19

ahw5-thumb
Awalnya, aku tak mengerti apa yang ia maksud. Ruangan menjadi sunyi untuk beberapa saat, kemudian Jeremiah menjentikkan jarinya dan menunjuk kearah Anya. Tiba-tiba dua orang pria yang mengawalnya masuk ke ruangan masing-masing memegangi sebelah tangannya, menjaganya tetap berada ditempat. Kemudian maksud dari kata-kata Lucas menjadi jelas, dan aku terkejut akan hal itu.

"Anya yang menyewa pembunuh itu." Kata-kata itu, menyimpulkan kebingunganku sendiri untuk memahami situasi ini, berasal dari Jeremiah sendiri. Rasa tidak percaya terdengar dari suaranya, saat ia mengulang pernyataan itu menjadi sebuah pertanyaan. "Anya yang menyewa pembunuh itu?"

"Jangan pernah membuat marah seorang Rusia," Jawab Lucas, memutar matanya dan mendesah. "Tampaknya kenyataan ini mengatakan bahwa hal ini diluar dari profesiku saat ini."

"Aku melakukan ini untukmu," kata wanita pirang itu pada Lucas, memberontak untuk melepaskan dirinya dari pegangan pengawal. "Kupikir hal inilah yang kau inginkan!"

"Apa yang aku inginkan?" Lucas mencemooh Anya. "Kau melakukan ini untuk dirimu sendiri - jangan pernah mencoba untuk menyalahkanku."

Anya menatap garang kearah pengawal disekitarnya tetapi tetap berbicara pada Lucas. "Kau bilang kau membencinya, bahwa kau ingin-"

"Aku tak pernah menginginkan dia mati," Lucas meraung, dan Anya tersentak.

"Kau selalu membicarakan dirinya," dia tetap pada pendiriannya. Dia berbicara dengan bahasa Russia untuk beberapa saat kemudian menyadarinya. "Saat kau mabuk, kau selalu bicara tentang betapa inginnya kau pulang kerumah..."

"Dan apakah membunuh adikku akan mengembalikan posisiku?" Lucas tertawa terbahak. "Anya, kau bukanlah wanita bodoh, semua bukti bertentangan dengan situasi ini. Lihat aku!" Ia membuka lebar kedua tangannya. "Ribuan orang mati ditanganku. Mungkin bukanlah jariku yang ada dipelatuknya tapi aku menyediakan pelurunya, senjatanya. Aku terlumuri darah - bagaimana aku bisa pulang kerumah setelah apa yang aku lakukan, setelah apa yang kubiarkan terjadi begitu saja?"

Dagu Anya bergetar saat hatiku sesak merasakan sakit yang dialami pria itu. Anya menggumamkan sesuatu pelan dengan bahasa asalnya dan menggapai kearah Lucas, tapi dia menepis tangan gadis itu. "Jangan menyanjung dirimu sendiri, sayang." Kemurkaannya yang dingin mengiris udara, dirancang hanya untuk menimbulkan rasa sakit. "Aku tak pernah mencintaimu. Bagaimana mungkin seseorang memiliki rasa sayang pada alat yang pintar?"

Darah menyusut dari wajah Anya saat rahangnya terbuka dalam ketidakpercayaan kearah Lucas. "Kau bilang..."

Ia menyapukan tangannya ke udara, memutar matanya. "Kata-kata tak berarti, kau seharusnya mengetahuinya. Kegunaanmu, sama seperti kesabaranku, sudah habis. Aku tak lagi membutuhkan dramamu." Lucas memandangnya dingin, kemudian membuat gerakan mengusir dengan tangannya. "Kau bisa pergi sekarang."

Wow. Aku melihat kejadian itu, tak tahu lagi harus berpikir apa. Sama seperti halnya saat aku membenci wanita itu saat aku bertemu dengannya di Perancis, kini hatiku prihatin padanya... yang mana hal itu menggelikan, melihat fakta bahwa wanita itu sudah menyakiti kami. Tapi saat itu, aku sulit mempercayai bahwa wanita itu telah melakukan hal seperti yang dikatakannya.

Anya membuat ekspresi wajah yang sama seperti sebelumnya tetapi kehancuran yang tercermin dimatanya sungguh mengerikan; ketegaran dan sikap yang menopang wanita itu hilang, hancur karena kata-kata pria itu. Setetes air mata jatuh di pipinya yang sewarna gading. "Aku memberikan segalanya untukmu," wanita itu berbisik sedih dalam aksen yang kuat. Jemarinya yang memegangi kalung salib dilehernya pucat dan bergetar. "Aku menjadi apapun yang kau butuhkan, melakukan hal yang mempermalukan diriku sendiri dan keluargaku, semua itu untuk mendapatkan cintamu. Sekarang kau bilang semua itu hanyalah kebohongan?"

Aku ingat saat Ethan mengatakan padaku bahwa Anya hanyalah seorang gadis desa yang sederhana saat Jeremiah mempekerjakannya untuk membantu menterjemahkan bahasa Russia. Melihatnya sekarang, aku tak melihat keangkuhan, kecantikan yang merendahkan saat dipesta, tapi aku melihat seorang gadis muda yang terlempar kedunia dimana ia tak memiliki pertahanan diri. Caranya menggengggam kalung itu, sebuah simbol dari kepercayaan yang sepertinya masih ia anut, membuat hatiku sakit untuknya. Apakah ini arah yang sedang aku tuju?

"Kami, pria dari keluarga Hamilton, menghancurkan apapun yang kami sentuh." Lucas memberikan Anya tatapan mengasihani. Ia mengalihkan tatapannya padaku sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kau terjebak kedalam sasaran bidik dan itu sangat disayangkan."

"Hal ini bukanlah yang seharusnya terjadi," bisik wanita itu. "Dia bilang inilah yang kau inginkan, bahwa..."

Wanita itu terdiam, tapi dalam keheningan kata-katanya membahana ke seluruh ruangan. "Siapa yang mengatakannya?" Lucas dan Jeremiah berkata dengan serempak, menggemakan kata yang sama.

Di saat itu, beberapa hal terjadi secara bersamaan. Lampu diruangan besar itu padam, bayangan aneh dari cahaya temaram terlihat dari luar jendela. Aku menyadari bahwa kaca dibelakang ruangan, yang tadinya buram selama beberapa hari terakhir, tak lagi menutupi pemandangan dari laut dibelakang rumah, kemudian ada benturan. Terdengar suara dentuman pelan dan Anya roboh ke lantai, ekspresinya terkejut. Tiba-tiba saja seseorang memegangku dan menggendongku ke arah dapur, aku tertekan diatas lemari berlapis pualam oleh tubuh seseorang yang besar. Sesuatu terhembus diatas kepalaku, udara yang terasa menandakan kedekatannya. Aku terkejut saat toples kaca yang berisikan tepung di lemari dibelakangku meledak.

Ruangan itu menjadi hidup saat orang-orang bergerak mencari perlindungan. Pengawal merunduk ke arah dapur atau jalan masuk serambi, berdesakan di lorong. Kemudian terdengar letusan lain dan seorang pengawal muda bergoyang, terjatuh tanpa perlawanan di lantai. Ia ditarik kearah pintu oleh temannya, hilang dari pandanganku.

"Apa yang terjadi?" aku bertanya, jantungku seakan ingin keluar dari dadaku.

"Penembak jitu."

Oh Tuhan. Aku gemetar di dada Jeremiah, yang memelukku erat ke tubuhnya. Aku mendengar ketukan keras dari dalam lemari dan terlonjak, tapi tak ada peluru menembus disisi kami. Disamping kami seorang pengawal goyah dari posisinya dan berjalan kearah kami. Suara letusan lain terdengar dan pengawal itu berputar, terjatuh terlentang di tempat persembunyian kami. Terkejut dan takut berkilat dimatanya sesaat sebelum wajahnya mengendur, dan kenyataan menyakitkan bahwa baru saja aku melihat seseorang mati adalah kenyataan yang sulit diabaikan.

"Bernafas," perintah Jeremiah, dan aku menghembuskan udara yang sejak tadi aku tahan. Jeremiah bergerak kesamping dan mengecek urat nadi di leher pengawal itu, kemudian ia mengambil mikrofon kecil dari telinga pengawal itu. "Ethan, beri laporan."

"Seseorang menyabotase jaringan listrik, termasuk generator cadangan." Suara Ethan sangat pelan dan lemah namun aku cukup dekat dengan Jeremiah untuk mendengarnya. "Kami sedang memperbaikinya. Bagaimana situasi disana?"

"Seorang penembak jitu memojokkan kami di dapur," kata Jeremiah. "Kami membutuhkan kaca itu sebagai pelindung untuk kabur."

Hening sesaat, kemudian, "Diterima. Randy bilang pengerjaan ETA di generator dua menit lagi."

Jeremiah mengutuk, menjatuhkan alat komunikasi di pahanya. "Dua menit," ia mengulangi kata itu, dan aku mengangguk. "Mungkin akan sama dengan selamanya."

"Mengunjungimu adalah hal yang menyenangkan, adikku."

Suara Lucas tenang dan kepala Jeremiah berbalik untuk menatap marah padanya, tapi pria ketakutan itu bahkan tak melihat kearah kami. Semua perhatiannya tertuju pada Anya, masih tergeletak tiarap dilantai, memegangi perutnya yang berdarah-darah dan merintih perlahan. Entah bagaimana Lucas berhasil menjatuhkan meja kopi yang tebal dan satu kursi sebagai perlindungan, tapi keduanya tak memberi Lucas perlindungan yang cukup. Anya menjulurkan satu tangan kearahnya, terisak pelan saat tangannya yang lain memegangi luka tembak di perutnya.

"Aku datang, sayang." Lucas membuat gerakan mengintip cepat dengan kepalanya, mengintip dari perlindungannya, dan sedetik kemudian sebuah peluru melesat dan membuat lubang di dinding di belakangnya. Lucas menyumpah, kemudian keluar dan mengambil satu bantal terdekat. "Ini akan lebih mudah jika tanpa borgol, saudaraku," katanya.

Jeremiah mencari ke dalam kantongnya dan melemparkan kunci kecil melewati ruangan dan kemudian mendarat di dekat meja kopi. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jeremiah.

"Membuat diriku sendiri terbunuh mungkin," jawab Lucas, dengan cepat membuka borgolnya. Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas, dan melihat kearah Jeremiah. "Doakan aku," tambahnya, kemudian melemparkan bantal ke daerah kosong didekatnya. Bantal itu meledak, menghamburkan isinya terbang ke seluruh ruangan, tapi Lucas sudah bergerak, memegang Anya dan menariknya ke tempat persembunyiannya. Letusan lain melewati jendela dan Lucas mendesis, tapi ia sudah berada di belakang pelindungnya dan menarik Anya bersamanya. Dua peluru dalam gerakan luarbiasa cepat bersarang di meja kayu yang digunakan Lucas sebagai pelindung dengan suara 'tok' yang keras, tapi tak satupun yang terlihat menembusnya.

Berhati-hati agar tetap tersembunyi, Lucas bergerak untuk memeriksa perut Anya. Dari ekspresi wajahnya yang suram, aku bisa mengetahuinya bahwa luka Anya parah. Anya terisak pelan, satu tangan bergerak ke atas perutnya saat tangan lainnya berpegangan erat ke lengan Lucas. Di pintu masuk, teriakan Georgia hampir seperti di gedung opera. "Ibu, diam!" teriak Jeremiah, dan secepat itu pula teriakannya berhenti. Aku berpikir apakan itu teriakan ketakutan akan nyawanya yang terancam atau ketakutan akan anak-anaknya yang dalam bahaya, tapi saat ini bukan waktunya untuk memikirkan itu.

"Tetaplah bersamaku, Anya," gumam Lucas, dengan perlahan membuka kemejanya dan menahannya di luka Anya.

"Maafkan aku," bisik Anya, tangan yang berlumuran darah melayang di udara. Air mata menetes di sisi wajahnya jatuh ke rambutnya, dan rasa suram di matanya membuat pilu di hati. "Aku seharusnya tahu, aku tak pernah ingin..."

"Shh, jangan bicara. Kau akan baik-baik saja."

Kebohongan terdengar jelas; meskipun dari jarak sejauh ini aku bisa melihat betapa banyak darah mengucur dari luka itu dan warna pucat di wajah wanita Rusia itu semakin jelas. "Aku seharusnya tak pernah mendengarkan pria itu, aku hanya ingin kau bahagia..."

"Kau akan baik-baik saja," Lucas menggertakkan giginya, tapi kenyataan dari situasi ini meningkatkan keputusasaan yang terpancar dari matanya. Tangannya melepaskan kemeja yang berlumuran darah di perutnya untuk memegang wajah Anya. "Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Aku butuh nama, Anya, tetap disini bersamaku."

Ia tak menjawab pertanyaan pria itu saat nafasnya semakin berat. Tubuhnya mengendur, tangannya terjatuh ke dadanya. "Aku memberikan padamu segalanya," bisiknya, hembusan nafasnya terengah. "Jangan lupakan aku."

"Anya," kata Lucas, mengelus rambut Anya, "tetap bersamaku. Hey, kau tak pernah mengajakku ke kota kecil dimana kau berasal. Apa nama kota itu?" Anya, bagaimanapun, sepertinya tak mendengar pertanyaan Lucas, wajahnya yang pucat menjadi kendur. "Segalanya," ulang wanita itu, matanya tak menatap apapun. Tangannya terjatuh dari salib orthodox di lehernya, dan nafasnya mulai menderak. "Aku menjual jiwaku..."

Ekspresi Lucas berubah. "Anya, tetap bersamaku. Anya..."

Tapi wanita itu sudah pergi.

Nafas Lucas terdengar seperti sedu sedan kemarahan, kemudian ia menonjok lantai dengan kepalannya yang berlumur darah dan menyupah. Sebuah peluru menghantam kayu dibelakangnya tapi ia tidak bergeming. Ia terdengar marah, tapi topeng itu sudah hilang dan aku melihat kekalahan besar di tubuhnya.

Dalam kematian, tubuh pucat Anya terlihat sangat kecil dan muda. Aku tak pernah ingin melihat wanita itu mati, meskipun aku sudah melihatnya disaat paling menjengkelkan. Mengetahui bahwa ia dulunya berjiwa muda, kemudian melihatnya menangis di lantai, sudah menghapus seluruh perasaan terburukku padanya. Kata-kata terakhirnya menjadi pukulan telak, dan aku hanya bisa membayangkan betapa menyakitkannya pukulan itu bagi Lucas. Mungkin Lucas pantas mendapatkannya. Pikiran itu memang kejam tapi aku tak bisa menahan untuk tidak memikirkan apa yang sudah ia minta ada wanita Rusia itu untuk dilakukan dengan cara memanfaatkan perasaan wanita itu adanya tak perduli apakan perasaannya terbalaskan atau tidak. Apakah cinta sedemikian kecil artinya dalam keluarga ini?

Cahaya di dapur berkedip saat listrik mulai kembali, tapi lapisan kaca jendela di belakang rumah masih jelas. "Nyalakan jendela keselamatannya," Jeremiah memerintah, mendekapku erat. Sedetik kemudian seseorang menekan tombol dan kaca jendela itu kembali buram, laut menghilang dari pandangan. Si penembak jitu, masih belum selesai; peluru masih saja masuk melewati jendela yang buram, sebagian besar tertuju pada tempat sembunyi Lucas dan Anya.

Sepertinya si penembak tak suka di bodohi.

"Jalan," perintah Jeremiah lembut, membangunkanku dan mengarahkanku ke pintu masuk yang jaraknya kurang dari sepuluh kaki. Ia melindungiku dengan tubuhnya saat kami berlari ke arah ruang utama. Lucas mengikuti tak jauh dibelakang kami, tangan yang berlumur darah tergantung kaku di kedua sisi tubuhnya.

Georgia berada di ujung lobi, satu penjaga memeganginya agar tetap diam ditempat. Ekspresi ketakutan di wajahnya mencair ketika kedua anaknya yang datang dari pintu, tapi ia kembali memucat saat melihat darah yang terdapat pada Lucas. Menghentakkan tangannya dari cengkraman pengawal, ia beranjak ke arah anak laki-laki tertuanya, rahang bergerak dalam gerakan putus asa, hanya membuat anak laki-lakinya mengangkat salah satu tangannya untuk menghentikan wanita itu. "Ini bukan darahku," katanya. Tak ada emosi apapun terdengar di suaranya. Kematian Anya pasti sudah membakarnya hidup-hidup, setidaknya untuk saat ini.

Keragu-raguan menodai wajah wanita tua itu, terlihat jelas sedang berdebat akan apa yang harus ia lakukan. Aku berpikir apa yang akan wanita itu lakukan, mungkin mencoba memperbaiki hubungan mereka dengan sebuah pelukan, tapi kepribadiannya lah yang menang. Dagunya terangkat saat topeng arogan terpasang, dan itu nampak jelas bagiku bahwa seluruh anggota keluarga ini menyembunyikan beberapa hal dalam diri mereka dari dunia seakan-akan jika mereka menunjukan emosi sebenarnya hal itu akan membuat orang lain menggunakan hal itu sebagai kelemahan mereka dan untuk menentang mereka. Dan mungkin itulah yang terjadi di masa lalu.

Ethan datang dari pintu depan, diapit oleh pengawal lain dengan telpon di kupingnya. "Kami berhasil menyalakan generatornya kembali namun akan memakan waktu lebih untuk membenahi kekacauan pada pembangkit utama," katanya. "Ada tiga orang terluka diluar, tenaga medis sedang dalam perjalanan."

"Kita juga ada korban disini, dengan paling tidak satu meninggal. Bawa semua yang terluka ke atas dan koordinasikan serta pastikan agar semua orang mendapat perawatan yang sama." Jeremiah menaruh kedua tangannya di kedua sisi bahuku, kemudian mendorongku ke arah Ethan. "Jaga dia dan kakakku, tak boleh ada waktu terbuang."

"Sir?"

"Kita harus menemukan penembak jitu itu sebelum ia menghilang lagi." Ia melihat kearahku. "Tetaplah bersama Ethan; lakukan apapun yang ia perintahkan."

Aku harus memaksa diriku sendiri untuk melepaskan tangannya. Keinginan untuk menahannya agar tetap berada di ruang keamanan sangatlah kuat, tapi entah mengapa aku tahu aku tak akan bisa menghentikannya. Ia membutuhkan ini, untuk kembali mengejar orang jahat itu. Kenyataan bahwa ia adalah target sebenarnya tak masalah untuk Jeremiah, aku bisa melihat itu dimatanya. Jadi bukannya memprotes, aku menelan ketakutanku dan berkata, "Berjanjilah padaku kau akan tetap aman."

Prilakunya melembut saat mendengar kata-kataku, entah itu suatu kelegaan atau karena hal lain. Ia mencium keningku saat pengawal yang terluka dimasukkan ke dalam. "Aku akan kembali padamu, aku berjanji," gumamnya, kemudian berjalan ke arah pintu.

"Bawa mereka ke lantai atas," perintah Ethan, dan semua pengawal yang tersisa segera menaiki tangga dengan membawa semua yang terluka.

"Bagus," gerutu Lucas, menatap kosong ke arah lantai, "Ada Kapten Amerika yang sedang menjagaku. Whoop-de-freaking-"

Ethan berputar di depanku, tinjunya meledak di wajah Lucas, melemparkan pria itu ke lantai dengan tubuh yang tertekuk. "Aku ingin melakukan itu selama bertahun-tahun," kata Ethan saat mengatur nafasnya.

Aku menatap kearah pria yang sedang ketakutan itu. "Apa kau harus melakukan itu?" Aku bertanya, melangkah maju untuk melihat keadaan Lucas. "Dia tidaklah seburuk..."

Satu tangan membungkus kepalaku, menekan sebuah sapu tangan di atas mulutku. Terkejut, aku memberontak, membuka mulutku untuk berteriak tapi yang ada aku malah mencium aroma harum yang memabukkan. Hampir secepat itu pula ruangan berputar, dan aku mendengar Ethan berbisik pelan, "Maafkan aku karena melakukan ini," saat kakiku lemas dan aku terjatuh ke lantai.

Aku sudah pernah mendengar kalimat itu terlalu banyak malam ini, adalah pikiran terakhirku sebelum hilang kesadaranku.

***

Mimpiku aneh: Aku tak bisa mengungkapkan, meskipun isinya sangat khayal, entah aku terbang atau terjatuh dari langit. Awan-awan bergerak melewatiku, daratan sangat jauh seperti saat aku melihatnya dari pesawat. Sesuatu berada di tanganku, mungkin alasan dari terjatuhnya diriku, tapi aku tak takut. Daratan semakin dekat, belum lagi aku merasakan semua sensasi dari situasi ini, meskipun aku tak tahu mengapa aku bisa merasakannya.

Dunia nyata serasa seperti orang yang menggeledah kantongku dan mengeluarkanku dari dunia mimpi. Rasa pusing yang tiba-tiba membuat kepalaku tenggelam, sisa dari mimpi mungkin, sebelum aku menyadari bahwa kami benar-benar bergerak dan aku sedang dalam posisi berbaring ke arah samping. Tanganku terikat diatas pangkuanku, kakiku juga terikat, dan aku duduk di kursi belakang sebuah mobil yang tak kukenal. Saat aku mencoba berdiri, aku juga menyadari aku terikat oleh sabuk pengaman, tali tebalnya menarikku bersender ke kursi kulit yang hangat.

Seorang pria duduk di kursi pengemudi, menelpon dengan tangannya yang besar. Menyadari bahwa ia belum tahu aku sudah terbangun, aku mensurvei sekelilingku, mengenyahkan rasa pusing. Semuanya tertutup kulit berwarna hitam, teksturnya, tipe mahal, dan aromanya masih baru, tapi mobil itu tidak familiar untukku. Kursi belakangnya kecil, dengan ruang untuk kaki yang sempit - aku tetap menekuk kakiku untuk menghindari terbentur dengan sisinya - jadi kurasa ini adalah mobil sport atau sejenisnya. Deru mesinnya terdengar seperti dirancang untuk bergerak cepat membenarkan kecurigaanku tapi tak memberiku detil lainnya. Aku mengangkat kepalaku untuk mengintip ke jendela kearah awan yang mendung diluar. Kursi kulitnya berbunyi saat aku bergerak, menarik perhatian pengemudi, dan hatiku tiba-tiba berhenti sejenak saat aku menyadari wajah yang kukenali. "Ethan?"

Ethan berbalik, menatap jalanan. Ia melemparkan ponselnya ke arah kursi penumpang dan aku menyadari bahwa itu adalah ponselku, ponsel pengganti yang diberikan Jeremiah setelah aku merusak milikku di Paris.

"Gadis itu terbangun?"

Mataku melebar saat aku mendengar suara lain. Aku mengintip ke sekitar kursi pengemudi di depan kepalaku tapi tak ada orang lain di mobil. Suaranya tidak datang dari arah manapun, dan Ethan sepertinya tak terkejut meskipun rahangnya mengeras.

"Efek obat penenangnya lenyap lebih cepat," balas Ethan. Suaranya tersiksa, marah, seperti ia tak ingin menjawab pertanyaan itu.

Ponsel di kursi di depanku berdering, menarik perhatian Ethan.

"Apa itu?" datang dari suara itu lagi, jengkel terdengar jelas dalam suara itu.

"Ponsel gadis itu." Ethan mengambil benda itu lagi dan melihat ke arah layarnya. "Dari Jeremiah," tambahnya datar.

Hatiku berdebar saat mendengar nama itu. Dadaku sesak, aku menggigit bibirku untuk menahan agar tidak berteriak.

"Jawab itu," perintah suara itu. "Pasang di pengeras suara."

Ethan mengangkat telponnya, kemudian menaruh telpon itu dipangkuannya. Sebelum ia bisa mengatakan sesuatu, aku berteriak, "Jeremiah!"

"Lucy. Dimana kau?"

Sesuatu yang beku dalam jiwaku meleleh saat mendengar suaranya. Ia terdengar kuat dan yakin, dan aku benar-benar putus asa membutuhkan kepastian. "Aku berada di kursi belakang sebuah mobil," balasku, benci akan keputusasaan yang terdengar dalam suaraku tapi ingin sekali keluar sebisaku. "Sejenis mobil sport dengan kursi kulit berwarna hitam. Aku tak bisa melihat apapun tapi awan mendung terlihat di luar jendela. Aku bersama Ethan." Aku berhenti, tidak yakin apakah harus membongkar kabar tentang penculikanku ini.

Mataku bertatapan dengan mata Ethan yang keras, pria besar itu mendesah. "Maafkan aku tentang hal ini, Jeremiah."

"Ethan?" raungnya. Mungkin jika aku bisa melihat wajah Jeremiah aku bisa menguraikan emosi yang aku dengar tergantung dalam satu kata itu - terkejut, marah, pengkhianatan, kekecewaan - tapi untuk saat ini hanya ada satu kata dan tuntutan di baliknya.

"Mereka menculik Celeste." Penyesalan yang dalam terdengar dari suara pria besar itu, dan aku bisa melihat mulutnya tertarik kebawah.

Jeremiah mengutuk. "Kapan?"

"Aku tak tahu tapi aku mendapatkan telpon saat kau sedang berdebat dengan keluargamu. Kau tahu aku akan lakukan apapun untuk melindunginya."

"Jadi kau mengatur ini semua?" Meskipun dari sambungan telpon, kemarahan di suara Jeremiah terdengar sangat jelas. "Kau membiarkan tiga orang mati hanya karena-"

"Tidak," Ethan meledak, "itu bukan aku. Aku tak tahu apapun hingga menerima telpon itu dan listrik padam sebelum aku menutup telponnya. Aku bersumpah padamu demi kehormatan apapun yang tersisa dariku bahwa aku tak ambil bagian dalam penyerangan itu."

"Kau memintaku percaya padamu setelah kau menculik ga-" Jeremiah membungkam mulutnya sendiri, kemudian bertanya, "Kemana kau menuju?"

"Untuk membuat pertukaran."

"Sialan kau, Ethan!"

"Kau akan melakukan hal yang sama untuknya, jangan menyangkal hal itu." Ethan menatap ke belakang kearahku, kemudian memberikan tawa kasarnya. "Semua ini sama seperti Kosovo."

Ada hening sejenak di ujung telpon,  kemudian Jeremiah meraung lagi, "Sialan kau, Ethan..."

"Saat ini semua selesai, jangan salahkan Celeste. Ini semua adalah keputusanku." Ethan mengambil telponnya. "Aku akan memutus telponnya. Selamat tinggal, Jeremiah."

"Ethan, tunggu-"

Ethan memutus sambungan telpon itu, menatap pada ponsel di tangannya.

"Buang telpon itu keluar jendela."

Aku tersentak akan suara itu saat Ethan melakukan apa yang diperintahkan padanya, menurunkan jendela dan melempar ponsel itu keluar. Aku melihat disamping kepalaku dan menyadari bahawa suara itu datang dari pengeras suara di dalam mobil. Sebagian dari diriku merasa bersyukur karena tak ada orang lain didalam mobil bersama kami tapi ada sensasi mengerikan saat aku menyadari bahwa sebentar lagi aku akan bertemu orang yang memiliki suara itu.

"Apa yang terjadi di Kosovo?" suara itu bertanya memulai percakapan.

"Seorang informan mengkhianati kami," jawab Ethan, suaranya netral. "Kami tak menyadarinya hingga akhirnya tahu bahwa target kami sudah menculik istri dari pria itu dan keluarganya, jadi ia meninggalkan kami untuk menyelamatkan keluarganya."

"Apa mereka semua selamat?"

"Tidak," jawaban yang cepat.

"Menyedihkan, meskipun mungkin itu adalah akhir yang cocok untuk kejahatan yang sudah ia lakukan. Pengkhianatan adalah dosa yang paling menjijikan, tidak kah kau setuju?"

Buku jari Ethan yang menggenggam stir memutih karena pegangan yang mengeras, tapi ia tak menjawab celaan itu. "Apa yang akan kau lakukan dengan gadis ini?" Ethan bertanya setelah ada hening.

"Membunuhnya, kemudian membunuh temanmu saat ia datang menyelamatkannya."

Aku mengerang dan menutup mataku, airmata membasahi bulu mataku. Saat aku membuka mataku kembali, aku melihat Ethan menatapku di kaca. "Dan jika aku tidak membawa gadis ini padamu?"

"Aku akan membunuh istrimu yang berharga. Hmm, pada akhirnya. Istrimu adalah wanita kecil yang cantik, jika kau suka gadis berambut merah."

Tangan Ethan mengencang di roda stir. "Bajingan kau..."

Ada keributan di ujung telepon, kemudian seorang wanita berteriak kesakitan. Celeste. Ethan membelokkan mobil saat mendengar suara itu, berteriak, "Hentikan itu!"

Teriakan itu terhenti tapi isakan pelan di belakang hampir terdengar menyakitkan. "Jika kau tak mau ada tanda lain lagi di istrimu yang berharga," suara itu terdiam, tak lagi terhibur, "kau tak akan lagi membantahku. Apa itu jelas?"

"Sangat jelas," erang Ethan, tapi wajahnya pucat putus asa.

Jantungku berdetak kencang, seperti ingin meloncat dari dadaku. Napasku menjadi gemetar dan cepat. "Ethan, kumohon," aku berbisik, tenggorokanku mengencang saat memikirkan apa yang akan terjadi. Aku tak ingin mati!

"Bungkam dia," kata pembunuh itu.

Aku menggeliat, putus asa ingin terbebas, saat Ethan mengambil kain putih dari kursi penumpang dan mengarah padaku. Tangannya yang panjang menemukan wajahku dengan mudah tapi aku melawan, menahan nafasku dan menggeleng kemanapun aku bisa melawan sabuk pengaman untuk melepaskan diri. Ethan melakukan tugasnya dengan baik, dan pandanganku mulai kabur saat aku lelah dan kehabisan persediaan oksigenku. Aku terisak kesulitan bernapas, aroma harum yang memabukkan dari obat itu terasa hingga paru-paruku dan sedetik kemudian aku kembali tak sadarkan diri.

Kali ini, tak ada mimpi.

***

Penerjemah: +Helda Ayu
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

19 comments

Makasih ya Helda...kiss and hug.
Makasih jg buat Mas Yudi...cium jauh

Mr.jeremiah is back !!!
♥·♡ †нªηк's ♥·♡ you so much !!!!

waaahh ini klo d jadiin film seru ni..menegangkan,seru..moga2 luci g knp2..
tks helda n mamas...

asyik asyik..
ayo jeremiah, selamatkan lucy.
semangat!
tq helda n mas yudi.

baby girl helda syang makasih ya
bab yg ini bikin deg2an deh
mamas miminku syng trims juga ya

Tegang eh... Makaci mas yudi n mb helda

trims mbak helda n mas yudi....

ya ampyuun tegang banget nih... tx Helda n mas Yudi

huaaahhh mlm in crt di pornov btl" bkin susah napas krn penasaran lanjutanny hihihihi

makasih ma helda mas mimin yg baik..
bsk lagi y...
(´ε` )♡

makin seru aja nie ceritanya.....

thks for m helda & mas yudi ya....
semangat terus.....

eaaa.. makin ribet urusannya..
ini kisah oenuh dg teka teki..

makasih Heldaa...
makasih mas Yudiii...

Ethan penghianat!!!!!!!!!!!!!.. untung bkn Ethan Blackstone..hehe

Yaaaa ampyuunn,,yaaaa ampyuunnnn...g d yg nolongn apah??haduuhhh,,Jeremiah dtg dundz...
Mksh Helda n Mas Yudi ;D

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™ Helda n mas admin..

semakin seruuuu.. buat hatu dag dig dug..
mkasih mas yudi n mbk helda..Semangat ya!!!!:-)

pengkhianatan yg terpaksa...salahkah????
pasti ethan bingung sangat...ehmmm....
*ikutan galau bareng ethan...

mb helda n mas mimin tengkyu berat...
akhirnya terkuak sedikit demi sedikit..
itu pasti s jeremiah pgn ngomong gadisku deh...ehemmm
kesian ethan jd berkhianat..tp so sweet jg..krn dia ngelakuin buat istrix..

walah belum selesai yach ceritanya.... tp makasih bgt dech buat mimin2 hehehe

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top