21

fsf-thumb
Aku terbangun tiba-tiba, mimpi erotisku langsung terlupakan.
   
"Tadinya aku tengkurap. Aku pasti berbalik saat aku tidur tadi." Aku berbisik lemah sebagai pembelaan.
   
Di matanya berkobar kemarahan. Ia meraih ke bawah, memungut atasan bikiniku dari kursinya dan melemparkannya padaku.
   
"Pakai ini!" desisnya.
   
"Christian, tak ada yang memperhatikan."
   
"Percayalah padaku. Mereka memperhatikan. Aku yakin Taylor dan anggota keamanan menikmati pertunjukkan ini!" geramnya.
   
Sial! Mengapa aku terus melupakan keberadaan mereka? Aku menyentuh payudaraku karena panik, menutupi mereka. Sejak terjadinya sabotase pada Charlie Tango, kami selalu ikuti keamanan sialan itu.
   
"Ya," Christian menggeram. "Dan beberapa paparazzi brengsek bisa saja sudah mendapatkan fotomu juga. Apa kau ingin berada di sampul majalah Star? Tanpa pakaian untuk kali ini?"
   
Sial! Paparazzi! Brengsek! Saat aku terburu-buru mengenakan atasanku, wajahku memucat. Aku merinding. Memori tidak menyenangkan saat aku dikepung oleh paparazzi diluar SIP setelah pertunangan kami terbongkar datang tanpa diundang kedalam pikiranku - semua hal tentang Christian Grey.
   
"L'addition!" (bilnya!) Christian membentak pelayan yang sedang lewat. "Kita pergi," katanya padaku.
   
"Sekarang?"
   
"Ya. Sekarang."
   
Oh sial, dia sedang tak bisa didebat.
   
Ia mengenakan lagi celana pendeknya, meskipun celana renangnya sangat basah, kemudian T-shirt abu-abunya. Pelayan kembali beberapa saat kemudian dengan kartu kreditnya dan bilnya.
   
Dengan malas, aku menggeliat kedalam gaun musim panasku yang berwarna turquoise dan melangkah kedalam sandalku. Setelah pelayan pergi, Christian mengambil buku dan BlackBerry-nya dan menutupi kemarahannya dibelakang kacamata aviator miliknya. Ia meremang dengan tensi dan kemarahan. Hatiku ciut. Setiap wanita lain di pantai itu tidak mengenakan pakaian - hal itu bukanlah kejahatan besar. Faktanya aku terlihat aneh dengan atasan bikini yang kukenakan. Aku mendesah dalam hati, jiwaku tenggelam. Aku pikir Christian akan melihat sisi kelucuannya...sejenis itulah...mungkin akan terjadi jika aku tetap tengkurap, tapi selera humornya sudah menguap.
   
"Kumohon jangan marah padaku," Aku berbisik, mengambil buku dan BlackBerry-nya dan meletakkannya di ranselku.
   
"Terlambat untuk itu," katanya pelan - terlalu pelan. "Ayo." Ia mengambil tanganku, kemudian memberi sinyal ke Taylor dan dua pengikutnya, pihak keamanan Perancis Philippe dan Gaston. Anehnya, mereka berdua kembar identik. Mereka sudah dengan sabar mengawasi kami dan orang lain yang berada di pantai dari beranda. Mengapa aku selalu melupakan keberadaan mereka? Bagaimana bisa? Taylor memasang tampang keras dibalik kacamatanya yang gelap. Sial, ia juga marah padaku. Aku masih belum terbiasa melihatnya berpakaian sangat santai dengan celana pendek dan polo shirt berwarna hitam.
   
Christian membawaku menuju hotel, melewati lobby, dan keluar menuju jalanan. Ia tetap diam, geram dan bertempramen buruk, dan semua itu salahku. Taylor dan timnya membayangi kami.
   
"Mau kemana kita?" Aku bertanya cepat, menatap kearahnya.

"Kembali ke kapal." Ia tak melihat kearahku.
   
Aku tak tahu pukul berapa saat ini. Aku rasa sudah pukul lima atau enam sore. Saat kami sampai di pelabuhan, Christian membawaku ke dermaga dimana motorboat dan Jet Ski milik "the Fair Lady" ditambatkan. Saat Christian melepas ikatan Jet Ski, aku memberikan ranselku pada Taylor. Aku menatap gugup kearahnya, tapi seperti Christian, ekspresinya tak menunjukkan apapun. Aku merona, memikirkan apa yang sudah ia lihat di pantai.
   
"Ini untukmu, Mrs. Grey." Taylor memberikanku jaket pelampung dari motorboat, dan aku dengan patuh mengenakannya. Mengapa hanya aku seorang yang harus mengenakan jaket keselamatan? Christian dan Taylor saling bertukar pandangan yang aneh. Astaga, apakah ia marah pada Taylor juga? Kemudian Christian memeriksa pengikat jaket kesematanku, ingin mengencangkan tali bagian tengah.

"Kau saja yang lakukan," Ia menggumam cemberut, masih tak mau menatapku. Sial.

Ia memanjat dengan anggun kedalam Jet Ski dan mengulurkan tangannya padaku agar aku bergabung dengannya. Kugenggam erat-erat, aku memutuskan untuk berjalan kearah kursi dibelakangnya tanpa terjatuh ke air saat Taylor dan si kembar naik ke motorboat. Christian mendorong Jet Ski menjauh dari dermaga, dan benda itu mengapung dengan lembut.

"Pegangan," perintahnya, dan aku melingkarkan tanganku ditubuhnya. Ini adalah bagian favoritku dari berkelana menggunakan Jet Ski. Aku memeluknya erat, hidungku menghisap harum punggungnya, heran pada saat-saat ia tidak memberi toleransi padaku untuk memeluknya seperti ini. Ia beraroma...Christian dan laut. Maafkan aku, Christian, please?

Ia menegang. "Jangan sampai jatuh," katanya, nadanya lebih lembut. Aku mencium punggungnya dan meletakkan pipiku di tubuhnya, menatap kearah dermaga dimana beberapa turis berkumpul untuk menonton pertunjukkan.

Christian memutar kuncinya dan mesinnya meraung hidup. Dengan sekali putaran di akselerator, Jet Ski berjalan maju dan cepat melintasi air dingin yang gelap, menjauhi dermaga dan kearah the Fair Lady. Aku memeluknya erat. Aku suka ini - begitu menyenangkan. Setiap otot di tubuh Christian menjadi tegang saat aku berpegangan padanya.

Taylor mengikuti dengan motorboatnya. Christian melirik kearahnya kemudian berakselerasi lagi, dan kami melaju dengan cepat, bergerak diatas permukaan air layaknya batu yang dilempar ke air dengan ahli. Taylor menggelengkan kepalanya saat mengundurkan diri dengan kesal dan bergerak kearah kapal pesiar, saat Christian melaju melewati the Fair Lady dan bergerak kearah laut lepas.

Cipratan air laut mengenai kami, angin yang hangat menerpa wajahku dan menerbangkan rambut kuncirku. Ini sangat menyenangkan. Mungkin sensasi dari ini akan menjauhkan suasana buruk Christian. Aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku tahu ia menikmati dirinya sendiri - bebas, berekspresi sesuai dengan umurnya.

Ia mengemudi dalam lingkaran besar dan aku memperhatikan garis pantai - kapal-kapal di dermaga, mosaik berwarna kuning, putih dan berwarna pasir dari kantor dan apartemen, dan gunung-gungung berkarang dibelakangnya. Semua itu terlihat berantakan - tidak seperti blok teratur yang biasa kulihat - tapi sangat indah seperti lukisan. Christian melirik dari bahunya kearahku, dan ada senyum misterius bermain di bibirnya.

"Lagi?" ia berteriak melawan suara bising dari mesin.

Aku mengangguk antusias. Jawabannya berupa senyuman menawan, dan ia melepas rem dan meluncur disekitar Fair Lady dan kearah laut lepas sekali lagi...dan aku pikir aku dimaafkan.

***

"Kau terbakar matahari," kata Christian ditengah-tengah membukakan jaket keselamatanku. Aku gelisah saat mencoba menebak moodnya. Kami sudah berada di geladak kapal pesiar, dan salah satu pelayan berdiri diam didekat kami, menunggu jaket keselamatanku terlepas. Christian memberikan itu padanya.

"Apa ada lagi, Tuan?" pria muda itu bertanya. Aku menyukai aksen Perancisnya. Christian melirikku, membuka kacamatanya, dan menyelipkannya di leher T-shirtnya, membiarkannya menggantung.

"Kau mau minum?" ia bertanya padaku.

"Apa aku membutuhkannya?"

Ia memiringkan kepalanya ke satu sisi. "Mengapa kau berkata seperti itu?" Suaranya lembut.

"Kau tahu mengapa."

Ia membeku seperti sedang menimbang sesuatu dipikirannya.

Oh, apa yang sedang ia pikirkan?

"Dua gin dan tonic, please. Dan beberapa kacang dan zaitun," katanya pada pelayan, yang langsung mengangguk dan secepat itu pula menghilang.

"Kau pikir aku akan menghukummu?" suara Christian selembut sutra.

"Kau mau?"

"Ya."

"Bagaimana?"

"Aku akan memikirkan sesuatu. Mungkin saat kau meminum minumanmu." Dan itu adalah perlakuan yang sensual. Aku menelan ludah, dan dewi batinku berkedip genit dari kursi berjemurnya saat ia sedang menangkap cahaya dengan reflektor silver yang diarahkan kelehernya.

Christian membeku sekali lagi.

"Apa kau mau dihukum?"

Bagaimana ia bisa tahu? "Tergantung," gumamku, memerah.

"Pada?" Ia menyembunyikan senyumannya.

"Tergantung kau ingin menyakitiku atau tidak."

Bibirnya menekan ke garis lurus yang kaku, lelucon terlupakan. Ia maju dan mencium keningku.

"Anastasia, kau istriku, bukan sub-ku. Aku tak pernah ingin menyakitimu. Kau harus mengetahuinya. Hanya...hanya saja jangan pernah membuka pakaianmu di depan umum. Aku tak mau foto telanjangmu ada di seluruh majalah. Kau juga tak menginginkan itu, dan aku yakin ibumu dan Ray tak menginginkannya juga."

Oh! Ray. Sial, ia menderita serangan jantung. Apa yang aku pikirkan? Aku menghukum diriku sendiri secara mental.

Pelayan muncul dengan membawa minuman kami dan makanan ringan dan menempatkannya di meja jati.

"Duduk," Christian memerintah. Aku menurut apa yang ia perintahkan dan duduk di kursi direktur. Christian duduk disebelahku dan memberikanku gin dan tonic.

"Bersulang, Mrs. Grey."

"Bersulang, Mr. Grey." Aku meneguk untuk pertama kalinya. Minuman ini meredakan dahaga, dingin dan lezat. Saat aku memandangnya, ia memerhatikan aku perlahan, moodnya tak dapat ditebak. Sangat membuat frustasi...Aku tak tahu apakah ia masih marah atau tidak padaku. Aku menggunakan teknik pengalihan perhatianku yang sudah paten.

"Siapa pemilik kapal ini?" Tanyaku.

"Seorang bangsawan Inggris. Sir seseorang-atau-lainnya. Kakek buyutnya membangun toko bahan makanan. Anak perempuannya menikah dengan salah satu dari Putra Mahkota Eropa."

Oh. "Luar biasa kaya?"

Ekspresi Christian tiba-tiba waspada. "Ya."

"Seperti dirimu," Aku menggumam.

"Ya."

Oh.

"Dan seperti dirimu," Christian berbisik dan memasukkan salah satu zaitun kedalam mulutnya. Aku berkedip cepat...gambaran dari dirinya mengenakan tuksedo dan rompi silver melintasi pikiranku...matanya terbakar dengan ketulusan saat ia menatapku saat upacara pernikahan kami.

"Semua milikku kini juga milikmu," katanya, suaranya terdengar jelas mengembalikan memori saat ia mengucap janji.

Semua milikku? Sial. "Terasa aneh. Dari tidak punya apa-apa hingga-" aku menyapukan tanganku ke sekeliling kami yang mewah-"memiliki segalanya."

"Kau akan terbiasa."

"Kupikir aku takkan pernah terbiasa dengan hal ini."

Taylor muncul di geladak. "Sir, ada panggilan untuk anda." Christian membeku tapi mengambil BlackBerry yang disodorkan padanya.

"Grey," bentaknya dan berdiri dari kursinya untuk berdiri dipinggir pesiar.

Aku menatap ke laut, memutar kembali percakapannya dengan Ros-kurasa- tangan kanannya. Aku kaya...sangat kaya. Aku tak melakukan apapun untuk menghasilkan semua uang ini...hanya dengan menikahi seorang pria kaya. Aku merinding saat pikiranku kembali pada percakapan kami mengenai perjanjian pranikah. Saat itu hari Minggu setelah ulang tahunnya, dan kami duduk di meja makan menikmati sarapan...kami semua. Elliot, Kate, Grace, dan aku berdebat mengenai baik buruknya bacon versus sosis, sedangkan Carrick dan Christian membaca koran hari Minggu...

***

"Lihat ini," pekik Mia saat ia menaruh netbooknya di meja makan di depan kami semua. "Ada gosip di Seattle Nooz website tentang kau yang sudah bertunangan, Christian."

"Secepat itu?" kata Grace terkejut. Kemudian bibirnya berkerut saat beberapa pikiran buruk melintasi kepalanya. Christian membeku.

Mia membaca berita itu keras-keras. "Berita sudah sampai disini di "The Nooz" bahwa bujangan terbaik di Seattle, si Christian Grey, akhirnya sudah memutuskan dan lonceng pernikahan sudah menggema diudara. Tapi siapa gadis yang sangat sangat beruntung itu? The Nooz sedang melakukan perburuan. Taruhan bahwa gadis itu sekarang sedang membaca satu perjanjian pranikah yang luar biasa."

Mia terkikik kemudian terdiam saat Christian melotot padanya. Hening menjalar, dan suhu di dapur Grey turun hingga dibawah nol.

Oh tidak! Sebuah perjanjian pranikah? Pikiran itu tak pernah melintas di kepalaku. Aku menelan ludah, merasakan darah surut dari kepalaku. Kumohon bumi, telan aku sekarang! Christian bergerak tak nyaman di kursinya saat aku menatap khawatir padanya.

"Tidak," ia menggumam padaku.

"Christian," ucap Carrick lembut.

"Aku tak akan mendiskusikan ini lagi," ia membentak Carrick yang sedang menatap gugup padaku dan membuka mulutnya untuk berkata sesuatu.

"Tidak ada perjanjian pranikah!" Christian hampir berteriak padanya dan dengan geram kembali menekuni korannya, mengacuhkan siapapun yang ada di ruang makan. Mereka lebih memperhatikan diriku dari pada dirinya...kemudian mengalihkan pandangan ke hal lain selain kami berdua.

"Christian," Aku menggumam. "Aku akan menandatangani apapun yang kau dan ayahmu inginkan." Astaga, ini bukan pertama kalinya ia membuatku menandatangani sesuatu. Christian mendongak dan menatap tajam padaku.

"Tidak!" bentaknya. Aku pucat lagi.

"Ini untuk melindungimu."

"Christian, Ana - Kurasa kalian harus mendiskusikan ini secara pribadi," Grace menegur kami. Ia menatap pada Carrick dan Mia. Oh dear, sepertinya mereka dalam masalah juga.

"Ana, ini bukan tentang dirimu," Carrick menggumam meyakinkan. "Dan kumohon panggil aku Carrick."

Christian menatap dingin ayahnya dan hatiku menciut. Sial...ia benar-benar marah.

Semua orang membangun percakapan yang sangat komikal, dan Mia dan Kate membersihkan meja.

"Tentu saja aku memilih sosis," seru Elliot.

Aku menatap pada jemariku yang berkait. Sial. Aku harap Tuan dan Nyonya Grey tidak berpikir bahwa aku adalah seorang gold digger (wanita yang menikahi pria hanya karena uangnya). Christian menggapai dan menggenggam kedua tanganku dengan lembut dengan satu tangannya.

"Hentikan itu."

Bagaimana ia bisa tahu apa yang aku pikirkan?

"Abaikan ayahku," Christian berkata pelan jadi hanya aku yang dapat mendengarnya. "Ia sangat kesal pada Elena. Semua hal itu tertuju padaku. Aku harap ibuku tetap menutup mulutnya."

Aku tahu Christian masih merasakan kepedihan dari 'pembicaraannya' dengan Carrick mengenai Elena kemarin malam.

"Ia bermaksud baik, Christian. Kau sangat kaya, dan aku tidak membawa apapun kedalam pernikahan kita selain pinjaman biaya kuliahku."

Christian menatapku, matanya suram. "Anastasia, jika kau meninggalkanku, kau mungkin akan mengambil segalanya. Kau sudah meninggalkanku sebelumnya. Aku tahu rasanya."

Sial! "Hal itu berbeda," aku berbisik, bergerak karena keintensitasan dirinya. "Tapi...kau yang mungkin mau meninggalkanku." Pikiran itu membuatku mual.

Ia mendengus dan menggelengkan kepalanya dengan jijik.

"Christian, kau tahu aku mungkin akan melakukan sesuatu yang sangat bodoh - dan kau..." Aku menatap kebawah pada jemariku yang berkait, rasa sakit menjalar ditubuhku, dan aku tak bisa menyelesaikan kalimatku. Kehilangan Christian...sial.

"Hentikan. Hentikan sekarang. Topik ini selesai, Ana. Kita takkan membicarakan ini lagi. Tidak ada perjanjian pranikah. Tidak sekarang - tidak selamanya." Ia memberikan tatapan menyerahlah-sekarang padaku, yang mana membuatku terdiam. Kemudian berbalik kearah Grace. "Mom," katanya. "Bisakah kita mengadakan pernikahan disini?"

***

Dan ia tak pernah membicarakan itu lagi. Faktanya setiap ada kesempatan ia mencoba meyakinkanku tentang kekayaannya...adalah milikku juga. Aku merinding saat aku membayangkan acara berbelanja gila yang Christian perintihkan untukku dan Caroline Acton - pakar belanja dari Niemans - sebagai persiapan untuk bulan madu ini. Bikiniku saja berharga lima ratus empat puluh dollar. Maksudku, bikininya bagus, tapi sungguh - hal itu sangat menggelikan karena uang sebanyak itu digunakan untuk membeli kain berbentuk segitiga.

"Kau akan terbiasa," Christian menginterupsi lamunanku saat ia kembali ke kursinya.

"Terbiasa?"

"Uang," katanya, memutar matanya.

Oh, Fifty, mungkin seiring dengan berjalannya waktu. Aku mendorong hidangan kecil yang berisikan almond dan kacang mende yang dibumbui dengan garam kearahnya.

"Your nuts, sir," (denotasi: Kacang untuk anda, Tuan; konotasi: Anda gila, Tuan) Kataku dengan wajah setenang yang kubisa buat, mencoba membawa sedikit lelucon kedalam percakapan kami setelah pemikiranku yang kelam dan kecerobohanku memilih bikini.

Ia nyengir. "Aku gila tentangmu." Ia mengambik sebuah almond, matanya berbinar dengan humor nakal saat ia menikmati lelucon kecilku. Ia menjilat bibirnya. "Habiskan minumanmu. Kita akan pergi tidur."

Apa?

"Minum," ucapnya tanpa suara padaku, matanya gelap.

Oh my, tatapan yang ia berikan padaku bisa menjadi satu-satunya penyebab pemanasan global. Aku mengangkat ginku dan mengosongkan gelasnya, tidak mengalihkan pandanganku darinya. Mulutnya terbuka, dan aku melihat ujung lidahnya berada diantara giginya. Ia tersenyum cabul kearahku. Dalam satu tegukan, ia berdiri dan membungkuk diatasku, menaruh tangannya di lengan kursi yang kududuki.

"Aku akan memberikan contoh darimu. Ayo. Jangan buang air kecil," ia berbisik di telingaku.

Aku tersentak. Jangan buang air kecil? Betapa kasarnya. Dewi batinku melongok dari balik bukunya - The Complete works of Charles Dickens, Volume 1 - dengan penuh perhatian.

"Ini bukan seperti yang kau pikirkan." Christian tersenyum, mengulurkan tangannya padaku. "Percayalah padaku." Ia terlihat sangat seksi dan riang. Mana mungkin aku menolaknya?

"Okay." Aku menaruh tanganku ditangannya, karena alasannya simpel, aku mempercayainya sepenuh jiwaku. Apa yang sudah ia rencanakan? Jantungku berdetak kencang dalam antisipasi.

Ia membawaku melewati geladak dan melewati pintu masuk kedalam ruang utama yang menonjol, mewah dan indah, lewat koridor, melalui ruang makan dan menuruni tangga menuju kabin utama.

Kabin itu sudah dibersihkan sejak pagi dan ranjangnya sudah dirapikan. Ini adalah ruangan yang indah. Dengan dua tingkapan, satu di bagian kanan dan satu lagi di sisi kiri, ruangan ini secara elegan didekorasikan dengan furnitur kayu walnut gelap dengan dinding berwarna krem dan perabot indah berwarna emas dan merah.

Christian melepaskan tanganku, menaikkan T-shirtnya keluar dari kepalanya, dan melemparkannya ke kursi. Ia melepas sandalnya dan melepaskan celana pendek dan celana renangnya dalam satu gerakan anggun. Oh my. Apakah aku akan pernah lelah melihatnya telanjang? Dia sungguh anggun dan seluruhnya milikku. Kulitnya bercahaya - ia juga terbakar matahari, dan rambutnya lebih panjang, melewati dahinya. Aku adalah seorang gadis yang amat sangat beruntung.

Ia memegang daguku, menariknya perlahan  jadi aku berhenti menggigit bibirku dan mengusapkan jempolnya di bibir bawahku.

"Itu lebih baik." Ia berbalik dan  berjalan kearah lemari pakaian yang sangat mengesankan yang berisi pakaian miliknya. Ia mengeluarkan dua pasang borgol besi dan sebuah penutup mata dari laci paling bawah.

Borgol! Kami belum pernah menggunakan borgol sebelumnya. Aku melirik cepat dan gugup kearah tempat tidur. Dimana dia akan mengaitkan borgol-borgol sialan itu? Ia berbalik dan menatap intens padaku, matanya gelap dan berkilat.

"Ini bisa jadi cukup menyakitkan. Benda ini bisa menyakiti kulitmu bila kau menariknya terlalu keras." Ia mengangkat pasang. "Tapi aku benar-benar ingin menggunakannya padamu sekarang."

Sial. Mulutku menjadi kering.

"Ini." Ia berjalan maju dengan anggun dan menyerahkan sepasang padaku. "Apa kau ingin mencobanya terlebih dahulu?"

Benda ini terasa kuat, besi yang dingin. Sejenak, aku berharap aku tak pernah mengenakan benda ini seumur hidupku.

Christian menatapku dengan intens.

"Dimana kuncinya?" Suaraku bergetar.

Ia mengulurkan kepalan tangannya, menunjukkan kunci logam kecil. "Ini adalah kunci untuk dua pasang borgol itu. Faktanya, ini juga kunci untuk semua pasang borgol."

Berapa pasang borgol yang ia miliki? Aku tak ingat melihat satupun di peti museumnya.

Ia mengelus pipiku dengan jari telunjuknya, menjalarkannya turun kebibirku. Ia mendekat seakan ingin menciumku.

"Apa kau ingin bermain?" ia bertanya, suaranya rendah, dan seluruh tubuhku bergerak kearahnya saat gairah membuncah diperutku.

"Ya," aku mendesah.

Ia tersenyum. "Bagus." Ia menanamkan ciuman selembut bulu di keningku. "Kita membutuhkan kata aman."

Apa?

"Kata 'berhenti' tak akan cukup karena kau mungkin akan mengatakan itu, tapi bukan itu yang kau ingin dan maksudkan sebenarnya." Ia menurunkan hidungnya kearah hidungku - satu-satunya kontak yang terjadi diantara kami.

Hatiku mulai berdetak cepat. Sial...Bagaimana bisa ia melakukan ini hanya dengan kata-kata?

"Ini tak akan menyakitkan. Ini akan intens. Sangat intens, karena aku takkan membiarkanmu bergerak. Okay?"

Oh my. Ini terdengar sangat panas. Nafasku terlalu keras. Sial, aku sudah terengah. Dewi batinku mengenakan perhiasan yang berkilap miliknya dan sedang pemanasan untuk menari rumba. Aku amat bersyukur telah menikah dengan pria ini, jika tidak hal ini mungkin sangat memalukan. Mataku turun kearah miliknya yang bergairah.

"Okay." Suaraku pelan.

"Pilih satu kata, Ana."

Oh...

"Kata aman," katanya lembut.

"Es loli." kataku, terengah.

"Es loli?" katanya, terhibur.

Ia nyengir saat mundur untuk menatap kearahku. "Pilihan yang menarik. Angkat tanganmu."

***

Penerjemah: +Helda Ayu
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

21 comments

Thank you baby girl helda n thank you mas admin :)

Cup cup mwaaaah

aw..aw...tq helda n mimin... seperti biasa koment dolo...

ana nakal sih, jd dhukum kan ama om gay, upss om grey maksudnya
helda syng makasih y muachh
mas admin trims y *blow kiss*

thanks Helda & Mas Yudi....
dapat lagi bacaan baru utk nemenin ngabisin waktu di kantor,,

Cerita Christian and Anna semakin tak terkendali makin panas dan penasaran ajah !!!
♥·♡ †нªηк's ♥·♡ kak +Helda ayu !!!
♥·♡ †нªηк's ♥·♡ kak admin portal novel !!!

yeah, let's play..
es loli? hihi...
tq helda n mas yudi..
*gak sabar n penasaran ama borgolnya :-P

kyaaaaa....
pas seru e malah bersambung :-P

thax mas yudi n mb helda dtunggu next chapter...
XOXO

Selalu telat yah aku ngasi komennya.... Hemm... Oke deh~ Enjoy all^^

Thanks to helda and mr yudi

makasih helda dan mas yudi :)))
setauku bab2 HOOOOOTTTT bgt!! Berarti nanti bab 2b nya harus baca sambil berendem nih! Biar ga kepanasan hahahahaha xx

aw aw bahgia nya udah ada bab 2a mas grey
Makasih yah mba helda dan om admin

Akhirnya bab 2a di posting jg :) dtunggu bab 2b nya :)
Makasih mba helda & mas yudi :)

Cium pipi ki n ka bwt Helda... om admin... tx a lot of....aja

mksh helda sayang,mksh mas admin
:)

untung kata amannya es loli..kl es tung tung...jd ga seru

Klo aku pilih es magnum gold aj dehh
Kishug buat semuay,,

Makasih mb helda n mas admin..
Mr grey emng slalu hot..uuppss

thx pn...mr grey selalu penuh kejutan untuk ana..

Thanks yaaaaaa mba Helda n admin :)

thx helda thx mas mimin,always be waiting :*

Makasih yaaa bt helda n mas mimin!

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top