14

ahw4-thumb
Siang berubah menjadi senja, kemudian malam, dan Jeremiah terbukti luar biasa perhatian. Saat ia akhirnya melepaskanku dari borgol, Aku tak mencoba untuk kabur, terkungkung dalam badai sensual yang ia ciptakan dan tak kan membiarkannya mati. Milyuner itu terbukti hampir tak pernah puas, dan aku hanya memiliki sedikit pilihan selain bangun dan menjawab tantangannya. Empat kali malam itu ia membangunkanku, memberikan siksaan yang nikmat, dan empat kali aku roboh setelahnya, kehabisan tenaga. Kelima kalinya aku yang terbangun terlebih dahulu, mengambil waktuku sendiri sebelum menontonnya saat dia sedang tidur. Dalam tidurnya ia sangat relaks, wajahnya terpapar sinar yang menembus jendela buram. Aku menyapukan sentuhan lembut di salah satu alisnya, berhenti saat ia menggeliat. Sangat indah, dan semuanya milikku.

Untuk saat ini.

Bagaimana bisa seorang pria seperti ini menyadari bahwa diriku lebih daripada yang pernah aku pahami, tapi disana ia terlelap, hidangan untuk mataku yang lapar. Selimut yang lembut hanya menutupi perutnya dan aku menikmati pemandangan dari tubuhnya yang indah, yang terganggu oleh garis putih luka yang terlihat samar dibawah sinar redup. Melihat luka itu, membuatku sadar akan apa yang sudah ia lewati, membuat hatiku remuk dan sakit. Mengetahui tentang kehidupannya di militer adalah suatu hal lain, tapi luka ini adalah suatu hal nyata dari fakta bahwa ia ikut bertarung dan terluka, sebuah pengingat untuk selamanya dari misi yang ia lakukan dan bahaya yang ia lewati.

Aku mengikuti jejak tipis dari rambutnya turun ke perut dan melihat, dengan kepuasan, selimut dibawah perutnya terangkat saat ia kembali mengeras. Turun kearah tempat tidur, aku tarik selimut dengan perlahan keatas kepalaku kemudian menurunkan kepalaku ketubuhnya, menjilati ujungnya sebelum memasukkannya kedalam mulutku.

Pinggul Jeremiah memutar, terangkat menekan ke mulutku. Tersemangati, aku meletakkan tanganku di pahanya untuk menahan saat aku memasukkannya dalam, dan merasakannya melengkung kearah mulutku. Kemudian tangannya menarikku bebas, memegang bahuku dan memutarku hingga aku terlentang dengan Jeremiah berada diatasku. Ia menatap kearahku, kantuk terhapus dari wajahnya yang tampan. Aku bisa merasakan kebutuhan yang amat sangat dalam gerakannya saat ia membuka kakiku dengan satu dengkulnya, menikam dalam tanpa basa-basi.

Ku dongakkan kepalaku dengan pekikkan, aku berpegangan pada punggungnya, kuku jariku menancap dikulitnya, saat ia bergerak berulang-ulang dalam tubuhku. Otot yang masih ngilu dari aktivitas berlebihan semalam protes tapi aku tak perduli; Kulingkarkan kakiku di sekeliling pinggangnya dan meminta lebih saat ia mendorong keras kedalam tubuhku. Mulutnya menghantam bibirku, dengan semua gairah dan liar, dan aku bangkit untuk menyambutnya, lenganku menggantung di lehernya. Persetubuhan kami kali ini sebentar dan cepat, tapi orgasme yang menghantam kami berdua panjang dan membawa kami kealam mimpi.

Saat akhirnya aku terbangun matahari sudah tinggi dan aku sendiri di tempat tidur. Aku merenggang, melenturkan punggungku dan melihat kekang kulit masih terkait di papan tempat tidur. Pemandangan itu membuatku tersenyum, sebuah pengingat akan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ada rasa tidak nyaman yang tersisa dari malam yang lalu dan aku melompat ke kamar mandi, mandi air hangat dan memberikan tubuhku yang pegal kesempatan untuk berendam. Aku bersiap, memanjakan tubuhku sedikit dan menggunakan waktu lebih untuk membiarkan air membilas pegal dan sakit yang tersisa.

Perutku adalah satu-satunya yang memberitahuku bahwa sudah waktunya untuk turun, jadi aku keringkan tubuhku dan berpakaian, menjepit rambutku dengan jepit plastik sebelum keluar. Aku mendengar suara di bawah dan, penasaran, turun untuk melihat siapa tamu itu. Tak ada seorangpun di lorong dibawah tangga bagaimanapun, kuangkat bahuku, dan berjalan kearah dapur, langsung ke depan kulkas.

"Aku memberanikan diri untuk menemuimu, Ms. Delacourt."

Aku hampir menjatuhkan susu ditanganku saat mendengar suara yang tak diduga-duga, berbalik untuk menghadap kearah wanita yang berbicara. "Mrs. Hamilton," aku berkata, tatapannya yang dingin membuatku merasa bahwa ia telah menangkapku tengah mencuri. "Saya tak menyadari anda ada disini."

Bibirnya menipis membentuk garis keras saat ia memandangku dari atas kebawah. "Wanita dari tingkat ekonomi seperti dirimu memiliki kecenderungan mengejar-ngejar anakku. Dia biasanya memiliki kesadaran untuk melihat apa yang ada dibalik tipu muslihat mereka." Dia mendengus seakan mengejek. "Kau bahkan tak secantik itu; setidaknya asisten yang sebelumnya menyadari hal itu sejak awal. Katakan padaku, apa kau memiliki sesuatu yang menarik perhatiannya?"

Rahangku terbuka tapi aku tak tahu apa yang harus ku katakan. "Maaf?"
   
wanita setengah baya itu memutar matanya. "Aku tak melihat alasan mengapa anakku harus bekerja sama denganmu. Tak punya orangtua, seorang kelas menengah. Kau mungkin bisa berbahasa Perancis tapi kau tak punya kemampuan apapun untuk menangani bisnis apapun. Apakah Dia membuatmu hamil?"

Pertanyaan dingin itu membuatku terkejut dan tak bisa berkata-kata. Kemarahan mulai muncul dalam diriku tapi aku tak bisa melakukan apapun di bawah tatapan merendahkannya selain menggerakkan rahangku tanpa sepatah kata. Tatapan matanya yang teliti dan dingin menyerangku dari berbagai sisi tapi aku tak bisa memulai menyusun apa yang ada dipikiranku menjadi rangkaian kata-kata. Tanganku menggulung menjadi kepalan - aku menginginkan tak lebih dari memukul senyum di wajah jahatnya - tapi kesopananlah yang menahanku tetap berada di tempatku. "Saya tidak hamil," aku akhirnya dapat menjawabnya, tapi jawabanku tidak mengartikulasikan apa yang tadinya terbakar dipikiranku.

"Ah, jadi sedikit melenceng dari perkiraan." wanita setengah baya itu menggerutu, menggelengkan kepalanya karena rasa tak percaya. "Memikirkan ia akan membawamu kesini kerumah kami. Ms. Delacourt, jika kau wanita berkelas, kau akan segera meninggalkan rumah ini. Mengingat gadis seperti dirimu, aku seharusnya tidak menunggu lama-lama."

"Cukup, Ibu."

Aku hampir saja melemparkan susu ke wanita yang-selalu-merasa-benar itu, dan saat kehadiran Jeremiah tidak menghilangkan keinginanku itu tapi hal itu mengalihkan perhatian Georgia. Wajah wanita setengah baya itu mengubah ekspresinya menjadi menyenangkan saat anaknya berjalan kearah kami, tapi tidak dengan Jeremiah maupun aku bisa tertipu dengan ekspresinya itu. "Kau bilang kau akan pergi," katanya dengan nada yang dingin yang sepertinya telah menyinggung wanita setengah baya itu.

"Oh ya, sayang, tapi aku melihat asistenmu yang cantik dan berhenti untuk mengobrol."

'Asisten yang cantik' apanya! Tanganku menggenggam erat meremukkan gagang plastik dari tempat susu. Aku ingin meneriakkan rasa frustasiku ke wanita menjijikkan ini, tapi yang bisa aku lakukan hanyalah berdiri di tempat, gemetar dan mencoba untuk tidak menangis karena frustasi.

"Ku mohon tinggalkan tempat ini, Ibu." Nada Jeremiah lembut tetapi lelah. "Sebelum aku melarangmu untuk masuk secara permanen."

Ia melambai padanya. "Oh omong kosong, kau tak akan melakukan itu. Aku membesarkanmu dirumah ini, rumah ini milikku juga. Dan lagi pula, kau tahu aku hanya menginginkan apa yang terbaik untukmu karena aku menyayangimu."

Penyataan itu membuatku mendengus tak percaya, tapi lirikanku pada ekspresi lelah Jeremiah memberitahukanku bahwa ini adalah argumen lama. "Apakah anda memiliki sedikit saja rasa hormat untuk anak anda?" tanyaku.

Georgia menatap tajam padaku. "Jangan ikut campur," bentaknya, "kau tak tahu apa-apa..."

Aku membanting tempat susu ke meja marmer, plastiknya membuat suara nyaring saat remuk. "Anakmu memiliki rumah ini dan memperbolehkanmu untuk berkunjung sesukamu, tapi kau selalu memperlakukan dia seakan dia masih anak kecil. Aku tahu seperti apa orang tua yang baik, dan kau tidak pantas menerima kebaikannya."

Wajah Georgia membentuk ekspresi geram. "Dasar pelacur kecil," gerutunya, berbalik kearahku dan mengangkat tangannya seperti ingin menamparku. Kemudian Jeremiah ada disana, tangannya berada disekitar pergelangan tangan ibunya, menahannya. Aku membiarkan daguku tetap terangkat, kemarahan membakar perutku, bertemu dengan tatapan ganas wanita setengah baya itu.

"Aku tak ingin kau mengganggu tamu dirumahku," kata Jeremiah, suaranya rendah dan marah, kata-katanya lagi-lagi menarik perhatian ibunya. "Andrew," panggilnya, dan seorang pengawal muda masuk kedalam ruangan. Kemudian Jeremiah melepaskan pegangannya di tangan wanita itu. "Tolong kawal ibuku ke mobilnya dan pastikan ia keluar dari halaman dengan selamat. Informasikan kepada penjaga gerbang bahwa mulai sekarang ia hanya diperbolehkan masuk ke dalam atas persetujuanku."

"Lepaskan tanganmu dariku," Georgia membentak pengawal muda itu saat ia mencoba mengambil tangannya. "Persetujuanmu? Jeremiah, masuk akal sedikit, ini konyol." Anaknya, bagaimanapun juga, tetap diam saat wanita itu dikawal, memprotes keras, keluar dari dapur. Aku mendengar pintu depan terbuka dan tertutup, kemudian keheningan menyelusup kedalam rumah.

Aku menghembuskan nafas lega. "Aku minta maaf sudah membentak ibumu," gumamku, mengangkat tempat susu dengan tanganku. Bagian bawahnya penyok namun tak ada yang rusak.

"Dia bisa sangat menyulitkan."

Jawabannya sederhana tapi menyimpan banyak makna. "Tetap saja, dia ibumu," lanjutku. "Tadi mungkin tidak pada tempatnya aku mengatakan apapun."

kekikukan diantara kami bukanlah yang aku harapkan untuk menghabiskan pagi ini, tapi kehadiran wanita itu menghancurkan segalanya. Tak lagi lapar, aku mengembalikan susu kedalam kulkas kemudian mengikuti Jeremiah keluar dari dapur. "Apa kau sudah mendapatkan informasi?"

"Tidak ada."

Jawabannya pendek dan, membeku, aku menggali lebih dalam. "Ethan mengatakan kau mendapat sumber lain, apakah mereka memiliki..."
   
Jeremiah menghadapku. "Apa yang dikatakannya padamu?"

Aku berkedip, terkejut karena perubahan emosinya yang tiba-tiba. "Tidak ada," aku menjawab cepat, kemudian rasa frustasi mulai merambat. "Kata 'tidak ada' yang sama seperti jawabanmu tadi. Aku tak tahu perkembangan penyelidikan kecuali bahwa aku hampir mati dan kini aku terjebak disini."

Bibir Jeremiah menipis. "Kami sedang mengatasinya."

"Mengatasi apa? Tak ada seorangpun yang mau bicara denganku!"

Ia menyapukan tangannya ke rambutnya, menghela nafas. "Aku berjanji padamu," katanya dengan suara yang rendah, "kami akan mencari tahu siapa yang mencoba meracunimu. Setelah ancaman dapat di netralisir, kau bebas untuk pergi."

Aku menunjuk ke pintu masuk yang berada didekat kami. "Kau keluar dari pintu itu setiap hari tapi mengurungku didalam?"

"Sial Lucy!" Untuk beberapa detik ia terlihat seperti akan murka, kebuasan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Pemandangan itu mengejutkanku, tapi secepat itu terjadi secepat itu pula ekspresi itu menghilang; topeng itu kembali menutupi wajahnya dan sekali lagi dia adalah CEO terkendali yang aku kenal. Kurasa aku sudah bisa menebaknya, pikirku, tertegun akan apa yang aku lihat.

"Aku sudah berjanji akan menjagamu." Suaranya yang rendah dan tenang seperti biasanya. "Aku hanya menginginkanmu untuk tidak bertanya lebih jauh tentang hal ini untuk keselamatanmu sendiri. Saat sudah aman, kau bisa pergi."

Kekalahan berkembang di dalam tubuhku, membuatku ingin mencabut rambutku. Aku melihat saat Jeremiah membalikan tubuhnya dan berjalan keluar, menutup pintu depan perlahan dibelakangnya. Jemariku mengeras, aku menyapukan tanganku ke rambut, membuka jepitnya hingga terjatuh ke lantai, tapi aku tak perduli pada saat itu.

Rasa frustasi ini terlalu berlebihan. Aku mencoba menghela nafas dalam-dalam tapi tak ada yang bisa mencegah kemarahan yang tiba-tiba muncul di situasi ini; rumah ini adalah penjaraku, dan Jeremiah menjadi sipirku. Jendela buram itu menjadi jerujinya; teknologi yang memenjarakanku tetap didalam sama saja seperti besi ataupun metal pelindung. Aku tak melihat dunia luar sejak pertama kali sampai disini kecuali melewati jendela kecil kamar mandi, dan pikiran absurd bahwa aku mungkin akan terjebak seperti ini selamanya mendorongku melewati ruang tengah menuju ke jendela dinding belakang dan pintu yang akan membawaku keluar.

Pegangan pintu yang mengarah ke pekarangan belakang terasa dingin dibawah genggamanku. Sebelum aku mempertimbangkan lagi tindakanku ini, aku memutar gagangnya dan membuka pintu itu, mengintip pemandangan dan tanpa perairan seratus yar dari belakang bangunan...

Hanya untuk menutupnya lagi, terbelenggu ketakutan akan apa yang menungguku.
   
Isakkan keluar dari tubuhku, dan aku menaruh tanganku diatas mulutku untuk menahannya. Berhentilah menjadi seseorang yang bodoh, kutegur diriku sendiri. Jeremiah melakukan ini setiap hari, jadi kau pun pasti bisa. Stres akan situasi ini akhirnya membelenggu diriku dan aku mengambil beberapa helaan nafas dalam sebelum aku bisa memegangnya lagi. Aku harus keluar dari sini atau aku akan menjadi gila, hal inilah yang harus kulakukan.

Aku yakin alarm sudah berbunyi saat aku membuka pintu, tapi tak ada seorangpun masuk untuk mengecek keadaanku, tidak juga peringatan untuk menjauh. Penjagaan yang sangat baik. Aku meyakinkan diriku lagi, aku membuka pintu itu lagi dan mengintip keluar. Tak ada pengawal yang terlihat dan jalan itu mengarah ke air dan rumah kapal yang aku lihat hampir setiap hari melalui jendela kecil diatas. Bangunan ini tertutupi oleh pohon-pohon tinggi, menghalangi orang lain untuk melihat penjagaan ini. Hawa dingin siang hari di musim dingin terasa diudaram dan tak ada kapal yang terlihat di laut. Peganganku di pintu tak akan membawaku kemana-mana. Sekarang atau tak akan pernah.

Kuatkan diriku sendiri, aku berjalan keluar dan bergerak menuruni pekarangan menuju ke rumah kapal. Jalanku tersentak dan gugup. Aku menengok kebelakang dan melihat pintu yang lupa kututup tapi aku tahu jika aku kembali aku tak akan memiliki kesempatan untuk kabur lagi. Aku merasa luar biasa saat berada diluar lagi dan, pada saat itu, aku tak perduli jika ada pengawal yang melihatku.

Rumah kapal itu sangat menarik saat dilihat dari dekat. Apa yang tadi aku pikir hanyalah gubuk ternyata bangunan megah, mengikuti garis pantai dengan lantai terbawah yang mengarah ke dermaga yang menjulur ke air. Lantai atas sejajar dengan tanah; tangga yang membawamu ke bawah dimana kapal-kapal disimpan yang terlihat seperti tempat tempat berlabuh yang kecil. Konstruksi dari rumah kapal ini berbeda dari rumah, lebih tua dan kumuh, terlihat usang didapat dari fisiknya yang sudah tidak rapi.

Aku dengan cepat bergerak kearah bangunan itu saat bel nyaring berbunyi dari arah halaman kamp. Jantungku berhenti berdetak sesaat dan aku berlari menuju ke rumah kapal, mencari pintu masuk. Melirik kebelakang, aku melihat tiga pengawal berlari kearah mansion yang baru saja aku tinggalkan, berpencar dan menghilang di pojok.

Apa mereka mencariku, atau mencari penyusup? Pikiran bahwa sang pembunuh mungkin masuk kedalam kamp melumpuhkan benakku, dan aku menendang diriku sendiri secara mental karena pemberontakkanku yang berbahaya. Bodoh, bodoh! Apa yang kupikirkan?

Penelusuran cepat di rumah kapal kutemukan pintu masuk terdekat dan aku dengan cepat bergerak kearahnya, mencari tempat aman untuk bersembunyi. Pintunya tak terkunci dan aku masuk kedalam, menutupnya cepat dibelakangku. Aku menyandarkan kepalaku di kayu, melihat dari jendela saat lebih banyak pengawal muncul disekitar pintu terbuka yang baru saja menjadi jalan keluarku. Aku akan berada dalam masalah besar, pikirku, tiba-tiba merasa bersalah.

Dari ujung mataku aku melihat sesuatu bergerak, dan sebelum aku bisa bereaksi satu tangan menutup mulutku. Aku berteriak, atau mencoba berteriak, saat aku ditarik kebelakang menjauh dari jendela oleh sebuah tangan yang kuat. Aku menendang sebuah kursi dan lampu saat perlawananku, tapi penyerangku tak melepaskanku. Aku menendang kebelakang tapi serangan lemahku dengan cepat di hindari. Oh Tuhan, pikirku, putus asa memenuhiku, aku akan mati, kan?

Jeremiah, maafkan aku...

"Senang bertemu denganmu di tempat seperti ini," kata suara riang dibelakangku. "Aku benar-benar berharap lain kali kita bertemu lagi kita akan berada di situasi yang lebih baik."

Perlawananku berhenti saat aku mengenali suara itu. "Kau benar-benar harus mempelajari beberapa manuver pertahanan yang baru," penyerangku melanjutkan, "kau mudah ditebak setelah beberapa saat. Sekarang kumohon untuk tidak berteriak sayangku, aku lebih suka jika orang-orang itu tidak mengetahui lokasi kita."

Tangan yang menyekap mulutku terangkat dan aku tetap diam, tidak yakin harus berbicara apa. Cengkramannya ditanganku, menekan punggungku, tidak bergeser sedikitpun. "Apa aku akan mati?" bisikku, jantungku serasa berada di tenggorokanku.
   
"Semua itu tergantung pada seberapa cepat adikku sampai." Tangan yang lembut menjalar di dadaku untuk mengelilingi leherku, menarikku kearahnya. "Apa kau mau taruhan?"

***

Penerjemah: +Helda Ayu
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

14 comments

dundundundun...
thank you helda sayang..
thank you mas mimin...
*peluk dua2ny*

aw..aw..aw.. koment dolo baru baca.. tq mas mimin n mbak helda..

Enjoyyy all~~~
thanks to mas Yudi~ :D

Yeah !!!!
Mr.Jeremiah is back !!!!
♥·♡ †нªηк's ♥·♡ kak Helda !!!!
Hello kak Ertika Sani !!!!

thanks Helda... Thanks mas Yudi...
*kecup-kecup, dagh.....

Thank you Helda...Thank You mas Yudi

tq helda n mas yudi.
lanjuuttt!!
kalian luar biasaaa!!
gak sabaaarr..
PENASARAN ABIZZZ...

tq mb helda n mas yudi...
love you all
btw FSF-nya mana??
gak nahan nungguin Mr.Grey

makasih mba helda mas admin....

ga sabar nunggu kelanjutan ahw hihihih (*^▽^*)

makassiii bebeb...
makasii pak adminnn... :) :)
di tunggu lanjutannya... :)

oh..akhirny... tx helda n mas admin...

thanks banget yaa mba helda n mas yudi udah posting ahw, dtunggu lanjutannya...^_^

aaaaaaaaa penasaran kelanjutannyaaaaa

Thank you mba helda... ditunggu kelanjutannya :)

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top