12

bb-a-wild-ride-thumb
"Apa yang kau lakukan, Leo?" Tanya John, sedikit histeris, menurut ukuran dia.

Dia berdiri di sampingku, meraih lenganku. Aku menarik diri dan ia menjatuhkan lengannya ke sisi tubuhnya.

"Mendapatkan tumpangan," jawabku, menggunakan nada tenang sama yang ia selalu gunakan padaku.

"Mendapatkan tumpangan? Mendapatkan ke mana? Dan dengan dia?"

Temanku - yang baru aku sadari namanya aku tak tahu - menggeram di dadanya seperti beruang.

"Hati-hati, bocah," geramnya.

John memucat dan mundur menempel ke mobilnya. "Apa yang kau lakukan, Leo Apa yang terjadi?"

Aku mendesah dan menyeka air hujan dari wajahku. Biker ini hanya duduk dengan pasif, mendengarkan dan tidak menanggapi.

"John, aku sudah bilang padamu. Hubungan kita telah berakhir. Tak ada yang bisa kau katakan atau lakukan, tidak ada lagi."

Mata John goyah dan dia melangkah ke arahku lagi, meraih lenganku dan mencoba untuk menarikku dari atas motor. "Kita bisa memperbaikinya, sayang! Ayo, turun dari motor ini dan mari kita pulang."

Aku menyentak bebas lenganku, dan John meraihnya kembali, menarikku sehingga aku hilang keseimbangan. Biker itu menggeram lagi dan mengayunkan tinjunya, tepat mengenai dagu John. Itu adalah pukulan malas, lambat dan hampir disebut santai tapi pukulan itu mengirim John terbang hingga jatuh terduduk di pantatnya.

"Lepaskan tanganmu dari gadis ini," kata dia. "Dia tak akan ikut denganmu. Kau sudah punya kesempatan dan kau jelas-jelas sudah mengacaukannya. Jika aku melihat kau mengganggunya lagi, aku akan menghancurkanmu."

John mengangguk kepalanya dengan kaku, ketakutan. Biker itu memutar pedal gas motornya, memutar roda belakang motor melingkar, memuncratkan lumpur ke arah John. Kami masuk ke dalam keramaian lalu lintas dan Biker itu mengendarai motornya dengan cermat dan teliti yang mengejutkanku. Dia telah melakukan sesuatu dengan ban motornya untuk menakut-nakuti John, tapi dia sebenarnya seorang pengendara yang sangat berhati-hati, itu karena aku berada bersamanya dan sekarang hujan.

Aku tidak memberitahunya ke mana harus pergi, tapi ia seolah-olah telah memiliki tujuan dalam pikiran. Aku mencengkeram perutnya dan membiarkan dia berkendara, cukup puas karena di bawa ke suatu tempat. Itu mungkin bodoh, tapi sesekali aku mau membuat keputusan yang tidak bertanggung jawab atau hati-hati.

Dia membawa kami ke sebuah bangunan kondominium pusat kota di Royal Oak, parkir di garasi bawah tanah. Dia meraih tanganku saat aku mengayunkan kakiku turun, dan kemudian menangkapku ketika aku tersandung. Kakiku mendadak sakit dan lemas seperti jelly karena getaran mesin Harley. Dia menarikku dan aku menemukan diriku berskaur di dadanya dan memkaung ke arah mata abu kehijauan miliknya.

Aku menggigil, entah karena dingin dan basah atau oleh tatapannya yang panas, aku tak yakin.

"Ya Tuhan, aku minta maaf," kata Biker itu, melepas mantelnya dan menggantungkannya di atas bahuku. "Kau pasti sangat kedinginan! Aku seharusnya memberikan mantelku ketika kau naik!"

Dia tampak benar-benar menyesal, dan aku merasa sedikit lebih aman. Jaketnya disampirkan ke pahaku, dan terasa hangat oleh panas tubuhnya. Aku meringkuk ke dalamnya, bersyukur, dan agak terangsang oleh bau di sekitarku: keringat pria, kulit basah, cologne.

Dia meraih tanganku dan menariknyaku menuju lift. "Ayo, mari kita keringkan tubuhmu."

Aku menarik mundur dan ia berhenti. "Tunggu dulu. Dimana kita?"

"Kondo-ku. Kupikir karena bocah itu bilang ia ingin membawamu pulang ke rumah berarti kau tinggal bersamanya, dan bahwa kau belum ingin kembali ke sana dulu."

"Orang yang kau panggil si bocah itu adalah tunanganku," kataku. Aku sama sekali tak yakin apa sebenarnya maksudku, atau mengapa aku mengatakannya.

Mulutnya melengkung ke atas lagi, dan alisnya terangkat, ekspresi lengkungkan alis menghina. "Tidak lagi," katanya.

Aku mengangkat bahu. "Itu benar. ia adalah seorang bocah berandal."

Aku melangkah kearahnya, dan ia berbalik kearahku, menatapku dengan ekspresi yang sekali lagi tak bisa kubaca sama sekali.

"Aku akan membawamu di tempat lain, jika kau tidak nyaman berada di sini," dia menawarkan, kemudian menghancur momen itu dengan tersenyum licik. "Maksudku, jika kau takut, hanya itu."

Aku melangkah lebih dekat lagi, dan sekarang aku hampir menempel dirinya. Jantungku berdebar kencang atas keberanian sikapku. Aku telah melihat betapa kuatnya dia, dia memukul John hingga terlempar, dan John bukanlah orang bertubuh kecil juga. Dia hanya tidak sebading dengan prajurit berbalut kulit di depanku ini.

"Aku tidak takut. Aku hanya tidak akan pulang bersama seorang pria ketika aku tak tahu namanya."

"Kapan kau pulang bersama seorang pria?"

"Dengan orang-orang seperti kau. Belum pernah?"

Matanya menyipit. "Pria seperti aku?"

"Ya, orang-orang seperti kau. Bahkan sebenarnya, aku belum pernah pulang bersama seorang pria." Aku beringsut lebih dekat, dan sekarang kepalaku sejajar dengan bahunya, mendongak untuk menatapnya melalui bulu mataku. "Tapi, aku memutus hubungan dengan John juga karena aku butuh perubahan. Jadi, di sinilah kita."

"Orang-orang seperti aku," kata Dia lagi. Dia benar-benar terpaku pada hal ini "orang-orang seperti dia".

"Oh rileks," kataku. "Aku hanya menggoda."

"Tentu saja," ia bergemuruh.

Dia menarikku untuk berjalan lagi, membawaku menuju lift. Aku biarkan dia mendapatkanku di depan pintu perak sebelum aku menarik tanganku bebas.

"Kau belum memberitahuku namamu," kataku.

"Shane Sorrenson." Dia menatapku lagi, dan matanya menembus ke dalam diriku.

"Nah, Shane, kita bisa masuk sekarang. Terima kasih." Aku berbalik ke lift dan menunggu.

Dia belum menekan tombol, dan aku tahu. Ia mendengus sesuatu seperti geli bercampur dengan frustrasi, dan menekan tombol memanggil lift dengan ibu jarinya.

"Kau belum memberitahu padaku siapa namamu," katanya.

"Leona Larkin."

"Leo," kata Shane.

"Yap. Leo Aku tidak pernah dipanggil Leona lagi sejak aku berusia lima tahun. Aku selalu berpikir itu terdengar seperti nama nenek-nenek."

Shane terkekeh. "Ya, memang mirip seperti itu. Leo." Dia menatapku ketika lift dibuka. "Seperti singa betina. Apakah kau seekor singa betina, Leo?"

Nah, itu yang jelas main mata, jika aku pernah mendengar. Aku masih tak yakin mengapa orang seperti ini mau main mata denganku, basah kuyup, sedang melakukan diet, biasa dengan rambut keriting.

Aku mengumpulkan keberanianku dan membalas rayuannya. "kau tidak pernah tahu. Mungkin saja aku begitu. Lebih baik hati-hati, Shane Sorrenson."

Kami melangkah ke lift dan pintu ditutup, meninggalkan kami sendirian di dalam lift yang sedang bergerak naik. Shane berpaling kearahku, menggeram seperti predator. Dia meraih lenganku dengan tangannya yang besar, mendorongku ke dinding lift dan menekan tubuhnya keras terhadap tubuhku. Dia memiliki ereksi dibalik celana jinsnya, dan itu adalah tonjolan keras yang terasa di perutku. Aku terkesiap, tiba-tiba terjebak antara pria ini dan dinding lift.

Dia menciumku. Aku sudah mengira ketika matanya berubah sayu dan dia bergerak ke arahku seperti predator menyelinap di atas rumput. Aku tidak mengira ciumannya akan menjadi lembut, sensual, dan pelan. Ia menguasai bibirku dengan bibirnya, tidak ragu-ragu tapi juga memberiku kesempatan untuk mendorongnya. Bibirnya bergerak di atas bibirku, dan lidahnya mencari lidahku, dan aku juga tak bisa berhenti menciumnya.

Lututku terasa lemas dan aku tiba-tiba basah di antara kedua kakiku, kelembaban yang tidak ada hubungannya dengan hujan atau gaun basah kuyupku. Dia merasakan lututku gemetar dan merengkuhku dalam pelukannya, mengangkat tubuhku dengan mudah, tidak menghentikan ciumannya bahkan untuk sesaat.

"Turunkan aku," bisikku ke dalam mulutnya. "aku terlalu berat. Kau akan menyakiti punggungmu."

Dia hanya mendengus, hembusan napas geli dari hidungnya, bibirnya tersenyum padaku. Dia tidak menjawab, hanya mengangkat tubuhku keluar dari lift dan menyusuri lorong panjang menuju pintu di ujung. Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan merangkulnya, cekikikan. Aku tak pernah dalam hidupku dibawa seperti ini. Aku mencium rahangnya, tiba-tiba jadi berani, dan kemudian tenggorokannya di mana T-shirt yang ia pakai menyentuh lehernya, kemudian dagunya. Dia menunduk dan mulutnya menutupi milikku dan aku tersesat dalam pelukan dan ciumannya yang panas.

Dia menurunkan tubuhku, merogoh saku jaketnya untuk mengambil kunci. Dia membuka pintu, menendangnya terbuka dan mengangkatku lagi, menutup pintu dengan tumitnya. Dia membawaku ke dalam kondo, dan aku melihat sekilas dinding putih yang luas dengan lukisan berselera, sofa kulit dan kursi empuk, TV besar di dinding di atas perapian, dan kemudian aku dibaringkan di atas ranjang selembut bulu, tubuhnya diatasku, bibirnya di bibirku, turun ke tenggorokan dan kemudian di antara buah dadaku.

Aku sesaat terkejut terhadap perilakuku sendiri, tapi kemudian aku mendorong pikiran itu menjauh. Aku menyukai orang ini. Aku suka menciumnya. Aku menyukai kenyataan bahwa ia berbahaya dan asing. Aku belum pernah tidur dengan siapa pun kecuali John, dan aku jelas belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku merasa nakal, sensual dan ceroboh, dan aku menyukai itu.

Aku membungkus lengan dan kakiku pada tubuhnya dan menciumnya dengan semua yang aku miliki, dan aku merasa ereksinya menggembung dibalik celana jinsnya dan menekan di atas perutku. Aku merasakan dorongan yang gila untuk membuka ritsleting celana jinsnya dan menyentuhnya.

Aku ragu-ragu, masih menciumnya, tapi kemudian menggeser tanganku di antara tubuh kita. Dia mengangkat tubuhnya memberiku peluang.

Dan kemudian aku bersin. Tentu saja, aku tak pernah bersin hanya sekali saja, selalu setidaknya tiga. Kali ini, itu  empat kali, berturut-turut, dan aku nyaris tak berhasil memalingkan kepalaku agar tidak bersin di wajahnya. Dan kemudian aku mulai terbatuk dan menggigil. Tapi aku masih menginginkan dia, aku masih ingin meneruskan dorongan tak bermoralku untuk menyentuh penisnya.

Shane mengutuk dengan lancar dan bangun dari atas tubuhku. "Ya Tuhan, aku seperti orang brengsek," katanya, "kau mungkin kena pneumonia dan aku malah menggerayangimu."

Dia mengangkat tubuhku lagi, dengan gerakan mudah dan membawaku ke kamar mandi pribadi. Dibandingkan dengan kamar mandi kondo milikku, ini adalah sebuah istana, semuanya berlapis marmer mengkilap dan stainless steel. Dia menurunkanku di dalam bak mandi dan memutar shower.

Aku memenatapnya, lapar akan dirinya. Dia mengenakan T-shirt basah, hitam polos ketat di tubuh yang benar-benar, luar biasa berotot. Celana jinsnya yang ketat di pantatnya, dan dia masih tegang di balik ritsletingnya. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tak seharusnya berada di sini, aku tidak boleh melakukan ini dengan pria yang tidak kukenal sama sekali.

Tapi kenapa tidak? Mengapa aku tidak lakukan ini? Tak ada yang menahanku, benar kan? Sebuah pikiran yang mengganggu muncul di kepalaku, mengingatkan aku tentang tamu bulananku, tapi aku mendorong pikiran itu pergi, mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu hanya stres yang membuatku jadi terlambat.

Aku berdiri dan membuka ritsleting gaunku, menunggunya untuk berbalik dari menyesuaikan suhu air. Dia melihat aku berdiri, gaun menggantung dari bahuku, dan matanya melebar. Aku menarik satu lengan keluar dari tali, dan kemudian yang lain, dan gaun hijau tipisku jatuh ke lantai, meninggalkanku berdiri kedinginan dan hanya mengenakan bra renda merah dan celana dalam yang sepadan dan benar-benar merinding. Jantungku berdebar begitu keras hingga aku yakin dia akan mendengarnya.

Aku mengenakan pakaian dalam yang sepadan dengan harapan bahwa kencan dengan John akan menuju kearah seks yang panas, dan sekarang aku senang, karena di sini ada dewa seks panas, enam kaki empat inci (193 cm) dan bertubuh seperti dewa Yunani.

Aku menatap matanya, menelan kegugupanku, dan menjangkau punggungku untuk melepaskan kaitan bra, satu per satu. Aku menyelipkannya turun dari bahuku dan mengulurkan kepadanya dengan ujung jari. Dia menerimanya dengan kepalan tangannya, tidak bergerak ke arahku. Dia menjadi lebih keras dan lebih besar lagi, dan aku menjilat bibirku, tak menginginkan yang kecuali untuk membuka ritsleting celana dan melihat apakah ia sesuai dengan visi di kepalaku. Aku mendorong tali thong-ku turun ke sekitar pinggulku, menggoyangkan celana dalamku keluar. Aku membungkuk, mengangkatnya, dan menyerahkannya pada Shane, yang menerimanya dengan tangan gemetar.

Tangannya yang gemetar membuatku meleleh, kurang sedikit lagi.

Dan tentu saja, aku bersin lagi, enam kali.

Tatapannya menjelajah seluruh tubuhku, dan kemudian menyentuh pada lututku yang tergores dan masih berdarah, juga telapak tangan. "Kau berdarah," katanya.

Dia menuju ke lemari obat kecil dan mengeluarkan segumpal kapas dan peroksida.

"Duduk," katanya dengan suara serius dan tak bisa dibantah.

Aku duduk, telanjang, di toilet, porselennya terasa dingin dibawah pantat telanjangku. Dia menuangkan peroksida di atas kapas dan memegangnya di dekat lututku, sambil berjongkok. Wajahnya sejajar dengan dadaku, dan putingku berdiri keras di bawah tatapannya. Aku memaksa lututku terbuka dan matanya mengikuti gerak ke selangkanganku, di potong pendek tapi tidak dicukur.

"Ini akan sedikit menyengat," katanya. Sesuatu dalam suaranya dan tatapannya terfokus dirinya dan dengan terlatih ia mengoleskannya pada lututku cukup menjelaskan padaku dia pernah mendapatkan pelatihan medis.

Aku mendesis karena rasa menyengat itu, tapi tidak bergeming. Dia menyeka lukaku bersih dan pindah ke lututku yang lain, lembut dan menyeluruh. Dia mengambil tanganku dan juga membersihkannya.

"kau pernah melakukan ini sebelumnya," kataku.

"Melakukan apa?" ia bertanya, tanpa menatapku.

"Membersihkan luka," kataku. "kau pernah mendapatkan pelatihan medis."

Dia mengangguk. "Enam tahun sebagai Marinir tempur medis. Sebagian besar tugasku berada di Irak dan Afghanistan."

"Kau melihat pertempuran?"

Dia mengangguk, dan ketegangan di bahunya mengatakan padaku untuk tidak menanyakan topik itu lebih jauh. "Ya banyak sekali-" Dia memotong kata-katanya, "Maaf, ya. Aku telah melihat pertempuran."

"John selalu bilang aku menyumpah terlalu banyak," kataku, bermaksud untuk memecahkan ketegangan.

Shane tertawa dan membalas tatapanku dengan humor dan rasa syukur di matanya. "Dia akan mengatakan itu, dari apa yang aku lihat."

Itu giliranku menunjukkan ketegangan, dan aku tahu dia melihatnya.

"Maaf lagi. Bukan urusanku sama sekali." Katanya, berdiri dan membuang gumpalan kapas berdarah. "Masuklah dan hangatkan tubuhmu. Aku akan meletakkan pakaianmu di mesin pengering."

Dia berbalik untuk pergi dan aku menangkap lengannya.

"Terima kasih," kataku.

Dia mengangguk dan meninggalkan kamar mandi, tapi tidak pergi begitu saja tanpa memandang dengan lama di tubuh telanjangku.

Aku mandi, menikmati air panas. Itu jelas tempat tinggal bujangan, karena ia hanya memiliki satu botol sampo two-in-one dan kondisioner, satu botol sabun cair dan busa penggosok hitam tergantung di pegangan. Aku menggunakan apa yang dia punya, berdebat pada kehigienisan menggunakan busa penggosok seorang pria, namun pada akhirnya keinginan untuk menjadi bersih yang menang.

Sebuah handuk hitam tebal tergantung di dinding, bersih dan kering, dan aku menggunakannya, membalutkannya di sekitar dadaku. Dia hanya memiliki satu sisir, yang tidak akan berhasil pada ikal rambutku yang gila, jadi aku mengabaikannya.

***

Poskan Komentar

12 comments

yay! massive thank you mas ;) x

thank you mas...
enjoy all...

Terima kasih banyak mas yudi:-)

can't wait for the next chapter,,
tengkyu mas yudi,,

thanks banget mas Yudi....

makasih buat mas admin yg baik hati....
heheh
lebay.com

Kayanya seru ya ...thanks mas yudi

thanks mas admin :* bared to you nya ditunggu bgt bgt maas...

wooww.. Shane nya tinggi banget.. hampir 2 meter gitu..

thank mas yudi.. ^___^

Awalnya nga minat bca krna covernya jadul bgd, trnyata crtnya bgus ya...

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top