my shirt can be! Well he can’t be a man, ‘cause he doesn’t smoke…the same cigarettes as me! I can’t…get no! Uh no, no, no!”

Semua orang bertepuk tangan mengiringi dan para pemain football bernyanyi, “HEY, HEY, HEY!”

“That’s what I’ll say!" Travis bernyanyi, menunjuk ke arah penontonnya yang bertepuk tangan. Beberapa orang berdiri dan menari bersamanya, tapi kebanyakan hanya melihat dengan terpesona dan merasa terhibur.

Dia melompat ke meja sebelah dan America menjerit dan bertepuk tangan, menyikutku. Aku menggelengkan kepalaku; aku seperti mati dan terbangun di High School Musical.

Para pemain football menyenandungkan nada dasar, “Na, na, nanana! Na, na, na! Na, na, nanana!”

Travis mengangkat tinggi mikrofon khayalannya, “When I’m…ridin’ ‘round the world…and I’m doin’ this…and I’m signin’ that!”

Dia melompat turun, lalu mendekati wajahku melewati meja, “And I’m tryin’ to make some girl…tell me, uh baby better come back, maybe next week, ‘cuz you see I’m. On. A losin’ streak! I CAN’T GET NO! Uh no, no, no!”

Seluruh ruangan bertepuk tangan mengikuti ketukan, para pemain football meneriakkan bagiannya, “HEY, HEY, HEY!”

“I can’t get no! I can’t get no! Satis-faction!” dia bersenandung ke arahku, tersenyum dan terengah.

Satu ruangan bertepuk tangan, dan bahkan ada beberapa orang yang bersiul. Aku menggeleng setelah dia mencium dahiku, lalu dia berdiri dan membungkuk memberi hormat.

Ketika dia kembali ke tempat duduknya di depanku, dia cekikikan.

“Mereka sekarang tidak lagi menatapmu, ya kan?” dia  terengah-engah.

“Terima kasih. kau seharusnya tidak perlu melakukan itu,” aku tersenyum.

“Abs?”

Aku melihat ke atas dan melihat Parker berdiri di ujung meja. Semua mata menatap ke arahku sekali lagi.

“Kita harus bicara,” Parker berkata, terlihat gugup. Aku melihat ke arah America, Travis, lalu kembali ke arah Parker. “Aku mohon?” dia berkata, memasukkan tangannya ke dalam sakunya.

Aku mengangguk, mengikutinya ke luar. Dia berjalan melewati jendela untuk mendapat privasi di samping gedung. “Aku tidak bermaksud untuk menarik perhatian kembali padamu. Aku tahu betapa kau membencinya.”

“Maka seharusnya kau menelepon saja jika kau ingin bicara,” aku berkata.

Dia mengangguk, lalu melihat ke bawah. “Aku tidak sengaja melihatmu di kafetaria. Aku menyaksikan kegaduhan tadi, lalu melihatmu dan aku langsung masuk. Maafkan aku.”

Aku menunggu, lalu dia bicara lagi, “Aku tak tahu apa yang terjadi antara kau dan Travis. Itu bukan urusanku…Kita baru berkencan beberapa kali. Awalnya aku sempat merasa kesal namun aku kemudian menyadari bahwa itu tidak akan menggangguku jika aku tidak menyukaimu.”

“Aku tidak tidur dengannya, Parker. Dia memegangi rambutku saat aku memuntahkan segelas Petron di toiletnya. Hanya seromantis itu.”

Dia tertawa sekali. “Aku pikir kita tidak mendapat kesempatan yang adil…tidak saat kau tinggal bersama Travis. Sebenarnya, Abby, aku menyukaimu. Aku tak tahu mengapa tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan dirimu.” Aku tersenyum dan dia memegang tanganku, menyentuh gelangku dengan jarinya. “Aku mungkin menakutimu dengan hadiah bodoh ini, tapi aku belum pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Aku merasa aku selalu harus bersaing dengan Travis untuk menarik perhatianmu.”

“Kau tidak menakutiku dengan gelang ini.”

Dia menutup rapat bibirnya. “Aku ingin mengajakmu berkencan lagi dua minggu dari sekarang, setelah taruhanmu dengan Travis berakhir. Pada saat itu kita bisa berkonstrasi untuk saling mengenal satu sama lain tanpa gangguan."

“Cukup adil.”

Dia mendekat dan menutup matanya, lalu mencium bibirku. “Aku akan meneleponmu secepatnya.”

Aku melambaikan tangan saat berpisah dengannya, lalu kembali ke kafetaria, melewati Travis.

Dia memegangku, menarikku ke pangkuannya. “Putus cinta itu sulit ya?”

“Dia ingin mencoba lagi kalau aku sudah kembali ke asrama.”

“Sialan, aku harus mulai memikirkan taruhan lainnya,” dia berkata, menarik piringku ke hadapanku.

***

Dua minggu berikutnya berlalu dengan cepat. Selain untuk kuliah, aku menghabiskan semua waktuku bersama Travis, dan kebanyakan kami habiskan berdua. Dia membawaku pergi makan malam, minum, dan berdansa di The Red, bowling, dan dia dipanggil untuk bertarung dua kali. Saat kami tidak sedang menertawakan kebodohan kami sendiri, Kami bermain gulat, atau meringkuk di sofa bersama Toto, menonton film. Dia membuktikan maksudnya untuk mengacuhkan semua wanita yang menggodanya, dan semua orang membicarakan Travis yang baru.

Malam terakhirku di apartemen, America dan Shepley entah mengapa tidak ada, dan Travis berusaha mengadakan makan malam terakhir yang spesial. Dia membeli wine, menyusun serbet di meja, dan bahkan membeli peralatan makan perak yang baru untuk acara ini. Dia menaruh piring kami di meja tempat kami sarapan dan menarik bangkunya ke sisi lainnya dari meja agar duduk berhadapan denganku. Untuk pertama kalinya, aku mendapat firasat kuat kalau kami sedang berkencan.

“Ini sangat enak, Trav. kau tidak memberitahu sebelumnya kalau kau pandai memasak,” aku berkata sambil mengunyah Cajun Chicken Pasta yang dia masak.

Dia memaksakan satu senyuman, dan aku dapat melihat bahwa dia berusaha untuk membuat percakapan tetap santai. “Jika aku memberitahumu sebelumnya, kau akan mengharapkan ini setiap malam.” Senyumnya menghilang dan matanya menatap meja.

Aku memutar-mutar makanan dalam piringku. “Aku akan merindukanmu, juga, Trav.”

“kau akan tetap datang berkunjung, kan?”

“kau tahu aku akan datang berkunjung. Dan kau akan ke asrama untuk membantuku belajar seperti sebelumnya.”

“Tapi itu tidak akan sama,” dia menghela nafas. “kau akan berkencan dengan Parker, kita akan sibuk…berjalan ke arah yang berbeda.”

“Tidak akan berubah sebanyak itu.”

Dia berhasil tersenyum. “Siapa yang akan mengira pada saat kita bertemu pertama kali bahwa kita akan duduk di sini? kau seharusnya memberitahuku tiga bulan yang lalu bahwa aku akan menderita seperti ini karena mengucapkan selamat tinggal pada seorang gadis.”

Perutku merosot. “Aku tidak ingin kau menderita.”

“Maka, jangan pergi,” dia berkata. Ekspresinya sangat putus asa mengakibatkan rasa bersalah membentuk gumpalan di tenggorokanku.

“Aku tidak bisa pindah ke sini, Travis. Itu gila.”

“Kata siapa? Aku baru saja merasakan dua minggu terindah dalam hidupku.”

“Aku juga.”

“Lalu mengapa aku merasa seperti tidak akan pernah melihatmu lagi?”

Aku tidak mempunyai jawaban. Wajahnya tegang, namun dia tidak marah. Dorongan untuk meghampirinya sangat kuat, maka aku berdiri dan berjalan mengitari meja, duduk di pangkuannya. Dia tidak menatapku, maka aku memeluk lehernya, menempelkan pipiku ke pipinya.

“kau akan menyadari betapa menyebalkannya aku, lalu kau akan melupakan semua tentang merindukan diriku,” kataku di telingannya.

Dia menghembuskan nafasnya ke udara saat mengusap punggungku. “Janji?”

Aku bersandar dan menatap matanya, menyentuh wajahnya dengan tanganku. Aku membelai rahangnya dengan ibu jariku; ekspresinya sangat menghancurkan hati. Aku menutup mataku dan mendekat untuk mencium ujung bibirnya, namun dia berpaling sehingga aku mencium bibirnya lebih dari yang dimaksud.

Meskipun ciuman ini membuatku terkejut, aku tidak langsung mundur.

Travis membiarkan bibirnya di atas bibirku, namun dia tidak bertindak lebih jauh.

Aku akhirnya menjauh, lalu tersenyum. “Besok hari yang besar untukku. Aku akan membereskan dapur lalu pergi tidur.”

“Aku akan membantumu,” dia berkata.

***

Kami mencuci piring bersama sambil terdiam membisu, dan Toto tertidur di bawah kaki kami. Dia mengeringkan piring terakhir dan menaruhnya di rak, lalu menuntunku menelusuri lorong, memegang tanganku sedikit terlalu erat. Jarak antara ujung lorong dengan kamarnya tampak dua kali lebih jauh. Kami berdua tahu bahwa perpisahan hanya tinggal beberapa jam lagi.

Dia bahkan tidak berusaha berpura-pura tidak melihat saat aku mengganti pakaianku ke dalam salah satu kaos tidurnya. Dia membuka pakaiannya sehingga tinggal memakai celana boxernya, lalu masuk ke bawah selimut, menungguku bergabung dengannya.

Setelah aku naik, Travis mematikan lampu, dan menarikku mendekat padanya tanpa meminta izin atau permintaan maaf. Dia menegangkan tangannya dan menghela nafas, dan aku meletakkan wajahku di lehernya. Aku menutup mataku rapat, berusaha untuk menikmati saat ini. Aku tahu aku akan mengharapkan momen ini terulang lagi setiap hari selama hidupku, maka aku menjalaninya dengan semua yang aku punya.

Dia menatap keluar jendela. Pepohonan membuat bayangan di wajahnya. Travis menutup rapat matanya, dan perasaan tenggelam menetap di diriku. Sangat menyakitkan melihatnya menderita, mengetahui bukan hanya aku yang mengakibatkannya…aku juga satu-satunya yang dapat menghilangkannya.

“Trav? Apa kau baik-baik saja?” aku bertanya.

Ada jeda yang cukup lama sebelum akhirnya dia berbicara. “Aku tidak pernah merasa kurang baik dari ini selama hidupku.”

Aku menekan dahiku pada lehernya, dan dia memelukku lebih erat. “Ini sangat konyol,” kataku.

“Kita tetap akan bertemu setiap hari.”

“kau tahu itu tidak benar.”

Besarnya rasa duka yang kami berdua rasakan telah menghancurkan kami, dan kebutuhan tak tertahankan untuk menyelamatkan kami berdua muncul di dalam diriku.

Aku mengangkat dahuku, namun ragu; apa yang akan aku lakukan akan merubah segalanya. Aku beralasan bahwa Travis menganggap hubungan intim bukan apa-apa selain hanya untuk menghabiskan waktu, lalu aku menutup mataku lagi dan menelan rasa takutku. Aku harus melakukan sesuatu, mengetahui kami berdua masih terbangun, takut pada setiap menit yang berlalu hingga pagi.

Hatiku berdebar kencang saat aku menyentuh lehernya dengan bibirku, lalu merasakan kulitnya dalam ciuman pelan dan lembut. Dia melihat ke bawah dengan rasa terkejut, lalu matanya melembut saat menyadari apa yang aku inginkan.

Dia mendekat, menekan bibirnya di bibirku dengan rasa manis yang lembut. Kehangatan dari bibirnya mengalir sampai kakiku, dan aku menariknya lebih dekat.

Sekarang setelah kami mengambil langkah pertama, aku tidak punya keinginan untuk menghentikannya.

Aku membuka bibirku, membiarkan lidah Travis masuk. “Aku menginginkanmu,” aku berkata.

Tiba-tiba, ciumannya menjadi pelan, dan dia berusaha menjauh. Bertekad untuk menyelesaikan apa yang aku mulai, mulutku menciumnya lebih gugup lagi. Akibatnya, Travis mundur hingga dia berlutut. Aku bangkit mengikutinya, menjaga agar mulut kami tetap menyatu.

Dia mencengkeram ke dua bahuku untuk menahanku. “Tunggu sebentar,” dia berbisik dengan senyuman senang di wajahnya, terengah-engah. “kau tidak harus melakukan ini, Pidge. Ini bukan maksud dari malam ini.”

Dia menahan, namun aku dapat melihat di matanya bahwa pengendalian dirinya tidak akan bertahan lama.

Aku mendekat lagi, dan kali ini tangannya memberi jalan untuk bibirku menyentuh bibirnya. “Jangan membuatku memohon.” Aku berbisik di mulutnya.

Dengan empat kata itu, keberatannya hilang. Dia menciumku, dengan keras dan bersemangat. Jariku menelusuri punggungnya dan berhenti di atas karet celana boxernya, dengan gugup menelusuri celana boxernya. Bibirnya menjadi tidak sabar, lalu, aku terjatuh di tempat tidur saat dia menindihku. Lidahnya menemukan jalannya untuk masuk sekali lagi, dan ketika aku mendapat keberanian untuk memasukan tanganku di antara kulit dan celana boxernya, dia mengerang.

Travis menarik lepas kaos dari atas kepalaku, lalu tangannya dengan tidak sabar bergerak ke bagian bawahku, memegang celana dalamku dan melepasnya dari kakiku dengan satu tangan. Bibirnya kembali ke bibirku saat tangannya meluncur ke dalam pahaku, dan aku mengeluarkan nafas panjang yang terengah saat jarinya mengembara di tempat di mana tidak ada seorang priapun yang pernah menyentuhnya sebelumnya. Lututku terangkat dan mengejang pada setiap gerakan tangannya, dan saat aku mencengkeram kulitnya, dia memposisikan dirinya di atasku.

“Pidgeon.” Dia berkata, terengah, “Ini tidak harus malam ini. Aku akan menunggu hingga kau siap.”

Aku melihat ke atas kepalaku dan meraih laci teratas di meja lampu tidurnya, menariknya hingga terbuka. Merasakan plastik di antara jariku, aku meletakkan ujungnya di bibirku, merobek bungkusnya terbuka menggunakan gigiku. Tangannya yang bebas meninggalkan punggungku, dan dia menurunkan celana boxernya, menendangnya lepas seolah dia tidak tahan itu berada di antara kami.

Bungkusnya bergemericik di ujung jarinya, dan setelah beberapa saat, aku merasakannya di antara pahaku. Aku menutup mataku.

“Tataplah aku, Pigeon.”

Aku menatapnya, matanya tajam dan lembut pada saat yang sama. Dia memiringkan kepalanya, berbaring mendekat untuk menciumku dengan lembut, lalu tubuhnya menjadi tegang, mendorong dirinya ke dalam diriku dengan gerakan kecil dan pelan. Ketika dia menarik kembali, aku menggigit bibirku karena merasa tidak nyaman; saat dia bergoyang ke dalam tubuhku lagi, aku menutup rapat mataku karena kesakitan. Pahaku menjadi tegang di sekeliling pinggangnya, dan dia menciumku lagi.

“Tataplah aku,” dia berbisik.

Ketika aku membuka mataku, dia menekan ke dalam lagi, dan aku menjerit karena itu mengakibatkan rasa terbakar yang nikmat. Setelah aku tenang, gerakan tubuhnya dan tubuhku menjadi lebih berirama.

Rasa gugup yang awalnya aku rasakan telah hilang, dan Travis mencengkeram kulitku seolah dia tidak pernah merasa cukup. Aku menariknya masuk kedalam diriku, dan dia mengerang ketika itu terasa semakin nikmat.

“Aku menginginkanmu sudah sangat lama, Abby. Hanya kau yang aku inginkan,” dia bernafas di mulutku.

Dia memegang pahaku dengan satu tangan dan menyangga tubuhnya dengan sikunya, hanya beberapa inchi di atasku. Keringat tipis mulai menetes di atas kulit kami, dan aku mengangkat punggungku saat bibirnya menelusuri wajahku lalu ke leherku.

“Travis,” aku mendesah.

Saat aku menyebut namanya, dia menekan pipinya di pipiku, dan gerakannya menjadi semakin keras. Suara dari tenggorokannya semakin kencang, dan dia akhirnya menekan di dalam diriku sekali lagi, mengerang, dan bergetar di atas tubuhku.

Setelah beberapa saat, dia menjadi tenang dan membuat nafasnya teratur.

“Tadi itu adalah ciuman pertama yang hebat,” aku berkata dengan sedikit lelah, dengan ekspresi rasa puas.

Dia mengamati wajahku dan tersenyum. “Ciuman pertama terakhirmu.”

Aku terlalu terkejut untuk menjawab.

Dia ambruk telungkup di sampingku, membentangkan tangannya di atas pinggangku, meletakkan dahinya di dekat pipiku. Jariku bergerak menelusuri kulit punggung telanjangnya hingga aku mendengar nafasnya semakin pelan.

Aku tetap terjaga selama beberapa jam, mendengarkan nafas Travis yang dalam dan angin menggerakkan pepohonan di luar. America dan Shepley masuk lewat pintu depan dengan pelan, lalu aku mendengar langkah jinjit mereka di sepanjang lorong, bergumam satu sama lain.

Kami sudah mengepak barang-barangku tadi, aku meringis membayangkan akan merasa tidak nyaman nanti pagi. Kupikir setelah Travis tidur denganku, rasa penasarannya akan terpuaskan, namun dia justru membicarakan tentang selamanya. Mataku langsung tertutup karena memikirkan ekspresinya saat mengetahui apa yang telah terjadi di antara kami bukan merupakan suatu permulaan, namun penutupan. Aku tidak bisa menjalani hubungan itu dan dia akan membenciku saat aku memberitahunya.

Aku bergerak keluar dari bawah tangannya lalu berpakaian, membawa sepatuku keluar menuju kamar Shepley. America sedang duduk di tempat tidur dan Shepley sedang membuka kaosnya di depan lemari.

“Semua baik-baik saja, Abby?” Shepley bertanya.

“Mare?”  aku berkata, memberinya tanda untuk mengikutiku ke lorong.

Dia mengangguk, melihatku dengan tatapan curiga. “Apa yang terjadi?”

“Aku ingin kau mengantarku ke asrama sekarang. Aku tidak bisa menunggu sampai besok.”

Satu sudut wajahnya terangkat karena senyuman. “kau tidak pernah bisa menangani perpisahan.”

Shepley dan America membantuku membawa tasku, dan aku memandang keluar jendela mobil America dalam perjalananku menuju asrama. Saat kami menurunkan tas terakhir di kamarku, America memegangku.

“Akan terasa sangat berbeda sekarang di apartemen.”

“Terima kasih sudah mengantarku pulang. Matahari akan terbit beberapa jam lagi. Sebaiknya kau pergi,” aku berkata sambil meremas tangannya sekali lagi sebelum melepaskannya.

America tidak melihat ke belakang lagi saat dia meninggalkan kamar, dan aku menggigit bibirku dengan gugup, menyadari akan sangat marahnya dia saat dia menyadari apa yang telah aku lakukan.

Kaosku mengeluarkan suara seperti sobek saat aku menariknya dari atas kepalaku, listrik statis di udara telah meningkat karena musim dingin yang semakin dekat. Merasa sedikit tersesat, aku meringkuk di bawah selimut tebalku, dan menarik nafas melalui hidungku; aroma wangi tubuh Travis masih terasa di kulitku.

Tempat tidur terasa dingin dan asing, sangat kontras dengan kehangatan tempat tidurnya Travis. Aku telah menghabiskan tiga puluh hari di apartemen sempit dengan lelaki brengsek yang paling terkenal di Eastern, meskipun dengan semua pertengkaran dan ‘tamu tengah malam’, di sanalah satu-satunya tempat di mana aku ingin berada.

***

Telepon berbunyi mulai dari jam delapan pagi, lalu menjadi setiap lima menit sekali selama satu jam.

“Abby!” Kara mengeluh. “Angkat telepon bodohmu!”

Aku meraih teleponku dan mematikannya. Sesaat setelah aku mematikan teleponku aku mendengar ada yang menggedor pintu dan aku menyadari aku tidak akan bisa menghabiskan hariku di atas tempat tidur seperti yang sudah aku rencanakan.

Kara membuka pintu. “Apa?”

America mendorongnya lalu masuk melewatinya, dan berdiri di samping tempat tidurku. “Sialan, apa sih yang terjadi?” dia membentak. Matanya merah dan bengkak, dan dia masih memakai piyamanya.

Aku bangun. “Kenapa, Mare?”

“Travis mengamuk! Dia tidak mau memberitahu kami, dia menghancurkan apartemen, melempar stereo ke seberang ruangan...Shep tidak bisa membujuknya!”

Aku menggosok mata dengan telapak tanganku, lalu berkedip. “Aku tidak tahu.”

“Omong kosong! kau akan memberitahuku apa yang telah terjadi, dan kau akan memberitahukannya sekarang!”

Kara mengambil peralatan mandinya lalu pergi. Dia membanting pintu di belakangnya, dan aku merengut, khawatir dia akan memberitahu penasehat mahasiswa, atau lebih parah lagi, memberitahu Dekan mahasiswa.

“Pelankan suaramu, America, ya Tuhan,” aku berbisik.

Dia menutup rapat bibirnya. “Apa yang telah kau lakukan?”

Kupikir dia hanya akan marah padaku; aku tak tahu dia akan mengamuk.

“Aku…tidak tahu,” aku menelan ludah.

“Dia melayangkan tinjunya ke arah Shepley ketika dia tahu kami membantumu pergi. Abby! Kumohon beritahu aku!” Matanya berkaca-kaca. "Itu menakutiku."

Rasa ngeri di matanya membuatku memberitahukan hanya sebagian dari yang terjadi sebenarnya. “Aku hanya tidak dapat mengucapkan selamat tinggal. kau tahu itu berat untukku.”

“Bukan itu, pasti ada yang lain, Abby. Dia menjadi gila! Aku mendengarnya memanggil namamu, lalu dia berlari ke seluruh sudut apartemen mencari dirimu. Dia menerobos masuk ke kamar Shepley, memaksa ingin mengetahui keberadaanmu. Lalu dia mencoba meneleponmu. Lagi, dan lagi dan lagi,” dia menghela nafas.

“Wajahnya sangat..ya Tuhan, Abby. Aku belum pernah melihatnya seperti itu.

Dia merobek sprei tempat tidurnya, lalu melemparnya, melempar bantalnya, menghancurkan cerminnya dengan tinjunya, menendang pintu…melepasnya dari engsel! Itu adalah kejadian yang paling menakutkan dalam hidupku!”

Aku menutup mataku, sehingga air mata di ujung mataku turun ke pipiku.

America memberikan teleponnya padaku. “kau harus meneleponnya. kau setidaknya harus memberitahunya bahwa kau baik-baik saja.”

“Ok, aku akan meneponnya.”

Dia menyodorkan teleponnya lagi padaku. “Tidak, kau harus meneleponnya, sekarang.”

Aku mengambil teleponnya dan menekan tombolnya, berusaha memikirkan apa yang bisa aku katakan padanya. Dia merebut teleponnya dari tanganku, menekan nomor lalu menyerahkannya padaku. Aku memegang telepon di telingaku, dan mengambil nafas panjang.

“Mare?” Travis menjawab teleponnya, suaranya sangat cemas.

“Ini aku.”

Teleponnya hening sesaat sebelum akhirnya dia mulai bicara. “Apa yang terjadi padamu tadi malam? Aku terbangun pagi ini, kau tidak ada dan kau…pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal? Mengapa?”

“Maafkan aku. Aku—,”

“kau minta maaf? Aku menjadi gila! kau tidak menjawab teleponmu, menyelinap pergi dan, apa—kenapa? Kupikir kita akhirnya menyadari semuanya!”

“Aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir.”

“Berpikir tentang apa?” dia terhenti. “Apa aku telah menyakitimu?”

“Tidak! Bukan itu! Aku benar-benar..benar-benar minta maaf.  Aku yakin America telah memberitahumu. Aku tidak mampu mengucapkan selamat tinggal.”

“Aku harus bertemu denganmu,” dia berkata, suaranya terdengar putus asa.

Aku menghela nafas. “Banyak yang harus aku kerjakan hari ini. Aku harus membongkar barangku dan aku punya setumpuk baju yang harus di cuci.”

“kau menyesalinya,” dia berkata, suaranya terdengar hancur.

“Bukan…bukan karena itu. Kita berteman. Dan itu tidak akan berubah.”

“Berteman? Lalu kau pikir tadi malam itu apa?” dia berkata, kemarahan terdengar dalam suaranya.

Aku menutup rapat mataku. “Aku tahu apa yang kau inginkan. Aku hanya tidak bisa….melakukannya saat ini.”

“Jadi kau hanya membutuhkan waktu?” dia bertanya dengan suara yang lebih tenang. “Kau seharusnya memberitahuku. kau tidak perlu lari dariku.”

“Itu adalah cara yang paling mudah.”

“Paling mudah untuk siapa?”

“Aku tidak bisa tidur. Aku terus berpikir tentang bagaimana rasanya nanti pagi, saat memasukkan tasku ke dalam mobil America dan…aku tidak bisa melakukannya, Trav,” Kataku.

“Itu sudah cukup buruk bahwa kau tidak akan berada di sini lagi. kau tidak bisa langsung menghilang dari hidupku.”

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Kita akan bertemu besok. Aku tidak ingin semua jadi aneh, OK? Aku hanya ingin memikirkan beberapa masalah dulu. Hanya itu.”

“OK,” dia berkata.”Aku bisa melakukan itu.”

Aku menutup telepon, dan America membelalak ke arahku. “kau TIDUR dengannya? Sialan kau! kau bahkan tidak akan memberitahuku?”

Aku memutar mataku dan ambruk di atas bantal. “Ini bukan tentang dirimu, Mare. Ini menjadi satu masalah sulit dan rumit.”

“Apanya yang sulit tentang itu? Kalian berdua seharusnya sangat bahagia, bukannya merusak pintu atau bersembunyi di kamarmu!”

“Aku tidak boleh bersamanya,” aku berbisik, terus memandangi langit-langit.

Tangannya memegang tanganku, dia bicara dengan lembut. “Bersama Travis memang butuh banyak usaha. Percayalah padaku, aku mengerti pada semua rasa ragumu padanya, tapi lihat bagaimana dia telah berubah begitu banyak untukmu. Pikirkan tentang dua minggu yang lalu, Abby. Dia tidak seperti Mick.”

“Aku yang seperti Mick! Aku terlibat dengan Travis dan semua yang telah kami lakukan…lenyap!” aku menjentikkan jariku. “Begitu saja!”

“Travis tidak akan membiarkan itu terjadi.”

“Itu bukan tergantung padanya sekarang, ya kan?”

“kau akan menghancurkan hatinya, Abby. kau akan menghancurkan hatinya! Satu-satunya wanita yang dia percaya untuk dicintai, dan kau akan sangat menyakitinya!”

Aku berpaling darinya, tidak mampu melihat ekspresinya yang datang bersamaan dengan nada pembelaan di suaranya.

“Aku ingin akhir yang bahagia. Itu alasan kita datang kemari.”

“kau tidak harus melakukan ini. Semua akan berjalan lancar.”

“Hingga keberuntunganku habis.”

America mengangkat tangannya ke atas, dan menjatuhkannya di pangkuannya. “Ya Tuhan, Abby, jangan bicara tentang omong kosong itu lagi. Kita sudah membahasnya tentang ini.”

Teleponku berbunyi, dan aku melihat nama di layarnya. “Itu Parker.”

Dia menggelengkan kepalanya. “Kita masih belum selesai bicara.”

“Halo?” aku menjawab, menghindari tatapan America.

“Abs! Ini hari pertama dari kebebasanmu! Bagaimana rasanya?” dia berkata.

“Itu terasa…bebas,” aku berkata, tidak bisa mengeluarkan sedikit pun nada antusias.

“Makan malam besok malam? Aku merindukanmu.”

“Ya,” aku mengelap hidungku dengan tangan bajuku. “Besok kedengaran sempurna.”

Setelah aku menutup telepon, America merengut. “ Travis akan bertanya padaku saat aku pulang,” dia berkata. “Dia akan bertanya apa saja yang kita bicarakan. Apa yang harus aku katakan padanya?”

“Katakan padanya bahwa aku menepati janjiku. Saat besok tiba, dia tidak akan merindukanku.”

***


Penerjemah: +Oseu
Editor : +Meyke AD

Poskan Komentar

36 comments

first?? Hahhaha, keliatan skali buka PN tiap detik :)
Makasi :)

Duh .....bikin penasaran........thank mbak oseu, mbak meyke, mas admin......lanjutannya donk......

wow...i lov u travis n abby......thank you mba oseu n mas mimin

my new fav... mr. maddox... tq mimin,oseu,n meyke.

Kado perpisahan yang bagus skali,,,,

Danke mba Oseu, mba Meyke, & mas Yudi,,,

Oh My God.. Knp si abby bgtu.. Bodoh bgt!
Ksian Travis :(
Sbar ya honey :*

Thanks mba oseu n mas yudi :)

Wah, akhirx Travis dan Abby...wow, makasih mbak Oseu dan mas admin :)

kasiannn travis....... btw thanks ya buat oseu dan admin..... ceritanya kerennnnnn

Gak sabar nunggu lanjutannya.
Thanx

Ahhhhh makasih mimin... Kuraanggggggg.. Posting lagi donk..... Hadehh bkin penasaran,, emosi campur aduk!!!

Abby bener2 paran0id deh... Padahal udah jelas banget Travis jatuh cinta ama dya, ckckckc. Jdi tmbh penasaran kekeke... Makasih mas mimim, mbak oseu and mbak meyke

. ,,,,,
::‧(◦ˆ ⌣ ˆ◦)::‧(y)
Si!!!

wow travis nya gila nyanyi nyanyi kyk gtu..hahaXD
abby kan travisnya jd ngamuk-.-"

Dasar idiot si Abby ini. Kalau gak mau bersama kenapa ngajak tidur sama Trav. Dasar PHP!

Hmmm.... kasihan Travisnya.. gak bisa bayangi gimane hancur hatinya.. T.T makasihh mba oseu, mba meyke n mas yudi...

Ggak bisa membayangkan bgmna perasaan travis,,
benar aj dia marah,,
Malamy di kasih kado istimewa
eee,,pagiy di tinggl begitu aj,,
makasih mba +Oseu posting lgi dong!!
penasaran tingkt dewa niii(kishug buat all)

Abby..... gemes Q.... g kasian bgt sih sm travis,,,

Wawawawaawaa
Makasih mba Oseu, Meyke, mas mimin
Hihhiihih

tuh kan....travis benar-benar luar biasa keren....
melting deh lihat sikap dia.....

btw, thanks ya untuk semuanya sampai bab ini ter-posting ;)

Abby... Kau egois sekali T-T kasihan Travis T-T

owh em ji.... that was disaster.....
maturtengkyu Mbak Oseu, matur tengkyu Mas Yudi....

Ga kerasa udh bab 9 lagi. Tinggal 13 bab lg. Cpt bgt dah

thank you mbak Oseu @ Meike n tentunya mas Yudi
semangat.. salam pagi yang indah :)

thank you mbak Oseu @ Meike n tentunya mas Yudi
semangat.. salam pagi yang indah :)

omg ini smakin gila !!abby bkin aku gleng2 kpala !!
mksih mba oseu dan mba meyke !!di tunggu pstingan slanjut nya yah ...

Kok sknrg aq malah kasihan ma Travis, n benci bgt ma si Parker...

Hayo jgn mpe pd banting2 barang kaya Travis ya gara2 baca bab ini..hihi..sabar it will be getting better soon.. *sort of ;)

Mas Admin yang baik & mba translator yg cantik .. aku udah jatuh cinta sma novel ini. Mohon posting lagi malam ini ya.

huwaaa akhirnya pecah telor juga si abby hahahaha... *udah nungguin lama soalnya * =)))))

tapi si abby kok tega baget yah ama travis T__T kasian si travis di PHPin gitu, udah dikasi senang2 semalaman eh besoknya ditinggal pergi, gak pake ijin pula *elus2 travis*

Serunya novel ini masih panjang,pokoknya tiap bab gak ngebosenin :)
I can't get no! Uh no,no,no

Si abby ni malah plin plan, duh Travis malangnya dirimu,Ǧ̩ªќ sabar nunggu kelanjutannya...

yeay! Kalo gak salah berarti bab selanjutnya yang mereka jadian kan yak? Huaaa mas yudi ntar malem posting yaaaa ;)

heeeeee nyimak dari awal makin lama makin kebawa ceritanya, menarik banget buat ditunggu *gosok2 telapak tangan dengan semangat*
makasih mba oseu, meyyy *peluk sayaang*

iiihh... ngegemesin dehh Travis n Abby >.<
ywdh travisnya buat aku ajah lahh~~ :p

aku bener" penasaran ama ini novel, alhasil aku translate sendiri dehh dari epub yg ada di 4shared PN^^' aku baru baca ampe bab 16 di epubnyah :Dv
tapi aku tetep nungguin Translate an dari PN tercintah xD
makasii mba Oseu n mba Meyke :* :*

dan mas yudi makasii banyakk yahh, aku ngerampok epub novel PN neh ~~ *tapi belum pada dibaca* #plakk
wkwkwkwkk....

ditunggu banget next bab nyah mas ~~

Duch kasian ya Travis, mjdi Ɣªήğ prtama bgi Abby tpi dtinggalin. ✽̶┉♏∂ƙ∂șîħ┈⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴.. Mba Oseu dan Meyke.

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Dlm rangka vote lomba cerpen komen anonim sementara kami disable.

 
Top