24
ahw4-thumb
Setelah tiga hari berada di mansion megah itu, aku mulai gila.

Begitu banyak hal yang bisa di lakukan seorang gadis di dalam rumah itu dan, sementara itu rumah ini terlampau besar, aku kelelahan dengan misterinya. Well, sebanyak yang dapat dilakukan oleh seseorang dengan rasa ingin tahunya dan internet. Aku tidak dilarang untuk memasuki setiap kamar di rumah ini dan aku sudah menemukan beberapa artefak menarik dari rumah ini. Sebuah ruangan di bagian belakang rumah berisikan beberapa gambar besar tentang tokoh-tokoh tua, dari pencarian internetku, satu diantaranya aku kenali sebagai Rufus Hamilton. Itu memecahkan misteri tentang apa yang dulunya di gantung di atas perapian di ruang makan yang besar, namun hanya sedikit membantuku untuk sejenak keluar dari kebosanan ini.

Aku menonton tv, bermain internet, dan berusaha menyibukan diri sendiri sebagaimana seorang tahanan rumah. Aku menjadi sangat sensitif dengan segala sesuatu yang terjadi di sekelilingku, aku selalu membayangkan beberapa bandit bersenjata atau pembunuh bayaran masuk menerobos pintu, dan itu sangat melelahkan. Parahnya lagi, tidak ada satu orangpun yang menceritakan padaku tentang apa yang sedang terjadi atau ada kemajuan apa. Jeremiah lebih sering tidak berada di rumah, dan tentu saja para bodyguard itu tidak mengatakan apapun, jadi aku hanya sendirian. Aku sudah mulai muak, dan aku menemukan beberapa cara untuk memberontak, meskipun itu semua tentu saja hanya di dalam benakku.

Ada sebuah jendela kamar mandi yang tidak dibatasi dan tidak berkabut, menghadap ke sisi bangunan ke seberang adalah lanskap yang terawat dengan sangat baik. Aku selalu mandi di kamar mandi itu setiap pagi, untuk mengintip keluar, aku merasa sedikit konyol dengan gairah yang di hasilkan dari pembangkangan kecil ini. Jendela itu mengahadap ke laut melampaui properti belakang rumah ini, dengan rumah perahu yang berada di sepanjang tepi dermaga. Biasanya selalu ada penjaga di sana, dan sebuah truk tukang taman dengan beberapa pekerja akan tiba untuk memastikan dan merawat agar tempat ini tetap terlihat indah. Aku rindu turun ke air, mungkin mencelupkan jemariku ke air dari dermaga, tapi mengingat kata-kata Jeremiah tentang penembak jarak jauh yang mungkin mengintai, aku menutup jendela dalam ketakutan. Emosi itu melebihi dari apapun hingga membuatku terpenjara di rumah ini dan hanya menambah kekesalanku.

Pada hari ke empat penahananku, aku mendengar suara Jeremiah dari kantor besar di lantai dua. Aku membulatkan tekadku dan berjalan menghampiri, mendorong pintu hingga terbuka tanpa mengetuk. Wanita berambut merah yang tengah duduk menghadap ke meja berbalik melihatku dan alisku terangkat ketika aku mengenali Celeste, COO untuk Hamilton cooperation.  Dia tampak terkejut melihatku, dan menatap bergantian padaku dan bosnya yang duduk di belakang meja.

“Ada yang bisa kubantu?”

Suara Jeremiah kaku ketika berbicara denganku, tetapi tatapannya kepada pakaianku menunjukan ketidak setujuan. Kekakuan itu membantuku kembali mengangkat wajahku penuh keberanian. “Aku ingin tahu, kapan aku diperbolehkan pergi,” aku ingin menanyakan tentang investigasi yang sedang dilakukannya, namun kehadiran Celeste menahanku. Dia adalah wanita pertama yang kulihat di tempat ini setelah ibu Jeremiah. Kebingungannya, entah karena kehadiranku atau karena situasi yang dihadapinya, adalah sebuah ucapan selamat datang – setidaknya aku bukanlah satu-satunya orang yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi di dalam rumah ini.

“Kita bisa membicarakan itu nanti, Ms. Delacourt.” Ponsel di mejanya bergetar dan ia tersentak, langsung berdiri. “Tunggu sebentar,” katanya, berjalan mengitari kami dan berlalu keluar pintu. Aku ditinggalaknnya ternganga di tempat yang baru saja ia tempati.

“Apakah kau tau apa yang sedang terjadi?”

Celeste terdengar marah, sama emosinya denganku, namun aku hanya bisa mengangkat bahu dan menggeleng. “Apa yang kau tahu?” tanyaku, mencoba untuk mengukur pengetahuannya.

“Tidak ada, kecuali Ethan tidak membiarkanku berada di luar pengawasannya,” si rambut merah melemparkan tangannya dengan frustasi. “Dia mengatur detail keamanan yang konstan kepadaku, namun tidak menagtakan padaku alasannya. Jeremiah membuatku bertanggung jawab akan semuanya juga, dan aku sudah berusaha untuk mengikutinya.” Dia menatapku frustasi. “Kau sudah berada disini sepanjang waktu?”

Aku mengaguk. “Dia bahkan tidak membiarkanku keluar rumah.”

Mata si rambut merah menyipit tajam.  “Apakah kau tau apa yang sebenarnya terjadi? Aku bersumpah, aku sangat kesal ketika Ethan dan Jeremiah pergi bersama, itu membuatku gila.”

“Ini bukan main-main.” Aku mendengus. “Terlalu overprotektif, kemudian sedikit kasar.”  Kata-katanya mengkonfirmasikan kecurigaanku akan pengetahuannya tentang keracunan itu tapi aku tidak yakin sejauh mana yang harus ku katakan. Godaan untuk memberitahukan semuanya begitu kuat, walaupun hanya untuk memiliki seseorang di sampingku. Sayangnya, kesempatan itu hilang ketika Jeremiah berjalan masuk diikuti Ethan.

“Remi katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tuntut Celeste. “Aku melakukan permintaan pertemuan dan janji yang datang untukmu, dan aku tidak tahu harus berkata apa pada orang-orang itu,”

“Apa kau membutuhkan bantuan untuk melakukan pekerjaanmu?” suaranya dingin, ia memiringkan kepalanya kesamping saat menatap si rambut merah.  “Haruskah aku memberikan beberapa pekerjaanmu pada orang lain?”

Kesombongan dan harga diri muncul di wajah wanita ini. Tentu saja, gagasan tentang delegasi itu sama sekali tidak berkenaan dengan dirinya. “Kau punya sisa minggu ini, dan aku butuh jawaban.” Akhirnya kata Celeste, tertuju pada milyuner yang pandai menahan emosinya.

Anggukan jeremiah tampak meredakan amarah Celeste, dan ia berbalik pergi. Ia mengangkat lengan Ethan ke atas bahunya, namun tampaknya pria besar itu sama sekali tidak keberatan, tampak melayang diatasnya saat mereka keluar dari kantor. Ketika pintu tertutup aku berbalik untuk memandang Jeremiah yang sudah menatapku. Seperti biasa, wajahnya sangat sulit dibaca, aku mengambil nafas panjang, kemudian berjalan mengitari meja hingga berada di sampingnya. “tolong katakan padaku, apa yang terjadi dengan investigasi ini?”

Aku tidak bermaksud untuk menekankan perkataanku sebagai permohonan. Celeste sudah lebih tegas dalam permintaannya tentang informasi ini, dan sebagian dari diriku berharap aku mampu setegas dirinya. Namun, aku melihat mata Jeremiah melunak, dan sebuah tangan besar merapihkan sehelai rambutku dari wajahku. Nafasku tercekat ketika ujung jarinya menelusuri rahangku, mengangkup leherku tepat di bawah dagu. Tubuhku langsung meleleh, menekan sentuhannya.

Tadi kemudian sentuhannya menjauh. Kehilangan keseimbangan, kuletakan tanganku di mejanya saat ia mundur, matanya tiba-tiba berkabut. “Ini adalah tanggung jawabku untuk membuatmu tetap aman.” Katanya, Suaranya dingin, ia kembali berbalik ke mejanya.

Kemarahanku memuncak. “Aku bisa berjalan keluar gerbang itu, dan kau tidak bisa menghentikanku.” Pernyataan itu akhirnya membuatku mendapatkan perhatian sepenuhnya. Jeremiah membulatkan matanya padaku, aku tahu aku akan menghadapi badai, namun aku tidak ingin mundur. “Kau membuatku menjadi seorang tahanan di rumah ini, dan aku sudah muak!”

“Kau menandatangani kontrak yang menyatakan kau akan mengikuti apapun yang aku katakan.” Geramnya, wajahnya garang. “Kau tidak akan meninggalkan rumah ini.”

Hilang sudah CEO yang tabah; sepertinya aku menyodok terlalu keras dan kini binatang buas itu mengangkat kepalanya. Aku mundur beberapa langkah, dan ia mengikutiku, kemudian aku menegakan tulang belakangku dan melotot kepadanya. “Kontrak itu juga menyatakan bahwa aku bisa berhenti dari "pekerjaan" ku kapan saja. Jika kau tidak memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi, aku akan berhenti dan keluar gerbang itu sekarang juga.”

Aku sudah membuat keputusan, aku berbalik untuk meninggalkan kantor itu. Baru saja selangkah aku bergerak, ruangan itu berputar, tiba-tiba saja tubuhku didorong ke dinding. Ini tidak menyakitkan, namun ini membuatku sangat terkejut, dan aku mendongkak, menatap mata lebar Jeremiah. Dia menjulang di atasku, cengkramannya di tanganku seperti baja. Namun ledakan emosi itu tampaknya sudah menenangkan sesuatu dalam dirinya. Api masih membakar jauh dimatanya namun ia kembali membelai wajahku lagi. “Aku sudah mencoba untuk menjauh darimu.” Bisiknya, matanya mengikuti jarinya di atas kulitku. “Berdekatan denganku adalah racun, dan kau terperangkap di dalamnya. Hal yang benar adalah melupakanmu, dan menempatkanmu di suatu tempat yang jauh dari...”

Hatiku luluh. Jangan tinggalkan aku, kumohon, batinku, tak peduli jika terlihat terlalu mendalam terhadap lonjakan emosiku yang mendadak. Ketika ibu jarinya menelusuri sepanjang bibirku, aku menariknya, dan mengambil buku jarinya dengan gigiku, menjalankan lidahku di sepanjang kulit kasarnya. Ia menahan nafas, cengkramannya di pergelangan tanganku menegang, dan jakunnya bergerak ketika ia menelan ludah. Tatapanku jatuh kemulutnya, kenangan akan bibir dan lidahnya di tubuhku membuat nafasku tergagap.

“Aku bukan gentleman.” Geramnya, matanya menelusuri garis wajahku. Tangannya turun ke payudaraku, namun ia malah mengepalkan tinjunya, berhenti menyentuhku sejenak. “Aku melihat dirimu, dan semua hal yang kulihat adalah betapa mudahnya aku menghancurkan dirimu. Kau hampir mati sekali karenaku dan...”

Aku mengibaskan tanganku dari cengkramannya, dan yang mengejutkanku ia melepaskanku. Mata Jeremiah meredup dan aku tau dia pasti berpikiran bahwa aku menolaknya, tetapi sebelum ia bisa menjauh, aku menangkupkan wajahnya dengan tanganku. “Apakah kau ingin tau apa yang kulihat saat ini?” tanyaku lembut, menatap matanya. Hatiku terpilin ketika membaca kerinduan di wajahnya. “Aku melihat seorang pria tampan yang sangat menyebalkan, yang membiarkan kehidupan merobek seluruh mimpinya. Aku tak menginginkan hal lain, selain membuatnya lebih baik lagi, tapi itu semua di luar kemampuanku.” Aku membelai pipinya dengan ibu jariku. Kemudian mengulurkan tanganku, meraih buku-buku jarinya ke bibirku. “Aku berjanji untuk memberikan apapun yang kau inginkan, dan aku bersungguh-sungguh dalam hal ini.” Aku melanjutkan, menjalankan tangannya ke bibirku dan menghentikannya di leherku. “Percayalah, aku lebih tangguh dari pada yang kau lihat.”

Jeremiah menelan ludah, menatap tangannya sendiri yang membungkus leherku. Dia menyesuaikan cengkramannya lebih tinggi dan aku memiringkan kepalaku lagi, tidak melepaskan pandangannya. Aku membiarkan tanganku di samping tubuhku ketika ia mempelajari kontras antara tanganya dan pucatnya kulit tenggorokanku. Ketika akhirnya ia menunjukan tatapan laparnya kepadaku, api dalam perutku mulai membakar sebagai jawabannya. “Ambil aku, sir” bisikku, dan ketika menatap matanya, kata-kataku benar-benar menghancurkan perlawanannya.

Ia mengangkatku kedalam pelukannya tanpa berkata apapun, kemudian membawaku ke luar kantornya, bergerak turun dalam diam ke lorong, menuju kamar besar di dekatnya. Dia mendudukanku di samping tempat tidur kemudian menutup dan mengunci pintu di belakang kami. Aku menatapnya diam-diam, menunggu perintahnya, ketika ia berbalik kepadaku. “Lepaskan pakaianmu dan berlutut di samping tempat tidur.”

Kelegaan menjalar di tubuhku, membuatku limbung dan bersemangat. Pikiranku melayang pada saat pertama kali aku mendengar suaranya, perintah dan kekuatan yang bergema dalam setiap kata-katanya. Dia bisa saja hanya membaca sebuah kamus dan aku akan basah karenanya. Namun ketika matanya memandanngku, aku bisa meliihatnya benar-benar terbakar. Masih dengan menatapnya, aku membuka kancing kemejaku perlahan, aku mengangkat bahuku hingga menjatuhkan kemeja itu begitu saja. Celanaku adalah yang selanjutnya, kain itu tertumpuk di sekitar kakiku ketika aku melangkah keluar darinya.

Jeremiah menggeleng cepat ketika aku beranjak ke lantai. “Semua pakaianmu,”

Jantungku berdetak bertambah kencang, namun aku mematuhinya, meraih bagian belakang tubuhku dan melepaskan kaitan bra-ku. Aku menarik talinya dari bahuku, tanganku gemetar ketika aku mengekspos payudaraku pada pandangannya. Cairan panas memenuhi perutku; aku hampir bisa merasakan belaian matanya pada tubuhku yang langsung menanggapi keinginanya yang terlihat jelas, gemetar karena kebutuhan. hembusan udara yang dingin membuat putingku mengeras, nafasku tercekat ketika aku melepaskan kain tipis itu dari payudaraku dan membiarkannya terjatuh di samping kemejaku.

Susah payah aku menelan ludahku, kemudian meletakan ibu jariku diatas celana dalamku dan menurunkannya melewati pahaku. Jeremiah mendecak kagum ketika aku menaikan punggungku ke udara, kamudian aku kembali bergerak, membungkuk, jemariku hampir menyentuh lantai sebelum berjalan keluar dari celanaku. Ketika aku kembali berdiri tegak, ia menatapku, tatapan persetujuannya membuatku terkejut kegirangan. “Sangat indah,” bisiknya, dan aku memerah karena bahagia.

Dia bergerak berdiri dan, meraih sebuah laci kayu, mengeluarkan sebuah tas hitam dengan pegangan yang tampak mahal. Tidak ada tulisan apapun di sampingnya untuk menunjukan apa yang ada di dalamnya, dan aku menatapnya penasaran ketika ia meletakannya di meja kecil. “Tangan dan lutut di tempat tidur.”

Mataku melebar, nafasku terperangkap di tenggorokanku. Posisi ini akan benar-benar mengekspos diriku sepenuhnya kepadanya, meninggalkanku kepada belas kasihannya. Ketelanjangan, terutama di hadapan orang lain, masih menjadi konsep baru untukku namun tatapan Jeremiah menghancurkan semua argumenku. Dengan tungkaiku yang terasa kaku, aku naik ketempat tidur, masih mengahadap kearahnya. Pemikiran tentang mengekspos bagian yang paling intim dari tubuhku membuatku memandangnya dengan teliti – tubuhku memerah hanya dengan memikirkan hal tersebut- tetapi ia tampak senang dengan apa yang dilihatnya. Ia mengguncang tasnya. “Mau menebak apa yang ada di dalamnya?”

Benda itu memiliki suara yang padat, tetapi aku tidak bisa berpikir. “Lingerie?” aku memberanikan diri, meskipun aku tahu ada lebih dari sekedar lingerie di dalam sana.

Jeremiah tersenyum, menunjukan senyum khasnya yang membuat perutku bergetar. Dia sangat tampan ketika tersenyum seperti itu, kemudian ia merogoh isi tasnya dan mengeluarkan barang-barang di dalamnya. “Aku memikirkanmu ketika membeli semua ini.” Katanya, meletakan mereka satu persatu di meja.

Pada awalnya otakku menolak untuk memahami apa yang aku lihat sampai ia mengeluarkan belenggu berbahan kulit dan mengatur mereka di sisi tempat tidur. Aku menatap kulit hitam itu sesaat, kemudian pada barang-barang plastik yang ada di atas dudukan kayu. Ya Tuhan...pengalaman seksualku sangat terbatas, tetapi sementara aku tidak bisa menyebutkan nama barang–barang yang ada di hadapanku, tapi aku bisa membayangan bagaimana barang-barang itu digunakan.

Jeremiah mengambil sebuah barang berbahan plastik yang tipis dan gelap dan sebuah wadah kecil berisi pelumas, kemudian bergerak ke sekitar tempat tidur, ke belakangku. “Mata menatap kedepan.” Perintahnya ketika aku setengah berbalik untuk tetap bisa melihatnya.

Gemetar karena ketidakpastian, aku melihat kedepan lagi. Tak tahu tentang apa yang akan terjadi selanjutnya membuatku khawatir tetapi bagian tubuhku yang lain terengah-engah penuh harap. Semenjak aku bertemu dengan Jeremiah, aku sudah melihat dan mengalami banyak hal yang diluar batas mimpi liarku, dan sesuatu megatakan padaku bahwa ini pun tidak akan jauh berbeda. Aku terlonjak ketika tangannya bertumpu pada punggungku, namun, aku mendengar gemuruh rendah tawanya, sangat seksi.

“Kau sangat cantik.” Bisiknya, tangannya membelai bagian bawah kakiku dan kemudian kembali ke bagian dalam pahaku. “Aku menikmati saat membelaimu seperti ini,”

Jari cekatannya menekan lipatanku, meluncur diatas pintu masukku yang berdenyut-denyut, dan aku melonjak maju karena terkejut. Tangannya yang lain meraih pinggangku, menyeimbangkanku, ketika jemarinya terus meluncur kedalam dan di sekitarnya, membuatku terengah-engah. Salah satu jarinya memasukiku, menekan di sekitar dinding ketat pembukaanku, dan sebuah erangan keras keluar dari bibirku.

Jeremiah tertawa lagi, kemudian ibu jarinya bergerak ke lubang yang lain, membelai lembut dipintu masuknya. Dia sudah pernah bermain disana sebelumnya, jadi aku setengah mengharapkannya, tetapi aku merasakan gelombang panas ketika ia menekan di kulit kecil diantara kedua lubangku, membuatku terkejut. Tekanannya terasa nikmat dengan caranya sendiri, tak perlu dibarengi dengan sentuhan yang lainnya. Ibu jarinya mengitari lubang kecilku sebelum mendorongnya kedalam, dan aku mengerang lagi, bingung dengan responku tapi tidak mengurangi gairahku.

Jari licinnya menghilang, kemudian sesuatu yang tumpul dan keras menggantikan tempatnya, menekan ke dalam dengan tegas. Aku merintih ketika hal ini meregangkanku, bergerak lambat, tetapi dengan pasti memasuki diriku. Ada sedikit rasa sakit ketika Jeremiah bergerak naik sedikit, tetapi tekanan yang diciptakan oleh benda itu terasa asing. Rasanya seperti keabadian sebelum akhirnya ia berhenti, tekanan yang tidak nyaman namun tidak pula menyakitkan. Aku melirik kebelakang dan melihat ia mengagumi hasil karyanya. Dia melihatku dan, salah satu mulutnya terangkat sedikit, ia member iysarat dengan jarinya agar aku kembali ke posisi semula.

“Kau belum pernah melakukan ini sebelumnya, kan?” ia tertawa melihat kepalaku menggeleng. “Aku menggodamu sebelumnya, tetapi aku sudah menunggu untuk mendapatkanmu, dan pantat manis ini saja,”

Nafasku terengah-engah ketika mulutnya menelusuri punggungku. Aku bergetar, ketidak pastian berperang dengan hasrat keinginan. Sensasi ketika mengalirnya cairan menuruni salah satu paha telanjangku, membuatku memerah malu, tetapi aku mendengar nafas berat Jeremiah. “Ya Tuhan. Aromamu...” geramnya, jemarinya mencengkram pinggulku. Itu adalah peringatan untukku saat wajahnya turun mengenai intiku yang terbuka, mulut dan lidahnya bergerak di sekitar lipatan sensitifku.

Aku berteriak kaget, melonjak kedepan, nyaris jatuh ketepi tempat tidur. Aku tidak punya tempat untuk pergi: jatuh kedepan dan turun dari tempat tidur atau mendorong mundur ke dalam mulut yang luar biasa itu. Tangan Jeremiah di pahaku, memberikanku sedikit ruang untuk bergerak. Namun memantapkanku, ketika bibir dan lidah dan –Ya Tuhan- giginya menghisap dan menggigit daging yang sensitif itu. Salah satu tangannya melepaskan pahaku yang gemetar, dan jemarinya menekan pintu masukku yang basah, membelai semua tempat yang tepat, yang mampu membuatku gemetar berantakan.

Plug di pantatku bergeser, hampir seperti sebuah benturan kecil, dan tubuhku menegang pada sensasinya yang aneh. Ini cukup asing untuk di rasakan sebagai kenikmatan, tetapi tidak mengurangi pengalamannya. saat kedua kalinya benda itu bergerak, aku tahu ini sengaja dilakukan saat Jeremiah memutar Plug yang keras itu, tapi jari-jarinya bergerak dalam diriku dan gigitan lidahnya pada bagian dalam pahaku, membuatku tidak menghiraukan hal-hal yang lain.

Kasur di belakangku terangkat ketika Jeremiah bangkit dan berpindah-pindah kesisi tempat tidur. Aku berbaring disana, terengah-engah, berlutut dan bertumpu pada siku, dan mencoba untuk menenangkan getaran tubuhku. Tangannya membelai kepalaku, kemudian turun kepunggungku dan aku melihat tonjolan keras di celananya, di hadapanku. Pikiranku masih berkabut, aku mengulurkan salah satu tanganku dan memijit ujung tonjolannya melalui celananya, merasakan panjang dan ketebalan dirinya. Jeremiah bergetar karena sentuhanku, tetapi tidak bergerak. Tangannya menari-nari di sepanjang tulang belakangku, membuatku semakin berani. Aku meraih celananya dan menarik turun risletingnya, kemudian mengulurkan tangan kedalam dan menariknya bebas.

Kukunya menggores punggungku ketika aku membungkuk dan menarik lidahku dengan ringan ke ujungnya yang bulat. Jeremiah mengerang, dan itu adalah dorongan yang aku butuhkan saat ini; aku membungkuk sepanjang tempat tidur dan menghisapnya dengan mulutku. Sudut ini tidak memungkinkan aku ruangan untuk bergerak tapi aku melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan, menghisap ujung kepalanya dan menjalankan lidahku ke sepanjang kekakuannya. Tangan Jeremiah kembali kekepalaku, jari-jari besarnya menggenggam rambutku. Aku menjalankan jemariku diantara kedua kakinya, menangkup dan memijat kedua bola beratnya, dan sangat senang ketika mendengar Jeremiah menarik nafas tajam di atasku.

Sebagian dari diriku merasa ngeri dengan kelakuan nakalku, tapi pada saat itu aku tak mungkin menginginkan hal lain. Tubuhku masih terbakar karena sentuhannya; setiap gerakan mengingatkanku pada benda yang masih berada di dalam diriku, merenggangkan tubuhku untuk menerimanya. Intiku terasa nyeri, sangat membutuhkan sentuhan, dan aku melingkarkan tanganku yang bebas di antara kedua kakiku, menyandarkan tubuhku pada siku.

Jeremiah melangkah mundur, bagian tubuhnya meninggalkan mulutku dengan suara pop yang lembut, kemudian ia menampar keras punggungku. Pukulannya menyengat dan aku tersentak kaget, menghentikan semua gerakanku. “Apa aku memberikanmu izin?”

Tidak yakin bagaimana menjawabnya, aku menarik tanganku maju lagi tetapi Jeremiah menarik kepalaku, hingga kami bertatapan. “Apakah kau akan menyentuh dirimu sendiri?”

Suaranya penuh kontrol, tatapannya meminta jawaban, membuat tubuhku mengencang dalam kebutuhan. “Ya sir,” bisikku, tahu bahwa berbohong bukanlah cara yang baik.

Ia mengaguk, mengiyakan jawabanku. “Apakah aku memberikanmu izin?”

“Tidak, sir.” Bisikku. Sebuah ketakutan yang lezat mengalir melalui tubuhku ketika ia mengangguk dan melepaskan wajahku, kemudian bergerak pindah ke bagian belakang tempat tidur. Tangannya berjalan sepanjang punggungku, dengan lembut menyentuh Plug itu seolah-olah mengingatkanku lagi akan keberadaannya.

“Apa yang harus aku lakukan pada orang yang tidak mematuhi perintahku?”

Jari-jarinya meraba pada daging yang hangat, masih nyeri karena pukulannya, seolah-olah dapat membantuku untuk menjawabnya, namun aku tak bisa berkata apa-apa. Mengatakan padanya untuk memukul pantatku adalah di luar kekuasaanku, tapi ide itu begitu kuat dan yang mengejutkan membuatku bergairah. Aku tak suka akan rasa sakit – bahkan pukulan yg pelan saja sudah berada di luar zona kenyamananku- tapi entah kenapa, ide bahwa mendapatkan hukuman itu membuatku menggeliat penuh harap.

Dua benda yang berada di meja kecil di samping tempat tidur adalah sebuah tongkat dan cambuk kulit dengan pegangan berupa anyaman yang tampaknya begitu lembut. Kontrasnya warna kulit hitam dan kulit merahnya menarik perhatianku – itu sangat cantik, dan sebuah pemikiran yang bodoh mungkin akan membuatnya berfungsi sebagai cambuk. Ketika tangan Jeremiah melayang diatas tongkat, tubuhku menegang, namun kembali rileks ketika jarinya mengarah kepada cambuk kecil itu. “kau suka cambuk itu?” bisiknya, kegelian samar-samar terdengar dari suaranya.

Aku memerah, memalingkan wajahku hingga akhirnya ia meraih daguku dan membuatku menatapnya. “Aku tak ingin kau merasa malu karena rasa ingin tahumu,” ia mengelus pipiku dengan ibu jarinya. “Aku tahu kau tidak berpengaaman, dan aku akan bersikap lembut, tapi tujuanku adalah untuk menyenangkanmu, maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu. Jadi katakan padaku, apakah melihat cambuk ini membuatmu terangsang?”

Aku mengaguk namun Jeremiah menggeleng. “Aku perlu mendengarnya,”

Mengiyakannya begitu sulit. Aku menelan ludah dengan susah payah, mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbisik. “Ya sir.”

“Bagus,” ia mengambil Flogger itu dan menyentaknya di tangannya. Cambuk kulit itu membuat suara yang begitu keras dan aku menegang. Apa yang sudah aku lakukan pada diriku sendiri?

“Tutup matamu,”

Aku menuruti apa yang ia katakan. Jantungku berdetak kencang ketika penutup mata dipasangkan padaku. Aku gemetar, tiba-tiba merasa gelisah, aku masih menahan diriku tetap diam ketika Jeremiah bergerak ke belakangku. Dorongan untuk melepaskan penutup mata itu dari mataku begitu kuat, tapi aku membayangkan hukuman dua kali berturut-turut akan lebih buruk dari pada hanya sekedar cambukan biasa. Dengarkan kata hatimu, batinku, ini tidak masuk akal! Bagaimana mungkin kau membiarkan orang ini menyentuhmu seperti itu, apalagi memukul---

Cambukan pertama pada punggungku memberikan sengatan kecil, tapi berhasil mengejutkanku. Cambukan kedua lebih menyengat dan mendarat lebih dekat dengan puncak sensitifku. Aku mengencangkan otot-ototku, mencoba melindungi intiku yang terekspos dari alat tersebut.

“Jaga lututmu tetap terpisah.”

Oh, ayolah! Dorongan untuk melawan mulai muncul tetapi aku mengalahkannya, bertekad untuk melihat ini berlalu. Merilekskan tubuhku saat ini terasa lebih sulit tetapi aku memaksa otot-ototku untuk mengendur. Meremas tanganku menjadi sebuah tinju untuk meredakan ketegangan. Benda di dalam tubuhku tidak lagi terasa mengganggu, atau mungkin aku sudah terbiasa dengan keberadaannya disana. Bagusnya, semua pengalaman ini membuktikan bahwa terlalu banyak menerima dalam satu waktu sekaligus.

Dua pukulan lagi dari cambuk itu, dan ketika pukulan yang terakhir mengenai daging sensitifku yang terekspos, aku berteriak. Aku merasakan rasa sakit yang menyengat, tapi aku tahu tak ada luka, yang memungkinkan untukku menahan tiga cambukan yang berikutnya. Pada saat yang terakhir aku jatuh terengah-engah, punggung dan pahaku terasa pedih. Jeremiah tampak tidak mencondongkan tubuhnya dan aku tahu kulitku akan meninggalkan bekas dari cambukan kulit itu.

Sebuah tangan membelai di sepanjang kulitku yang nyeri, menelusuri garis-garis terbakar dengan sentuhan lembutnya. “Sangat menyenangkan melihat tanda yang kubuat pada dirimu.” Dia mencium punggungku. “Aku punya kejutan yang lain untukmu.”

Aku menunggu, tak yakin dengan apa yang akan terjadi, kemudian merasakan suatu benda yang terbungkus tipis di sekitar pinggulku. Sesuatu yang kecil namun keras yang aku asumsikan sebagai benda plastik, diletakan di puncuk lembut diantara pahaku, di ikatkan dengan kuat dengan tali di sekitar pinggulku. Ketika benda itu tiba-tiba bergetar, aku terkesiap.

“Kupikir kau mungkin menyukai ini,” kata Jeremiah, menurunkan salah satu tangannya kepaha basahku. “Yang satu ini hanya dimaksudkan untuk clitmu; aku punya yang lebih besar lagi, yang dapat merangsang semuanya secara sekaligus, tapi akan aku gunakan pada rencana yang selanjutnya.” Dia memegang pinggulku ketika aku melonjak dan gemetar, percikan kenikmatan mengalir di seluruh tubuhku. “Ya Tuhan, kau kelihatan begitu seksi,”

Kasur di belakangku tampak menurun, tetapi aku hampir tidak melihatnya, terlalu terjebak dengan sensasi yang mengalir dalam tubuhku. Ketika sesuatu mendorong terhadap pembukaanku yang basah, menyibak lipatanku seolah meminta izin, aku balas mendorong dengan erangan yang mendesah. Penutup mata itu membuatku sedikit fokus terhadap kenikmatan dan yang aku butuhkan adalah ia ada di dalam diriku. Jeremiah mematuhinya, menekan bagian tubuh panjang dan kerasnya ke dalam pintu masukku yang ketat. Dengan ia mengisi aku lagi, aku menyadari sensasi dari butt-plug itu, benda asing yang memberikan tekanan terhadap dinding dalamku. 

“Ya Tuhan.” Jeremiah membungkuk di atasku, tubuhnya telanjang – kapan dia melepaskan pakaiannya? - menekanku ke kasur sambil terus mendorongku dengan kuat dan cepat. Aku menyambut dorongan kuatnya, tekanan lain muncul dalam diriku yang mengutarakan tuntutan. Aku mengerang dan mengepalkan tanganku di bawah selimut. Menahan tubuhku ketika Jeremiah terus mendorongku dari belakang. Ia mendorong lututku untuk terbuka lebih lebar, mengubah posisi, dan menekan sesuatu dalam tubuhku, membuatku terengah-engah.  “Pl...please,” aku tergagap, kata itu berupa erangan. Orgasme yang aku butuhkan sangatlah dekat, ini hanya memerlukan sebuah dorongan yang tepat untuk...

Bibir ditekankan di antara tulang belikat, lidah di masukan untuk merasakan kulit. Tangannya meraih vibrator kecil itu dan menekannya dengan keras terhadap intiku. “Aku ingin merasakan kedatanganmu.” Bisiknya, suaranya penuh dengan gairah, dan aku melesat ke tepian dengan teriakan yang keras, tubuhku meledak penuh sensasi. Orgasme ini mengeruk energiku yang tinggal sedikit dan aku meletakan dahiku di atas tanganku, terengah-engah.

Meski terlambat, aku merasa Jeremiah menarik dirinya keluar, kemudian mendengar gemersik suara kondom. Akhirnya ia melepaskan Plug-nya, dan sebelum aku menyadari apa yang akan ia lakukan, aku merasakan ujung tumpul ereksinya melawan lubang ketat anusku, dengan lembut mencari pintu masuk. Aku menggeliat, tiba-tiba tidak yakin meskipun aku masih bergetar karena orgasmeku.

Jari Jeremiah menelusuri bagian tubuh bawahku, meluncur lembut melalui daging lembut payudaraku dan turun ke pinggulku. “Aku sudah membayangkan bagaimana penisku berada di pantatmu,” gumamnya di belakangku, kemudian mencium bahuku. “Aku berjanji untuk membuat semua ini terasa nikmat. Please...”

Desakan kebutuhan di dalam suaranya begitu cocok dengan rasa ingin tahu di dalam diriku, dan aku mengalah dengan mendorongnya kedalam cincin penghalang yang ketat. Dalam kegelapan penutup mata itu, hanya ada sensasi. Nafas berat Jeremiah sesuai dengan nafasku, dan kesenangannya yang jelas terlihat tentang hal tabu ini mendapat jawaban dari kobaran api yang masih menyala dalam perutku. Tidak ada rasa sakit, hanya tekanan baru yang terasa aneh, tapi ketika ia memutar pinggulnya, sensasi yang tiba-tiba membuatku menekan kembali kepadanya, tangan melingkar di sisi tempat tidur.

Dia berada di atasku, tangannya yang kuat berada di kedua sisi tubuhku agar tidak meremukkanku. Aku mengulurkan tangan tanpa melihat dan meletakan tanganku di atas tanganya. Dan ia menautkan jemari kami ketika ia kembali mendorong. Kenikmatannya adalah tujuanku tapi aku mendapati diriku ikut dalam aksinya, sensasi asing ini menyatu dengan sensasi kenikmatan yang sebelumnya. Tangannya mengencang di sekitarku dan ia mendengus, dahinya jatuh kepunggungku ketika ia gemetar dan datang dengan diam.

Ada semacam kepuasan dalam memberikan pria kuat semacam ini sebuah pelepasan. Kuharap aku bisa melihat wajahmu, pikirku ketika ia duduk, menarik jarinya hati-hati dari tubuhku. Aku diam sejenak, diliputi perasaan senang, kemudian jatuh miring ke kasur. Sebagian dari tubuhku terasa sakit yang nikmat, terutama ketika aku bergerak, tetapi aku berbaring puas. “Itu sangat luar biasa,” desisku, aku menutup mataku dan meletakan kepalaku di atas bantal.

“Benarkah?” jeremiah terdengar geli akan pernyataanku. Masih terjebak oleh penutup mata, aku mendengar tapi tidak bisa melihat, suara denting aneh kemudian aku diputar di atas tempat tidur dan tanganku terbentang diatas kepalaku. Sebelum aku sempat protes, belenggu tebal melingkari pergelangan tanganku dan dengan suara aneh aku mendengarnya terkunci ke kepala ranjang. Mulutku ternganga kaget, kemudian Jeremiah membuka salah satu penutup mataku. Tatapanku tampaknya hanya menambah hiburannya. “Kau mengancamku untuk pergi sebelumnya.” Katanya, membiarkan kembali penutup mataku ke posisi semula. “Ini akan membuatmu tetap ada disini, dimana aku bisa melindungimu. Namun sementara itu, aku bisa memikirkan cara untuk mengambil keuntungan dari hal ini.

“Tertarik untuk mencari tahu?”

***

Penerjemah: +Cherie
Edit: +portalnovel

Poskan Komentar

24 comments

Makasih beb :* makasiiiihhh mas admin~~~

koment dolo.... tq mimin n mbak cherie...

waduh cher,yg ini bikin kipas2 deh, pdhl lg hujan lebat dsini..fiuhh
trims y syng, muach
mas admin tengkyu y

Thanks mba cherie & mas admin ^^

*brb rebut kipas mba tika trus baca*
:))

jiahh, conchita tiap malem ngjk berantem deh *gelitikin conchita* XD

Kipas ...dolo.....huaaa....hot.......thanks mbak cherie....mas admin.....kok portal agak sepi sekarang ya....tetap semangat.......

Mba tika, bawaan dari lahir. Maklum ya :p

ga butuh selimut kayaknya sekarang. :D

THANKS yah mba cherie dan mas yudi..

Mas yudi, BTY dong, kangen banjet sama gideon ;)

Aaakkkkk,,,mndiiiii kmbang jg dahh gr2 bc nih,,
Hahaha...
Mksh Cher n Mas Admin..

hahaha jgn pake kipas lahhh...masuk anginnn ntar

huft.... pada ga tau kali ya gimna proses TL yang atu ini....
ckckckck...
ampe nyiapin kipas angin di setiap suduttt...
panasss, hihihihihihi
selamat menikmati smuanya,
makasii pak bos, hihiihihihi...
*masih melirik takut, ngeri di jewer pake tang*

Hmm uuh tarik napas dalem"baca ini :D hehe...bikin gregetan niy jeremiah
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ cherie :*
◦"̮◦τнäηκ чöü ◦"̮◦ mas admin :)

Ini yang bikin tiap malam bikin penasaran,panas dingin buka portal novel deg-deg kan lihat ada cerita baru atau kagak !!!!
♥·♡ †нªηк's ♥·♡ yah para admin portal novel

Fanassss terus gerahhh...
Es manaaa es...
Makasih mas Yudi dan mbak cherry peluk2....

waw.
AHW tuh ad berapa ya?
epubnya bru ad yg ke 5 kan?

iya mba eka, AHW di tangan kita baru ampe yng ke 5, :)

Ga prnh baca AWH dr awal nih. Udh awh4 aja ya skr.. bgs ga sih ceritanya??
Tp mksh buat zia yg udh kepanasan translate'in ini ya. Nih ak pinjemin blower dufan *blower yg ada airnya itu loh* hahaha
thanks jg mas admin..

baca dari hp bingung mo ngirim komentar... coz blm tau cara'y....
makasih buat trasnlator dan mas admin............

Woooww hootss hoottss *lgsg nyalain ac..makasih mba cherry,makasih mas admin..:)

thanks ka cherry & Mas yudi *PeyukCium

Whoaaa,,,, Adys,, knp dah pke gambar yg ituuu....

Zia,,, thanks banget yagh,,
Mas Yudi,,, a lot of gracias juga utkmu,,

Whoaaa,,,, Adys,, knp dah pke gambar yg ituuu....

Zia,,, thanks banget yagh,,
Mas Yudi,,, a lot of gracias juga utkmu,,

woaaaaaaaaaaa.. itu si jeremiah mo ngapain lagi???
kok nanggung siiih??? *PLAK!!!
hehehehe...

makasih mbak cherie
makasih mas yudi..

ditunggu lo next AHW nya... ^__^

Makasih PN, tks juga para admin

Berkomentarlah dg sopan dan saling menghargai:
1. No SARA & pornografi.
2. Jangan menulis komentar berisi spoiler & spam.
3. Buat tmn2 yg masih silent reader ditunggu komentar perdananya.

 
Top