19 Juni 2013
Gelombang lautan pasifik begitu tenang, gerakannya lambat serta sangat nyaman, cuaca tidak terlalu terik namun juga tak mendung, angin lembut bergulir kencang menampar-nampar udara kosong diantara awan biru muda dan garis putih yang mem-batasi Bumi dengan tanah. Bagi Jemma Vallerwood, situasinya begitu kondusif untuk dia bisa mengistirahatkan otaknya sejenak. Namun tidak bisa jika disebelahnya seorang pria muda tampan, bertubuh seksi menggiurkan tengah, bermain-main dengan dua orang perempuan yang dijuluki Jemma sebagai Barbie kembar.
Padahal Jemma sudah memasang earphone-nya sekencang dia bisa, mengeraskan volume suara ipadnya pada takaran batas nyaris maksimal. Tapi tetap saja suara desahan mengerikan dari mulut kedua Barbie kembar itu mampu menembus tebalnya busa tebal pada alat pemasang telinganya.
Jemma bangkit duduk dari posisi tidur nyamannya diatas kursi lipat, melepaskan earphone, mengangkat kacamata hitamnya, gadis itu mengerang dengan suara kanak-kanak yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya selama 3 tahun terakhir ini.
"Please deh James!! Bisa tidak kamu cari kamar saja sana!!" bentak Jemma jengkel sejadi-jadinya, matanya melotot, tangannya bersedekap didepan bikini bertali satu ungu tuanya. Rambut coklat kemerahannya telah kembali ke warna semula, hitam, lurus sepunggung, berkibar menampar wajahnya akibat angin. Kemudian, ekspresi kesalnya berubah menjadi seringaian licik. "Atau, lebih suka kupanggil dengan nama Tuan Detektif terhebat sepanjang masa Brandon Wood…"
Pria yang tidur diatas kursi lipat santai berjarak semeter dari Jemma, mengangkat alis coklat lebatnya hingga menyatu dan seperti membentuk jembatan diatas wajahnya. Sepasang iris hazel didalam kedua bola mata bulat memancarkan ekspresi nakal. Rahang perseginya bergerak membentuk cengiran membuat bibir merah tomatnya merekah mempesona. Rambut gelap cepak lurusnya berkibar lembut akibat pengaruh angin. Kedua lengan kokohnya sengaja direntangkan untuk memberikan ruang kepada kedua gadis berambut pirang seksi yang sedang menelungkup diatas dada telanjangnya yang bidang dan mempesona.
Jika Jemma bukanlah sepupu Brandon Wood a.k.a James Vallerwood, lidahnya pasti sudah berada diatas tubuh seksi, dan perut ramping berotot milik pria itu. Sayangnya kilau pesona aktor Hollywood dari James takkan mempan bagi perempuan yang sudah mengenalnya selama puluhan tahun, bertetangga bahkan kadang tinggal satu atap, hingga bersekolah kemana-mana selalu berbarengan. Jika orang tidak tahu akan mengira me-reka kembar, kadang-kadang James malah dengan sengaja tampil bak pacar bagi Jemma saat mereka berjalan didepan umum.
Alih-alih menggilai James seperti wanita normal diluar sana, dia lebih sering merasakan jijik sekaligus sebal. Pernah sekali waktu saat orang tua Jemma berada diluar kota, Brandon mempergunakan rumah mereka untuk pesta seksnya dan menyogok Jemma dengan sekantung coklat asli swiss serta CRV keluaran terbaru yang tentunya terlalu menggiurkan untuk ditolak.
James sedikit menegakkan tubuhnya sementara kedua wanita pirang dikedua sisinya sibuk mencumbui perut bisep seraya memijat pelan kejantanannya yang sudah sejak tadi ereksi. Jemma yakin jika dia sedang tidak berada disini mereka bertiga pasti sudah bergulat diatas dinginnya lantai kapal pesiar pribadi milik Vallerwood Company ini.
"Oh, ayolah sepupu, kamu cuma iri karena dua mainanmu tidak ada disini. Lagipula siapa suruh kamu menerbangkan mereka ke daratan jauh di Hungaria." tukas James diikuti senyuman mengejek.
"Dean dan Peter bukan mainanku!" bentak Jemma marah, mata coklat besarnya melotot selebar dia bisa. "Lagipula, semakin jauh mereka dari Anderson maka akan lebih baik. Pria itu takkan bisa mencari mereka disana, bahkan memikirkannya saja tidak."
Dan itu benar, pikiran Paul akan menemukan dan mengoyak Kakak Beradik Dean dan Peter Finnigan, sahabat baiknya sejak lahir sekaligus love interest Jemma yang dengan kerelaan hati bersedia terlibat dalam sandiwara berbahaya ini hingga demikian jauh. Membuat wanita itu sering mengalami mimpi buruk saat malam. Melihat mayat mereka berdua tergantung dalam posisi termutilasi pada pagar depan rumahnya di L.A atau hal-hal buruk lain. Dan selalu diakhiri oleh adegan Paul mencoba membunuhnya dan Jemma berlari dari dia, jika beruntung mimpi Jemma takkan berakhir dengan kematiannya.
Seluruh bulu halus ditubuh Jemma bergidik hebat dan tak ada hubungannya dengan udara dingin yang sekali lagi menerpa kulit telanjangnya yang hanya berbalut dua lem-bar kain bikini. Jemma memelut tubuh dengan kedua tangan, ketika mendengar bunyi langkah berkelotakan diikuti suara halus bernada tajam yang sudah sangat familier ditelinga Jemma.
"Tak usah pikirkan Anderson. Aku yakin dia sudah terlalu sibuk mengurus masa-lahnya sendiri sekarang."
Jemma menoleh dengan bersemangat, wajahnya berbinar secerah matahari saat melihat sosok tinggi jangkung, bertubuh ramping tegap bahkan diusia menjelang 70an, berambut pirang platinum lurus berpotongan pendek rapi, janggut dan kumis putihnya tumbuh tipis-tipis, sepasang mata hazel bulatnya berkilauan seindah berlian.
Donald Vallerwood turun dari atas geladak diikuti dua pasangan berumur dua kali Jemma dan James. Mereka memakai atasan santai dan bawahan masing-masing celana pendek untuk pria, dan Julia serta Crista Vallerwood (Ibu James) mengenakan terusan selutut dengan dua tali bermotif kembang-kembang beda warna berbahan katun. Serta seorang wanita seumuran kakeknya, mengenakan terusan satin berlengan pendek selutut berwarna putih, rambut pirang pendek lurusnya berkilauan oleh cahaya, kecantikan semasa mudanya sebagai Miss. Alabama masih tergambar jelas hingga saat ini. Tangannya tak berhenti menggengam erat lengan Donald.
Maureen Conrad adalah Ratu kecantikan seabad, mantan kekasih Kakeknya dimasa muda, yang ternyata merupakan Bibi jauh Crista, dan menjadi pengasuh tetap Donald dimasa-masa sulitnya dulu. Mereka baru menikah sebulan lalu di Tahiti dan meskipun terdengar bodoh. Jemma sangat bahagia melihat Kakeknya akhirnya mendapatkan pasangan hidupnya kembali setelah segala pengkhianatan Clara dulu padanya. Maureen tidak hanya baik, tapi juga tepat dan mengetahui apa yang paling dibutuhkan Donald. Ketulusan dan cinta sederhana.
Julia, Ibu Jemma menjadi orang pertama yang memberikan restu ketika Donald mengungkapkan niatnya untuk menikahi wanita beranak 4 bercucu 6 yang hanya lebih muda 3 tahun darinya itu, dan masih tampak luar biasa.
Jemma melirik ke arah James yang langsung cegukan melihat kedatangan keluarganya yang begitu mendadak. Terkikik ketika James dengan paniknya bangkit berdiri dan memberikan instruksi pada kedua teman kencannya agar menunggu dikamarnya. Meski tampak jengkel karena diusir mendadak, mereka menurut dan bergegas meninggalkan James yang sibuk merapikan dirinya padahal tidak memakai apapun selain celana pendek mendekati mirip boxer.
Jemma berbalik kearah keluarganya yang sudah berjalan mendekati mereka. "Granddy…" jeritnya manja, layaknya anak balita berlari pada Donald dan memeluk Kakeknya seraya mengalungkan kedua lengannya pada lehernya. Barulah pria tua itu melepaskan genggaman Maureen darinya. Jemma tidak terkejut merasakan betapa kokoh tubuh Kakeknya, serta dada bidang mengingat usia Donald telah memasuki batas senja.
Jemma melepaskan pelukannya kemudian mencium pipi Maureen, dan berkutat pada keluarganya.
"Oh sayangku, aku sangat-sangattt-sangatttt merindukanmuu…" Julia memeluk putrinya erat, rambut coklat lurus sepunggungnya seakan membungkus Jemma didalam tirai.
"Ibumu nyaris koma karena rindu dan aku hampir saja mematahkan hidung Anderson saat mendengar cerita dari para Finnigan." Suara Mark Skylar terdengar berapi-api. Membuat Jemma berjengit setiap kali ada orang membahas mengenai Paul.
"Oh, hentikanlah adik ipar. Sudah cukup putrimu mendapatkan mimpi buruk tiap malam tentang si brengsek itu." bentak David Vallerwood serius. Rambut pirang lurus berpotongan acaknya menari-nari indah diatas udara, mata hazelnya berbalik menyorot tajam kepada putra tunggalnya yang bergerak lambat-lambat kearahnya. Mulutnya membentuk sudut lurus sehingga tak bisa dibedakan antara marah atau bangga atas kelakuan James yang sok cassanova.
"Like father like son." bisik Jemma yang hanya didengar oleh Julia. Ibunya memahami kepada siapa kalimat itu ditujukan.
"Hai, Dad…" sapa James kikuk, merentangkan kedua tangannya tapi untuk memeluk Ibunya, "Dan Mom, wow, sungguh kulit coklatmu sangat sempurna…" rayunya. Crista merengut tapi meraih pelukan putranya.
"Berhenti bermain-main James. Kapan kamu mulai serius." kata David dingin, membuat James memutar bola mata dan Jemma menggumamkan sesuatu yang didengar Mark sebagai 'oh tidak, mulai lagi'.
Dimata Jemma, David, putra sulung Donald mewarisi watak, sikap, serta fisik sempurna Kakeknya. Copycat, itulah kalimat yang selalu ditujukan Julia merujuk Kakak tunggalnya. Terkadang, sikap David dirasa Jemma lebih parah daripada Donald sekalipun. Untungnya suasana tegang tersebut segera mencair setelah Donald muncul sebagai penengah.
"Jangan bersikap sekeras itu padanya Dave, berkat putramulah rencana brilliant ini berhasil terlaksana." tukas Donald seraya menepuk pundah James, dadanya membusung karena kebanggaan.
James nyengir lebar memperlihatkan sederetan gigi putih rata yang bagi Jemma lebih mirip gigi hiu. David menarik nafas panjang sejenak tapi Crista lah yang pertama menyahuti." Sejujurnya Dad, aku tidak pernah menyetujui rencana ini. Satu-satunya alasan aku bersedia mengumpankan putraku adalah, karena anak tirimu itu nyaris meledakkan tubuhku didalam rumahku sendiri." kemudian Crista kembali murung. Maureen dengan sigap langsung memeluknya selayaknya pekerjaan Ibu kandung kepada putrinya.
"Dan putramu adalah cucuku." Donald memperingatkan dengan satu alis terangkat.
"Berbicara tentang kemenangan, harusnya kita memberikan tepuk tangan meriah untuk ide luar biasa dari Nona Jemma Augustine Vallerwood." mood David berubah menjadi riang kembali. Membalikkan tubuh tingginya hingga menghadap Jemma yang tengah berdiri diantara kedua orang tuanya sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Siapa sangka rencana kita dapat berjalan lebih mulus dan cepat dari seharusnya." Maureen tertawa.
Jemma menaikkan satu alis, tampak sombong. "Bukankah ini waktunya kalian mengangkat gelas sampagne sambil meneriakkan namaku?"
"Yah, tentu saja. Atas kehebatanmu sebagai perayu ulung!" goda James dengan senyum nakal, tangannya keatas kepala dengan gerakan seakan memegang gelas kristal.
Jemma mendengus sementara Mark dan Julia menahan nafas.
"Nanti kita harus bicara mengenai bagian 'perayu' itu." tukas Mark, nadanya defensif khas kebapakan terang-terangan.
"Daddy…" rengek Jemma tak ubahnya anak kecil. Dahinya berkerut semakin dalam saat Julia melemparkan pelototan tajam padanya.
Jemma bergerak keluar dari lingkaran orang tuanya menuju bagian ujung geladak kapal, tubuhnya disandarkan santai pada pinggirannya yang terbuat dari besi berlapis cat keemasan, bertumpu pada satu kaki dan tangan.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kujalankan, semuanya hanya sebatas akting. Sungguh. Anderson berhak mendapatkan pembalasan atas segala perbuatan keluarganya pada kita." Jemma berusaha tampak terdengar serius meskipun saat mengucapkan tiap kalimatnya tenggorokannya terasa sakit dan lidahnya menjadi kelu. Ada kepedihan aneh menjalari dadanya setiap kali kepalanya mengingat Paul. Serta sebuah kesedihan mendalam setiap kali melihat keluargannya begitu membenci pria itu, bahkan menyebut nama depannya menjadi sebuah kejijikan. Seakan dia sampah tak berguna.
Memori Jemma terlempar pada kejadian masa lalu dimana nyawa orang tuanya dan James nyaris terenggut dari kecelakaan sabotase yang dibuat oleh Benjamin Anderson, Ayah Paul. Untungnya mata-mata didalam tubuh Ben, yaitu Gareth, memberikan informasi terlebih dahulu kepada Donald sehingga pria itu bisa menyelamatkan keluarganya. Berusaha menghindari kecurigaan, Donald tetap mengadakan acara pemakaman palsu dimana saat itu terjadi Julia, David, Mark, dan Crista sudah berada jauh di Tuscan. Mengelola perusahaan lain yang dibangun Donald selama belasan tahun terakhir yang berhasil berkembang luar biasa pesat di wilayah Eropa. Dibantu para sekutunya, Donald menciptakan The New Global Company, untuk menyaingi Vallerwood Corp. yang takkan mungkin bisa dipertahankan Donald lagi.
Donald harus menunggu waktu yang tepat, untuk bisa menjatuhkan Ben. Dan saat itu tiba Donald melemparkan semua bukti kejahatan Ben tepat didepan mukanya, saat kondisi fisik mantan anaknya tersebut melemah. Ben akhirnya meninggal akibat serangan jantung dan over dosis akibat ketakutannya sendiri malam itu.
Lalu tiga bulan lalu, Donald sengaja menyiapkan rencana kematiannya sendiri untuk mengelabui Paul dan semua lawannya dalam kecelakaan pesawat yang dirancang oleh sekutu Ben yang berniat membalas dendam pada Donald. Sekali lagi Kakek Jemma berhasil mengantisipasinya berkat informasi James yang menyamar sebagai Detektif Brandon. Menggunakan jasad si co-Pilot yang berniat membunuhnya untuk menggantikan diri Donald dan terbang memakai parasut lain. Dan sudah ada kapal layar yang dikemudikan David sudah menunggunya disekitar lautan tempat ledakan pesawat, menunggu Donald.
Melempar keras-keras perasaan bersalahnya kepada Paul jauh didalam lubang kemarahan dirinya, Jemma meninggikan dagu, dengan suara terkejam yang dia bisa buat Je-mma berkata. "Benar, ini semua salah keluarganya.Siapa suruh mereka jadi egois, mereka adalah musuhku."
Kemudian, ledakan tawa menggema. Donald mendekati cucu perempuan kesayangannya sambil memeluk bahunya. "Kamu tahu tidak, sikapmu ini mengingatkanku pada nenekmu, Cynthia."
Jemma menegak ditempatnya, raut mukanya kembali berbinar. "Benarkah?"
Donald mengangguk. "Ya. Nyaris semua ucapannya selalu benar. Dan harusnya aku mendengarkan ucapannya untuk tidak buru-buru menikah lagi sampai kesetiaan seseorang itu benar-benar teruji." raut wajah pria tua tersebut berubah murung.
Jemma meremas tangan Kakeknya keras-keras, memberikan senyumannya yang benar-benar tulus. "Berhenti bersikap begitu. Sekarang sudah ada Maureen, dan dia Nenek yang luar biasa hebat." Jemma mengerling pada wanita tua berambut pirang yang su-dah berdiri disamping kiri Kakeknya.
Donald mengangguk. "Kamu benar. Lagipula aku hanya mempertahankan serta mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak Vallerwood. Dan cuma Vallerwood sejati pemiliknya."
James, Julia, David, Mark, Crista bergabung bersama dengan mereka bertiga diujung geladak.
"Untuk Jemma…" James sekali lagi membuat gerakan melayangkan gelas diatas kepala, tersenyum lebar,
"Untuk Jemma Vallerwood atas ide brilliant, keberanian, serta kesetiannya pada keluarga ini…" David mengikuti jejak putranya.
Dalam sekejab semua orang menyebut-nyebut nama Jemma sambil melakukan gerakan konyol mengangkat gelas bayangan ke atas udara. Jemma tertawa lebar melihat keluarganya.
'Benar, memang disinilah tempatku. Bersama keluargaku yang sangat mencintaiku. Tak ada yang salah dengan berjuang demi keluarga, meskipun harus bertaruh dengan iblis sekalipun' bisik batin Jemma. Gembira melihat keriangan mengelilinginya.
Jemma memutar tubuhnya, kedua tangannya terentang santai seperti kepakan sayap diudara, dipangkukan diatas besi penghalang penyangga. Mata coklatnya jauh memandang ke atas birunya awan, sementara gema gegap gempita menjadi latar belakangnya. Senyum Jemma perlahan memudar saat mengingat betapa miripnya warna langit itu dengan mata seseorang.
Dingin, namun dalam dan tulus didalam.
Hati Jemma bergetar akibat kesedihan aneh.
Dan ketika batinnya mendesahkan nama Paul, sadarlah sudah betapa dalam luka di hatinya.
Bersambung...










