27

ahw5-thumb
Ikatan di pergelangan tanganku ditarik lebih kencang, kulit dingin langsung membelengguku. Pengekang itu cukup lentur, sengaja dirancang agar tidak menyebabkan iritasi apapun, tetapi aku diikat sepanjang malam dan hampir sepanjang pagi juga. Aku mulai merasa sedikit nyeri, tapi aku terlalu terpengaruh terhadap sensasi lain hingga tidak benar-benar menyadari rasa nyeri itu. cahaya menerobos melalui celah-celah kecil dari tirai yang tebal, tetapi kamar itu tetap gelap dan terpencil, liburan yang sempurna setelah apa yang kami lakukan.

Bibir Jeremiah menelusuri tulang belakangku, giginya menggores kulit telanjangku ketika ia kembali bergerak ke belakang tubuhku. Jari-jarinya meraba pinggulku, menelusuri sepanjang sisi payudaraku. Nafasku tergagap ketika lututnya meluncur diantara kedua kakiku, dan aku bisa merasakan bagian panjang dan keras miliknya menekan pahaku. Tangannya merapikan rambutku ke satu sisi ketika ia menghujaniku ciuman di sepanjang leherku sampai ketelinga, giginya menarik lembut tulang rawan telingaku. Pinggulku naik dalam permohonan diam-diam; ia menggigit daun telingaku tapi menuruti keinginanku, dengan mudah masuk kedalam diriku.

Aku mendesah, mataku tertutup. Adegan bercinta kami sudah menggila dan penuh gairah sebelumnya, tetapi sekarang, setelah satu jam kemudian, salah satu sisinya sudah memudar, dan ini lebih mudah untuk kami menikmati diri kami sendiri. Jeremiah bersikeras untuk tetap mengikatku ke kepala ranjang, tunduk pada semua hasrat keinginannya, dan tak pernah terpikirkan olehku untuk membantah keinginannya. Kekuasaan dan dominasinya membantuku untuk melupakan kenangan buruk itu; aku aman, aman dalam genggamannya, dan dengan berfokus pada hal itu membuatku menikmati semua kenikmatan saat ini.

Ia mencari-cari sesuatu, pinggulnya terus bergerak hingga bagian panjang dan keras miliknya keluar masuk di dalam diriku dengan dorongan yang kuat dan panjang, kemudian vibrator kecil yang kugunakan dinyalakan lagi. Aku menghembuskan napas, terengah-engah, ketika tangannya meluncur ke bagian bawah pinggangku, mengangkatku sampai kelutut. Kukunya menelusuri punggungku ketika ia mendorong lebih keras lagi, dan aku meraih kepala ranjang sebagai tumpuan tambahan.

“Sangat indah,” gumamnya, tangannya membelai punggung dan pantatku. “Segala sesuatu tentangmu adalah sebuah rangsangan,”

Aku menggigit bibirku, kata-katanya adalah rangsangan untuk jiwaku, dan aku menekannya untuk meminta lebih. Dia meningkat dalam diriku, membuat bibirku tercekat. Jari-jarinya tertanam di salah satu pinggulku, sebagai pegangan ketika ia mendorong berulang kali kedalam diriku, gerakan kami tidak lagi menjadi gerakan santai. Aku mempersiapkan diriku dengan menghadap ke kepala ranjang dari kayu, rintihan dan erangan keluar dari tenggorokanku.

Vibrator kecil itu, yang diposisikan dengan sangat sempurna agar tidak mengganggu aksesnya, memberikan gelombang sempurna kedalam tubuhku dengan dorongan masing-masing yang membuatku berputar lebih tinggi dan lebih tinggi lagi untuk mendapatkan orgasme lain. Mainan lainnya tergeletak di meja disamping tempat tidur; flogger, bulu, dildo, dan beberapa item lain yang aku sendiri tak yakin apa namanya, tapi Jeremiah tidak tertarik untuk bermain –tak ada mainan yang kami gunakan kecuali belenggu dan vibrator ini, dan keduanya lebih dari cukup kurasa. Aku sudah habis dan perih, namun tak pernah merasa puas sebagaimana pria yang berada di dalamku.

Tusukannya menjadi lebih tidak menentu, tanda jika dirinya akan segera datang. Tubuh lelahku menegang, bersiap-siap untuk orgasme lagi. Aku bisa merasakan nafasnya di sepanjang leherku, janggut kasarnya menggesek bahuku. Tangannya melingkar diantara kakiku dan mendorong vibrator kecil itu lebih dekat ketubuhku, langsung dipusat kenikmatan yang masih berdenyut dalam lipatanku, dan dengan erangan tertahan aku kembali orgasme. Setiap sisa ketegangan dalam diriku terkuras sudah, keningku bertumpu pada tanganku ketika tubuhku bergetar, kulitku terasa kesemutan setelah kenikmatan yang meluap-luap yang kudapatkan sepanjang malam.

Jeremiah ambruk diatasku, berat badannya menekanku lebih dalam lagi kedalam kasur. Aku tak keberatan sama sekali, malah bersyukur atas kontak itu. akhirnya, ia bergerak dan mengulurkan tangannya untuk membuka belenggu itu, membebaskan pergelangan tanganku dari ikatan itu. Aku berputar hingga berbaring diatas punggungku, menatap tubuh berototnya. Pergelangan tanganku terasa nyeri, tapi aku tak peduli. Aku menelusuri otot-otot di sepanjang perut kerasnya kemudian kebawah lengannya.

Ia menjelajahi tubuhku dengan matanya, tatapannya membelaiku selembut sutra. Aku melihat kerinduan yang mendalam di balik matanya, bukti akan kebutuhan yang tersembunyi, dan cinta mulai bersemi di dalam hatiku. Aku meraih pundaknya, menariknya keatas tubuhku, dan ia mengikuti dengan senang hati, berbaring diatas tubuhku sehingga aku bisa melingkarkan lenganku ketubuhnya. Kehangatan dan tubuhnya yang keras membuat jiwaku bernyanyi, kupejamkan mataku ketika aku membelai punggungnya. Terbebas dari kekangan itu membuat pikiranku bebas berkeliaran, dan meskipun aku tak ingin mengingat semua kejadian itu, namun kejadian itu masih berada dipuncak pikiranku.

Banyak hal terjadi selama dua hari terakhir, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah penyelidikan pada Jeremiah. Petugas pemerintahan yang datang untuk menangkap Lucas sama sekali tidak senang mendengar bahwa ia melarikan diri, dan mereka juga tampak tidak tertarik dengan tambahan drama penculikan yang terjadi pada hari yang sama. Tuduhan bahwa Jeremiah lah yang membiarkan Lucas melarikan diri bertambah buruk dengan efek mayat-mayat yang ada. Dan ironisnya, masalah penggunaan helicopter pribadinya di area umum adalah masalah terbesar yang membuat pengacaranya menjadi sibuk. Setidaknya untuk saat ini kami sudah terbebas dari ancaman kematian dirumah atau di jalan pinggir laut itu, tapi pelanggaran batasan wilayah udara masih mampu menarik Jeremiah ke penjara.

Hamilton Industries mendapat pukulan lain ketika akhirnya Caleste mengundurkan dirinya sebagai COO setelah peristiwa penculikannya. Jeremiah tidak membicarakan hal ini, dan aku tak mengungkitnya, tapi aku pernah mendengar pembicaraan mereka di telepon, bahwa Caleste secara tidak langsung sama sekali tidak suka berada dalam ketidaktahuan dan bahaya. Status hubungan si rambut merah dan suaminya masih menjadi misteri, tapi aku harap ia mau memaafkannya. Ruang dan waktu sudah memberikanku sedikit perspektif. Ethan tengah berada diantara posisi yang keras dan sulit, dan ia memilih untuk menyelamatkan hal yang paling dicintainya. Aku benci memikirkan apa yang akan kulakukan jika berada diposisinya.

Kelucuan dari semua ini adalah, akhirnya aku melakukan banyak tugas sebagai asisten pribadi Jeremiah, mengangkat telepon dan membalas pesan, dan membantu aktifitas bisnis sehari-hari. Aku sedikit terkejut ketika menyadari betapa aku menyukai pekerjaan sibuk ini; Jeremiah mengalihkan teleponnya kepadaku dan aku membantunya membuat jadwal kesehariannya, dan mengatur tentang siapa yang membutuhkan apa. Sejujurnya, ia melemparkanku keujung terdalam, tenggelam atau berenang, tetapi aku butuh pengalihan perhatian, dan kurasa ia tahu itu.

Setiap kali aku bersantai atau selesai dengan tugas-tugasku, dan dimana otakku akan mendapat kesempatan untuk memikirkan hal lain disamping pekerjaan, aku akan selalu kembali memikirkan memori yang sangat mengganggu; luka terbuka si pembunuh itu, tubuh Anya dalam kantung mayat itu, menatap pistol berperedam si pembunuh. Aku hanya mempermalukan diriku sendiri dengan menangis, tapi seiring berjalannya waktu, kenangan itu semakin memudar. Setidaknya dengan bekerja aku akan membuat otakku berhenti memikirkan hal yang tidak menyenangkan itu.

Sebuah tangan meluncur kebawah kepalaku, mengangkat kepalaku yang tersembunyi dibawah dadanya. Jeremiah menatap kearahku, matanya mencari mataku. Dia menelusuri alisku, jemarinya menekan kulitku ketika ia menelusuri garis wajahku, turun kesepanjang rahang dan leherku. Belaiannya membuaiku dari pikiranku kemudian aku menutup mataku, membiarkan diriku menikmati kesenangan yang sederhana ini.

“Kau berpikir terlalu keras,” gumamnya, dadanya bergemuruh ketika berbicara. “Saat ini, aku hanya ingin kau merasakannya.”

Aku mendesah lembut dan membuka mataku, pikiranku menarikku keluar untuk sesaat. “Apakah kita aman?” tanyaku. Aku mendekatkan wajahku ketangannya, dan mencium buku-buku jarinya. “Apakah kau tahu siapa yang sebenarnya dibicarakan oleh Anya, siapa orang yang meyakinkan Anya untuk menyewa pembunuh bayaran itu?”

Kami pernah mendiskusikan masalah ini sebelumnya, dan aku tahu Jeremiah menyadari ancaman terus menerus di suatu tempat di luar sana. Kata-kata terakhir Anya sebelum pembunuh itu menembaknya, menyebutkan seoarng pria yang tak pernah diketahui namanya, membuat sebuah awan gelap yang menjulang di cakrawala. Aku bisa merasakan awan itu mulai menutupiku, tetapi aku lebih khawatir tentang Jeremiah. Sepertinya ia tak terlalu bersungguh-sungguh dalam mencari pria misterius itu, tidak seperti ketika ia membuatku tetap terikat di kepala ranjang ini.

Aku ingat percakapan pertamaku dengan Ethan di rumah sakit kala itu, dimana mantan pegawainya berbicara tentang CEO yang tidak memperdulikan bahaya apapun. Jeremiah sudah menolak kenyataan bahwa ibunya adalah tersangka, terlepas dari informasi-informasi baru itu dan kenyataan bahwa ia melarikan diri tanpa sepatah katapun. Ketidakpeduliannya pada ancaman yang ada mulai mengusikku, dan aku tak tahu apakah ini karena kepercayaan dirinya atau melakukannya untuk kebaikanku – aku harap yang disebut terakhir yang benar.

“Kita akan mengatasinya,” jawabnya, kemudian mencium keningku. “Aku berjanji akan selalu menjagamu.”

Sebuah pemikiran yang sering kudengar, jawaban familiar. Kesabarannya membuatku frustasi, terlebih lagi ketika aku menginginkan jawaban itu sekarang. Ini baru berlangsung beberapa hari, aku mengingatkan diriku sendiri. Kau tak bisa mengharapkan hasil yang instan pada kasus yang tidak memiliki petunjuk. Namun aku benci berada di barisan penonton, tak bisa memberikan bantuan yang berarti.

Aku mendorong salah satu bahunya, dan jeremiah terguling, terlentang kesamping, ia menarikku bersamanya, hingga kini aku berada diatasnya, mengangkangi pinggangnya. Aku merasa lelah, namun aku masih mengangkat diri untuknya, menatap wajah tampannya. Dia menatapku, api dalam dirinya terpuaskan untuk saat ini, wajahnya tak pernah seterbuka ini sebelumnya. Tangannya membelaiku, melewati payudaraku, kemudian turun dan beristirahat dipinggulku saat ia menungguku.

Semua dalam diriku bernyanyi ketika aku melihat kebawahku. Seorang gadis bisa hidup selamanya dan takkan pernah lelah dengan semua ini. Aku menelusuri garis-garis ototnya, kemudian membungkuk sehingga payudaraku menekan dadanya. Mencium bibirnya dengan bibirku dalam ciuman selembut bulu, tersenyum tipis kepadanya dan berbisik.

Aku mencintaimu.”

“Tidak.”

Duniaku berhenti. Seketika aku terjatuh, tapi tidak ada yang berubah. Aku duduk tegak, kebingungan menghampiriku ketika aku melihat wajah dengan ekpresi membatu pria dibawahku. Mulutku bergerak, mencoba memikirkan sesuatu untuk diucapkan, tapi otakku seolah-olah sudah mati. Tangan jeremiah mengitari pinggangku, dan seolah-olah aku tidak memiliki beban sama sekali, ia mengangkatku kesamping, kemudian duduk, mengayunkan kakinya dari tempat tidur. Aku mengerjapkan mata, arti dari semua itu mulai muncul, aku melihatnya berdiri dan mengambil pakaiannya.

Aku mengalihkan pandanganku ke kasur, berusaha mati-matian untuk menjaga nafasku tetap stabil. Bodoh, sangat teramat bodoh. Tinjuku mengepal disekitar sarung bantal ketika aku mencoba mengatur emosiku, mencoba untuk tabah seperti yang pernah kulihat diwajahnya. “Kenapa?” tanyaku, tak mampu memikirkan pertanyaan lain. Ada jeda kecil dalam suaraku diakhir kata kataku, tetapi aku memaksa mataku tetap menatapnya, bersyukur bahwa aku belum meneteskan air mata.

Dia mengabaikanku untuk beberapa detik, dengan cepat mengancingkan kemejanya, kemudian menarik celananya tanpa sekalipun melihatku. Akhirnya ia berbalik kearahku, wajahnya tertutup dan tanpa emosi. Perubahan drastis yang terjadi semenit yang lalu terasa seperti lonceng kematian dalam hatiku.

Dia pasti melihat penderitaan diwajahku, karena akhirnya dia duduk di tempat tidur, disampingku. “Kurasa...” ia memulai, kemudian berpikir sejenak. “Aku lebih suka kita tidak memasukan kata cinta kedalam hubungan kita untuk masa mendatang,”

“Kenapa?” ulangku, lebih tegas kali ini. Perlahan-lahan bagian dalam diriku mulai hancur, dan menjaga diriku tetap stabil adalah hal tersulit untuk saat ini, tapi aku butuh jawaban.

Jeremiah mengamatiku, pengamatan yang tidak menyentuh sisi kelembutan yang selalu kurasakan dari tangannya sejak pertama kali bertemu dengannya. “Mari berpikir tentang ini secara logis,” katanya. “Kau mengenalku selama sekitar dua minggu sampai hari ini. Apakah itu waktu yang cukup untuk membangun sebuah ikatan emosional?”

Dia bersikap rasional, menyuarakan pendapat yang kugunakan pada diriku sendiri ketika kata L pertama muncul di kepalaku, dan sebagian dariku masih setuju dengannya. Tapi dengan setiap kata yang diucapkannya, retakan dalam hatiku semakin melebar, meluas dan berlipat ganda, dan dengan cepat menggali semakin dalam. “Aku tidak memintamu untuk mengatakan hal yang sama.” Akhirnya aku berhasil mengatur diriku, tapi kata-kataku itu merobek ke dalam jiwaku.

“Mungkin tidak,” jawabnya. “Tapi...” ia merengkuh wajahku, dan aku tersentak. “Mengapa kita harus merusak apa yang kita miliki saat ini?”

Perih menyebar, tapi aku harus membuat wajahku tetap tenang. Setidaknya aku belajar dari yang terbaik. Ketika aku mengulurkan tangan untuk menyentuhnya, ia langsung berdiri, mungkin tampak sedikit terlalu cepat, dan kemudian mundur kembali. Ia meraih teleponnya dan berkata. “Saat ini kau sudah bersih dari pemeriksaan pendahuluan, kau bebas meninggalkan tempat ini. Dengan penjagaan polisi, kurasa kita aman dari serangan apapun untuk saat ini. Salah satu penjaga bisa mengantarmu kemanapun kau mau; cukup tetap mengatakan padaku tentang keberadaanmu.”

Sebuah rasa nyeri menyebar dalam tubuhku ketika ia berjalan melintasi ruangan kepintu. Kemudian ia berhenti sejenak, menatap gagang pintu yang kekuningan. Untuk sesaat kupikir ia akan berbalik dan kembali menatapku, mungkin menjelaskan tentang dirinya lebih jauh lagi, tetapi akhirnya ia hanya memutar handle pintu dan pergi. Pintu itu tertutup dengan sebuah ketegasan yang menghancurkanku, menghilangkan perasaan kebas dihatiku.

Samar-samar aku merasakan tubuhku beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaian yang berserakan di kamar. Membersihkan diri di kamar mandi dan merenung, sebuah taktik penundaan untuk menunjukan diriku kedunia, tapi ketika akhirnya aku keluar dari kamar tidur menuju sisi lain rumah itu, hanya keheningan yang menyapaku. Sejak hari pertama aku tiba di rumah mewah ini, rumah dan sekelilingnya selalu dipenuhi oleh orang-orang, biasanya penjaga atau stafnya. Sekarang, setelah ancaman bahaya itu sudah berlalu, mereka sudah kembali ketugas rutin mereka, dan tiba-tiba, kekosongan akan jiwa dalam rumah itu menggemakan perasaan yang menyakitkan dalam diriku.

***

Aku berjalan menuruni tangga, melewati dapur. Makanan tidak terdengar enak untuk saat itu, bahkan hanya terdengar sedikit enak. Kemudian aku berjalan ke pintu depan dan mengintip keluar. Cuacanya dingin, cukup menyedihkan. Cuaca yang lebih ringan kini sudah digantikan oleh musim dingin. Hamparan salju menghiasi tanah, tetapi aku tidak peduli dengan hidungku yang tiba-tiba tersengat udara dingin. Sebuah limusin hitam terparkit tepat di depan pintu besar. aku tidak bisa membayangkan jika ini untuk menjemput Jeremiah. Tentu saja kalau begitu dia sudah pergi sedari tadi, sudah beberapa menit sejak ia keluar. Sebelumnya ia mengatakan bahwa aku bisa pergi dari rumah ini. Apakah ia menyiapkannya untukku?

Aku menghindari tempat-tempat umum, tetap berada di rumah dan takkan meninggalkan estate bahkan setelah usaha penculikan itu. aku tetap sadar bahwa ada seseorang di luar sana yang masih mengincar kami, sesorang yang menggunakan orang lain untuk melakukan pekerjaan kotornya. Namun pada saat itu, aku menatap limusin dan tidak lagi peduli – ditembak tepat dijantung pun tidak akan terasa lebih sakit dari pada ini. Aku berjalan keluar rumah dan mendekati mobil, membuka pintu dan masuk kedalam. Interiornya cukup hangat, membuat perbedaan yang signifikan dengan cuaca diluar, dan di bagian depan, aku bisa melihat kepala gelap si pengemudi. “Kemana, Ms. Delacourt?” tanyanya.

“Menjauh dari sini.” Gumamku tanpa sadar. Menyadari suaraku mungkin tidak terdengar, aku menyiapkan diri untuk mengulangi jawabanku lebih keras lagi, tapi mobil itu sudah bergerak, menuju ke gerbang. Aku tidak repot-repot untuk melihat keluar jendela; aku hanya menatap tanganku, tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Bagaimana jika Jeremiah benar? Bagaimana jika perasaanku memang terlalu dini, terlalu cepat untuk dianggap setulusnya? Wajar jika Jeremiah menyabotase persaanku dengan berakting jika ini terlalu cepat; masih terlalu banyak hal-hal yang tidak kuketahui untuk saat ini. Setidaknya, ini adalah pandangan rasionalku – orang seperti Jeremiah pasti memiliki masalah dengan pergerakan yang terlalu cepat dalam hubungan.

Limusin itu berhenti sejenak di pintu gerbang, dan para penjaga dengan cepat melambaikan tangannya. Aku mengintip keluar melalui jendela belakang, menonton gerbang besar yang kembali tertutup, mencoba mengabaikan perasaan sakit dalam hatiku. Dan sesungguhnya, ini hanya sebagian kecil dari masalah dalam hubungan kami. Seperti kata bodoh itu, Cinta. Aku sudah melihat bagaimana caranya ia memandangku, caranya ia menyentuh dan memelukku. Sungguh Lucy, pikirku, apakah kau benar-benar membutuhkan sebuah kata klise untuk menyatakan kesetiaan? “Cinta” hanyalah sebuah kata.

Benarkah?

Sebuah isakan keluar dari dalam diriku, mengejutkanku dengan kedalaman emosiku. Aku menutup mulutku dengan tanganku, bertekad untuk menahan luka itu tetap ada di dalam, tapi aku tak bisa menghentikan nafas gemetarku, atau air mata yang tiba-tiba muncul dan mengalir di pipiku. Ini hanya sebuah kata, batinku lagi, tapi rasa nyeri itu tidak juga menghilang. Aku tahu apa arti cinta itu, aku di besarkan dalam keluarga yang dipenuhi oleh rasa cinta. Bukankah aku mempunyai pemikiran yang lebih baik tentang perasaan itu dari pada Jeremiah?

“Apakah semuanya baik-baik saja, ma’am?”

“Semuanya baik-baik saja,” jawabku, suaraku terdengar serak. Namun sesaat kemudian semuanya terasa semakin berat. “Hatiku hancur hari ini,” aku mengakui. “Tapi aku berusaha untuk melewatinya,”

“Ah,” pengemudi itu merespon. “Well, saudaraku memang selalu jadi idiot.”

Aku sedang mengobrak-abrik tasku untuk mencari tissue ketika makna perkataan pria itu dapat ku mengerti. Kepalaku tersentak, kesedihan dan rasa patah hatiku terlupakan untuk sejenak, aku memandang bagian belakang kepala si pengemudi dari sekat yang kecil. Sebuah topi menutupi kepalanya, dan cermin itu miring sehingga sulit melihat wajahnya. “Lucas?”

“Ya,” ia menarik topinya, menunjukan rambut gelapnya. Ketika ia berbalik menatapku, aku melihatnya menggunakan make up, mungkin untuk mengelabui para penjaga. Kulitnya lebih terang, hidungnya lebih besar dari pada yang kuingat, namun bekas luka menonjol di pipinya mampu menggungkapkan identitas dirinya. Dia menilaiku dengan cepat. “Kau terlihat berantakan.”

Kata-katanya menusuk egoku sebagai seorang wanita, dan aku duduk lebih tegak, memelototi dia melalui air mata. Memfokuskan diri pada masalah ini tampaknya lebih baik dari pada terus berkelut dengan emosi itu. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku, mencoba seberani mungkin.

Lucas mengangkat salah satu bahunya. “Sepertinya aku menculikmu. Kupikir kau dan semua orang akan menyadari fakta itu.”

Aku menatapnya sejenak, terperangah, kemudian mengerang keras. Merosot di kursi, aku menyandarkan kepalaku ke kulit yang dingin, tiba-tiba merasa terlalu lelah untuk melawan. Lucas melihatku dari kaca spion, tapi aku tak peduli; yang ingin kulakukan adalah berhenti untuk berpikir, berhenti mengingat percakapan terakhirku dengan Jeremiah.

“Biar ku tebak, kau mengatakan kata L yang menakutkan itu pada saudaraku, kan?”

Aku tak tertarik merespon pertanyaannya, malah menatap langit-langit limusin itu. dua usaha penculikan dalam satu minggu – aku adalah gadis yang paling populer. Bagaimanapun kenyataan itu membuatku geli. Aku hanya ingin sendirian untuk mengobati lukaku dengan damai.

Lucas sama sekali tidak terganggu dengan kebisuanku. “Saudaraku adalah orang yang bodoh,” lanjutnya. “Sebentar lagi ia akan menyadari apa yang telah ia lakukan dan...”

Telepon kecil di dasbor berdering tiba-tiba, mengejutkanku. Lucas tertawa. “Mungkin itu adalah dia,”

Aku menatap telepon itu. berpikir tentang wajah dingin yang tampan, yang baru saja kulihat beberapa saat yang lalu membuat hatiku semakin terasa sakit. Kenapa? Aku ingin berteriak. Ini lebih dari sekedar ego yang terluka – sejujurnya aku butuh jawaban. Tidak ada satu hal pun dalan dua puluh menit terakhir ini terasa masuk akal.

Lucas mengulurkan tangan dan menekan tombol di dasbornya. Dering itu pecah menjadi nada datar, dan aku menatap pria berambut gelap itu dengan terkejut dan keraguan. “Jangan khawatir Ma Chérie (sayangku),” hiburnya. “Saat ini mungkin saudaraku sudah menemukan supir yang dibius dan mobilisasi pasukan.”

Aku kehabisan kata-kata, aku menontonnya memarkirkan mobil disamping sebuah limosin putih. Seorang pengemudi berdiri di samping pintu depan, seorang pria besar yang menakutkan dengan kacamata hitam dan tato di buku-buku jarinya. Lucas berjalan keluar mobil dan menghampiri pintu belakang, membukanya, dan menjulurkan kepalanya kedalam. “Mau ikut?”

Mulutku bergerak tanpa suara, masih mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi. “Kenapa?” tanyaku akhirnya. Ini adalah pertanyaan yang sama seperti yang kutanyakan pada Jeremiah dan di dalamnya terdapat keraguan dan kecemasan yang sama.

“Mungkin aku butuh bantuanmu untuk melakukan sesuatu,” kata pria berambut gelap itu. “Atau mungkin ini karena akhirnya aku menemukan kelemahan adikku,” tatapannya melunak ketika aku kembali bersandar kekursi. “Atau mungkin aku ingin membantumu. Aku tahu apa yang terjadi saat melihatmu,” rasa simpati mengalir dari suaranya. “Saudaraku menyimpan segala perasaan di dalam dirinya, sementara kau menggunakan hatimu untuk melihat dunia. Jeremiah menolakmu ketika kau mengatakan cinta. Mengingat bagaimana ayah dan ibu kami menunjukkan cara untuk memandang dunia, apakah jawaban dia sangat mengejutkan?”

“Apakah ini yang terjadi pada Anya?” tanyaku, aku menatap matanya. “Apakah ia mengantarnya kepadamu dengan cara yang sama?”

Wajah Lucas memucat, pertanyaan yang tak terduga ini menghantamnya dengan keras. “Tidak juga,” katanya, berjuang untuk menegakan tubuhnya lagi. “Mereka tak pernah memiliki sesuatu yang lebih dari sekedar hubungan bisnis, meskipun kurasa Anya menginginkan sesuatu yang lebih mendalam. Hal ini membuat rayuanku lebih mudah...tapi sudah cukup dengan masa laluku. Katakan padaku: apakah kau pernah berkata tidak pada saudaraku?”

Aku memerah, melotot padanya, tapi kebenaran kata-katanya menghantam diriku. Lucas sepertinya sudah melihat jawabanku dari ekpresiku karena ia mulai melanjutkan lagi. “Jeremiah terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, dan bukan dengan memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Keterampilannya dalam berbisnis, mungkin tidak sesuai dengan kemampuannya dalam menjalin hubungan: sensasi perburuan adalah yang membuat akhirnya terasa semakin manis. Seberapa keras usaha saudaraku untuk memburumu?”

Ketika kata-katanya masuk kedalam hatiku, ia mengedarkan pandangannya pada limo kami. “Mobil ini sedang di lacak. Jika kita tinggal disini lebih lama lagi, ia akan menemukan kita. Begitu dia disini, kau akan menjadi miliknya lagi dan melakukan apa yang ia inginkan. Dimana tantangan untuknya?”

Aku menelan ludah, hatiku masih sakit ketika rasa dingin itu menghantamku. Lucas mengulurkan tangannya kepadaku. Raut wajahnya tampak nakal namun aku bisa melihat kerinduan dan rasa kasihan dimatanya.

“Baiklah, mari kita buat dia mengejar kita, oke?”


~ TAMAT ~

Penerjemah: Cherrie Ashlyn
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

27 comments

Terima kasih untuk pembaca setia PN khususnya pembaca Anything He Wants series~ akhirnya seri ini selesai juga :D
makasi buat bebeb Cherry yang selalu aku repotin~ *hugs*
makasi buat mas admin buat editannya yang expert *bow*

dan sekali lagi makasih buat semua pembaca setia, tanpa kalian aku ga akan rajin TL novel ehehe *kok berasa dapet award yah? hihi*

Tamat? Huwaaaahh...
thankyou buat translatornya ya :3
baca duyuuu~

whoa,,tamatnya nanggung nih,,hikss,,btw tq mas admin udah diposting ^^

◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ cherry :*
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mas yudhi
Hmmm udh tamat aja, nanggung yaa hehe

akhirnya..mksh mas n mba..

Iya.... Kok kyk msh ada sambungannya ya. Btw, trims m admin, mb cherry dn mbak2 translator lain...

thank mbak cherie en mas yudi...
jangan lupa lanjutannya mas...
ditunggu...

welll,,,walau nanggung endingnyaaa,,,
tapi danke so much utk Zia & Mas Yudi...
untuk smua yang TL AHW,,,dari awal mpe akhir~~~Danke banyak2...

Ah....
Nunggu Ɣģ selanjutnya....
Moga" ga lama segera terbit yah :)
Makasih buat mbak Translator dan mas mimin :)

thank you mba helda n mas admin.for the great work

yah tamat'y ng'gantung bgt! u,u
Btw, thank you untuk smw translator anything he wants n mas yudi :*

Thanks mba cherry and mas yudi... *peyuuuuu
Kpnnnn yah smbungan nya bakal nongol... gantung gini ending nya -_-"

Kalo adh ada lanjutan nya share link nya yah bang yudi yg baek an cakep *kedipkedip

Thanks banget buat mba cherrie, mba helda, n mas admin udah posting salah satu dr fav aku, ditunggu ya kelanjutannya...mudah mudahan g lama keluarnya :)

Thanks banget buat mba cherrie, mba helda, n mas admin udah posting salah satu dr fav aku, ditunggu ya kelanjutannya...mudah mudahan g lama keluarnya :)

Dah tamat !!
tapi kok msh ngantung begitu yaa???

*peluk helda n cherry kenceng2*
hmm, ampe skrng emng mas remi ini yg paling misterius ya, smpe tamat pun msh dbikin pnasaran...

Hik hik....tamatnya emang bt in. Btw thanks buat cherry and yudi ya

tunggu..tunggu.... ini ad buku lanjtnñ atau gmn..???koq ujug2 tamat..??? trs remy gmnaaaa....??? mba cherry....mba helda....great thanks for both of you...tapiiii.....gmnaaa iniii..???hwuuaaaa.....

Haaaaa,,, galau merajalela sprtny mlm ni...
Mksh byk Heldaaa n Cherry plus Mas Yudiiii...
*peyuk2*

wahhhhh akhirnya, hihihihi
*bener2 terharu*
cerita ini belum tamat, tapi sampai sekarang kita belom punya buku kelanjutannya,
harap bersabar dan berdoa... xixixiixixixi...
makasiii buat semua pembaca, makasiii juga bebeb,,,, ur the best. *big hug*

makasii pak bos yang suka aku repotin, hihihihihi

waduh,, endingnya kok nanggung bgt, menurutku lebih baik bab ini nggak ada aja.... make me sad.. really...
tp makasih bgt buat para admin, translator and semua yg terkait disini... salam hug n kiss :)

kok gue jadi suka sama Lucas ya daripada Jeremiah hohoho :f
ini belom ada lanjutannya ya -_-

admin kok g dilanjutin sih kan masih ada 5 buku lagi

nangis

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Yg 5 buku lagi udah beredar.. lanjutdong mbak minnya ini penasatan bgt. Huhuhu

setelah sekian lama jadi silent reader akirnya angkat suara karena novel ini
. sumpah novelnya gantung bgt tak kira bakalan ada ending yg sad atau happy gk taunya mlah kek gini sumpah penasaran sam si Remi :i

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top