23
bb1-thumb
WARNING: This story contains explicit sex and erotic scenes, for adults only.

Aku menemukannya dia di dapur, membuat kopi, mengenakan celana jeans biru yang bersih dan T-shirt tanpa lengan, T-shirt Led Zepplin yg sudah pudar. Dia mendengar aku datang dan mendongak, tangannya berhenti mengaduk kopinya, menatapku.

Tatapannya intens, melahapku. Aku memutuskan untuk pura-pura malu.

"Apa?" Aku bertanya, menampilkan sosok yang polos dan sopan.

"Kamu. Hanya...kau."

"Bagaimana dengan aku?" Aku melangkah memutari meja ke arahnya.

Dia mundur, meletakkan kopinya. Aku mengikutinya sampai ia menempel di meja konter.

"Kau seksi," katanya, suaranya serak, matanya menyapu pada handuk yang membungkus belahan dada dan rambut kusutku. "Kau tak tahu pengaruh apa yang kau berikan padaku."

Aku menatap selangkangannya, di mana tonjolan itu telah muncul sekali lagi. Aku menggerakkan kukuku sampai paha dan ereksinya, menelusuri sepanjang ritsleting, menjaga mataku terkunci dengan matanya.

"Kurasa aku mungkin tahu," kataku.

Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau benar-benar tak tahu."

Aku membuka kancing celana jinsnya, mencium rahangnya. "Kalau begitu tunjukkan padaku," bisikku.

Aku membuka ritsleting celana jins, tapi ia menangkap tanganku. "Leo, kita baru saja bertemu ini,...Ini gila. Aku tahu aku menciummu dulu, tapi aku tak bisa menahannya. kaukelihatan begitu marah dan basah dan luar biasa seksi..."

"Ini gila," kataku. "Tapi aku menginginkannya. Aku ingin melakukannya karena ini gila. Kau tak mirip siapapun yang pernah kutemui, dan dalam hidupku aku selama ini selalu bersikap cerdas, keputusan yang bertanggung jawab satu demi satu. kau membuatku gila dan impulsif, dan aku menyukainya."

Suaranya serak, dan jari-jarinya mengendur cengkeramannya di tanganku. "Dengar, kutahu aku kelihatan seperti biker yang keras dan kasar, tapi aku bukan tipe pria one-night stand."

Ada sesuatu yang menusuk dalam diriku. Itu bukannya rasa bersalah, tapi mirip semacam itu. Apa yang aku inginkan, hubungan jangka panjang? aku tidak berpikir sejauh itu. Yang aku tahu adalah rasa membakar di dalam perutku, kelembaban di antara pahaku, dan tanganku yang berusaha untuk menyentuh kejantanannya.

"Jadi? Ini tak harus menjadi one-night stand." aku mengubah taktik dan memindah tanganku menjauhkan dari pangkal pahanya, dan ia melepaskan tanganku.

Aku menyelipkan tanganku sampai kebawah T-shirt-nya untuk menggerakkan telapak tanganku diatas perutnya yang sekeras papan cucian.

"Leo, aku - Ya Tuhan, kau membuatku gila." Dia memiringkan kepalanya ke belakang dan matanya bergetar dalam kenikmatan saat aku menjalankan kedua tanganku di atas tubuhnya, mengeksplorasi otot dan kulit panasnya. "Kau mendorongku sampai ke batas kemampuanku. Aku tak akan bisa menahan diri dalam hitungan detik."

"Bagus," bisikku, bibirku menempel pada nadi di tenggorokannya.

Aku tanganku menelusuri dadanya, memancing ereksinya sekali lagi. Aku benar-benar ingin melihat kemaluannya, tiba-tiba, melihat miliknya melompat bebas dari dalam celananya sehingga aku bisa menyentuhnya, menempatkan miliknya di mulut dan vaginaku.

Aku hampir mengatakan itu padanya, tapi aku tidak begitu impulsif, belum.

Dia meraih tanganku dan dengan lembut tapi tegas dan mendorong tanganku menjauh darinya. "Sialan. Aku berusaha untuk bersikap terhormat di sini. Ketika aku memboncengkanmu, aku bersikap... baik. Sopan, jika kau mau menganggapnya begitu. Aku tidak bermaksud seperti ini. Maksudku, Ya Tuhan, aku memang menginginkanmu. Kau begitu sexy sampai aku tak bisa tahan, tapi aku tidak berpikir kau-"

"Shane, dengarkan, aku belum pernah, sekalipun melakukan hal seperti ini dalam hidupku. Aku hanya pernah bersama John, dan dengan dia, itu ... selalu sama. cukup bagus, dan aku mendapat orgasme, terkadang, tapi itu membosankan." Aku menjatuhkan tanganku ke samping tubuhku dan mencoba untuk menjalankan jariku diatas rambutku untuk menghilangkan kekusutannya, tugas yang mustahil tanpa terlebih dulu disisir dan basah. "Aku ingin lebih. John...dia baik, dan tenang, dan stabil dan bisa diprediksi dan sangat membosankan. Dia sebal kalau aku menyumpah, yang sering aku lakukan karena aku dibesarkan dengan tiga kakak laki-laki, dan ia hanya bisa bercinta di dalam gelap, dalam posisi misionaris. Dia bekerja di bank dan memakai celana khaki dan kemeja rapi bahkan pada hari Sabtu. Dia tak pernah minum lebih dari tiga gelas bir dan ia benci melakukan oral padaku, dan tak suka kalau aku melakukan oral padanya. Dia satu-satu pria di seluruh dunia yang tidak suka mendapat oral."

Aku sudah memainkan peranku sekarang, mengakui hal-hal yang bahkan aku sendiri tak pernah mengakuinya pada diri sendiri, apalagi mengatakannya dengan suara keras.

"Aku sudah bersama John sejak aku berusia sembilan belas tahun, dan ia adalah pacar pertamaku, dan satu-satunya. Aku bosan dengan John. Aku menginginkan lebih. Aku menginginkan lebih. Aku ingin kegairahan. Aku menginginmu. Ya, aku takut sekali sekarang karena semua yang aku miliki adalah atas nama John, dan aku ada di sini, melakukan hal ini denganmu. Tapi aku lebih suka merasa takut, karena itu lebih baik daripada menjadi bosan.

"Dan kau....kau membuatku gila kau membuatku terangsang tanpa usaha. Kau menciumku di lift dan aku bersumpah bahwa jantungku berhenti."

Aku terengah-engah saat ini, panas, aku bicara sambil tangan memberi isyarat dan rambutku terbang. Shane mengawasiku lekat-lekat, matanya mengkhianati ketertarikan, nafsu, kasih sayang... terlalu banyak hal untuk disebutkan, bahkan untuk memilah-milahnya. Mata pria itu luar biasa ekspresif, aku akhirnya mengerti bagaimana tokoh wanita dalam bacaan erotika yang aku baca bisa mengatakan tentang tersesat di mata seorang pria. Aku benar-benar tersesat, aku menemukan diriku tenggelam dalam mata abu-abu hijaunya, tenggelam dan tak mau repot-repot untuk menghirup udara.

Ketika Shane sadar aku kehabisan tenaga, ia melangkah ke arahku, memelukku dan menciumku. Tangannya menelusuri sekitar punggungku, sampai ke bahuku, masih basah sehabis mandi, dan turun ke tepi bawah handuk, pada pahaku. Tangannya menemukan pantatku, menangkupkan tangannya dengan ragu-ragu tapi lembut. Aku melengkungkan punggungku dan menggerakkan tanganku di atas punggungnya yang keras.

"Apa kau takut padaku?"

"Tidak," kataku. Itu tidak bohong, tapi bukan juga kebenaran. Aku menginginkan apa yang dia lakukan padaku, tapi juga takut pada saat yang sama.

"Jadi kenapa kau gemetar?"

"Karena aku sangat menginginkanmu." Aku tersenyum malu-malu, tapi ini bukan saatnya untuk bersikap malu-malu. "Lupakan John. Tentu, semua barang atas namanya, dan aku tak tahu apa yang aku lakukan, tapi aku gemetar, tanganku ada di lututku, karena aku menginginkanmu. Bukan karena aku khawatir tentang apapun." aku meletakkan tanganku di pantatnya, di luar celana jinsnya. "Lupakan dia. Dia tidak ada. Aku menginginkanmu. Aku selalu menginginkanmu, meskipun aku belum pernah bertemu denganmu."

"Itu gila." Dia masih menahan, tapi pertahanannya sudah mulai menurun, aku tahu itu.

"Kau membuat darahku mendidih." Aku mendorong pinggulku kearahnya. "Kau membuatku basah."

Dia menyeringai dan menunduk untuk menciumku, sentuhan cepat pada bibirku. "Selama kau yakin. Aku tak ingin kau merasa dirayu oleh seorang pria sepertiku."

Aku memutar mataku. "Aku sudah bilang aku salah menilaimu, dan aku minta maaf."

Dia menggelengkan kepalanya. "Kau tidak salah, tidak sepenuhnya. Aku memang kasar, dan ada saatnya aku siap bercinta pada saat itu juga. Aku malah jadi bosan. Itu jadi tidak punya makna lagi, atau bahkan setiap kenikmatan yang nyata, sehingga aku...berhenti untuk sementara."

"Berhenti? Maksudmu seks?"

Dia mengangguk, tampak hampir malu-malu. "Ya. Ini Sudah lebih dari setahun."

Aku menatapnya lagi, dengan rasa kagum, dan sedikit perpukau. "Aku tak bisa membayangkan setahun tanpa melakukan itu. John dan aku tidak melakukannya setiap hari. Tapi itu biasanya setidaknya sekali seminggu, kadang-kadang lebih lama. Bagaimana kau bisa tidak gila?"

Dia mengangkat bahu. "Yah, aku melakukan banyak hal, bekerja, dan pekerjaanku tidak menyisakan banyak waktu untuk main-main."

Aku mengambil kopinya dan meneguknya, kemudian bertanya, "Jadi apa pekerjaanmu?"

"Aku dokter. Saudaraku dan aku menjalankan sebuah perusahaan nirlaba yang bernama "Rescue Medic Enterprises". Kita seperti Doctor tanpa batas wilayah, tapi itu hanya tiga saudara laki-lakiku, aku, dan beberapa orang lainnya. Semuanya mantan militer, pasukan khusus, petugas medis dan ahli-ahli dibidangnya. Kami pergi ke negara-negara dunia ketiga dan sebagian besar memberikan perawatan medis di daerah berbahaya, atau tempat-tempat di mana organisasi nirlaba lain tidak akan pergi. Aku baru saja kembali dari merawat korban perang saudara di Afrika, dan aku mungkin akan segera kembali."

"Jadi kau sengaja, suka rela masuk ke zona perang di negara dunia ketiga untuk mengobati orang-orang sakit?"

"Ya, pada dasarnya." Dia menuangkan secangkir kopi baru dan kami berdiri menghirup minuman kami.

Aku menginginkan dia separah sebelumnya, tapi aku tidak merasa terburu-buru. Kami telah melewati tahan dari meraba-raba satu sama lain sampai percakapan pribadi dengan cara yang aneh, dan aku menikmati ketegangan yang terbangun. Ditambah, dia sangat menarik, dan aku ingin mengenalnya lebih baik.

"Itu luar biasa," kataku.

Dia hanya mengangkat bahunya lagi, acuh tak acuh dan tidak menganggap itu penting. "Yah, aku menghabiskan sebagian besar dari delapan tahun dalam situasi pertempuran. Aku sudah terbiasa untuk itu. Kemudian, suatu hari menjelang akhir empat tahun kedua tugas, unitku disergap dan aku hampir terbunuh. Itu bukan pertama kalinya, bukan dalam jangka panjang, tapi aku memutuskan aku sudah cukup, dan mengambil surat pengunduran diriku. Aku datang kembali ke Amerika Serikat dan mencoba menjalani kehidupan normal. aku mengambil pekerjaan di rumah sakit, bekerja di UGD, dan itu baik-baik saja untuk sementara, tapi aku gelisah. Kemudian saudara-saudaraku semua keluar juga dan mereka bahkan tidak ingin mencoba pekerjaan yang normal, jadi kami mulai mendirikan medis penyelamat. Orang tuaku menyediakan dana sebagai modal awal, dan ternyata kita mencintai pekerjaan itu. Kita  masih mendapatkan sensasi pertempuran, dengan cara berbeda."

Dia memiringkan kepalanya ke arahku. "Apa pekerjaanmu?"

"aku seorang perawat UGD."

Dia menyeringai. "Sejiwa ternyata. Apa kau menyukainya? Bekerja di ER?"

Aku mengangguk. "Aku menyukainya. Aku suka kesibukan yang terus-menerus, kesigapan dan kegairahannya. aku suka membantu orang."

Dia mengangguk, dan dia kelihatannya seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, tapi kemudian melewatkannya, lalu ia menaruh cangkir kopinya ke bawah, pergi mendekatiku. Aku juga menaruh kopiku dan berdiri diam, menunggu.

Dia tidak membetulkan celananya, dan saat ia mendekatiku, tanganku bergerak atas kemauannya sendiri, meraih kearahnya, menyentuh pinggir celana dalamnya, menyentuh pinggulnya. Dia menekanku ke arah meja.

"Kesempatan terakhir," katanya. "Aku masih akan membawamu di tempat lain, tak ada pertanyaan yang diajukan."

Aku menggeleng, menyelipkan tangan di bawah celana dalamnya untuk menangkup kulit pantatnya yang ketat.

"Jadi jangan bilang aku tidak memperingatkanmu," geramnya.

Dia mengangkat tubuhku sekali lagi dan membawaku ke kamar tidur, menempatkanku di tengah-tengah tempat tidur, berlutut di atasku. Dia membuka lilitan handukku, satu demi satu. Menariknya bebas, ia menarik satu ujung ke sisi yang lagi, kemudian yang lain, memamerkan tubuhku ke udara yang dingin, dan matanya yang lapar.

"Ya Tuhan, kau seksi," suaranya rendah, begitu mendalam dan gemuruh nyaris tak terdengar.

Aku menggeleng. John bukanlah orang yang suka memberi pujian, dan kepercayaan diriku sedang naik turun. Shane adalah jenis orang yang bisa mendapatkan supermodel, aktris papan atas, bukannya gadis seperti aku.

"Ya, kau seksi. Kau seorang dewi. Kau memiliki tubuh yang sempurna." Dia tangannya menelusuri perutku, di antara payudaraku dan tutun kembali untuk menangkupnya, mengangkatnya, menggosok ibu jarinya di atas putingku. "Aku tak sabar untuk mencicipi dirimu utuhnya."

Tangannya seperti sihir pada payudaraku, membuatku melengkung dan menggeliat dengan hanya tangannya di payudaraku. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke bahuku, mencium dengan ujung lidahnya, menggeser bibirnya menyeberang ke dadaku dan turun antara buah dadaku, mencium sisi yang satu kemudian yang lain. Dia mengangkat satu payudaraku, mencium bawahnya, kemudian mencubit puting yang satu dan mencium yang lainnya. Aku tenggelam dalam aksinya, hanya berbaring di sana dengan tanganku di punggung dan bahunya, kepala miring ke belakang, mata sedikit terpejam.

Aku merasakan sesuatu yang tebal menekan clit-ku, dan kupikir dia entah bagaimana telah melepas celananya tanpa aku sadarinya, tapi ternyata itu adalah jarinya, menelusuri melingkar di sekitar intiku, membesar dan basah, meluncur turun untuk mendorong masuk ke dalam, meluncur keluar dan kembali masuk, kemudian kembali ke clit-ku. Aku belum terengah-engah, tapi nyaris. Aku menekan tulang belakangku ke tempat tidur dan ingat bahwa aku punya tangan juga, dan bahwa aku ingin menyentuh dirinya. Aku mendorong celana jinsnya sampai turun dari pinggulnya, dan ia menggoyangkan keluar dari celananya, menendangnya tanpa ragu.

Tanganku menemukan jalan ke pantatnya lagi, dan aku kagum pada kenyataan bahwa pantatnya pun berotot dan kencang.

Tiba-tiba, aku menyadari betapa kecil dan lunaknya milik John, dan kemudian aku mengusir semua pikiran tentang mantan tunangan dari pikiranku. Dia mungkin juga telah menghilang dari hidupku pada saat itu, sejauh yang kutahu.

Bibir Shane perlahan mulai turun kebawah secara bertahap, mencium tulang rusukku, dan kemudian perut, pusar, dan kedua tulang pinggulku. Dia mengangkatku dan menarikku ke ujung tempat tidur, tergelincir, dan kemudian lututku berada di pundaknya dan lidahnya menjilati paha bagian dalamku, dan bibirnya menekan ke labiaku, janggutnya yang pendek menggesek pahaku.

Aku melebarkan lututku terbuka, melengkungkan punggungku karena aku merasa lidahnya menemukan clit-ku, berputar-putar dalam lingkaran lambat. Aku terkesiap, menarik napas dengan lembut. Oh, lidah itu gesit dan meyakinkan, menciptakan kenikmatan dariku dalam gelombang yang terampil, membawa ke atas, dan kemudian kembali turun, lebih dekat ke tepian orgasme dan kembali menjauh. Dia mencelupkan lidahnya masuk, menggerakkan kepalanya berputar saat pinggulku mulai melengkung.

Aku terengah-engah, hampir merintih sekarang, dan aku sangat dekat, tapi ia melambatkan temponya dan aku membungkuk untuk menempatkan jariku di rambutnya, mengacak-acak dan mencengkeram, tapi tidak mendorongnya ke arahku, tapi hampir. Dia tertawa di antara pahaku, dan aku mengerang oleh panas yang tiba-tiba ada di sana. Dia melakukannya lagi, kali ini tidak tertawa tapi bernapas lambat, napas panasnya membuatku liar. Ia menghembuskan napasnya lagi, dan kemudian lidahnya menemukan milikku, dan kali ini dia tidak menjauhkanku dari tepian. Lingkaran lambat pada awalnya, kemudian menjilat ke atas sedikit, dan kemudian melingkar lagi, menekan di sekitar clit-ku sampai aku mengejangkan pinggulku dengan kacau dan kemudian aku datang, lebih keras daripada yang pernah aku alami sebelumnya. Aku datang begitu keras sampai aku melihat bintang, dan aku benar-benar menjerit dan mengerang.

Aku bukan orang yang vokal saat berhubungan seks, tidak pernah. Bahkan saat pengalaman yang paling intens sebelumnya, suara yang paling keras keluarkan adalah terengah-engah pada saat klimaksnya, juga tubuhku sedikit bergetar yang mana tak bisa kucegah.

Tapi ini adalah ledakan, sebuah ledakan nuklir yang meluncur keluar yang membakar ke perutku dan membuat anggota badanku gemetaran. Shane merangkak kembali di tempat tidur, dan aku membuka mataku untuk melihatnya menyelinap ke arahku dengan gerakan seperti predator, tersembunyi dan berbahaya dan masih lapar akan tubuhku.

Aku menariknya ke arahku dan menciumnya, rakus akan bibirnya, mencicipi rasaku sendiri di bibirnya dan aku tak peduli, malah sebenarnya menyukainya.

"Apakah kau pernah mengalami apa yang aku lakukan padamu sebelumnya?" Shane tanya, di sela-sela ciuman.

"Sekali, dan itu kikuk dan tidak menyenangkan bagi kami berdua. Itu adalah ketika kita pertama kali mulai berkencan." Aku menggoreskan kukuku turun di punggungnya. "Tapi ini tidak seperti apa yang pernah aku merasakan. Aku belum pernah datang sebegitu keras dalam hidupku."

Dia hanya tertawa. "Oh. kau berada dalam perjalanan yang liar, aku baru saja mulai. Itu untuk membuatmu mau ikut."

Keyakinannya sangat menakjubkan, dan membuat merinding terangsang. Jika itu hanya awalnya, aku bahkan tak bisa membayangkan akan seperti apa sisa malamku nantinya.

Shane membaringkan tubuhnya di tempat tidur di sebelahku dan kami bercumbu, hanya berciuman dan berciuman, lidah terbang dan bibir menggeram. Aku terengah-engah saat kita terpisah. Aku bersandar dengan satu siku dan menjelajahi ke seluruh tubuhnya, melihat di hamparan otot-ototnya, kencang, menonjol dan liat. Aku menelusuri dadanya dengan jariku, berputar diputingnya, dan kemudian membiarkan jariku mengikuti lekukan dan cekungan antara otot perutnya, akhirnya menemukan bentuk V di mana otot perutnya mengarah menuju pangkal pahanya, menghilang di balik celana boxer-nya.

Dia keras karena aku, menonjol jelas di balik celana boxer-nya, kepala hampir muncul keluar diatasnya. Aku meliriknya, dan dia mengangkat alisnya padaku, tersenyum hanya dengan satu sudut mulutnya. Dia hanya berbaring di sana, menunggu, satu tangan di punggungku, yang lain jatuh dengan malas di sepanjang dadanya. Dia tahu apa yang dia punya, dan dia hanya menunggu aku untuk menemukannya.

Satu jariku masuk ke bawah celana boxer abu-abunya, dan jariku menyenggol ujung miliknya. Dia tersentak, perutnya mengempis masuk. Aku menatapnya, melihat kilatan kegelisahan, menghilang secepat ia datang. Aku ingat dia setahun tanpa melakukan ini, jadi sedikit gelisah bisa dipahami. Aku bertanya-tanya apakah ia akan selesai dengan cepat, karena sudah begitu lama. Itu mungkin saja terjadi di mana kegugupannya muncul, ia bertanya-tanya hal yang sama seperti diriku. Aku berpikir untuk mengatakan padanya bahwa John - nama yang melintas dalam pikiranku, dan aku merasakan getaran jijik - belum pernah bertahan lebih dari beberapa menit, maksimal. Tapi aku tak pernah mengatakan apapun. Aku tahu, entah bagaimana, bahkan jika Shane hanya bisa bertahan tiga puluh detik, itu akan menjadi tiga puluh detik yang lebih baik dari semua menit milik John yang dia beri padaku, digabung jadi satu.

Pikiran-pikiran itu semua memelintas dalam sekejap, ada kemudian menghilang.

Aku menarik pinggang celananya turun dari tubuhnya, dan ujung kemaluannya melompat bebas, dan aku hampir mengerang saat melihat miliknya. Aku menarik boxer-nya turun ke pahanya, dan kemudian, merasakan getaran keberanian mengembang dalam perutku, aku bergerak ke bawah dan menyentuh lidahku pada kemaluannya, hanya ujung lidahku terhadap tepinya. Shane menarik napas dalam melalui hidung, dan aku menatapnya sambil tersenyum.

"Kau tak perlu melakukannya," katanya.

"Aku ingin."

"Pernahkah kau melakukannya?"

"Sekali, semacam itu," kataku sambil menarik seluruh boxer lepas, ia melemparkannya ke samping dengan kaki.

"Semacam itu?" Dia melengkung alisnya, satu sikap yang aku pelajari dari kekayaan ekspresi milik Shane.

"Itu tidak berjalan dengan baik." Aku mengangkat bahu, mengabaikan masa laluku.

Dia menarik ikal pirangku dengan jari. "Jika kau ingin..."

Aku tidak menanggapi. Bukan dengan kata-kata. Aku menggenggamnya dengan kedua tangan, satu kepalan di atas yang lain, dan kepalanya masih satu inci di atas jari-jariku, bisa juga lebih. Dia juga besar, lebar dan bulat, dengan lengkung lembut dari pangkal ke ujungnya. Aku menelusuri lubang kecil di ujungnya dengan ibu jari, dan cairan bening berdenyut keluar. Aku menundukkan kepalaku untuk mencicipinya, dan dia tersentak lagi, kemaluannya terayun-ayun bersamaan saat ia menarik napasnya. Sangat sensitif.

Aku mengusap ke atas dan ke bawah dengan tanganku, tapi aku sadar dia kering, jadi aku menurunkan mulutku padanya, menjilati dirinya, membawanya ke samping ke dalam mulutku dan membiarkan air liurku melapisinya. Dia licin sekarang, dan aku membawanya di tanganku lagi, memompa perlahan. Pinggulnya mulai berputar, dan aku merasa lebih berani, sekarang. Matanya setengah tertutup, dadanya naik-turun perlahan-lahan, tangannya menggenggam selimut tempat tidur. Aku mengambil bulatan, kepalanya dalam mulutku, mencicipinya di lidahku, dan kemudian mengeluarkannya kembali untuk mengagumi miliknya sekali lagi.

"Penggoda," Shane tertawa. "Ya Tuhan, kau membuatku gila."

Aku menatapnya, dia masih memegang miliknya ditanganku, dan meluncurkan tanganku di sepanjang kemaluannya lagi. "Maaf. Aku tak bermaksud menggodamu. Hanya saja milikmu begitu indah."

Dia tersenyum padaku, lalu memiringkan kepalanya ke belakang dan melengkungkan punggungnya saat aku membawanya lagi di mulutku, melebarkan bibirku semampunya untuk mengakomodasi ukurannya. Aku memompa telapak tanganku di sekelilingnya, membawanya jauh ke dalam mulutku sampai menabrak bagian belakang tenggorokanku. Menariknya keluar lagi, tidak semuanya, dan dia mencengkeram selimut sampai jari-jarinya memutih.

Dia sudah berada cukup lama di mulutku dari pada milik seorang pria di dalam diriku.

Aku mengulangi lagi, kali ini mendorongnya lebih dalam ke tenggorokanku, hanya sampai di tepi refleks tersedakku. Dia tersentak, ketika ia hampir sampai di tenggorokanku, dan aku suka suaranya, suka kekuasaan yang aku miliki atas dirinya, dan melakukan hal ini. aku menikmatinya, untuk diriku sendiri, dan baginya. Sekarang aku mulai berirama, naik-turun padanya, menggelincirkan tanganku pada pangkalnya seirama dengan mulutku.

Pinggulnya bergerak putus asa dan aku mengikutinya, dengan mulut dan tangan secepat aku bisa bergerak, meluncur tanganku di atas air liurku yang licin dan mulutku pada miliknya yang membesar di ujungnya. Aku membawanya dalam, lalu, membiarkan dia mendorong terhadap tenggorokanku dan ke tepi dari refleks tersedakku sekali lagi. Dia menekan dengan liar, dan aku belajar untuk mundur saat ia mencapai puncak dorongnya hingga aku tidak muntah. Jari-jarinya dan buku-buku jarinya memutih menggenggam selimut, dan ia terengah rendah di tenggorokannya.

Aku meninggalkan satu tanganku dari kemaluannya dan menurunkannya pada bolanya, menangkup kantung tu di telapak tangan dan jari-jariku, memijat selembut yang aku bisa. Mereka begitu lembut, rambut lembut dan kulit keriput kencang dan ketat.

Dia menggertakkan giginya memberi peringatan melalui giginya yang terkatup, "Aku datang, oh Tuhan, aku datang sekarang..."

Dia datang, keras, melepaskan banjir panas, ke dalam mulut dan tenggorokanku. Bolanya berdenyut di tanganku, dan kemaluannya bergetar dan bergetar saat ia datang. Aku memeras dengan keras, mengisap sampai pipiku cekung, juga dengan tanganku sampai ia mengerang lagi dan menggeliat di tempat tidur, membungkuk ke depan dan kemudian melengkungkan punggungnya.

Aku merasa berkuasa, juga, sensual, menggoda dan jadi wanita seutuhnya. Dia menarikku ke dadanya dan aku meringkuk ke dalam dirinya, bersyukur atas kehangatannya. Aku merasa terlingkupi dalam pelukannya, dikelilingi oleh panas dan otot laki-laki dan kekuatan berbahaya dan kasih sayang yang lembut.

"Oh. Ya. Tuhan." Suara Shane serak dan masih terengah-engah. "Kau membuatku datang begitu keras. Itu sangat mengagumkan."

Aku merasakan sensasi bangga mendengar pujian itu. Aku tahu aku akan melakukannya lagi, hanya untuk mendapatkan reaksi darinya, merasakan kekuasaan atas tubuhnya, memberinya kenikmatan yang jelas aku miliki.

Jemariku menelusuri otot-ototnya, tangan yang lain menekan di antara tubuh kami. Tangannya meluncur naik dan turun di atas punggungku, menggelitik tulang ekorku dan ke dalam celah pantatku, bergerak naik dari pinggul ke bahuku dan kembali ke pantatku dalam belaian mengeksplorasi.

Aku tidak bisa menjauhkan tanganku dari kemaluannya, dan segera berada di tanganku sekali lagi, aku suka menyentuhnya, merasakan kontradiksi yang aneh dari sutra dan baja. Pada saat itu lembut dan lemas, jatuh di tanganku, anehnya terasa berat.

Perutku tegang dengan antisipasi saat ia mulai menegang di bawah sentuhanku. Aku ingin dia dalam diriku, aku gemetar dengan antusiasme untuk merasakan dia masuk ke dalam milikku yang basah dan licin.

"Ya Tuhan, kau membuatku siap untuk melakukannya lagi," kata Shane.

***

Poskan Komentar

23 comments

trims y mas admin... :*

W0000W.....‎​​​‎​..º°˚˚°º♏:)ª:)ƙ:)ª:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚ y mas admin

Wahhhh ada tulisannnn warning for childrennnnn heheheheh yg merasa belum cukup umur siapa ya? Ayo ngacung.....btw thanks for adminnnn

waduh, panas banget ya.
Leo agresif ya..
tq mas yudi ;-)

Panassss, makasih mas Yudi...
Peluk peluk...

Baca lg yg terjemahan d portalnovel, biar afdol.. Hehee
thks admin Yudi .
...
xoxo

Baca lg yg terjemahan d portalnovel, biar afdol.. Hehee
thks admin Yudi .
...
xoxo

Aku kayaknya
HOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOT
btw tengkyu for all admin
can't wait for the next chapter
<3 :):(

mantap....heehehehehe
thanks mas yudi...

thnx mas admin,hot bner dah ah.
hhehe

Panas.. Kipas mana kipas :D
Thank you mas Yudi ;)

makasih mas admin...

HOOOOOOOOT BGT dah
Makasih mas yudi :)

Tadinya mikir, buat apa sih ada warning segala.. toh emang semua novel ceritanya ada unsur erotis.
Ehh... ternyata yang ini mantafff DETAIL sex scenenya. Yang belum cukup umur atau ngak cukup kuat menanggung siksaan, mendingan jangan baca deh! #padahal sendirinya kebingungan mau ngapain ... huehehe Gigitin bantal

aku udah masuk katagori boleh baca blom ya??? *ngintip dibalik pintu*

aku udah masuk katagori boleh baca blom ya??? *ngintip dibalik pintu*

anjirrr ini HOT banget,,padahal baru pemanasan hahahaha *kipas-kipas*

BTW,,selama ini cm jadi SR aja..
tapi lama2 gak nahan juga pengen komen disini hehehehe...
salam kenal yah semuanya ^^

Yagh,,,tertolong oleh dinginny cuaca....

Thanks so much mas Yudi....
That's very HHAAAAWWTTT......

Yagh,,,tertolong oleh dinginny cuaca....

Thanks so much mas Yudi....
That's very HHAAAAWWTTT......

Nene blm bole!!
hehehe..
Nanti dmarahi mamanya loh..

Aaakkkk,,,,
Mas Admin tw ajja bcaan yg co2k lg dgn2 ginii,,bwt 'ngangetin'suasana,,hahahaa..
Mksh Mas Admiinnn...

hehehe jadi perutnya shane kaya papan giles ya???
hihihihi... untung aku udh dewasa.. jdi bsa baca... hehehe
thnks om...

udah tamat ya ini..? :d

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top