20

AHW5-thumb
Aku tak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri, tapi goyangan dan pentalan di dalam mobil yang semakin meningkat adalah hal pertama yang membangunkanku dari pengaruh obat bius itu. Namun aku sadar sepenuhnya setelah kami berhenti, berhentinya gerakan mobil secara tiba-tiba mebuatku terjaga. Ada suara pintu mobil dan bunyi dari kursi, kemudian seseorang meraih kakiku. Tanpa sadar aku memberontak, tapi perlawananku sangat lemah dan tidak efektif, kemudian tubuhku di tarik dari mobil dan digendong di atas bahu. Udara dingin membaur di perairan, dan aku seketika mulai menggigil, pakaian tipis yang kukenakan tampaknya tak cocok dengan hembusan udara musim dingin yang basah.

“Apakah kau bisa berdiri?” Suara Ethan terdengar bergemuruh.

Perutku bergejolak, rasa mual membanjiriku, tapi aku bisa mengatasi rasa lemahku. “Ya,” Dunia berputar lagi di kepalaku, tapi dengan lembut Ethan menyenderkan kakiku di samping mobil. Aku terhuyung-huyung, menempatkan salah satu tanganku pada mobil sport mengkilap itu untuk sandaran, dan memaksa diriku untuk melihat ke sekeliling. Burung camar berdecit di atas, seruan sayu yang membelah udara. Ombak laut tampak tersusun berirama tapi aku tak bisa melihat garis pantai Karena kabut di atas air. Bangunan pabrik berbaris di sepanjang jalan tepi laut, memblok kami di dalamnya. Jalanan tepi laut di depan tampak sempit dan kabur, sulur-sulur kabutnya meliuk-liuk di atas aspal yang tak rata, tapi aku bisa melihat sebuah mobil lain beberapa ratus meter jauhnya bergerak ke arah kami. “Apakah itu...”

Aku melihat sesuatu dari sudut mataku, dan kembali melirik untuk melihat pistol di tangan Ethan. Nafasku memburu, tapi ia menangkap pandanganku dan menggeleng singkat, menjaga senjata itu tetap mengarah ke tanah dan menyembunyikannya di belakang tubuhku. “Dimana istriku?” ia berteriak pada pembunuh yang masih mendengarkan dari mobil.

Pintu mobil di dekatnya terbuka, membenarkan ketakutanku. Sebuah sosok ramping dengan rambut merah terhuyung-huyung keluar dari kendaran itu kemudian pintu di belakangnya tertutup. “Ethan?” panggil Caleste, suaranya nyaring dari kejauhan.

“Aku disini Caleste,” balasnya, dan aku bisa merasakan ketegangan mengalir dari tubuhnya ketika kepala Caleste tersentak kearah kami, dia terhuyung-huyung kearah kami, dan aku bisa melihat matanya ditutup kain dan tangannya di borgol.

“Tunggu dia datang kepadamu,” ujar pembunuh itu, mendengar suara liciknya melalui system suara dalam mobil membuatku mengepalkan tanganku menjadi tinju. Aku menggigit bibirku ketika suara yang kuat datang dari belakangku, tak diragukan lagi, Ethan sedang menyiapkan senjatanya. Daguku bergetar dan aku menggertakan gigi, bertekat untuk menjadi kuat. Oh, tapi itu sangat sulit.

“Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan bahwa istrimu ditempeli bom?”

Aku merasakan sentakan nafas Ethan ketika cengkramannya di lengan atasku mengencang. Nada senang dari suara merendahkan pembunuh itu semakin meningkat ketika ia melanjutkan lagi, “Jika kau sedang mempertimbangkan aksi heroik, korban pertama dalam konflik ini adalah istri tercintamu. Jadi, letakanlah senjata yang kau sembunyikan di belakang Ms. Delacourt atau mungkin jari-jariku akan sedikit...gugup.”

Ethan segera mengangkat tangannya ke udara, mengacungkan senjata yang dipegangnya, lalu melemparkannya masuk ke dalam mobil. “Hampir sampai, sayang,” serunya kepada si rambut merah. Hatiku nyeri menatap wanita itu, yang berjalan tersandung membabi buta kearah suaminya, hanya bisa menggunakan suara untuk menjadi navigasi. Dia hampir jatuh dua kali, posisi yang berbahaya karena tangannya di ikat di belakang tubuhnya, tapi ia berhasil menguasai keseimbangannya lagi.

“Seberapa cepat kau pikir untuk dapat membawa istrimu keluar dari jangkauanku?” nada kesombongan mengalir dari speaker mobil. “Ayo kita memainkan sebuah game: apakah bom pada istrimu dipicu oleh sinyal radio atau oleh sinyal selular? Kau bisa menebak salah satunya. Dan jangan menggunakan mobil ketika kau melarikan diri, aku mungkin memiliki kabel yang sama untuk di ledakan,” sebuah tawa gelap terdengar dari speaker mobil. “Seberapa jauh kau harus pergi untuk menjamin keselamatannya jika ini berjalan buruk, atau aku memutuskan untuk benar-benar menjadi seorang bajingan?”

Ethan menggeram, tubuhnya bergetar dengan suara, tapi suaranya kuat dan yakin ketika ia terus memanggil istrinya. Jawabannya, yang berupa tangisan, penuh ketakutan dan ketika ia mendekat, Ethan melangkah memutariku dan menangkapnya dalam pelukannya. Aku melihat tanda merah di atas tulang pipinya dan sebuah luka bakar kecil di salah satu bahunya, selain itu ia tampak baik-baik saja. Isakan keras si rambut merah itu merobek ketegangan yang terjalin, ia mencium puncak kepalanya untuk waktu yang lama sebelum akhirnya menarik penutup matanya dan memeluknya.

Aku tahu, saat itu dia melihatku karena ia langsung tersentak. “Apa yang Lucy lakukan di sini?” tuntutnya, tiba-tiba suaranya menjadi kuat. Matanya melihat borgol di tanganku kemudian menatap tajam suaminya, takut berubah menjadi kebingungan.

“Jariku semakin gatal pada tombol ini,” terdengar suara tak sabar dari pembunuh itu melalui speaker mobil, dan wajah ketakutan menguasai si rambut merah.

“Tidak,” sembur Caleste. “Kau tak bisa meninggalkannya disini,” ketika Ethan tidak menjawab dan malah menoleh kearah sebuah gang di dekatnya, protes Caleste naik menjadi jeritan dan ia berjuang melepaskan pelukan suaminya. Tapi wanita mungil itu tidak punyai kesempatan, tangannya masih di borgol di belakang tubuhnya dan Ethan tak akan membiarkannya pergi. Aku melihat mereka memudar dalam kejauhan, langkah pria besar itu membawanya menjauh dengan cepat. Sebuah perasaan mati rasa menghantuiku ketika aku menyadari dengan sangat jelas bahwa aku benar-benar sendirian, dan kemungkinan besar akan mati. Bagaimana bisa hidupku berubah jadi seperti ini?

Diseberang jalan, pintu disamping pengemudi terbuka dan seorang pria keluar dari mobil. Dia berpakaian santai, dengan hanya jaket kulit tipis yang melindunginya dari udara dingin yang datang dari arah laut. Celananya berkibar tertiup angin ketika ia berjalan kearahku, suara langkah kakinya semakin terdengar keras. Ia mengenakan kaca mata hitam berbingkai kecil, meskipun sedang berawan, kaca mata itu begitu cocok dengan wajahnya. Sebagian dari otakku mengatakan dia cukup tampan tapi dengan cara yang diredam, ‘orang baik’ yang kau tak benar-benar perhatikan. Mengingat kejadian hari ini, aku ragu aku bisa melupakan wajah pria ini walaupun aku tetap hidup setelah ini.

Aku berdiri tegak ketika ia mendekat, bersandar ke mobil sebagai penopang. Kakiku seperti jeli, terancam ambruk karena rasa takut. Tapi aku mencoba menghadapinya dengan kepala terangkat dan mencoba untuk meniru tatapan tenang Jeremiah. Berhasil meski dengan susah payah, terutama ketika akhirnya ia berhenti cukup dekat hingga aku dapat menyentuhnya. Diam-diam dia mempelajari diriku dan mataku bertemu dengan pandangannya, nafasku tersentak, tapi aku tak ingin mundur lagi.

“Sebenarnya sangat jarang terjadi aku Bertemu face to face dengan targetku,” katanya, menaikan salah satu alisnya. “Tentu saja, hal ini juga jarang terjadi, mereka melihatku dan hidup untuk menceritakan kisah ini. Sejujurnya, aku lebih suka cara ini, menonton wajah seseorang pada saat-saat terakhirnya.” Ia tertawa, kegeliannya tampak nyata. “Tentu saja kau tak pernah menjadi targetku sampai kau lolos dari racunku malam itu, gadis licik,”

Senyuman palsu di wajahnya tak menjangkau matanya dan itu membuat tubuhku bergidik. Matanya sudah mati, hanya genangan hitam tanpa sesuatu yang berarti. Aku berusaha untuk tetap bisa mengontrol diriku sendiri, mengatupkan bibirku erat-erat hingga tidak akan mengeluarkan suara apapun. Sebagai pengingat untuk tidak mengemis padanya, prospek tentang kematian membuatku lemah dan aku menempel pada kaca mobil untuk menjagaku agar tidak jatuh.

“Bukan berarti aku tidak menikmati kebersamaan kita...” ia melirik arlojinya. “Tapi kita punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum pasukan itu tiba. Enam, jika mereka memiliki metode pelacakan secara tepat yang tak kuketahui. Pabrik-pabrik ini adalah labirin, sulit untuk di lewati meskipun dengan peta.” Pembunuh itu meraih bagian belakang tubuhnya, dan mengeluarkan pistol hitam, membelai larasnya dengan tangannya yang bebas tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Dia melihatku menonton dan mengangkat bahunya. “Ini adalah pukulan untuk ego professionalku ketika kalian berdua selamat dari upaya pembunuhanku. Aku tak akan menggunakan trik itu lagi, tapi tetap saja, aku harus memperbaiki kesalahanku.”

Aku menjaga pandanganku pada pria di hadapanku, berusaha mati-matian untuk mengontrol pernapasanku. Selusin skenario untuk kabur melintas di kepalaku: pertarungan tangan kosong, melarikan diri, menyelam kedalam air. Namun aku tetap kalah di dalam setiap skenario. Dengan parah. kepercayaan diri diwajahnya menunjukan berbagai hal yang perlu kuketahui, salah satunya adalah, kemampuannya mengejar mangsanya lebih besar dari pada kemampuanku melarikan diri, terutama di tempat terbuka seperti ini. Tubuhku seperti mati rasa ketika melihat ia menyiapkan senjatanya. Apakah akan benar-benar terjadi seperti ini? Aku hanya berakhir sebagai umpan untuk memancing Jeremiah pada kematiannya?

Sebuah tabung kecil terlihat di salah satu tangan pria itu, dengan santai ia menghubungkannya dengan ujung pistolnya, memutarnya di tempat. Dia memiringkan kepalanya ke satu sisi dan mempelajari wajahku. “Kau sangat berani,” komentarnya. “sebagian besar target akan mengemis untuk kehidupan mereka saat ini.”

Aku akan melakukannya jika itu memang berguna. Angin berhembus dari arah laut, ombak menabrak penyokong kayu di bawah kami, mengguncang lantai di bawah kakiku. Tubuhku berhenti menggigil saat menyadari bahwa aku akan segera mati.

“Aku lebih suka bertatap muka seperti ini,” dia melanjutkan. “Tapi kebanyakan orang akan berlari dan aku harus menembak mereka dari belakang. Bisnis yang menyebalkan, hampir menghapus martabat dan kesenangan.” Dia mengangkat pistolnya dan ditujukan kewajahku. “Jangan khawatir, sayang, kau akan melihat miliader kesayanganmu se...”

Sesuatu mendesing lewat samping telingaku dan pembunuh itu tubuhnya berputar, ambruk ke tanah. Aku menatap bingung ketika ia meronta-ronta di bawah kakiku. Mendengus dalam kesakitan  yang jelas dan memegang bahunya, kemudian akal sehatku kembali hadir sepenuhnya. Aku berputar untuk melarikan diri, namun sebelum aku mampu melangkah pergi, sebuah tangan meraih pergelangan kakiku dan aku terguling ke tanah. Aku berhasil tubuhku, melukai lututku untuk pertama kalinya sejak aku masih kecil, tapi sangat bersyukur karena Ethan memborgol tanganku di depan tubuhku. Aku berteriak ketika rambutku ditarik dan diseret ke belakang hingga aku berbaring di atas tubuh pembunuh itu.

“Bajingan itu.” gumam si pembunuh, dan aku tak tahu siapa yang sedang ia bicarakan sampai melihat perangkat kecil di tangannya. Benda itu memiliki dua tombol, satu merah dan satu biru, dan tampak terlihat seperti kunci mobil elektronik. Aku mulai menyadari dengan ngeri, ini mungkin pemicu bom di tubuh Celeste.

“Tidak!” aku meraih tangannya, bergulat untuk mendapatkan kontrol itu. Jelas terjadi sesuatu yang salah – Ethan sudah mengkhianatinya, atau pasukan itu sudah datang - namun itu tidak masalah, aku tak bisa membiarkan dia menekan tombol itu. yang kuingat adalah ekspresi panik Caleste ketika ia melihatku, tangisannya ketika tak ingin meninggalkanku bahkan ketika Ethan bergegas membawanya pergi, dan aku tak pernah berpikir untuk membiarkannya mati. Tidak tanpa perlawanan.

Pembunuh itu tidak memperkirakan perlawananku, dan aku hampir bisa mengambil perangkat itu sebelum ia melawan. Salah satu tangannya bebas namun sama sekali tidak berguna – darah mengalir dari luka besar di bahunya - jadi antara tangannya yang terluka dan tanganku yang diikat, keduanya hampir setara. Aku juga mulai menyadari bahwa ia menggunakanku sebagai tameng terhadap penembak jitu dan aku tak ingin berkompromi dengan hal tersebut, tapi ia masih melingkarkan salah satu kakinya di pinggangku dan menahanku, mencoba mengambil perangkat itu dari tanganku.

Sebuah kilatan kemenangan mengalir dari tubuhku ketika aku bisa merebut perangkat plastik kecil itu darinya, tapi sebelum aku bisa membuangnya ke air di sekitar kami, ia menyikut samping wajahku. Nyeri meledak melalui tengkorakku, aku tertegun, aku ragu-ragu untuk beberapa saat dan tangannya kembali ke tanganku, mencoba untuk mengambil kembali perangkat kontrol itu dari tanganku. Telingaku berdengung, aku berusaha untuk tetap memegangnya, tapi ia menyikutku lagi, kali ini ke dadaku, menekan udara keluar dari paru-paruku. Aku pusing, aku berusaha untuk bernapas dan itu memberikannya cukup waktu untuk merebut kembali perangkat itu dari genggamanku. Kemarahan dan kemenangan memenuhi wajahnya, dan aku menatapnya putus asa ketika ia menekan tombol merah.

Tapi tak ada yang terjadi.

Dia mengerjapkan matanya, kemudian menatap kontrol itu. jarinya menekan lagi tombol merah itu, tapi hal yang ia harapkan jelas tidak terjadi dan ekpresinya mengatakan hal itu. “Well, persetan,” katanya, bahunya merosot dalam kekalahan.

Aku menyentak kepalaku ke belakang, menabrakan tengkorakku ke hidung dan mulutnya. Dampaknya kembali membuatku pening, tapi cengkramannya mengendur dan aku berguling kesampingnya. Mata kami bertemu ketika ia mengangkat tangannya, mengarahkan pistolnya langsung padaku.

Kemudian bagian belakang kepalanya meledak, dan ia roboh kembali ke aspal.

Tubuhku bergetar, aku berusaha untuk bernafas, tapi tak bisa mengalihkan pandanganku dari pemandangan mengerikan itu. ancaman histeris, isakan terpaksa dalam nafasku keluar ketika aku menegakan diriku, dadaku sakit karena sikutannya. Tidak ada air mata, tubuhku terasa kebas dan mati rasa, yang bisa kulakukan adalah menatap wajah kosong pembunuh itu, lobang di tengkoraknya dan...genangan di belakang kepalanya. Kurasa aku akan muntah.

Aku tak tahu berapa lama aku duduk disana, menatap darah yang berantakan di sekitarku, sebelum aku mendengar ban mobil mendekati lokasi kami. Telalu kebas untuk menggerakan kepalaku, namun aku bisa melihat sedan gelap dan SUV bergerak mendekat, mengelilingi kami di jalur yang sempit. Orang-orang keluar dari kendaraan, berjalan di sekitar lokasi kami dan menggunakan seragam hitam familiar yang sudah kulihat selama seminggu belakangan ini. Tak satupun dari orang Jeremiah berjalan mendekatiku, meskipun salah satu dari mereka dengan perlahan mengambil remot kontrol yang terlempar dari genggaman pembunuh itu ketika ia tertembak. Aku ingin mengatakan sesuatu, menjelaskan kepada mereka apa sebenarnya benda itu, namun aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari wajah pembunuh itu, ekpresi pria itu selamanya membeku dalam keheranan.

Sebuah suara asing terdengar mendekat, dan akhirnya aku membalikan wajahku untuk melihat sebuah helikopter muncul melalui kabut di atas air. Seorang pria jangkung berdiri di ambang pintunya, dan ketika helikopter itu mendekati tanah, ia meloncat, mendarat dengan mudah dan berjalan lurus kearahku. Senapan laras panjang tergantung di bahunya, dan ketika ia mendekatiku, ia jatuh berlutut dan segera memelukku.

Tubuhku bergetar, dengan mengerikan dan tak terkendali, dan tangisan itu meledak keluar ketika akhirnya aku membuka jalan untuk emosi yang sudah ku pendam. Aku berpeganagn pada Jeremiah ketika ia dengan lembut mengangkatku, menekan tubuhku terhadap tubuhnya, dan membawa masuk tubuh kami kedalam salah satu SUV yang sudah menunggu.

***

Perjalanan pulang itu sangat tenang, dan aku bersyukur karenanya. Jeremiah menempatkanku di atas pangkuannya, tangannya membelai punggung dan lenganku dengan irama yang menenangkanku. Tak ada permintaan dari sentuhannya, mungkin ini adalah sentuhan posesif, tapi aku sangat membutuhkannya untuk merasa aman. Perasaan kebas sebelumnya sudah memudar, namun aku terlalu lelah untuk menjerit. Yang aku inginkan adalah meringkuk di ruangan gelap, menjauh dari lingkungan orang-orang, dan mencoba untuk melupakan kejadian beberapa jam yang lalu.

Namun otakku masih terus mengenang adegan mengerikan itu: penjaga yang sekarat di hadapanku ketika di rumah itu, saat-saat terakhir Anya, ratapan Caleste padaku ketika ia dibawa ke tempat aman, ledakan kepala pembunuh itu dengan darah kentalnya. Ketika aku melihat sebuah noda yang kupikir adalah darah di salah satu lengan ketika di dalam SUV dengan Jeremiah, aku hampir gila dan berusaha menghilangkan noda dari pakaian itu. hanya suara berat Jeremiah, dan tangannya dengan cekatan melepaskan lapisan pakaian itu dari tubuhku, menjagaku untuk tidak histeris yang sesungguhnya sangat kubutuhkan.

Harapan untuk mendapatkan ketenangan menghilang ketika aku melihat kendaraan yang berjejer di depan rumah, penjaga dengan seragam asing berdiri di pintu masuk. Aku merintih ketika pintu mobil Jeremiah di buka, tak ingin berada di tengah-tengah sirkus yang lain, tapi hanya berpegang kepada lehernya ketika ia membawa kami keluar dari mobilnya. Bibirnya mendekati telingaku, nafasnya hangat di sekitar kulitku ketika ia bertanya. “Bisakah kau berjalan sendiri?”

Dorongan untuk menjawab tidak, dan merasa aman bersamanya selama mungkin, sangatlah kuat. Namun aku mengangguk, percikan kebebasan mendorong diriku untuk mampu mengontrol diriku sendiri. Jeremiah masih tidak melepaskanku untuk beberapa detik ketika kami melewati kerumunan asing, kemudian ia dengan lembut menurunkanku ketika kami sudah di pintu masuk. Aku terhuyung sejenak, menjaga keseimbangan dengan mencengkram tangannya, tapi ia tampaknya tak keberatan. “Siapa orang-orang ini?” tanyaku akhirnya, membersihkan tenggorokanku. Suaraku terdengar berat di telingaku sendiri, mungkin karena menangis sebelumnya.

“Mereka aparat pemerintahan, disini untuk membawa kakakku ke tahanan.”

Bibir Jeremiah menyerupai garis tipis dan aku bisa mengatakan apakah ia setuju atau tidak, tapi pemikiran mengenai Lucas masuk penjara sangatlah mengecewakan. Di lobi, seorang pria yang terluka menatap kantung mayat di depannya, wajahnya terlihat lelah. tatapan Lucas mengikuti tubuh itu ketika dua pria berseragam forensik mengangkatnya dan menurunkannya di luar, kemudian ia memandangku. Kelegaan terpancar di matanya. “Aku senang kau selamat, sayangku,” katannya, mengangguk kecil padaku. “sudah jatuh terlalu banyak korban dalam masalah ini,”

“Terima kasih atas bantuanmu,” jawabku, kemudian mendesah. “Aku tidak berharap kau akan berakhir seperti ini,”

“Ini adalah resiko yang kuambil ketika datang kesini,” Lucas mengangkat bahu. Salah satu bibirnya di tarik membentuk seringai. “Aku menghargai kekhawatiranmu, walau bagaimanapun...ini manis,”

Aku mengerutkan keningku, mencoba mencerna apakah pernyataan itu berupa pujian atau penghinaan, dan kebingunganku tampak menghiburnya. “selamat tinggal, Fair Lady.” Katanya ketika petugas menariknya keluar rumah. “Aku harap kita bisa segera bertemu lagi.”

Jeremiah melangkah kesamping, memblokir pintu keluar. “Kakak.” Dia memulai, tapi Lucas menggeleng.

“Jangan. Tak peduli apakah kau akan memaafkan aku atau menyalahkanku, aku tak ingin mendengarnya. Kebenarannya sudah terungkap dan kini kita semua hidup dengan konsekuensi kita masing-masing.”

Kedua kakak beradik itu saling pandang untuk beberapa saat, dua sosok yang cocok dengan cahaya yang memudar di luar. Akhirnya, Jeremiah memberikan jalan, dan Lucas dibawa ke dalam kendaraan yang sudah menunggu. Aku menatap kecewa ketika mobil yang membawanya dan mobil-mobil aparat lainnya menuju pintu gerbang utama.

Jeremiah menatap kesekeliling lobi. “Mana ibuku?” tanyanya pada penjaga terdekat.

“Para petugas meminta pernyataannya secara singkat, kemudian ia diperbolehkan pergi pak,”

Bibir CEO itu menipis sebentar lalu ia mendesah. Aku mengerutkan kening; aku berharap sesuatu yang lebih pada wanita menjijikan itu, tapi kumenduga kebiasaan seumur hidup akan sulit untuk diubah. Aku meletakan tanganku diatas tangannya untuk menghibur, kemudian kembali tegang ketika aku melihat sosok familiar lain yang berjalan mendekati kami.

Ethan terlihat waspada dari wajahnya, namun anehnya ia tidak mengenakan borgol atau ikatan apapun. Caleste tidak terlihat, dan sementara aku sangat ingin mengetahui bahwa ia baik-baik saja, aku hanya terdiam. “Aku senang kau baik-baik saja.” Pria botak itu berkata padaku.

Aku mendekat pada Jeremiah, kecurigaan dan rasa tidak percaya bergema di otakku. Meskipun aku tahu alasan Ethan menculikku, situasi tersulit yang ia hadapi, aku tetap tak bisa memaafkan dirinya atas perlakuannya itu. melihatnya saat ini hanya akan membawa kembali kenangan atas kain yang ia tempelkan di atas mulutku, aroma obat bius yang merembes ke tenggorokanku, dan teror ketika ia meninggalkanku untuk menghadapi takdirku sendiri.

“Terima kasih,” kata Jeremiah dari sampingku, tangannya menarikku lebih erat menekan tubuhnya. Tubuhnya kaku ketika ia bicara pada pengawal itu. “Ini bisa menjadi sangat sulit tanpa bantuanmu,”

Ethan mengaguk. “aku berhasil menemukan sebuah lemari pendingin yang berat di dalam sebuah gedung. Hal itu mencegah sinyal cukup lama untuk memberikanku waktu melucuti seluruh bom di tubuh caleste.” Tatapannya beralih padaku. “Aku dengar aku harus berterima kasih padamu untuk penundaan ekstra,”

Bingung, aku menoleh pada Jeremiah. Dia membantu? Bagaimana bisa?

“Referensi Kosovo,” Kata Jeremiah, menjawab pertanyaanku. “Informan kita dalam misi ini membawa kita masuk ke dalam jebakan itu, memberikan beberapa info yang salah dan membuat beberapa orang tewas. Namun ia membuat sebuah koordinat baru di ponselnya dan kita bisa meneruskan misi ini.” Tatapan kuatnya tak pernah meninggalkan sosok pengawal botak itu. “aku senang hasilnya lebih baik kali ini.”

Ethan mengangkat bahu, tapi matanya berkerut dan meringis. “Caleste sama sekali tidak senang dengan caraku dalam menyelesaikan masalah ini,” dia melirik padaku. “Meninggalkanmu dengan pembunuh itu mungkin adalah satu-satunya hal yang mempertaruhkan perkawinanku.”

Sebagian dariku sangat ingin menghiburnya – aku bisa melihat bagaimana ia sangat memuja istrinya - tapi aku tak bisa mengatakan apapun. Semuanya masih terlalu segar, terlalu banyak kenangan buruk dan hubungan sensorik sebelum aku bisa merasa nyaman berada di sekitar pria itu. kurasa ia menyadari hal itu karena kemudian ia tampak menyesal. “Aku harap aku memiliki cara lain,” katanya, matanya menatapku.

Sebelum aku bisa bereaksi, Jeremiah melangkah maju. Lengannya sudah bergerak dan tinjunya mengenai rahang Ethan dengan suara yang memuakkan. Pria botak itu terhuyung kebelakang, kemudian jatuh ke lantai, Jeremiah berdiri menjulang di atas sosok Ethan yang telentang. “Kau di pecat.”

Sebuah protes tersangkut di tenggorokanku ketika aku menatap kedua pria itu. keheningan mengalir diantara kedua pria itu, kemudian Ethan mengaguk. “Aku mengira akan mendapatkan lebih buruk dari ini.”

Jeremiah melangkah maju, mengulurkan tangan, dan membantu Ethan berdiri. “Kau masih memiliki rasa hormatku, tapi aku tak bisa mempercayaimu lagi,” dia melangkah pergi. “Ambil barang-barangmu dan tinggalkan rumah ini dalam setengah jam; kita akan mengurus masalah lainnya nanti.”

Ethan mengaguk dengan tenang kemudian berbalik menghadapku. “Untuk segala sesuatu yang berharga, aku minta maaf atas semua tindakanku,”

“Istrimu diculik,” jawabku, mengejutkan diriku sendiri. “Kau melakukan apa yang kau pikir harus kau lakukan, dan berhasil membantu pasukan itu untuk menyelamatkanku.” Aku berjuang untuk menemukan kata-kata untuk melanjutkan, masih terganggu dengan kejadian hari itu. apakah aku benar-benar memaafkan pria ini? “Aku harap kau dan Caleste mampu menyelesaikan masalah ini.” Aku menyelesaikan dengan lemah, tak mampu dan belum ingin melepaskan dirinya. Kehadirannya masih membuatku gugup, dan aku bergeser lebih dekat pada Jeremiah.

Ethan melihat gerakanku dan kesedihan terpancar dari matanya. “Jaga dia,” katanya padaku, kata-katanya mengejutkanku, lalu berjalan berbalik ke pintu keluar.

Aku menatap Jeremiah yang sedang memandang pintu masuk dimana teman lamanya baru saja keluar dari pintu itu. dia tentu merasakan tatapanku karena kemudian ia menoleh padaku. Bibirku terbuka ketika terpana pada keindahannya, dan mengangkat salah satu tanganku untuk membelai wajahnya. Salah satu tangan besarnya menutupi tanganku, dan menempatkan sebuah ciuman lembut di telapak tanganku, yang spontan mengirim getaran melalui tubuhku. Tanpa pikir panjang, aku melemparkan tanganku ke tubuhnya dan membenamkan kepalaku di dadanya, menekan isak tangis yang terbentuk. Aku aman.

Dan aku tahu, di luar bayangan keraguan, bahwa tak bisa di pungkiri lagi, aku jatuh cinta pada pria di hadapanku. Emosi itu meledak melalui diriku, hingga membuatku pening terhadap kenyataan bahwa aku bertekuk lutut pada pria keras tapi juga lembut yang belum lama kukenal. Bahkan sisi logis dari otakku, bagian yang telah mencerca gagasan konyol ini sebelumnya, diam-diam juga sepakat.

Lengan Jeremiah melingkari bahuku dan mencium bagian atas kepalaku ketika seorang pengawal lain datang melalui pintu. Aku mengintip kesamping untuk melihat pria muda itu tampak gugup. “Um...sir...”

“Ya Andrew?” jawab Jeremiah, masih membuatku tetap dekat dengan tubuhnya.

Andrew menelan ludah, tampak enggan untuk berbicara. “Petugas pemerintahan baru saja sampai di gerbang,” katanya, meletakan tangannya di belakang punggungnya dan berdiri tegak. Sikap militernya tampak memberikannya kepercayaan diri yang lebih. “Mereka di sini untuk menangkap saudara anda,”

Aku mengerjapkan mata bingung, kemudian menatap Jeremiah. Wajahnya kosong untuk sesaat kemudian ia mulai mengumpat.

Aku menundukan kepalaku pada tubuh Jeremiah, menyembunyikan senyumku pada tipu muslihat Lucas dan mengagumi kejadian hari itu.

***

Penerjemah: Cherry Ashlyn
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

20 comments

Makasiii mas mimin dan bebeb :* satu chapter lagi~

Yes yes yes !!
Thx masmin nd mba cerii..
:-D
Kebut baca,

love this, bru kali ini lihat om remi ngamuk, biasany sllu tenang xixixii
baby girl trims ya *cup cup muach*
mas mimin trims yaaa...

OmG !!!
(ʃ‾̩̩̩‾̩̩̩~‾̩̩̩‾̩̩̩ƪ) tinggal satu bab lagi yah !!!!!!
♥·♡ †нªηк's ♥·♡ mas and mba !!!!
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦

Trus yg dtg td sypa???trus ap yg d lakukan lucas??hmm mkin pnasaran
tks cherry mamas

trims mbak cherry n mas admin.... seruuuuuu

save dl..thx mb n mas admin..

◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ chery :*
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mas admin :)
Kereenn, berasa ntn film action

tq cherry n mas yudi.
xixixi..
sang hero dtg pake heli.
cool Jeremiah!

"Aku menundukan kepalaku pada tubuh Jeremiah, menyembunyikan senyumku pada tipu muslihat Lucas dan mengagumi kejadian hari itu."
best scene nihh, hihihihi Lucas emang the best deh. *loh (?)
hihihihi makasi om mimin...
selamat menikmati semuanya... :)

CeRdiK x LuCas ni kEk kanciL,,,berarTi yG tDi puRa2 diTangKap oRg suRuHan LuCas,,,hahahahaaha jeremi ketiPu,,,, hmmm mbak cherry buKu ke 6 na gK ada yA?

CeRdiK x LuCas ni kEk kanciL,,,berarTi yG tDi puRa2 diTangKap oRg suRuHan LuCas,,,hahahahaaha jeremi ketiPu,,,, hmmm mbak cherry buKu ke 6 na gK ada yA?

maakaasin Zia,,,,,,,,,,,makasih mas Yudi......

makasih smuanya,,,aq t'haru bangetzzz,,,

happy anding.. ^-^ (Y)

mbk Helda n mbk cherry udah mau kelar ya AHW nya? yaahhh g'rela di tinggal Jeremiah...:-(

gud job cherry..
:)
mksh mas mimin
:))

Makasih mb cherry n mas mimin..
Di bab ini melihat sisi lain dr jeremiah..
Tyt dia bsa sweet jg..wkwjww

OMG.. can't wait banget buat Bab 5 nya..

Belum ada kah last chapter nya..?? *kedip-kedip*

makasih ya mas, seru, so sweet u/ jeremiah & lucy. lucas otaknya encer bgt hebat. tak tunggu lanjutannya, dan seru lg klo lucas msh terobsesi sm lucy & lucy jg punya ketertarikan sm lucas, jd cinta segi 3 tambah seru. aku pengenya lucas lebih lembut ML nya tdk sprt jeremiah yg BDSM.

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top